Category: Pertanian

SULIT AIR: Petani Jumapolo Resahkan Kekeringan

Sejumlah petani di Desa Kwangsan, RT001/RW009, Jumapolo, Karanganyar resah dengan kekeringan yang melanda ladang mereka selama dua bulan terakhir.

Seorang petani  Desa Kwangsan, RT001/RW009, Jumapolo, Nardi mengaku resah karena kesulitan mencari air selama musim kemarau tiba. “Kami sulit mencari air terpaksa kami nganggur  selama belum turun hujan,” ujarnya.

Dia menambahkan mulai  terjadi kekeringan dalam dua bulan terakhir. Dia berharap  Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar memberikan solusi kepada petani sekitar untuk mengatasi kekeringan tersebut.

Musim kemarau, kata dia, mayoritas petani di desanya menganggur di rumah. “Kami tidak bisa menanam tanaman apapun,  karena pasti akan mati dan kami merugi,” ujarnya.

Warga lain yang enggan disebut namanya mengatakan solusi  untuk mengatasi  kekeringan dengan menggali sumur dan diberi pompa air sehingga walaupun musim kemarau turun masih tetap eksis menanam tanaman. “Dinas terkait kalo berkenan memberi bantuan atau pinjaman pembuatan sumur pasti kami senang. Kami akan bayar saat nyicil saat panen tiba,” ujarnya.

Pompa air, kata dia, diperlukan karena ladang di sekitar Desa Kwangsan Kecamatan  Jumapolo merupakan tadah hujan. “Sulit mencari air kecuali membuat sumur sedalam 100 meter lebih,” ujarnya.

Read More

Antisipasi Wereng, 300 Hektare Sawah Disemprot

Petani yang ada di Desa Klodran, Baturan, dan Gedongan, Kecamatan Colomadu  melakukan antisipasi serangan hama wereng dan tikus. Mereka melakukan penyemprotan insektisida dan obat pembasmi tikus di areal sawah di Desa Klodran, Kamis (28/6).
Selain petani, penyemprotan hama tersebut juga diikuti oleh Camat Colomadu, Joko Budi Utomo, petugas dari Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) dan Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Karanganyar serta Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dinpertan TPH) Provinsi Jateng.
Menurut petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinpertan Jateng, Suryani, kegiatan tersebut merupakan bagian dari Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman, dan dilakukan di tiga desa di Kecamatan Colomadu oleh petani setempat. “Ini dilakukan untuk mengantisipasi merebaknya hama wereng pada tanaman padi di areal sawah kami,” jelas salah seorang petani dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Colomadu,  Sukarjoko.
Sementara itu Kasi Perlindungan Tanaman Distanbunhut Karanganyar , Danik Sri Handayani menjelaskan bahwa penyemprotan tersebut sebagai tindak lanjut terkait adanya serangan hama wereng di Kecamatan Jaten. “Penyemprotan dilakukan agar petani nantinya tidak dirugikan karena hama wereng,” tambahnya.
Penyemprotan hama tersebut dilakukan pada areal sawah seluas 300 hektare. Penyemprotan dilakukan di daerah-daerah perbatasan dengan kabupaten lain. Seperti hama wereng di Jaten yang berasal dari Sukoharjo, Colomadu berbatasan dengan Boyolali.

Sumber : http://www.harianjoglosemar.com

Read More

300.000 Lahan di Jateng Beralih Fungsi

Gubernur Jateng Bibit Waluyo menyatakan kekecewaannya kepada Kepala Daerah yang tidak memiliki kepedulian terhadap lahan produktif di Jawa Tengah, Jumat (22/6). Ia mengatakan bahwa saat ini lahan lestari di  Jawa Tengah hanya sekitar 1,7 juta hektare.

“Lahan produktif di Jawa tengah itu berkurang 300.000 hektare dari sebelumnya 2 juta hektare, sekarang hanya tinggal 1,7 juta hektare. Para kepala daerah, baik Bupati dan Walikota sekarang terlihat mulai kurang peduli pada permasalahan alih fungsi lahan,” tegas Bibit saat menghadiri silaturahmi dengan SKPD, camat, lurah, dan kepala desa se-Karanganyar di Pendopo rumah dinas bupati, Jumat (22/6).

Bibit menegaskan agar para walikota dan bupati harus lebih berhati-hati mengawal pemasalahan alih fungsi lahan di dearahnya masing-masing. Ia mengingatkan agar setiap pembangunan harus mengacu kepada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang ada. “Membangun  harus disesuaikan dengan RTRW yang telah ditetapkan, keperuntukannya untuk apa. Untuk pertanian, industri atau perumahan,” tambah Bibit.

Menurutnya, jika kepala daerah bisa lebih disiplin menyikapi alih fungsi lahan, hal tersebut bisa menekan angka pengurangan lahan produktif yang ada. “Disiplin harus dikerjakan semua pihak untuk menjaga lahan lestari,” ujar Bibit.

Sementara itu, Bibit menyatakan bahwa pertanian di Jawa Tengah berjalan dengan efektif. Ia menyatakan bahwa bibit unggul Pemprov, yakni bibit jenis Inpari-13 sudah berhasil. “Hasil panen di Jateng yang bisa mencapai sebanyak 11 ton per hektarenya. Ini harus didukung dengan sistem yang baik dan dukungan dari kelompok tani,” kata Bibit.

Selain itu, Bupati Karanganyar,  Rina Iriani menyatakan program ketahanan pangan oleh Pemkab Karanganyar berjalan dengan baik. “Total lahan lestari di Karanganyar seluas 23.000 hektare itu kami sudah memetakan di mana saja titiknya. Hingga Desember 2012 , kami pun yakin bisa surplus beras hingga 110.000 ton,” tambahnya.

Read More

Giatkan Penyemprotan Hama

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan, Kehutanan (Dispertanbunhut) Kabupaten Karanganyar, Siti Maisyaroch, melakukan penyemprotan terhadap hawa wereng di Desa Papahan, Karanganyar, Selasa (12/6). Langkah ini merupakan tindak lanjut dari pencanangan gerakan pengendalian organisme pengganggu tanaman padi oleh Bupati Karanganyar, Rina Iriani, Kamis (7/6).

“Setelah dicanangkan gerakan tersebut. Kita harus terus melanjutkannya dengan melakukan penyemprotan ke daerah-daerah yang berpotensi terkena hama wereng,” jelas Maisyaroch, Selasa (12/6). Ia mengatakan penyemprotan hama yang dilakukan melingkupi 60 hektare sawah dengan melibatkan 75 petani pemilik sawah tersebut. Pihak Dispertanhunbut juga memberikan pestisida sebanyak 20 liter secara gratis kepada petani.

“Penyemprotan ini juga dilakukan karena musim hujan yang mulai datang. Wereng senang berada di daerah basah, sehingga telur-telurnya juga mulai banyak jika musim hujan,” ungkap Maisyaroch. Maisyaroch menyatakan bahwa yang dilakukan pihaknya merupakan bentuk pencegahan. Menurutnya, ada tiga daerah yang berpotensi terserang hama wereng yakni Jaten, Kebakkramat, dan Tasikmadu. Hal tersebut disebabkan daerah tersebut berbatasan dengan daerah lain yang terserang hama wereng.

Read More

SERANGAN KERA: Distanbunhut Karanganyar Minta Warga Buat Surat Laporan

Terkait serangan kera liar pada lahan pertanian di tiga desa di Kecamatan Ngargoyoso, warga diminta membuat surat laporan resmi ke Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar.

Hal tersebut  ditegaskan Kepala Distanbunhut Karanganyar, Siti Maesyaroch  akhir pekan kemarin. Dia pun berjanji akan segera menindak lanjuti laporan itu.

Siti menjelaskan pihaknya akan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng untuk menangkap kera-kera liar itu dengan jaring. “Surat resmi dari warga menjadi dasar pertimbangan untuk meminta bantuan BKSDA agar menangkap binatang itu,” ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, ratusan kera liar menyerang lahan pertanian tiga desa yakni Ngargoyoso, Kemuning dan Segoro Gunung di Kecamatan Ngargoyoso. Bahkan, rombongan kera liar tersebut telah memasuki pemukiman penduduk. Kera liar itu menyerang lahan pertanian sejak setahun terakhir. Intensitas serangannya semakin meningkat sejak beberapa pekan lalu. Hewan tersebut memakan beberapa jenis tanaman di ladang seperti jagung dan singkong.

Read More

CENGKEH KERING: Penjual Cengkeh Kering Keluhkan Harga

Penjual cengkeh kering di Kecamatan Jatipuro, Karanganyar mengaku harga komoditas cengkeh kering tahun ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Jika tahun lalu penjual dapat mengantongi Rp185.000-Rp215.000/kg, tahun ini harga cengkeh kering hanya Rp70.000-Rp80.000/kg.

Seorang penjual cengkeh kering di Desa Jatipurwo, Ny Supono mengatakan tahun ini mereka sulit mengambil keuntungan. “Harga cengkeh basah Rp26.000-Rp27.000/kg dari pedagang pasar dan petani. Kalau dikeringkan kan menyusut beratnya,” ujar wanita yang sudah puluhan tahun menjadi pengering cengkeh.

Ny Supono biasa menjual cengkeh kering kepada tengkulak dari Surabaya. Tahun ini ia menjemur sekitar tiga kuintal cengkeh untuk dijual. “Di Jatipuro kebanyakan hanya pengering saja. Petani cengkeh banyak di Jatiyoso. Menanam cengkeh itu tidak sulit asal rajin dipupuk, hasilnya juga bagus,” ungkap dia.

Senada dengan Ny Supono, penjual cengkeh kering di Dusun Brenggolo, Desa Jatiwarno, Wirorejo, juga mengeluhkan harga komoditas cengkeh yang menurun dibandingkan tahun lalu. Ia yang biasa menjual cengkeh kering kepada tengkulak asal Solo mengatakan hanya bisa menjual cengkeh kering Rp70.000/kg. Harga turun 50% jika dibandingkan dengan tahun lalu yang sempat mencapai Rp185.000/kg.

Wirorejo membeli cengkeh basah dari pasar-pasar di Jatiyoso dan Jatipuro. Dalam sehari ia bisa mengeringkan sekitar satu kuintal cengkeh basah. “Kalau petani sedang panen seperti ini ya mencari ke mana-mana. Saya sudah lama jadi pengering cengkeh. Sudah punya langganan tetap,

Read More

KAPER Serang Tanaman Padi di Karanganyar

Sejumlah petani di Kabupaten Karanganyar mengeluhkan hama kaper dan tikus yang menyerang tanaman padi miliknya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut sebagian petani memilih untuk membasmi hama dengan pestisida.

Petani di Desa Jantiharjo, Kecamatan Karanganyar, Pardi, mengatakan serangan hama kaper dapat mengakibatkan padi tidak berisi, yang biasa disebut petani gejala beluk (whitehead). “Setiap musim tanam hamanya berbeda-beda, untuk musim tanam kali ini hamanya kaper, penggerek batang dan tikus. Untuk jenis hama kaper dan penggerek batang saya memakai pestisida,” terang dia saat ditemui, awal pekan kemarin.

Petani lain, Suyitno, juga mengaku resah dengan serangan hama kaper di sawah yang digarapnya. Suyitno yang menggarap sawah seluas 9000m2 ini mengatakan hama kaper awalnya disebarkan oleh kupu-kupu. “Jadi kupu-kupu itu kan bertelur, telur itu akhirnya jadi kaper yang memakan pucuk batang padi. Akhirnya tanaman padi menjadi putih,” ujar dia.

Senada dengan Pardi, untuk membasmi hama kaper, Suyitno juga menggunakan pestisida. “Kebetulan tanaman padi saya masih berumur 36 hari, jadi saat ini upaya yang kami lakukan adalah pencegahan,” imbuh dia.

Menurut Suyitno, salah satu penyebab munculnya hama kaper di lahan persawahannya adalah akibat musim tanam yang tidak bersamaan. Tanaman padi yang berada di sebelah sawahnya sudah mulai siap panen, sedangkan tanaman padi miliknya baru saja tumbuh.

Terpisah, seorang penjual pupuk di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Matesih, Dwi Handayani mengatakan beberapa petani di daerahnya banyak mengeluhkan peningkatan populasi tikus yang menyerang tanaman padi. Ia memaparkan untuk memberantas tikus petani di Karanganyar biasanya memberi umpan makanan yang dicampur racun.

“Biasanya diberi makan obat celeng. Tapi memang banyak petani mengeluhkan untuk membasmi hama tikus itu agak sulit,” terang dia.

Di sisi lain meskipun serangan hama kaper dan tikus merajalela di Karanganyar, petani mengaku masih bisa mengatasi permasalahan tersebut.

Read More

HAMA: Masuki MT II, Petani Waspadai Serangan Hama

Petani di Jaten, Kabupaten Karanganyar mulai mewaspadai serangan hama keong emas maupun wereng memasuki musim tanam (MT) II. Berbagai upaya dilakukan untuk mengantisipasi serangan hama tersebut.

Salah satu petani, Temu, mengaku waswas dengan hujan deras yang terus mengguyur wilayah Karanganyar dalam sepekan terakhir. Menurutnya dengan intensitas hujan yang tinggi akan membuat potensi serangan hama keong emas semakin besar. “Kalau airnya terlalu kebanyakan pasti keongnya banyak. Padahal ini hujan terus dan bisa membuat kelebihan air,” ujarnya.

Temu mengatakan berbagai langkah akan dilakukan untuk mengantisipasi serangan hama keong emas tersebut. Salah satunya dengan mengurangi debit air yang ada di lahan pertaniannya. Dengan demikian keong emas tidak bisa berkembang biak lebih cepat.

Hal senada disampaikan petani lain, Warso yang mengaku cemas akan serangan hama wereng. Apalagi kondisi cuaca tidak menentu yang dikhawatirkan akan menimbulkan potensi serangan hama wereng. “Kadang hujan, kadang panas sekali ini yang bisa membuat wereng berkembang. Jadi ya harus persiapan obat buat ngusir wereng,” katanya. Warso mengatakan serangan hama wereng patut diwaspadai. Hal ini dikarenakan serangan hama wereng mampu langsung membuat tanaman padi kering dan mati sehingga tidak bisa dipanen. Dia tidak ingin serangan hama wereng yang menyerang tanaman padi petani pada tahun lalu terulang kembali.

Nek tahun wingi blas mboten panen. Wong parine do dipangan wereng kabeh. Dadi tahun iki kudu panen, parine seger ora mati dipangan wereng,” harapnya.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar Siti Maesyaroch mengatakan telah membentuk tim brigade perlindungan tanaman pangan. Tim yang beranggotakan 10 orang ini akan bertugas melakukan gerakan perlindungan tanaman pangan. Artinya jika menerima laporan adanya serangan hama pada tanaman apa pun, tim ini akan langsung bertindak dengan melakukan pembasmian. “Jadi kami telah bentuk tim brigade perlindungan tanaman. Begitu terima laporan ada serangan hama, tim ini yang bertindak,” terangnya

Read More

Tanaman PADI AMBRUK, Petani Merugi Jutaan Rupiah

Petani di Karanganyar kian menjerit rugi hingga puluhan juta rupiah lantaran tanaman padi ambruk diterjang hujan disertai angin kencang, Minggu (12/2/2012) sore. Bahkan tanaman padi yang diikat pun ikut ambruk tak kuat menahan terjangan angin tersebut.

Berdasarkan pantauan, Senin (13/2/2012) padi yang ambruk terjadi di Jaten, Tasikmadu, Karanganyar Kota serta Matesih. Petani yang ditemui mengaku rugi hingga puluhan juta rupiah akibat kejadian itu.

Petani Dagen, Kecamatan Jaten, Mukiman, 57 mengaku pasrah dan terpaksa memanen dini tanaman padinya. Hal ini lantaran tanaman padi yang siap panen sepekan lagi ambruk diterjang angin.

”Padinya ambruk semua. Tidak bisa diapa-apakan lagi,” keluhnya.

Dia mengaku mengalami kerugian hingga jutaan rupiah akibat kejadian tersebut. Apalagi tanaman padi yang dipanen masih belum berisi. Meskipun sebagian padi lainnya sudah berisi. ”Rugi banyak, sampai Rp4 jutaan. Seharusnya belum dipanen, tapi harus dipanen,” ujarnya.

Senada disampaikan petani lain, Rigun, 33. Dia mengatakan hujan deras disertai angin kencang yang menerjang Karanganyar menyebabkan tanaman padi yang sudah dalam kondisi diikat roboh. Sebelumnya, sebagian tanaman padi miliknya telah roboh diterjang angin beberapa waktu lalu.

”Sekarang malah yang diikat ikut ambruk. Hampir semua tanaman di sini ambruk kena angin,” tuturnya.

Rigun mengatakan langkah mengikat tanaman padi dilakukan untuk mengurangi kerugian yang cukup besar. Apalagi tanaman padi miliknya yang roboh belum bisa dipanen. Sehingga harus tetap ditegakkan kembali dengan diikat agar siap dipanen.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Tanaman pangan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar Siti Maesyaroch mengakui banyak tanaman padi milik petani di Karanganyar yang roboh diterjang angin pada Minggu kemarin. Namun pihaknya belum menetapkan hal itu sebagai kejadian luar biasa.

”Belum bencana. Masih normal, tapi kami siap memberikan bantuan benih kepada petani yang membutuhkan,” ujar Siti.

Read More

Hindari Kerugian, Petani Ikat Padi Roboh

Petani di Jaten dan Tasikmadu ramai-ramai mengikat batang padi untuk mengurangi kerugian besar akibat tanaman padi roboh diterjang hujan disertai angin kencang, Minggu (5/2/2012).

Petani yang ditemui Solopos.com mengaku rugi hingga jutaan rupiah akibat kejadian itu. Petani Bulu, Jaten, Rigun, 33, mengatakan hujan deras disertai angin kencang yang menerjang Karanganyar pada Sabtu kemarin menyebabkan tanaman padi miliknya roboh. Bahkan nyaris seluruh tanaman padi yang  masih belum berisi roboh.

“Tinggal sisa sedikit yang tidak roboh dan sudah diikat. Padi yang roboh dan bisa diselamatkan diikat juga,” tuturnya.

Rigun mengatakan langkah mengikat tanaman padi dilakukan untuk mengurangi kerugian yang cukup besar. Apalagi tanaman padi miliknya yang roboh belum bisa dipanen. Sehingga harus tetap ditegakkan kembali dengan diikat agar siap dipanen.

“Kalau tidak seperti ini (diikat-red) ruginya tambah besar. Wong ini masih pada kopong,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, dia menuturkan sekali panen bisa mencapai Rp10 juta. Namun dalam kondisi seperti itu, dia menambahkan kemungkinan besar hanya mencapai Rp8 juta. Rata-rata usia tanaman padi yang roboh berkisar antara 60 hingga 70 hari.

Petani Tasikmadu, Mulyono, 42, mengaku mengalami kerugian baik tenaga maupun materi. Untuk biaya ikat harus mengeluarkan tambahan sekitar Rp 300.000– Rp 400.000 per petak. Setidaknya, dia mengatakan ada puluhan hektare tanaman padi yang roboh diterjang hujan deras disertai angin kencang tersebut. Tanaman padi miliknya yang roboh berusia 3,5 bulan. Padahal  masa panen padi sekitar umur 4 bulan.

”Sebagian kami ikat, sebagian terpaksa kami panen dini. Kalau tidak, maka akan membusuk,” katanya.

Ditambahkan petani lain, Kirdi, 37, jika tidak segera dipanen, nasib petani akan semakin terpuruk. Keputusannya memanen padinya lebih awal merupakan pilihan terakhir. ”Tidak mungkin mempertahankan padi yang ambruk. Bila itu dilakukan risiko yang ditanggung semakin besar,” katanya.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/karanganyar/hindari-kerugian-petani-ikat-padi-roboh-159984

Read More