Kemarau, Petani Beralih Jadi Pengrajin Batu Bata

Hampir seluruh petani di Dusun Kepuh, Kelurahan Lalung, Kecamatan/ Kabupaten Karanganyar, beralih menjadi pengrajin batu bata selama musim kemarau. Pasalnya, sawah yang biasa mereka tanami padi telah mengering sejak dua bulan terakhir.

Minimnya saluran irigasi membuat sebagian besar area persawahan yang ada di sekitar Waduk Lalung itu tak mendapatkan suplai air. Beberapa petani yang berupaya membuat sumur pantek pun tidak berhasil mengeluarkan air. Oleh karena itu, selama ini, petani hanya mengandalkan guyuran air hujan untuk mengairi sawah mereka.

 “Hla mau bagaimana, sawahnya sudah kering enggak bisa diolah, jadi ya kami biarkan bera. Kelihatannya dekat waduk, tapi kami enggak mendapat jatah airnya. Bikin sumur juga enggak keluar air, soalnya mentok bebatuan,” ungkap salah seorang petani di Dusun Kepoh RT 003/ RW 003, Harsiam, 60, saat dijumpai di tepi Waduk Lalung, Selasa (1/10/2013).

Lantaran hal tersebut, Harsiam dan sebagian besar petani lainnya memilih beralih menjadi pengrajin batu bata. Terlebih, permintaan bahan bangunan itu tengah melonjak sejak dua bulan terakhir. Harga yang dibanderol pun cukup menjajikan keuntungan bagi petani.

 “Sekarang memang lagi laris, setiap habis membakar langsung laku. Harganya juga tinggi, seribu biji dijual Rp520.000, dulu enggak sampai segitu.”

Seorang petani lainnya, Saminem, 54, mengatakan hampir tidak ada satu pun warga Dusun Kepuh yang tidak membuat batu bata selama kemarau. Menurutnya, setiap pengrajin dapat menghasilkan 400 hingga 700 biji batu bata setiap harinya. Batu bata yang telah dijemur selama lebih kurang 20 hari, lantas mereka bakar.

 “Sekali membakar ya bisa mendapat 4.000 hingga 6.000 batu bata, biasanya langsung laku, soalnya sudah banyak yang mengantri pesanan,” ujar dia.

 Untuk bahan baku pembuatan bata, perajin biasa membeli tanah liat dari pemasok di luar Kelurahan Lalung seharga Rp80.000 setiap satu bak mobil pikap. Sebagian pengrajin juga mengambil tanah liat dari dasar waduk yang telah mengering. “Tapi ya enggak banyak ambilnya, soalnya berat menggendongnya, saya saja enggak kuat,” imbuh Saminem.

Read More

GAGAL NIKAHI HANTU: Polisi Ikut Bingung Cari Alamat Hantu Waduk Lalung

Kasus Suprapto warga Dusun Jetisnguwuh RT 003/RW 004 Desa Suruhkalang, Jaten, Karanganyar gagal menikahi Sri Wahyuningsih, akhirnya mendapat perhatian Polsek Jateng dan Karanganyar Kota.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, keluarga Suprapto tidak berhasil menemukan kediaman Sri Wahyuningsih yang berada tepat di pinggir Waduk Lalung, saat mengirimkan hantaran pernikahan.

Ketika ditemui, Rabu (31/10/2012), Suprapto mengatakan terdapat empat mobil mewah dan beberapa sepeda motor di rumah Sri. Saat diminta menunjukkan kediaman Sri yang dimaksudkan Suprapto, pemuda lulusan sekolah dasar (SD) itu menunjuk pohon beringin besar. Di bawah pohon beringin itu terdapat sendang.

“Warga menduga Sri adalah peri atau makhluk halus penunggu sendang pohon beringin,” ungkap Yudi Suharto, kerabat Suprapto yang juga diamini sejumlah warga Kepuh.

Peristiwa itu juga mendapat perhatian jajaran Polsek Jaten dan Karanganyar kota. Pada Selasa (30/10/2012) malam polisi dari dua Polsek itu telah mendatangi rumah Suprapto dan mengumpulkan informasi.

Kapolres Karanganyar, AKBP Nazirwan Adji Wibowo, melalui Kapolsek Karanganyar kota, AKP Joko Waluyono, membenarkan adanya informasi tersebut. Bahkan beberapa petugas polsek telah mengecek alamat yang ditunjukkan Suprapto dan keluarganya. “Tapi alamatnya hanya di pinggir Waduk Lalung, makanya kami juga bingung,” aku dia.

Read More

Waduk Lalung Mengering, 30 Hektare Padi Terancam Gagal Panen

Musim kemarau yang saat ini melanda membuat air Waduk Lalung, Karanganyar Kota mengering. Kedalaman air pun hanya tinggal 1 meter, sehingga mengancam lahan pertanian sedikitnya 30 hektare di sekitar waduk.
Kasie Trantib Kelurahan Lalung, Slamet Riyadi, mengatakan para petani sekitar waduk memang menggantungkan irigasi dari Waduk Lalung. Sehingga jika waduk mengering, praktis ancaman gagal panen menanti.
“Waduk mulai mengering sejak Juni lalu. Proses mengeringnya pun sangat drastis. Pada kondisi normal waduk bisa menampung air hingga 5 juta meter kubik. Sekarang airnya hanya tinggal sedikit, di tengah saja,” ujarnya, Rabu (5/9).
Lahan pertanian yang paling bergantung dengan Waduk Lalung adalah di sisi utara waduk. Saat normal air waduk dialirkan melalui bendungan dan sungai hingga sampai ke area sawah terjauh di sisi utara.
“Menyusutnya volume air waduk ini jelas berpengaruh dengan lahan pertanian. Dan saat ini baru memasuki 45 hari masa tanam, yang seharusnya selama 90 hari,” ujar Slamet.
Slamet menjelaskan, kondisi mengeringnya waduk kemungkinan akan berlangsung hingga akhir September nanti. Dirinya pun berharap musim penghujan segera datang agar pertanian tidak terganggu. “Usia masa tanam saat ini sebenarnya pada posisi tanaman padi sangat membutuhkan air. Kalau nanti sampai akhir September ini tak ada hujan, dipastikan waduk akan semakin mengering,” tambahnya.
Sementara, saat ini di pinggiran waduk yang mengalami kekeringan banyak ditumbuhi ilalang dan terlihat hamparan bebatuan. Warga di sekitar waduk pun menggali bebatuan itu selanjutnya dijual. “Biasanya batu-batu itu dipecah menggunakan palu, kemudian dijual,” ujar Slamet.

Read More