Produksi Padi Menurun

Cuaca yang buruk di tahun 2011, membuat produksi padi sepanjang tahun 2011 di Kabupaten Karanganyar menurun. Jika di tahun 2010 petani dapat memproduksi hingga 94.000 ton gabah kering, di tahun 2011 menurun drastis menjadi 74.000 ton.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbuthut), Siti Maesyaroh mengatakan penurunan produksi padi di tahun 2011 kemarin salah satunya karena cuaca buruk dan  serangan hama wereng di semester pertama. Namun untungnya produksi beras di tahun kedua sudah lumayan ketika cuaca mulai membaik pula. “Wajarlah mas, namanya juga terkena wereng. Tetapi di semester kedua untungnya sudah normal,” ujarnya.
Dari sekitar 22. 000 hektare luas lahan pertanian di Karanganyar total produksi padi petani mencapai sekitar 268.869, atau luas panenan mencapai sekitar 48.000 hektare, dan jika di rata-rata produksi petani mencapai 5,5 ton per hektare.
Kendati mengalami penurunan produksi, diungkapkan Siti para petani masih tertolong dengan harga pasaran gabah kering yang bisa mencapai Rp 4.000 per kilogram atau bisa lebih dari harga tersebut. Padahal biasanya harganya masih di bawah harga tersebut. Dengan kenaikan harga tersebut sejumlah petani bisa meraih keuntungan berlebih hingga Rp 30 juta per hektare.
Siti menambahkan jika kondisi anomali cuaca terus seperti sekarang ini, ia optimis produksi panen petani di tahun 2012 akan sangat bagus. Paling tidak tren surplus beras di Karanganyar sekitar 100.000 ton setiap tahunnya bisa terulang kembali. Pasalnya Karanganyar termasuk salah satu dari lumbung padi di Provinsi Jawa Tengah.
Saat dikonfirmasi adanya banjir yang merendam sejumlah Kecamatan di Karanganyar, yakni di Kecamatan Kebakkramat dan Gondangrejo dirinya menegaskan banjir tersebut tidak menyebabkan padi para petani rusak. Pasalnya hanya merendam sekitar sehari semalam. “Kalau hanya terendam sehari padi tidak akan rusak. Kalau terendam tiga hari mungkin bisa puso,” imbuhnya.

Read More

Pedagang Durian Membuat Macet

Banyaknya warung atau kios durian di pertigaan SMP Matesih membuat ruas jalan utama yang menghubungkan Kecamatan Matesih dengan Kecamatan Tawangmangu macet, terutama pada libur akhir pekan.
Pasalnya selain banyak pedagang durian yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan, para pembeli turut memperparah karena akses parkir yang asal-asalan. Salah seorang pengguna jalan, Suroto (36) mengaku mengeluhkan laju kendaraannya yang tersendat akibat banyaknya pedagang durian yang menjajakan dagangannya di sepanjang pertigaan tersebut. Sehingga kendaraan yang akan menuju Tawangmangu atau sebaliknya terpaksa harus berjalan merayap jika banyak pembeli yang berjubel di kios pedagang durian itu.
“Jualan boleh saja, asalkan bisa diatur. Jangan di pinggir jalan apalagi dekat pertigaan, kasihan pengguna jalan yang lain,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroh menjelaskan bahwa puncak panen durian di Karanganyar sebenarnya baru terjadi di Bulan Januari mendatang.
Tingginya produksi buah baik dari Kecamatan Matesih, Jumantono, Jumapolo dan Jatipuro akhirnya membuat mereka menjajakan durian yang berbuah setahun sekali tersebut ke pinggir jalan, salah satunya yakni di pertigaan Matesih karena dianggap sebagai kawasan strategis. Terpisah, Kepala Disperindagkop dan UMKM Karanganyar, Sundoro menyatakan tidak membangun semacam kios, mengingat pedagang durian tersebut sifatnya musiman.

Read More