Category: Pertanian

CURAH HUJAN TINGGI: Tanaman Bawang Merah Lawu Terancam Gagal Panen

Tanaman bawang merah milik petani di Desa Gondosuli, Tawangmangu, Karanganyar, terancam gagal dipanen menyusul tingginya curah hujan akhir-akhir ini.

Saat ini kondisi tanaman bawang merah petani mulai rusak karena kondisi tanah yang terlalu basah. Kondisi itu diakui Kepala Desa Gondosuli, Pangat, saat ditemui, Senin (10/12/2012).

“Karena banyak kabut dan curah hujan yang tinggi, saat ini daun-daun tanaman brambang di wilayah kami sudah menguning dan mati,” ungkapnya.

Pangat meyakini, bila hujan terus menguyur beberapa hari ke depan, tanaman brambang petani di Gondosuli bakal rusak sehingga sama sekali tidak bisa dikomersialkan mulai dari daun, buah hingga bunga tanaman bawang merah.

Umur tanaman bawang merah di Gondosuli bervariasi, ada yang baru saja ditanam ada juga yang sudah berumur belasan dan puluhan hari. Tanaman bawang merah merupakan salah satu tanaman primadona petani di Gondosuli.

“Sekitar separuh petani di desa saya menanam bawang merah, jumlahnya ada 200-an petani,” imbuhnya.

Read More

Gapoktan Ikuti Asah Terampil

Karanganyar, Sabtu (17/11/2012)

Lima regu petani bertanding di ajang Asah Terampil di Sub Terminal Agrobisnis (STA) Watu Sambang, Tawangmangu, Sabtu (17/11). Lomba tersebut merupakan satu dari serangkaian acara guna menyambut Hari Jadi   Karanganyar  ke-95.

Tim yang terdiri dari tiga orang per kelompok itu berasal dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) se-Kabupaten Karanganyar. Adapun Gapoktan yang terpilih mewakili daerahnya antara lain Lestari Makmur Desa Bakalan Jumapolo, Noto Joyo Desa Matesih Kecamatan Matesih, Marsudi Makmur Desa Gaum Tasikmadu. Selain itu, Gapoktan Marsudi Karyo Bolon Colomadu dan Ngudi Makmur Sumberrejo Kerjo juga  tercatat sebagai  peserta   lomba tersebut.

Kepala BP4K (Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan) Karanganyar, Supramnaryo mengatakan, kegiatan yang menampilkan pengetahuan dan ketrampilan petani itu digelar untuk memacu pertumbuhan dan kinerja Gapoktan. Tujuan akhirnya yakni meningkatkan kualitas organisasi dalam Gapoktan bersangkutan. Pasalnya, Gapoktan menjadi wadah bagi petani untuk mengeksplorasi kemampuannya dalam menanam dan mengolah hasil pertaniannya, termasuk membuat terobosan dalam bidang tersebut. “Hal ini diharapkan dapat meningkatkan program-program pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani serta meningkatkan daya saing dengan daerah lain,” kata dia di sela-sela acara.

Uniknya, tidak seperti lomba-lomba pada umumnya, asah trampil ini memberikan warna tersendiri. Perbedaan yang sangat mencolok terlihat dari busana yang dipakai oleh peserta dan panitia. Semuanya terlihat mengenakan busana khas Jawa, yakni beskap dan kebaya. Kendati demikian, semangat terlihat jelas di wajah para peserta. Hal itu ditunjukkan dari cara mereka menjawab pertanyaan dari para juri. Tidak berhenti di situ saja, bel yang biasanya dipakai dalam sebuah perlombaan juga diganti dengan dengan kentongan. Otomatis, saat babak rebutan suara kentongan antartim saling berkejaran.

Bupati Karanganyar, Rina Iriani SR yang juga hadir dalam perlombaan tersebut memberikan apresiasi kepada semua peserta. Baginya, ajang itu bukan sebatas perlombaan yang mencari pemenang. Melainkan menantang sejumlah Gapoktan untuk menerapkan ilmu dan ketrampilannya di lapangan. Dengan begitu, bidang pertanian bisa dinamis dan melahirkan inovasi-inovasi. “Kami berharap apa yang mereka miliki, yakni teori-teori, bisa diseimbangkan dengan penerapannya di lapangan,” ujar Rina di hadapan para peserta dan juri.

Sebagai pemenang lomba yaitu Juara 1 Ngudi Makmur Sumberrejo Kerjo, juara 2 Marsudi Makmur Desa Gaum Tasikmadu, sedangkan juara 3 Noto Joyo Desa Matesih Kecamatan Matesih.

.pd

Read More

Karanganyar Segera Bangun Gudang Cadangan Pangan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar segera membangun gudang cadangan pangan kabupaten di Kelurahan Bejen.

Anggaran pembangunan menggunakan dana alokasi khusus (DAK) 2012 senilai Rp544.873.000. Penjelasan itu disampaikan Kepala Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Karanganyar, Liliyani.

Menurut dia lahan yang akan digunakan untuk lokasi gudang adalah aset Pemkab Karanganyar. KKP telah mengajukan permohonan penggunaan lahan kepada Bupati Karanganyar, Rina Iriani SR.

“Permohonan resmi penggunaan aset lahan sudah kami sampaikan kepada bupati. Rencananya Rabu (24/10/2012) besok proses pembangunan akan masuk ULP [unit layanan pengadaan-layanan pengadaan secara slektronik],” katanya, saat ditemui Senin (22/10/2012), di kantornya.

Luas lahan yang diminta untuk pembangunan gudang sekitar 1.000 meter persegi. Namun dari luasan tersebut, lahan yang digunakan untuk gudang sekitar 20 meter x 15 meter dan halaman 10 meter x 12 meter. Secara bertahap, sisa lahan akan dimanfaatkan untuk lantai jemur. “Selama ini lahan aset Pemkab ini berupa lahan pertanian produktif,” imbuhnya.

Liliyani menjelaskan gudang cadangan pangan penting untuk menjamin ketersediaan pangan masyarakat Bumi Intanpari. Utamanya bila terjadi bencana, cuaca buruk, gagal panen dan kekeringan. Hanya saja untuk mekanisme detailnya, dia melanjutkan, sedang dalam perumusan lebih lanjut.  “Yang jelas nantinya akan dibentuk kelembagaan sebagai pengelola gudang. Pengelola ini di bawah kendali KKP,” terangnya.

Menurut Liliyani, akan ada pelatihan lebih detail oleh pemerintah pusat mengenai pemanfaatan gudang cadangan pangan. Sementara Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Karanganyar, Nunung Susanto, meminta proses pembangunan gudang cadangan pangan dikebut. Sebab waktu efektif pembangunan gudang sudah sangat mepet, sekitar dua bulan.

“Bila benar DAK-nya tahun ini, ya harus cepat dibangun dan selesaikan. Waktunya mepet sekali. Pengelola juga harus punya rencana pemanfaatan,” tegas dia.

Read More

Antisipasi Kekeringan, Pemkab Bakal Bangun 2 Waduk

Pemkab Karanganyar segera membangun dua waduk untuk mengatasai kekeringan di sejumlah wilayah. Kedua waduk itu akan dibangun pada pertengahan 2013 dan 2014.

Dua waduk itu adalah yakni Waduk Jlantah di Kecamatan Jatiyoso dan Waduk Gondang di Kecamatan Kerjo. Pembangunan Waduk Gondang diperkirakan dimulai pertengahan 2013. Waduk ini mampu mencukupi kebutuhan air bagi 4.630 hektare lahan pertanian di sekitar Kecamatan Kerjo. Sementara Waduk Jlantah yang bakal dibangun mulai 2014 bakal mencukupi kebutuhan air sekitar 387 hektare lahan pertanian di Karanganyar dan sebagian Wonogiri. Detail Engineering Design (DED) tengah direvisi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Karanganyar, Priharyanto, mengatakan DED pembangunan Waduk Jlantah telah selesai dibuat Bappeda Karanganyar pada 2011 lalu. Selanjutnya, desain awal Waduk Jlantah disempurnakan tim teknis dari BBWSBS. “Anggarannya belum bisa dipastikan, seluruhnya berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum karena APBD Pemkab Karanganyar tak mampu membiayai,” katanya.

Waduk Jlantah bakal memasok air ke lahan pertanian di beberapa wilayah seperti Jatiyoso, Jumapolo, Jatipuro, Jumantono dan sebagian wilayah Wonogiri. Lahan pertanian di wilayah tersebut dipastikan kering saat musim kemarau. Dengan dibangunnya waduk maka para petani tetap bisa bercocok tanam selama musim kemarau. Pihaknya berkoordinasi dengan BBWSBS juga sedang menyurvei ke lokasi pembangunan Waduk Jlantah untuk mengukur kedalaman waduk.

Berdasarkan DED, air Waduk Jlantah juga bakal dimanfaatkan untuk memasok air bersih ke permukiman penduduk. Kapasitas air bersih di waduk tersebut 150 liter/detik. “Kemungkinan nanti yang mengelola Perum Jasa Tirta, namun kami belum tahu apakah PDAM Karanganyar mau membeli air bersih tersebut atau tidak,” paparnya.

Seorang petani asal Jumantono, Kayitno, meminta agar pembangunan Waduk Jlantah dipercepat. Pasalnya, pengolahan lahan pertanian di wilayahnya terkendala pasokan air dari irigasi yang cukup minim. Saat musim kemarau, para petani membiarkan sawah mereka tidak ditanami karena tidak adanya pasokan air. Mereka baru mulai bercocok tanam kembali ketika musim penghujan. “Karakter tanah di sini berbeda dengan wilayah lainnya yang selalu kering saat musim kemarau. Tidak sedikit para petani yang beralih profesi sebagai pembuat bata atau pedagang selama musim kemarau,” tambahnya.

Read More

Dilanda Kekeringan, Petani Pusokan Padinya

Para petani di daerah Popongan, Karanganyar Kota terpaksa memusokan tanaman padinya lantaran tidak mendapat pasokan air yang mencukupi. Rata-rata umur padi yang dipusokan tersebut baru dua bulan dengan kondisi sudah mengering.
Salah seorang petani asal Dusun Arjosari, Popongan, Karanganyar Kota, Sunardi (55), mengatakan para petani di daerahnya tidak bisa berbuat banyak dan terpaksa memotong tanaman padinya untuk dijadikan makanan ternak. “Karena sudah mengering ya dipotong saja untuk pakan ternak. Ya lebih bermanfaat daripada didiamkan,” ujarnya, Rabu (10/10).
Saat dibabat, tanaman padi milik Sunardi tampak kuning kecokelatan karena kekeringan. Bersama dengan beberapa petani lainnya, ia sebenarnya mengaku sedih dengan pilihan tersebut. “Saya sedih, namun ini risiko menanam padi di musim kemarau. Kami kira masih dapat pasokan air dari irigasi. Ternyata hanya saat awal menanam saja (dapat pasokan air). Mau pakai disel juga tidak ada,” ujarnya.
Pernyataan serupa juga dilontarkan Pawiro (60), petani asal daerah setempat. Ia mengaku bahwa sekitar 50 persen lahan dari total 100 hektare lahan yang ditanami padi tidak bisa dipanen. Sedangkan sisanya yang bisa dipanen itu pun kualitasnya tidak begitu baik. “Biasanya saat air cukup hasil padi pasti melimpah dengan kualitas yang sangat bagus. Karena ini musim kemarau, ya ini risikonya,” ungkap Pawiro.
Terkait kerugian yang dialami, Pawiro mengaku, bisa mencapai Rp 6 juta di setiap hektarenya. Nilai tersebut baru ongkos produksi, belum lagi ongkos tenaga kerja dan ongkos di luar produksi lainnya. “Kalau padi tersebut panen, kami bisa menghasilkan Rp 18 juta per hektare. Itu minimal, bahkan kadang bisa lebih,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengakui adanya lahan padi yang dipusokan dalam musim tanam kedua ini. Namun pihaknya masih akan melakukan pengecekan ke lapangan terkait luas lahan padi yang dipusokan. “Kami masih mengecek di lapangan, biasanya laporan tengah bulan sudah ada datanya. Itu wajar karena saat ini baru akan menginjak musim hujan,” ujarnya.
Menurutnya, kejadian banyaknya padi yang dipusokan karena kekeringan tersebut akan dilaporkan ke Kementerian Pertanian. Sehingga diharapkan para petani mendapatkan bantuan benih untuk musim tanam ketiga kelak. “Tapi kami hanya mengusulkan, itu terserah pusat,” ujarnya.

Read More

200 Hektare Sawah di Desa Bangsri Terancam Gagal Panen

Hama tikus kembali menyerang lahan pertanian di Desa Bangsri, Kecamatan Karangpandan. Akibatnya, sekitar 200 hektare lahan sawah di desa tersebut terancam gagal panen di musim tanam kedua tahun ini.
Ketua Gabungan Petani Pengguna Air (GP2A) Desa Bangsri, Priyono, mengatakan diprediksi hanya tinggal 40 persen lahan pertanian yang bisa dipanen pada musim tanam kedua ini. “Selain tikus, kendala lainnya yaitu sulitnya pengairan. Air yang diandalkan hanya dari Jumog, dan itu pun minim sekali,” ujarnya usai mengikuti acara gropyokan tikus dengan Bupati Karanganyar Rina Iriani, Kodim 0727 Karanganyar, dan Polsek Karangpandan, Kamis (4/10).
Ketua Paguyuban Kelompok Tani Desa Bangsri, Sularno, menambahkan bahwa Pemkab harus segera memperbaiki Dam Bulan, yang merupakan sumber pengairan sawah di Desa Bangsri, karena sudah rusak.
“Sudah sekitar satu tahun ini, Dam Bulan untuk pengairan sawah telah rusak dan tidak bisa digunakan. Petani hanya mengandalkan jatah air yang berasal dari saluran irigasi utama seminggu sekali, sehingga tidak cukup,” keluh Sularno.
Kepala Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (BP4K) Karanganyar, Supramnaryo, mengungkapkan hama tikus merusak tanaman padi dengan menggigit batangnya. Batang padi tersebut tidaklah dimakan oleh hama tikus, melainkan untuk mencegah tumbuhnya taring pada tikus. “Biji padi yang dimakan tikus sebenarnya jumlahnya sedikit,” ujarnya.
Meskipun demikian, Supramnaryo, mengungkapkan pemberantasan hama tikus harus secepatnya dilakukan. Sebab perkembangbiakan hama tikus sangat cepat. “Satu ekor tikus betina bisa berkembang biak hingga 540 ekor. Jadi harus segera diberantas,” jelasnya.
Bupati Karanganyar, Rina Iriani, meminta kepada para petani untuk juga pro aktif untuk membasmi hama tikus. Menurutnya, petani harus bisa berinovasi dalam menanam saat musim kemarau tiba. “Kalau saat musim kemarau ada hama tikus yang suka makan padi, lebih baik tanam yang lain seperti kacang dan kedelai,” imbaunya.
Rina juga berjanji segera melakukan perbaikan pada Dam Bulan yang mengalami kerusakan. “Nanti akan segera dicek oleh DPU dan diperbaiki. Ini agar pengairan untuk sawah bisa kembali lancar,” janjinya.

Read More

Hama Tikus Serang 10 Hektare Lahan Padi

Hama tikus serang 10 hektare lahan pertanian padi yang hampir panen merata di seluruh wilayah Karanganyar. Sementara amukan hama tikus paling parah terjadi di Kecamatan Jaten dan Kebakkramat.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengatakan hama tikus paling banyak menyerang dua kecamatan itu di musim kemarau ini paling luas lahan tanaman padinya dibanding daerah lain. Apalagi, di kedua kecamatan tersebut kebutuhan air untuk irigasi mudah didapat karena adanya aliran Dam Colo. “Kalau wilayah lainnya kebanyakan menggunakan pompa air saat musim kemarau,” ujar Siti, Senin (1/10).

Menurutnya, 10 hektare lahan padi yang diserang tikus tersebut hampir mencapai separuh dari total lahan yang ditanami padi di musim kemarau ini. “Pada musim tanam kedua ini yang juga musim kemarau, hanya petani yang daerahnya ada sumber irigasi yang menanam padi, seperti Jaten, Kebakkramat, Tasikmadu, Mojogedang, dan Karangpandan,” tambah Siti.

Sementara itu, beberapa wilayah yang sumber airnya tidak bagus dan mengandalkan tadah hujan tidak menanam padi, seperti di wilayah Jumantono, Jumapolo, Jatipuro, dan Jatiyoso. Hama tikus yang muncul tersebut lantaran lahan yang digunakan untuk menanam padi jumlahnya sedikit.

Sebagai antisipasi meluasnya hama tikus tersebut, rencananya Dispertanbunhut akan menggelar gropyokan tikus massal pada Kamis (4/10) di area sawah di wilayah Karangpandan. Kegiatan tersebut rencananya akan melibatkan unsur TNI dan Muspida. “Rencananya gropyokan tersebut akan dipimpin oleh Bupati Karanganyar Rina Iriani dan Dandim 0727 Karanganyar Letkol (Inf) Eddy Basuki,” kata Siti.

Read More

Musim Panen Padi di Jaten Diperkirakan Molor

Musim panen padi di Kecamatan Jaten , Karanganyar diperkirakan molor akibat pasokan air ke lahan pertanian tersendat. Para petani kemungkinan baru memanen padi pada akhir November.

Seorang petani di Desa Jati, Kecamatan Jaten, Rakiman, 50, mengatakan biasanya para petani memanen padi pada pertengahan Oktober. Karena pasokan air tersendat maka diperkirakan masa panen padi molor hingga akhir November. “Mungkin masa panen padi akhir November atau awal Desember karena pasokan air berkurang,”  katanya saat ditemui, Kamis (20/9/2012).

Pasokan air ke lahan pertanian kurang lancar selama musim kemarau. Selama ini, para petani mengandalkan mesin pompa air untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian. “Permasalahannya hanya pasokan air, kalau tanaman padinya cukup kuat walaupun musim kemarau. Makanya petani menggunakan mesin pompa air untuk mengairi sawah.

Anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Makmur tersebut menuturkan mesin pompa air berjumlah enam unit. Mesin itu digunakan untuk mengairi lahan pertanian seluas 50 hektare. “Ya bergantian, mau bagaimana lagi mesin pompanya hanya enam unit. Yang penting ada pasokan air walaupun sedikit,” jelasnya.

Dia meminta agar instansi terkait memberikan bantuan mesin pompa air untuk mengairi lahan pertanian. Pasalnya, mesin tersebut sangat membantu para petani selama musim kemarau.

Sementara Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengungkapkan pihaknya meminta agar para petani tidak menanam tanaman padi selama musim kemarau. Para petani diminta menanam tanaman palawija seperti jagung.

Pihaknya bakal memberikan bantuan mesin pompa air kepada petani secara bergilir. Sebab, jumlah mesin pompa air cukup terbatas. “Kami sudah mewanti-wanti para petani agar menanam tanaman palawija. Kalau memang minta bantuan mesin pompa air akan kami sediakan namun bergilir karena jumlahnya terbatas,” tambahnya.

Read More

Waduk Lalung Mengering, 30 Hektare Padi Terancam Gagal Panen

Musim kemarau yang saat ini melanda membuat air Waduk Lalung, Karanganyar Kota mengering. Kedalaman air pun hanya tinggal 1 meter, sehingga mengancam lahan pertanian sedikitnya 30 hektare di sekitar waduk.
Kasie Trantib Kelurahan Lalung, Slamet Riyadi, mengatakan para petani sekitar waduk memang menggantungkan irigasi dari Waduk Lalung. Sehingga jika waduk mengering, praktis ancaman gagal panen menanti.
“Waduk mulai mengering sejak Juni lalu. Proses mengeringnya pun sangat drastis. Pada kondisi normal waduk bisa menampung air hingga 5 juta meter kubik. Sekarang airnya hanya tinggal sedikit, di tengah saja,” ujarnya, Rabu (5/9).
Lahan pertanian yang paling bergantung dengan Waduk Lalung adalah di sisi utara waduk. Saat normal air waduk dialirkan melalui bendungan dan sungai hingga sampai ke area sawah terjauh di sisi utara.
“Menyusutnya volume air waduk ini jelas berpengaruh dengan lahan pertanian. Dan saat ini baru memasuki 45 hari masa tanam, yang seharusnya selama 90 hari,” ujar Slamet.
Slamet menjelaskan, kondisi mengeringnya waduk kemungkinan akan berlangsung hingga akhir September nanti. Dirinya pun berharap musim penghujan segera datang agar pertanian tidak terganggu. “Usia masa tanam saat ini sebenarnya pada posisi tanaman padi sangat membutuhkan air. Kalau nanti sampai akhir September ini tak ada hujan, dipastikan waduk akan semakin mengering,” tambahnya.
Sementara, saat ini di pinggiran waduk yang mengalami kekeringan banyak ditumbuhi ilalang dan terlihat hamparan bebatuan. Warga di sekitar waduk pun menggali bebatuan itu selanjutnya dijual. “Biasanya batu-batu itu dipecah menggunakan palu, kemudian dijual,” ujar Slamet.

Read More

Panen Raya Bawang, Petani Resah Harga Anjlok

Tingginya impor bawang yang dilakukan pemerintah membuat petani bawang di Dusun Pancot, Kelurahan Kalisoro, Tawangmangu resah. Mereka khawatir produk pertanian mereka kalah bersaing di pasaran.

Ketua Kelompok Tani Maju Kelurahan Kalisoro, Bejo Supriyanto, menuturkan membanjirnya bawang impor membuat harga bawang lokal anjlok. Itu seperti yang terjadi pada kurun tahun 2007-2009. “Saat itu harga bawang putih di pasaran anjlok hingga Rp 3.000 per kilogram. Sehingga banyak petani tidak mau menanam bawang lagi. Dari 250 petani, hanya 5 persen yang mau kembali menanam bawang,” ujar Bejo saat panen raya bawang putih di Pancot, Kalisoro, Tawangangu, Selasa (4/9).

Namun rasa kepercayaan petani untuk menanam bawang muncul lagi sejak tiga tahun terakhir. Hasilnya pun diakui Bejo cukup memuaskan dan mampu bersaing dengan bawang impor.
“Panen raya kali ini saja kita bisa memanen sekitar 25,5 ton bawang per hektare. Untuk wilayah penanaman bawang di daerah Tawangmangu ada sekitar 20 hektare. Sebanyak 8 hektare mendapatkan bantuan dari pemerintah, sedangkan sisanya merupakan swadana dari masyarakat,” ujar Bejo.

Dirjen Budidaya dan Pascapanen Tanaman Sayur dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Yul Hary Bahar, yang turut hadir pada panen raya kemarin, menuturkan saat ini pihaknya tengah berupaya membendung masuknya produk hortikultura impor. Nantinya pemerintah akan membatasi dominasi produk impor yang masuk ke Indonesia.

Tempat pengiriman produk impor juga akan dibatasi hanya berada di empat daerah saja. Yakni, di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Pelabuhan Belawan Sumatra Utara, dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. “Peraturan ini akan berlaku mulai 28 September mendatang. Selain membantu petani pascapanen kami juga akan memprogramkan seputar budidaya,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Rina Iriani, meminta para petani harus semangat untuk menghasilkan panenan terbaik. Menurutnya, panen yang baik harus mendapatkan imbalan yang setimpal. “Kalau harga bawang varietas Tawangmangu yang bagus ini rendah di pasaran, saya akan carikan eksportir untuk dijual di luar negeri. Pertama negara-negara yang dekat dulu seperti di Malaysia dan Singapura,” ujar Rina.

Read More