Category: Pertanian

Petani Sayur Rugi Berat Melawan Produk Impor

Setelah anomali cuaca yang tidak menentu, kemudian berlanjut serbuan sayur impor di pasaran, kini giliran sayur dari daerah lain juga mulai memasuki Bumi Intanpari. Hal ini ditengarai membuat daftar penyebab kerugian petani Karanganyar semakin panjang.

Salah satu petani wortel di Dukuh Seledok, Girimulyo Ngargoyoso, Joyo Sukarno menuturkan, Senin 10 oktober  mengaku keuntungan bersih dari panen wortelnya setiap kali panen semakin menurun. Menurutnya selain banyaknya konsumen yang beralih menggunakan sayur impor, Karanganyar saat ini juga diserbu sayuran dari daerah lainnya. “Dari sekilo wortel yang kita panen, paling nanti hanya untung Rp 1.500 per kilonya, padahal sebelumnya bisa mencapai Rp 2.500 per kilo,” kata dia.

Kalau tidak ada pengawasan tegas dari Pemerintah, dirinya merasa dengan persaingan ketat tersebut akan semakin membuat harga sayur di pasaran bergoyang kencang. “Sekarang ini kalah sama penjual wortel dari Dieng yang juga telah masuk pasar sini. Jadi untuk harga itu memang tergantung sama alam pasar mas, tetapi yang pasti sayur dari Dieng harganya lebih murah,” tuturnya.

Sementara, banyak petani sayur di Ngargoyoso, ditambahkan Joyo hanya mempunyai keahlian dari bercocok tanam sayur secara turun temurun dan autodidak, “Kalau terus bertahan dan merugi siapa nanti yang mau menjadi petani sayur,” .

Lebih lanjut, dirinya juga merasa selain banyaknya sayur dari daerah lain yang memasuki Karanganyar, anomali cuaca juga ditengarai membuat daftar panjang kerugian petani sayur di wilayahnya. “Dulu semua bisa diperkirakan setelah memanen wortel bisa dilanjutkan dengan menanam sayur lainnya, kalau sekarang tidak bisa lagi,” kata dia.

Read More

Petani Tawangmangu Pilih Tanam Bibit Wortel Impor

Petani wortel di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar beramai-ramai menanam bibit sayuran impor. Penyebabnya, pedagang dan konsumen memilih sayuran hasil impor di samping keuntungan cukup besar. Petani wortel, Paryono, mengatakan dirinya terpaksa menanam bibit wortel impor dari Jepang. Dia beralasan hasil panen sayur impor memiliki ukuran lebih besar dan lebih segar dibandingkan tanaman lokal. Selain itu bibit wortel Jepang masa panennya juga lebih cepat satu bulan dibanding tanaman lokal serta lebih tahan hama penyakit. “Petani banyak yang menggunakan bibit dari Jepang karena stok bibit lokal susah didapat. Hasilnya juga lebih bagus bibit impor daripada yang lokal.

Dia menambahkan karena berkualitas lebih bagus, harga satu kilogram wortel Jepang mencapai Rp 2.5oo. Sedangkan harga wortel lokal hanya Rp 2.ooo. Hal senada diungkapkan petani lain, Hardiyanto. Menurutnya, para pedagang dan distributor memilih wortel dari Jepang yang mudah dicuci dan lebih besar ukurannya. Di pasaran, tutur dia, wortel kualitas impor banyak diburu pedagang. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang berani membayar lebih.

Terkait dengan kebijakan impor sayur-mayur yang dilakukan pemerintah, dia menuturkan belum terlalu berdampak terhadap petani di Tawangmangu. Dia dan petani lainnya berharap impor yang dilakukan pemerintah bukan berupa produk sayur-mayur melainkan bibit sayur. Sementara ini, para petani mulai menanam bibit sayur impor seperti wortel agar hasil panennya tidak kalah dengan sayuran yang diimpor dari luar.

“Kami hanya minta pemerintah bukan mengimpor sayur-mayur dari luar tapi bibit saja”.

Kendati demikian, dia mengaku mulai waswas dan khawatir dengan kebijakan impor sayur dari China karena akan membuat harga sayur lokal anjlok dan mematikan petani. Mereka menilai impor sayur  belum diperlukan, justru akan mematikan para petani lokal lantaran harga jual say’ur lokal yang akan jatuh.

Read More

Poktan Wana Tirta panen 6 ton bawang putih

Puluhan petani yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) Wana Tirta Dusun Babar, Desa Anggrasmanis, Kecamatan Jenawi, Karanganyar memanen bawang putih, Kamis (29/9/2011).

Bawang putih yang ditanam warga itu awalnya merupakan bantuan pengembangan sayuran dari pemerintah pusat senilai Rp 40 juta dan dana swadaya Rp 10 juta.Ketua Poktan Wana Tirta, Sumadi mengatakan, hanya dalam jangka waktu 110 hari, para petani berhasil mengolah lahan seluas satu hektar dengan hasil produksi sebanyak 6,016 ton. Dengan asumsi harga jual bawang putih seakrang senilai Rp 12.500/kilogram, maka total hasilnya diperkirakan mencapai Rp 75 juta lebih. “Dari total itu, maka keuntungan yang berhasil diperoleh petani mencapai Rp 25 juta lebih dalam 3,5 bulan,” ujar Sumadi saat ditemui wartawan saat panen raya bawang, Kamis (29/9/2011).

Meskipun saat ini harga bawang putih di pasaran fluktuatif, hal itu dinilainya menjadi satu hal yang biasa. Pihaknya optimistis bisa mempertahankan kondisi tersebut hingga masa-masa panen selanjutnya. Sebetulnya, ungkap Sumadi, masyarakat di Dusun Babar banyak yang menanam bawang. Namun karena harga bawang yang anjlok, maka para petani itu lebih banyak memilih jenis sayur lain seperti kentang, wortel, kobis dan sayuran lainnya. “Tapi akhir-akhir ini banyak petani yang minat kembali untuk menanam bawang,” katanya.

Read More

Kemarau, hasil panen mentimun menyusut

Musim kemarau panjang yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir membuat petani mentimun dan pare di Karanganyar kelabakan. Hal ini lantaran pasokan air menipis dan berpengaruh pada hasil produktivitas yang anjlok hingga 30% lebih.

Salah satu petani mentimun di Dagen, Kecamatan Jaten, Sukrasno, 35, Minggu (18/9/2011) mengaku musim kemarau kali ini cukup berpengaruh pada produktivitas hasil mentimun dan pare.

Sebab jika sampai kekurangan air tanaman mentimun dapat gagal panen atau ukurannya lebih kecil dari biasanya. “Hasil panen kali ini turun sampai 30%,” ujarnya.

Selama ini, dia mengatakan untuk mengatasi kekurangan air, para petani mentimun harus membuat pompa air untuk mengaliri lahan pertaniannya. Debit air irigasi tidak dapat lagi diandalkan untuk mengairi tanaman mentimun tersebut.

Padahal tanaman ini membutuhkan air yang lebih banyak dari tanaman padi. Namun demikian meski mengalami penurunan produksi ketika masa panen, dirinya mengaku sedikit bernafas lega. Pilihannya beralih tanaman hortikultura seperti mentimun dan pare selama musim kemarau ini ternyata mendatangkan hasil yang lebih baik daripada menanam padi.

“Hasilnya bagus daripada menanam padi. Dalam satu kali panen saja dapat menghasilkan Rp 2 juta. Kalau  tanam padi hasilnya tidak sampai segitu, apalagi banyak yang kena wereng,” tuturnya.

Senada diungkapkan petani lainnya, Larso, 40, yang memutuskan mengganti tanaman mentimun dan pare di lahan miliknya daripada tetap menanam padi seperti pada umumnya. “Niki nanam mentimun kaleh pare, mergi serangan wereng wingi,” tuturnya.

Dia menambahkan meski mengalami penurunan dalam produksi mentimun akibat musim kemarau ini hasil yang dicapai ketika menanam timun lebih menguntungkan daripada kembali menanam padi yang rawan terserang hama. Dalam 2,5 bulan masa tanam mentimun, dirinya dapat tujuh kali panen mentimun.

“Satu kali panen lumayan bisa ngantongi Rp 2 juta. Tapi nggih niku panennya kurang maksimal turun 20%,” katanya.

Menurutnya, dari hasil panen mentimun dan pare ini kemudian dijual ke bakul berskala besar seharga Rp 2.000 per kilogramnya. Pasca panen kali ini, dia mengatakan akan kembali menanam padi. Diharapkan pada musim panen depan padi yang dihasilkan lebih baik.

Read More

Karanganyar terima kucuran DBHCHT Rp 4,2 M

Pemerintah kabupaten (Pemkab) Karanganyar kembali menerima kucuran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) senilai Rp 4,2 miliar tahun 2011 ini.

Dana tersebut siap digelontorkan ke 12 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).  Kabag Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Karanganyar Ambang Wibowo, Senin (12/9/2011) mengatakan sesuai Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 155 tahun 2010 tertanggal 14 Desember 2010, Karanganyar menerima kucuran DBHCHT senilai Rp 3.913.213.833,64.

Selain itu menerima tambahan sekitar Rp 291 juta, sehingga total DBHCHT yang diterima tahun 2011 mencapai Rp 4,2 miliar.   “Dana Rp 4,2 miliar disalurkan melalui 12 SKPD. Di mana kegiatannya sudah ditentukan dari pusat,” jelasnya.

Ambang mengatakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi), pihaknya hanya bertugas melakukan monitoring dalam pelaksanaan penyaluran DBHCHT di masing-masing SKPD. Sementara tanggungjawab penuh dalam setiap pelaksanaan ada ditangan SKPD bersangkutan sebagai pengguna anggaran.

“Saat ini anggaran DBHCHT tahun ini sudah mulai dilaksanakan masing-masing SKPD,” tuturnya.

Selama ini, dia mengatakan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau sepenuhnya ada di masing-masing SKPD. Termasuk, dia menambahkan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran ada di masing-masing SKPD, bukan di sekretariat DBHCHT. Hal ini mengingat anggaran dana bagi hasil cukai hasil tembakau masuk dalam pos anggaran di SKPD bersangkutan.

Disinggung mengenai adanya dugaan penyimpangan dana bagi hasil cukai hasil tembakau di sejumlah SKPD yang digunakan untuk membeli mobil dinas, pihaknya tidak mengetahuinya.  Namun berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) penyaluran dana bagi hasil cukai hasil tembakau tidak bermasalah.

Terbukti tidak ada catatan apapun yang diberikan dari pihak BPK. Begitu pula sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/2008 disebutkan bahwa apabila ditemukan ada penyimpangan dalam penyaluran dana bagi hasil cukai hasil tembakau maka tahun-tahun berikutnya tidak akan menerima kucuran dana tersebut.

“Tapi nyatanya Karanganyar masih dapat sampai sekarang. Tahun ini bahkan kami menerima DBHCHT senilai Rp 4,2 miliar

Read More

Petani Karanganyar mulai kesulitan air

Kekeringan mulai mengancam para petani di Karanganyar. Banyak para petani yang kekurangan air untuk mengairi lahan sawahnya. Mereka kini tidak bisa lagi mengandalkan air sungai, apalagi hujan. Agar padi yang mereka tanam tetap berkembang, petani terpaksa menggunakan air sumur untuk mengaliri sawahnya.

MENGAIRI SAWAH — Seorang petani di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar, menggunakan pompa air bermesin disel untuk mengairi sawahnya,

Untuk mengambil air bawah tanah, mereka antara lain memakai mesin diesel untuk menyedotnya. Salah satu petani di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Sutrisno, 32, mengatakan, sudah beberapa bulan ini ia mengambil air dari sumur yang terletak di tengah sawah. “Kalau tidak menyedot, dapat air dari mana? Sungai yang mengalir di seberang sawah juga kecil dan tidak bisa mengalir ke sawah,” ujar Sutrisno saat ditemui  di sawahnya, Jumat (2/9/2011). Karena itu, ia menempatkan penyedot air di sawahnya.

Selama kemarau, ungkap Sutrisno, sehari dua kali ia mengairi lahan sawah. Selain di petak sawahnya sendiri, air tersebut juga dialirkan ke beberapa petak sawah milik petani lain yang masih satu kawasan. Ia mengaku tidak masalah bila harus berbagi air dengan petani lain. “Timbal baliknya apa, terserah dari orang-orang,” katanya. Mesin diesel milik Sutrisno tersebut antara lain digunakan untuk mengairi sekitar empat hektare sawah.

Sementara itu, petani di daerah lain, Sukirman, mengungkapkan, karena kekeringan, sebagian petadi ada yang membiarkan lahannya kosong dan tidak ditanami padi. Menurut Sukirman, sawah di sana merupakan sawah tadah hujan. Jadi bila tidak turun hujan, maka pasokan airnya menurun.

Untuk urusan operasional, lanjutnya, biayanya juga cukup besar. Setidaknya, untuk mengairi sawah membutuhkan biaya Rp 100.000 untuk membeli solar guna menghidupkan mesin diesel. “Untung saja bisa bergotong-royong. Kalau tidak, bisa tekor,” ungkapnya. Ia pun berharap agar pemerintah bisa membantu meringankan beban petani. Terutama untuk menghadapi musim kekeringan seperti sekarang ini.

Read More

Petani di Jaten panen padi tahan wereng

Sejumlah petani di Desa Jati, Kecamatan Jaten, memanen padi jenis Inpari-13 yang diklaim tahan wereng. Lahan sawah milik petani di desa tersebut sebelumnya dijadikan demonstration plot (Demplot) padi varietas tersebut.

Lahan yang digunakan Demplot seluas satu hektare (ha) dan menghasilkan 70,07 kuintal gabah. Petani pun mendapatkan untung sekira Rp 15-17 juta. Kepala Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (BP4K) Karanganyar, Supramnaryo, Kamis 21 juli 2011 mengatakan, modal yang digunakan untuk menanam padi itu, rata-rata Rp 9,950 juta.

Biaya tersebut antara lain untuk sewa tanah per musim (Rp 5 juta/ha), tenaga kerja (Rp 3,150 juta) dan sisanya untuk pembelian benih, pupuk, dan obat-obatan. Bila harga gabah satu kuintal dihargai sekira Rp 360.000 maka keuntungan yang didapat petani berkisar Rp 25,250 juta.

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Rina Iriani SR, didampingi Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, di sela-sela panen raya mengimbau agar petani merubah pola tanam menjadi padi-padi-palawija.

Meskipun hasil yang didapat cukup memuaskan, namun para petani di sana perlu mengantisipasi serangan wereng. Tidak menutup kemungkinan varian padi yang diagung-agungkan itu sudah tak tahan wereng lagi.

Untuk pengubah pola tanam, imbuh Bupati, maka Pemkab ke depan akan memberikan bantuan benih jagung kepada para petani. Namun bila petani masih membandel tetap menanam padi lalu terserang wereng, maka petani jangan mengeluh. Selain itu, ia juga meminta petani untuk beralih ke pertanian organic untuk mempertahankan kualitas tanah.

Read More

Aneka produk pertanian Karanganyar dipamerkan

Sebanyak 16 produk yang dihasilkan oleh petani di berbagai daerah di Karanganyar, dipamerkan dalam pameran pertanian di aula Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) depan Polres Karanganyar. Selain produk bukan olahan yang masih segar seperti buah-buahan dan padi organik, barang yang dipamerkan oleh para petani di Bumi Intanpari ada juga yang berupa produk olahan seperti jahe, ketela, dan sebagainya. (more…)

Read More

Petani Karangmojo panen melon perdana

Petani di Desa Karangmojo, Kecamatan Tasikmadu, memanen melon untuk pertama kalinya, Selasa 19 juli 2011 pagi. Pasalnya, dari dulu para petani di sana sulit untuk mengubah pola pikir dari bertanam padi ke palawija atau tanaman hortikultura.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Makmur I Desa Karangmojo, Hadi Suwito mengatakan, selain melon, lahan di sana juga ditanami semangka, terong, cabe dan kacang panjang.
“Terakhir sudah lima kali di desa sini tanaman padinya mengalami puso atau gagal panen. Karena itu, kami beranikan diri untuk menanam tanaman hortikultura,” ujar Hadi saat ditemui wartawan di lahan penanaman melon, Selasa 19 juli 2011 pagi.

Menurut Hadi, hasil dari panen melon tersebut cukup lumayan. Dengan modal Rp 20 juta untuk biaya sewa lahan, pembelian benih, pupuk, obat, tenaga hingga pengairan, hasil bersih yang didapat mencapai 80 persen atau laku senilai Rp 36 juta.

Dari penanaman hingga pemeliharaan, pihaknya dibantu dan didampingi oleh Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI). Meski menanam hortikultura cukup riskan, tapi pihaknya berharap agar ke depan para petani lain juga mau menanam selain padi. Selain bisa mengembalikan kondisi normal tanah, hal itu juga bisa untuk membunuh siklus wereng dan virus.

Read More

Volume air Waduk Lalung menurun, petani harus tanam palawija

Volume air di Waduk Lalung, Desa Lalung, Karanganyar, menurun. Penurunan volume air yang mengalir ke waduk itu antara lain dipengaruhi oleh musim kemarau. Akibatnya, setelah masa tanam (MT) kedua pertanian, mengharuskan petani untuk menanam palawija.

(more…)

Read More