dlh (4)

FGD Pengembangan Desa Wisata Menjadi Sumber Daya Air di Jumog Dan Telaga Madirda

Read More
telaga madirda 1

Telaga Madirda

Read More
karanganyar-Upacara-Melasti-3

Upacara Melasti, Bersihkan Dosa dan Doakan Pemilu

karanganyar-Upacara-Melasti-3

Menjelang upacara Hari Raya Nyepi 31 Maret mendatang, umat Hindu di Karanganyar menggelar upacara Melasti di Telaga Madirda, Kecamatan Ngargoyoso, Minggu (23/3) pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Selain sebagai simbol pembersihan dosa, upacara adat itu juga untuk mendoakan kelancaran gelaran Pemilu 2014.

Pantauan di lokasi, sejak pagi puluhan umat Hindu dari berbagai daerah di Karanganyar berbondong-bondong ke Telaga Madirda. Lengkap dengan aneka sesaji hasil bumi seperti beras, buah-buahan dan bunga serta berpakaian putih, mereka dengan khidmat mengikuti prosesi upacara Melasti.

Ketika upacara dimulai, mereka mulai duduk bersila di posisinya masing-masing menghadap ke arah timur atau ke arah Telaga Madirda. Kemudian sesaji pun diletakkan tepat di hadapan mereka untuk didoakan. Maksud dari dibawanya aneka sesaji itu sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberi berkah hasil bumi mereka.

Tak lupa, lonceng pun dibunyikan oleh salah seorang pemuka agama Hindu setempat sebagai tanda bahwa upacara adat yang telah dilakukan turun-temurun itu dimulai. Kemudian ketika doa mulai dibacakan, setiap kepala jemaah diciprati air oleh pemuka agama. Oleh pemeluk agama Hindu, air yang telah didoakan tersebut dianggap suci dan mampu membersihkan dosa-dosa yang telah dilakukan manusia semasa hidupnya. Layaknya upacara adat Hindu pada umumnya, beberapa butir beras yang diambil oleh pemuka agama kemudian disematkan di dahi serta pipi setiap jemaah.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Karanganyar, I Nyoman Suwendi mengatakan upacara Melasti digelar sesuai dengan ungkapan Agama Hindu untuk upacara ini, yakni desakala, dan patrayang artinya tempat, waktu, dan keadaan. Oleh karena itu, upacara adat ini digelar dengan menyesuaikan tiga hal tersebut.

Ia menuturkan, Melasti sendiri berasal dari kata male dan letah. Dalam Agama Hindu, maledimaknai kekotoran, sementara letah artinya manusia. Maka, upacara Melasti ini dimaksudkan untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk manusia. “Seperti tamak dan sombong yang merugikan diri sendiri dan orang lain itu dibersihkan. Agar saat perayaan Nyepi nanti bisa sukses,” kata Nyoman di sela-sela upacara.

Usai pembacaan doa, sesaji yang telah disiapkan kemudian dilarung ke Telaga Madirda yang merupakan salah satu objek wisata di Kecamatan Ngargoyoso. Menurut Nyoman, makna dari larung sesaji ini adalah segala sesuatu yang telah diambil manusia dari alam harus dikembalikan lagi ke tempat semula, yakni alam agar dapat tercipta keseimbangan kehidupan.

Diceritakannya, ada tiga unsur penting yang telah diambil manusia dari alam, yakni air, tanah, dan sinar surya. Ketiga unsur tersebut merupakan unsur yang sangat dibutuhkan oleh umat manusia.

Sumber : http://joglosemar.co/

Read More

MELASTI Proses Pembersihan Batin Manusia Dan Alam

Ratusan umat Hindu Karanganyar dengan membawa berbagai sesaji yang diletakkan di atas kepala maupun digendong berduyun-duyun mendatangi Telaga Madirda di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Minggu (18/3/2012).

Mereka kemudian meletakkan sesaji tersebut di atas meja panjang. Sesaji ini disembahkan untuk melaksanakan upacara Melasti, sebelum hari Nyepi yang jatuh pada Jumat (23/3/2012) mendatang. Setelah meletakkan sesaji di atas meja panjang, para umat itu lalu mengambil air dari sumber air telaga.

Denting-denting suara lonceng memecah keheningan di tengah udara dingin yang menusuk tulang di Telaga Madirda. Sembari terus menggerakkan lonceng, seorang pedande terus melafalkan doa-doa pada Sang Hyang Widhi. Sementara ratusan umat hindu tampak khusyuk mengikuti doa yang tengah dipanjatkan Pedande tersebut.

Kawasan telaga yang terletak di salah satu kawasan kaki Gunung Lawu ini menjadi salah satu pusat tempat  upacara melasti yang dilakukan umat hindu Karangayar. Makna Upacara melasti yakni proses pembersihan lahir batin manusia dan alam, dengan jalan menghayutkan segala kotoran menggunakan air kehidupan. Oleh karena itu prosesi sembahyang dilakukan di sumber-sumber air.

Upacara melasti di mulai dengan pengambilan air dari sumber mata air di sudut telaga. Beberapa umat pun turut mengambil air sembari melafalkan doa agar diberi kesucian saat melaksanakan catur brata penyepian. Beberapa sesaji seperti makanan dan buah-buahan juga turut dipersembahkan dalam ritual ini.

Seusai melakukan persembahyangan sebagian sesaji yang telah didoakan ini dilabuh di Telaga Madirda. Hal ni dilakukan sesuai dengan ajaran dalam kitab suci wedha. Bagi umat hindu, upacara Melasti ini bertujuan untuk menyucikan diri dengan tirta atau air. Melasti merupakan awal dari rangkaian perayaan Nyepi tahun baru saka 1934.

“Upacara ini memang menjadi satu rangkaian persiapan  perayaan  hari Nyepi. Upacara melasti bertujuan untuk menyucikan diri sebelum melaksanakan catur brata penyepian,” kata pemangku Agama Hindu Karanganyar Jero Mangku Made Murti.

Selain untuk menyucikan diri, dia menambahkan ritual melasti ini juga bertujuan untuk menyucikan alam. Penggunaan kidung Jawa sendiri berpatokan pada ajaran kitab wedha agar umat hindu menghormati adat istiadat setempat. “Karena ini di Jawa maka kita harus menghormati leluhur-leluhur yang ada,” ujarnya.

Rangkaian upacara Hari Nyepi akan dilanjutkan dengan tawur agung kesanga. Setelah itu pada 23 Maret mendatang terhitung mulai pukul06.00 hingga 24 jam berikutnya, umat hindu akan melaksanakan Nyepi.

“Di sini umat hindu akan mengamalkan catur brata, yaitu tidak melakukan pekerjaan, tidak menyalakan api, tidak bepergian dan tidak bersenang-senang,” katanya.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/karanganyar/melasti-proses-pembersihan-batin-manusia-dan-alam-171531

Read More