WhatsApp Image 2024-07-23 at 14.03.53

Dusun Kendal Kecamatan Jatipuro Kembali Selenggarakan Upacara Adat Tahunan Wahyu Kliyu

Karanganyar – Dusun Kendal, Kecamatan Jatipuro, kembali menyelenggarakan upacara adat tahunan Wahyu Kliyu Sebaran Apem pada Senin, (22/7/2024). Acara yang dimulai pukul 22:00 WIB itu berlangsung meriah, dengan penampilan Petruk dan Bagong dari kelompok Campuran Sari Sang Sadewa. Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat turut hadir dalam acara tersebut, termasuk Penjabat Bupati Karanganyar, Timotius Suryadi S.Sos., M.Si.,. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara serta menekankan pentingnya pelestarian tradisi yang telah berlangsung sejak tahun 1844 ini. Sebagai bentuk dukungan dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar, beliau juga menyerahkan bantuan berupa uang untuk mendukung penyelenggaraan upacara Wahyu Kliyu.

Upacara Wahyu Kliyu berawal dari sejarah bencana tanah retak yang menimpa Dusun Kendal di masa lalu. Untuk memohon keselamatan, masyarakat setempat melaksanakan upacara dengan menyebarkan apem, sejenis kue yang melambangkan persatuan dan ketentraman, dan dilaksanakan setahun sekali pada malam bulan purnama tanggal 15 bulan Muharam (Sura). Istilah “Wahyu Kliyu” berasal dari bahasa Arab “Yaqayu, Yaqayum,” yang berarti “Yang memberi kekuatan,” atau “Wahyu kehidupan.”

Upacara ini bertujuan untuk memohon kepada Allah SWT agar masyarakat Dusun Kendal dan sekitarnya diberikan anugerah, kekuatan lahir dan batin, serta dijauhkan dari bencana dan mala petaka, sehingga kehidupan mereka menjadi aman, tenteram, dan sejahtera.
Ritual upacara ini melibatkan semua peserta, dengan melempar apem ke hamparan daun pisang sambil mengucapkan “Wahyu Kliyu”, sebagai simbol permohonan keselamatan dan berkah bagi seluruh masyarakat Dusun Kendal. (Diskominfo)

Read More
DSC_4299

Perayaan Malam Puncak Upacara Adat Wahyu Kliyu

Read More
DSC_0055

Wahyu Kliyu, Upacara Adat Sedekah Apem

kominfo

Asisten Pemerintah Setda Karanganyar Bachtiyar Syarif (Kaos Hitam Tengah) saat membuka Kirab Budaya Grebeg Lawu 2017 di Panggung Terminal Jatipuro, Jumat Sore (06/10)

Dusun Kendal Desa Jatipuro Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar memiliki upacara adat yang dilaksanakan setahun sekali setiap tanggal 15 bulan Sura (Muharam). Wahyu Kliyu “sedekah Apem” dilaksanakan dengan cara saling melempar Kue Apem yang dilakukan oleh warga Kendal.

Wahyu Kliyu merupakan upacara adat yang dilakukan masyarakat Kendal untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT supaya warga mendapatkan anugerah dan memiliki kekuatan lahir batin sehingga dihindarkan dari bencana dan mala petaka, yang akan berdampak kepada masyarakat Kendal yang aman, tentram, dan sejahtera.

Kue Apem yang dimaknai dari bentuknya yang bulat, memiliki arti lambang pengayoman, peneduh, dan penyejuk sekaligus memupuk rasa persatuan dan kesatuan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Camat Jatipuro Eko Budi Hartoyo mengatakan ada yang beda dengan pelaksanaan Wahyu Kliyu tahun ini. Jika tahun sebelumnya pelaksanaan Wahyu Kliyu hanya pada malam harinya, maka tahun ini diawali dengan prosesi kirab budaya Grebeg Lawu 2017 dari 4 Kecamatan sekitar seperti Kecamatan Jumantono, Kecamatan Jumapolo, Kecamatan Jatiyoso dan Kecamatan Jatipuro.

Hal tersebut dimaksudkan untuk menggiatkan potensi wisata yang ada sekaligus melestarikan budaya yang telah turun temurun dilakukan oleh leluhur.

“Ritual Wahyu Kliyu sendiri akan diselenggarakan di Dusun Kendal Lor nanti malam jam 12. Sebelumnya akan diadakan pertunjukan Wayang Orang RRI Surakarta dan Wayang Kulit semalam suntuk”, kata Eko Budi

Pelaksanaan Kirab Budaya Grebeg Wahyu Kliyu, Jumat Sore (06/10) merupakan pertama kali penyelenggaraannya di Kecamatan Jatipuro, untuk itu Eko Budi menambahkan nantinya kirab seperti ini akan diselenggarakan tiap tahun dan diharapkan semakin meriah. Demikian Diskominfo (ad/adt)

Read More
aku copy

Upacara Adat Mondosiyo, Ayam Jadi Rebutan

Seekor ayam jadi rebutan puluhan orang di upacara Mondosiyo, Selasa (04/08) di Dusun Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu

Seekor ayam jadi rebutan puluhan orang di upacara Mondosiyo, Selasa (04/08) di Dusun Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu

Karanganyar, Rabu (05/08/2015)
Upacara adat Mondosiyo yang diadakan warga masyarakat lereng lawu, di Dusun Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu sudah menjadi tradisi turun temurun.

Menurut warga setempat, upacara Mondosiyo sudah ada sejak puluhan tahun, sebagai ungkapan rasa syukur hari jadi dusun Pancot.

Kepala Lingkungan (Kaling) Dusun Pancot, Sulardiyanto menuturkan, upacara adat itu diadakan setiap tujuh bulan. Tradisi ini diselenggarakan setiap Selasa kliwon wuku Mondosiyo.

“Ini merupakan rasa syukur bagi warga. Diawali dengan atraksi reog yang diarak sekitar 300 meter ke lokasi acara,” kata Sulardiyato, Selasa (04/08) sore.

Ribuan warga sekitar sejak jam 15.00 WIB, sudah memadati sepanjang gang kecil menuju Balai Pasar. Tak hanya dari desa setempat, namun juga ada yang datang dari Dusun Somokadu, Desa Nglebak, Kecamatan Tawangmangu.

Terdapat sembilan reog yang turut serta memeriahkan acara tersebut. Kemudian setelah sampai di depan Balai Pasar, satu per satu reog memperlihatkan atraksi.

Setelah semua sudah mendapat giliran atraksi, dilanjutkan upacara dengan menyiram air tape di situs Batu Gilang setelah diambil dari Punden Bale Patokan.

Menariknya, setelah itu ribuan warga dengan serius mengamati atap joglo untuk menangkap empat pasang ayam. Hewan unggas itu sengaja dilempar di atas atap untuk diperebutkan jika turun.

Berbagai usaha dilakukan agar bisa menangkap ayam itu tanpa menaiki atap rumah. Mereka hanya boleh berpegangan pada pinggir atap saat mencoba menangkap ayam itu.

Dalam adat Mondosiyo, ayam-ayam itu diberikan pemilik sebagai nazar atas keberhasilan yang diraih dengan menyerahkan satu pasang ekor ayam (jantan dan betina). Namun bagi warga yang berhasil menangkap ayam tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi, tetapi hanya dipelihara. pd

Read More

Upacara Adat Wahyu Kliyu

Malam itu suasana dusun Dusun Kendal, Jatipuro, Karanganyar, Jawa Tengah ramai oleh hiruk pikuk di rumah seorang tokoh masyarakat setempat.

Pada hari biasa, dusun itu hanyalah bagian dari sebuah wilayah sepi di kaki selatan Gunung Lawu. Letaknya yang jauh dan akses jalan yang rusak serta minim penerangan membuat orang luar enggan berkunjung ke sana.

Namun suasana berbeda akan terasa pada malam ke 15 bulan Sura, penanggalan Jawa. Tiap tahunnya, warga Dusun Kendal melaksanakan Upacara Adat “Wahyu Kliyu”. Keramaian terjadi sejak siang hari dan mencapai puncaknya pada sekitar tengah malam, ritual melempar apem oleh masyarakat setempat bertujuan memohon ridho allah agar mendapat anugerah, kekuatan jauh dari bencana dan mala petaka.

Ada legenda lokal yang meyakini tradisi ini merupakan solusi atas musim paceklik dan bencana yang melanda dusun Kendal ratusan tahun lalu. Pernah suatu ketika warga desa lalai untuk melaksanakan upacara ini, dan paceklik pun terjadi.

Istilah “Wahyu Kliyu” sendiri juga diyakini berasal dari ucapan dzikir “Yaa Hayyu Ya Qayyuum” yang artinya permohonan keselamatan kepada Tuhan. Dan kemudian tradisi ini diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya di mana tidak ada yang berani melanggarnya.

Jaman sudah berganti, kebudayaan juga telah berkembang. Namun hanya hingga saat ini kearifan lokal ini masih dipercaya mampu menjawab tantangan kehidupan alam tandus di Jatipuro. Dan yang pasti masyarakat tetap setia dengan apa yang menjadi peninggalan nenek moyang mereka.

Read More

Wisata Budaya Upacara Mondosiyo

Gunung Lawu dikenal sebagai wilayah yang sakral, penuh dengan misteri alam ghaib, sehingga menjadi pusat kegiatan ritual berbagai “laku” dan upacara adat “kejawen” yang paling sempurna di Pulau Jawa ini.

Hampir setiap perbukitan sepanjang lereng barat dan utara Gunung Lawu ditemukan berbagai “petilasan” dan “pesarean” para tokoh spiritual jawa penganut kepercayaan warisan luhur bangsa.

Salah satu upacara tradisi “kejawen” yang hingga kini diyakini masih sangat bertuah dan mampu membawa berkah berlimpah-limpah adalah Upacara Adat Mondosiyo.

Upacara ini dilakukan oleh masyarakat suku jawa aseli di Dusun Pancot, Kelurahan Blumbang dan Desa Tengklik Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar, pada setiap hari Selasa Kliwon Wuku Mondosiyo.

Menurut legenda yang dituturkan secara turun temurun, upacara adat ini dilaksanakan dalam rangka memperingati kemenangan masyarakat adat, yang telah berhasil mengalahkan dan menghancurkan perilaku kekejian dan kebiadaban nafsu sang Prabubaka, titah raksasa pemakan manusia. Wujudnya melalui doa adat yang dipanjatkan, dan sesaji tradisi yang dipersembahkan masyarakat dan semua peserta upacara adat Mondosiyo. Tujuannya agar lolos dari malapetaka serta terbebas dari “sukerta”, bahkan memperoleh kedamaian dan kemakmuran serta kemudahan hidup bersama dalam masyarakat secara terus menerus.

Tata Upacara ini dimulai pada hari Minggu Pon. Dua hari sebelum puncak Upacara Mondosiyo berlangsung, msyarakat setempat mengumpulkan beras untuk diolah atau dimasak secara tradisiona ,menjadi makanan yang disebut “gandhik”, serta aneka makanan khusus lainnya sebagai perlengkapan “sesaji tradisional”. Di samping itu, secara gotong royong masyarakat setempat membeli seekor kambing dan sejumlah ayam kampung sebagai “sesaji pokok”.

Hari berikutnya Senin Wage, keseluruhan perlengkapan “sesaji tradisi” dan berbagai “busana tradisi” ditempatkan atau disanggarkan di rumah sesepuh adat.

Pada pukul 7 malam (malam Selasa Kliwon), beberapa orang perangkat adat menabuh “bende” mengelilingi tempat-tempat yang dianggap keramat, sebagai pemberitahuan akan diselenggarakan upacara adat Mondosiyo, dengan harapan agar para danyang hadir serta merestui perhelatan tersebut. Selanjutnya menjelang tengah malam diadakan tirakatan dan renungan sesuai adat setempat.

Hari H, Selasa Kliwon adalah Puncak Upacara Adat Mondosiyo.Pukul 07.00 pagi para sesepuh adat dan tokoh masyarakat membawa seekor kambing kendit dan ayam ke punden Bakpatokan untuk disembelih sebagai sesaji.Pukul 10.00 semua bahan sesaji sudah disiapkan di punden Bakpatokan.Pukul 13.00 diperdengarkan “gendhing Manyar Sewu” Pukul 16.00 Upacara Mondosiyo dilangsungkan dengan dipimpin oleh sesepuh adat.Pada puncak acara ini diperebutkan ayam hidup, serta penyiraman “air badheg” bagi masyarakat atau pengunjung. Bagi yang dapat atau bisa menangkap ayam akan mendapat keberuntungan.

Read More