Open Hours : Mon – Fri: 8.00 am. – 4.00 pm.
+1 800 123 456 789

Kepala DInas Pendidikan dan Kebudayaan, Tarsa sedang mencoba alat untuk mengamati hilal di kawasan Sukuh
KARANGANYAR – 10 September 2018
Kawasan Wisata Sukuh dinilai tepat untuk melihat hilal. Pasalnya areal di sekitar candi Sukuh mempunyai ketinggian 1190 dpl. Diyakini dengan ketinggian tersebut akan mudah melihat hilal untuk menentukan pergantian bulan.
“Ini tempat yang representatif untuk rukhiyatul hilal. Bahkan dari tempat lain seperti Pacitan, masih lebih bagus di kawasan Sukuh,” papar panitia penyelenggara Ruhiyatul Hilal, Yusuf Ikhsanu Irham di sela-sela pemantauan hilal (10/09)
Dia menambahkan kawasan sukuh memang sudah enam kali dilakukan pengamatan bulan. Namun dari enam kali tersebut, belum sama sekali terlihat. Meski demikian, pihaknya akan terus mencoba dan pasti suatu waktu akan terlihat. Selain itu, Yusuf mengatakan melihat hilal ini adalah sunah rasullalah SAW. “Kami sudah enam kali melakukan pengamatan namun juga belum berhasil. Saya berharap pengamatan sore akan terlihat hilal karena posisi pada 8 derajad. “Pemerintah daerah sudah mendukung penuh kawasan ini dijadikan tempat melihat hilal. Harapannya kawasan ini juga menjadi tempat destinasi wisata religi,” imbuhnya.
Lebih jauh, dia mengatakan tujuan dari ruhiyatul hilal kali ini adalah untuk pendidikan. Masyarakat juga ikut melihat hilal secara langsung ditempat ini, sehingga menjadi ajang untuk pendidikan. Bahkan, Pemkab Karanganyar sudah membangun tiga lantai untuk melihat hilal.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Tarsa mewakili bupati mengatakan jangan pernah bosan untuk berbuat kebaikan. Termasuk melakukan pengamatan hilal di kawasan Sukuh. Jika memang belum melihat, pihaknya meminta untuk terus dilakukan “Pemerintah akan terus mendukung pengamatan hilal di kawasan Sukuh,” tambah Tarsa. (hr/ard)
Karanganyar, Selasa, 18 Desember 2015
Padepokan Lemah Putih akan mengadakan Kegiatan Srawung Seni Candi 2015 yang ke 12 kali besok pada Kamis-Jum’at (31 Desember – 1 Januari 2016) ,pagi pukul 09.00 WIB yang mengambil lokasi di objek Wisata Candi Sukuh Berjo Ngargoyoso Karanganyar.
Adapun rangkaian acara yang dilaksanakan antara lain: Seminar, Malam Tirakatan pada Kamis (31/12/2015) di Pendopo Candi Sukuh, Pentas Seni, dan serangkaian acara Kegiatan Srawung Seni Candi ditutup dengan pembagian bibit tanaman. Ww/Ind

Petugas dari BPCB Jawa Tengah saat melakukan pemotretan Candi Sukuh bagian induk dengan laser scaner tiga dimensi, Senin (20/04)
Karanganyar, Rabu (22/04/2015)
Tahap pertama dari pemugaran Candi Sukuh telah dimulai, yakni pemotretan candi induk dengan menggunakan alat laser scener tiga dimensi. Penggunaan teknologi itu sebagai data untuk mempermudah mengembalikan seperti semula.
Pelaksana Lapangan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Suyadi menuturkan, pemugaran itu berlangsung selama 160 hari, dimulai hari Senin (20/04). Metode penomoran setiap batu juga diterapkan agar memudahkan pemasangan kembali. Tim juga melibatkan pakar geologi dan arsitek bangunan prasejarah dari perguruan tinggi.
“Semua batu-batu di candi induk akan diturunkan, kemudian diteliti penyebab elevasi kenapa candi menurun. Ada rekomendasi pemakaian bahan-bahan untuk memperkuat saat menyusun kembali batu-batu seperti semula,” kata Suyadi, saat di Candi Sukuh, Senin (20/04).
Suyadi menuturkan terjadi penurunan struktur penyusun candi karena usia dan terkikis air hujan. Penurunan ini terlihat di dinding sisi selatan yang menggembung dan latar atap candi menurun di sisi yang sama.
“Dinding batu sisi selatan menonjol keluar. Air hujan dari atas melewati sela-sela batu. Kemudian muncul rongga yang menyebabkan bagian atasnya amblas,” jelasnya.
Suyadi menambahkan BPCB Jawa Tengah, selama 160 hari itu hanya menyelesaikan pemugaran total dan pengembalian empat lapisan dasar candi. Untuk penyusunan utuh candi yang terletak di Kecamatan Ngargoyoso itu direncanakan butuh waktu selama dua tahun. pd
Karanganyar, Jumat (02/01/2015)

Salah satu kelompok kesenian Sabuk Janur ikut pentas di Srawung Seni Candi ke 11, Kamis (01/01) di Kawasan Komplek Candi Sukuh.
Gelaran kegiatan pementasan Srawung Seni Candi berlangsung meriah, dengan banyaknya para pengunjung yang mendatangi dan melihatnya. Hal tersebut ditandai animo penonton yang berasal dari daerah, membuat kawasan wisata Candi Sukuh menjadi ramai.
Pentas yang berlangsung di Komplek Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar itu diikuti sekitar 18 kelompok seniman yang berasal dari lokal maupun luar negeri. Menampilkan kesenian kontemporer maupun tradisional. Misalnya saja Sabdopalon Nayagenggong dari Ngargoyoso, Burkard Korner dari Jerman, maupun Wirastuti dan Luluk Ari dari Solo.
Menurut Soeprapto Suryodarmo, sebagai pengagas acara tersebut mengatakan, Srawung Seni Candi kali ini sudah berlangsung yang ke 11. Biasanya diadakan di akhir tahun dan awal tahun, tepatnya pada tanggal 31 Desember dan 1 Januari.
“Kita menampilkan berbagai seni dari kebudayaan Indonesia. Selain itu juga sebagai wujud refleksi untuk kebudayaan Indoneisa dan alam. Sehingga kita dituntut untuk tetap waspada,” ujar pria yang akrab mbah Prapto, pemilik Padepokan Lemah Putih, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Kamis (01/01) di lokasi.
Selain pementasan karya seni, juga diadakan sarasehan, malam tirakatan dan pemberian bibit pohon kepada masyarakat. pd

Penampilan musik orkestra di Candi Sukuh terlihat memukau penonton walaupun diselimuti udara dingin, Kamis (14/08) malam
Dalam heningnya malam yang dibalut dingin dan kabut, disertai dengan sapaan sinar bulan purnama, irama violin, kontrabass, cello terdengar sayup-sayup di area Candi Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Kamis (14/08). Suara-suara merdu itu pun membuai angan pendengarnya dan tak disangka kaki sudah menginjak rerumputan di pelataran candi Hindu itu.
Saat memasuki area itu, sudah ada ratusan warga yang berkelompok dan duduk bersila dengan beralaskan tikar. Sebagian warga pun terlihat kedinginan sehingga mengenakan jaket tebal. Tidak hanya warga, sejumlah seniman dan penggemar musik pun juga terlihat bergerombol di tempat tersebut.
Di balik dingin dan sunyinya candi, mereka yang tidak hanya berasal dari Karanganyar, melainkan Solo dan wilayah lainnya rela menempuh perjalanan yang cukup menguras tenaga yang notabene lokasi acara yang relatif tinggi dibandingkan dengan kawasan lainnya di sekitar Solo. Ya mereka rela berduyun-duyun untuk menyaksikan Ekstensya String Music Camp and Concert 2014.
Sesaat kemudian, munculah sosok Setyawan Jayantoro yang ditunjuk menjadi komposer sekaligus instruktur. Dirinya dan tim sebanyak 29 seniman menyuguhkan musik orkestra bertajuk Syahdu Hutan Rakyat. Dalam kesempatan itu, warga Ngringo, Jaten, Karanganyar tersebut mewakili seniman Indonesia dalam gelaran akbar itu. Di sisi lain, pementasan musik bertaraf internasional itu juga menghadirkan instruktur asal Norwegia, Terje Moe Hansen. Dengan jiwa seninya itu, dirinya memimpin sejumlah seniman melantunkan irama yang membuai angan para penikmat seni.
Dari deretan penonton, terlihat Bupati Karanganyar Juliyatmono beserta wakilnya Rohadi Widodo. Keduanya pun terkesan hanyut dalam nuansa keakraban itu. Di sela acara, Bupati mendapatkan kesempatan memainkan alat musik viollin. Dirinya juga didaulat untuk membuka acara itu. “Kami sangat mengapresiasi acara malam ini. Dengan adanya acara ini, kami yakin Kabupaten Karanganyar bisa lebih dikenal oleh wilayah lain, bahkan mancanegara. Oleh karena itu, kami berharap acara ini bisa digelar tiap tahun. Tentunya dengan konsep yang berbeda-beda sehingga tidak terkesan monoton,” kata nya, kemarin. pd
Anggaran promosi pariwisata di Karanganyar naik sekitar 200 persen. Pada tahun lalu, anggaran pengembangan promosi pariwisata hanya mencapai Rp50 juta, kini melonjak hingga sekitar Rp200 juta.

Puluhan seniman mancanegara dan lokal ikut meramaikan gelaran Srawung Seni Sukuh ke 10 yang berlangsung selama dua hari, Selasa (31/12) dan Rabu (01/01) di pelataran Candi Sukuh, Karanganyar.
Karanganyar, Kamis (02/01/2014).
Puluhan seniman mancanegara dan lokal ikut meramaikan gelaran Srawung Seni Sukuh ke 10 selama dua hari, Selasa (31/12) dan Rabu (01/01). Kegiatan yang merupakan pentas seni yang dilakukan di pelataran Candi Sukuh, Kabupaten Karanganyar ini sangat mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak.
Penggagas Acara Srawung Seni Sukuh, Suprapto Suryodarmo menegaskan, acara ini menjadi tempat bertemunya seniman. Baik lokal, mancanegara, klasik ataupun modern. Melalui gelaran ini, diharapkan pembatas yang ada di dunia kesenian selama ini coba diruntuhkan. “Banyak seniman-seniman profesional dari luar negeri hadir di sini karena ingin mempelajari lebih jauh kebudayaan alam dan Tuhan. Sebab selama ini banyak seniman yang terjebak dalam rutinitas dunia pentas yang cukup berjarak,” terang mbah Prapto.
Demikian pula juga disampaikan oleh Wamendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti sangat mengapresiasi atas gelaran Srawung Seni Sukuh kali ini. Pihaknya berharap dengan adanya seni rakyat kali ini mampu menjadi sumber inspirasi bagi bangsa ke depannya. “Negara harus berkaca pada rakyatnya, wajah negara ditentukan oleh wajah masyarakatnya. Seperti wajah-wajah kesenian yang ditampilkan dalam Srawung Seni Candi kali ini begitu beragam dan menyejukkan,” terangnya.
Dia pun mengapresiasi keberadaan Candi Sukuh sebagai lokasi Srawung Seni Sukuh kali ini. Menurutnya, bangunan dari Candi Sukuh menyimpan banyak nilai-nilai luhur yang perlu digali. Itu pun baru satu di antara sekitar 60 ribu candi yang kini telah tercatat oleh Kemendikbud. “Kalau satu candi saja bisa memberikan inspirasi, kalau terus digali maka betapa negara kita ke depan bisa menjadi luar biasa maju kebudayaannya,” jelasnya.
Dengan begitu, Wiendu menilai gelaran Srawung Seni Sukuh bukanlah semata pertunjukan seni dan ajang silaturahmi antar seniman semata. Lebih jauh, ia melihat Srawung Seni Sukuh sebagai wujud interaksi secara nurani. “Jadi semakin sering hadir dalam Srawung Seni Sukuh seperti ini ketahanan kebudayaan kita semakin maju dan kuat ke depannya. Tradisi seperti ini harus tetap hidup dan lestari,” tuturnya.
Hal yang sama juga disampaikan Gubernur Lemhanas Budi Susilo Soepandji turut memberikan apreasiasi atas kegiatan ini. Dari prespektif ketahanan sipil, keberadaan candi menjadi penanda akan kokohnya benteng pertahanan nenek moyang dahulu. Keberadaan dari Candi Sukuh juga membuktikan bila tekhnologi nenek moyang dahulu sudah sedemikian hebat dan tidak sebodoh seperti anggapan dunia barat. “Saya kira tidak mudah bagi ahli tekhnik sipil untuk membangun (candi) secantik ini yang berdiri di atas bukit dengan pemandangan indahnya. Jadi bagi tamu mancangera, kalau mau belajar Indonesia jangan lihat Jakarta dan Bali saja, tetapi juga pelajari candi-candi yang ada di negara ini,” katanya.
Gelaran Srawung Seni Candi Sukuh ini melibatkan berbagai kelompok seni seperti seni Carabalen dari Karanganyar, Reog Gembong Kertojoyo dari Sukoharjo, kelompok Merapi Timur dari Klaten, kelompok Rumah Tari Sangishu dari Lampung, Studio Taksu dari Solo. Juga diikuti oleh seniman Sri Van Der Kroef dari Amerika, Yui Nakagami dari Jepang, Anna Rubio Liambi dari Spanyol, Bettina Mainz dari Jerman, Mario Villa dan Gabriella Medina dari Meksiko, Agnes Christina dari Singapura, AA Gede Agung Rahma Putra dari Bali dan lain sebagainya. Selain itu juga diisi dengan diskusi bersama budayawan Seno Gumira Ajidarma dan Rahayu Supanggah. pd