DSC_8189 copy

Yuuuuk, Ikuti Festival Durian

ilustrasi lomba durian

ilustrasi lomba durian

Karanganyar, Senin (04/03/2014)

Pemerintah Kabupaten Karanganyar dalam hal ini Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) akan mengadakan Festival Durian Karanganyar Tahun 2014.

Gelaran yang akan berlangsung di Balai Desa Matesih, dimulai pukul 07.00, Sabtu (08/03) direncanakan dibuka oleh Bupati Karanganyar Juliyatmono.

Kepala Dispertanbunhut Kabupaten Karanganyar, Siti Maesyaroch, menuturkan lomba ini terbuka untuk umum baik perorangan, instansi pemerintah, atau perusahaan swasta, Senin (04/03) saat di jumpai dikantornya. “Peserta tidak dipungut biaya. Untuk penjurian dan pemotretan, jumlah buah yang dikirim minimal tiga buah, berasal dari satu pohon, disertai foto pohon buahnya dengan ukuran 3R,” kata Siti.

Dia juga menambahkan buah yang dinilai yakni buah yang didaftarkan dan dikirimkan pada saat hari berlangsungnya lomba dan dalam kondisi baik.

Bagi juara I akan mendapatkan hadiah uang sebesar Rp 4 juta rupiah, juara II sebesar Rp. 3 juta rupiah, dan bagi juara III mendapatkan uang sebesar Rp. 2 juta rupiah, dan pemenang juga mendapatkan piagam. “Penilaian dilakukan oleh Juri tingkat kabupaten. Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat,” tandasnya. pd

 

Read More
DSC_0223 copy

Tanam Pohon Diberi Nama Yang Menanam

Karanganyar, Senin (25/11/2013)

Puluhan siswa SMA tampak bergerombol membentuk kelompok yang terdiri tiga sampai empat orang. Mereka bersama-sama menanam pohon di lingkungan sekolah.

Siswa sekolah diaiak menanam pohon untuk kelestarian lingkungan alam dan sebagai sarana edukasi

Siswa sekolah diaiak menanam pohon untuk kelestarian lingkungan alam dan sebagai sarana edukasi

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Karanganyar, Siti Maesyaroch mengatakan kegiatan tersebut sebagai sarana edukasi, peningkatan kepedulian, kemampuan dana kemandirian seluruh komponen bangsa akan pentingnya menanam pohon dan memelihara pohon.

“Kami juga mengajak seluruh warga masyarakat Kabupaten Karanganyar untuk melakukan penanaman dan pemeliharaan pohon secara berkelanjutan untuk mitigasi perubahan iklim dan merehabilitasi hutan dan lahan,” ujarnya, saat penanaman satu milyar pohon Tahun 2013, di SMA negeri 1 Jumapolo, Senin (25/11) pagi.

Pihaknya juga menjelaskan jumlah bibit yang ditanam selama periode Februari sampai Desember 2013 mencapai 2,5 juta batang yang berasal dari dana Pemerintah, Swasta dan swadaya masyarakat.

“Jenis bibit yang ditanam meliputi jati, sengon, jambon, mahoni, trembesi, akasia, mangga, kelengkeng, matoa, ace, dan durian,” ujar Siti Maesyaroch.

Ditempat yang sama, Bupati Karanganyar Rina Iriani mengatakan edukasi dan sosialisasi wajib diberikan kepada masyarakat.

“Ajak mereka, terutama generasi muda untuk lebih peduli  kepada alam. Tular dan bangkitkan semangat, motivasi, dan budaya menanam kepada seluruh masyarakat,” kata Rina Iriani.

Dengan melakukan penanaman pohon secara berkala dan berkelanjutan, Insya Allah kita mampu untuk mengurangi dampak pemanasan global, Meningkatkan absobsi gas CO2, dan polutannya, mencegah banjir, kekeringan dan tanah longsor, serta meningkatkan upaya konservasi sumberdaya genetik tanaman hutan.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kita bersama, betapa sangat pentingnya fungsi pohon dan hutan bagi kehidupan manusia.

“Pohon yang ditanam itu sebaiknya diberi nama yang menanam. Misalnya pohon mangga, sedangkan yang menanam namanya Indraswarianti. Berarti pohon itu bernama Indraswarianti,” ujarnya.

Hal itu supaya yang menanam mencintai dan merawat pohon yang telah dia tanam sehingga alam terus terjaga kelestariannya. pd

Read More

PRODUKSI BUAH DURIAN HASILKAN PULUHAN RIBU TON

DSC_0121

Bupati Rina Iriani mencicipi durian produk lokal Karanganyar saat panen durian, di desa Ploso, Jumapolo, Rabu (16/01).

Karanganyar, Kamis (17/01/2013)

Tujuh Kecamatan di Karanganyar yakni Kerjo, Mojogedang, Karangpandan, Matesih, Jumantono, Jumapolo dan Jatipuro menghasilkan durian sebanyak 22.000 ton/ tahun. Meski demikian, hanya sebagian pohon yang menghasilkan durian yang siap jual.

“Tahun ini produksi durian turun cukup banyak. Ini di sebabkan karena faktor cuaca. Saat ini intensitas hujan sangat tinggi, di bandingkan tahun lalu musim kemarau panjang,” jelas Siti Maesyaroch, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Kabupaten Karanganyar.

Sementara itu, dari 190.000 pohon durian di Kabupaten Karanganyar, 65.000 saja yang menghasilkan buah dan siap di panen. Dari ribuan pohon itu, bisa dihasilkan 20.000-22.000 ton/ tahun.

“Kita  mengembangkan jenis Varietas Unggul Nasional asal Karanganyar seperti Sukun, Teji, dan Lawkra,” jelas dia, di sela-sela Panen Durian di desa Ploso, Jumapolo, Rabu (16/01).

Varietas itu mempunyai keunggulan komparatif, berdaya saing, sehingga mampu menciptakan ciri khas suatu daerah. Selain itu juga, mengembangkan unggul lokal di masing-masing wilayah seperti durian Bodong (Jatipuro), Gundul dan Jingga (Jumapolo), Gendon (Jumantono), Ledek (Matesih) dan Arum Kuning (Mojogedang).

“Selain itu juga mengembangkan jenis introduksi baru seperti Montong dan Kani,”  imbuh Siti Maesyaroch.

Pemerintah Kabupaten Karanganyar dalam hal ini Dispertanbunhut akan mengembangkan sentra durian dengan menyediakan bibit unggul, melakukan pembinaan pengetahuan dan ketrampilan penangkar benih, dan pembentukan kebun entrys.

“Pelatihan petani dan kerjasama dengan semua pelaku yang terkait dengan pengembangan durian juga akan kita lakukan,” jelas wanita berjilbab itu.

Pada acara yang sama setelah panen durian, Bupati Karanganyar, Rina Iriani Sri Ratnaningsih mengatakan Dispertanbunhut telah mengijinkan Sub Terminal Agrobisnis (STA) Karangpandan dipakai untuk pemasaran durian milik petani.

“Petani durian bisa memasok ke STA. Tetapi jika ingin memasarkan sendiri di BPP, saya persilakan, nanti koordinasi dengan Dispertanbunhut,” jelas Bupati Rina Iriani.

.pd

Read More

Dua Jenis Durian Lokal Karanganyar Bakal Diekspor

Dua jenis durian lokal asli Karanganyar yakni Lawu Kra dan Teji bakal dikembangkan untuk diekspor. Jenis durian tersebut dibudidaya di beberapa wilayah Karanganyar seperti Jumapolo, Mojogedang, Matesih dan Jumantono.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengatakan pihaknya bakal mengembangkan budidaya durian lokal yang diperuntukkan diekspor. Selama ini, durian lokal tersebut hanya dipasarkan di wilayah Soloraya. “Permintaan durian lokal Karanganyar cukup tinggi, jadi saat dipasarkan di luar Karanganyar seperti Solo dan Sragen pasti langsung habis,” ujarnya, Senin (14/1/2013).

Pengembangan budidaya durian khusus ekspor dilakukan agar dapat bersaing di pasaran internasional. Selama ini, Karanganyar telah mengekspor beberaja jenis buah seperti melon dan semangka ke Jepang dan Singapura.

Menurutnya, awal Januari-Maret merupakan musim panen durian. Dipastikan ribuah durian bakal dipasarkan di wilayah Soloraya dan DIY. Selain durian lokal, terdapat beberapa jenis durian lainnya antara lain montong.

Siti mengungkapkan musim penghujan menjadi kendala utama budidaya durian di Karanganyar. Biasanya, para petani memanen durian mulai pertengahan Desember, karena intensitas curah hujan tinggi maka musim panen mundur hingga Januari. “Setiap hari pasti terjadi hujan lebat, ini yang menjadi kendala para petani durian,” paparnya.

Sementara seorang petani durian asal Desa Tugu, Kecamatan Jumatono, Dianto, menyatakan durian yang telah dipanen dijual dengan harga bervariatif. Harga durian ukuran besar dijual senilai Rp20.000-Rp30.000. Sementara durian ukuran kecil dibanderol senilai Rp10.000. Biasanya, harga durian dinaikkan oleh pengecer yang menggelar dagangan di pinggir jalan. “Biasanya dipasarkan ke wilayah Solo sekitarnya, harganya bisa naik setelah dijual para pengecer,” tambahnya.

Read More

Dilanda Kekeringan, Petani Pusokan Padinya

Para petani di daerah Popongan, Karanganyar Kota terpaksa memusokan tanaman padinya lantaran tidak mendapat pasokan air yang mencukupi. Rata-rata umur padi yang dipusokan tersebut baru dua bulan dengan kondisi sudah mengering.
Salah seorang petani asal Dusun Arjosari, Popongan, Karanganyar Kota, Sunardi (55), mengatakan para petani di daerahnya tidak bisa berbuat banyak dan terpaksa memotong tanaman padinya untuk dijadikan makanan ternak. “Karena sudah mengering ya dipotong saja untuk pakan ternak. Ya lebih bermanfaat daripada didiamkan,” ujarnya, Rabu (10/10).
Saat dibabat, tanaman padi milik Sunardi tampak kuning kecokelatan karena kekeringan. Bersama dengan beberapa petani lainnya, ia sebenarnya mengaku sedih dengan pilihan tersebut. “Saya sedih, namun ini risiko menanam padi di musim kemarau. Kami kira masih dapat pasokan air dari irigasi. Ternyata hanya saat awal menanam saja (dapat pasokan air). Mau pakai disel juga tidak ada,” ujarnya.
Pernyataan serupa juga dilontarkan Pawiro (60), petani asal daerah setempat. Ia mengaku bahwa sekitar 50 persen lahan dari total 100 hektare lahan yang ditanami padi tidak bisa dipanen. Sedangkan sisanya yang bisa dipanen itu pun kualitasnya tidak begitu baik. “Biasanya saat air cukup hasil padi pasti melimpah dengan kualitas yang sangat bagus. Karena ini musim kemarau, ya ini risikonya,” ungkap Pawiro.
Terkait kerugian yang dialami, Pawiro mengaku, bisa mencapai Rp 6 juta di setiap hektarenya. Nilai tersebut baru ongkos produksi, belum lagi ongkos tenaga kerja dan ongkos di luar produksi lainnya. “Kalau padi tersebut panen, kami bisa menghasilkan Rp 18 juta per hektare. Itu minimal, bahkan kadang bisa lebih,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengakui adanya lahan padi yang dipusokan dalam musim tanam kedua ini. Namun pihaknya masih akan melakukan pengecekan ke lapangan terkait luas lahan padi yang dipusokan. “Kami masih mengecek di lapangan, biasanya laporan tengah bulan sudah ada datanya. Itu wajar karena saat ini baru akan menginjak musim hujan,” ujarnya.
Menurutnya, kejadian banyaknya padi yang dipusokan karena kekeringan tersebut akan dilaporkan ke Kementerian Pertanian. Sehingga diharapkan para petani mendapatkan bantuan benih untuk musim tanam ketiga kelak. “Tapi kami hanya mengusulkan, itu terserah pusat,” ujarnya.

Read More

Hama Tikus Serang 10 Hektare Lahan Padi

Hama tikus serang 10 hektare lahan pertanian padi yang hampir panen merata di seluruh wilayah Karanganyar. Sementara amukan hama tikus paling parah terjadi di Kecamatan Jaten dan Kebakkramat.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengatakan hama tikus paling banyak menyerang dua kecamatan itu di musim kemarau ini paling luas lahan tanaman padinya dibanding daerah lain. Apalagi, di kedua kecamatan tersebut kebutuhan air untuk irigasi mudah didapat karena adanya aliran Dam Colo. “Kalau wilayah lainnya kebanyakan menggunakan pompa air saat musim kemarau,” ujar Siti, Senin (1/10).

Menurutnya, 10 hektare lahan padi yang diserang tikus tersebut hampir mencapai separuh dari total lahan yang ditanami padi di musim kemarau ini. “Pada musim tanam kedua ini yang juga musim kemarau, hanya petani yang daerahnya ada sumber irigasi yang menanam padi, seperti Jaten, Kebakkramat, Tasikmadu, Mojogedang, dan Karangpandan,” tambah Siti.

Sementara itu, beberapa wilayah yang sumber airnya tidak bagus dan mengandalkan tadah hujan tidak menanam padi, seperti di wilayah Jumantono, Jumapolo, Jatipuro, dan Jatiyoso. Hama tikus yang muncul tersebut lantaran lahan yang digunakan untuk menanam padi jumlahnya sedikit.

Sebagai antisipasi meluasnya hama tikus tersebut, rencananya Dispertanbunhut akan menggelar gropyokan tikus massal pada Kamis (4/10) di area sawah di wilayah Karangpandan. Kegiatan tersebut rencananya akan melibatkan unsur TNI dan Muspida. “Rencananya gropyokan tersebut akan dipimpin oleh Bupati Karanganyar Rina Iriani dan Dandim 0727 Karanganyar Letkol (Inf) Eddy Basuki,” kata Siti.

Read More

Musim Panen Padi di Jaten Diperkirakan Molor

Musim panen padi di Kecamatan Jaten , Karanganyar diperkirakan molor akibat pasokan air ke lahan pertanian tersendat. Para petani kemungkinan baru memanen padi pada akhir November.

Seorang petani di Desa Jati, Kecamatan Jaten, Rakiman, 50, mengatakan biasanya para petani memanen padi pada pertengahan Oktober. Karena pasokan air tersendat maka diperkirakan masa panen padi molor hingga akhir November. “Mungkin masa panen padi akhir November atau awal Desember karena pasokan air berkurang,”  katanya saat ditemui, Kamis (20/9/2012).

Pasokan air ke lahan pertanian kurang lancar selama musim kemarau. Selama ini, para petani mengandalkan mesin pompa air untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian. “Permasalahannya hanya pasokan air, kalau tanaman padinya cukup kuat walaupun musim kemarau. Makanya petani menggunakan mesin pompa air untuk mengairi sawah.

Anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Makmur tersebut menuturkan mesin pompa air berjumlah enam unit. Mesin itu digunakan untuk mengairi lahan pertanian seluas 50 hektare. “Ya bergantian, mau bagaimana lagi mesin pompanya hanya enam unit. Yang penting ada pasokan air walaupun sedikit,” jelasnya.

Dia meminta agar instansi terkait memberikan bantuan mesin pompa air untuk mengairi lahan pertanian. Pasalnya, mesin tersebut sangat membantu para petani selama musim kemarau.

Sementara Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengungkapkan pihaknya meminta agar para petani tidak menanam tanaman padi selama musim kemarau. Para petani diminta menanam tanaman palawija seperti jagung.

Pihaknya bakal memberikan bantuan mesin pompa air kepada petani secara bergilir. Sebab, jumlah mesin pompa air cukup terbatas. “Kami sudah mewanti-wanti para petani agar menanam tanaman palawija. Kalau memang minta bantuan mesin pompa air akan kami sediakan namun bergilir karena jumlahnya terbatas,” tambahnya.

Read More

HAMA: Masuki MT II, Petani Waspadai Serangan Hama

Petani di Jaten, Kabupaten Karanganyar mulai mewaspadai serangan hama keong emas maupun wereng memasuki musim tanam (MT) II. Berbagai upaya dilakukan untuk mengantisipasi serangan hama tersebut.

Salah satu petani, Temu, mengaku waswas dengan hujan deras yang terus mengguyur wilayah Karanganyar dalam sepekan terakhir. Menurutnya dengan intensitas hujan yang tinggi akan membuat potensi serangan hama keong emas semakin besar. “Kalau airnya terlalu kebanyakan pasti keongnya banyak. Padahal ini hujan terus dan bisa membuat kelebihan air,” ujarnya.

Temu mengatakan berbagai langkah akan dilakukan untuk mengantisipasi serangan hama keong emas tersebut. Salah satunya dengan mengurangi debit air yang ada di lahan pertaniannya. Dengan demikian keong emas tidak bisa berkembang biak lebih cepat.

Hal senada disampaikan petani lain, Warso yang mengaku cemas akan serangan hama wereng. Apalagi kondisi cuaca tidak menentu yang dikhawatirkan akan menimbulkan potensi serangan hama wereng. “Kadang hujan, kadang panas sekali ini yang bisa membuat wereng berkembang. Jadi ya harus persiapan obat buat ngusir wereng,” katanya. Warso mengatakan serangan hama wereng patut diwaspadai. Hal ini dikarenakan serangan hama wereng mampu langsung membuat tanaman padi kering dan mati sehingga tidak bisa dipanen. Dia tidak ingin serangan hama wereng yang menyerang tanaman padi petani pada tahun lalu terulang kembali.

Nek tahun wingi blas mboten panen. Wong parine do dipangan wereng kabeh. Dadi tahun iki kudu panen, parine seger ora mati dipangan wereng,” harapnya.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar Siti Maesyaroch mengatakan telah membentuk tim brigade perlindungan tanaman pangan. Tim yang beranggotakan 10 orang ini akan bertugas melakukan gerakan perlindungan tanaman pangan. Artinya jika menerima laporan adanya serangan hama pada tanaman apa pun, tim ini akan langsung bertindak dengan melakukan pembasmian. “Jadi kami telah bentuk tim brigade perlindungan tanaman. Begitu terima laporan ada serangan hama, tim ini yang bertindak,” terangnya

Read More

Tanaman PADI AMBRUK, Petani Merugi Jutaan Rupiah

Petani di Karanganyar kian menjerit rugi hingga puluhan juta rupiah lantaran tanaman padi ambruk diterjang hujan disertai angin kencang, Minggu (12/2/2012) sore. Bahkan tanaman padi yang diikat pun ikut ambruk tak kuat menahan terjangan angin tersebut.

Berdasarkan pantauan, Senin (13/2/2012) padi yang ambruk terjadi di Jaten, Tasikmadu, Karanganyar Kota serta Matesih. Petani yang ditemui mengaku rugi hingga puluhan juta rupiah akibat kejadian itu.

Petani Dagen, Kecamatan Jaten, Mukiman, 57 mengaku pasrah dan terpaksa memanen dini tanaman padinya. Hal ini lantaran tanaman padi yang siap panen sepekan lagi ambruk diterjang angin.

”Padinya ambruk semua. Tidak bisa diapa-apakan lagi,” keluhnya.

Dia mengaku mengalami kerugian hingga jutaan rupiah akibat kejadian tersebut. Apalagi tanaman padi yang dipanen masih belum berisi. Meskipun sebagian padi lainnya sudah berisi. ”Rugi banyak, sampai Rp4 jutaan. Seharusnya belum dipanen, tapi harus dipanen,” ujarnya.

Senada disampaikan petani lain, Rigun, 33. Dia mengatakan hujan deras disertai angin kencang yang menerjang Karanganyar menyebabkan tanaman padi yang sudah dalam kondisi diikat roboh. Sebelumnya, sebagian tanaman padi miliknya telah roboh diterjang angin beberapa waktu lalu.

”Sekarang malah yang diikat ikut ambruk. Hampir semua tanaman di sini ambruk kena angin,” tuturnya.

Rigun mengatakan langkah mengikat tanaman padi dilakukan untuk mengurangi kerugian yang cukup besar. Apalagi tanaman padi miliknya yang roboh belum bisa dipanen. Sehingga harus tetap ditegakkan kembali dengan diikat agar siap dipanen.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Tanaman pangan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar Siti Maesyaroch mengakui banyak tanaman padi milik petani di Karanganyar yang roboh diterjang angin pada Minggu kemarin. Namun pihaknya belum menetapkan hal itu sebagai kejadian luar biasa.

”Belum bencana. Masih normal, tapi kami siap memberikan bantuan benih kepada petani yang membutuhkan,” ujar Siti.

Read More

Cuaca Ekstrem, 10 Hektare Padi Rusak

Padi

Akibat cuaca ekstrem dan angin kencang yang bertiup selama tiga hari terakhir, sekitar 10 hektare lahan pertanian di Desa Bulu dan Desa Jetis, Jaten serta Tasikmadu rusak parah. Tanaman padi yang siap dipanen tersebut ambruk dan patah sehingga petani harus melakukan panen dini jika tidak ingin merugi.
“Harusnya satu minggu lalu dipanen, tapi karena angin kencang, padinya jadi rusak mas,” ujar Suwardi petani di Jetis, Jumat (27/1).
Sunardi, petani lainnya di Desa Bulu mengatakan selama sepekan ini angin memang bertiup cukup kencang. Apalagi pada hari Selasa (24/1) dan Rabu (25/1) kemarin angin tidak henti-hentinya bertiup kencang menerjang sawahnya.
“Senin sore sewaktu saya lihat, padinya masih bagus. Tetapi mulai Selasa pagi sudah mulai banyak yang ambruk dan bertambah lagi pada hari Rabunya,” imbuh dia.
Karena hampir bersamaan kasusnya, lanjutnya para petani akhirnya kompak dan menyatakan akan dipanen dini pada hari Jumat (27/1) ini untuk menyelamatkan tanaman dari kerusakan dan meminimalkan kerugian.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch mengatakan pihaknya belum mengetahui adanya informasi mengenai rusaknya lahan pertanian petani akibat terjangan angin. Jika memang adanya banyak yang ambruk, dirinya meminta kepada para petani untuk segera memanen dini padinya.
Hal tersebut harus dilakukan untuk meminimalkan kerusakan dan juga mencegah kerugian semakin banyak. “Ini petugas sedang turun ke lapangan guna melakukan pendataan,” katanya saat dihubungi, Jumat (27/1).

Read More