Ulat bulu mengganas di Ngringo
Fenomena ulat bulu mulai merambah Kabupaten Karanganyar. Ribuan ulat bulu menyerbu tanaman mangga milik warga di wilayah Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar.
Fenomena ulat bulu mulai merambah Kabupaten Karanganyar. Ribuan ulat bulu menyerbu tanaman mangga milik warga di wilayah Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar.
Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Karanganyar mulai siaga mewaspadai munculnya serangan ulat bulu.
Hal ini menyusul serangan ulat bulu yang mulai menyerang sejumlah daerah di Soloraya. Kepala Distabunhut Karanganyar Siti Maesyaroch kepada wartawan, Jumat (15/4/2011) mengatakan meski serangan ulat bulu belum merampah Karanganyar, namun pihaknya mulai mewaspadai serangan tersebut.
Dia menuturkan berbagai upaya dilakukan untuk pencegahan terhadap serangan ulat bulu, termasuk melakukan kerjasama dengan laboratorium penanggulangan penyakit hama dan penyakit tanaman Solo. “Kami tetap berupaya melakukan pencegahan. Salah satunya dengan mencari semut ngangkrang dan menyebar burung untuk mencegah serangan ulat ini.
Kabupaten Karanganyar akan dijadikan sampel penanaman bawang putih lokal. Ada dua daerah di Karanganyar yang akan dijadikan demonstrations plot (Demplot) untuk penanaman bawang putih yakni Desa Blumbang, Tawangmangu dan Desa Anggrasmanis, Jenawi.
Petani sayuran di wilayah Tawangmangu terancam gagal panen, karena hujan deras terus mengguyur daerah itu. Bahkan petani harus bersiap-siap untuk rugi hingga ratusan juta, karena sayuran yang mereka tanam tidak bisa dipanen. Hingga saat ini belum ada penanganan serius dari instansi terkait untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Camat Tawangmangu Yopi Eko Jatiwibowo menjelaskan, akibat hujan deras yang mengguyur Wilayah Tawangmangu, tanaman sayur menjadi kelebihan air kemudian mati. Meski dapat diminimalkan, tetapi petani harus menyiapkan dana lebih untuk itu. “Meski dapat bertahan, tetapi butuh biaya lebih untuk pemeliharaannya,” kata Yopi, kemarin.
Padahal, saat ini Wilayah Tawangmangu menjadi sentra jual beli sayuran seperti wortel, sawi dan daun bawang. Dan pembelinya kebanyakan merupakan orang dari luar daerah seperti Sukoharjo dan Solo. “Untuk sayuran sawi yang ada di sini (Tawangmangu-red) mencapai 70 hektare, wortel seluas 125 hektare dan daun bawang seluas 50 hektare. Tetapi akibat hujan yang terus mengguyur petani siap-siap merugi,” tandasnya.
Yopi menaksir kerugian yang akan diderita oleh para petani tidaklah sedikit. Karena untuk setiap hektarenya, petani ditaksir merugi hingga Rp 5 sampai Rp 7 juta. Dengan kondisi ini, Yopi mengharap pihak terkait agar cepat mengambil tindakan.
Terpisah, kepala dinas pertanian tanaman pangan perkebunan dan kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch saat dihubungi Joglosemar mengaku sudah menyurvei sejumlah lokasi dan menyiapkan bantuan pestisida.
“Kalau mengenai cuaca kami tidak bisa apa-apa, tetapi kami sudah menyurvei sejumlah lokasi. Nantinya akan kita buat saluran irigasi agar kalau hujan deras air dapat mengalir dan tidak ngecembeng di lahan,” terangnya.
Selain itu, katanya, Pemkab juga menyiapkan bantuan berupa pestisida untuk para petani. “Kalau hujan turun biasanya banyak hamanya, Pemkab sudah menyiapkan pestisida. Jika ada petani yang kesulitan lapor saja, kami siap membantu
Dalam beberapa tahun ke depan Kabupaten Karanganyar siap mengekspor cabai. Menurut Bupati Karanganyar, Rina Iriani, potensi perdagangan cabai di pasar dunia sangat bagus, bahkan seluruh dunia dipastikan membutuhkan cabai.
Para petani cabai di Karanganyar meraup keuntungan empat kali lipat dalam panen kali ini. Saat menanam cabai dulu, mereka hanya bermodal Rp 30 juta.
Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Karanganyar memastikan stok beras masih aman untuk tiga bulan ke depan.
Buruknya cuaca akhir-akhir ini berimbas pada petani wortel di Wilayah Sedonorejo, Segorogunung, Ngargoyoso, Karanganyar.