Launching Aplikasi Sidenok Dan Sistem E-Ticketing Di Pendopo Candi Sukuh

Read More
DSC_8231

Sukuh Titik Tepat Untuk Melihat Hilal

Kepala DInas Pendidikan dan Kebudayaan, Tarsa sedang mencoba alat untuk mengamati hilal di kawasan Sukuh

 

KARANGANYAR – 10 September 2018

Kawasan Wisata Sukuh dinilai tepat untuk melihat hilal. Pasalnya areal di sekitar candi Sukuh mempunyai ketinggian 1190 dpl. Diyakini dengan ketinggian tersebut akan mudah melihat hilal untuk menentukan pergantian bulan.

“Ini tempat yang representatif untuk rukhiyatul hilal. Bahkan dari tempat lain seperti Pacitan, masih lebih bagus di kawasan Sukuh,” papar panitia penyelenggara Ruhiyatul Hilal, Yusuf Ikhsanu Irham di sela-sela pemantauan hilal (10/09)

Dia menambahkan kawasan sukuh memang sudah enam kali dilakukan pengamatan bulan. Namun dari enam kali tersebut, belum sama sekali terlihat. Meski demikian, pihaknya akan terus mencoba dan pasti suatu waktu akan terlihat. Selain itu, Yusuf mengatakan melihat hilal ini adalah sunah rasullalah SAW. “Kami sudah enam kali melakukan pengamatan namun juga belum berhasil. Saya berharap pengamatan sore akan terlihat hilal karena posisi pada 8 derajad. “Pemerintah daerah sudah mendukung penuh kawasan ini dijadikan tempat melihat hilal. Harapannya kawasan ini juga menjadi tempat destinasi wisata religi,” imbuhnya.

Lebih jauh, dia mengatakan tujuan dari ruhiyatul hilal kali ini adalah untuk pendidikan. Masyarakat juga ikut melihat hilal secara langsung ditempat ini, sehingga menjadi ajang untuk pendidikan. Bahkan, Pemkab Karanganyar sudah membangun tiga lantai untuk melihat hilal.

            Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Tarsa mewakili bupati mengatakan jangan pernah bosan untuk berbuat kebaikan. Termasuk melakukan pengamatan hilal di kawasan Sukuh. Jika memang belum melihat, pihaknya meminta untuk terus dilakukan “Pemerintah akan terus mendukung pengamatan hilal di kawasan Sukuh,” tambah Tarsa. (hr/ard)

Read More
candi sukuh 1

Candi Sukuh

Read More
DSC_0028

Rangkaian Kegiatan Srawung Seni Candi 2015

DSC_0028

Karanganyar, Selasa, 18 Desember 2015

Padepokan Lemah Putih akan mengadakan Kegiatan Srawung Seni Candi 2015 yang ke 12 kali besok pada Kamis-Jum’at (31 Desember – 1 Januari 2016) ,pagi pukul 09.00 WIB yang mengambil lokasi di objek Wisata Candi Sukuh Berjo Ngargoyoso Karanganyar.

Adapun rangkaian acara yang dilaksanakan antara lain: Seminar, Malam Tirakatan pada Kamis (31/12/2015) di Pendopo Candi Sukuh, Pentas Seni, dan serangkaian acara Kegiatan Srawung Seni Candi ditutup dengan pembagian bibit tanaman. Ww/Ind

Read More
aku (2) copy

Pemugaran Candi Sukuh, Tahap Pertama Dimulai

Petugas dari BPCB Jawa Tengah saat melakukan pemotretan Candi Sukuh bagian induk dengan laser scaner tiga dimensi, Senin (20/04)

Petugas dari BPCB Jawa Tengah saat melakukan pemotretan Candi Sukuh bagian induk dengan laser scaner tiga dimensi, Senin (20/04)

Karanganyar, Rabu (22/04/2015)
Tahap pertama dari pemugaran Candi Sukuh telah dimulai, yakni pemotretan candi induk dengan menggunakan alat laser scener tiga dimensi. Penggunaan teknologi itu sebagai data untuk mempermudah mengembalikan seperti semula.
Pelaksana Lapangan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Suyadi menuturkan, pemugaran itu berlangsung selama 160 hari, dimulai hari Senin (20/04). Metode penomoran setiap batu juga diterapkan agar memudahkan pemasangan kembali. Tim juga melibatkan pakar geologi dan arsitek bangunan prasejarah dari perguruan tinggi.
“Semua batu-batu di candi induk akan diturunkan, kemudian diteliti penyebab elevasi kenapa candi menurun. Ada rekomendasi pemakaian bahan-bahan untuk memperkuat saat menyusun kembali batu-batu seperti semula,” kata Suyadi, saat di Candi Sukuh, Senin (20/04).
Suyadi menuturkan terjadi penurunan struktur penyusun candi karena usia dan terkikis air hujan. Penurunan ini terlihat di dinding sisi selatan yang menggembung dan latar atap candi menurun di sisi yang sama.
“Dinding batu sisi selatan menonjol keluar. Air hujan dari atas melewati sela-sela batu. Kemudian muncul rongga yang menyebabkan bagian atasnya amblas,” jelasnya.
Suyadi menambahkan BPCB Jawa Tengah, selama 160 hari itu hanya menyelesaikan pemugaran total dan pengembalian empat lapisan dasar candi. Untuk penyusunan utuh candi yang terletak di Kecamatan Ngargoyoso itu direncanakan butuh waktu selama dua tahun. pd

Read More
srawung seni

Kalender Wisata Kabupaten Karanganyar Tahun 2015

Januari

 srawung seni

Srawung Seni Candi

Komplek Candi Sukuh, Kamis Kliwon, 1 Januari 2015
Srawung Seni Candi adalah acara kesenian tahunan yang diselenggarakan Padepokan Lemah Putih pada tiap akhir tahun di kompleks Candi Sukuh, Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Tujuan digelarnya acara tersebut adalah sebagai upaya mempertahankan budaya yang saat ini mulai luntur tergerus arus globalisasi dan juga sebagai bentuk mendekatkan antara seniman dalam jalur kontemporer dan tradisional.Acara ini terbuka dan gratis untuk umum. Diharapkan dalam perhelatan tersebut tumbuh rasa kebersamaan dan gotong royong antara pihak-pihak yang terlibat, baik itu dari penonton, pengamat, maupun penyaji.
 mahesalawung

Upacara Adat Mahesa Lawung

Hutan Krendhowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kamis Legi, 22 Januari 2014
Sesaji Rajawedha atau Wilujengan Nagari Mahesa Lawung  Diriwayatkan bahwa sesaji Raja Wedha telah dilaksanakan sejak jaman Majapahit. Namun masih tetap lestari hingga sekarang. Pelaksanaan wilujengan Nagari Mahesa Lawung atau sesaji Raja Wedha pada jaman Majapahit, Demak SISKS Pakubuwono II di Kartasura jatuh pada Hari Rabu Wage, kawitaning tahun (bulan Sura).Ketika Kraton Kartasura pindah ke Surakarta, pelaksanaan Sesaji Raja Wedha dirubah menjadi hari Kamis Legi pada bulan Rabi’ul akhir bersamaan dengan hari Pasowanan hingga sekarang, propesi Wilujengan Nagari Mahesa Lawung dilaksanakan dari dalam Keraton Surakarta dengan menjalankan do’a untuk keselamatan dan kesejahteraan Keraton dan seluruh masyarakat, berbagai uborampe dan sesaji serta kepala kerbau selanjutnya dibawa ke hutan Krendhowahono oleh para pembesar keraton dan abdi dalem setelah memanjatkan do’a oleh segenap warga yang hadir dipimpin oleh pamangku yang ditunjuk dari dalam keraton selanjutnya kepala kerbau ditanam atau dikuburkan di lokasi yang telah disiapkan sebagai tanda berakhirnya prosesi.

April

 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Upacara Adat Dukutan

Nglurah, Tawangmangu, Wuku Dukut, Selasa Kliwon, 21 April  & 17 Nopember 2015
Upacara Dukutan dilaksanakan setiap hari Selasa Kliwon Wuku Dukut pada kalender Jawa di Nglurah,   Tawangmangu. Yang unik dari Dukutan adalah semua masakan tidak boleh terbuat dari beras dan waktu memasak tidak boleh dicicipi. Masyarakat membuat sesaji berupa hidangan dari bahan pala kependem atau bahan non beras dengan menu utama nasi jagung. Sesaji terlebih dahulu dikumpulkan di balai pertemuan adat untuk diadakan do’a bersama, kemudian masing-masing warga mendapatkan satu bagian sesaji. Puncak upacara ritual Dhukutan ini dilaksanakan di Situs Menggung untuk dilaksanakan tawur sesaji atau melempar sesaji oleh dua kelompok masyarakat dari dusun yang berbeda.
 cembengan

Pekan Raya Cembengan

Upacara Grebeg Giling, Agrowisata Sondokoro, Kecamatan Tasikmadu, Jumat Pon, 24 April – 29 Mei 2015
Grebeg Giling merupakan upacara tradisi sebelum dimulainya Giling tebu. Grebeg Giling yang lebih dikenal di daerah dengan sebutan Cembengan bisa dikatakan sebagai pesta rakyat dengan penyelenggaranya adalah Pabrik Gula Tasikmadu.Upacara Grebeg Giling puncaknya dilaksanakan pada hari Jum’at Pon (kalender jawa) dengan menggiring sepasang “temanten dari tebu” dan penanaman kepala kerbau di tempat-tempat tertentu (di tempat mesin-mesin giling).Pabrik Gula Tasikmadu didirikan oleh almarhum Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoreo IV pada tahun 1870 dengan nama Pabrik Gula Sondokoro. Setiap tahun menjelang giling tebu selalu diadakan upacara selamatan untuk seluruh karyawan.

Mei

 saraswati

Upacara Adat Saraswati

Komplek Candi Cetho, Wuku watu gunung. Sabtu Legi, 2 Mei 2015
Saraswati adalah nama dewi ilmu pengetahuan. Umat Hindu mewujudkan Dewi Saraswati sebagai dewi yang amat cantik bertangan empat memegang: wina (alat musik), kropak (pustaka), ganitri (japa mala) dan bunga teratai.Hari raya untuk memuja Saraswati dilakukan setiap 210 hari yaitu setiap hari Sabtu Legi wuku Watugunung. Sesaji Saraswati antara lain : beras wangi dan air kembang setaman (air yang diisi kembang dan wangi-wangian). Upacara ini dilangsungkan pagi hari dan tidak boleh lewat tengah hari.Pemujaan kepada Dewi Saraswati tiada lain adalah memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam aspeknya sebagai sumber ilmu pengetahuan . Kalau tujuan pemujaan Dewi Saraswati dapat tercapai maka terhindarlah kita dari godaan penyakit, kelakuan jahat dan buruk. Agama mengarahkan hidup, ilmu pengetahuan memudahkan hidup, sedangkan seni menghaluskan hidup.

Juni

 piodalan

Upacara Adat Piodalan

Pura Pamacekan, Pasekan, Karangpandan, Wuku Tolu, 5 Juni 2015
Upacara adat Piodalan yang dilaksanakan setiap 210 hari di pura Pamacekan  oleh masyarakat Hindu untuk memperingati kelahiran leluhur.Ada beberapa tahapan prosesi dalam ritual ini. Prosesi pertama adalah prosesi mecaru, yaitu prosesi membersihkan batu suci di sudut-sudut pura. Prosesi ini melibatkan lima ekor ayam jantan berbeda warna. Letak ayam berwarna hitam di sebelah utara, ayam merah di selatan, putih di timur, abu-abu di barat dan ayam manca warna berada di tengah. Prosesi kedua yaitu pembersihan perangkat upacara. Ritual ini menggunakan air suci yang berasal dari daerah asal ketujuh pandita itu. Tahapan ketiga yaitu sesaji dihaturkan kepada Bathara untuk meminta do’a keselamatan bagi manusia dan alam semesta dan puja trisandya atau acara sembahyangan yaitu semua umat menghaturkan sujud bakti kepada kiai Pamacekan. Yang terakhir adalah Westhu Padha yaitu pemberian tirta atau air suci untuk keselamatan. Selain tirta juga pemberian biji atau beras sebagai tanda selesainya umat menghaturkan sembahyang.
 padusan

Padusan

Rabu Pahing, 17 Juni 2015
Kata ‘padusan’ diambil dari kata ‘adus’ atau dalam bahasa indonesianya adalah mandi. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, ada sedikit tradisi unik yang berkembang di masyarakat Jawa, yaitu padusan. Budaya padusan merupakan budaya mandi besar yang dilakukan secara bersama-sama oleh sebagian besar masyarakat yang menganut agama Islam, yang dilaksanakan di tempat-tempat umum, seperti sendang, air terjun bahkan pantai pun juga ikut diramaikan dalam acara padusan. Budaya padusan sendiri berkembang menjadi sarana rekreasi menjelang datangnya bulan Ramadhan.
 taaruf ramadhan

Pawai T’aruf

Rabu Pahing, 17 Juni 2015
Menjelang bulan suci ramadhan umat Islam mengadakan pawai taaruf ( silaturohmi ), kegiatan ini melibatkan semua elemen umat Islam, sekolah, rumah sakit, dan organisasi Islam menampilkan potensi,  keunggulan, dan kegiatan masing-masing.Tujuan dari kegiatan ini adalah agar terjalin komunikasi diantara umat Islam kKaranganyar sehingga selama bulan ramadhan bisa menciptakan suasana yang aman dan kondusif dan dapat menjalankan ibadah dengan tenang.

Juli

 dalungan

Upacara Adat Dalungan

Dalungan, Macanan, Kecamatan Kebakkramat, Wuku Langkir, Jumat Legi, 31 Juli 2015
Dalungan sebenarnya adalah nama sebuah dusun  di Kecamatan Kebakkramat, tepatnya dusun  Dalungan, Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar. Dusun  Dalungan mempunyai suatu kegiatan upacara bersih desa itu disebut Dalungan . Upacara bersih desa ini termasuk upacara religi, diselenggarakan dengan maksud agar seluruh penduduk wilayah dusun  Dalungan  selalu mendapatkan berkah dari Allah SWT dan terhindar dari segala hal-hal yang bersifat tidak baik sehingga merugikan masyarakat desa, sehingga dusun  Dalungan menjadi aman, tentram dan sejahtera.

Agustus

 mondosiyo

Upacara Adat Mondosiyo

Dusun Pancot, Blumbang Tawangmangu, Gumeng Jenawi, Anggrasmanis Jenawi, Wuku Mondosiyo, Selasa Kliwon, 4 Agustus 2015
Budaya bersih desa di Pancot, Blumbang, Tawangmangu ini dinamakan Mondosiyo, yaitu upacara sedekah bumi yang dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan bersih desa. Upacara bersih desa ini diselenggarakan dalam beberapa hari dan pada puncak upacara dipentaskan kesenian lokal.Tujuan dari penyelenggaraan upacara tradisi ini adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar warga selalu diberi keselamatan lahir batin, berkah dan keberhasilan dan dijauhkan dari segala bencana.Upacara Mondosiyo dilaksanakan setiap 7 bulan sekali atau 6 lapan sekali (1 lapan=35 hari) tepatnya pada hari Selasa Kliwon Wuku Mondhosiyo (kalender Jawa). Dimulai dari jam 06.00 pagi tiap harinya, Upacara Mondhosiyo dilaksanakan di komplek punden “Bale-Pathokan”. Disini juga terdapat Batu Gilang yang menggambarkan siapa yang salah akan kalah atau  mati, dan yang jujur atau baik tentu akan memperoleh kemenangan.

Oktober

 grebeg lawu

Upacara Grebeg Lawu

Puncak Lawu, 1 Suro, Kamis Paing, 15 Oktober 2015
Tahun baru 1 Muharam yang biasa disebut oleh masyarakat Jawa sebagai Sasi Suro, yang diyakini sebagai bulan yang kurang baik untuk melaksanakan berbagai kegiatan  khususnya sebuah hajatan. Namun bagi Pemerintah Kabupaten Karanganyar justru dimanfaatkan untuk  menyelenggarakan sebuah pesta rakyat yang bertajuk Grebeg Lawu.Lawu adalah nama gunung yang sebagian besar ada di Wilayah Kabupaten Karanganyar  (sebagian lagi ada di Wilayah Jawa Timur). Grebeg Lawu  adalah sebuah rangkaian kegiatan yang menampilkan berbagai kesenian dan upacara adat dari beberapa daerah di Karanganyar dan sekitarnya, dan biasanya dilaksanakan di tempat-tempat wisata dan situs-situs religius.
 wahyu kliyu

Upacara Adat Wahyu Kliyu

Dusun Kendal Lor, Jatipuro Kecamatan Jatipuro, 15 Suro, Kamis Legi, 29 Oktober 2015
Wahyu Kliyu adalah upacara adat selamatan berupa sedekah “apem” (semacam kue yang dibuat dari bahan tepung beras) yang  diselenggarakan oleh masyarakat Dusun Kendal Lor, Desa Jatipuro setahun sekali pada bulan Muharam (Sura) tepatnya pada malam bulan purnama tanggal 15 Sura. Wahyu Kliyu dilakukan untuk memohon  kepada Tuhan Yang Maha Esa agar masyarakat Dusun Kendal dan sekitarnya selalu mendapat anugrah, diberi kekuatan lahir batin, dijauhkan dari segala bencana serta malapetaka. Tiap kepala keluarga menyajikan apem sejumlah 344 buah. Setelah selesai rangkaian acara do’a, apem dibagi lagi kepada seluruh warga.

Nopember

 hari jadi karanganyar

Hari Jadi Kabupaten Karanganyar

Rabu Legi, 18 Nopember 2015
Hari Jadi Kabupaten karanganyar diperingati setiap tanggal 18 Nopember . Kegiatan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Karanganyar biasanya diwujudkan dalam kegiatan ziarah, tirakatan, upacara bendera di Alun-alun Kabupaten Karanganyar, hiburan rakyat, berbagai perlombaan, serta pameran. Semua kegiatan ini merupakan bentuk kecintaan terhadap Pemerintah Kabupaten Karanganyar.Hal yang paling menonjol dalam pelaksanaan upacara Hari Jadi KabupatenKaranganyar ini adalah para peserta berpakaian beskap jangkep (memakai keris), sedangkan untuk ibu-ibu berpakaian kebaya. Sehingga suasana upacara terasa sakral yang dapat mengembangkan rasa cinta kepada Pemerintah Kabupaten Karanganyar, sekaligus sebagai sarana melestarikan nilai-nilai budaya Jawa dengan berpakaian adat Jawa.

Read More
DSC_0182 copy

Pentas Srawung Seni Candi Berlangsung Meriah

Karanganyar, Jumat (02/01/2015)

Pentas kesenian Srawung Seni Candi ke 11 menarik animo masyarakat untuk menonton, Kamis (01/01) di Kawasan Komplek Candi Sukuh.

Salah satu kelompok kesenian Sabuk Janur ikut pentas di Srawung Seni Candi ke 11, Kamis (01/01) di Kawasan Komplek Candi Sukuh.

Gelaran kegiatan pementasan Srawung Seni Candi berlangsung meriah, dengan banyaknya para pengunjung yang mendatangi dan melihatnya. Hal tersebut ditandai animo penonton yang berasal dari daerah, membuat kawasan wisata Candi Sukuh menjadi ramai.

Pentas yang berlangsung di Komplek Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar itu diikuti sekitar 18 kelompok seniman yang berasal dari lokal maupun luar negeri. Menampilkan kesenian kontemporer maupun tradisional. Misalnya saja Sabdopalon Nayagenggong dari Ngargoyoso, Burkard Korner dari Jerman, maupun Wirastuti dan Luluk Ari dari Solo.

Menurut Soeprapto Suryodarmo, sebagai pengagas acara tersebut mengatakan, Srawung Seni Candi kali ini sudah berlangsung yang ke 11. Biasanya diadakan di akhir tahun dan awal tahun, tepatnya pada tanggal 31 Desember dan 1 Januari.

“Kita menampilkan berbagai seni dari kebudayaan Indonesia. Selain itu juga sebagai wujud refleksi untuk kebudayaan Indoneisa dan alam. Sehingga kita dituntut untuk tetap waspada,” ujar pria yang akrab mbah Prapto, pemilik Padepokan Lemah Putih, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Kamis (01/01) di lokasi.

Selain pementasan karya seni, juga diadakan sarasehan, malam tirakatan dan pemberian bibit pohon kepada masyarakat. pd

Read More
DSC_0265 copy

Irama Orkestra Menggema di Candi Sukuh

Penampilan musik orkestra di Candi Sukuh terlihat memukau penonton walaupun diselimuti udara dingin, Kamis (14/08) malam

Penampilan musik orkestra di Candi Sukuh terlihat memukau penonton walaupun diselimuti udara dingin, Kamis (14/08) malam

Dalam heningnya malam yang dibalut dingin dan kabut, disertai dengan sapaan sinar bulan purnama, irama violin, kontrabass, cello terdengar sayup-sayup di area Candi Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Kamis (14/08). Suara-suara merdu itu pun membuai angan pendengarnya dan tak disangka kaki sudah menginjak rerumputan di pelataran candi Hindu itu.

Saat memasuki area itu, sudah ada ratusan warga yang berkelompok dan duduk bersila dengan beralaskan tikar. Sebagian warga pun terlihat kedinginan sehingga mengenakan jaket tebal. Tidak hanya warga, sejumlah seniman dan penggemar musik pun juga terlihat bergerombol di tempat tersebut.

Di balik dingin dan sunyinya candi, mereka yang tidak hanya berasal dari Karanganyar, melainkan Solo dan wilayah lainnya rela menempuh perjalanan yang cukup menguras tenaga yang notabene lokasi acara yang relatif tinggi dibandingkan dengan kawasan lainnya di sekitar Solo. Ya mereka rela berduyun-duyun untuk menyaksikan Ekstensya String Music Camp and Concert 2014.

Sesaat kemudian, munculah sosok Setyawan Jayantoro yang ditunjuk menjadi komposer sekaligus instruktur. Dirinya dan tim sebanyak 29 seniman menyuguhkan musik orkestra bertajuk Syahdu Hutan Rakyat. Dalam kesempatan itu, warga Ngringo, Jaten, Karanganyar tersebut mewakili seniman Indonesia dalam gelaran akbar itu. Di sisi lain, pementasan musik bertaraf internasional itu juga menghadirkan instruktur asal Norwegia, Terje Moe Hansen. Dengan jiwa seninya itu, dirinya memimpin sejumlah seniman melantunkan irama yang membuai angan para penikmat seni.

Dari deretan penonton, terlihat Bupati Karanganyar Juliyatmono beserta wakilnya Rohadi Widodo. Keduanya pun terkesan hanyut dalam nuansa keakraban itu. Di sela acara, Bupati mendapatkan kesempatan memainkan alat musik viollin. Dirinya juga didaulat untuk membuka acara itu. “Kami sangat mengapresiasi acara malam ini. Dengan adanya acara ini, kami yakin Kabupaten Karanganyar bisa lebih dikenal oleh wilayah lain, bahkan mancanegara. Oleh karena itu, kami berharap acara ini bisa digelar tiap tahun. Tentunya dengan konsep yang berbeda-beda sehingga tidak terkesan monoton,” kata nya, kemarin. pd

Read More

Anggaran Promosi Karanganyar Naik 200%

Anggaran promosi pariwisata di Karanganyar naik sekitar 200 persen. Pada tahun lalu, anggaran pengembangan promosi pariwisata hanya mencapai Rp50 juta, kini melonjak hingga sekitar Rp200 juta.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Karanganyar, Istar Yunianto, mengatakan anggaran tersebut digunakan untuk membiayai berbagai program promosi pariwisata di Karanganyar. Misalnya mencetak brosur dan mengikuti kegiatan Java Promo yang menjadi wadah para pelaku usaha pariwisata dan dinas pariwisata se-Jateng dan DIY.
“Kegiatan pengembangan promosi pariwisata membutuhkan dana yang tak sedikit. Makanya, anggaran promosi tahun ini dinaikkan,” katanya saat ditemui di kantornya, Jumat (3/1/2014).
Promosi objek wisata alam perlu dikembangkan untuk meningkatkan citra pariwisata Karanganyar di mata dunia internasional. Pihaknya akan memaksimalkan beberapa program rutin seperti mengundang biro travel wisata dari luar negeri. Mereka diundang untuk mengunjungi beberapa objek wisata alam di Karanganyar. Selama ini, biro travel wisata dari Thailand kerap mengunjungi objek wisata di Karanganyar.
Menurut Istar, pengembangan promosi objek wisata dilakukan untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Potensi pariwisata di Bumi Intanpari cukup menjanjikan lantaran mayoritas objek wisata berada di lereng Gunung Lawu seperti air terjun Grojogan Sewu, Candi Sukuh, dan Candi Cetho. “Objek wisata alam di Karanganyar cukup potensial makanya harus ada program promosi yang benar-benar mampu meningkatkan citra pariwisata,” papar dia.
Target pemasukan PAD dari sektor pariwisata tak mengalami perubahan yakni sekitar kurang lebih Rp800 juta. Pemasukan terbesar berasal dari Grojogan Sewu yang menjadi lokasi favorit wisatawan saat musim liburan dan long weekend. “Target PAD tak berubah, kami akan menggenjot pemasukan PAD dari sektor pariwisata,” terang Istar.
Sementara Bupati Karanganyar, Juliyatmono, meminta agar pengembangan kesenian tradisional di Karanganyar ditingkatkan melalui penyelenggaraan berbagai festival kesenian seperti campursari dan karawitan. Pihaknya akan berupaya memperbaiki akses infrastruktur menuju objek wisata. Langkah ini dilakukan untuk menarik para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
Sumber : http://www.solopos.com/soloraya/karanganyar

Read More
DSC_0106 copy

Seniman Mancanegara Ramaikan Srawung Seni Sukuh

Puluhan seniman mancanegara dan lokal ikut meramaikan gelaran Srawung Seni Sukuh ke 10 yang berlangsung selam dua hari, Selasa (31/12) dan Rabu (01/01) di pelataran Candi Sukuh, Karanganyar.

Puluhan seniman mancanegara dan lokal ikut meramaikan gelaran Srawung Seni Sukuh ke 10 yang berlangsung selama dua hari, Selasa (31/12) dan Rabu (01/01) di pelataran Candi Sukuh, Karanganyar.

Karanganyar, Kamis (02/01/2014).

Puluhan seniman mancanegara dan lokal ikut meramaikan gelaran Srawung Seni Sukuh ke 10 selama dua hari, Selasa (31/12) dan Rabu (01/01). Kegiatan yang merupakan pentas seni yang dilakukan di pelataran Candi Sukuh, Kabupaten Karanganyar  ini sangat mendapat apresiasi  positif dari berbagai pihak.

Penggagas Acara Srawung Seni Sukuh, Suprapto Suryodarmo  menegaskan, acara ini menjadi tempat bertemunya seniman. Baik lokal, mancanegara, klasik ataupun modern. Melalui gelaran ini, diharapkan pembatas yang ada di dunia kesenian selama ini coba diruntuhkan. “Banyak seniman-seniman profesional dari luar negeri hadir di sini karena ingin mempelajari lebih jauh kebudayaan alam dan Tuhan. Sebab selama ini banyak seniman yang terjebak dalam rutinitas dunia pentas yang cukup berjarak,” terang mbah Prapto.

Demikian pula juga disampaikan oleh Wamendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti sangat mengapresiasi atas gelaran Srawung Seni Sukuh kali ini. Pihaknya berharap dengan adanya seni rakyat kali ini mampu menjadi sumber inspirasi bagi bangsa ke depannya. “Negara harus berkaca pada rakyatnya, wajah negara ditentukan oleh wajah masyarakatnya. Seperti wajah-wajah kesenian yang ditampilkan dalam Srawung Seni Candi kali ini begitu beragam dan menyejukkan,” terangnya.

Dia pun mengapresiasi keberadaan Candi Sukuh sebagai lokasi Srawung Seni Sukuh kali ini. Menurutnya, bangunan dari Candi Sukuh menyimpan banyak nilai-nilai luhur yang perlu digali. Itu pun baru satu di antara sekitar 60 ribu candi yang kini telah tercatat oleh Kemendikbud. “Kalau satu candi saja bisa memberikan inspirasi, kalau terus digali maka betapa negara kita ke depan bisa menjadi luar biasa maju kebudayaannya,” jelasnya.

Dengan begitu, Wiendu menilai gelaran Srawung Seni Sukuh bukanlah semata pertunjukan seni dan ajang silaturahmi antar seniman semata. Lebih jauh, ia melihat Srawung Seni Sukuh sebagai wujud interaksi secara nurani. “Jadi semakin sering hadir dalam Srawung Seni Sukuh seperti ini ketahanan kebudayaan kita semakin maju dan kuat ke depannya. Tradisi seperti ini harus tetap hidup dan lestari,” tuturnya.

Hal yang sama juga disampaikan Gubernur Lemhanas Budi Susilo Soepandji turut memberikan apreasiasi atas kegiatan ini. Dari prespektif ketahanan sipil, keberadaan candi menjadi penanda akan kokohnya benteng pertahanan nenek moyang dahulu. Keberadaan dari Candi Sukuh juga membuktikan bila tekhnologi nenek moyang dahulu sudah sedemikian hebat dan tidak sebodoh seperti anggapan dunia barat. “Saya kira tidak mudah bagi ahli tekhnik sipil untuk membangun (candi) secantik ini yang berdiri di atas bukit dengan pemandangan indahnya. Jadi bagi tamu mancangera, kalau mau belajar Indonesia jangan lihat Jakarta dan Bali saja, tetapi juga pelajari candi-candi yang ada di negara ini,” katanya.

Gelaran Srawung Seni Candi Sukuh ini melibatkan berbagai kelompok seni seperti seni Carabalen dari Karanganyar, Reog Gembong Kertojoyo dari Sukoharjo, kelompok Merapi Timur dari Klaten, kelompok Rumah Tari Sangishu dari Lampung, Studio Taksu dari Solo. Juga diikuti oleh seniman Sri Van Der Kroef dari Amerika, Yui Nakagami dari Jepang, Anna Rubio Liambi dari Spanyol, Bettina Mainz dari Jerman, Mario Villa dan Gabriella Medina dari Meksiko, Agnes Christina dari Singapura, AA Gede Agung Rahma Putra  dari Bali dan lain sebagainya. Selain itu  juga diisi dengan diskusi bersama budayawan Seno Gumira Ajidarma dan Rahayu Supanggah. pd

 

Read More