Category: Pertanian

Harga Anjlok: Pascapanen Harga Wortel Tawangmangu Anjlok

Para petani wortel di Tawangmangu mengeluhkan harga wortel lokal anjlok dipasaran. Kondisi ini sering terjadi pascapanen sehingga para petani enggan memanen wortel. Seorang petani wortel, Parsidi, mengatakan harga wortel lokal sering anjlok pascapanen hingga Rp500/kg. Sebelumnya, harga wortel lokal di pasaran senilai Rp2.000/kg. Sehingga tidak sedikit petani wortel yang enggan memanennya.

“Bahkan harganya merosot tajam hingga Rp300/kg pada Mei lalu. Buat apa memanen jika harganya anjlok, kami pasti rugi. Saat ini harganya masih normal,” katanya saat ditemui, Selasa (4/9/2012).

Menurutnya, salah satu penyebab anjloknya harga wortel lokal karena semakin banyak wortel impor yang ditanam petani. Wortel impor lebih bagus secara fisik dibanding wortel lokal. Sehingga para konsumen lebih memilih wortel dari Jepang tersebut.

Sebenarnya, kualitas wortel lokal tidak kalah dibandingkan wortel impor. Maka dari itu dia meminta instansi terkait agar para petani wortel lokal mendapatkan bantuan saat harganya anjlok.

“Konsumen memilih wortel impor karena Harganya lebih mahal dan fisiknya lebih bagus. Kami minta bantuan kepada instansi terkait karena yang menjadi korban para petani wortel lokal,” terang dia.

Selama ini, Tawangmangu menjadi salah satu pemasok wortel di wilayah Karanganyar dan se-Soloraya. Namun, sejak adanya bibit wortel impor maka sebagian petani memilih menanam wortel impor dibanding lokal.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengatakan pihaknya meminta agar para petani wortel menanam bibit wortel yang berkualitas unggul dan diminati pasar. Sehingga dapat bersaing dengan wortel impor di pasaran.

Saat ini, lanjut Siti, pihaknya sedang mengembangkan wortel unggulan di Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu. Rencananya, pola pengembangan wortel unggulan itu diterapkan di seluruh sentra pertanian wortel. “Secara fisik tak kalah dengan wortel impor, nanti akan dikembangkan di wilayah lain seperti Ngargoyoso,” imbuhnya.

Read More

Lahan Cengkeh di Jatiyoso Susut Signifikan

Lahan produktif tanaman cengkeh di Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, berkurang signifikan 15 tahun terakhir.

Berdasar data di kantor pertanian kecamatan setempat, penyusutan lahan mencapai 60 persen dari luas sebelumnya. Saat ini tinggal 1.300 hektare lahan tanaman cengkeh di wilayah kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri itu.

Informasi yang dihimpun  akhir pekan kemarin menyebut, penyusutan lahan terjadi sangat signifikan sejak 1994-1995 silam. Ketika itu Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh (BPPC) mendorong pengurangan populasi cengkeh menyusul jatuhnya harga jual. Saat itu satu kilogram cengkeh hanya dihargai Rp750.

Petugas Operasional Pertanian Kecamatan Jatiyoso, Sukandar, saat ditemui mengatakan petani mengalihkan sebagian lahan cengkeh dengan komoditas palawija serta melinjo dan buah-buahan.  “Sejak dulu cengkeh adalah komoditas unggulan. Tapi populasinya sudah jauh berkurang,” katanya.

Harga Tinggi

Meski demikian karena pengurangan besar-besaran lahan cengkeh, masa panen raya saat ini harganya kembali tinggi. Satu kilogram cengkeh basah dijual petani seharga Rp30.000. Situasi tersebut menjadi keuntungan tersendiri petani cengkeh di Jatiyoso. Penebangan besaran-besaran tanaman cengkeh di kecamatan lain membuat Jatiyoso satu-satunya sentra cengkeh di Bumi Intan Pari.

“Saat ini masa panen raya cengkeh, siklus yang terjadi empat tahunan,” imbuh Sukandar.

Penjelasan senada disampaikan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Jatiyoso, Zaini Fahrudin. Menurut dia, sembilan desa di Jatiyoso memiliki lahan produktif tanaman cengkeh. Sementara salah seorang petani cengkeh asal Glagahmalang, Wonorejo, Jatiyoso, Satiyem, mengakui hasil panen tahun ini cukup menggembirakan.

“Harga satu kilogram cengkeh basah Rp30.000, lumayan tinggi,” akunya.

Read More

Karanganyar Surplus 100.000 Ton Beras

Kabupaten Karanganyar pada tahun 2012 surplus beras 100.000 ton.

Hal itu disampaikan  Kepala Dinas Tanaman Pangan, Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbuthut) Karanganganyar, Siti Maisyaroch, di ruang kerjanya, Senin (27/8/2012).

Siti mengatakan surplus beras ini cukup banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dia menambahkan, sistem pola tanam yang dilakukan petani Karanganyar dinilai cukup berhasil. “Kami saat ini penyangga ketahanan pangan di wilayah Kota Solo,” ujarnya.

Kecamatan penghasil terbanyak didominasi kecamatan yang mendapat pengairan cukup. “Tasikmadu, Mojogedang, dan Karanganyar merupakan kecamatan andalan kami,” ujarnya.

Read More

Kekeringan Landa Lahan Pertanian di 4 Kecamatan

Kekeringan melanda lahan pertanian di empat wilayah kecamatan di Karanganyar.

Hal tersebut seperti diungkapkan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbuthut) Karanganganyar, Siti Maisyaroch, Senin (27/8/2012).

Saat diwawancarai tentang wilayah  kekeringan. Siti mengatakan ada empat kecamatan di Kabupaten Karanganyar yang saat ini dalam kondisi kekeringan. “Jumantono, Jumapolo, Jatiyoso dan Jatipuro (4 J) karena struktur tanah disana memang sebagai lahan tadah hujan,” ujarnya.

Petani yang ingin mengajukan bantuan, kata dia, dianjurkan melalui proses prosedural. “Jadi lewat kelompok tani dan diajukan melalui proposal sehingga kami paham betul permasalahanya,” ujar dia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, (BMKG), kata Siti, hujan akan turun apada akhir Oktober mendatang. “Saya harapkan petani wilayah 4J  jangan menanam padi dahulu jika tidak ingin rugi,” ujarnya.

Sementara seorang petani  Desa Kwangsan, RT001/RW009, Jumapolo, Nardi saat ditemui  mengaku resah karena kesulitan mencari air untuk lahan pertaniannya selama musim kemarau tiba. “Kami sulit mencari air terpaksa kami nganggur  selama belum turun hujan,” ujarnya.

Dia menambahkan mulai  terjadi kekeringan dalam lima bulan terakhir. Dia berharap Dispertanbuthut Karanganyar memberikan solusi kepada petani sekitar untuk mengatasi kekeringan tersebut.  “Kami tidak bisa menanam tanaman apapun  karena pasti akan mati dan kami merugi,” tambahnya.

Read More

16 Desa Digelontor Dana PUAP

Pemkab Karanganyar hanya menyetujui 16 desa untuk mendapatkan dana Program Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) dari 96 desa yang diajukan oleh Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP4K) Karanganyar.
Kepala BP4K Karanganyar, Supramnaryo, mengatakan dana PUAP memang tidak mencukupi jika dialokasikan untuk 96 desa. Menurutnya, setiap tahun dana PUAP hanya diberikan kepada sekitar 15-20 desa. “Untuk kali ini desa-desa yang mendapatkan dana PUAP berada di Kecamatan Gondangrejo dan Karangpandan,” jelasnya, Minggu (12/8).
Supram menjelaskan, desa atau kelurahan tersebut akan mendapatkan alokasi dana PUAP sebesar Rp 100 juta dari total dana Rp 1,6 M. “Yang menerima dana tersebut tergolong daerah tertinggal, serta memiliki banyak jumlah penduduk miskin,” ungkapnya.
Dijelaskannya, penyaluran dana PUAP ditransfer ke rekening Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di setiap desa. Kemudian Gapoktan berperan sebagai pengelola dana tersebut yang kemudian dijadikan modal bergulir untuk usaha pertanian dana agribisnis.
“Teknisnya ada di kelompok Gapoktan masing-masing sesuai dengan kesepakatan, termasuk besarnya bunga pinjaman. Sedangkan Pemkab akan berperan sebagai pengawas agar tidak terjadi penyelewengan,” jelas Supram.
Sementara untuk pertanggungjawaban penggunaan dana, setiap Gapoktan diharuskan melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Hal ini agar dana tersebut tepat sasaran.
Supramnaryo menambahkan, bahwa cepat lambatnya pengembangan usaha bergantung pada pengelolaan dana di tiap kelompok.

Read More

BUAH MATESIH Mulai Banjiri Pasar Luar Jawa

Buah-buahan hasil pertanian di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar mulai membanjiri pasar luar Pulau Jawa. Buah Matesih tak kalah dengan buah dari daerah lain.

Camat Matesih Titik Umarni ketika dijumpai  akhir pekan lalu di Karanganyar, mengatakan buah-buahan hasil pertanian Matesih di antaranya Duku, Durian dan Manggis. Pemasaran buah-buahan tersebut sudah sampai ke Luar Pulau Jawa.

“Duku Matesih tidak kalah dengan Duku Palembang. Rasanya juga manis dan lebih keset dagingnya.”

Titik mengatakan untuk saat ini buah-buahan hasil pertanian Matesih sangat sedikit di pasaran. Mengingat masa panen seperti Duku, Manggis sudah terjadi pada Februari-Mei lalu. Dia menyebutkan satu kilogram (kg) duku bisa menembus Rp 22.000. Padahal pada musim panen buah duku biasa dijual Rp 10.000-Rp 11.000 per kg.  “Petani duku di Plosorejo dan Pablengan tidak panen. Jadi buahnya tidak banyak dijumpai di pasaran,” tuturnya.

Titik mengatakan terus mengembangkan buah-buahan hasil pertanian Matesih. Keberadaan buah Matesih bahkan kini mulai masuk ke pusat-pusat perbelanjaan seperti mal. Mereka bersaing dengan buah hasil pertanian dari daerah lain. Dari segi kualitas, Titik menjamin buah Matesih tidak kalah dengan yang lain. Dia optimistis buah-buahan Matesih bakal menjadi primadona dan dicari para konsumen.

Read More

WERENG Serang Tanaman Padi di Ngringo

Petani di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar mengeluhkan serangan hama wereng yang kian mengganas. Akibatnya petani mengalami gagal panen pada musim tanam kali ini.

Bayan Banaran, Desa Ngringo, Suharso menuturkan hama wereng menyerang tanaman padi miliknya seluas 6.000 meter persegi. Wereng menyerang tanaman padi sejak berusia satu bulan.

Wes ora panen tenan. Ini sudah keempat kali tidak panen karena diserang wereng,” keluhnya ketika dijumpai, Kamis (26/7/2012).

Dia mengaku berbagai upaya telah dilakukan untuk mengantisipasi serangan hama wereng. Namun tetap saja serangan wereng terus terjadi, bahkan semakin mengganas hingga menyebabkan tanaman padi miliknya mati. Kondisi ini menimbulkan kerugian cukup besar. “Kalau panen bisa dapat Rp15 juta. Tapi ini tidak panen. Padahal untuk biaya garapan habisnya Rp5 juta. Kami hanya berharap ada bantuan obat,” katanya.

Dia mengatakan hampir sebagian besar tanaman padi di Ngringo diserang hama wereng. Serangan wereng terjadi sangat cepat. Dalam sehari tanaman padi bisa langsung mati. Dia mengaku selama ini mengalami kesulitan untuk memutus mata rantai wereng. “Disemprot sampai tenaganya habis ya tetap saja tidak mati,” katanya.

Senada petani lain, Warso yang mengatakan panen kali ini turun hingga 30 persen lantaran sebagian tanaman padinya diserang hama wereng. Beruntung, dia menturkan serangan hama wereng tidak menyerang seluruh lahan pertanian miliknya. “Lumayan masih bisa panen meski turun. Sekarang sudah mulai tanam lagi,” katanya.

Selain wereng, dia mengatakan juga mulai mewaspadai serangan hama keong emas memasuki musim tanam (MT) II. Biasanya hama keong emas menyerang tanaman padi berusian dua pekan.

Read More

Blewah, Melon, dan Semangka, Primadona saat Ramadan

Bulan Ramadan membawa keuntungan tersendiri bagi para  penjual buah di kompleks pasar buah di Jaten dan Pasar Palur. Tiga jenis buah yaitu blewah, semangka, dan melon paling banyak dicari konsumen sehingga harganya mengalami kenaikan.
Salah satu pedagang buah di Jaten, Wiyono, mengatakan ketiga jenis buah itu saat Ramadan ini mengalami kenaikan Rp 1.000 hingga Rp 4.000 per kilogram. “Saat ini harga semangka mencapai Rp 7.000 per kilogram, padahal sebelumnya hanya sekitar Rp 3.000 per kilogram,” katanya, Senin (23/7).
Sedangkan untuk melon menjadi Rp 9.000 per kilogram, yang sebelumnya Rp 7.500 per kilogram. Untuk blewah, mengalami kenaikan Rp 1.000 per kilogram, dari awalnya Rp 3.000 menjadi Rp 4.000 per kilogram. “Kenaikan harga tersebut sudah dari petani. Dan saya sebagai penjual hanya mengikuti saja agar tidak rugi,” ungkap Wiyono.
Wiyono mengaku, mendatangkan buah-buah tersebut dari daerah Ngawi, Jawa Timur karena kualitasnya lebih baik dibanding dari petani lokal. Terkadang juga buah dari Wonogiri, Klaten, dan Sukoharjo juga ditampung jika memang kualitasnya baik.
Setiap bulan Ramadan seperti sekarang, Wiyono mengaku, memiliki stok buah blewah, semangka, dan melon lebih banyak jika dibanding lainnya. Hal itu sebagai antisipasi karena memang ketiga buah itu banyak dicari konsumen. “Pada puasa hari kedua kemarin saja, buah-buah tersebut laku lebih dari 50 butir. Kebanyakan yang beli juga para pedagang es buah untuk berbuka puasa,” katanya.
Salah satu pedagang buah di Pasar Palur, Sarni, mengatakan di antara ketiga buah yang menjadi primadona di bulan Ramadan, blewah paling banyak dicari konsumen. “Blewah paling diminati karena stoknya melimpah dan harganya cukup terjangkau,” katanya.

Read More

PRODUKSI PADI di Desa Jati Meningkat

Produksi padi di Desa Jati, Kecamatan Jaten, Karanganyar mengalami peningkatan hingga 2 ton/hektare dibanding tahun lalu. Produksi padi tahun 2012 mencapai 10, 2 ton/hektare sementara produksi padi tahun 2011 sekitar 8 ton/hektare.

Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja dengan panen raya di Desa Jati, Kecamatan Jaten, Kamis (19/7/2012). Rombongan Komisi IV DPR RI melakukan panen raya di lahan pertanian gabungan kelompok tani (gapoktan) Makaryo Tani sekitar 50 hektare. Anggota Komisi IV DPR RI didampingi Bupati Karanganyar, Rina Iriani SR dan jajarannya.

Ketua Komisi IV DPR RI,  Romahurmuzy, mengatakan kunjungan tersebut merupakan kegiatan reses yang dilakukan komisinya untuk menyerap aspirasi terutama para petani. Semestinya, para petani di daerah lainnya dapat meniru pola pengolahan lahan persawahan sehingga produksi padinya meningkat. “Kalau bisa produksi padi di setiap lahan pertanian meningkat seperti di Desa Jati,” ujarnya saat ditemui, Kamis.

Sementara Direktur Utaman PT Pertani, Dwi Antono, menjelaskan pihaknya memberikan bantuan benih padi dan modal tanpa bunga pada  para petani di Desa Jati.  Dia menjelaskan pihaknya mendorong agar para petani melaksanakan program peningkatan produksi pertanian dengan mengucurkan bantuan berupa benih dan sarana yang dibutuhkan.

Read More

Melon King dan Mutiara Jajaki Pasar Ekspor

Petani Karanganyar kembali memanen buah melon dengan dua varietas yaitu King dan Mutiara. Dua jenis melon kualitas super itu sudah menembus pasar ekspor seperti Jepang dan Singapura.
Bupati Karanganyar, Rina Iriani, saat turut serta memanen melon tersebut di Sub Terminal Agribisnis (STA) Karangpandan, mengatakan permintaan melon untuk Singapura misalnya, cukup tinggi yaitu 20 ton per tiga minggu. “Untuk jumlah melon sebanyak itu, kami harus mengumpulkan dulu dari para petani,” ujar Rina, Rabu (18/7).
Tak hanya melon yang sudah diekspor, dua bibit melon super tersebut juga diekspor ke negara Jepang. Bibit-bibit melon tersebut asli dari petani Karanganyar. “Asli asal Karanganyar,” kata Rina.
Sementara itu, pemilik Multi Global Agrindo (MGA), Mulyono Herlambang, mengatakan melakukan penelitian bibit di lahan seluas 1,4 hektare untuk mendapatkan bibit unggul. Sedangkan untuk lahan produksi, ia menyiapkan 10 hektare.
Dalam pemasarannya, Mulyono mengaku mendapat saingan berat yaitu Malaysia. Jarak yang cuku jauh antara Karanganyar dengan Singapura menjadikan ongkos produksi menjadi tinggi dibandingkan dengan Malaysia.
Diungkapkan Mulyono, untuk mengekspor buah dan benih tersebut butuh kerja sama dengan para petani di Karanganyar. “Kita juga sudah sebar bibit-bibit unggul buah tersebut kepada petani di Karanganyar,” katanya.
Selain melon, Mulyono juga memasarkan benih terong, pare, dan timun. Selain Jepang dan Singapura negara tujuan ekspor lainnya yang kini menjadi bidikan adalah Uzbekistan.

Read More