Berlangsung Turun-temurun Guna Mencegah Pagebluk

Sejak Minggu sore (11/12), ratusan warga dari Dusun Kendal Desa Jatipuro Kecamatan Jatipuro rela berkumpul di Halaman Kepala Desa Jatipuro. Sembari membawa kue apem, para kepala keluarga tersebut berkerumun dan membentuk kalangan yang di tengahnya terdapat areal kosong untuk melempar kue apem tersebut.
Jumlah kue apem itu pun tidak boleh sembarangan, setiap kepala keluarga diharuskan membawa kue apem sejumlah 344, entah mau dipotong kecil – kecil atau utuh yang penting dalam satu wadah yang mereka bawa di dalamnya terdapat 344 apem.
Dengan dipimpin oleh seorang modin, ratusan warga tersebut melemparkan apem yang dibawanya satu per satu ke tengah-tengah tempat kosong tadi sembari mengucapkan wahyu kliyu… wahyu kliyu…. Hingga semua kue apem yang berada di wadah mereka tidak tersisa dan berpindah ke tengah-tengah warga.
Kurang dari sejam tempat kosong tersebut langsung berubah menjadi lautan apem dengan beraneka bentuk dan ragam. Setelah selesai, giliran apem itu ditutup dengan daun pisang didoakan dan dibagi kembali kepada warga secara merata.
Uniknya selain hanya boleh dilakukan oleh kaum pria. Prosesi percampuran antara budaya jawa dengan agama islam ini masih terus dilestarikan hingga kini. Asal Wahyu Kliyu sendiri sebenarnya berasal dari Ya Hayyum Ya Qoyyum yang berarti Yang Maha Hidup dan Yang Maha Memelihara. Mungkin karena susah orang-orang jaman dulu akhirnya terpeleset menjadi Wahyu Kliyu Wahyu Kliyu.
Mengenai jumlah apem sendiri, Kepala Desa Jatipuro, Rukini menjelaskan angka tersebut diperoleh secara turun-temurun yang menegaskan angka baik yang berurutan.
Dari ceritanya, perayaan Wahyu Kliyu yang digelar setiap tanggal 15 sura tersebut berawal dengan datangnya bencana pagebluk di Dusun Kendal. Selain paceklik yang berkepanjangan, banyak warga yang terkena penyakit dan akhirnya meninggal dunia. Kala itu, menurutnya tanah di antara Dusun Kendal Lor dan Kendal Kidul retak hingga menimbulkan lubang yang cukup dalam sehingga memisahkan kedua dusun.

Read More

Upacara Adat Wahyu Kliyu

Malam itu suasana dusun Dusun Kendal, Jatipuro, Karanganyar, Jawa Tengah ramai oleh hiruk pikuk di rumah seorang tokoh masyarakat setempat.

Pada hari biasa, dusun itu hanyalah bagian dari sebuah wilayah sepi di kaki selatan Gunung Lawu. Letaknya yang jauh dan akses jalan yang rusak serta minim penerangan membuat orang luar enggan berkunjung ke sana.

Namun suasana berbeda akan terasa pada malam ke 15 bulan Sura, penanggalan Jawa. Tiap tahunnya, warga Dusun Kendal melaksanakan Upacara Adat “Wahyu Kliyu”. Keramaian terjadi sejak siang hari dan mencapai puncaknya pada sekitar tengah malam, ritual melempar apem oleh masyarakat setempat bertujuan memohon ridho allah agar mendapat anugerah, kekuatan jauh dari bencana dan mala petaka.

Ada legenda lokal yang meyakini tradisi ini merupakan solusi atas musim paceklik dan bencana yang melanda dusun Kendal ratusan tahun lalu. Pernah suatu ketika warga desa lalai untuk melaksanakan upacara ini, dan paceklik pun terjadi.

Istilah “Wahyu Kliyu” sendiri juga diyakini berasal dari ucapan dzikir “Yaa Hayyu Ya Qayyuum” yang artinya permohonan keselamatan kepada Tuhan. Dan kemudian tradisi ini diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya di mana tidak ada yang berani melanggarnya.

Jaman sudah berganti, kebudayaan juga telah berkembang. Namun hanya hingga saat ini kearifan lokal ini masih dipercaya mampu menjawab tantangan kehidupan alam tandus di Jatipuro. Dan yang pasti masyarakat tetap setia dengan apa yang menjadi peninggalan nenek moyang mereka.

Read More