WhatsApp Image 2020-11-26 at 08.18.05 (1)

Memperingati Hari Jadi, Jalan Sehat Sambil Kenalkan Waduk Jlantah

Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengangkat garis star tanda dimulai jalan sehat di Waduk Jlantah, Jatiyoso

 

KARANGANYAR – Puncak peringatan hari jadi Kabupaten Karanganyar ke 103 dilaksanakan jalan sehat di Waduk Jlantah, Jatiyoso, Kamis (26/11). Kegiatan jalan sehat juga diikuti oleh PGRI, Forkopimda, Korpri, dan masyarakat desa setempat. Kegiatan dimulai dari Lapangan Sempon, Tlobo sampai Waduk Jatiyoso kurang lebih 3 KM.

Kegiatan jalan sehat di Jatiyoso tersebut juga berdoa semoga Pembangunan Waduk Jlantah lancar dan diharapkan tahun 2022 selesai. Sebentar lagi juga akan ada pembebasan tanah di beberapa blok. Sejauh ini, menurut Bupati Karanganyar tidak ada hambatan selama proses pengerjaan waduk kebanggan masyarakat Jatiyoso tersebut. “Kita itu bejo, satu daerah mendapatkan dua anggaran untuk pembangunan dua waduk sekaligus,” ujar Juliyatmono.

Dia menambahkan dibangunnya waduk Jlantah ini berarti akan mendatangkan keberkahaan karena air sangat penting untuk pengairan di wilayah Karanganyar. Yang lebih penting lagi, daerah ini akan menjadi tujuan wisata baru yang strategis. Ke depan Jatiyoso menjadi daerah kunjungan wisata. Dibandingkan waduk Gajah Mungkur, keindahaan waduk Jlantah sangat memakau karena berada di lerang Gunung Lawu. “Kita sudah punya modal terbuka, guyub rukun dan tentram. Sesuai dengan harapan dicanangkannya Life center Nusantara,” tambahnya.

Beberapa waktu yang lalu dari Pemirintah Provinsi akan menyanyikan lagu nasional dinyanyikan di kompleks candi cetho dan akan diputar di beberapa negara. Secara tidak langsung, nama Karanganyar akan menggema di seluruh dunia. Pihaknya berharap akan membawa dampak kemajuan untuk Karanganyar lebih baik,” tambahnya.

Di akhir acara ada pembagian dorprize tiga buah sepeda, lemari es dan hadiah lainnya. (hr/ard)

Read More
DSC_3660

Bupati Pesan Warga Terkena Ganti Rugi Pembangunan Waduk Jlantah Diminta Dibelikan Tanah Kembali

Bupati, BPN dan BBSBS hadir dalam musyawarah ganti kerugian dan penyampaian besaran nilai ganti untung pengadaan tanah bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar

KARANGANYAR – Warga Desa Karangsari, Kecamatan Jatiyoso diminta oleh Bupati Karanganyar untuk membeli tanah kembali, pasca mengetahui besaran ganti untung oleh tim independen penaksir harga tanah akibat pembangunan Waduk Jlantah. Pesan orang nomor satu tersebut disampaikan pada saat musyawarah ganti kerugian dan penyampaian besaran nilai ganti rugi pengadaan tanah pembangunan Waduk Jlantah di balai desa Karangsari, Kecamatan Jatiyoso (08/09).
“Saya juga minta tidak usah percaya kepada orang-orang yang mengaku punya kuasa. Jika bertanya kepada Bupati, camat atau kepala desa saja,” papar Juliyatmono.

Biasanya, tambah Bupati jika akan menerima uang seperti ini mengaku saudara. Jika ‘rekasa’ tidak ada yang mendekat tapi kalau ada uang terus mendekat. “Naksir harga adalah lembaga dengan memakai rumus, apa adanya. Saya ingatkan jangan lupa, jika sudah menerima nanti untuk disedekahkan sedikit agar rejeki tersebut barokah,” tambahnya

Sementara itu Kepala BBWSBS Agus Rudyanto mengatakan pembangunan Bendungan Jlantah merupakan proyek strategis nasional.

“Fungsi bendungan ini untuk air baku, irigasi supaya yang sebelumnya panen dua kali menjadi tiga kali setahun, mengurangi potensi banjir dan pariwisata,” katanya.

Agus juga menyebut pembangunan bendungan berada beberapa kabupaten di wilayah kerjanya yakni Karanganyar, Ponorogo, Pacitan, Bojonegoro dan Wonogiri. Ia berharap para pemilik tanah segera menyetujui ganti rugi.

“Semoga terdorong bisa melepaskan tanahnya. Kami enggak mengambil hak, tapi memberi kompensasi ganti untung,” katanya.

Kepala Kantor ATR/BPN Karanganyar Anton Jumantoro meminta warga mewaspadai oknum pembuat rusuh. “Jangan percaya orang-orang yang ingin mengelabui. Koordinasi hanya kepada satuan kerja. Jangan sampai tertipu,” katanya.

Desa Karangsari terpetakan di blok 38 dan 39 dengan luas total 28 hektare di 134 bidang. Area proyek juga mengenai wilayah Desa Tlobo. Adapun pembayaran ganti rugi fisik dihitung dari nilai ekonomis tanah, bangunan, tanaman. Sedangkan non fisik seperti kompensasi pemindahan tempat tinggal dan mata pencaharian. (hr/adt)

Read More
DSC_5874

Bakti Sosial Hari Jadi Polri, Forkompinda Naik Trail ke Waduk Jlantah

 

Bupati Karanganyar, Juliyatmono menyerahkan simbolis bantuan dalam rangka bakti sosial HUT Polri ke 74

 

KARANGANYAR – Menyambut hari jadi Polri ke 74, Polres Karanganyar mengadakan bakti sosial di sekitar waduk Jlantah Jatiyoso. Bupati dan jajaran Forkompinda naik trail untuk menuju lokasi di Desa Tlobo dan Sempon, Kecamatan Jatiyoso. Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Direktur Reskrimsus Polda Jawa Tengah, AKBP Djoko Julianto SIK, MH.

“Bakti sosial dalam rangka Ulang Tahun Polri ke 74 tahun. Negara tidak punya Polisi bakal kisruh karena korps kepolisian menjaga ketentraman 24 jam,” papar Bupati Karanganyar, Juliyatmono saat memberikan sambutan dihadapan warga Tlobo dab Sempon Jatiyoso.

Bupati berpesan kepada masyarakat untuk membantu polisi. Caranya untuk selalu menjadi polisi dalam dirinya sendiri. Maksudnya adalah selalu membuat aman, tentram dan nyaman dilingkungan masing masing. Jumlah penduduk Karanganyar sekitar 900.000 sedangkan jumlah polisi hanya 876 polisi. Berarti 1 polisi berbanding 1000 orang. “Mari bantu polisi dengan menciptakan aman dan tentram. Selain juga jangan melanggar hukum karena ini juga salah satu tugas kepolisian,” imbuhnya.

Mudah-mudahan ultah ke 74, Polisi makin hebat dan keren. Sebab polisi ada dan berada di tengah tengah masyarakat. Menurut Bupati, Pemeintah bakal susah jika tidak ada polisi dan TNI. Di kesempatan itu bupati mengucap syukur karena Jatiyoso tidak ada yang terkena Covid 19. Namun bupati meminta masyarakat jangan sembrono tetap memperhatikan protokoler kesehatan. Yakni selalu memakai masker, jaga jarak dan cuci tangan. “Mulai sekarang tanam. “Mari semua menanam tanaman jahe, kunyit, dan kunir. Sebab produk tersebut yang dicari banyak orang. Semoga warga Jatiyoso sehat semua,” bebernya. (hr/adt)

Read More
WhatsApp Image 2019-12-10 at 08.01.17

Pembebasan Lahan Pembangunan Waduk Jlantah di Desa Tolobo Dan Desa Karangsari, Kecamatan Jatiyoso.

Read More

Antisipasi Kekeringan, Pemkab Bakal Bangun 2 Waduk

Pemkab Karanganyar segera membangun dua waduk untuk mengatasai kekeringan di sejumlah wilayah. Kedua waduk itu akan dibangun pada pertengahan 2013 dan 2014.

Dua waduk itu adalah yakni Waduk Jlantah di Kecamatan Jatiyoso dan Waduk Gondang di Kecamatan Kerjo. Pembangunan Waduk Gondang diperkirakan dimulai pertengahan 2013. Waduk ini mampu mencukupi kebutuhan air bagi 4.630 hektare lahan pertanian di sekitar Kecamatan Kerjo. Sementara Waduk Jlantah yang bakal dibangun mulai 2014 bakal mencukupi kebutuhan air sekitar 387 hektare lahan pertanian di Karanganyar dan sebagian Wonogiri. Detail Engineering Design (DED) tengah direvisi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Karanganyar, Priharyanto, mengatakan DED pembangunan Waduk Jlantah telah selesai dibuat Bappeda Karanganyar pada 2011 lalu. Selanjutnya, desain awal Waduk Jlantah disempurnakan tim teknis dari BBWSBS. “Anggarannya belum bisa dipastikan, seluruhnya berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum karena APBD Pemkab Karanganyar tak mampu membiayai,” katanya.

Waduk Jlantah bakal memasok air ke lahan pertanian di beberapa wilayah seperti Jatiyoso, Jumapolo, Jatipuro, Jumantono dan sebagian wilayah Wonogiri. Lahan pertanian di wilayah tersebut dipastikan kering saat musim kemarau. Dengan dibangunnya waduk maka para petani tetap bisa bercocok tanam selama musim kemarau. Pihaknya berkoordinasi dengan BBWSBS juga sedang menyurvei ke lokasi pembangunan Waduk Jlantah untuk mengukur kedalaman waduk.

Berdasarkan DED, air Waduk Jlantah juga bakal dimanfaatkan untuk memasok air bersih ke permukiman penduduk. Kapasitas air bersih di waduk tersebut 150 liter/detik. “Kemungkinan nanti yang mengelola Perum Jasa Tirta, namun kami belum tahu apakah PDAM Karanganyar mau membeli air bersih tersebut atau tidak,” paparnya.

Seorang petani asal Jumantono, Kayitno, meminta agar pembangunan Waduk Jlantah dipercepat. Pasalnya, pengolahan lahan pertanian di wilayahnya terkendala pasokan air dari irigasi yang cukup minim. Saat musim kemarau, para petani membiarkan sawah mereka tidak ditanami karena tidak adanya pasokan air. Mereka baru mulai bercocok tanam kembali ketika musim penghujan. “Karakter tanah di sini berbeda dengan wilayah lainnya yang selalu kering saat musim kemarau. Tidak sedikit para petani yang beralih profesi sebagai pembuat bata atau pedagang selama musim kemarau,” tambahnya.

Read More