Category: Berita

7f5fa36b-42a4-4cd4-9535-27e6d6637ae5

Pengajian MTNI Kecamatan Jaten Ulama dan umaro diharapkan jaga kebersamaan

Sambutan Camat Jaten, Aji Pratama Heru

Pengajian Majelis Taklim Nurul Iman (MTNI) Kecamatan Jaten digelar di aula kantor Kecamatan Jaten, Selasa (10/9). Dalam kesempatan tersebut para ulama dan umaro diharapkan mampu menjaga kebersamaan sehingga tercipta kerukunan di masyarakat.

Pengajian MTNI diikuti para Guru Sekolah Dasar di kecamatan Jaten. Turut hadir Camat Jaten Aji Pratama Heru.

Dalam sambutannya Aji Pratama Heru mengajak seluruh ulama dan umaro untuk tetap menjaga kebersamaan antar umat. Karena di wilayah Jaten terdapat berbagai kelompok pengajian baik dari MTA, LDII dan Nahdiyin.

“Ulama dan umaro berperan dalam menjaga kebersamaan dan kerukunan umat. Mari terus membawa kenyamaman di masyarakat melalui dakwah yang menyejukkan ,”katanya.

Ditambahkanya untuk wilayah Jaten memang masih terdapat penolakan terhadap imunisasi karena keyakinan. Namun pihaknya akan terus melakukan pendekatan terhadap masyarakat.

“Masih terdapat kelompok penolak imunisasi karena menilai kandungan imunisasi haram. Tapi kita akan terus melakukan pendekatan melalui para tokoh ulama untuk memberikan pemahaman,”pungkasnya.

Demikian (dn/ind/wk)

Read More
DSC_3317

Rakor PBB Pedesaan dan Perkotaan Kabupaten Karanganyar

Tamu undangan dan peserta kegiatan Rapat Koordinasi PBB P2 Kabupaten Karanganyar di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Selasa (10/9).

KARANGANYAR – Rapat Koordinasi Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) diselenggarakan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Selasa (10/9).

Dalam laporannya, Plt Kepala Bidang Keuangan Daerah Narimo, S.Sos,MM menyampaikan kegiatan ini dihadiri oleh 200 peserta dari OPD terkait, Camat, Kasi se Kecamatan Kabupaten Karanganyar, serta Lurah/ Kades se Kabupaten Karanganyar.

Maksud diselenggarakan kegiatan ini untuk mengkoordinasikan dengan petugas berkaitan dengan percepatan pembayaran pajak, evaluasi pencapaian target wilayah serta pemetaan permasalahan dilapangan dan solusinya.

Beliau juga menyampaikan adanya penurunan dari tahun 2018 ke 2019. Jumlah ketetapan tahun 2019 mencapai Rp. 28 Miliar 700 Juta lebih dan target APBD  25 Miliar, sedangkan realisasi per bulan agustus hanya Rp. 13 Miliar 900 Juta lebih.

“Dibanding tahun 2018, pada tahun 2019 ini ada penurunan dari 59 desa di 11 kecamatan menjadi  46 Desa di 10 Kecamatan. Kecamatan tersebut meliputi Jatipuro, Jatiyoso, Jenawi, Jumantono, Jumapolo, Kerjo, Matesih, Mojogedang, Ngargoyoso dan Tawangmangu,” ujarnya.

Adapun faktor penurunan, salah satunya dikarenakan sistem pembayaran yang kurang simple, sehingga masyarakat kurang pecaya dengan petugas pemungut.

Dalam sambutan dan pengarahannya, Bupati Karanganyar menyampaikan harus adanya kesadaran wajib pajak bagi masyarakat, karena PBB dari tahun ke tahun belum pernah mengalami kenaikan.

“Mestinya sudah diatas 50% dari target yang sudah ditetapkan, karena pajak terbuka itu sampai kapanpun akan dikejar terus,”tuturnya.

Beliau juga meminta kepada lurah dan kades untuk mengkoordinasikan kepada kadus agar ikut mengkoordinasikan dengan RT/RW berkaitan dengan PBB.

“Tolong kades dikondisikan dengan baik, serta untuk lurah mohon supaya pajak ditata dan ditertibkan dengan baik,” harapnya.

Demikian DISKOMINFO (An/In/Mei)

Read More

Merayakan Literasi, Sudah itu Mati!

Opini

Oleh: Eko Setyawan

Bulan Oktober, dua tahun silam, acara yang bertajuk “Karanganyar Berpuisi” diselenggarakan dan berhasil memecahkan rekor MURI sebagai pencipta sekaligus pembaca puisi terbanyak. Penyelenggaraan dilaksanakan di Alun-Alun Kabupaten Karanganyar dan melibatkan banyak elemen mulai dari Bupati, Wakil Bupati, jajaran Muspida, pelajar, TNI-Polri, dan elemen-elemen lainnya di Kabupaten Karanganyar. Pemecahan rekor MURI itu dilaksanakan untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Karanganyar yang ke-100. Hal yang membanggakan sekaligus mengecewakan.

Ada hal yang cukup menggelisahkan ketika acara tersebut dilaksanakan. Hal ini berkaitan dengan kebermanfaatan dari acara yang dilaksanakan. Saat itu, lebih dari 25.000 peserta membuat sekaligus membacakan puisinya. Mungkin saja ada kebanggaan pada saat penyelenggaraan karena terlibat dalam pemecahan rekor MURI.

Namun ada hal yang perlu diingat bahwa penyelenggaraan semacam ini sebenarnya kurang efektif untuk mengembangkan literasi. Perayaan semacam ini hanya akan mentok pada perayaan dan pemecahan rekor MURI semata, namun tidak berdampak pada minat baca dan tulis khususnya puisi di kalangan masyarakat luas terlebih bagi pelajar. Berkenaan dengan literasi, perayaan semacam ini hanya akan terjadi pada satu dua hari saja dan tidak berkelanjutan.

Tentu saja hal ini mengecewakan karena pada dasarnya, literasi adalah proses keberlanjutan dan sambung-menyambung. Literasi bukan hanya semata memecahkan rekor atau mendapat penghargaan sementara tidak berdampak pada keinginan baca tulis siswa. Perayaan semacam ini tentu kurang efektif.

Tiga sampai empat bulan mendatang, genap dua tahun perayaan itu dilakukan. Dari 25.000 peserta yang terlibat, adakah dampak yang terasa pada peserta khususnya pelajar. Dari 25.000 peserta tersebut, adakah yang sampai saat ini masih menulis dan membaca puisi. Saya berani bertaruh dari banyaknya peserta itu mungkin tak lebih dari 100 orang yang masih menulis puisi.

Pelatihan Penulisan Puisi

Minimnya keberlanjutan karena perayaan literasi semacam itu hanyalah membuang tenaga dan tidak berpengaruh secara langsung dan berkelanjutan pada kreatifitas pelajar. Akan lebih baik jika pemerintah melaksanakan pelatihan penulisan sastra khususnya puisi dan ini akan merangsang siswa untuk terus menulis puisi.

Pelatihan ini perlu untuk menjadikan puisi lebih dekat dan lebih dipahami bagaimana cara menulis puisi yang ‘bagus’ bukan hanya semata-mata menulis dan mendapat rekor MURI. Harusnya pemerintah Kabupaten Karanganyar memperhatikan dan menaruh fokus pada literasi yang ada di Karanganyar.

Pemerintah Kabupaten Karanganyar harusnya menyadari potensi siswa dari pelatihan penulisan puisi serta karya sastra lainnya. Secara tidak langsung, Karanganyar akan mendapat tempat di dunia literasi sebagai pencetak penulis yang berbakat. Khususnya penulis muda, akan lahir dari proses yang berkelanjutan bukan hanya perayaan sesaat. Potensi anak-anak muda akan terasah melalui program penulisan puisi ini dan akan berimbas pada sektor pariwisata pula. Eksplorasi pariwisata juga dapat terekspos melalui puisi.

Kabupaten Karanganyar tak pernah kehabisan penulis berbakat seperti halnya Andri Saptono yang telah merilis novel dengan judul Candik Ayu Segaramadu yang tak lain berlatar di PG. Tasikmadu dan menyabet penghargaan dari Dewan Kesenian Jawa Tengah 2011, juga novel Lost in Lawu yang mengeksplor wisata Kabupaten Karanganyar. Ada pula Yuditeha yang telah menerbitkan beberapa novel, kumpulan cerpen, dan buku kumpulan puisi. Bahkan telah memenangkan banyak lomba penulisan sastra dan turut mengharumkan nama Kabupaten Karanganyar.

Sadar atau tidak, harusnya orang-orang semacam ini dilibatkan dalam gerakan literasi jangka panjang untuk menyebarkan virus gemar membaca dan menulis sehingga tidak hanya perayaan semata namun juga berkelanjutan. Dengan hal itulah maka literasi di Kabupaten Karanganyar akan terus hidup. Hal ini juga tidak memerlukan banyak biaya tinggal sampai mana niat yang ada.

Komunitas literasi di Karanganyar juga bisa dibilang masih terbatas sehingga perlu adanya campur tangan pemerintah agar dapat berkembang ke arah yang positif. Tidak ada salahnya melaksanakan perayaan namun harus dilihat dari sisi kebermanfaatan jangka panjang. Dengan demikian, perayaan bukan hanya perayaan semata namun juga mengembangakan dan mengakar hingga tumbuh.

Jangan sampai perayaan semacam itu hanya terbatas pada perayaan dan kegembiraan sesaat seperti halnya penggalan puisi Chairil Anwar yang berbunyi: “Sekali berarti, sudah itu mati!”

Karena pada dasarnya, perayaan puisi itu dilakukan saban hari. Selamat berpuisi!

Read More

Di Penghujung Rembulan Temaram

Cerpen

Oleh : Lina Khoirun Nisa

Sayup-sayup terdengar derai langkah kaki. Menyusuri setiap petak-petak rumah mungil ini yang hanya berukuran tak lebih luas dari kandang sapi 3 ekor. Mengendap-endap, agar tak membangunkan seisi rumah. Ya, itulah kebiasaan Abil kakakku yang harus terbangun dini hari demi mencari ikan untuk dijual. Tapi apa daya, rumah ini terlalu mungil untuk sekadar mendengar setiap tiupan angin yang berhembus.

Sepeninggal kedua orangtua, membuat kami dituntut untuk lebih hidup mandiri. Menyuruh kami untuk keras akan keadaan. Memang beda rasanya. Kesedihan kala itu, masih terasa. Hidup kami berubah, bukan dalam artian fisik. Tapi kami harus kehilangan kedua harta berharga yang kami punya, terenggut nyawanya lima tahun silam. Tak terbayangkan akan peristiwa waktu itu. Disaat menerima piala pertamaku, Kak Abil berlari tergopoh-gopoh sembari menyerukan namaku. Di kejauhan mata, ku bertanya-tanya. Memberi tanda isyarat “Ada apa?”. Ekspresi Kak Abil serta guru yang mendampingiku sewaktu lomba, tak bisa kubaca. Pada akhirnya kutahu, berita apa yang kudapat. Berita segetir ini di saat ku tak sempat memberi piala lomba untuk mereka, Ayah & Ibu.

Kini, ku hanya bersama Kak Abil. Tinggal berdua di bekas kandang sapi Pak Wijaya. Disulap seadanya dengan bantuan warga sekitar. Rumah kami terbakar dan itulah yang merenggut nyawa kedua orangtuaku. Menyisakan puing-puing yang telah menjadi abu. Tak menyisakan sedikit pun. Tapi ku bersyukur, aku masih memiliki Kak Abil, hartaku satu-satunya. Kejadian demi kejadian yang menyayat hati, tak membuatku menyalahkan ketentuan Sang Maha Kuasa. Kuyakin, akan ada hikmah dibalik semua kejadian walau secara tersirat.

Memasuki jenjang perkuliahan, ku salut akan kerja keras Kak Abil selama  ini. Dukungan yang ku terima, memacu semangatku untuk terus belajar menggapai cita-cita. Dapat diterima lewat jalur undangan dengan mendapat beasiswa, tak pernah terbayang dibenakku. Tak henti-hentinya ku mengucap rasa syukur. Hinaan karena impianku terlalu tinggi, justru memacu diriku untuk terus bangkit. Kan kubuktikan, bahwa kesuksesan tak hanya semata-mata mengenai harta. Sudut pandang materi sangatlah subjektif untuk dijadikan sebuah ukuran. Itu semua membuatku mengerti, dan menikmati setiap proses yang kualami walau dipenuhi jalan berliku. 

***flashback off***

Ditengah pekerjaan kantor yang menumpuk, tiba-tiba kenangan masa lalu itu terlintas memenuhi seluruh ruang sel-sel otakku. Membuat perasaan campur aduk di relung hati ini. Memori-memori di kala itu, masih tersimpan rapi serta detail demi detail yang masih teringat dengan jelas. Tak bisa terbuang atau lupa begitu saja, walau dengan kesibukan yang sedang kujalani saat ini.

Sekarang seperti yang kalian tahu, aku berhasil menggapai apa yang ku impikan sedari dulu. Semua mimpi-mimpi yang pernah kutulis, kini telah tercoret tinta merah karena sudah kulalui. Semua karena dukungan Ayah, Ibu, serta Kak Abil. Yang selalu menasehatiku agar tak menyalahi bagaimana keadaan. Memotivasiku agar jangan pernah putus semangat. Hingga peristiwa demi peristiwa yang tak ingin kulalui, mau tak mau harus juga kualami. Ditambah sebulan yang lalu, aku merelakan harta berhargaku satu-satunya pergi. Kak Abil terenggut nyawanya karena tabrak lari. Disaat ia akan menjemputku pada malam purnama. Kuingat bahwa ia telah berjanji untuk kita pergi, dan benar. Ia telah pergi untuk selamanya. Tak kurasakan firasat apapun. Tapi itu tak membuatku untuk lantas menyalahi skenario Sang Kuasa. Dimana setiap apa yang telah Tuhan ukir untuk jalanku, kupercayai itulah yang terbaik. Jika raga kami dapat bertemu, ku ingin memberitahu satu hal. Bahwa sekarang kubisa menjadi apa yang kumau. Membuat mereka yang pernah menertawakan impianku, diam seribu bahasa. Ku tahu, Ayah, Ibu, Kak Abil ada di sana melihatku dengan penuh kebanggaan. Ya di sana, sebuah tempat indah, yang sangat indah. Kulihat mereka tersenyum walau hanya dengan bayang-bayang semu tetapi bisa tertangkap di pelupuk mataku.

Djakarta, 21 September 1998 tepat dimana rembulan itu akan temaram. Terganti sesosok fajar yang ‘kan segera menyingsing.

Read More

Dibalik Sistem Zonasi Sekolah

Opini

Oleh : Erna Puji Rahayu

Pendidikan merupakan tiang utama dalam mencerdaskan suatu bangsa. Oleh sebab itu kita perlu menggali dan memperbanyak asupan ilmu dengan menempuh pendidikan sebebas-bebasnya. Di Indonesia ini berbagai kebijakan telah dilakukan guna meningkatkan sistem pendidikan yang baik, salah satunya yakni dengan sistem zonasi. Sistem zonasi merupakan sebuah sistem pengaturan proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berdasarkan wilayah  tempat tinggalnya. Sistem tersebut telah diatur dalam Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018. Adapun tujuan dari pemerintah yakni agar tidak ada lagi penyebutan sekolah favorit dan non-favorit.

Namun perkembangan terbaru mengenai PPDB sistem zonasi kebijakan tersebut masih belum siap untuk dikeluarkan oleh pemerintah.  Terbukti dengan minimnya perangkat penunjang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sistem zonasi, diantaranya panduan teknis. Para peserta maupun penyelenggara masih kebingungan dengan sistem dan prosedur yang harus  mereka lakukan. Akibatnya banyak sekolah dan orang tua murid kebingungan megikuti alur sistemnya. Wakil ketua komisi X DPR RI, Reni Marlinawati pun juga meminta pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan panduan yang jelas untuk mengikuti PPDB sistem zonasi.  “Saat PPDB (berlangsung) banyak Dinas Pendidikan dan orang tua yang merasa kebingungan terkait sistem zonasi. Sesungguhnya prosedur dan panduan sistem zonasi itu seperti apa. Mereka berharap pemerintah pusat mengeluarkan panduan tentang sistem zonasi,” kata Reni, saat memimpin pertemuan Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi X DPR RI dengan stakeholder bidang pendidikan di kota Medan, Sumatera Utara.

Selain itu memunculkan beragam respon masyarakat mengenai kebijakan tersebut baik yang pro maupun kontra. Beberapa masyarakat setuju akan kebijakan tersebut dengan catatan sistem tersebut diperbaiki lagi. Di lain sisi ada juga yang kontra seperti yang disampaikan Bapak Wanto, wali murid asal Sumberlawang, Sragen  yang mengatakan ketidaksetujuannya dengan sistem tersebut “Kami tidak setuju dengan sistem zonasi karena itu merampas keadilan bagi siswa. Siswa cerdas yang bercita-cita bisa masuk sekolah favorit akhirnya harus pupus harapan  karena yang diprioritaskan yang dekat sekolah. Tujuan pemerataan pendidikan dan penghapusan status sekolah favorit, juga hanya omong kosong. Sebab faktanya sekolah pinggiran dan kecamatan juga tidak ada pembenahan, dari sisi prestasi juga masih didominasi sekolah kota dan sebelumnya jadi sekolah favorit” (dilansir dari Joglosemar.com).

Perlu kita ketahui pemberian label terhadap suatu sekolah sering kali kita temui di negara ini, hingga sekolah-sekolah yang dianggap rendah kualitasnya  setiap tahunnya akan mengalami penurunan pendaftar dan sekolah yang dikatakan sekolah unggulan akan membeludak pendaftarnya. Dengan latar belakang demikian pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dirasa sudah cocok guna pemerataan dan kesetaraan sekolah yakni dengan adanya sistem zonasi. Dengan sistem tersebut maka siswa ataupun orang tua tidak akan bisa memilih-milih sekolah sesuai minat dan keinginan mereka. Namun di lain sisi penggunaan sistem zonasi tersebut belum cocok diterapkan di setiap sekolah di Indonesia, sebab masih banyak sekolah-sekolah di daerah yang tidak memiliki fasilitas, infrastruktur serta guru yang layak untuk menjamin kualitas ilmu yang diberikan. Tidak hanya itu sistem tersebut bisa dikatakan sebuah kemunduran dalam pendidikan, karena sama saja pemerintah  menekan bahkan merampas  hak asasi siswa dalam berkehidupan serta menentukan pilihan. Secara psikologis mereka akan merasa tertekan dan putus asa sebab mereka tidak bisa bersekolah di tempat yang terbaik sesuai cita-cita mereka. Hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap psikis siswa, penurunan semangat belajar, penurunan semangat berkompetisi dan akan berdampak buruk pada kualitas sumber daya manusia kedepannya.

Dari catatan-catatan seputar permasalahan sektor pendidikan, ada beberapa masalah yang perlu diselesaikan sebelum sistem zonasi diterapkan di setiap sekolah di Indonesia. Pusat Data dan Statistik Kemendikbud mengatakan bahwa, dari seluruh sekolah di Indonesia, 90.749 ruang kelas mengalami rusak berat dan 60.760 ruang kelas rusak total. Kemudian dari 214.409 sekolah SD/SMP/SM (negeri dan swasta), hanya 144.293 sekolah yang memiliki perpustakaan. Dari 144.293 perpustakaan, 6.436 perpustakaan mengalami rusak berat dan 5.529 perpustakaan rusak total. Kemudian dari 214.409 sekolah SD/SMP/SM (negeri dan swasta), hanya 50.150 sekolah memiliki laboratorium sains (data: Pusat Data dan Statistik Kemendikbud).

Esensi dari pendidikan sesungguhnya ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses belajar dan suasana belajar yang baik agar peserta didik mampu berperan aktif dalam menggali dan mengembangkan potensi diri, seperti yang terdapat dalam UU No. 20 tahun 2003. Maka sebaiknya pemerintah mempersiapkan terlebih dahulu sistem yang akan dikeluarkan secara matang, mengetahui masalah-masalah terkecil yang dialami setiap sekolah agar tidak terjadi pro dan kontra dengan adanya sistem baru. Dengan perbaikan infrastruktur di sekolah-sekolah daerah, perbaikan mutu pendidikan, serta penyebaran guru kompeten menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas di setiap sekolah. Secara tidak langsung kualitas sekolah akan merata dan siswa tidak akan lagi memilih-milih tempat dimana dia akan menuntut ilmu dan keseimbangan akan terwujud.

Read More

Tahukah kamu, Gunung Lawu itu ga 100% mati lho!

Opini

Oleh: Arif Muchlisin

Gunung Lawu. Secara administrasi, gunung yang mempunyai ketinggian 3265 mdpl (meter di atas permukaan laut) ini berada di perbatasan 2 provinsi, yaitu Jawa Tengah (Kabupaten Karanganyar) dan Jawa Timur (Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan). Gunung Lawu merupakan salah satu bagian dari sabuk gunung api berumur Kuarter (< 2,6 juta tahun yang lalu) di Jawa. Gunung api Kuarter terbentuk akibat subduksi (tumbukan) antara lempeng Samudera Indo-Australia yang menunjam di bawah lempeng Benua Eurasia. Contoh gunung api Kuarter di Jawa selain Gunung Lawu yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Slamet, Gunung Sindoro-Sumbing, Gunung Arjuna, Kompleks Pegunungan Bromo-Tengger, dan lain lain. Gunung api-gunung api Kuarter ini apabila kita lihat melalui google maps¸ maka akan membentuk trend (kelurusan) yang mengarah dari barat hingga timur (Gambar 1).

Gambar 1. Persebaran gunungapi Kuarter Pulau Jawa yang membentuk suatu trend berarah barat hingga timur. Sumber gambar: google maps

Tahukah kamu jika Gunung Lawu itu sebenarnya tidak 100% mati lho?

Gunung Lawu tergolong kedalam gunung api tipe B. Gunung api tipe B merupakan gunung api yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengalami erupsi magmatik, namun gunung api ini masih memperlihatkan gejala seperti adanya solfatara (fumarol yang mengeluarkan gas-gas belerang). Gunung api tipe B dapat mengalami erupsi kembali setelah beberapa ratus tahun mengalami dorman (istirahat). Tercatat bahwa Gunung Lawu mengalami erupsi terakhir pada 28 November 1885. Hingga sampai saat ini, 2019, Gunung Lawu belum pernah dilaporkan mengalami erupsi letusan kembali. Itu artinya bahwa gunung api ini telah lebih dari 100 tahun tidak mengalami erupsi. Namun demikian, bukan berarti Gunung Lawu tidak akan bisa meletus lagi karena di dalam perut gunung masih terdapat aktivitas magma yang sewaktu-waktu dapat meletus. Gunung api dorman ini dapat mengalami letusan kembali dan memiliki potensi ancaman dengan intensitas letusan yang mungkin akan lebih besar.

Lantas, kapan Gunung Lawu diprediksi akan meletus lagi?

Tidak ada yang bisa menentukan kapan tepatnya suatu fenomena alam terjadi. Semua rahasia di alam hanya dipegang oleh Tuhan YME. Kendati demikian, kita tidak perlu takut apabila hendak beraktivitas di dekat Gunung Lawu, karena pada dasarnya gunung api yang akan mengalami erupsi pasti akan menampakan tanda-tanda alam yang dapat dijadikan sebagai peringatan dini bagi kita. Dalam ilmu kegunungapian, tidak ada jaminan bahwa gunung api tersebut akan mati. Butuh waktu geologi (ratusan-jutaan tahun) untuk dapat memastikan bahwa gunung api tersebut dikatakan sudah tidak aktif lagi. Namun, suatu saat bisa jadi Gunung Lawu dapat aktif kembali dan dapat mengalami letusan. Contoh aktivitas gunung api yang mengalami erupsi setelah ratusan tahun dorman yaitu Gunung Sinabung yang merupakan gunung api tipe B tercatat tidak meletus lagi sejak tahun 1600. Namun saat ini kita ketahui bahwa Gunung Sinabung tersebut aktif mengalami erupsi kembali.

Gambar 2. Kenampakan relief bukaan pada sisi selatan Gunung Lawu. Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aktivitas Gunung Lawu yang menunjukkan bahwa gunung api ini masih aktif hingga saat ini yaitu kita bisa merasakan adanya bau gas belerang yang menyengat. Bau gas belerang ini muncul dari fumarol di Kawah Candradimuka atau relief bukaan di sisi selatan Gunung Lawu dimana bukaan ini tepat memisahkan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kenampakan relief bukaan pada sisi selatan Gunung Lawu dapat dilihat pada gambar diatas (Gambar 2).

Read More

SPIRIT KEBANGSAAN

Opini

Oleh: Sriyanto

Negara Kesatuan Republik Indonesia genap berusia 74 Tahun. Usia tak lagi muda untuk sebuah negara. Tentu lebih matang jika dibandingkan dengan Sudan Selatan (negara termuda) yang baru menginjak usia 8 Tahun. Jika eksistensi Indonesia dibawa ke ranah sejarah Nusantara, maka jauh berabad-abad lalu telah ada. Mahapatih Gadjah Mada misalnya, telah mengenalkan Nusantara pada tahun 1336. Sebelumnya, Kertanegara Raja Singasari pada tahun 1276 dengan konsep Dwipantara. Dwipa sinonim “nusa” yang bermakna pulau. Sehingga Dwipantara merupakan   “kepulauan antara”, yang maknanya sama persis dengan Nusantara.

Secara bahasa, istilah “Indonesia” dikenalkan pertama oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika diasingkan ke negeri Belanda tahun 1913, ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau.

Negara ini dibangun atas optimisme dan visi yang kuat. Para pendahulu telah menginfakkan seluruh jiwa raga. Demi Ibu Pertiwi dan berkibarnya merah putih ribuan nyawa telah berpulang. Para pahlawan telah berkorban dan nirpamrih. Puncaknya, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menjadi  awal kehidupan berbangsa yang merdeka.

Pidato Ir. Sukarno pra pembacaan teks proklamasi secara lugas menguraikan konvergensi suasana kebatinan seluruh rakyat Indonesia yakni “Merdeka”. Kutipan pidato tersebut “Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarat dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita”.

Nilai-nilai sejarah terbentuknya negara ini sebagai penopang sendi kebangsaan. Kebhinekaan menjadi keniscayaan. Namun semangat kebangsaan tak selamanya elok dan tanpa uji.

Sekarang ini, kehidupan bangsa dalam keadaan kronis. Rongrongan amat masif. Disadari atau tidak, perilaku korup mengamputasi hak rakyat. Ujungnya kesejahteraan sosial sulit terwujud. Selain itu, pembangunan masih bersifat jawa sentris mengakibatkan  ketidakmerataan pembangunan masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung usai. Diperparah dengan tingginya angka ketimpangan menjadi cermin buruknya distribusi pendapatan.

Bangsa ini merupakan bangsa besar, meski dengan segudang problematika. Anak bangsa, dimanapun berada dan apapun posisinya, idealnya menjadi bagian dari solusi. Negara butuh uluran jiwa raga untuk menyemai nasionalisme dan memperkokoh patriotisme.

Ada satu kutipan yang relevan sebagai wujud komitmen pengabdian kepada bangsa oleh Presiden Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy. Pada saat pidato pelantikannya di tahun 1961, ia berucap bahwa Jangan tanyakan apa yang diberikan negara kepadamu tapi tanyakan apa yang kamu berikan  kepada negaramu.

Dalam menjaga keutuhan negara, semangat kebangsaan menjadi bekal yang mutlak adanya.  Seluruh unsur di negeri ini harus satu pandangan terhadap empat pilar kebangsaan. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan Undang-undang Dasar 1945. Jika dianalogikan NKRI sebuah rumah, Pancasila menjadi pondasi, Bhineka Tunggal Ika sebagai keanekaragaman ornamen dan UUD 1945 merupakan adab bagi penghuninya.

Adalah anomali dan ingkar adab jika ornamen rumah dikotori dengan perilaku intoleran, ujaran kebencian, persekusi ataupun rongrongan disintegrasi. Lebih parah lagi, adanya dorongan untuk meruntuhkan pondasi negeri. Hal demikian perlu dihindari karena tidak sejalan dengan semangat kebangsaan.

Riuhnya tarik tambang hingga panjat pinang menghiasi perhelatan peringatan kemerdekaan ke-74. Upacara Proklamasi Kemerdekaan di seluruh penjuru negeri. Rakyat bahu-membahu bersatu padu tanpa membedakan suku, ras dan agama. Kebhinekaan menjadi bukti aset perekat bangsa.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Detik-detik Proklamasi berkumandang, Merah Putih berkibar dengan gagah perkasa sebagai nutrisi nasionalisme dan patriotisme. Jika dada tak bergetar dan tak lagi ada rasa haru, maka pertanda pudarlah semangat nasionalis dan jiwa patriotik kita.

Terhindarnya negeri dari kungkungan penjajah bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Nikmat Tuhan berupa kemerdekaan diberikan melalui perjuangan penuh kegigihan dan ketulusan. Apa yang diraih negeri dimasa sekarang tidak lepas dari jasa para pendahulu. Maka semboyan masyhur yang diucapkan oleh Soekarno dalam pidato terakhirnya  pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966 seakan tak lekang zaman. Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah  “Jasmerah”.

Tak ada kata terlambat dalam membangun negeri. Selama seluruh elemen negeri ini satu pandangan terhadap nilai universal empat pilar kebangsaan. Bekal sudah dalam genggaman. Dipadu internalisasi spirit kebangsaan. Terimplementasi dalam kehidupan keseharian. Kehidupan bangsa yang lebih beradab tidak lagi sekedar impian. Rakyat negeri ini cinta perdamaian dan persatuan. Jangan karena tingkah polah segelintir oknum, persatuan negeri ini terkoyakkan. Dirgahayu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Read More

Artikel Terpilih Karanganyar Menulis 2019 Periode 7

Berikut ini daftar artikel terpilih untuk rubrik Karanganyar Menulis 2019:

  1. Tahukah Kamu, Gunung Lawu Itu Ga 100% Mati Lho! oleh Arif Muchlisin
  2. Dibalik Sistem Zonasi Sekolah oleh Erna Puji Rahayu
  3. Di Penghujung Rembulan Temaram oleh Lina Khoirun Nisa
  4. Spirit Kebangsaan oleh Sriyanto
  5. Merayakan Literasi, Sudah Itu Mati! oleh Eko Setyawan

Jurnal Warga dapat Anda akses disini : http://www.karanganyarkab.go.id/category/berita/jurnal-warga/

Ayo ikut berpartisipasi dalam penulisan jurnal warga untuk membantu menyebarkan informasi dan berita kepada masyarakat. Seluruh warga Kabupaten Karanganyar dapat mengirimkan berita-berita dan informasi di lingkungan Anda kepada kami. Tulisan yang menarik akan mendapatkan reward menarik dan akan dipublikasikan di website karanganyar serta share ke sosial media karanganyar. Kami tunggu tulisanmu!

Read More
DSC_3299

KULIAH UMUM UNTUK MEMBANGUN MORAL DAN ETIKA BANGSA BERSAMA KETUA ICMI Prof. Dr. Jimly Assidiqie, SH

Penyampaian Materi tentang Membangun Moral dan Etika Bangsa oleh Prof. Dr. Jimly Assidiqie, SH Ketua ICMI

Seminar Peningkatan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan bersama Prof. Dr. Jimly Assidiqie, SH dengan tema membangun moral dan etika bangsa di era disruption di Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Senin (9/9). Peserta yang ikut berpartisipasi berasal dari Jajaran OPD Kabupaten Karanganyar, Ormas Politik di Karanganyar, Pelajar, Mahasiswa ,TNI , dan juga Polri.

Moral dan etika bangsa mulai terpengaruh dengan budaya luar yang masuk ke negara Indonesia. Sehingga mulai terjadi kasus perselisihan antar warga dengan berbagai macam masalah seperti agama, budaya, ras, dan golongan.

Sambutan Bupati Karanganyar, Drs. H. Juliyatmono, MM

Bupati Karanganyar Juliyatmono dalam sambutannya mengatakan bahwa setiap tahun kita selenggarakan kemah kebangsaan yang pesertanya dari berbagai macam agama dengan tujuan untuk mempererat sulaturahmi dan perdamaian antar umat beragama. “Pergeseran dunia yang serba maya ini pengaruhnya luar biasa , Pancasila akan menjadi perbincangan di Indonesia ini dalam membangun bangsa dan negara, yang harus kita lakukan adalah memposisikan diri supaya tidak larut dalam pergeseran buruk yang mengancam keutuhan wilayah negara Indonesia” imbuhnya.

Orang nomer satu di Karanganyar itu juga menyampaikan mudah-mudahan dari Karanganyar ikut andil dalam memperkuat kesatuan bangsa dan negara dan menyediakan SDM unggul untuk bersaing di tingkat Internasional.

Narasumber istimewa yang sekaligus Ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), Prof. Dr. Jimly Assidiqie, SH menyampaikan materi yang cukup menarik tentang etika dan moral bangsa. Dalam materinya juga menyinggung tentang kehidupan politik baru-baru ini dan menyampaikan bahwa jangan gara-gara politik Indonesia terpecah belah, atas dasar itu maka perlu dikuatkan lagi moralitas dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Aklhak tidak tercermin di negeri kita, maka dari itu sebagai negara dengan mayoritas penduduk Islam sebaiknya mebenahi aklhak untuk menjadi dasar hidup damai berdampingan antar umat beragama” ungkapnya.

Orientasi kebangsaan Indonesia lebih baik mengacu untuk merawat moral dan etika masyarakatnya, dengan hal itu akan membawa kemajuan bangsa lebih cepat. Selain itu dengan membangun etika yang baik juga bisa menciptakan Indonesia menjadi negara yang tentram dan terbebas dari gangguan buruk yang mengancam keutuhan wilayah negara.

Demikian Diskominfo (Ind/Dn/Wk)

Read More
DSC_3204

Peringati Hari Olahraga Nasional, PemKab bersama DISPARPORA Karanganyar Gelar Upacara

Bupati Karanganyar foto bersama Atlet penerima Reward dan Insentif di Depan Kantor Bupati Karanganyar, Senin(9/9).

KARANGANYAR – Dalam rangka peringati Hari Olahraga Nasional Ke-36 tahun 2019, Pemerintah Kabupaten Karanganyar bersama DISPARPORA adakan upacara di Halaman Kantor Bupati Karanganyar, Senin(9/9).

Bupati Karanganyar bertindak sebagai Inspektur upacara dan Ardiyanto, S.STp, MM selaku Lurah Jantiharjo bertugas sebagai Pemimpin Upacara. Peserta upacara dari Kodim, Polres, Satpol PP,  BPBD, Dishub PKP, PGRI, Gabungan  ASN, KONI, dan OSIS SMA/K dan SMP.

Dalam Amanatnya Bupati Karanganyar menyampaikan tema Hari Olahraga Nasional Ke-36 Tahun 2019 “Ayo Olahraga Dimana Saja Kapan Saja”.

Pada kesempatan ini, juga dilakukan penyerahan Reward dan Insentif oleh Bupati Karanganyar kepada  Atlet Berprestasi Kabupaten Karanganyar sebagai penutup upacara Hari Olahraga Nasional Ke 36 tahun 2019.

Atlet yang mendapatkan Reward dan Insentif :

  1. Suryo Nugroho Atlet Bulu Tangkis Asian Paragames 2018 mendapat Reward Rp. 40 Juta
  2. Sri Sugiyanti Atlet Paracycling Asian Paragames 2018 mendapat Reward Rp. 30 Juta
  3. Mulyono Atlet Atletik Asian Para Game 2018 mendapat Reward Rp. 10 Juta
  4. Febriani Kurnia Atlet Paralayang mendapat Insentif Rp 150 ribu/ bulan
  5. Aris Budi Nugroho Pengurus Taekwondo Karanganyar mendapat Insentif Rp. 200 ribu/bulan

Demikian DISKOMINFO (An/In/Mei).

Read More