Category: Kesehatan & Olahraga

Perubahan Musim, Waspadai Demam Berdarah dan Diare

Masyarakat diimbau untuk mewaspadai penyakit diare dan demam berdarah (DB) seiring dengan pergantian musim saat ini. Kepala Dinas Kesehatan Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo, mengatakan pada musim pancaroba seperti saat ini tubuh menjadi rentan terhadap penyakit.
“Biasanya saat pergantian musim berlangsung, sehari bisa panas terik disertai debu yang banyak, sehari lagi hujan. Bisa selang seling seperti itu, sehingga perlu diwaspadai,” ujar Cucuk, Selasa (4/9).
Untuk DB, Cucuk mengaku penyakit ini sering muncul dan menyerang warga di saat pergantian musim. Ia menyebutkan ada tiga kecamatan di Karanganyar yang warganya paling sering diserang penyakit tersebut, yakni Jaten, Colomadu, dan Karanganyar Kota.
Di tiga kecamatan itu, dijelaskan Cucuk, merupakan wilayah perkotaan yang masyarakatnya sedikit abai terhadap keadaan lingkungan. Ini berbeda dengan masyarakat pedesaan yang cukup peduli dan mau bergotong-royong untuk menciptakan lingkungan bersih. “Masyarakat kota biasanya kurang sadar dengan kebersihan lingkungan, pemeriksaan jentik nyamuk, dan semacamnya. Hal-hal itulah yang masih susah untuk disadarkan,” ujarnya.
Meski demikian, Cucuk mengaku selama dua tahun terakhir jumlah penderita DB di Karanganyar mengalami penurunan. Untuk tahun penderita DB hanya mencapai puluhan. “Saya belum bisa memastikan jumlahnya, tetapi yang jelas mengalami penurunan” ungkapnya.
Sedangkan penyakit diare, Cucuk mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga pola konsumsi makanan. Makanan higienis dan banyak mengonsumsi vitamin C dapat membantu menjaga stamina tubuh. “Perbanyak pula minum air putih agar badan selalu terjaga,” tambahnya.

Read More

Kasus ISPA & Diare Meningkat 20 Persen

Angka kasus penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan diare yang ditangani Puskesmas Jatipuro, Karanganyar, mengalami peningkatan 20 persen dua bulan terakhir.

Hal itu diungkapkan Kepala UPT Puskesmas Jatipuro, dr Kristanto Setyawan, saat ditemui di kantornya, Sabtu (1/9/2012). “Untuk bulan Juli saja tercatat 77 kasus diare dan 126 kasus ISPA. Jumlah itu terbilang naik sekitar 20 persen dibanding angka kasus pada bulan-bulan biasa. Tapi belum sampai terjadi kejadian luar biasa (KLB),” katanya.

Kristanto menjelaskan situasi dinyatakan KLB bila persentase peningkatan angka kasus lebih dari 100 persen. Peningkatan angka kasus terjadi karena tingginya mobilitas warga selama Lebaran. Selain iotu karena kurang terjaganya kebersihan makanan yang dikonsumsi. “Jumlah penderita penyakit ini memang selalu meningkat setelah Lebaran,” imbuhnya.

Kristanto menerangkan penanganan penderita ISPA dan diare dilakukan dengan pemberian obat. Lebih dari itu, bidan desa dan petugas promosi kesehatan (promkes) didorong untuk menyosialisasikan cara pencegahan dua penyakit tersebut. Kongkretnya berupa perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga stamina dengan cukup istirahat, mengurangi konsumsi es dan rokok.

Begitu juga sosialisasi pencegahan penyakit diare dengan membiasakan diri cuci tangan memakai sabun, menjaga kesehatan lingkungan, menjaga kebersihan makanan dan tidak membuang air besar sembarangan. “Saat ini masih ada sebagian warga yang buang air besar di kali atau pekarangan. Alasannya sudah menjadi kebiasaan sejak kecil,” imbuhnya.

Dari 10 desa di Kecamatan Jatipuro belum ada satu pun desa yang bebas 100 persen dari perilaku buang air besar sembarangan. Berdasar pendataan petugas Puskesmas diketahui persentase ketersediaan jamban di 10 desa di Jatipuro baru mencapai 79 persen. Selain tidak membuang air besar di pekarangan dan kali, warga juga diminta mengonsumsi air bersih. Sebab cakupan ketersediaan air bersih di Jatipuro sudah mencapai 100 persen.

Read More

Pengawasan Makanan Diperketat

Maraknya peredaran makanan tak layak konsumsi karena mengandung pengawet berbahaya di beberapa pasar tradisional, mendapat perhatian khusus dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Karanganyar. Rencananya Disperindagkop bakal memperketat pengawasan distribusi makanan, utamanya makanan ringan untuk anak-anak di pasar-pasar.
Kepala Disperindagkop dan UMKM Karanganyar, Sundoro, menyatakan pengawasan akan dimulai sejak distributor meletakkan makanan dagangannya di pasar. “Kalau ada yang kedaluwarsa atau mengandung pengawet dan pewarna berbahaya langsung kami kembalikan,” jelasnya, Rabu (8/8).
Sundoro mengaku, sudah mengambil tindakan terkait dengan ditemukannya makanan yang mengandung bahan-bahan berbahaya. Sanksi awal berupa teguran sudah dilayangkan pihaknya. “Karena belum memakan korban, saat ini kami baru bisa memberikan teguran dan imbauan saja. Kami meminta pedagang untuk lebih mencermati makanan yang dijual agar tak memakan korban,” tambahnya.
Diungkapkan Sundoro, pengawasan distribusi makanan hanya bisa dilakukan di pasar-pasar tradisional. Untuk makanan dan jajanan yang dijual di toko-toko yang ada di pinggir jalan, Disperindagkop hanya bisa memberikan imbauan saja.
“Kalau untuk makanan yang ada di pasar, kami bisa mengontrolnya melalui lurah pasar. Tetapi kalau yang ada di toko-toko di luar pasar, kita belum bisa berbuat banyak,” jelasnya.
Sebelumnya, Dinkes Karanganyar menggelar Sidak kelayakan makanan di empat pasar tradisional, yaitu di Pasar Karangpandan, Tegalgede, Jungke, dan Palur. Dari hasil Sidak yang tersebut ditemukan 11 jenis makanan mengandung pewarna berbahaya jenis rhodamin-B dan pengawet berbahaya seperti boraks dan formalin.

Read More

PMI KARANGANYAR: Penuhi Stok Darah, PMI Jemput Bola

Palang Merah Indonesia (PMI) Karanganyar terus jemput bola ke pendonor guna memenuhi stok kebutuhan darah di Bumi Intanpari. Hal ini menyusul selama Ramadan jumlah pendonor anjlok hingga 40%.

Sementara permintaan darah diprediksi akan meningkat pada arus mudik dan balik Lebaran mendatang. Direktur Unit Donor Darah (UDD) PMI Karanganyar dr Jaqub Iskandar mengatakan biasanya dalam peristiwa mudik dan balik banyak terjadi traffic accident atau kecelakaan yang angkanya bertambah. Akibatnya, stok darah diperkirakan akan terus terkuras dan menipis.

“Awal Ramadan kemarin memang stok mulai menipis, tapi sekarang sudah dalam kondisi cukup. Ini karena kami jemput bola ke pendonor,” katanya, ketika dijumpai  di ruang kerjanya, Selasa (7/8/2012).

Dia mengatakan stok darah PMI ada 201 kantong, terdiri atas golongan darah A sebanyak 50 kantong, B sebanyak 70 kantong, AB 26 kantong dan O sebanyak 50 kantong. Padahal stok ideal dalam sebulan minimal 500-700  kantong darah.

Dia menambahkan persediaan darah menipis karena sedikitnya warga yang mendonorkan darah saat puasa. “Hari biasa bisa sampai 10 orang. Tapi sejak puasa paling hanya satu dua pendonor saja. Bahkan sehari pernah nyaris tidak ada sama sekali,” tuturnya.

PMI Karanganyar, lanjut dia, sering menjadi rujukan untuk daerah lain.Guna memenuhi stok darah itu, PMI melakukan berbagai kegiatan aksi bhakti sosial donor darah bagi jemaat-jemaat gereja. “Kami telah menggalang aksi donor darah, seperti belum lama ini kerja sama dengan salah satu Gereja untuk menambah stok darah PMI. Hasilnya ya lumayan stok bisa bertambah,” tuturnya.

Read More

Makanan Berbahaya Beredar Luas

Makanan mengandung pewarna berbahaya jenis rhodamin-B dan formalin beredar luas di pasar-pasar tradisional di Karanganyar. Kenyataan tersebut terungkap setelah digelarnya inspeksi mendadak (Sidak)  oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar, Senin (6/8) lalu.
Sidak sendiri dilakukan di Pasar Karangpandan, Pasar Tegalgede, Pasar Jungke, dan Pasar Palur. Setelah diinventarisasi dan dilakukan penelitian, setidaknya ada 37 jenis makanan yang mengandung pewarna dan pengawet berbahaya tersebut.
Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Karanganyar, Fatkul Munir, menyatakan temuan tersebut banyak didapati pada makanan ringan yang biasa dikonsumsi oleh anak-anak. “Kami menemukan pada makanan kecil berwarna seperti jenis telur gabus dan pacar China mengandung pewarna rhodamin-B,” ujarnya.
Selain itu temuan makanan mengandung boraks juga didapati di Pasar Karangpandan, yaitu mi basah warna kuning. Makanan berformalin juga ditemukan di pasar itu, yakni ikan asin.
Pihak Dinkes sendiri langsung mengambil tindakan dengan meminta lurah pasar untuk menegur para pedagang yang bersangkutan. “Pada umumnya para pedagang hanya menjual saja. Mereka tidak mengetahui kandungan yang ada di dalam makanan yang mereka jual,” ungkap Munir.
Dikatakannya, makanan yang mengandung rhodamin-B dan formalin dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit ginjal, saraf, dan kanker. Sedangkan untuk jangka pendek, jika dikonsumsi dalam dosis tinggi menyebabkan pusing. “Sidak akan terus kita lakukan, karena bahan-bahan tersebut berbahaya,” katanya.

Read More

Dinas Kesehatan Gelar Sidak di Pasar Makanan Tanpa Tanggal Kedaluwarsa Beredar Luas

Untuk mencegah beredarnya makanan berbahaya karena mengandung formalin dan zat pewarna menjelang lebaran, Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar menggelar inspeksi mendadak (Sidak) di Pasar Karangpandan dan Tegalgede, Senin (6/8).

Sidak yang dipimpin oleh Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Karanganyar, Fatkul Munir, dilakukan dengan menyusuri los-los pedagang yang menjual makanan seperti bakso, snack, mi basah, dan ikan.

Dalam Sidak itu didapati beberapa temuan seperti adanya makanan yang tak mencantumkan tanggal kedaluwarsa, legalitas, dan komposisi bahan makanan. Selain itu, untuk makanan yang dibuat oleh industri rumah tangga juga didapati tidak mencantumkan izin industri di kemasannya.

“Ada makanan jenis nata de coco yang tak mencantumkan tanggal kedaluwarsa dan komposisi bahan pembuatan. Ada juga makanan ringan berbentuk stik keju dan sambal kemasan yang tidak dicantumkan izin industrinya di kemasan,” jelas Munir.

Sidak juga dilakukan di los-los pedagang makanan kiloan. Di los-los ini, sejumlah makanan seperti makanan ringan jenis telur gabus, permen bobo, dan wafer merek Colombus dicurigai memakai pewarna makanan yang tidak diizinkan, karena warnanya sangat mencolok. Harga aneka makanan itu yang relatif murah semakin menguatkan kecurigaan itu.

“Kami juga menemukan ada satu bungkus agar-agar berbagai warna beserta toplesnya hanya dijual Rp 5.000. Ini akan kami periksa terkait bahan pewarna yang dipakai,” ujar Munir.

Selain pemeriksaan pada makanan ringan, beberapa makanan lauk pauk juga diperiksa petugas karena warnanya yang mencolok. Tahu kuning, mi kuning basah, bakso daging, dan ikan diambil sedikit sampelnya oleh petugas untuk dicek pengawet dan pewarna yang digunakan.

“Jika kedapatan makanan tersebut menggunakan bahan-bahan berbahaya, kami akan merekomendasikan kepada lurah pasar untuk menghentikan peredaran makanan tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang bakso, Sutikno, menyatakan dirinya tidak menggunakan pengawet untuk bakso dagangannya. Ia mengaku hanya mencampur daging sapi dan daging ayam untuk baksonya, karena harga daging sapi yang saat ini mahal.

Read More

Tidak Sesuai Prosedur, Seleksi Bidan Bisa Diulang

Terkait adanya protes terkait seleksi Bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) 2012 yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karanganyar,  Bupati Rina Iriani mengatakan masih menunggu laporan tertulis dari Dinkes.

“Nanti saya akan lihat laporan tertulisnya dari Dinkes terlebih dahulu. Saya masih menunggu laporan seleksinya dulu,” jelas Rina, Senin (18/6). Setelah melihat laporan dari Dinkes pihaknya baru bisa mengecek prosedur pemilihan bidan PTT tersebut. “Kita harus mencermati prosedur seleksi bidan PTT tersebut. Kita akan lihat apakah sudah sesuai prosedur yang ada,” tambah Rina. Rina mengatakan jika nantinya ada prosedur yang salah dalam rekrutmen ini, maka seleksi Bidan PTT bisa di ulang.

Sebelumnya, LSM Bhakti Pertiwi, mendapatkan pengaduan terkait seleksi Bidan PTT tersebut pada Kamis, (14/6). Beberapa Bidan PTT mengaku bahwa seleksi Bidan PTT tersebut tidak dilakukan sesuai prosedur. Karena dalam seleksi tersebut hanya digelar teks akademik saja, sedangkan tes psikologi tidak digelar.

Read More

BPJS Harus Segera Disosialisasikan

Bupati Karanganyar, Rina Iriani menyambut gembira adanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang rencananya bakal diterapkan pada tahun 2012. Rencananya pada tahap awal pemerintah akan mengalihkan program jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) yang saat ini dijalankan Kementerian Kesehatan kepada BPJS.
“BPJS dengan Jamkesmas itu berbeda. Kalau Jamkesmas masih ada perbedaan sekali antara orang kaya dan miskin. Untuk BPJS semua sama. Pelayanan kesehatan antara orang kaya dan miskin sama. BPJS ini mengorangkan orang,” tutur Rina saat membuka acara diskusi panel yang diadakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Karanganyar, Selasa (15/5).
Rina berharap sebelum gedoknya BPJS ini, Undang-undang tentang BPJS dapat tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat. Ia berharap para Direktur Rumah Sakit dan juga Dinas Kesehatan mulai melakukan sosialisasi tentang keberadaan BPJS.
Jika sudah tersosialisasi dengan baik maka masyarakat nantinya tahu siapa saja yang akan mendapatkan jaminan kesehatan secara gratis. Rina menjelaskan bahwa jika memungkinkan, kabupaten Karanganyar bisa membentuk BPJS lebih cepat dari tahun yang telah ditentukan. “Kalau bisa kita bentuk saja BPJS di tahun 2013. Kalau bisa lebih cepat, kenapa kita harus menunggu tahun 2014,” jelas Rina.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo, menyatakan bahwa ada tiga tahapan peralihan Jamkesmas menjadi BPJS. “Tahun 2012 akan dilakukan penugasan pengelolaan manajemen kepesertaan Jamkesmas kepada PT. Askes. Di 2013 ini akan ada transisi  pembentukan BPJS. Awal Januari 2014 akan ada pengalihan program Jamkesmas kepada BPJS Kesehatan,” jelas Cucuk, Selasa (15/5).

Read More

Enam Kecamatan Rawan Demam Berdarah

Enam Kecamatan di Kabupaten Karanganyar masuk dalam zona rawan Deman Berdarah (DB). Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar mengatakan enam kecamatan tersebut adalah Kecamatan Gondangrejo, Colomadu, Jaten, Kebakkramat, Tasikmadu dan Karanganyar Kota.

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) DKK, Fathul Munir mengatakan saat ini Dinasnya sedang fokus memperhatikan daerah-daerah yang rawan terhadap DB. Pasalnya Kementerian Kesehatan memperkirakan pada tahun 2012 ini akan terjadi ledakan kasus DB karena perubahan cuaca yang ekstrem dan siklus lima tahunan DB.

Fathul mengatakan penekanan pengawasan DB di enam kecamatan tersebut dilakukan karena keenam daerah tersebut memang merupakan daerah endemis DB.
“Enam kecamatan tersebut sejak dulu memang endemis DB, selain itu memasuki di musim pancaroba ancaman DB lebih tinggi. Januari hingga Maret kali ini sudah ada 16 kasus DB, tapi Alhamdulillah hingga detik ini belum ada yang meninggal, kalau bisa janganlah,” pintanya.

Dan jika dihitung sebagai siklus lima tahunan sekali, ledakan DB yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2012 ini. Apalagi dengan kondisi cuaca ekstrem yang kadang hujan dan kadang panas membuat pertumbuhan jentik nyamuk aedesaegepty semakin cepat. Munir mengatakan untuk mengurangi penyebaran BD yang perlu dilakukan masyarakat adalah dengan perubahan pola gaya hidup dan selalu menjaga kebersihan serta memantau jentik di seluruh penjuru rumah yang menampung air.
Ia menambahkan penyemprotan atau fogging bukanlah solusi terbaik,karena semakin sering dilakukan penyemprotan dengan obat insektisida, maka nyamuk akan resistansi nyamuk. “Keturunan nyamuk yang tidak mati sewaktu penyemprotan akan melahirkan generasi yang kebal terhadap obat insektisida,” .

Read More

SEMINAR SEHARI KESEHATAN IBU DAN BAYI DALAM RANGKA PROGRAM PENURUNAN AKI DAN AKB

Sekitar ±400 Bidan Anggota IBI (Ikatan Bidan Indonesia) di  Karangayar mengikuti Seminar Sehari Kesehatan Ibu dan Bayi Dalam Rangka Program Penurunan AKI (Angka Kematian Ibu) dan AKB (Angka Kematian Bayi)  diselenggarakan oleh IBI bekerja sama dengan RS PKU Muhammadiyah Karanganyar selaku panitia penyelenggara kegiatan bertempat di Hotel Tamansari Karanganyar (13/03/2012).

Dalam sambutannya Direktur RS PKU Muhammadiyah dr.Hj. Endah Umar  yang diawali dengan kata pembuka  “Hallo Bidan, dan dijawab oleh peserta Cerdas Luar Biasa”. Dikatakan pula kegiatan ini bertujuan untuk Silahturahmi dengan anggota IBI,  agar selalu berkesinambungan dan  bekerjasama dengan RS PKU Muhammadiyah Karanganyar, Ikut mensukseskan program MDGs (Milenium Development Goods) yang salah satunya menurunkan angka kematian Ibu dan Bayi dan Merealisasikan salah satu misi  RS PKU Muhammadiyah Karanganyar dalam memberikan pelayanan rujukan yang memuaskan bagi masyarakat.  RS PKU Muhammadiyah juga menerima JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat) kapanpun dan tidak di pungut biaya sepeser pun.

Acara dilanjutkan penyampaian materi yang pertama Dr. Elief Rohana, SpA, M.Kes dengan materi Penanganan BBLR (Bayi Lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gr). Materi kedua adalah Penanganan Pendarahan Paska Persalinan dengan Kondom Kateter oleh Dr. N. Tri Kurniati, Sp.OG.

Demikian Dishubkominfo  Kab. Karanganyar (pj /f3a / anggun)

Read More