Category: Lingkungan Hidup

Longsor, Satu Rumah Rusak Berat

Rumah Dirjo Sutarmin (44) warga Dusun Karangbangun RT 1 RW X Desa Ngargoyoso, Kecamatan Ngargoyoso rusak berat setelah dihantam tanah longsor, Rabu petang (12/10). Material tanah dari bukit di belakang rumahnya setinggi empat meter tiba-tiba longsor, tanpa diketahui sebabnya.
Diduga pecahnya pipa saluran air di desa tersebut menjadi pemicu labilnya tanah sehingga menyebabkan longsor. Beruntung seluruh penghuni rumah tak ada di dalam saat kejadian, sehingga tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.
Dirjo mengatakan longsor ini bukan merupakan kejadian pertama kali, tetapi dari sekian longsor yang menimpa rumahnya ini yang paling parah. “Biasanya hanya satu atau dua meter habis hujan tiba, tapi kali ini cukup parah,”.
Dari longsor tersebut, tembok rumah bagian belakang yang berukuran 3×11 meter tersebut mengalami retak-retak dan terlihat mengkhawatirkan. Sementara guna mengamankan rumah tersebut warga sekitar mengganjalnya dengan pagar yang dibuat dari bambu.
Sementara itu, Ketua RT setempat Paiman menduga kejadian longsor tersebut kemungkinan berasal dari pecahnya pipa yang menyalurkan air bersih dari sumber mata air di pegunungan ke tempat warga. Karena terlalu lama sehingga membasahi tanah yang berada persis di atas rumah Dirjo. “Karena terlalu gembur akhirnya tanahnya longsor menimpa rumah Dirjo,” jelasnya.
Paiman menambahkan bahwa 30 persen dari 65 KK rumah warganya merupakan daerah rawan longsor. Dirinya pun berharap Pemerintah segera dapat memberikan solusi terhadap warganya yang terletak di kawasan rawan longsor tersebut.
Di lokasi Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru Kristanto mengatakan bahwa Dusun Karangbangun Desa Ngargoyoso masuk salah satu dalam zona merah kawasan rawan longsor di wilayah Karanganyar. “Selain Kecamatan Jenawi, Kerjo dan Kecamatan Jatiyoso, Kecamatan Ngargoyoso juga masuk dalam zona merah rawan longsor,”.

Read More

Sulit Air, Petani Terancam Kekeringan

Musim penghujan yang tak kunjung datang membuat petani di Bumi Intanpari Karanganyar kesulitan air. Sulitnya air untuk irigasi tersebut membuat sejumlah lahan pertaniannya dibiarkan bera.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Rukun (Gapoktan) Manunggal di Dukuh Karang Kelurahan Lalung Jaten  Sumarso (52) Rabu (5/10) mengungkapkan masa kemarau ini membuat petani di kelompok taninya kesulitan mendapatkan air. “Dari 210 hektare lahan yang ada di kelurahan ini, kami hanya bisa mengolah antara 30 sampai 40 hektare saja,” kata dia.

Sumber mata air yang selama ini menjadi satu-satu tumpuan mereka dari mata air Gunung Lawu ternyata sudah tidak dapat diandalkan kembali untuk mengairi sawah mereka yang telah berbulan-bulan mengering. “Semenjak digunakan untuk air minum oleh PDAM, aliran airnya tidak sebanyak dulu. Sehingga saat musim kemarau, banyak petani yang tidak menggarap lahan pertaniannya.

Hal senada juga disampaikan oleh Pardiyanto (31), petani dari Dukuh Karang lainnya. Selain masalah air dirinya juga khawatir terhadap hama wereng yang telah membuatnya gagal panen selama tiga kali sehingga membuat dirinya rugi, “Air sulit, hama juga banyak,mudah-mudahan saja obat pembasmi yang baru manjur untuk menangkal wereng.

Ketua Kelompok Tani Sido Makmur Jungke Kecamatan Kota, Sunarto, (43)  mengutarakan pandangan yang berbeda. Pasalnya, kelompok tani di tempatnya hingga saat ini masih mampu mengelola lahan pertanian hingga 85 persen dari total lahan seluas 125 hektare. “Sejauh ini masih dapat kita siasati. Air dari Waduk Delingan yang menjadi sumber pengairan kita sejauh ini pun masih lancar. Beberapa lahan pun juga ada yang mulai menggunakan pompa diesel.

Read More

Kebakaran hutan di lereng Lawu timbulkan kerugian biologis

Kebakaran hutan yang terjadi di sejumlah kawasan lereng Gunung Lawu beberapa waktu lalu, menimbulkan kerugian biologis.

Kerugian biologis itu yakni banyaknya zat-zat dalam tanah yang mati akibat panas yang ditimbulkan oleh kebakaran. Bila zat dan makluk hidup di dalam tanah mati, maka akan mempengaruhi kelangsungan hidup pepohonan di hutan tersebut.

Administratur atau Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KKPH) Perum Perhutani wilayah Surakarta, Iwan Setiawan Wisnutomo, mengatakan, ada tiga kali kebakaran di lereng Gunung Lawu. Kebakaran pertama antara lain melalap sekitar 4,3 hektar lahan. Kedua, seluas enam hektar lahan terbakar.

“Untuk yang ketiga ini kami belum mendapatkan laporan. Tapi yang terbakar itu adalah tumbuhan yang di bawah, seperti rontokan daun. Sedangkan pohon yang besar tidak terbakar,” jelas Iwan, Senin (22/8/2011).

Sementara itu, jelas Iwan, kerugian materi dari kebakaran tersebut sangat kecil, sebab tidak sampai melahap pohon yang tumbuh di hutan lindung. Untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran lagi, pihaknya membuat tim kerjasama dengan kelompok pecinta alam Anak Gunung Lawu (AGL). Tugas dari tim gabungan itu, imbuh Iwan, yakni bila terjadi kebakaran, secepatnya membuat ilaran.

“Kesannya membuat ilaran itu primitif, tapi hanya itu yang bisa dilakukan. Melokalisasi area kebakaran dengan membuat ilaran antara 4-5 meter. Kalau dirasa masih kurang, maka diperluas lagi. Tujuannya yakni untuk memutus merambatnya api,” ujar Iwan.

Tim tersebut dibagi sesuai dengan kebutuhan, dan ditempatkan di berbagai sisi lereng Gunung Lawu. Bila hanya kumpul jadi satu, nanti justru koordinasi dan geraknya kurang cepat.

Ia juga mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk tidak meninggalkan bekas api unggun dan tidak membuang puntung rokok sembarangan di dalam hutan. Selain itu, ia juga mengimbau kepada masyarakat yang berdekatan dengan hutan agar tidak membuat bakaran di pakarangan rumah. Dalam kondisi kering seperti saat ini, kata dia, apa pun bisa memicu timbulnya api dan kebakaran.

Read More

DPU siapkan anggaran Rp 3 miliar

Pekerjaan Umum (DPU) Karanganyar menyiapkan anggaran hingga Rp 3 miliar untuk mengeruk dua waduk di wilayah Bumi Intanpari pada tahun 2011. Pengerukan waduk dilakukan lantaran tingkat sedimentasi waduk sudah dinilai terlalu tinggi.

(more…)

Read More

5 Kecamatan di Karanganyar rawan krisis air bersih

Memasuki musim kemarau tahun ini, ratusan warga di lima kecamatan di wilayah Bumi Intanpari rawan kekeringan dan kekurangan air bersih. Pemerintah kabupaten (Pemkab) bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) mulai menyiapkan pengiriman air bersih.

Kabag Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Slamet Sanyoto mengatakan siap melakukan pengiriman air bersih. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi ancaman kekeringan dan adanya kesulitan air bersih di daerah rawan kekeringan. Meskipun demikian, hingga kini belum ada warga yang mengajukan bantuan air bersih. “Kami bekerja sama dengan PDAM akan melakukan pengiriman air bersih. Air bersih diberikan gratis,” tegasnya.

Berdasarkan data pengajuan permintaan bantuan air bersih tahun 2009, daerah-daerah rawan kekeringan dan kekurangan air bersih di Karanganyar tersebar di lima kecamatan yakni Matesih, Tasikmadu, Mojogedang, Jatipuro dan Gondangrejo. Wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah langganan kekeringan setiap memasuki musim kemarau karena jauh dari sumber air.

Slamet Sanyoto menambahkan, daerah yang berada di perbukitan selama inimemang sulit air. Permintaan bantuan air biasanya mulai meningkat sekitar bulan Juli-Agustus yang merupakan puncak kekeringan. Kendati demikian, pihaknya tetap waspada terhadap kemungkinan adanya pergeseran masa kekeringan mengingat ada kecenderungan terjadi pergeseran musim dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, krisis air bakal terjadi karena matinya sumber-sumber air yang ada. Tidak hanya karena sumur gali yang kering, sumber air permukaan seperti sendang dan sungai juga kering.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch meminta petani di daerah rawan kekeringan untuk lebih selektif dalam menentukan jenis tanaman. Dia menyebutkan lahan pertanian yang rawan kekeringan tersebar di empat kecamatan, di antaranya Kecamatan Jumapolo, Jumantono, Jatipuro dan Jatiyoso.
“Kalau memang pasokan air sangat terbatas, para petani sebaiknya tidak perlu memaksakan untuk tetap menanam padi, karena bisa-bisa nanti malah tidak bisa memanen,” pintanya.

Sebagai alternatifnya, Siti meminta para petani beralih ke tanaman palawija. Alasannya, tanaman ini tidak membutuhkan air yang terlalu banyak, seperti yang dibutuhkan tanaman padi. Selain itu, penggantian tanaman palawija sekaligus untuk memutus siklus wereng.

Read More

BPBD Karanganyar waspadai kebakaran hutan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar mulai mewaspadai kebakaran hutan. Pada musim kemarau seperti sekarang, hutan rentan terbakar. Selain hutan, kawasan yang rentan adalah kawasan industri dan permukiman penduduk.

Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar, Aji Pratama Heru K, kepada wartawan, akhir pekan lalu, mengatakan kawasan perhutanan sangat rentan terbakar terutama pada musim kemarau ini. Apalagi Kabupaten Karanganyar dikelilingi hutan di sekitar kaki Gunung Lawu. Heru menuturkan pepohonan yang mulai kering bisa memicu kebakaran hutan. ”Kebakaran sangat bisa terjadi meski hanya dari puntung rokok.

WASPADA KEBAKARAN — Musim kemarau dengan angin kencang seperti saat ini menimbulkan kerawanan kebakaran yang harus selalu diwaspadai masyarakat, baik di lingkungan permukiman, industri atau kawasan hutan pun meminta baik pendaki maupun warga di kawasan hutan untuk tidak sembarangan membuang puntung rokok dan memastikannya terbuang dalam kondisi mati. Mereka juga diminta tidak asal membakar sampah di sekitar hutan yang dikhawatirkan akan menyulut kebakaran. Apalagi ditambah cuaca panas disertai tiupan angin yang sangat kencang. ”Kebakaran hutan sangat rentan sekali. Jadi jangan asal membakar apa pun di sekitar hutan. Kalau merokok, pastikan puntung rokoknya benar-benar mati,” pintanya.

Selain hutan, Heru menambahkan potensi kebakaran tinggi juga terjadi di kawasan permukiman penduduk dan perindustrian. Beberapa kawasan industri yang dipantau dan diawasi secara ketat di antaranya Jaten, Kebakkramat dan Gondangrejo. Selain bahan yang diolah pabrik, kebakaran di industri juga dapat terjadi karena hubungan pendek arus listrik. Oleh karena itu, pihaknya meminta seluruh pemilik industri untuk terus meningkatkan proteksi dini bahaya kebakaran. Termasuk, mengecek kondisi alat pemadam api ringan (APAR), hydrant serta peralatan pemadaman api lainnya. ”Perusahaan juga wajib cek kondisi peralatan listriknya. Jangan sampai terjadi korsleting listrik karena salah satu penyebab kebakaran dari itu.

Terkait penanganan kebakaran di kawasan industri, Heru mengatakan pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pemadam kebakaran di Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP). Pihaknya juga menyiagakan relawan untuk membantu proses evakuasi bencana kebakaran.

Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun di DKP Karanganyar, hampir 60% lebih kasus kebakaran di Karanganyar terjadi di bidang industri karena faktor kelalaian memproteksi diri dari ancaman bahaya kebakaran. Sedikitnya tiga orang meninggal dunia dan delapan orang luka-luka dalam 113 kasus selama 2006-2010.

Read More

Sampah meningkat, DKP akan buat TPA di Colomadu

Lantaran sampah di Karanganyar meningkat, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) setempat pada tahun 2011 ini akan membuat tempat pembuangan akhir (TPA) di Kecamatan Colomadu.

Read More

Dua kecamatan di Karanganyar dilanda longsor

Bencana alam tanah longsor terjadi di Kecamatan Ngargoyoso dan Kecamatan Matesih, Senin (16/5). Di hari yang sama, rumah salah satu warga Kecamatan Jatipuro juga roboh karena diterjang angin kencang yang disertai hujan. Kerugian dari bencana tersebut mencapai puluhan juta rupiah.

Tanah longsor terjadi di Dusun Sumbersari RT 1/RW I, Desa Kemuning, Ngargoyoso dan di Dusun Balerejo RT 2/RW XI, Desa Koripan, Matesih. Di Balerejo, longsoran talud pondasi rumah milik warga setempat, Sariman Pawiro Wiyono, 50, menimpa rumah Senen Prapto Wiyono. Rumah Sariman terletak di sebelah rumah Senen, yang lokaisnya lebih rendah. “Karena kena longsor, kamar tidur dan dapur rusak.

Menurutnya, saat kejadian sekitar pukul 17.00 WIB, turun hujan yang cukup deras. Tak disangka, mendadak ada suara gemuruh dari samping rumah Senen. Karena tidak luat menahan gempuran talut rumah yang longsor, dinding rumah Senen pun jebol. Akibatnya, dinding rumah Senen bolong, tanah masuk ke dalam rumah dan dinding rumah pun juga retak.

Sementara di Kemuning, Ngargoyoso, pekarangan rumah milik Pawiro Sukarto, 70, ambrol. Tebing tanah pekarangan berukuran sekira 10 m x 6 m longsor dan langsung menutup jalan desa yang terletak di samping bawah rumah Pawiro. Mengetahui jalan tertutup, warga setempat langsung bekerja bakti membersihkan sisa tanah yang menutup jalan tersebut. Pekarangan rumah milik Jumadi, 45, juga longsor dan merusak kebun jagung di bawahnya.

Rumah roboh
Selain mengakibatkan tanah longsor, hujan deras yang berlangsung cukup lama disertai angin kencang pada Minggu (15/5) siang hingga malam, juga merobohkan rumah Supoyo, 53, warga Dusun Tegalkatak RT 5/RT II, Desa Jatisuko, Kecamatan Jatipuro. Akibatnya, rumah Supoyo roboh. Begitu mendengar suara gaduh di rumah bagian belakang, Supoyo sekeluarga langsung lari keluar rumah. “Atap rumah saya yang bagian belakang langsung roboh,” ujar Supoyo. Ia mengakui, rumahnya yang sudah lapuk itu memang sudah tidak kuat menahan beban. Sehingga saat ada angin kencang, beberapa bagian rumahnya langsung roboh.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru Kristanto mengimbau kepada warga yang tinggal di daerah rawan bencana, untuk tetap waspada. “Apalagi kalau setelah hujan lebat. Warga yang tinggal di zona merah rawan bencana, segera melapor ke pihak yang berwenang agar bisa cepat mendapatkan pertolongan

Read More

Pemkab Karangnyar siapkan tanaman untuk daerah rawan longsor

Kabupaten (Pemkab) Karanganyar melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) menyiapkan sejumlah tanaman keras untuk ditanam di sejumlah daerah rawan longsor.

Beberapa daerah yang rawan longsor itu seperti di Kecamatan Tawangmangu, Kerjo, Matesih, Karangpandan dan Jatiyoso. Untuk menampung berbagai bibit tanaman yang akan ditanam di daerah tersebut, Pemkab sudah menyiapkan lahan seluas 1.500 meter persegi sebagai bank tanaman. Lokasi bank bibit tanaman itu berada di Tegalasri, Kelurahan Bejen, Kecamatan Karanganyar.

“Saat ini masih banyak daerah yang perlu ditanami. Terutama di daerah rawan longsor. Di Tawangmangu misalnya, sudah kita berikan sekitar 3.000 bibit pohon, tapi di sana juga masih kekurangan. Belum di daerah lainnya,” ujar Kepala BLH Karanganyar, Waluyo Dwi Basuki, belum lama ini. Karena itu, kata dia, pihaknya segera menyediakan berbagai jenis tanaman di area bank tanaman, untuk menampung berbagai jenis tanaman.

Read More

Longsor Terjang Ngargoyoso

Akses jalan di sejumlah dusun di Kecamatan Ngargoyoso terancam putus, setelah wilayah tersebut kembali dihantam longsor, Senin (25/4) sore. Meski tidak ada korban jiwa, sejumlah rumah mengalami kerusakan parah karena tertimpa material longsor.

Read More