DSC_0019 – Copy

Napak Tilas Perjuangan Raden Mas Said

Bupati Karanganyar Juliyatmono mengibaskan bendera start Napak Tilas Perjuangan Raden Mas Said

Bupati Karanganyar Juliyatmono mengibaskan bendera start Napak Tilas Perjuangan Raden Mas Said

Karanganyar, Minggu (01/11/2015)
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar mengadakan Napak Tilas Perjuangan Raden Mas (RM) Said yang dimulai dari Lapangan Mojoroto, Kecamatan Mojogedang hingga finis di Sapta Tirta Pablengan, Kecamatan Matesih.

Jarak yang ditempuh sekitar 18 kilometer dan dengan berjalan kaki, terbagi dalam tiga Pos, yakni Pos 1 di Kecamatan Mojogedang, Pos 2 di hutan karet Dengkeng, Pos 3 di Kantor Kepala Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan.

Bupati Karanganyar Juliyatmono tepat pukul 07.30 WIB memberangkatkan sekitar 550 orang peserta dari pelajar, ormas, maupun PNS terbagi sebanyak 78 kelompok.

“Dihayati nilai-nilai perjaungan, betapa sungguh-sungguh Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa ikut menjadikan Indonesia dan melahirkan Kabupaten Karanganyar ini,” kata Juliyatmono, Minggu (01/11).

Dengan napak tilas ini, seluruh generasi bersama-sama meneguhkan sikap untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan untuk membangun cita-cita yang diinginkan.

“Dengan adanya napak tilas ini diharapkan semakin mencintai Kabupaten Karanganyar,” katanya.

Ditempat yang sama, diceritakan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kabupaten Karanganyar Iskandar di Desa Mojoroto, RM Said menempa diri lahir dan batin dan para pengikutnya berlatih olah kanuragan dan pengembangan jiwa kawijayan.

“Suatu ketika, Kanjeng Sinuhun Susuhunan Pakubuwana II dan dibantu pasukan Belanda, menyerang dan menghancurkan markas tersebut hingga bangunan menyerupai Kraton di hancurkan,” kata Iskandar.

RM Said dan pengikutnya kemudian memindahkan markasnya kearah selatan, yaitu dusun Segawe, Wilayah Jatiyoso. Melalui perjuangan yang panjang, akhirnya memperoleh kemenangan dan menjadi Raja dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I. pd

Read More
logo hut 98

Logo Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Karanganyar Ke 98

logo hut 98

Filosofi Logo

Burung Tekukur Terbang

logo derkukuBurung tekukur (derkuku) adalah burung yang sangat erat dengan sejarah perjuangan Raden Mas Said. Burung tekukur yang dihidangkan kepada kepada RM Said diyakini sebagai wahyu keraton yang menjadi simbol sehingga akhirnya RM Said menjadi seorang Raja. Burung tekukur juga melambangkan kesahajaan, rendah hati, berani, dan mengayomi. Meskipun dia mampu terbang tinggi, tetapi burung tekukur justru memiliki kebiasaan untuk makan diatas permukaan tanah.

Posisi burung sedang terbang melambangkan tekad besar untuk mencapai “kejayaan” sehingga dibawah kepemimpinan yang rendah hati, bersahaja, berani, dan mengayomi, maka Kabupaten Karanganyar akan mencapai zaman keemasannya.

Daun Hijau

logo daunDaun berwarna hijau melambangkan kesuburan dan kemakmuran bumi INTANPARI, gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta rahardja, murah sandang, pangan, & papan, bagi seluruh warga masyarakat Karanganyar.

Keris

logo kerisKeris (pada logo menyatu dengan daun) sebagai senjata RM Said melambangkan kegigihan memperjuangkan kebenaran, simbolisasi sejarah Masa lalu yang harus di kenang oleh generasi sekarang dan yang akan datang.

Bulu Ekor (3 lembar)

logo ekorTiga lembar bulu ekor (warna merah, kuning, dan hijau): melambangkan falsafah Tri Dharma perjuangan Raden Mas Said yaitu Mulat Sarira Hangrasa wani, Rumangsa Melu Handarbeni, dan wajib Melu Hangrungkebi.

Teks Karanganyar Maju & Sehat

logo teksTulisan “Karanganyar Maju dan Sehat” melambangkan perwujudan salah satu visi misi Pemerintah Kabupaten Karanganyar periode kepemimpinan 2013 -2018

Teks 98 th

logo teks 98Tulisan 98th melambangkan angka ulang tahun Kabupaten Karanganyar yang ke-98

Read More
DSC_0070

MSI karanganyar Launching Buku Sejarah Raden Mas Said

DSC_0084

Bupati Karanganyar Juliyatmono Memberikan Sambutannya Saat Launching Buku RM Said, Rabu 07/01

DSC_0057

Forkompinda Karanganyar Saat Menghadiri Launching Buku RM Said, Rabu 07/01

DSC_0070

Sendratari Perjuangan RM Said Saat Launching Buku RM Said, Rabu 07/01

Pemerintah Kabupaten Karanganyar bekerjasama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kab.Karanganyar meresmikan Buku Sejarah dan Nilai-nilai perjuangan Raden Mas Said yang dikenal dengan semboyan “Tiji Tibeh” (mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh), semangat kebersamaan yang diibaratkan dengan “Hanebu Sauyun” (serumpun bagai serai, seliang bagai tebu) dan ajaran Tri Dharma-nya (Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Hangrungkebi, Mulat Sarira Hangrasa Wani). Bupati, Wakil Bupati Karanganyar, Forkompinda, SKPD, Camat dan sejumlah pejabat menghadiri acara tersebut.

Iskandar selaku ketua umum pemerhati Sejarah Karanganyar dalam laporannya menyampaikan bahwa sebagai masyarakat sejarawan karanganyar di tahun 2014 ini telah menyusun buku sejarah perjuangan Raden Mas Said. “ini merupakan salah satu ide atau gagasan Bupati tentang pentingnya sejarah Raden Mas Said atau yang lebih dikenal sebagai pangeran samber nyawa, dikenal sebagai seorang pejuang, politisi ulung, negarawan, panglima perang, seniman dan sebagai ulama, karena merupakan salah satu tokoh peletak dasar demokrasi”, Terangnya.

“Ini untuk kali kedua, kami selaku MSI Karanganyar melaunching buku sejarah, yang sebelumnya telah melaunching buku joko songo”, Tambahnya.

Pada kesempatan tersebut Sugiharso Hadi Saputro selaku ketua tim penyusun buku sejarah Raden Mas Said ini mengatakan bahwa penyusunan buku sejarah ini melalui tiga pendekatan yakni pendekatan fakta historis, pendekatan rekonstruksi, dan pendekatan intepretasi nilai-nilai perjuangan.

Sementara itu Bupati Karanganyar Juliyatmono dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas kerja keras dan kerjasamanya kepada MSI kabupaten karanganyar yang telah rampung menyusun buku sejarah dan nilai-nilai perjuangan Raden Mas Said ini.

“Saya berharap buku sejarah Raden Mas Said ini dapat disosialisasikan kepada masyarakat khususnya generasi muda kita agar spiritnya dapat menjadi pendorong dalam melanjutkan perjuangan beliau untuk kemajuan kabupaten karanganyar, maka dari itu saya minta kepada MSI Karanganyar untuk segera mentransfer buku sejarah Raden Mas Said ini melalui teknologi, sehingga mudah diakses para pelajar kita”, pesan Juliyatmono saat melaunching buku sejarah Raden Mas Said. Rabu (07/01) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar. ad

Read More
aa

Astana Mangadeg

Astana mangadeg 2

Astana mangadeg 2

Astana Mangadeg terletak di desa Karang Bangun Kecamatan Matesih merupakan komplek makam raja – raja dari istana Mangkunegaran, Surakarta. Raja – raja Mangkunegaran yang dimakamkan di astana Mangadeg adalah Raja Mangkunegara I atau Pangeran Samber Nyawa dan lebih dikenal dengan nama Raden Mas Said yang memiliki kesaktian luar biasa dan pada masa pemerintahanya sangat gigih melawan penjajah Belanda,selain itu terdapat makam Raja Mangkunegara II, III, serta kerabat – kerabatnya.

Read More

Wisata Ziarah / Spiritual

Astana Giribangun

Astana Giribangun terletak di desa Girilayu kecamatan Matesih adalah komplek pemakaman mantan presiden RI ke-2 Bapak H.M Soeharto dan Ibu Tien Soeharto, keluarga serta kerabat-kerabatnya. Makam ini terletak di bawah astana Mangadeg. Komplek makam Giribangun di bangun pada than 1974, diresmikan penggunaanya pada tahun 1967.

Astana Mangadeg

Astana  mangadeg  terletak  di  desa  Girilayu  kecamatan  Matesih  merupakan komplekmakam raja-raja dari istana Mangkunegaran, Surakarta. Raja raja Mangkunegaran yang di makamkan di astana Mangadeg adalah Raja Mangkunegaran I (yang terkenal dengan nama Raden Mas Said atau pangeran Sambernyawa yang punya kesaktian luar biasa dan pada masa pemerintahannya sagat gigih melawan penjajah Belanda),  Raja Mangkunegaran II dan Raja Mangkunegaran III serta kerabat-kerabat raja. Tempat ini masih disakralkan terutama oleh masyarakat umum yanng masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Pura Mangkunegaran.

Astana Girilayu

Astana Girilayu berada di desa Girilayu kecamatan Matesih merupakan komplek makam raja-raja dari istana Mangkunegaran, Surakarta. Raja-raja Mangkunegaran yang dimakamkan di astana Girilayu adalah Raja Mangkunegaran IV, Mangkunegaran V, Mangkunegaran VII dan Mangkunegaran VIII serta kerabat-kerabat raja. Pengunjung dapat  berziarah  langsung  ke  makam  raja-raja  ini  dengan  dipandu  oleh  juru  kunci makam. Khusus bagi pengunjung wanita apabila akan melakukan ziarah harus mengenkan kain yang telah disediakan oleh yayasan pengelola astana Girilayu.

Read More

Sapta Tirta

OBJEK wisata Sapta Tirta di Desa Pablengan, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, tidak berkelebihan jika dikatakan sebagai salah satu keajaiban alam di bumi Indonesia. Sapta Tirta, sapta artinya tujuh, tirta artinya air. Sapta Tirta maksudnya, tujuh mata air. Uniknya, tujuh mata air tersebut berkumpul di satu areal sekitar 2 hektar. Jarak satu mata air yang satu dengan mata air yang lain, paling dekat kurang lebih 5 meter, paling jauh kira-kira 15 meter. Ke-7 mata air tersebut mengeluarkan air yang kandungan mineralnya satu sama lain berbeda.

Objek wisata alam ini terletak di jalan raya yang menghubungkan Karangpandan dan Astana (= makam raja) Mangadeg Girilayu. Jarak Sapta Tirta dengan Kota Karanganyar, ibukota Kabupaten Karanganyar, sekitar 20 km. Objek wisata ini terletak di kaki Gunung Lawu berhawa sejuk, dengan latar belakang hutan pinus Argotiloso.
“Sapta Tirta ini mempunyai kaitan erat dengan sejarah perjuangan Pangeran Raden Mas Said melawan VOC, tahun 1741 sampai 1757”, kata Sugeng, 32 tahun, salah seorang pengelola Sapta Tirta.

Dulu lokasi ini bekas benteng pertahanan Pangeran Raden Mas Said, yang karena saktinya, beliau mendapat julukan Pangeran Sambernyawa. VOC memang berhasil menduduki benteng itu. Lalu benteng diobrak-abrik rata dengan tanah. Tetapi Sapta Tirta tidak terusik sampai sekarang. Pangeran Sambernyawa mundur, tetapi terus gigih melawan pasukan tentara VOC. Sampai akhhirnya VOC kuwalahan menghadapi gerilya Pangeran Sambernyawa dan para pengikutnya.

Tanggal 17 Maret 1757 perlawanan Pangeran Sambernyawa berhenti. Tanggal itu terjadi perdamaian dan perjanjian, dihadiri oleh Raja Surakarta Hadiningrat Pakubuwana ke-III, Sultan Jogja, VOC, dan Pangeran Sambernyawa. Hasilnya, Pangeran Sambernyawa mendapat daerah otonomi atau Praja Mangkunegaran, dan beliau mendapat sebutan Kanjeng Gusti Pangeran Ario Adipati (KGPAA) Mangkunegara I.

Salah satu peninggalan Pangeran Sambernyawa adalah tempat semedi (=tafakur). Tempat tersebut berpagar besi, luasnya sekira 2 meter persegi. Tempat keramat tersebut tertulis kaligrafi huruf Jawa: ega. “Kepanjangan huruf ega adalah Eyang Gusti Aji alias Pangeran Sambernyawa, yang nama kecilnya Raden Mas Sahid.

Bila masuk kompleks ini, sebaiknya berlaku santun. Karena tempat ini peninggalan bangsawan sakti. Misalnya, jangan seenaknya buang air kecil di sini. Gunakan adab yang santun dan jauhi perilaku yang tak beradab.

Sebenarnya ada 8 sumber, yaitu sumber air tawar. Tetapi letaknya di bukit, di atas, tak jauh dari kompleks Sapta Tirta. Di kompleks ini disediakan mushola. Bangunan kuno yang lain, selain tempat semedi, adalah Pemandian Keputren. Dulu memang tempat mandi para puteri. Tempat ini juga keramat. Orang tidak boleh berlaku sembarangan. Kalau mau masuk atau mandi, harus seijin pengelola. Orang yang hendak berziarah ke makam raja-raja di Astana Mangadeg Giribangun, biasanya mandi dulu di Pemandian Keputren dan mohon ijin Pangeran Sambernyawa di petak semedi.

Ketujuh sumber air tersebut adalah:

  • Sumber Air Bleng. Airnya rasa asin. Biasanya orang mengambil air di sumber ini untuk membuat karak, atau semacam krupuk yang bahan bakunya dari beras atau nasi. Apakah harus membayar? Bayarnya jika mau masuk kompleks, Rp 3.000,- (Oktober 2009). Kalau mau ambil air bleng, tidak perlu bayar. Sumber air bleng ini tidak pernah kering, sejak jaman dulu sampai sekarang.
  • Sumber Air Hangat. Airnya memang hangat. Biasanya untuk mencucikan badan sekaligus untuk mengobati berbagai penyakit kulit, misalnya gatal-gatal. Juga bisa untuk mengobati rematik.
  • Sumber Air Kasekten. Kata kasekten dari kata sakti. Air dari sumber ini biasanya untuk kekuatan, kesehatan, atau untuk mensucikan jiwa raga.
  • Sumber Air Hidup. Air hidup boleh untuk mencuci muka. Bagi yang percaya, air hidup bisa membuat wajah tampak awet muda. Ada pula yang mengambil air ini untuk bagian dari upacara pernikahan.
  • Sumber Air Mati. Air yang keluar dari sumber ini dilarang keras untuk dibuat cuci muka, cuci tangan, apalagi untuk minum. Air di sumber ini mengandung mineral yang berbahaya jika diminum (CO2?). Sumber Air Mati tidak pernah bertambah atau berkurang, dari jaman dulu sampai saat ini.
  • Sumber Air Soda. Jika air dari sumber ini diminum, terasa rasa soda. Konon air soda Sapta Tirta bisa untuk obat berbagai penyakit dalam, misalnya sakit ginjal, lever, gula, juga TBC.
  • Sumber Air Urus-urus. Air dari sumber ini dapat dijadikan urus-urus atau cuci perut, atau memperlancar buang air besar.

ITULAH Sapta Tirta, salah satu wisata alam yang “ajaib”. Saat ini, Sapta Tirta terus dibangun dan dikembangkan, disesuaikan dengan selera konsumennya. Misalnya ditambah dengan panggung terbuka dan flyng fox buat meluncur dari atas bukit. Suatu permainan baru yang banyak digemari kaum remaja.

Menurut Sugeng, jumlah pengunjung mencapai puncaknya pada saat 1 Suro (1 Muharam) malam. Pada saat itu jumlah pengunjung bisa mencapai ratusan. Mereka banyak yang bermalam di kompleks ini sampai dini hari. Oleh sebab itu, sekarang telah disediakan panggung terbuka untuk menyajikan hiburan. Jenisnya pagelaran wayang kulit semalam suntuk, atau sendra tari, atau hiburan lain yang bersifat seni klasik.

Sapta Tirta buka mulai pukul 8 pagi sampai sore hari. Tetapi bagi mereka yang datang setiap waktu, misalnya malam hari, pengelola selalu siap melayani. Perlu diketahui, kompleks ini sering dijadikan “menyepi dan semedi” di kala malam hari. Pengunjung tidak hanya dari Pulau Jawa, tetapi juga ada yang datang dari luar Jawa. Bahkan, ada yang datang dari manca negara, tetapi umumnya, mereka dari suku Jawa. Atau masih keturunan, atau “trah” KGPAA Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa.

Read More