Category: Lingkungan Hidup

Cegah Kebakaran, Pendakian Lawu Ditutup Sementara

Aktivitas pendakian Gunung Lawu sementara ini ditutup untuk umum. Hal itu menyusul maraknya peristiwa kebakaran hutan selama musim kemarau ini.
Camat Tawangmangu, Yopy Eko Jati Wibowo, mengatakan aktivitas pendakian Lawu ditutup sudah berlangsung selama seminggu terakhir. Penutupan itu merupakan instruksi langsung dari pihak Perhutani Jawa Tengah.
“Pada musim kemarau ini cuaca sangat terik dan angin yang berembus juga lumayan kencang. Sehingga sedikit saja ada nyala api, mudah menjadi besar. Pertimbangan inilah yang dijadikan alasan,” jelas Yopy, Minggu (2/9).
Walaupun pelarangan pendakian sementara tersebut sudah diberlakukan, Yopy  mengaku masih ada saja pendaki yang membandel tetap naik ke puncak Lawu. Para pendaki itu biasanya melewati jalur tak resmi. “Kalau pendaki yang nekat melalui jalur resmi pendakian seperti Cemoro Kandang, tentunya akan kami minta untuk kembali dan menghentikan pendakian,” ujarnya.
Selama musim kemarau berlangsung, kawasan puncak Gunung Lawu, sering sekali terjadi insiden kebakaran. Puncak dari insiden kebakaran hutan terjadi pada bulan Ramadan kemarin, yang terjadi di areal hutan lindung petak 53, yang berjarak sekitar 300 meter dari pos 1 Cemoro Kandang.
Di area yang berbatasan dengan wilayah Magetan, Jawa Timur tersebut, sekitar 5 hektare di atas Kawah Candradimuka terbakar hingga di area Kali Mati. Yopy sendiri mengaku belum bisa memastikan sampai kapan pendakian Lawu akan ditutup. “Setidaknya hingga musim kemarau berakhir dan kondisi sudah memungkinkan untuk dilakukan pendakian,” ungkapnya. n Muhammad Ikhsan

Read More
lawu terbakar

Cegah Insiden Berulang, Tim Pemantau Disiagakan

lawu

Sebanyak 10 anggota organisasi pecinta lingkungan Anak Gunung Lawu (AGL) disiagakan di lokasi pascakebakaran hutan lindung Gunung Lawu tepatnya di sekitar pos 2 jalur pendakian Cemara Kandang. Mereka bertugas menyisir dan memantau apabila masih ada sisa-sisa kebakaran dapat menimbulkan titik api baru.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru K, mengungkapkan kebakaran hutan di sekitar Jurang Pangarip-Arip dinyatakan padam pada Senin (13/8/2012) sekitar pukul 23.00 WIB. Sebelumnya, tim gabungan yang terdiri dari anggota BPBD Karanganyar, SAR Karanganyar, AGL, Perum Perhutani Solo melakukan penyisiran di lokasi kebakaran. “Sekarang masih ada 10 anggota AGL yang ditugaskan memantau perkembangan pasca kebakaran hutan lindung,”.

Penyisiran dilakukan untuk menemukan sisa api kebakaran yang dapat menimbulkan kobaran api baru. Setelah dinyatakan padam maka seluruh anggota tim gabungan turun gunung. Sebenarnya, pihaknya mengkhawatirkan apabila kebakaran hutan itu merembet hingga pos 1. Sebab terdapat pohon pinus yang mudah terbakar.

Pihaknya belum dapat memastikan penyebab kebakaran hutan tersebut. Menurutnya, ada beberapa penyebab kebakaran tersebut yakni puntung rokok, sisa perapian yang dibuat pendaki gunung dan arang yang dibuat warga sekitar. Saat ini, jalur pendakian Cemara Kandang dibuka kembali untuk umum. “Kami masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut, apakah karena puntung rokok, sisa perapian atau lainnya,” katanya.

Sementara anggota Perum Perhutani Solo, Farhan, menjelaskan beberapa anggota Perum Perhutani Jawa Timur turut memadamkan kebakaran di lereng Gunung Lawu tersebut. Pihaknya tetap akan berkoordinasi dengan instansi terkait agar kejadian tersebut tak terulang lagi.

Menurutnya, kondisi medan di sekitar lokasi kebakaran cukup terjal sehingga menyulitkan tim gabungan saat memadamkan kebakaran. “Sekarang sudah padam, para anggota tim gabungan juga sudah turun dari gunung,” tambahnya.

Read More

Hutan Lindung Gunung Lawu Terbakar

Kawasan hutan lindung Gunung Lawu terbakar, Senin (13/8/2012) dinihari. Informasi yang dihimpun  kebakaran terjadi di Hutan Lindung Dusun Dlingo, Desa Gondosuli, Tawangmangu, pada ketinggian 2780 meter diatas permukaan laut .

Dari pantauan  berita ini ditulis, kebakaran sudah merambat seluas lima hektare di beberapa titik.  Kepala BPBD Karanganyar, Aji Pratama Heru Kristianto saat ditemui Solopos.com mengatakan hutan lindung yang terbakar  berlokasi diantara Pos II dengan pos bayangan. “Warga sekitar menyebut Jurang Pangarip-arip,” ujarnya.

Dia menambahkan, waktu tempuh lokasi kebakaran dari Cemara Kandang  masih sekitar tiga jam pendakian. “Jarak satu kilometer saja asap sudah sangat tebal sehingga harus memakai masker,” ujarnya.

Saat ini, pemadaman dilakukan secara manual karena mobil pemadam tidak bisa naik ke atas. “Kami gebyoki api   dengan dedaunan dan membuat penyekatan agar api tidak meluas,” ujarnya.

Relawan gabungan, kata dia, saat ini berjumlah 100 orang dari berbagai lembaga. “Seperti BPBD Karanganyar, tim search anda rescue (SAR), Anak Gunung Lawu (AGL),Perhutani dan warga setempat,”ujarnya.

Penyebab kebakaran, kata Heru, saat ini belum bisa diketahui karena api belum padam dan tidak ada saksi-saksi yang jelas. Dia mengkhawatirkan jika api merambat ke bawah karena banyak tanaman kering di bawah lokasi kebakaran. “Bisa saja jika kebawah merambat sampai Pos Cemara Kandang,” ujarnya.

Musim kemarau saat ini, kata  Heru, angin cukup besar dan api lebih cepat merambat ke beberapa titik. “Setiap tahun terjadi kebakaran di Gunung Lawu,” ujarnya. Dari data BPBD, kebakaran hutan lindung kali ini lebih besar dari tahun sebelumnya.

Kerugian, kata Heru, belum bisa memastikan karena kebakaran sampai berita diturunkan masih berlangsung. Dia berharap warga maupun pendaki selalu waspada dan mentaati etika jika di gunung. “Apapun kelalaian kita bisa saja berdampak  kebakaran seperti ini,” ujarnya.

Seorang warga yang enggan disebut namanya, mengatakan kebakaran dimulai antara pukul 23.30 WIB pada Minggu,(12/8/2012). Namun, relawan datang sekitar pukul 01.00 WIB dinihari.

Read More

GUNUNG LAWU: Kebakaran Landa Lereng Timur Lawu, Karanganyar Waspada

Kebakaran yang melanda hutan di bagian timur Gunung Lawu masih terlihat di wilayah Nglerak Petak I, dan Jogorogo Ngawi, Jatim. Kobaran api sempat mengarah ke kawasan hutan yang berada di wilayah Karanganyar, Senin (23/7/2012) lalu.

Anggota Karanganyar Rescue, Maryono, mengatakan titik api masih tampak di sekitar kawasan Nglerak petak I di wilayah Ngawi, Jatim. Sementara titik api lainnya yang berada di sekitar Bulak Peperangan dan Telogo Dlingo sudah padam.

“Kami masih memantau pergerakan titik api, sementara masih terlihat di kawasan Nglerak Petak I wilayah Ngawi, Jatim, “ ujarnya saat dihubungi, Selasa (24/7/2012).

Menurutnya, kebakaran berawal  di kawasan Nglerak Petak I namun merembet ke arah selatan menuju Bulak Peperangan, Sabtu (21/7/2012) sekitar pukul 22.00 WIB. Kobaran api begitu cepat karena didukung angin gunung yang berhembus ke lereng gunung. Apalagi di kawasan itu banyak terdapat pohon berukuran besar yang mati sehingga mudah terbakar.

Tim gabungan dari SAR, Anak Gunung Lawu (AGL) dan Karanganyar Rescue berkoordinasi dengan Perum Perhutani Solo melakukan antisipasi di perbatasan wilayah Karanganyar dan Jatim. “Pihak Perhutani Solo dengan cepat mengantisipasi agar kebakaran tidak merambat hingga Karanganyar. Kami juga selalu berkoordinasi dengan Perhutani Ngawi,” katanya.

Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru K, menuturkan  kebakaran itu menghanguskan sedikitnya 15 hektare lahan hutan terutama di wilayah Nglerak Petak I dan Bulak Peperangan. Pihaknya telah menyiagakan sekitar 50 anggota AGL yang bertugas memantau perkembangan kebakaran di lereng Gunung Lawu.

“Pergerakan api begitu cepat karena ada angin gunung, semoga saja tidak meluas ke wilayah Karanganyar,” jelasnya.

Read More

Bupati Imbau Dinas Hemat Energi

Bupati Karanganyar, Rina Iriani menghimbau agar Dinas-dinas di Kabupaten Karanganyar melakukan penghematan energi dengan mengefektifkan mobil Dinas. Selain mengefektifkan penggunaan mobil Dinas, ia juga mengimbau penggunaan listrik dan air sesuai kebutuhan.

“Untuk mengefektifkan penggunaan mobil dinas, saya menyarankan saat digunakanmobil diisi oleh tujuh orang untuk satu mobil. Ini sudah saya anjurkan dari dulu. Bahkan kalau perlu, kami gunakan bus ataupun kendaraan umum untuk keperluan Dinas. Yang penting jangan sampai mengganggu acara yang akan didatangi,” jelas Rina, Jumat (1/6).

Menurut Rina, penghematan energi ini harus dijadikan sebagai budaya. Untuk penghematan energi sendiri, Rina menyatakan telah mengganti lampu penerangan jalan, dengan lampu hemat energi. “Sekarang kami sudah tidak ada hutang dengan PLN. Kalau dulu, Pemkab bisa hutang sekitar Rp 8 miliar kepada PLN, sekarang tidak lagi,” jelas Rina.

Dengan upaya penghematan energi yang ia lakukan, ia pun meragukan kebinasaan pemerintah tentang penggunaan Bahan Bakar Pertamax untuk mobil dinas. “Saya masih ragu jika semua mobil dinas menggunakan Pertamax. Harusnya ada pembatasan tahun keluaran mobil yang diwajibkan menggunakan Pertamax,” tambah Rina.  Rina menyatakan bahwa di Karanganyar terdapat sekitar 200-an kendaraan dinas. Dari jumlah tersebut, ia mengatakan hanya ada sekitar 50-an kendaraan yang bisa menggunakan Pertamax. “Banyak kendaraan dinas kami keluaran tahun1990-an. Jadi tidak bisa semuanya dipaksakan menggunakan Pertamax,” jelas Rina.

Menurut Rina, seluruh SKPD secara rutin memberikan laporan penghematan energi kepadanya. Hal tersebut sebagai bahan evaluasi Pemkab Karanganyar terkait penghematan energi. Ia mengharapkan penggunaan biaya penggunaan energi di Pemkab Karanganyar jangan sampai melonjak tinggi.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi & UMKM (Disperindagkop & UMKM) Karanganyar, Sundoro, menyatakan saat ini di Karanganyar masih minim POM Bensin yang menyediakan Pertamax. “Di Karanganyar baru ada sekitar dua POM bensin yang menyediakan Pertamax. Itu di daerah Bejen dan Sapen,” jelas Sundoro.

Read More

Polisi Temukan Jejak Harimau

Keraguan Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Jawa Tengah terkait adanya kawanan harimau di wilayah Jatiyoso terbantahkan. Pasalnya Aparat Kepolisian Polsek Jatiyoso beserta beberapa warga Dusun Gandri Desa Wonokeling Kecamatan Jatiyoso yang naik sampai ke bukit ternyata menemukan jejak tapak kaki hewan buas tersebut.
“Tidak hanya satu tapak, tetapi banyak. Berarti kawanan harimau itu memang benar pernah berpapasan dengan manusia. Tidak ada lagi yang meragukan semua sudah terjawab,” ucap Kasi Humas Polsek Jatiyoso, Aipda Didik Setiyadi mewakili Kapolres Karanganyar, AKBP Nazirwan Adji Wibowo.
Bersama beberapa warga dan anggota Koramil setempat yang bersenjata lengkap, sambungnya mereka menelusuri sampai goa di atas bukti yang jaraknya sekitar tiga kilometer masuk ke ladang penduduk dari Dusun Gandri. “Tapaknya itu terlihat jelas, karena hujan. Sehingga bisa diartikan binatang buas itu berkeliaran di area tersebut,” paparnya. Pihak kepolisian juga telah mendokumentasikan tapak tersebut dan diserahkan kepada BKSDA sebagai bukti adanya jejak harimau. Apalagi beberapa warga juga mengaku telah melihatnya.
Namun demikian pihaknya tidak memastikan apakah binatang tersebut adalah harimau jawa atau binatang buas jenis yang lain. “Apakah itu harimau jawa, tutul atau macan kucing, itu yang kita belum tahu. Soalnya orang desa hanya menyebutnya macan,” katanya. Menurutnya, survei lokasi yang dilakukan oleh Tim BKSDA tidak sampai mengkroscek di gua paling atas. Padahal ada dua atau tiga gua di atas bukit yang ditumbuhi semak belukar dan hutan sehingga belum menemukan tapak jejak harimau tersebut.
Tim yang dipimpin oleh Budi Utomo, Kasi BKSDA Wilayah I Jawa Tengah hanya sampai ke lokasi di mana salah satu warga yakni Mbok Tiyok dikelilingi oleh beberapa harimau, jadi tidak tahu jika di atasnya ditemukan jejak itu.

Read More

MACAN LAWU: Terusik, Macan Gunung Lawu Serang Ternak

Tiga ekor macan tutul Jawa menyerang ternak milik warga Dusun Gandri, Desa Wonokeling, Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, Minggu (15/4/2012) sekitar pukul 10.00 WIB. Hewan buas itu keluar dari hutan karena seekor anaknya diambil oleh warga.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, ketiga ekor macan tutul Jawa itu berjalan keluar dari dalam hutan karena marah lantaran seekor anaknya diambil oleh seorang warga. Mereka menerkam seekor domba yang berada di lokasi kejadian.

Kanitreskrim Polsek Jatiyoso, Aiptu Reman mengatakan kali pertama kemunculan tiga ekor macan tutul Jawa itu diketahui Tiyok, 40, dan Sani, 45, warga Dusun gandri, Desa Wonokeling, Kecamatan Jatiyoso. Kala itu, Tiyok sedang mencari rumput di pinggir sebuah lembah. Tiba-tiba, tiga ekor macan tutul Jawa muncul dari dalam hutan. “Macan itu tidak menyerang warga dan berlari ke arah gerombolan domba yang di pinggir lembah,” katanya.

Seekor macan langsung menerkam seekor domba hingga tewas seketika. Sementara Tiyok dan Sani langsung berlari ke permukiman penduduk. Setelah menerkam domba, ketiga macan itu kembali masuk ke dalam hutan. Menurutnya, diduga hewan buas itu marah dan keluar dari hutan karena seekor anaknya diambil oleh salah satu warga. Kemungkinan, induk macan marah karena anaknya diambil oleh warga dan keluar dari hutan. “Warga tidak ada yang diserang, hanya domba yang saat itu ada di lokasi dan diterkam,” jelasnya.

Munculnya tiga ekor macan di lembah itu baru pertama kali di Dusun Gandri. Dia mengakui hutan yang berada di perbatasan Jatiyoso dengan Ponorogo, Jawa Timur itu memang dihuni hewan buas termasuk macan tutul Jawa. Namun, selama ini, para hewan buas itu tak pernah keluar hutan dan mengusik warga.

Kemunculan hewan buas tersebut membuat warga Dusun Gandri ketakutan dan tidak berani keluar pada malam hari. Kepolisian akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menangkap macan tersebut.

Read More

Tawangmangu Rawan Banjir

Berada di daerah pegunungan ternyata tidak meluputkan Tawangmangu dari banjir. Pasalnya setiap kali hujan deras, separuh dari ruas jalan Raya Tawangmangu mulai dari pertigaan Kelurahan Tawangmangu ke atas selalu tergenang air luberan dari saluran air di sepanjang trotoar karena tidak mampu menampung aliran air dari sungai di Lereng Gunung Lawu.
Camat Tawangmangu, Yopi Eko Jati Wibowo  mengatakan luapan air yang menggenangi jalan raya itu dikarenakan hilangnya daerah resapan air di daerah di atas Tawangmangu. Berkurangnya daerah resapan air ini, dikarenakan banyaknya bangunan vila dan perumahan di daerah tersebut.
Ditambah lagi vila dan perumahan tersebut sebagian besar tidak memperhatikan faktor drainase sehingga menjadikan tangkapan air menjadi rendah, dan  air langsung mengalir ke bawah. “Banjir seperti ini sudah berlangsung cukup lama. Sejak saya menjabat sebagai camat, tiga tahun lalu, kondisinya sudah seperti itu,” ungkap Yoppi.
Ia juga mengatakan banjir ini juga disebabkan tidak semua tempat pembuangan arus sungai yang ada di Tawangmangu beroperasi dengan baik. Karena saat ini tiga pintu pembuangan arus sungai, hanya satu yang berani dibuka. “Yang lainnya jika dibuka dikhawatirkan ambrol karena bangunannya sudah tua, dan dirasa tidak mampu menahan lajunya air,” tandas dia.
Berbagai faktor tersebutlah yang menjadikan air di trotoar meluap dan membuat genangan air. Genangan paling parah berada di Terminal Tawangmangu dan Pasar Tawangmangu. Sementara itu, salah satu warga Sepanjang Tawangmangu, Widodo (30) membenarkan hal tersebut. Setiap kali hujan deras turun, maka sepanjang jalan dari atas hingga pertigaan Kantor Kelurahan Tawangmangu digenangi air luapan dari atas hingga setinggi lutut orang dewasa. “Airnya mengalir dengan deras,” ungkapnya.

Read More

4 Kecamatan Diterjang Puting Beliung

Belum usai penanganan bencana longsor yang merenggut dua nyawa warganya, kini dua Kecamatan di Karanganyar yakni Kecamatan Matesih dan Kecamatan Tawangmangu kembali terjadi bencana angin puting beliung, Minggu (26/2). Sehari sebelumnya angin puting beliung juga menerjang dua Kecamatan di wilayah Sragen yakni Gondang dan Tanon Sabtu (25/2) petang. Sedikitnya 14 rumah rusak berat dan ambruk, lima trafo milik PLN hancur, serta puluhan pohon tumbang akibat terjangan angin berkecepatan tinggi tersebut.

Akibat dari kencangnya sapuan angin tersebut mengakibatkan sedikitnya sekitar 15 rumah rusak di Dusun Pelas Desa Bandardawung Kecamatan Tawangmangu dan sejumlah pohon tumbang di ruas jalan Matesih – Tawangmangu sehingga sempat memacetkan jalan sekitar 1,5 jam. Selain menyapu atap dan bangunan sekitar 15 rumah, angin juga menghancurkan lima buah kandang ayam warga sehingga menyebabkan sekitar 15.000 ekor ayam milik warga mati tak terselamatkan. Sementara ini kerugian ditaksir mencapai angka Rp 100 juta karena ayam tersebut dua pekan lagi akan dipanen.

Camat Tawangmangu, Yopi Eka Jati Wibowo mengatakan angin puting beliung terjadi sekitar pukul 14.00 WIB saat hujan deras. Angin yang bertiup kencang juga mengakibatkan sejumlah pohon besar di pinggir jalan tumbang dan puluhan atap rumah warga habis dibawa angin. “Untungnya tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut, hanya saja ribuan ayam yang siap dipanen mati tertimpa kandang yang roboh,” ujarnya Minggu (26/2).

Di wilayah Kecamatan Gondang, kerusakan terparah melanda Desa Grasak. Berdasarkan data di Kecamatan, musibah tersebut mengakibatkan 13 rumah warga rusak berat tertimpa pohon tumbang. Bahkan, rumah Budi Anggono (35) warga Grasak tidak dapat lagi ditempati karena sebagian sudah hancur diterjang angin.
Selain itu, terjangan angin juga merusak perkebunan jati milik enam warga yang berhimpitan. Belasan pohon jati usia muda yang berada di areal Dusun Grasak tumbang dan rusak total. “Kejadiannya sekitar jam 17.00 WIB pada saat hujan deras. Tiba-tiba dari arah utara datang angin kencang, lurus dan menerjang semua yang ada. Rumah saya juga tertimpa pohon sampai rusak begini,” papar Purwanto (67) warga Gasak.

Camat Gondang Budi Setyawan mengatakan berdasarkan pendataannya, ada 19 KK yang menjadi korban dengan kerugian material mencapai Rp 30 juta. “Harapan kami, karena mayoritas korban yang rumahnya rusak itu adalah warga miskin, sehingga secepatnya bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah kabupaten,” paparnya ditemui di sela-sela pendataan kerusakan di Grasak Minggu (26/2) pagi.

Read More

217 Rumah Rusak Terkena Longsor

Jumlah total rumah yang rusak terkena bencana longsor pada Rabu dinihari mencapai 217 unit. Mulai yang rusak ringan, sedang hingga rusak berat karena hancur total seperti yang dialami Reksowasimin, Karyojimin di dusun Banjar, Desa Gerdu, Karangpandan.

”Pendataan dan hasil laporan yang kami terima dari daerah, yang rusak memang sangat banyak. Paling banyak di Ngargoyoso yang mencapai 112 unit rumah. Di antaranya ada 10 rumah yang rusak berat karena lebih dari 75 % bangunannya roboh,” kata Aji Pratama Heru Kristianto, Kepala   Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar.

Kepada Suara Merdeka, dia mengatakan selain Ngargoyoso, yang juga cukup banyak adalah Matesih 69 rumah. Meski demikian kerusakannya relatif ringan. Kemudian Jenawi yang rusak 23 unit dengan tingkat kerusakan berat 2 unit. Karangpandan 13 rumah rusak, 3 unit rumah hancur total. Selain kerusakan rumah yang tertimpa longsoran, yang juga mengalami kerusakan adalah infrastruktur seperti dam, jalan, saluran irigasi, talud, serta sarana umum seperti masjid dan kantor inventaris pemerintah. Ada 22 jenis yang rusak meski tidak terlalu berat.

”Yang paling berat adalah jalan yang tertutup longsor. Sampai sore ini, yang belum tertangani tinggal longsoran yang menutup jalan penghubung Matesih-Karangpandan, persis di pertigaan rumah Reksowasimin yang meninggal. Di situ longsoran menutup jalan sepanjang 50 meter. Selain itu di longsoran bekas rumah Mbah Rekso juga belum dibersihkan,” katanya.

Untuk mendatangkan alat berat agar mempercepat proses pembersihan, petugas BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum Karanganyar kesulitan karena medan jalan yang sangat curam. Satu-satunya akses dari arah Girilayu, Matesih.

”Tetapi jalannya menanjak tinggi dan menurun sangat curam, sehingga truk tidak bisa masuk membawa bulldozer. Jadi harus menunggu dari arah Gerdu, dan sementara membersihkan dulu jalur tersebut karena beberapa titik ada longsoran kecil, sebelum sampai di lokasi longsoran besar itu,” kata Heru.

Sementara itu untuk mengantisipasi bencana yang mungkin masih bisa terjadi selama musim hujan ini, pihaknya mewaspadai delapan kecamatan yang sangat rawan longsor. Selain empat wilayah yakni Jenawi, Karangpandan, Ngargoyoso, Matesih, ditambah Tawangmangu, Jatiyoso, Jatipuro, dan Kerjo.

Area Waspada

”Di lokasi itu kami sudah memiliki denah wilayah merah, yakni wilayah yang masuk area waspada. Sudah banyak tanda-tanda longsor, sehingga harus diwaspadai. Kami terus menyiagakan sekitar 100 personel gabungan, termasuk bantuan dari kabupaten lain yang juga sudah siap jika terjadi sesuatu,” jelasnya.

Dia mengingatkan tiga tanda akan terjadi longsor pada masyarakat dan harus diwaspadai.

Pertama pepohonan di atas bukit sudah mulai miring dan tidak berdiri gagah lagi. Kedua bebatuan sudah sering berjatuhan dari atas. Ketiga saluran air dari atas bukit justru berkurang debitnya

Read More