DSC_0733e

Festival Telaga Madirdo 2015

DSC_0733e

WAKTU

Sabtu-Minggu, 1-2 Agustus 2015

Jam 08.00 WIB – sampai selesai

Obyek Wisata Telaga Madirdo, Desa Berjo, Ngargoyoso

PESERTA STAND UMKM

Diikuti oleh 10 kelompok kluster wisata, 5 kelompok PNPM, dan masyarakat umum. Stand UMKM dibuka mulai jam 08.00 WIB – 22.00 WIB tanggal 1-2 Agustus 2015

RANGKAIAN ACARA FESTIVAL

HARI SABTU, 1 AGUSTUS 2015

Waktu Acara
07.00-08.00 Persiapan Peserta Stand UMKM
08.00-08.30 Peserta Jalan Santai Kluster Wisata Finish di Telaga Madirda
08.30-09.00 Pra Pembukaan
1. Karawtitan Santisworo / Karawitan Putri Puton
2. Tek-tek Puntukrejo (Rombongan Wabup mulai datang)
3. Kesenian Sabdo Palon Noyo Genggong
09.00-selesai Seremonial Pembukaan Festival Telaga Madirdo
1. Pembukaan
2. Laporan Ketua Panitia
3. Ucapan Selamat Datang oleh Camat Ngargoyoso
4. Sambutan dan Pembukaan oleh Wakil Bupati Karanganyar
5. Tampilan Kesenian Sabuk Janur
6. Tampilan Kesenian Jimbe Munggur
7. Tampilan Kesenian Tari-tarian Kluster Wisata
19.00-selesai 1. Karawitan Anak Nglegok
2. Jimbe Mungkur
3. Cerita Rakyat dalam bentuk Teater Desa Ngargoyoso
4. Pembukaan
5. Ucapan Selamat Datang
6. Sambutan Bupati dan Pembacaan Narasi Tari Kolosal
7. Pementasan Tari Kolosal

HARI MINGGU, 2 AGUSTUS 2015

Waktu Acara
09.00 Lomba Mewarnai dan Menggambar
10.00 Hiburan Koes Plus
19.00 Penutupan Festival Telaga Madirdo dilanjutkan Wayang Kulit

 

Read More
DSC_0038 copy

“Sabtu Belanja” Di Resmikan

Karanganyar, Senin (05/01/2015)

DSC_0038 copy

Bupati Karanganyar Juliyatmono (baju batik, depan) saat melihat dagangan PKL Sabtu belanja, di kawasan alun-alun Kabupaten Karanganyar, Sabtu (03/01)

Pemerintah Kabupaten Karanganyar resmi membuka “Sabtu Belanja” di kawasan alun-alun setempat, Sabtu (03/01).

Sabtu belanja merupakan kebijakan baru bupati sebagai pengganti Pasar Jumat. Pasalnya, Pemkab memutuskan untuk mengembalikan trotoar dan jalur lambat yang sebelumnya untuk pedagang menjadi jalur lalu lintas bagi pengguna jalan, tepatnya pejalan kaki.

Oleh karena itu, pasca pembangunan citywalk sepanjang jalur lambat di depan Bank Jateng sampai Bank BRI, para pedagang pun beralih ke pelataran santai (plasa) yang dibangun di area alun-alun. Hasil pendataan Pemkab menunjukkan, jumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menjadi penjual dalam Sabtu Belanja itu berjumlah 285 orang.

Sebelum diresmikan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan IMKM) Karanganyar sebagai penanggung jawab program melakukan pengundian tempat berdagang terhadap para PKL, Rabu (31/12) lalu.

Dalam sambutannya, bupati mengatakan, proses pembangunan penataan kawasan alun alun hampir selesai. Sehingga para pedagang bisa mengunakan lokasi yg telah selesai untuk berdagang. “Pelaku UMKM Pasar Jumat, pindah berdagang di hari Sabtu. Dengan sebutan Sabtu Belanja,” katanya di sela-sela peresmian.

Kepala Disperindagkop.dan.UMKM Karanganyar, Nur Halimah menambahkan nantinya akan melakukan penataan ulang. Pasalnya, masih ada sekitar 60 PKL yang belum mendapatkan lapak. Tidak hanya itu, pihaknya mencatat ada sejumlah PKL yang belum mendaftarkan ke dinasnya. “Ya nanti kita akan tata kembali. Perlu kami tegaskan, PKL yang ada di sini mendapatkan kartu identitas PKL Sabtu Belanja. Jadi, kami bisa memantau berapa PKL yang belum mendaftarkan diri,” tegasnya.

Bagi masyarakat yang ingin berbelanja murah, bisa mendatangi plasa Alun Alun Karanganyar setiap hari Sabtu. Di sana, ratusan pedagang menawarkan sejumlah barang dengan harga terjangkau dan pastinya bis ditawar. Jenis dagangan yang tersedia antara lain pakaian, celana, jaket di sebelah barat. Sedangkan sebelah timur terdapat PKL tanaman, buah, handycraft, makanan, bumbu dapur. pd

Read More
DSC_0071 (FILEminimizer)

Pemerintah Kabupaten Karanganyar Kebut 10.000 Wirausahawan

DSC_0071 (FILEminimizer)

Bupati Karanganyar Yulilatmono Saat Membuka Seminar Sehari FKPCTI, Balai Desa Cangakan (08/01)

Bersama memajukan Karangayar adalah visi misi Bupati dan Wakil Bupati terpilih Kab. Karangayar Tahun 2013-2018. Lima program yang terus di galakkan, salah satunya adalah menciptakan 10.000 wira usaha termasuk untuk kaum difable (kekurangan fisik). Komunitas difable yang tergabung dalam Federasi Kesejahteraan Penyandang Cacat Tubuh Indonesia (FKPCTI) Kab. Karanganyar mengadakan Seminar yang bertajuk “ Peningkatan potensi Diri Wira Usaha Difable Karanganyar”, Rabu (08/01) di Kalurahan Cangakan Kab. Karanganyar. Ketua Panitia Penyelenggara Haryanto Tunjung dalam laporannya menyampaikan bahwa Seminar ini bertujuan untuk memberikan bimbingan kesejehteraan difable dalam berwira usaha. “ Difable yang tergabubg dalam FKCPTI ini kesemuanya mempunyai skill/keterampilan. Ada yang membuka usaha sebagai tukang servis jam,elektronik, sol sepatu, menjahit, dan bekerja di beberapa Perusahaan. Di daerah Jumantono ada beberapa difable bekerja sebagai pembuat kembang api. Kami disini mengharap kepada Bupati terpilih agar lebih memperhatikan kaum difable terlbih kami telah terbentuk dalam kelompok wirausaha,” jelasnya.

Selanjutnya Bupati Karanganyar Drs. H. Juliatmono dalam arahannya sekaligus membuka Seminar mengatakan bahwa Disdukcapil, Dinas Sosial,Dinas Desperindagkop dan UMKM Kab. Karanganyar untuk mendata para difable untuk keseluruhan. “ Pokoknya dinas yang telah saya tunjuk untuk segera mendata personil difable, jangan ada yang kecer/terlewat. Data nama, alamat, anakanya berapa, usahanya apa dan modal yang diperlukan berapa? Ini tolong segera di data karena ini untuk mengetahui keberadaan keluarga khususnya difable.

Jangan pernah menyerah terlebih lagi mengeluh, semua orang diberikan kelebihan. Fisik boleh kurang tetapi semangat hidup terus maju tetap selalu berfikir optimis. Bagi yang sudah berkeluarga terus memotivasi anak-anaknya agar menjadi anak yang mandiri, maju dan sukses, Hidup itu harus penuh harapan karena itu adalah do’a”, pesan Bupati saat memotivasi kaum Difable. “ kaum difable yang tergabung dalam kelompok wira usaha ini akan kami berikan modal sesuai dengan usaha yang digelutinya dengan harapan dari modal usaha itu akan menghasilkan uang sehingga dapat memajukan usahanya tsb. Kami tekankan lagi, kami memberikan modal untuk usaha bukan untuk konsumtif,” terang Bupati. ad+in

Read More
DSC_0013

Harga Bawang Putih Naik Tajam

Harga Bawang Putih dan Cabe naik tajam

Harga bawang putih dan cabe naik tajam seperti di Pasar Jungke, Karanganyar.

Karanganyar, Rabu (27/02/2013).

Harga bawang putih di pasaran mengalami kenaikan cukup tajam selama sepuluh hari terakhir. Hal itu menyebabkan komoditas lokal tersebut menjadi sulit dijangkau di pasaran.

Dari pantauan di sejumlah pasar, Selasa (26/2), harga yang semula hanya kisaran Rp. 12 ribu kini melonjak hingga Rp 35 ribu per kilonya. Untuk jenis bawang putih dengan kualitas rendah saja harganya sudah berkisar Rp 32.000 per kilonya. Sementara jenis bawang putih dengan kualitas bagus per kilonya bisa mencapai Rp 38 ribu lebih. Sementara harga tingkat pengecer, per kilonya sudah mencapai Rp 40 ribu lebih.

Seperti di Pasar Jungke, saat ini harga bawang putih paling mahal sudah mencapai Rp 35 ribu per kilonya. Dari sana, para pedagang yang kulakan biasanya menjual ke pelanggan sekitaran Rp 33 ribu. “Dibandingkan awal tahun lalu, kenaikan harga bawang dalam sepuluh hari terakhir ini terbilang tinggi. Kalau dulu, harga bawang paling tinggi hanya sekitar Rp 12 ribu saja. Tetapi sekarang naiknya mencapai dua hingga tiga kali lipat,” tutur seorang pedagang di Pasar Jungke, Suparmi.

Pedagang lainnya, Suminah mengutarakan kenaikan harga bawang ini hampir merata di seluruh pasar. Akibatnya stok bawang putih menjadi turun dalam beberapa pekan terakhir ini. “Karena harganya masih belum stabil dan terus melonjak, kami pun tak berani ambil banyak. Daripada ambil banyak nanti tidak laku lebih baik jualan dengan stok sekadarnya saja dahulu,” paparnya.

Selain itu, di Pasar Tegalgede, Darwati menambahkan kenaikan harga bumbu dapur pokok ini tidak hanya berlaku bagi bawang putih saja. Komoditas cabe rawit pun kini harganya sudah mencapai Rp 30 ribu per kilonya. Sementara untuk cabe rawit hijau, harganya masih sekitar Rp 20 ribu. “Kenaikan harga cabe ini sudah berlangsung sejak sebulan terakhir ini,” tukasnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disperindagkop dan UMKM) Karanganyar, Utomo Sidhi membenarkan kenaikan tersebut. Menurutnya kenaikan harga bawang putih ini dipicu oleh gagal panen di Tawangmangu. “Hujan yang turun terus menerus beberapa waktu terakhir ini menjadi faktor utamanya. Kondisi ini sangat merusak stabilitas produksi komoditas bawang,” ungkapnya.

Kegagalan produksi ini, lanjut Utomo, telah terjadi sejak masa puncak panen bawang pada kurun September sampai akhir Oktober kemarin. Saat itu para petani sudah berupaya melakukan penanaman kembali namun mengalami kegagalan. “Karena itu berimbas pada stok di pasaran, banyak pedagang yang akhirnya memilih untuk mengambil stok dari luar daerah,” tandasnya.pd

Read More

Brownis Cinta, Berawal dari Cinta, Jadi Primadona Warga

Fauzi Yunianto memperlihatkan brownis cinta, Rabu (13/02)

Fauzi Yunianto memperlihatkan brownis cinta, Rabu (13/02)

Karanganyar, Kamis (14/02/2013). Sebuah dapur salah satu rumah di Badranasri RT 2/ RW IX Cangakan, Karanganyar terlihat sibuk, Rabu (13/2). Sejumalah bahan makanan seperti tepung terigu, telur, margarin, coklat, dan lainnya terlihat menggunung di salah satu sisi sudut ruangan. Saat dicermati lebih teliti, nampak pula sepasang tangan yang asyik mencampur semua bahan-bahan tersebut di sebuah baskom. Sesekali dia menambahkan tepung terigu lantaran adonan terlalu lembek.

Dialah Puspita Sari, salah seorang pemilik Brownis Cinta yang kini tenar di Karanganyar, Solo, Boyolali, Klaten, dan lainnya. Dia begitu sibuk melayani pesanan para pelanggan. Di sampingnya, terlihat suaminya Fauzi Yunianto tak kalah sibuknya. Lelaki berpakaian kaos kuning dengan krah hitam terlihat mondar-mandir yang menandakan jika tengah mengatur usaha yang dirintis dengan istrinya sejak Agustus 2012 itu. Ada yang menarik dari brownis itu. Kenapa diberi nama Brownis Cinta? Usut punya usut, nama itu diambil karena menjadi hadiah dari perkawinan mereka.

“Dua bulan setelah menikah, yakni Agustus 2011 kami memulai usaha. Kenapa disebut cinta? Karena ini berawal dari cinta kami dan saat kali pertama di-launching bentuk bronis adalah love,” kata Fauzi.

Dia menuturkan jika usaha yang kini lumayan sukses itu sejatinya tidak selalu berjalan mulus. Di awal usahanya, dia bersama istri kesulitan dalam hal pemasaran. Betapa tidak, dia hanya menggunakan sistem titipan ke sekolah-sekolah. Promosi pun hanya dilakukan dari mulut ke mulut para pelanggannya dari Karanganyar, Solo, Wonogiri, dan Klaten. “Biasanya akhir tahun mereka ke sini dan dibawa ke daerahnya masing-masing. Lalu mereka mulai menyebarkan keberadaan kami kepada teman-temannya hingga saat ini,” ujarnya.

Dalam sehari, dirinya bersama lima orang pekerja dapur bisa menghasilkan puluhan brownis. Harganya pun bervariasi, tergantung jenis dan ukurannya, berbicara soal varian, Browis Cinta menawarkan tujuh varian, yakni cinta original, hitam putih, oven with almond, keju, mini, mandarin, kentang.

Disinggung soal permodalan, dirinya pun mengaku tidak lagi mengalami kendala. Sejak berdiri, Fauzi dan istrinya mengandalkan uang pribadi dan beberapa pinjaman. Namun, sekarang ini Pemkab Karanganyar melalui Dinas Perindustrian Perdagangan  Koperasi dan Usaha Kecil Mikro Menengah (Disperindagkop dan UMKM) membantunya. Selain mendapatkan kucuran kredit dengan bunga ringan, binaan dari Disperindagkop dan UMKM itu juga mendapatkan sejumlah arahan melalui pelatihan-pelatihan.

 

.pd

Read More

Rencana Umum Pengadaan Barang/ Jasa Perubahan Tahun Anggaran 2012 DISNAKKAN & DISPERINDAGKOP UMKM Kabupaten Karanganyar

Berdasarkan Prepres 54 Tahun 2010, dengan ini Pengguna Anggaran SKPD di Kabupaten mengumumkan Rencana Umum Pengadaan Barang/ Jasa Perubahan Tahun Anggaran 2012 untuk diketahui masyarakat dan seluruh pihak yang berkepentingan.

Dwonload: DISNAKKAN & DISPERINDAGKOP UMKM 

Read More

Pedagang Buah Depan Mal Luwes Segera Direlokasi

Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Karanganyar segera merelokasi enam pedagang buah di depan mal Luwes yang kiosnya terbakar beberapa waktu lalu. Pelaksana Tugas Harian (Plh) Disperindagkop dan UMKM Karanganyar, Larmanto, mengatakan saat ini pihaknya masih mencari tempat berdagang yang baru untuk keenam pedagang buah tersebut. “Kami masih membahas soal relokasi dengan beberapa instansi terkait,” ujarnya, Selasa (9/10).
Diungkapkannya, relokasi yang akan dilakukan juga akan melihat kepentingan para pedagang buah yang bersangkutan. Sehingga para pedagang tidak perlu khawatir bakal ditinggal pembelinya. “Tempat yang akan kami sediakan pasti akan tetap bisa dijangkau oleh para pembeli setianya,” ujar Larmanto.
Diakuinya, saat ini masih terus menyurvei lokasi yang akan dijadikan tempat relokasi para pedagang buah. Tempat relokasi nantinya juga bakal didiskusikan dengan para pedagang.
Kepala Satpol PP Karanganyar, Widarbo, menambahkan akan tetap menertibkan para pedagang buah yang terdapat di depan mal Luwes meskipun tidak terjadi insiden kebakaran. Saat ini Satpol PP bersama dengan Disperindagkop, Dishubkominfo, dan Bappeda masih terus membahas relokasi tersebut. “Untuk saat ini kami memang belum melibatkan para pedagang buah tersebut secara langsung untuk membahas lokasi relokasi,” ujar Widarbo.
Menurutnya, dari hasil pembahasan antardinas untuk sementara lokasi relokasi di daerah Terminal Papahan. Di lokasi tersebut untuk saat ini dianggap paling memungkinkan. “Lokasinya di Terminal Papahan, menghadap ke arah timur. Itu rencana sementara ini, karena belum mendapatkan lokasi lain,” katanya.
Widarbo mengaku, sebelum terjadi kebakaran kios buah tersebut, pihaknya sudah sempat meminta kepada para pedagang buah untuk berhenti berjualan. “Sejak sebelum terbakar kami sudah meminta para pedagang untuk pindah, tetapi mereka masih ngeyel,” tambahnya.
Untuk kios pedagang buah tersebut, menurut Widarbo, rencananya akan disiapkan tenda seperti di Pasar Jumat di depan Alun-alun Karanganyar.

Read More

Rp 15 Miliar Diajukan untuk Revitalisasi Pasar Jongke

Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Disperindagkop dan UMKM) Karanganyar akan mengajukan anggaran sebesar Rp 15 miliar untuk merevitalisasi total Pasar Jongke. Perencanaan revitalisasi sudah sampai pada tahap penyusunan detail enginering design (DED). Karena keterbatasan lahan, pasar yang saat ini ditempati lebih dari 900 pedagang itu akan dibuat dua lantai.
Kepala Disperindagkop dan UMKM Karanganyar, Sundoro, menjelaskan rencana revitalisasi sudah lama. Hal ini karena kondisi pasar yang dinilai sudah tidak sesuai dengan laju perkembangan lingkungan sekitar pasar. “Kalau idealnya itu sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar. Kalau perkembangan lingkungan sekitar lamban, maka revitalisasi itu bisa lama. Tapi di sekitar Pasar Jongke termasuk cepat dan ini sudah waktunya untuk direvitalisasi,” paparnya, Sabtu (15/9).
Untuk anggarannya, Sundoro mengaku angka Rp 15 Miliar yang diajukan pada APBD 2013 itu dinilai layak untuk membangun pasar yang sudah lebih dari 10 tahun terakhir belum pernah direvitalisasi. “Nanti kami mengajukannya sebesar Rp 15 miliar, tetapi berapa yang disetujui kami belum tahu,” tandasnya.
Saat ini Disperindagkop sudah melakukan penjaringan kepada para pedagang yang bakal menempati pasar. Sementara untuk DED sudah diselesaikan sejak beberapa waktu lalu. Hanya saja, Sundoro belum berani melangkah untuk menyosialisasikan revitalisasi ini kepada para pedagang. Alasannya, hal ini baru rencana, sehingga dikhawatirkan justru akan membuat resah para pedagang.
Sementara, karena keterbatasan lahan yang tersedia, rencananya pasar yang bersebelahan dengan Terminal Jongke ini akan dibangun dua lantai. Disinggung mengenai dampaknya yang bisa membuat kondisi pasar sepi, Sundoro mengaku sudah memperhitungkannya. “Lha mau bagaimana lagi, karena memang lahannya tidak ada. Kalau ada (lahan) yang kami buat satu lantai,” tutur Sundoro.

Read More

REVITALISASI PASAR: Pasar Jungke Bakal Direvitalisasi

Pemkab Karanganyar bakal merevitalisasi Pasar Jungke pada 2013 mendatang. Anggaran yang dibutuhkan untuk merevitalisasi pasar tersebut senilai Rp15 miliar.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Karanganyar, Sundoro, mengatakan pihaknya bakal memprioritaskan revitalisasi Pasar Jungke karena kondisinya cukup memprihatinkan. Kios maupun los yang digunakan para pedagang tidak layak untuk berjualan. “Kondisinya memprihatinkan makanya mendesak untuk direvitalisasi. Memang usianya sudah tua, bahkan 10 tahun tidak ada perbaikan,” katanya saat ditemui.

Menurutnya, Detail Engineering Design (DED) telah dibuat Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Karanganyar. Pihaknya bakal mengajukan proposal anggaran melalui dana APBD 2013. Tak hanya itu, selama ini, pihaknya juga telah mengajukan proposal bantuan dana ke Pemerintah Pusat untuk membiayai revitalisasi pasar tersebut.

Selama pembangunan pasar, para pedagang bakal direlokasi ke pasar darurat sementara yang letaknya tak jauh dari Pasar Jungke. Selain pembangunan pasar secara fisik, pihaknya merencanakan membangun jalan yang mengelilingi pasar tersebut.

“Kami belum tahu apakah akan dibangun hanya berlantai satu atau tingkat. Biasanya, pedagang tidak mau berjualan jika ditempatkan di lantai dua,” paparnya.

Sementara Kabid Pengelolaan Pasar Disperindagkop dan UMKM Karanganyar, Budi Wahyono, mengatakan pedagang yang berjualan di Pasar Jungke berjumlah sekitar 935 pedagang. Mereka menempati kios, los maupum omprokan di dalam pasar.

Pihaknya akan merehab dua pasar tradisional di Karanganyar yakni Tawangmangu dan Karangpandan pada 2012. Pihaknya telah merehab empat pasar tradisional yakni Jatipuro, Mojogedang, Nglano dan Jungke. Anggaran yang digunakan merehab pasar tradisional berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian  Perdagangan senilai Rp1.000.030.000.

“Sekarang tinggal dua pasar yang belum direhab yakni Tawangmangu dan Karangpandan. mungkin akhir September atau Oktober bakal direhab,” jelasnya.

Berdasarkan data Disperindagkop dan UMKM Karanganyar, jumlah pasar tradisional di Karanganyar sebanyak 22 pasar. Rinciannya, pasar berskala besar berjumlah 18 pasar sementara pasar berskala kecil sebanyak empat pasar.

Read More

Pengawasan Makanan Diperketat

Maraknya peredaran makanan tak layak konsumsi karena mengandung pengawet berbahaya di beberapa pasar tradisional, mendapat perhatian khusus dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Karanganyar. Rencananya Disperindagkop bakal memperketat pengawasan distribusi makanan, utamanya makanan ringan untuk anak-anak di pasar-pasar.
Kepala Disperindagkop dan UMKM Karanganyar, Sundoro, menyatakan pengawasan akan dimulai sejak distributor meletakkan makanan dagangannya di pasar. “Kalau ada yang kedaluwarsa atau mengandung pengawet dan pewarna berbahaya langsung kami kembalikan,” jelasnya, Rabu (8/8).
Sundoro mengaku, sudah mengambil tindakan terkait dengan ditemukannya makanan yang mengandung bahan-bahan berbahaya. Sanksi awal berupa teguran sudah dilayangkan pihaknya. “Karena belum memakan korban, saat ini kami baru bisa memberikan teguran dan imbauan saja. Kami meminta pedagang untuk lebih mencermati makanan yang dijual agar tak memakan korban,” tambahnya.
Diungkapkan Sundoro, pengawasan distribusi makanan hanya bisa dilakukan di pasar-pasar tradisional. Untuk makanan dan jajanan yang dijual di toko-toko yang ada di pinggir jalan, Disperindagkop hanya bisa memberikan imbauan saja.
“Kalau untuk makanan yang ada di pasar, kami bisa mengontrolnya melalui lurah pasar. Tetapi kalau yang ada di toko-toko di luar pasar, kita belum bisa berbuat banyak,” jelasnya.
Sebelumnya, Dinkes Karanganyar menggelar Sidak kelayakan makanan di empat pasar tradisional, yaitu di Pasar Karangpandan, Tegalgede, Jungke, dan Palur. Dari hasil Sidak yang tersebut ditemukan 11 jenis makanan mengandung pewarna berbahaya jenis rhodamin-B dan pengawet berbahaya seperti boraks dan formalin.

Read More