Category: Berita

DSC_2337

3 Keluhan Disampaikan Pengurus IGTKI Kab. Karanganyar Kepada Pemkab Karanganyar

kOMINFO

Pj. Sekda Sutarno didampingi Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan saat audiensi dengan Pengurus IGTKI Kabupaten Karanganyar di ruang Garuda, Rabu(8/05/19).

Karanganyar – 8 Mei 2019

Audiensi Pemkab Karanganyar dengan pengurus IGTKI Kab.Karanganyar diterima langsung oleh Pj. Sekda Sutarno dan Asisten Pemerintahan pada Rabu pagi, (8/5).

Dalam kesempatan audiensi ini pengurus IGTKI Kabupaten Karanganyar menanyakan 3 hal, yakni anggaran untuk kegiatan IGTKI yang masih belum diterima oleh pengurus unttk kelangsungan kegiatan selama setahun.

Kemudian pengurus IGTKI juga menanyakan honor guru-guru wiyata bhakti (WB) yang mengajar di sekolah – sekolah Negeri apakah bisa tidak dirapel, dan juga terakhir menanyakan perihal nasib 10 guru WB yang mengajar di sekolah Negeri apakah ada pengangkatan PNS.

Pj.Sekda Sutarno yang mewakili Bupati Karanganyar pada kesempatan audiensi ini menjawab bahwa untuk SK 10 guru WB yang mengajar di sekolah Negeri akan segera dipelajari agar segera diselesaikan persoalan pengangkatannya.

Kaitannya dengan anggaran kegiatan IGTKI akan segera disampaikan ke Bupati, insya Allah tahun ini akan diberi karena tahun kemarin sudah tidak menerima.  Pj.Sekda Sutarno juga meminta kepada pengurus IGTKI agar mensinkronkan agenda kegiatan IGTKI dengan agenda-agenda besar di Kabupaten, agar bisa dilaksanakan secara berbarengan.

Di akahir audiensi Pj. Sekda menginstruksikan Kadisdikbud untuk segera mendata dan mengurus segala sesuatunya bagi guru WB agar segera jelas SK nya.(An/Ard)

Read More
DSC_2316

Bank Muamalat Ingin Bekerja Sama Dengan Pemkab Karanganyar

Kominfo

Pj. Sekda Sutarno didampingi Asisten Pemerintahan saat menerima kunjungan audiensi dari Bank Muamalat Indonesia di ruang Garuda , Rabu(8/05/19)

Karanganyar – 8 Mei 2019

Audiensi perwakilan dari Bank Muamalat diterima langsung oleh Pj Sekda Sutarno juga Aisten Pemerintahan  pada rabu pagi (8/5). Dalam kesempatan itu pihak bank muamalat berharap dapat

Menjalin kerja sama yang berkesinambungan dengan Pemerintah Kabupaten Karanganyar khususnya adalah kerjasama penempatan dana.

Bank Muamalat memaparkan bahwa pihaknya adalah bank syariah yang pertama di Indonesia dan di area Solo raya sendiri telah hadir di 7 Kabupaten kota. Konsentrasi dari bank muamalat diretail artinya berusaha untuk membantu sektor riil untuk tumbuh berkembang. Diinformasikan pula bahwa Bank Muamalat telah bekerjasama dengan Boyolali dan Pemkot Solo.

Untuk penjelasan secara rinci telah dituangkan kedalam proposal yang diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Menanggapi hal tersebut Pj. sekda Sutarno menyampaikan dua point yakni Ketentuan dari pemerintah bahwa Kas daerah dan deposito berada di Bank Jateng termasuk pula pembayaran PBB namun beliau mempersilahkan kepada Bank Muamalat untuk mengadakan sosialisasi kepada PNS / ASN terkait kredit pinjaman dan cara menabung.

“Semoga silaturahmi ini membawa manfaat dan barokah bagi kita semua” harapnya di penghujung acara.(An/Ard)

Read More
DSC_2303

Indosat Tawarkan Aplikasi Smart City Untuk Pemkab Karanganyar

Kominfo

Pj. Sekda Sutarno didampingi Plt. Kadiskominfo saat menerima audiensi dari PT. Indosat Oreedo di ruang Garuda, Rabu(8/05/19)

Karanganyar – 8 Mei 2019

Audiensi Pemerintah Kabupaten Karanganyar dengan Indosat Ooredo Busines diterima langsung oleh Pj. Sekda Sutarno didampingi Asisten I Bahtiyar syarif di Ruang Garuda Kantor Kabupaten Karanganyar pada Rabu Pagi (8/5).

Pada kesempatan itu pihak Indosat Ooredo menyampaikan paparan terkait berbagai perkembangan terbaru teknologi, produk-produk, solusi dan layanan teknologi informasi komunikasi terkait smart city.

Plt. Sekda Sutarno berterimakasih atas kehadiran dan peran serta pihak indosat dalam mendorong transformasi digital termasuk dalam bidang pemerintahan. Dijelaskan beliau bahwa Pemkab Karanganyar sebenarnya sudah punya embrio seperti SAPAMAS, tetapi belum terintegrasi. Namun pihaknya mengatakan akan mempelajari proposalnya dan akan dipaparkan ke bapak bupati dan jika bapak bupati berkenan pihaknya akan segera menghubungi Indosat.(An/Ard)

Read More
IMG-20190514-WA0007

Tarling Forkopimda di desa Ngasem Colomadu, Bupati: Pemilu Usai Mari Jaga Kerukunan dan Persatuan Warga

Diskominfo

Bupati Karanganyar Memberikan Bantuan Kepada Warga Desa Ngasem

Karanganyar, Rabu 8 Mei 2019

Bupati Karanganyar meminta masyarakat tetap menjaga kerukunan dan persatuan paska Pemilu 2019. Pihaknya berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi terhadap isu yang kurang bertanggungjawab dan lebih meningkatkan amal ibadah selama bulan Ramadan.

Pemkab Karanganyar memulai kegiatan tarawih keliling di Masjid Baiturahman di dusun Cepogo desa Ngasem Colomadu Selasa (7/5) malam.

Dalam kegiatan dihadiri Bupati dan jajaran Forkopimda Karanganyar. Dalam kesempatan tersebut, Bupati mengingatkan masyarakat untuk selalu guyub.

Apalagi pada Pemilu lalu masyarakat sempat terkotak kotak lantaran beda pilihan.

“Pemilu telah selesai. Mari kembali jaga kerukunan dan persatuan antar warga,”pesannya.

Pihaknya pun meminta masyarakat tidak mudah terhasut dengan isu-isu tak bertanggungjawab. Di bulan puasa ini masyarakat diharapkan lebih fokus dalam meningkatkan amal ibadahnya.

“Jangan mudah diprovokasi lantaran pesta politik telah selesai. Fokus dengan kegiatan bermanfaat untuk kemajuan desa,”katanya.

Dalam kesempatan tersebut Pemkab Karanganyar menyerahkan bantuan berupa sarana ibadah kepada takmir Masjid Baiturahman. Bantuan tersebut berupa Al Qur’an, dana pembangunan mushola dan 40 paket sembako untuk keluarga kurang mampu (dhu’afa).

“Ini bentuk komitmen Pemerintah untuk selalu melayani masyarakat. Semoga bermanfaat ke depannya bagi warga,”pungkasnya.

Demikian Diskominfo (dn/ind)

Read More

Dialog Dengan Gugus Tugas KLA Kabupaten Karanganyar

 

KARANGANYAR – Tim verifikasi Kabupaten Layak Anak (KLA) mengevaluasi hasil tinjauan lapangan yang dilakukan di beberapa sarana pendukung KLA di Kabupaten Karanganyar dan Tim KLA sudah melakukan pengecekan atau verifikasi lapangan hasil verifikasi mandiri yang dilakukan oleh gugus tugas pada Senin (6/5).

Hasil evaluasi tersebut disampaikan Tim KLA, Doktor Hamid Patilima dan Doktor Erna Ningsih kepada Bupati-Wakil Bupati Karanganyar, Juliyatmono-Rober Christanto dan para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Ruang Anthurium Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Selasa (7/5). 

Tim KLA, Doktor Erna Ningsih mengatakan, setelah melakukan verifikasi lapangan di beberapa tempat, sebagian sudah memenuhi persyaratan sebagai sarana penunjang KLA. Seperti Panti yang mengurus anak difabel, dan inovasi Disdukcapil terkait program three in one. “Prinsipnya Kabupaten/Kota Layak Anak itu dapat memenuhi hak asasi anak. Seperti halnya tidak mendapat kekerasan,” jelasnya.

Harapannya dengan begitu ada pembangunan berkelanjutan. Ia menyampaikan, dengan adanya KLA tentu juga dapat mendorong kinerja dari dinas-dinas terkait.

“Verifikasi lapangan ini untuk mencocokan antara data dengan kondisi lapangan. Sebagian besar sudah sesuai. Juga untuk memberikan masukan, terkait pengembangan kedepannya. Tentu Karnganyar harus secara perlahan Meningkat. Bukan hanya menuju Kabupaten Layak Anak tapi juga menjadi Kabupaten Layak Anak,” ungkapnya.

Erna menambahkan, terkait istilah atau kata KLA beberapa masih ada yang belum tahu. Harapannya itu juga dapat disosialisasikan, mengingat publikasi menjadi salah satu indikator menuju KLA. 

Ia juga berharap, dengan adanya Perda dapat mencakup 5 kluster hak anak. Baik itu Hak sipil dan kebebasan, Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, Disabilitas, kesehatan dasar dan kesejahteraan, Pendidikan, Pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya dan perlindungan khusus. “Gugus tugas yang sudah ada, diharapkan lebih berfungsi lagi. Aktif kedepan mendorong kluster bisa tercapai,” paparnya.

Terkait pembuatan kebijakan, ia meminta untuk melibatkan Forum anak dalam pengembangan kebijakan. Sehingga suara anak dapat dijadikan pertimbangan dalam mengambil kebijakan.

Sementara itu, Tim Verifikasi KLA, Doktor Hamid menambahkan, dalam mewujudkan KLA, harus ada dukungan atau sinergi dari masyarakat, pengusaha, media masa dan pemerintahan. “Beberapa tempat saya masih lihat adanya iklan rokok, seharusnya itu tidak ada. Ini juga akan menjadi tantangan dalam mewujudkan KLA di Karanganyar,” terangnya.

“Setelah tahapan ini tinggal menunggu pengumuman apakah mendapatkan predikat KLA atau tidak. Pengumuman nanti tanggal 23 Juli 2019, kalau mendapatkan predikat berarti Bupatinya akan diundang,” tuturnya.

Selanjutnya Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengatakan, beberapa evaluasi dan masukan akan segera ditindak lanjuti. Baik itu terkait publikasi pemberitaan anak, pembuatan ruang kreatif dan pelibatan forum anak dalam pengambilan kebijakan. “Perkiraan bulan Juli akan diadakan deklarasi desa layak anak di 177 desa. Nanti juga kita buat semacam lomba desa layak anak,” terangnya. (an/ina)

Read More
IMG-20190507-WA0029

Tim Penilai KLA Kunjungi Puskesmas Kebakkramat

Diskominfo

Tim verifikasi KLA saat melakukan pengecekan di Puskesmas Kebakkramat I Pulosari

KARANGANYAR – Sarana pendukung di Karanganyar untuk menuju Kabupaten Layak Anak (KLA) dinilai sudah cukup bagus.
Kabupaten di kaki Gunung Lawu ini memiliki sekolah ramah anak, puskesmas ramah anak, taman ramah anak, serta kebijakan administrasi untuk pemenuhan hak anak, yang merupakan beberapa indikator untuk bisa ditetapkan sebagai KLA.
Hal itu disampaikan Doktor Hamid Patilima, anggota Tim Verifikasi KLA di sela verifikasi lapangan indikator KLA di Karanganyar, Senin (6/5).

“Verifikasi ini untuk memastikan, apakah evaluasi mandiri yang dilakukan kabupaten melalui gugus tugasnya terhadap indikator KLA benar atau tidak. Ada 24 indikator KLA yang harus dipenuhi,” katanya.
Di antaranya pemenuhan hak sipil anak, seperti pemenuhan akta kelahiran hingga keberadaan forum anak. Kemudian keberadaan ruang bermain ramah anak, serta lembaga pengasuhan anak. Juga pelayanan kesehatan ramah anak, sekolah ramah anak, hingga perlindungan terhadap anak dari kekerasan. “Karanganyar sejauh pengamatan kami sudah bagus. Ada puskesmas ramah anak, kebijakan tentang pembuatan akta kelahiran yang cepat, sekolah ramah anak, dan sebagainya. Dukungan dari pemerintah, masyarakat, pengusaha dan media juga ada,” jelasnya.

Tim verifikasi tersebut dikirim Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan bekerja secara independen. “Mereka melakukan pengecekan, terhadap indikator KLA yang ada di Karanganyar. Mulai dari berkunjung ke LKSA Anugerah di Tohudan, Colomadu, puskesmas ramah anak di Colomadu dan Kebakkramat, Taman Harmoni di Pulosari, Kebakkramat, SDN 3 Karanganyar mewakili sekolah ramah anak, dan sebagainya,” katanya. Dia berharap, hasil penilaian pada tahun ini bisa mengantarkan Karanganyar menyandang predikat KLA. (ina/ana)

Read More

Kelinci Sang Menteri

JUARA 5 Rubrik Karanganyar Menulis 2019 Periode 5

Kelinci Sang Menteri
Oleh: Luthfia Devi Romadhoni
Tasikmadu, Karanganyar

 

Kegiatan belajar mempunyai peranan penting dalam sejarah kehidupan manusia terlebih dalam masyarakat modern seperti sekarang ini. Belajar merupakan kegiatan yang dapat menentukan berhasil tidaknya sesorang dalam menentukan langkah hidup selanjutnya. Setiap orang perlu belajar tanpa mengenal batas waktu dan usia. Kegiatan belajar perlu ditopang dengan proses pembelajaran yang baik sehingga diperoleh hasil yang berkualitas. Tulisan ini akan membahas tentang faktor penting keberhasilan sebuah proses pembelajaran khususnya di Indonesia, yaitu sistem pendaftaran. Sistem pendaftaran sangat perlu diperhatikan karena sebagai langkah awal keberhasilan dalam proses pembelajaran. Sistem pembelajaran yang baik mampu menyaring peserta didik sesuai kapasitasnya.

Di Indonesia penyelenggaraan pengajaran telah diatur dalam berbagai pengaturan. Salah satunya adalah pengaturan mengenai sistem pendaftaran atau Penerimaan Peserta Didik Baru yang (PPDB). Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang dimaksud adalah penerimaan peserta didik baru pada TK dan Sekolah. 1 PPDB bertujuan untuk menjamin penerimaan peserta didik baru berjalan secara objektif, transparan, akuntabel, nondiskriminatif, dan berkeadilan dalam rangka mendorong peningkatan akses layanan pendidikan. 2 Sebagaimana dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) no. 14 tahun 2018, pelaksanaan PPDB didasarkan pada sistem zonasi sekolah. Bahwasannya jarak tempat tinggal ke Sekolah sesuai dengan zonasi yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai kewenangannya. Zonasi merupakan pembagian atau pemecahan suatu areal menjadi beberapa bagian, sesuai dengan fungsi dan tujuan pengelolaan. Dengan demikian calon peserta didik yang akan mendaftar di suatu sekolah hanya dapat mendaftar pada zonasi yang termasuk kategori didalamnya.

Penerapan sistem zonasi sekolah memiliki kelebihan maupun kekurangan. Kelebihan diterapkannya sistem zonasi sekolah adalah  kemudahan akses siswa untuk  lebih cepat sampai di sekolah dan adanya pemerataan sekolah (tidak ada sekolah unggulan ataupun sekolah regular). Kekurangan diterapkannya sistem zonasi sekolah adalah Pertama, meningkatnya tingkat kecurangan. Bentuk kecurangan yang sering terjadi adalah pemalsuan domisili atau tempat tinggal melalui pembaruan Kartu Keluarga (KK).Tolak ukur diterima atau tidaknya seorang peserta didik di sekolah berdasarkan sistem zonasi salah satunya dilihat dari Kartu Keluarga maka sangat mungkin jika salah satu anggota keluarga tersebut memperbarui kartu keluarganya jauh-jauh hari agar sang anak dapat masuk ke sekolah yang ia inginkan. Hal tersebut sudah banyak terjadi di beberapa kota terutama di kota besar yang terdapat sekolah-sekolah unggulan. Kedua, pembatasan terhadap pilihan siswa. Pilihan siswa terhadap sekolah yang diinginkan semakin sempit karena dibatasi oleh domisili.Mengingat bahwa tidak adanya pemerataan kualitas sekolah di seluruh daerah maka hal tersebut juga menjadi momok bagi beberapa orangtua peserta didik karena sedikitnya pilihan sekolah yang berkualitas baik yang dapat sang anak pilih bagi yang berdomisili jauh dari kota besar. Ketiga, terjadi penurunan etos belajar siswa bagi yang berdomisili jauh dari kota besar yang terdapat sekolah unggulan. Peserta didik merasakan kecewa setelah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai terbaik agar masuk ke sekolah favorit yang tak sebanding dengan hasilnya sebab zonasi sekolahlah yang menjadi dasar sistem PPDB sehingga timbul anggapan bahwa untuk mendapatkan sekolah favorit tidak dibutuhkan kerja keras, melainkan hanya tergantung dari domisili wilayah.

Sistem zonasi sekolah merujuk pada jarak tempat tinggal peserta didik dengan keberadaan sekolahnya. Sejatinya permasalahan jarak menjadi semangat tersendiri. Sebagaimana yang telah berjalan pada tahun-tahun sebelumnya, banyak peserta didik yang bersekolah jauh dengan tempat tinggalnya. Ada yang menempuh pendidikan di luar kota, provinsi, bahkan luar negeri. Tidak sedikit didapati dari mereka yang meraih prestasi gemilang. Sebab dengan jarak tempat tinggal yang jauh dengan sekolahnya itu menjadikan motivasi tersendiri bagi peserta didik untuk meraih tujuan awal yakni prestasi belajar yang baik.

Pencapaian prestasi belajar yang baik diperlukan adanya pengembangan sistem pengajaran yang berkualitas. Kualitas sistem pengajaran dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal peserta didik. Faktor internal siswa meliputi tingkat kecerdasan (IQ), emosi (EQ), minat, psikologi, dan bakat, Sedangkan faktor eksternal meliputi tingkat pendidikan orang tua, strata ekonomi, guru, material pengajaran, lingkungan belajar, dan lingkungan pergaulan. 4 Hal ini menunjukkan bahwa jarak tempat tinggal bukan menjadi satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan prestasi belajar peserta didik yang berdampak pada penentu kualitas pendidikan. Dilihat dari kacamata ekonomi, sistem zonasi sekolah mempunyai dampak terhadap laju perputaran ekonomi. Khususnya bagi para peserta didik yang berasal dari luar daerah. Hal ini tercermin pada tingkat konsumsifitas dan penggunaan kos-kosan, warung-warung makan, pertokoan, loundy, dan perekonomian lainnya yang berada disekitar sekolah menjadi tidak laku. Sehingga dapat mematikan mata pencaharian warga sekitar selaku wirausaha setempat.

Penerapan sistem zonasi sekolah di Indonesia dirasa belum siap dan belum mampu karena belum adanya pemerataan kualitias sekolah baik yang ada di kota besar maupun yang berlokasi jauh dari kota besar. Ketidakmerataan kualitas sekolah menimbulkan ketimpangan yang berdampak pada ketidakadilan jika diterapkan sistem zonasi. Sebagaimana yang dilakukan di Jepang, sistem zonasi diberlakukan dari tingkat pendidikan TK sampai perguruan tinggi berhasil membawa dampak baik terhadap kualitas pendidikan di negara tersebut karena semua sekolah memiliki standar kualitas yang sama sehingga tidak menimbulkan ketimpangan sosial. Keberlakuan sistem zonasi yang belum menerapkan pemerataan sekolah berdampak pada menurunnya indeks prestasi sekolah karena  belum tentu peserta didik yang berasal dari sekitar sekolah merupakan peserta didik yang “pandai”. Akibatnya, peserta didik dalam satu rombongan belajar menjadi heterogen. Kondisi yang demikian menyulitkan peserta didik untuk berkembang kualitas pengetahuannya. Secara otomatis bagi peserta didik yang “pandai” mudah dalam menerima materi, sebaliknya bagi peserta didik yang “kurang pandai” sulit dalam menerima materi.  Maka apabila rombongan belajar yang relatif homogen memudahkan guru dan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. 5 Peserta didik yang relatif homogen pandai mudah meningkatkan kualitas belajarnya setingkat atau lebih diatas peserta didik yang kurang pandai. Oleh karena itu input peserta didik yang baik dapat menjadikan output yang baik serta menjadikan indeks sekolah baik pula. Sistem zonasi dapat diganti dengan perbaikan infrastruktur jalan menuju sekolah secara intensif, pengadaan angkutan umum yang memadai dan pengadaan bis antar jemput setiap sekolah.

Berdasarkan beberapa hal yang telah dituliskan sebelumnya, sistem zonasi belum mampu diberlakukan di Indonesia. Keberadaan peserta didik, guru, dan stakeholder terkait pendidikan selama ini hanyalah sebagai kelinci percobaan menteri melalui peraturan yang silih berganti.


1Permendikbud no. 14 tahun 2018, Pasal 1 (3).
2Permendikbud no. 14 tahun 2018, Pasal 2 (1).
3Permendikbud no. 14 tahun 2018, Pasal 12 (1).
Nurdin, Syafruddin. 2005. Guru Profesional & Implementasi Kurikulum. Jakarta: Quantum Teaching.
5Majid, Abdul. 2011. Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi Guru). Jakarta: Rosda.

Read More
_MG_9063 (FILEminimizer)

Destinasi Wisata Kuliner Klasik Pasar Jadoel Tradisional di Matesih, Karanganyar

JUARA 4 Rubrik Karanganyar Menulis 2019 Periode 5

Destinasi Wisata Kuliner Klasik Pasar Jadoel Tradisional di Matesih, Karanganyar
Oleh: Wisang Nugraha Ardyansa
Matesih, Karanganyar

 

Karanganyar, Bumi Intanpari, tempat seni budaya, historia, dan pariwisata melengkapi klasiknya keindahan sebuah kabupaten yang terletak di timur kota Solo ini. Belum lagi keindahan alam lereng Lawu dengan eksotis mampu memberikan sebuah sentuhan keajaiban Tuhan Yang Maha Kuasa. Ratusan destinasi wisata, sudah terhampar dalam sebuah frame cita rasa negeriku, Indonesia.

Dari ratusan destinasi wisata, sebuah tempat bersejarah yang banyak menyimpan cerita bagaimana dahulu, masyarakat leluhur berjibaku dengan kehidupan yang masih terbilang kuno. Sapta Tirta Pablengan, Matesih, Karanganyar. Yang menyimpan tujuh sumber mata air dengan berbagai keunikan tersendiri.

Tetapi, kali ini kita tidak akan membahas obyek wisatanya , tetapi kita akan merekonstruksi kembali, bagaimana dahulu masyarakat mampu membuat sebuah peradaban pada zaman itu. Melalui berbagai kuliner klasik yang dibangkitkan kembali dari mati surinya. Menunjukkan kembali nikmatnya citarasa kuliner masyarakat lampau dengan balutan nama Pasar Jadoel Sapta Tirta.
Sejenak saja bayangkan, sebuah suasana desa, dengan berbagai gubuk bambu dan atap jerami, beralaskan tanah. Sesederhana itu, begitu juga dengan apa yang mereka makan, apa yang disediakan oleh alam, dengan bungkus daun, dengan berbagai umbi dan singkong, yang semesta sudah sediakan untuk mereka.

Tahukah kalian dengan makanan dan kuliner ini?

Klepon, sawut, tiwul, timus, kemplang, cenil, dele, kembang goyang, balung kethek, gendar, pondoh, jadah, klenyem, onde-onde, rempah, nogosari, ketan, peyek, rangin, corobikang, suweg, gayam, gudangan, urap, dan sebagainya.

Dari beberapa diatas, berapa yang kalian pernah makan?

Kalau sudah lebih dari sepuluh, berarti kalian termasuk makhluk yang tergolong klasik. Karena bagi sebagian masyarakat yang lahir pada masa dinasti hamburger, makanan-makanan ini cenderung terlupakan.


Oleh karena itu, Pasar Jadoel Sapta Tirta ini berusaha merekonstruksi kembali sejarah ke dalam sebuah lembaran kisah klasik dari generasi ke generasi selanjutnya. Meskipun tidak sesempuna yang bisa kita imajinasikan dalam pikiran kita masing-masing, namun, Pasar Jadoel ini sudah mampu menjadi pengobat rindu bagi para sesepuh, dan para generasi muda penggemar kuliner yang menjadi identitas kita dahulu sebagai orang pedalaman.

Berbagai gubuk yang ada di lokasi wisata Sapta Tirta Pablengan ini menyediakan berbagai makanan masa lalu beserta seluruh kenangannya. Seperti seorang ibu yang bercerita bahwa dahulu sepotong ubi begitu berharga untuk dimakan sekeluarga, atau seorang bapak dulu menceritakan kisahnya tentang kerasnya makanan balung kethek waktu beliau kecil.

Semua memori dan sisi historis itu seperti sebuah lentera bahwa ada cerita yang mampu membuat kita merasa bahagia, membuat kita merasa terharu karena mampu mengulang, mampu merekonstruksi kembali potongan-potongan kenangan mereka yang tersimpan di sentong-sentong kuno pikiran mereka. Setidaknya itulah yang para sesepuh coba ungkapkan.
Tidak hanya itu, generasi muda yang penuh dengan curiousity mereka, atau dari cerita orang tua mereka, akan berbondong-bondong untuk berburu berbagai kuliner khas yang ada pada masa simbah mereka. That’s it, they are so exited to see, they are exited to taste something else.

Dan perlu kalian tahu, generasi muda FKPI, EKRAF, dan berbagai lapisan masyarakat Pablengan bersatu demi sebuah kisah senja yang membanggakan sebagai dongeng ketika anak kita tidur, ketika kita memiliki mimpi-mimpi yang sama untuk ikut serta menunjukkan bahwa ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk Karanganyar.

Setelah itu, mereka akan lebih memahami apa arti narimo ing pandum dan memiliki paradigma yang sederhana, memiliki senses untuk lebih menjaga kelestarian budaya, dan sekaligus memiliki empati untuk bersama-sama ikut melestarikan ratusan juta memori sebagai bekal nanti generasi selanjutnya menceritakan kisah-kisah klasik ini kembali ke anak cucu mereka. Dan dengan ini, setiap dari kita, akan lebih memiliki sikap memayu hayuning bawana , menjaga alam sekitar yang sudah tercipta begitu indah. Menjadi generasi yang sadar wisata, sadar sejarah dan memahami betapa berharganya setiap sisi kehidupan manusia.

Sebagai penutup, iringan gamelan dari lagu gugur gunung, let’s do something untuk Karanganyar, untuk bumi tempat kita berpijak, untuk negeri tempat kita berdiri. Paling tidak dari hal yang paling mendasar, paling tidak dari hal yang paling sederhana, yaitu memiliki rasa bangga menjadi bagian masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan keberagamannya.

Salam Hangat dari Pasar Jadoel Sapta Tirta Pablengan.

Bumi Intanpari, Karanganyar.

Read More
IMG20190414095847

Menghidupkan Lagi Permainan Tradisional di Kawasan Perbatasan

JUARA 3 Rubrik Karanganyar Menulis 2019 Periode 5

Menghidupkan Lagi Permainan Tradisional di Kawasan Perbatasan
Oleh: Intan Khotimah, S.T
(Staf Bidang PSDM & Karya Taman Baca Masyarakat ROMUSA)
Kebakkramat, Karanganyar

 

Menghidupkan lagi permainan tradisional yang sempat mati menjadi tantangan yang tidak mudah. Terlebih lagi di kawasan perbatasan yang sudah terkontaminasi dengan modernisasi yang teramat pesat. Desa Kaliwuluh, salah satu desa yang masih mmenjadi kawasan Kabupaten Karanganyar yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sragen. Letaknya yang strategis, dekat dengan jalur utama yang menghubungkan Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta menjadikan kawasan ini dapat berkembang begitu cepat.

Modernisasi yang menghadirkan berbagai macam kemudahan dalam kehidupan baik dalam komunikasi, pendidikan, kesehatan, perekonomian dan lapangan pekerjaan. Namun ada yang terlewatkan. Perkembangan anak-anak yang mulai terlena dengan kemajuan teknologi. Teknologi menjadi andalan orang tua dalam menjinakkan anak-anak agar “betah” berada dirumah. Mudah dipantau keberadaannya bagi orang tua yang bekerja.

Disisi lain, permainan tradisional yang lebih sering dimainkan secara berkelompok sudah menjadi permainan yang tidak lagi dikenal anak-anak. Sebut saja lompat tali, betengan, gobak sodor, jamuran, cublak-cublak suweng, benthik dan lain sebagainya. Bisa dihitung dalam satu dusun berapa anak yang mengenal mainan-mainan tersebut.

Saat ini sudah jarang terlihat anak-anak melakukan aktivitas di luar rumah. Entah karena kehilangan lahan bermain, kehilangan waktu bermain atau telah kehilangan teman sepermainan. Satu hal yang mulai jarang terlihat adalah anak-anak tidak lagi bermain di tanah lapang, tidak lagi bermain di jalan-jalan dekat sawah dan tidak ada lagi permainan tradisional. Hal ini juga diperkuat dengan beberapa orang tua yang mulai melarang anak-anaknya bermain di luar rumah dengan alasan perkembangannya akan sulit di kontrol, panas dan kotor. Tidak sedikit pula orang tua yang khawatir bahwa anaknya akan terlibat pertengkaran dengan anak yang lain.

Padahal permainan tradisioanl memiliki banyak manfaat. Berbagai manfaat itu antara lain berpengaruh pada perkembangan anak yang meliputi perkembangan intelektual, melatih kemampuan sosial, menguatkan perkembangan fisik dan motorik serta mengontrol perkembangan emosional. Bahkan baru-baru ini mulai ada temuan bahwa dengan bermain dapat mengurangi perilaku agresif pada anak.

Lagi-lagi menjadi tantangan yang tidak mudah untuk menghidupkan lagi permainan tradisional. Selain dianggap kuno dan tidak menarik, anak-anak mulai kehilangan dukungan untuk bermain bersama-teman-temannya. Kondisi ini menciptakan keresahan dikalangan pemuda Desa Kaliwuluh khususnya di Dusun Bekon. Banyak pemuda yang mulai khawatir akan muncul generasi yang antisocial sebab anak-anak lebih menikmati waktu bermain sendiri didalam rumah. Khawatir bahwa nanti akan muncul generasi yang tidak peka terhadap lingkungan sosial dan individualis.
Sekelompok pemuda yang tergabung dalam Forum Muda Prakarsa (ROMUSA) mendeklarasikan diri untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dan ramah anak untuk menyelamatkan ancaman yang mungkin akan menimpa anak-anak dimasa depan. Salah satu cara yang dilakukan oleh Forum Muda Prakarsa adalah dengan mendirikan taman baca masyarakat yang selanjutnya disebut TBM ROMUSA.

TBM ROMUSA memiliki beberapa program unggulan, diantara program unggulan yang dimiliki adalah perpustakaan, kampung belajar 1820 dan kumpul bocah. Perpustakaan menyediakan berbagai buku dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak, remaja dan dewasa. Anak-anak dapat belajar bersama pada jam operasional perpustakaan dengan didampingi kakak-kakak pendamping dari Forum Muda Prakarsa maupun tim relawan. Dengan Kampung belajar 1820 ini direncanakan anak-anak akan memiliki waktu khusus untuk belajar dirumah bersama orang tua dengan mematikan televisi dan handphone pada pukul 18.00 samppai 20.00. Diharapkan anak-anak akan memiliki waktu lebih efektif untuk belajar dan bersama orang tua.

Sementara ini kumpul bocah menjadi program unggulan utama menghadirkan sajian berbagai permainan tradisional, pengembangan bakat dan olahraga yang dapat dilakukan oleh anak-anak secara bersamaan. Pada kegiatan inilah anak-anak kembali dikenalkan dan diajak bermain tentang berbagai permainan tradisional.

Sejak awal berdiri, setiap bulannya Forum Muda Prakarsa melaksanakan kumpul bocah. Kegiatan ini melibatkan anak-anak dan pemuda di Dusun Bekon, Desa Kaliwuluh. Sedikit demi sedikit kembali diperkenalkan dengan permainan tradisional. Adapun beberapa permainan yang pernah kami lakukan adalah benthik, uding, lompat tali, sepak bola, dan berbagai permainan lainnya. Selain permainan tradisional kami juga menyisipkan pengetahuan yang dikemas dengan berbagai kegiatan literasi seperti membaca buku bersama, bercerita untuk teman, pendampingan belajar dan berbagai permainan tebak kata.

Program Taman Baca Romusa ini mendapat dukungan positif dari masyarakat Dusun Bekon dan Pemerintah Desa Kaliwuluh. Bahkan banyak orang tua yang mengharapkan program ini akan terus berlanjut.

Bagi kami, pemuda, masa depan anak-anak sangatlah penting sebab mereka adalah aset masa depan bangsa. Kami mendukung modernisasi tetapi kami juga berharap dan berusaha agar dapat meminimalisir dampak negatifnya sehingga anak-anak tetap bahagia dan dapat berkembang optimal sesuai dengan masanya.

Read More
andrianto3

Lawu Percussion : Bermula dari Lomba 17an Agustus Hingga Event Nasional

JUARA 2 Rubrik Karanganyar Menulis 2019 Periode 5

Lawu Percussion : Bermula dari Lomba 17an Agustus Hingga Event Nasional
Oleh: Andrianto Dwi Saputo
Karangpandan, Karanganyar

 

Anggota “Lawu Percussion”

17 Agustus mulai mendekat, suara gaduh di kampung yang sunyi terdengar setiap sore menjelang Maghrib. Mereka adalah sekelompok pemuda-pemudi yang berasal dari Dusun Kapingan, Desa Dayu, Kabupaten Karanganyar. Barisan barang bekas yang ditata rapi terlihat setiap sore di jalan tengah kampung tersebut. Ternyata suara gaduh tadi berasal dari barang bekas yang dijadikan pemuda-pemudi tadi sebagai sarana bermain musik.

Ide tersebut muncul ketika pihak Desa mengadakan perlombaan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, saat itu tahun 2016. Sebagai partisipasi muda-mudi dari Dusun Kapingan tersebut mempunyai ide yang unik dalam mengikuti perlombaan tersebut, maka tercetuslah ide bermain musik dengan menggunakan barang bekas seperti ember, drum bekas dan botol. Setiap sore sebelum adzan maghrib berkumandang mereka selalu latihan di tempat yang sama, yaitu di pertigaan jalan tengah kampung. Hal tersebut menarik perhatian warga yang lain untuk melihat latihan mereka setiap sorenya dan tentunya memberikan semangat.

Hari yang dinanti datang, mereka mengikuti perlombaan dengan gembira, tanpa memikirkan menang atau kalah, ikut meramaikan dan berpartisipasi ialah tujuan utama mereka. Namun, hasil malah berpihak kepada mereka, mereka berhasil menjadi juara di acara yang di adakan oleh pihak Desa tersebut.

Semua telah berakhir, acara 17an Agustus kelompok muda mudi yang membuat suara gaduh di tengah kampung setiap sorenya. Sekarang bahkan (jangankan) suara gaduh, muda-mudi berkumpul saja tidak terlihat, kecuali memang ada acara perkumpulan muda-mudi. Hal itu membuat Andri dan Narso merasa perlu adanya suatu ide besar agar mereka muda mudi kampung tersebut ada aktivitas yang positif di waktu longgar mereka. Ide pun muncul untuk bermain musik yang berbeda, mereka terpikirkan apa yang telah dilakukan muda-mudi kampung saat acara 17 Agustusan kenapa tidak dilanjutkan. Itu bukan suatu kebetulan, namun memang adanya bakat yang harus diasah. Saat itu Andri rela menyediakan rumah sebagai sarana tempat untuk berlatih, dan Narso yang berbekal pengalaman yang dia dapat selama berkuliah di Institut Seni Indonesia di Solo merasa, ilmunya harus disalurkan ke yang lain.

Mulai dari situlah mereka berdua berkomitment untuk membentuk suatu group musik. Mereka memilih anggota yang sekiranya berpotensi dalam hal ini. Akhirnya mereka sudah menentukan anggota dari group musik tersebut. Dimas, Icha, Resima, Ageng dan Tifah. Mereka yang dianggap tepat untuk dijadikan sebuah group musik menurut pendapat Andri dan Narso. Semua sudah siap, namun mereka melupakan hal yang sangat krusial yaitu alat musiknya. Tidak akan bisa berjalan jika tidak ada alat musiknya, namun mereka tidak menyerah mereka kembali menggunakan alat musik yang terbuat dari barang bekas dan di kombinasikan dengan alat musik tradisional Jawa.

Hari demi hari mereka lalui dengan berlatih, hari yang biasanya setiap sore sudah sepi dari suara gaduh, sekarang mulai terdengar lagi dari alunan musik yang mereka mainkan. Sudah hampir setahun mereka berlatih, saat mereka untuk berani pentas dalam sebuah acara. Andri berpikir keras saat itu, acara apa yang bisa diikuti untuk menunjukan hasil kerja keras mereka selama ini, dan Narso pun iseng merekam setiap kali anak-anak tersebut beratih. Hasil rekaman Narso pun sampai ke temannya yang notabene beliau berasal dari Korea Selatan. Dari situlah semua mulai jelas. Andri mulai mendapat ide, kalau tidak ada acara yang bisa kita ikuti, kenapa kita tidak membuat acara sendiri saja?

Hal yang sangat benar dan tepat yang dipikirkan oleh Andri, karena sebentar lagi momen 17 Agustus 2017. Dia terpikirkan membuat acara tirakatan malam 17 Agustus dengan menampilkan Hasil kerja keras anak-anak berlatih selama ini tentunya disisipi dengan acara lain. Disisi lain Narso berusaha membunjuk teman yang dari Korea selatan tadi untuk mau join dalam acara Tirakatan 17 agustus yang akan diadakan di halaman bekas SD N 2 Dayu.

Semua berjalan lancar kepanitiaan sudah terbentuk, roundown acara sudah fixs dan orang Korea juga sudah mau untuk join. Namun ada sebuah masalah lagi, anak-anak tadi belum mempunyai nama group musik. Walaupun mau tampil ditempat dan acara sendiri, tapi sebuah nama group musik itu sangat penting.

Setelah semua berunding akhirnya muncul nama “Lawu Percussion” dan semua setuju akan nama tersebut. Hari tersebut sudah di depan mata, panggung sudah berdiri, sound sistem sudah mulai berdengung dengan keras. Dan tibalah saat acara dimulai, rentetan acara sudah dimulai dengan lancar, anak-anak Lawu Percussion menampilkan pertunjukan yang membuat semua penonton memberikan teriakan dan tepuk tangan, sedangkan rekan dari Korea juga menampilkan sebuah pertunjukan seni musik Korea yang tentunya di simak baik baik oleh penonton, karena hal tersebut merupakan suara baru yang masuk ke telinga mereka. Di akhir acara, ternyata ada kejutan yang dibawa oleh teman dari Negeri K-Pop sudah mempunyai naluri bahwa anak-anak Lawu Percussion ini akan berkembang dengan pesat bahkan hal itu sudah ia ketahui setelah melihat rekaman yang ditunjukan oleh Narso. Karena melihat alat musik yang dimainkan oleh Lawu Percussion adalah barang bekas, Si Korea lantas berniat memberikan alat musik kepada mereka untuk mengembangkan bakat yang mereka punya, dan di acara inilah moment yang tepat untuk memberikan alat musik tersebut.

Suara jeritan bahagia terdengar dari semua anak-anak Lawu Percussion, mereka mendapat suatu hal yang tidak mereka bayangkan, mereka mendapat alat musik khas Korea yang bernama Samulnori. Acara malam tirakatan 17 Agustus 2017 tersbut akhirnya berjalan sesuai dengan harapan.

Kemudian harinya anak-anak lawu percussion bersemangat berlatih dengan menggunakan alat barunya. Suara gaduh di tengah kampung semakin menggaduh setiap harinya dikala sore tiba. Semakin kesini, mereka semakin mahir dalam memainkan alat musik yang mereka gunakan. Hingga mereka memutuskan harus tampil di event luar. Dan berbagai event yang diadakan di sekiatar Kota Solo mereka berhasil berpartisipasi. Mulai saat itu Lawu Percussion mulai terkenal di daerah Kabupaten Karanganyar, dan mereka beberapa kali mendapat undangan untuk mengisi acara.

Pentas di Semarak Indosiar

Andri dan Narso tidak puas akan hal terebut, tibalah saat itu ada pagelaran tingkat nasional yang bertakjub Indonesa Drum dan Perkusi 2018. Mereka berkomitmen untuk mengikuti acara tersebut entah bagaimana caranya dan bagaimana soal dananya, karena acara tersebut dilaksanakan di Jakarta. Dengan tekat yang kuat akhirnya mereka bisa menjadi salah satu perserta dalam acara tersebut. Anak-anak lawu Percussion yang bernggotakan 5 anak tersbut sampai rela setiap harinya menyisihkan uang saku sekolah untuk menabung agar bisa berangkat ke Jakarta. Dan Andri sendiri mencari sumber dana dengan segala cara agar mereka dapat berangkat, mulai dari Desa, Donatur, dll.

Akhirnya mereka bisa berangkat ke Jakarta untuk mengikuti acara yang terkenal disingkat IDP Fest 2018 tersebut. semua berjalan dengan lancar dan hasil yang sangat memuaskan, sebuah group musik yang beranggotakan sekumpulan anak SD dan bermula dari barang bekas, bisa menjadi Juara 4 tingkat Nasional. Orang tua mereka menangis bangga, tidak mengira bisa sejuah ini. Semua pagelaran IDP Fest 2018 sudah selesai, mereka kembali pulang dengan tekat tahun depan harus masuk ketiga besar.

Semua kembali normal, suara gaduh tiap hari masih terdengar yang kali ini bersumber di rumah Andri. Andri dengan senang hati menjadikan rumahnya sebagai basecamp dan tempat latihan bgi anak-anak lawu percussion. Tiap hari mereka berlatih dengan target tahun 2019 mengikuti IDP Fest 2019 dan masuk ke tiga besar. Dan anak-anak tersebut kembali menabung setiap hari dengan harapan saat waktunya uang tabungannya bisa digunakan untuk berangkat kembali ke Jakarta. Semakin hari skil anak-anak semakin terasah berkat hal-hal dan ilmu baru yang di ajarkan oeh Narso.

Pentas di Borobudur, Festival Payung

Di tengah persiapan menuju IDP Fest 2019 mereka beberapa kali mendapat undangan untuk tampil mengisi disebuah acara, termasuk undangan dari luar Kabupaten yaitu acara Festival payung di Obyek Wisata Borobudur di penghujung tahun 2018. Nama Lawu Percussion semakin terkanal saja oleh penggiat-penggiat acara yang membutuhkan pengisi acara.

Event yang mereka nanti-nantikan sebentar lagi akan datang, hal tersebut membuat semangat anak-anak semakin berlipat, hentakan tangan memumuk alat musik seakan lebih keras dari biasanya, suara gaduh ditengah kampung semakin keras terdengar. Semangat yang terbakar demi menunjukan bahwa mereka bisa masuk 3 besar. Bukan tanpa masalah, kali ini disisi pendanaan tidak selancar tahun kemarin, pihak Desa tidak menyumbang lagi. Andri berpikir keras akan hal tersebut, dia berfikir bagaimana caranya anak-anak bisa berangkat dan tidak kecewa jikalau tidak dapat berangkat karena masalah keuangan pasti semangat mereka sontak akan hilang begitu saja. Sampai andri dan Narso membuka Donasi untuk anak-anak bisa berangkat. Mereka menyebar pengumuman di media sosial. Alhamdulilah banyak yang peduli akan bakat anak-anak Lawu Percussion dengan menyumbangkan sedikit rejeki agar mereka daat berangkat ke jakarta.

“prakkkkkkk” terdengar suara pecah, ternyata suara tersebut bersumber dari 5 celengan yang dipecahkan secara bersama oleh ke 5 anak anggota Lawu Percussion tersebut untuk biaya mereka berangkat ke jakarta mengikuti IDP Fest 2019.

Hari yang dinanti tiba, mereka berangkat menuju Jakarta di antar oleh oarng tua masing masing. Tangis haru dan harapan besar dari orang tua mengiringi keberangkatan mereka. Ke esokan harinya mereka sudah sampai Jakarta, langkah yang yakin mengiri mereka menuju ke lokasi acara diselenggarakan. Tidak ada rasa gugup di muka mereka mereka bersemangat menanti hari tiba.

Pengumuman Juara IDP Festival 2019

Suara teriakan dan suara keras musik mulai terdengar, mereka menampilkan sebuah pertunjukan yang membuat juri dan penonton sangat terhibur, “dibalik usia mereka yang masih kecil dibandingkan kontestan lain mereka sangat berbakat” ucap salah satu juri. Mulai pembawa acara terlihat berada di tengah panggung, waktunya pengumuman juara. Kali ini terlihat muka anak-anak tersebut mulai tegang. Dan hasilnya mereka, Lawu Percussion yang merupakan sekumpulan anak-anak yang berasal dari kampung mendapatkan Juara ke-tiga dalam pagelaran IDP Fest 2019 ini, suatu yang sangat diharapkan oleh anak-anak itu untuk bisa masuk ketiga besar dan hal tersebut dapat mereka buktikan. Teriakan senang terlontar dari mulut mereka.

Akhirnya mereka kembali ke kampung dengan dada yang tegap, selain dapat mencapai target yang mereka targetkan, mereka juga membanggakan orang tua serta daerahnya di tingkat nasional. Berita tersebut sampai ketelinga Waki Bupati karanganyar saat itu, sontak bapak Wakil Bupati mengundang mereka ke kediamanya untuk sekedar memberikan apreisiasi kepada Anak-anak tersebut karena sudah membawa nama baik Kabupaten Karanganyar di Tingkat Nasional.

Undangan Wakil Bupati Karanganyar

Itulah kisah sekumpulan anak-anak dari kampung yang perjuangannya sangat menginspirasi, tentunya juga berkat bimbingan dan arahan dari Andri dan Narso, sosok dibalik kesuksesan mereka. Saat ini suara gaduh di tengah kampung tidak terdengar lagi, namun berganti dengan suara merdu dari alat musik yang mereka mainkan, mereka sekarang mempunyai target untuk bisa mewakili negara Indonesia di pentas Dunia.

 

Read More