Tebu Temanten Sebagai Tanda Selamatan Giling

Read More

Selamatan Giling PG. Tasikmadu Tahun 2013

IMG_9143

Bupati Karanganyar Dr. Hj. Rina Iriani Sri Ratnaningsih, M.Hum Memasukkan Batang Tebu Sebagai Tanda Dimulainya Proses Giling Tebu

Bunyi gamelan reog Ponorogo berada paling depan mengiringi arak-arakan Tebu Temanten yang merupakan tebu pilihan dan rendemen tinggi yang bernama Bagus Madu Pastika (diambil dari Kebun Mojoroto TRS I KSO) dan Roro Palastri (diambil dari Kebun Kragilan TRS I KSO) sebagai tanda mengawali proses giling tebu PG. Tasikmadu, Karanganyar, Jumat pagi (19/05). PG. Tasikmadu dimusim giling 2013 ini mengambil tema Membangun Sinergi dan Kebersamaan Bersama Mitra Untuk Meningkatkan Kinerja Perusahaan.

Sebelum Upacara Tebu Temanten, terlebih dahulu dilakukan ritual selamatan giling sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,  agar selalu diberikan keselamatan, dan hasil gilingnya bisa banyak, Kamis sore (18/05).

Ir. HM Agus Hananto P, Administratur PG Tasikmadu, mengatakan “Target pengilingan sebesar 4.111.345 kwintal untuk tahun ini, dengan luas areal 6225 Ha, selama 135 hari proses pengilingan,”. Ditambahkan pula sebagai bentuk langkah nyata saat ini PG. Tasikmadu juga telah mencoba mengaplikasikan ISO (International Standarisation Organization) 9001:2008 dengan pengawalan dari Kemmenperindag dimana ISO tersebut merupakan salah satu standar dalam Sistem Manajemen Mutu yang telah diakui dunia international. Disamping itu menghadapi giling tahun 2013 ini, PG. Tasikmadu juga bekerjasama dengan Tim Sembilan (Pakar Pergulaan dan LPP Yogyakarta) dalam mengawal giling tahun 2013 nanti. Semua itu dilakukan adalah untuk menunjang pencapaian sasaran giling yang telah ditetapkan,

Bupati Karanganyar Dr. Hj. Rina Iriani Sri Ratnaningsih, M.Hum, menekan tombol, menandai dimulainya proses giling tebu, kemudian secara bergiliran Bupati Rina Iriani, para pejabat PG Tasikmadu, dan kepala SKPD memasukan satu batang tebu ke dalam mesin giling. (ad/dt)

Read More

Selamatan Giling PG Tasikmadu

Menjelang musim giling tebu, dapat dipastikan hampir semua pabrik gula menggelar serangkaian ritual sakral untuk keselamatan, yang disebut cembengan. Sebutan itu sebenarnya merujuk pada keramaian pasar malam yang selalu digelar setiap awal bulan April, bulan di mana masa panen raya tebu datang. Pasar malam yang digelar masyarakat tersebut biasanya bertempat di sekitar lokasi pabrik gula.

Di Karanganyar, sekitar 15 kilometer arah timur Kota Solo, Jawa Tengah, pasar malam cembengan menempati sekitar Pabrik Gula (PG) Tasik Madu. Puluhan lapak berderet-deret, menjajakan berbagai makanan khas pasar malam tradisional, seperti arum manis, es dawet, brondong jagung dan jajan pasar. Ada juga beberapa hiburan anak-anak semacam komidi putar, dan tong setan. Hiburan “jadul” itu memang seperti mengingatkan kembali kenangan masa lalu.

Selamatan Giling adalah ritual yang digelar sebagai pertanda dimulainya musim giling tebu dan juga sebagai wujud ungkapan sukur terhadap Tuhan YME. Terdiri dari banyak rangkaian acara, diantaranya pemberian sesaji yang biasa disebut masyarakat setempat dengan “Julen” dan manten tebu.

Sesaji yang digunakan pada saat Selamatan Giling terdiri dari kepala kerbau sebanyak 7 buah, berbagai jenis jenang (bubur), kecok bakal, telor, kinangan, berbagai jenis tumpeng, berbagai jenis ketupat, palapendem, kembang telon yang semua itu ditempatkan di dalam Pabrik Gula. Acara penempatan sesaji ini dipimpin oleh seorang sesepuh pemangku adat.

Puncak ritual cembengan berlangsung pada keesokan harinya yaitu prosesi kirab tebu temanten. Tentu saja, tebu yang menjadi pengantin merupakan tebu pilihan, sehingga diperlakukan secara khusus dan khas. Selain batang tebunya dipilih yang paling baik dan memiliki rendemen tinggi, sepasang tebu temanten pun didandani layaknya sepasang mempelai, tak ubahnya pasangan pengantin manusia.
“Sepasang tebu temanten ini sebagai simbol adanya tebu lanang (laki-laki) atau tebu yang berasal dari daerah lain, serta tebu wadon (wanita) yang ditanam sendiri oleh pabrik gula Tasik Madu PG sendiri.
Soal pemeilihan nama tebu temanten itu mengandung harapan agar kelak gula yang dihasilkan nantinya berlimpah dan kualitasnya bersih, sekaligus membawa berkah bagi karyawan dan warga sekitar pabrik.
Hingga akhirnya, arak arakan tebu temanten berangkat dari rumah dinas kepala tanaman pasangan tebu temanten dikirab bersama 14 pasang tebu pengiring keliling desa, menuju besaran atau rumah dinas administratur pabrik gula. Dari sepanjang pinggir jalan, warga mengelu-elukan kirab pengantin. Atraksi reog menyambut kedatangan tebu temanten dan pengiringnya di halaman pabrik gula. Begitu arak-arakan pengantin memasuki ruang giling, sepasang temanten tebu kemudian diletakkan di atas mesin giling, disusul kemudian 14 pasang tebu pengirinyanya. Glek! Mesin penggiling pun bergerak, mulai menggilas dan melumat batang-batang tebu. Bergeraknya mesin giling itu pun menandai dimulainya proses giling tebu hingga 100 hari mendatang, sekaligus mengakhiri ritual cembengan di PG tasik Madu, Karanganyar.

Begitulah, Tebu telah menjadi tumpuan harapan para petani, karyawan pabrik gula, dan orang-orang di sekitar pabrik. Air manis dari tebu yang digiling, yang nantinya akan menjadi gula, sungguh sangat berarti kehidupan mereka. Maka, musim giling tebu barangkali menjadi musim yang paling ditunggu.

Read More