Category: Berita

DSC_6129

Waluyo Dwi Basuki : Hilangkan Rasa Malu Dan Malas Dalam Diri Seorang Pengusaha

Kominfo

Waluyo Dwi Basuki Kepala Disperindagkop yang dalam hal ini mewakili Bupati Karanganyar saat memberikan sambutan dan pengarahan serta membuka acara Pelatihan pengembangan destinasi wisata kuliner Th.2019 di Ball room Kencana Lor In Hotel, Selasa(30/07/19)

Karanganyar – 30 Juli 2019

Geliat memajukan Kabupaten Karanganyar sebagai destinasi wisata kuliner gencar dilakukan oleh pemerintah. Ini terbukti dengan adanya pelatihan pengembangan destinasi wista kuliner yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar di Ball Room Kencana Lor In Hotel, Selasa(30/07/19).

Kegiatan yang berlangsung mulai dari 30 Juli hingga 1 Agustus ini diikuti kurang lebih 100 peserta, harapan dari kegiatan ini adalah untuk menghasilkan pengelola kuliner yang mampu memberi kontribusi nyata dalam mempromosikan destinasi wisata kuliner di Kabupaten Karanganyar yang modern dan berkualitas. Dan juga memunculkan pelaku usaha baru dalam bidang kuliner yang inovatif dan kreatif serta memiliki keahlian dan kesediaan berperan serta dalam setiap aktifitas untuk kemajuan Kabupaten Karanganyar.

Sebagai narasumber adalah Bupati Karanganyar, Kepala Dinas Perindagkop dengan materi haki dan permodalan, kepala Dinas Kesehatan dengan materi PGRT dan kesehatan makanan, Bp Yan Sugiyanto dengan materi motivasi bisnis, akademisi STIMIK AUB Surakarta dengan materi bisnis dan produk packging , juga ada owner kuliner Getuk Semar dengan materi sucsess story.

Selain mendapat materi tersebut, peserta juga akan melakukan kunjungan lapangan ke De Tjolomadoe, Orion Bakery, dan juga ke Resto Sawah di Karangpandan, jelas Plh. Kadisparpora Agus Cipto Waluyo.

Sementara Bupati Karangnyar yang dalam hal ini diakili oleh Kepala Dinas Perdagangan tenaga kerja dan koperasi UMKM Waluyo Dwi Basuki, sampaikan bahwa era wisata saat ini sangat dipengaruhi oleh era digital. Terlebih urusan wisata dan kuliner.

Sebagai pengusaha di bidang kuliner di Kabupaten Karanganyar harus siap menghadapi hal tersebut, karena kuliner menjadi tonggak atau inti sebuah wisata. Maka dari itu kuliner di Karanganyar harus ditingkatkan.

“ hilangkan rasa malas dan malu dalam diri seorang pengusaha “, Sesama pengusaha kuliner harus saling menghargai, jangan negatif thinking. Tegas Waluyo Dwi Basuki.

Melalui sosial media, mari sebagai pengusaha berkumpul untuk membuat group di sosial media. Kita bikin komunitas agar bisa sukses bersama-sama. Dengan tag line “ kita harus sukses bersama-sama” ini menjadi modal penyemangat dalam diri masing-masing pengusaha.

Demikian Diskominfo(Ard/Tgr)

Read More
IMG-20190801-WA0001

Pameran Bursa Inovasi Desa, Ajang Desa Unjuk Potensi Daerah

Pengarahan Oleh Bupati Karanganyar

Karanganyar,

Beragam produk dan potensi dari tiga kecamatan ambil bagian dalam pameran bursa inovasi desa di Palur Plasa, Rabu(31/7). Dalam kegiatan ini berbagai pameran mulai dari infrastruktur dan kerajinan meramaikan pameran.

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara, Hendri Prasetyo mengatakan produk dan potensi desa yang ditampilkan berasal dari Kecamatan Jaten, Kebakkramat dan Tasikmadu (Jaten Kebak Madu). Masing masing desa mengeluarkan produk-produk inovasi dan potensi di tiga kecamatan. Pameran meliputi infrastruktur, ekonomi dan sumber daya manusia.

“Kegiatan ini bekerjasama dengan
Internasional Council for Small Business (ICBS) untuk melahirkan UMKM,”katanya.

Sementara Bupati Karanganyar mengapresiasi adanya pameran produk unggulan di masing masing pedesaan. Pemerintah sendiri siap mendorong dan mendukung sehingga tiap desa memiliki produk khas daerahnya.

“Kita akan memfasilitasi dan mendorong produk baru. Sehingga dikenal dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat,”ujarnya.

Demikian Diskominfo (dn/ind)

Read More
_DSC1328

Gali Potensi Inovasi Di Tiap Desa

Kominfo

Pembukaan Bursa Inovasi Desa TPID Kecamatan Karangpandan langsung dibuka oleh Camat Karangpandan yang dalm hal ini mewakili Bupati Karanganyar di aula terminal Makuthoromo, Rabu(31/07/19).

Karanganyar – 31 Juli 2019

Inovasi Desa memang sangat menjanjikan untuk kemajuan Desa, tak luput juga perekonomian warga masyarakatnya pun juga akan melonjak naik. Ini harus didasari dengan gerakan inovasi desa yang baik. Demi menunjang aspek tersebut, Pemerintah Kabupaten Karanganyar khususnya di Kecamatan Karangpandan gelar Bursa Inovasi Desa di aula terminal Makuthoromo, Rabu(31/07/19).

Dengan berbagai macam bursa inovasi, mulai dari kewirausahaan, bursa sumber daya manusia, dan juga bursa infrastruktur, pemerintah mempunyai harapan adanya gagasan inovasi desa yang sangat luar biasa dari masyarakat.

Bursa Infrastruktur misalnya, tim menawarkan contoh seperti  inovasi mina parit desa, alun alun desa, mikro hidro, lahan kosong untuk taman olah raga desa, drainasi sebagai tempat budidaya lele, dan kawasan pertanian menjadi edukasi. Sedangkan bursa kewirausahaan tim memberikan contoh seperti budidaya rumput dan bonsai, pembuatan batik, petani organik, rumah anggrek, bank sampah, pembuatan keris, agroponik, bioflog lele, pembuatan kapsul daun kelor dan lainnya.

Untuk bursa sumber daya manusia sendiri tm menawarkan contoh lawu percussion, kampung KB, PAUD desa, kampung bahasa, desa wisata edukasi, sekolah teknik desa dan pelayanan administrasi kependudukan digital.

Sugiyarto, S.E, M.M Camat Karangpandan, sampaikan bahwasanya inovasi di desa harus bisa baik, ini akan menjadi ajang pembuktian kemajuan desa. Mana Desa yang terbaik inovasinya. Sugiyarto juga mempunyai keinginan adanya acara tanya jawab bagi pegiat inovasi desa dalam bursa inovasi desa kali ini.

Kegiatan semacam ini sudah terlaksana 1 Th lebih dan berjalan dengan baik. Inovasi-inovasi yang belum terlaksana mari disengkuyung agar bisa terlaksana dengan baik. “ silahkan menggali potensi inovasi yang mnearik “, jelas Sugiyarto.

Tim TPID dari Kabupaten berharap hasil dari adanya bursa inovasi ini bisa menuntun desa untuk mengeluarkan potensi inovasi yang baik dan menarik. Nantinya dalam pelaksanaan agar bisa berjalan baik memang perlu adanya anggaran dari dana desa. APBDes tahun 2019 bisa digunakan.(Ard)

Read More
_DSC0679

Pengurus Dan Anggota Harus Paham Sejarah IPPK

Kominfo

Lantunan Lagu dari Paduan Suara anggota IPPK Kabupaten Karanganyar menandai dibukanya acara HUT IPPK Ke 46 Tahun 2019 di aula pendopo rumah dinas Bupati Karanganyar, Senin(29/07/19)

Karanganyar – 29 Juli 2019

Hampir seluruh perwakilan anggota Ikatan Purnakaryawan Pendidikan dan Kebudayaan (IPPK) dari 17 Kecamatan hadir dalam acara HUT IPPK ke 46 di pendopo rumah Dinas Bupati Karanganyar. Acarapun dirangkai juga untuk memberikan sureprise di hari kelahiran Bupati Karanganyar H. Juliyatmono yang berbarengan dengan pelaksanaan perayaan HUT IPPK, Senin(29/07/19).

Ada 1.800 anggota IPPK di Kabupaten Karanganyar, tersebar di 17 Kecamatan. Dan dari setiap Kecamatan semuanya relatif aktif mengadakan pertemuan di setiap bulannya. Itu menandakan bahwa asas kekeluargaan anggota IPPK di Karanganyar sangat luar biasa.

“ Sebagai generasi penerus dalam IPPK, baik itu pengurus maupun angotanya sudah semestinya dan harus bahkan wajib hukumnya untuk paham dan tau sejarah terbentuknya IPPK ini “, jelas Sudarto ketua IPPk Provinsi Jawa Tengah saat memberikan sambutan.

Pengurus berharap, IPPK yang setiap tahunnya selalu bertambah anggotanya ini bisa terus eksis dan menjadi wadah yang bermanfaat bagi anggotanya. (Ard/Tgr)

Read More
_DSC0983

Desa Kemuning Ditetapkan Desa Sadar BPJS Ketenagakerjaan

Wakil Bupati Karanganyar, Rober Cristanto memukul Gong sebagai tanda lounching desa Sadar BPJS Ketenagakerjaan

 

KARANGANYAR – 31 Juli 2019

Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso ditetapkan sebagai Desa sadar Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Lounching desa sadar BPJS diharapkan dapat menjadi contoh desa yang lain. Sebab pada 2021 nanti, pemerintah menargetkan 80 persen tenaga kerja Indonesia sudah terlindungi BPJS. “Saat ini di seluruh Indonesia ada sekitar 56 persen yang tenaga kerja baik tetap maupun tidak tetap sudah tercover 56 persen. Sedangkan untuk Karanganyar sudah 90 persen tenaga kerjanya terlindungi BPJS Ketenagakerjaan,” papar Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Solo, Rudi Yunarto usai lonching desa Sadar BPJS di Kemuning, Selasa (30/07).

Lounching ditandai dengan pemukulan gong oleh Wakil Bupati Karanganyar, Rober Cristanto dan dilanjutkan dengan menandatangani Mou oleh Kepala Desa Kemuning, Widadi Nur Widyoko.

Menurut Rudi Yunarto peserta BPJS di perkotaan sekitar 40 persen, sedangkan di pedesaan sudah mencapai 60 persen. Dia mengatakan semua pekerja yang bekerja memang dapat dilayani oleh BPJS. Baik yang sudah bekerja tetap atau bekerja tidak tetap. “Sejak 2017 kami mengenalkan BPJS Ketenagakerjaan di desa. “Di desa itu potensi ketenagakerjaan luar biasa, mulai pedagang, petani dan nelayan,” bebernya

Sementara Wakil Bupati Karanganyar, Rober Cristanto menyambut baik kerjasama BPJS tersebut. Semoga kerjasama itu dapat membantu masyarakat. (hr/adt)

Read More
_DSC0992

Harmonisasi Dengan Alam, Masyarakat Kemuning Gelar Tari Bedhayan Pucuk Putri

Sebanyak 9 orang penari tengah menari Bedhayan Pucuk Putri dalam gelar kirab budaya di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso

 

 

KARANGANYAR – 30 Juli 2019

 

Masyarakat Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso menggelar kirab budaya dan tari Bedhayan Pucuk Putri Di Dusun Gondang Rejo, Kemuning.  Kirab budaya dan tari bedhayan pucuk putri dimaksudkan untuk mengajak masyarakat untuk selalu berharmonisasi dengan alam. Yakni menjaga alam dengan tidak merusaknya.

“Bersanding dengan alam terus karena alam ini bisa menampung air dan manahan air dari erosi. Harapan kami, marikah kita jaga alam dan pelihara alam ini dengan baik,” papar Penyelenggara kirab budaya dan Tari Bedhayan Pucuk Putri, Priyanto Kromo Wiryo.

Kirab dimulai dari Dusun Gondang Rejo sekitar 800 meter. Mengintari jalan dan masuk di area sendang Gondang Rejo. Sepanjang jalan, peserta kirab membawa gunungan dari buah-buahan, dan jajan pasar yang dibawa putri-putri warga setempat. Selanjutnya dibelakangnya ada membawa gamelan dan sejumlah penari. Memasuki areal teh, 9 orang putri penari dengan indah disela-sela tanaman teh. Tiba-tiba ada segerombolan hama yang menganggu tanaman teh tersebut. Namun demikian, hama itu akhirnya bisa diusir atau disingkirkan.

Harapan warga, menurut Priyanto mengajak anak muda dan masyarakat untuk senantiasa menjaga kedamaian alam. Sekaligus mengakrabkan generasi milenial untuk bersentuhan dengan tanaman. Mereka rata-rata bercita-cita dan bekerja di kota. “Kita tetap berharap ada yang terus mencintai tanaman, mengolah tanah dengan baik. Lha, pendekatan kami dengan pendekatan budaya. “ tandasnya. (hr/adt)

Read More
IMG-20190730-WA0009

WAYANG SEMINAR RUWATAN MURWAKALA DI SANGGAR KLODRAN

Beberapa Naraaumber yang hadir di Wayang Seminar di Sanggar Klodran

KARANGANYAR – Sarasehan 2nd Annual Wayang Seminar 2019 dengan topik utama “Ruwatan Murwakala” di Sanggar Klodran Tugu Boto, Colomadu pada Selasa (30/7). Narasumber yang hadir dalam acara ini merupakan para ahli di bidang wayang dan pedalang.

Seminar ini merupakan yang kedua kalinya dan diadakan di Sanggar Klodran pada 28 Juli sampai 30 Juli 2019. Namun yang dihadiri partisipan umum hanya tanggal 30 Juli saja. Pembahasan inti dalam acara ini seputar tentang tradisi Ruwatan yang konon dipercaya tradisi semacam ini digunakan untuk menjauhkan dari hal-hal negatif dan gangguan ghaib.

Ki Manteb Shodarsono saat penyampaian materi tentang Ruwatan

Dalang kondang Ki Manteb Shoedarsono dari Karangpandan hadir menjadi narasumber acara sarasehan lesehan ini. Dalam panyampaiannya mengatakan bahwa beliau sudah melakukan tradisi ruwatan sejak dahulu waktu masih muda. ” Saya sering dimintai tolong untuk meruwat orang lain supaya terhindar dari segala marabahaya, menurut saya ruwat ini tidak masalah untuk dilakukan, karena pada dasarnya semua didasarkan pada niat masing-masing pribadi untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa” tambahnya. Selain Ki Manteb hadir juga narasumber dari beberapa daerah lain diantaranya dari Klaten, Sragen, Wonogiri, Pacitan, Blitar, Boyolali, Kartasura dan Surakarta.

Ada yang istimewa dari acara ini daripada seminar pada umumnya. Seminar ini disampaikan dengan bahasa Jawa Krama dan di terjemahkan langsung dengan bahasa Inggris karena terdapat beberapa  partisipan dari mancanegara yaitu dari Mexiko, Amerika, German, dan juga Jepang.

Demikian Diskominfo (In/An/Wk)

Read More

Pelabuhan Ramai Nan Sunyi

Suasana mudik terjadi tiap tahunnya di Indonesia, tak terlepas juga warga Karanganyar, menjelang lebaran tiba terutama bagi para perantau yang mengadu nasib di kota – kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya dan sebagainya. Mereka ingin segera melepas rasa rindu, kangen, suka cita  dan duka dengan keluarga serta sanak sudara. Tak hanya itu suasana mudik kali ini juga dimeriahkan dengan adanya fasilitas mudik gratis, dimana pada tahun 2019 ini Pemerintah Kabupaten Karanganyar menyedikan 30 unit bus mudik gratis dengan kapasitas 50 tempat duduk per bus (Sundoro, 13 Mei 2019). Warna warni suasana mudik memang sudah biasa terjadi, namun bila kita telaah lebih dalam ada makna menarik di dalamnya.

Tulisan ini akan membahas sedikit mengenai hubungan para perantau dengan kondisi daerah yang terjadi. Para perantau atau kaum urban, sehingga prosesnya disebut ‘urbanisasi’,  adalah berpindahnya penduduk dari desa ke kota, sehingga presentase penduduk yang tinggal di kota meningkat (Daldjoeni, 1998). Perpindahan dari desa ke kota tersebut mengindikasikan bahwa ada yang mendorong dan menarik mereka untuk keluar dari daerah asal menuju ke daerah lain, utamanya perkotaan.

Sumber : slideplayer.info/slide/12060674/

Faktor Pendorong

  • Sangat minimnya lapangan kerja. Masyarakat desa nyaris memiliki satu jenis pekerjaan yaitu bertani, beda halnya dengan lapangan pekerjaan yang ada di kota. Di kota lapangan pekerjaan lebih variatif dan beragam.
  • Terbatasnya sarana prasarana. Kurangnya infrastruktur pedesaan menyebabkan banyak warga masyarakat desa yang memutuskan untuk melakukan urbanisasi karena menurut mereka, di desa masyarakat kesulitan untuk mengembangkan kompetensi dirinya.
  • Tidak cocok lagi dengan budaya setempat. Kebudayaan di pedesaan, umumnya masih kuno dan cenderung mengikat kehidupan masyarakatnya, lain halnya dengan di daerah perkotaan yang cenderung bebas dalam melakukan sesuatu.
  • Alasan pekerjaan, pendidikan, perkawinan, bahkan bencana alam.

Faktor Penarik

  • Kesempatan mendapat pekerjaan dan upah yang lebih baik.Di daerah perkotaan terdapat banyak pekerjaan, baik di sektor perdagangan maupun industri yang langsung dapat menghasilkan uang
  • Kesempatan pendidikan. Masyarakat pedesaan yang sadar akan pentingnya pendidikan akan memilih sekolah dan perguruan tinggi yang ada di kota. Hal ini disebabkan karena fasilitas pendidikan yang ada di perkotaan jauh lebih lengkap dan didukung oleh tenaga pengajar yang profesional.
  • Kondisi lingkungan yg menyenangkan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian maju, sarana dan prasarana hidup di kota-kota pun menjadi semakin lengkap.
  • Ajakan teman, keluarga, ataupun orang lain melalui informasi audio maupun visual (media cetak dan elektronik).

Kita coba menggunakan hitungan sederhana dengan menggunakan sampel Kabupaten Karanganyar. Lebaran kali ini ada sekitar  1.500 orang pemudik, dan tentunya jumlah tersebut belum menunjukkan total keseluruhan dari warga perantauan yang berada di kota, itu baru satu kabupaten saja belum kabupaten di seluruh Indonesia. Bilamana proses urbanisasi tersebut terus-menerus terjadi dan jumlahnya meningkat tiap tahun, maka akan menimbulkan dampak negatif yang lebih besar, katakan saja ketika orang-orang berkumpul secara terus menerus di suatu tempat yang luasnya konstan, yang akan terjadi adalah kepadatan yang luar biasa. Memang bila dilihat sisi positifnya bisa menimbulkan penawaran tenaga kerja dengan SDM yang mudah, murah dan lebih berkulitas, tapi kenyataannya permintaan tenaga kerja yang dibutuhkan tidak selalu sebanding dengan penawaran tenaga kerja yang ada.

Kepadatan yang terjadi akan menimbulkan berbagai masalah sosial dan ekonomi, seperti halnya antrian kendaraan yang mengular dimana-mana, tak sedikit kaum urban memiliki kendaraan sehingga menambah volume kendaraan di setiap ruas jalan di kota. Selain itu,  kaum urban yang tidak memiliki tempat tinggal biasanya mendirikan pemukiman liar di bahu jalan, sehingga kota semakin macet dan hilang keindahannya.

Mereka yang datang ke kota tanpa mempunyai bekal keterampilan dan pendidikan menjadi salah satu penyebab makin parahnya masalah pengangguran dan kemiskinan. Lapangan kerja yang tersedia sudah tidak mampu menyerap tenaga kerja yang ada, efek selanjutnya bagi mereka yang tidak mendapatkan perkerjaan tentu juga tidak akan mendapatkan penghasilan yang tetap, yang terjadi pengangguran, kemiskinan menumpuk di perkotaan. Bisa kita lihat realita yang terjadi mengapa di perkotaan lebih banyak terjadi masalah sosial seperti kekerasan, kejahatan bahkan pembunuhan. Bukan tidak mungkin hal itu merupakan salah satu efek dari banyaknya orang-orang miskin dan pengangguran. Banyak dari mereka ingin hidup mudah tapi malah susah.  Lalu apa yang bisa dilakukan guna mengatasi hal tersebut ?

Bila kita kerucutkan masalah urbanisasi yang terjadi sebenarnya mereka pindah ke kota dengan alasan yang paling banyak ditemui adalah untuk mendapatkan pekerjaan dan upah yang lebih baik dari tempat asal, yang mana pekerjaan dan upah di daerah mereka belum sesuai dengan kebutuhan hidup layak mereka, sehingga mereka harus mengadu nasib ke kota-kota besar. Dari sinilah kita tahu bahwasanya kita sangat membutuhkan usaha untuk membangun daerah masing-masing khususnya mulai dari unit desa.

Kita tidak bisa selalu berpangku tangan menunggu bantuan ataupun program kerja yang ditawarkan pemerintah, pemerintah bukanlah pelayan rakyat tapi pemerintah adalah fasilitator rakyat. Kita butuh orang-orang kreatif yang mampu berkarya, mau berusaha mengelola dan menciptakan berbagai lapangan kerja sendiri, banyak upaya yang bisa dilakukan mulai dari menggalakkan semangat pendidikan generasi muda, menghidupkan UMKM, menghidupkan koperasi desa, dan BUMDes yang keberadaannya kurang terlihat.

Pembangunan desa juga didukung oleh berbagai peraturan diantaranya UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa, PP No. 43 Tahun 2014 Pasal 114-120 dan PERMENDAGRI No. 114/2014 Tentang Perncanaan Pembangunan desa. Selain itu usaha pemerintah untuk menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan dibuktikan dengan memberikan fasilitas  dana desa tiap tahunnya. Berdasarkan data APBN 2019 ada sebesar 70 triliun dengan total 74.953 desa penerima, maka bila dihitung tiap desa akan mendapat dana sebesar 933,9 Juta Rupiah tiap tahunnya. Bukan secara cuma-cuma dana yang digelontorkan pemerintah tetapi,  dalam upaya membangun desa menjadi desa yang tumbuh terutama dalam pembangunan infrastruktur dan sosial ekonomi.

Sumber : Buku informasi APBN 2019

Informasi APBN 2019

 Dari desa tersebut diharapkan akan tumbuh ekonomi-ekonomi kreatif sehingga melahirkan lapangan kerja baru dengan memanfaatkan tenaga kerja dan segala sumber daya lokal yang tersedia, sehingga perkembangan desa sebagai pusat pertumbuhan diharapkan kedepannya akan memberikan efek  pada pertumbuhan daerah yang lebih luas yaitu kecamatan, kemudian dilanjutkan kabupaten dan begitu seterusnya.

Oleh : Sigit Budiyarto

Read More

MEMBANGUN KEMAMPUAN BERINTERAKSI DI KERETA EKONOMI

(The Story Of Mudik 2019)

Hari Sabtu, 1 Juni 2019, selepas melaksanakan tugas upacara bendera memperingati Hari Lahir Pancasila saya menuju Stasiun Purwosari, melaksanakan apa yang seperti orang-orang sedang laksanakan, ‘mudik’, yah mulih dilik – yang kata orang tua artinya pulang sebentar. Waktu sebentar memang, pemberian cuti hari raya Idul Fitri 1440 H yang cukup singkat karena tanggal 10 Juni 2019 saya harus kembali glidik mengabdi kepada negeri di Bumi Intan Pari. Perjalanan saya dan keluarga memang tidak terlalu jauh, dengan menggunakan moda transportasi umum kereta api perjalanan kami hanya ditempuh dalam waktu 2,5 jam. Walau terbersit dalam hati ingin pulang membawa kendaraan pribadi , tapi mungkin Sang Pencipta belum mengamanahkan sebuah kendaraan pribadi kepada saya, ya saya nikmati saja, selalu bersyukur dan nikmati saja.   Setibanya saya di stasiun bersama anak dan istri, selesai  mencetak boarding pass saya menuju ruang tunggu stasiun yang siang itu cukup dipenuhi calon penumpang. Kereta ekonomi jurusan Solo – Jakarta Pasar Senen ini merupakan kereta tambahan khusus lebaran, maklum saja sarat calon penumpang, terlebih hari raya Idul Fitri tinggal menghitung hari.

Tak lama menunggu kereta pun datang, setelah berhenti para calon penumpang mulai memasuki gerbong kereta sesuai yang tertera dalam tiket masing-masing, termasuk saya masuk ke gerbong paling belakang kereta, seketika udara panas yang berada di luar berganti menjadi udara yang sejuk dan harum, bagaimana tidak, ada beberapa AC ruang yang di pasang dalam satu gerbong untuk 90an penumpang, beberapa saat mencari akhirnya tempat duduk saya ketemu, disitu telah terlebih dulu ada seorang bapak dan anak laki-lakinya.

“Permisi pak” sapa saya.

“Monggo Mas, Mbak…kursi 12 D, A dan B ya ? Silahkan…” jawab bapak tersebut.

“ Mau kemana Mas ?” lanjutnya.

“ Kebumen Pak…Bapak turun dimana ?” Saya bertanya balik kepada bapak tersebut.

“Saya mudik ke Purwokerto” jawabnya.

Berawal dari sapaan tersebut, percakapan kami pun meluas, diawali bagaimana memesan tiket secara online,  berbincang tentang fasilitas kereta ekonomi yang semakin baik, kemudian bercakap mengenai  fenomena mudik yang semakin mudah dengan jalan tol, pembicaraan tentang pemilihan umum beberapa waktu lalu, dan masih banyak bahan yang bisa untuk kami perbincangkan, tak jarang istripun juga turut berbincang dengan beliau, kebetulan beliau tinggal satu kabupaten dengan saya, dan secara tidak langsung saya tahu dimana beliau tinggal, berbincang mengenai figur-figur politik yang ada  Indonesia beliau begitu bersemangat ketika bebicara mengenai bidang politik, dan presiden hasil pemilihan umum april lalu, dengan berbekal pengetahuan dari media massa dan berita online yang terkadang saya baca, saya pun mencoba mengimbanginya, namun tetap dalam kapasitas netral dan tidak menjatuhkan salah satu pihak, dalam pikiran saya beliau ini adalah seorang Polisi atau TNI, karena begitu fasih dalam hal undang-undang, setiap sampai dan berhenti distasiun yang dilewati pokok pembicaraan kami berubah, hal ini dikarenakan putra beliau yang notabene menjadi pendengar kami menyela dan ikut berbincang menanyakan hal yang tidak dia pahami, terlebih baru pertama kali dia naik kereta, saya memperhatikan putra beliau hampir sama sekali tidak memainkan gawainya selama dalam perjalananan, setahu saya hanya sekali itupun untuk mengambil foto dirinya duduk dikereta untuk memberitahu sanak saudara bila dia sedang menuju kesana, selebihnya setelah gawai masuk kembali ke sakunya dia lebih asik mengikuti pembicaraan kami untuk bertanya dan melihat pemandangan diluar kereta dan sesekali berbincang dengan putri saya. Beralih tema dalam percakapan, ternyata beliau ini juga gemar menulis, dan juga menuangkan ide serta gagasannya dalam media cetak, dan telah dimuat di media masaa, dari situ perbincangan kami kembali asik, karena saya pun hobi menulis dan kami saling berbagi pengalaman bagaimana memulai sebuah tulisan dan mengirimkannya ke media cetak, beliau juga bercerita sedang menyusun kerangka sebuah buku, saya bertanya buku tentang apa dan terjawablah pekerjaannya, ternyata beliau ini adalah seorang pengacara, yang sedang menulis buku tentang hukum dan pemerintahan.  Perbincangan kami ini ternyata cukup mengasyikan karena tak terasa kami telah sampai di stasiun Kutoarjo dan beberapa saat lagi akan tiba pada stasiun tujuan saya. Saya berpamitan kepada beliau dan saling bertukar nomor ponsel untuk berbagi informasi mengenai kegiatan kepenulisan, tak lupa saya tanya namanya dan saya sampaikan nama saya, terkesan menggelikan memang sudah berbincang lama belum kenal nama.

Tentu kejadian di atas tidak terjadi setiap ketika saya naik kereta ekonomi, dimana saya menemui penumpang yang mampu diajak membangun interaksi, nyatanya berbagai karakter penumpang pun saya temui, ada yang apriori dengan penumpang di sebelahnya, ada yang asyik dengan gawainya, bahkan ada yang menutup rapat mulutnya dengan masker dan berkacamata hitam, ada juga yang tidur-tiduran, sengaja saya tidak mengeluarkan gawai saya ketika kali pertama masuk dan duduk ke dalam kereta, karena saya ingin membangun sebuah interaksi dari kereta yang saya tumpangi ini.

Terlepas dari hal tersebut,  sebagai seorang guru pada prinsipnya dituntut memiliki kemampuan sosial dan interpersonal yang di dalamnya mencakup bagaimana membangun sebuah interaksi, karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial, yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, berinteraksi juga mampu memperluas pertemanan dan jaringan walau kini interaksi secara langsung telah bergeser karena adanya media sosial, sering saya mendapati semua penumpang menunduk, tertawa geli, mengkerutkan dahi,mereka fokus melihat layar pada gawainya masing-masing, jadi memang benar adanya bila adanya perangkat pintar itu, dunia digital telah mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat, terlebih generasi millenial yang sering saya temui ketika hari minggu perjalanan dari Kebumen ke Solo hari tersebut lebih banyak disi oleh mahasiswa yang kembali ke tempat kuliah mereka, ketika duduk tangan mereka lebih sering memainkan gawai dalam gengamannya, saat saya mencoba menyapa  hanya dijawab satu dua kata lalu menunduk dan membisu, beberapa contoh tersebut seakan menginterpretasikan perkembangan internet menjadikan manusia menjadi anti sosial. Sebenarnya memang bukan kewajiban mereka untuk menjawab dan berinteraksi dengan saya, namun saya sudah merasakan sendiri bahwa berinteraksi di dunia nyata lebih menyenangkan dari pada hanya lewat media. Siapapun dia, termasuk  penumpang – penumpang yang telah berusia senja, yang tiada gawai di tangannya ketika kita berinteraksi akan ada pengalaman baru yang kita dapat darinya.

Karena pada dasarnya tidak ada yang pernah tahu bahwa dengan berinteraksi, disitulah  kita mampu merubah jalan hidupmu, bagi yang belum menikah bisa jadi bertemu jalan jodohmu, yang belum mendapat pekerjaan bertemu jalan pekerjaanmu, dan bagi yang sakit bertemu jalan kesembuhanmu.

Maka teruntuk para guru sejenak lepaskan gawaimu sapa, senyumlah dengan orang-orang di sekitarmu, ajaklah berinteraksi denganmu, dan ketika mereka bertanya apa pekerjaanmu, jawablah dengan kebanggaan saya guru, karena guru adalah orang berilmu tentu tidak akan membiarkan waktu berlalu dengan orang-orang di sekitarmu melihatmu menundukan kepala dan matamu asik dengan gawai mu.

Oleh : Dimas Wihandoko, S.Pd., M.Pd.

Read More

Ancaman Mengintai Gunung Lawuku yang Malang

Apa yang ada dibenak kita ketika mendengar kata PANAS BUMI? GEOTHERMAL? EKSPLORASI PANAS BUMI? dan sejenisnya?? pasti bagi sebagian besar masyarakat di lereng gunung Lawu, khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah Kabupaten Karanganyar sudah tidak asing dengan kata-kata tersebut. Isu-isu eksplorasi dan eksploitasi gunung Lawu  yang akan dijadikan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sempat menuai kecaman dan aksi demo di sejumlah wilayah di Kabupaten Karanganyar, khususnya di wilayah Tawangmangu pada sekitaran tahun 2018 hingga kini. Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan tokoh masyarakat juga menyatakan penolakan dengan perealisasian mega proyek yang digagas oleh pemerintah ini. Tentu saja pemerintah daerah Kabupaten Karanganyar tidak memandang sebelah mata aksi-aksi kontra yang dilakukan oleh masyarakat, berbagai cara selalu dilakukan pemerintah daerah kabupaten Karanganyar agar masyarakat dan pihak perusahaan yang ditunjuk pemerintah untuk membangun proyek PLTP ini tidak semakin membesar dan mendapatkan jalan tengah.

Maka setelah adanya demo dan kecaman dari masyarakat, Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar mengeluarkan surat penolakan melalui surat terbuka Bupati Karanganyar mengenai pembangunan proyek PLTP pada tahun 2018 lalu, sehingga pembangunan proyek PLTP ini ditunda sampai dengan waktu yang belum ditentukan, atau jika banyak petisi yang menyatakan keberatan atau bahkan menolak, kemungkinan besar pembangunan proyek PLTP ini akan dihentikan atau dipindahkan ke wilayah lain.

Sebagai masyarakat era globalisasi yang dikenal dengan milenials, seharusnya informasi yang kita dapatkan dalam berbagai hal menjadi sangat mudah,  Lalu, Bagaimana pandangan masyarakat awam sebagai masyarakat modern yang sudah melek teknologi mengenai dampak positif maupun dampak negatif yang ditimbulkan dari pembangunan PLTP ini ??

Mari kita pelajari lebih lanjut,

Menurut (Jurnal Ketahanan Nasional, Vol. 23, No 2, Agustus 2017: 217-237), menyabutkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil dalam memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri masih tinggi. Energi fosil memberikan kontribusi 94,3% dari total kebutuhan energi nasional yang sebesar 1.357 juta SBM (setara barel minyak), sedangkan sisanya sebesar 5,7% dipenuhi dari energi baru terbarukan. Berdasarkan jumlah tersebut, minyak bumi memberikan kontribusi 49,7%, gas bumi 20,1%, dan batu bara sebesar 24,5%. Sebagian dari minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri harus diimpor, baik dalam bentuk minyak mentah maupun dalam bentuk produk minyak. Hal ini sangat tidak mendukung ketersediaan ketahanan energi di dalam negeri (Dewan Energi Nasional, 2014). Kegiatan eksploitasi terhadap sumber daya alam selama ini menyebabkan krisis energi pada sumber daya fosil. Hal tersebut berbahaya terhadap keberlanjutan pembangunan dan tidak terpenuhinya kebutuhan energi dalam negeri yang memiliki pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat setiap tahunnya. Perlunya langkah tepat untuk mengatasi kebutuhan energi dalam negeri sekaligus untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat.

Salah satu energi terbarukan yang memiliki potensi sangat bagus adalah Panas bumi. Panas bumi adalah bentuk energi terbarukan yang menghasilkan sedikit emisi gas rumah kaca dan dapat memberikan kestabilan dan keamanan energi. Energi panas bumi, bahkan meskipun kecil, dapat menjadi solusi nyata untuk masyarakat luas yang membutuhkan listrik di masa depan. Energi panas bumi juga dapat memberikan kontribusi untuk kemandirian energi masyarakat pada desa-desa terpencil juga untuk melindungi masyarakat pedesaan terhadap tingginya harga minyak bumi. Energi panas bumi juga bisa memfasilitasi peluang ekonomi dalam menyediakan energi untuk keperluan alternatif seperti produksi pangan. Panas bumi memainkan peran yang semakin penting dalam penyediaan energi dunia (Wawancara dengan Yunus Saefulhak).

Definisi yang jelas tentang energi panas bumi diatur dalam undang-undang panas bumi (Undang Undang Nomor 21 Tahun 2014) yang sebelumnya dikategorikan dalam pertambangan, minyak bumi atau air yang ada (Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2003).

Pengembangan panas bumi  sebagai energi terbarukan ini memiliki beberapa keistimewaan atau keunikan yaitu :

  1. Pertama, merupakan green energy yang tidak menghasilkan gas buang, dan jika disbanding batu bara dan emisinya di bawah 1%, CO2 nya sangat rendah, 1,5 kali dari batu bara. Jadi jika batubara mencemari udara 100%, panas bumi hanya sekitar 1,5% dari batubara itu.
  2. Kedua, sustainable, dengan syarat agar permukaan di atas panas bumi itu dijaga lingkungannya karena panas bumi bergantung pada yang ada di permukaan. jika air hujan menyerap dengan meteoric terus-menerus maka air yang ada di reservoir akan  dipanaskan oleh magma dengan melalui rambatan batu panas, akhirnya menjadi uap. Selama tidak ada air yang terkontaminasi di dalamya, maka tidak mungkin ada panas bumi. dalam hal ini pengusaha harus berperan aktif dalam menjaga lingkungan tetap asri agar tidak tercemar atau rusak.
  3. Ketiga, indigineous, adanya pengembangan wilayah sehingga dengan mengembangkan daerah sekitar PLTP menjadi sentra ekonomi yang baru. Pengembangan wilayah juga dapat dilakukan dengan pendekatan membangun sentra ekonomi di daerah yang memiliki potensi panas bumi melimpah.
  4. Keempat, adanya bonus produksi yang bisa digunakan untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) tempat panas bumi itu dikembangkan.
  5. Kelima, Indonesia dianugerahi potensi panas bumi melimpah karena memiliki banyak gunung berapi di seluruh wilayahnya, ini merupakan harta karun yang terpendam yang dapat diusahakan demi menuju ketahanan energi.

Namun demikian, dibalik keistimewaan yang di tawarkan pada proses pengembangan batu bara, dampak negatif yang ditimbulkan tentu menjadi ancaman warga masyarakat sekitar wilayah PLTP dalam jangka panjang untuk masa depan, berikut adalah dampak negatif pembagunan PLTP adalah :

  1. Dapat mengeluarkan gas berbahaya. Dibawah permukaan bumi, ada banyak sekali gas rumah kaca, dengan memanfaatkan panas bumi ini, dikhawatirkan dapat memicu terjadinya migrasi gas-gas rumah kaca ke permukaan bumi dan mencemari udara. Emisi ini sangat berbahaya karena PLTP akan terkait dengan emisi silika dan sulfur dioksida. Selain itu, pada reservoir, panas bumi juga mungkin akan mengandung logam berat beracun seperti arsenic, boron dan merkuri.
  1. Pompa panas bumi harus dapat beroperasi dengan bantuan listrik. Meskipun energi panas bumi merupakan energi yang murah untuk digunakan, tetapi pompa panas bumi membutuhkan listrik agar mampu beroperasi.
  1. Daerah sekitar eksplorasi panas bumi dimungkinkan akan mengalami kekeringan. Panas bumi yang berasal dari reservoir bumi dapat keluar ke permukaan bumi dan menyebabkan kekeringan. Masa-masa kekeringan dapat berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya, itulah mengapa energi panas bumi harus dimanfaatkan denga hati-hati dan tidak menyalahgunakannya
  1. Dapat menyebabkan permukaan bumi menjadi tidak stabil. Konstruksi PLTP konvensional melibatkan pengeboran batu yang mengandung air dan uap yang terperangkap dalam pori–pori bumi dan pemahatan secara alami. Patahan yang diakibatkan oleh pengeboran ini menyebabkan uap keluar dri hasil pengeboran. Sebetulnya proses pengeboran ini tidak akan menyebabkan gempa, tetapi pecahnya uap dan kembalinya air yang digunakan untuk pengeboran kedalam reservoir air panas bumi, hal tersebut dapat menyebabkan gempa bumi. maka siklus seperti ini dapat menyebabkan ketidakstabilan sepanjang garis patahan akhibat gempa bumi tersebut.
  1. Membutuhkan suhu yang sangat tinggi. Pengeboran batu-batu merupakan aktivitas yang berbahaya. Suhu yang dibutuhkan untuk tiap proses pengumpulan energi panas bumi paling tidak sebesar 350 derajad fahrenheit. Jika temperature kurang dari itu, maka tidak dapat menghasilkan panas bumi. (www.kompasiana.com)

Pada kasus yang terjadi di gunung Lawu, PT pertamina Geothermal Energy menunda proyek pembangunan PLTP dikarenakan Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar belum mengeluarkan izin resmi pembangunan proyek ini dan kendala lain  ditemukan pada lahan, karena area di sekitar gunung Lawu terdapat banyak candi dan situs purbakala yang rawan rusak akibat getaran apabila saat dilakukan pengeboran. Untuk itu, sebagai masyarakat yang cerdas, mari sama-sama membangun Karanganyar tercinta sebagai asset daerah dan tetap menjaga kelestarian lingkungan gunung Lawu untuk kehidupan masa depan yang lebih baik, setuju atau tidaknya pembangunan PTLP ini pasti memiliki efek.?

Oleh : Nabila Nindi Radiawati

 

Read More