DSC_0223 copy

Tanam Pohon Diberi Nama Yang Menanam

Karanganyar, Senin (25/11/2013)

Puluhan siswa SMA tampak bergerombol membentuk kelompok yang terdiri tiga sampai empat orang. Mereka bersama-sama menanam pohon di lingkungan sekolah.

Siswa sekolah diaiak menanam pohon untuk kelestarian lingkungan alam dan sebagai sarana edukasi

Siswa sekolah diaiak menanam pohon untuk kelestarian lingkungan alam dan sebagai sarana edukasi

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Karanganyar, Siti Maesyaroch mengatakan kegiatan tersebut sebagai sarana edukasi, peningkatan kepedulian, kemampuan dana kemandirian seluruh komponen bangsa akan pentingnya menanam pohon dan memelihara pohon.

“Kami juga mengajak seluruh warga masyarakat Kabupaten Karanganyar untuk melakukan penanaman dan pemeliharaan pohon secara berkelanjutan untuk mitigasi perubahan iklim dan merehabilitasi hutan dan lahan,” ujarnya, saat penanaman satu milyar pohon Tahun 2013, di SMA negeri 1 Jumapolo, Senin (25/11) pagi.

Pihaknya juga menjelaskan jumlah bibit yang ditanam selama periode Februari sampai Desember 2013 mencapai 2,5 juta batang yang berasal dari dana Pemerintah, Swasta dan swadaya masyarakat.

“Jenis bibit yang ditanam meliputi jati, sengon, jambon, mahoni, trembesi, akasia, mangga, kelengkeng, matoa, ace, dan durian,” ujar Siti Maesyaroch.

Ditempat yang sama, Bupati Karanganyar Rina Iriani mengatakan edukasi dan sosialisasi wajib diberikan kepada masyarakat.

“Ajak mereka, terutama generasi muda untuk lebih peduli  kepada alam. Tular dan bangkitkan semangat, motivasi, dan budaya menanam kepada seluruh masyarakat,” kata Rina Iriani.

Dengan melakukan penanaman pohon secara berkala dan berkelanjutan, Insya Allah kita mampu untuk mengurangi dampak pemanasan global, Meningkatkan absobsi gas CO2, dan polutannya, mencegah banjir, kekeringan dan tanah longsor, serta meningkatkan upaya konservasi sumberdaya genetik tanaman hutan.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kita bersama, betapa sangat pentingnya fungsi pohon dan hutan bagi kehidupan manusia.

“Pohon yang ditanam itu sebaiknya diberi nama yang menanam. Misalnya pohon mangga, sedangkan yang menanam namanya Indraswarianti. Berarti pohon itu bernama Indraswarianti,” ujarnya.

Hal itu supaya yang menanam mencintai dan merawat pohon yang telah dia tanam sehingga alam terus terjaga kelestariannya. pd

Read More

Puting Beliung Terjang 5 Kecamatan di Karanganyar

Angin puting beliung kembali menerjang wilayah di lima kecamatan, Kabupaten Karanganyar, Rabu (23/10), siang. Akibat kejadian tersebut 17 rumah mengalami kerusakan berat dan puluhan rumah lainnya rusak ringan. Total kerugian bencana alam ini masih dalam penghitungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar.

Satu rumah milik Bu Broto (65), warga Dusun Mendalan RT 2 RW V, Desa Koripan, Kecamatan Matesih, Karanganyar, tertimpa pohon yang tumbang. “Awalnya ada awan hitam dari atas, terus muter-muter sampai mengangkat pohon. Di bawahnya seperti ada asap putih lalu pohon itu seperti dicabut dan jatuh ke rumah Bu Broto,” terang Dahyono (54), warga dusun setempat.

 Beruntung saat kejadian, rumah sedang dalam kondisi kosong. Sehingga tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. “Kejadiannya sekitar pukul 13.30 WIB. Saat kejadian empat anggota keluarga sedang tidak ada di rumah,” ujar Dahyono.

 Dahyono mengatakan, satu pohon durian yang tumbang menimpa satu rumah. Sedangkan dua pohon kelapa yang juga tumbang, kata Dahyono, ambruk ke tambak ikan milik Bu Broto. “Iya yang tumbang ada tiga pohon. Tapi yang menimpa rumah Bu Broto hanya satu pohon durian. Tapi ini sampai membuat rumahnya hancur,” tandasnya.

 Ia menambahkan, kerugian yang diderita pemilik rumah ditaksir mencapai sekitar Rp 12 juta.  Kondisi rumah milik Bu Broto sendiri sudah hancur, atapnya dan dinding-dindingnya ambruk akibat dihantam pohon durian tersebut. “Rumahnya langsung hancur dihantam pohon. Tapi syukur tidak ada korban jiwa,” tuturnya.

 Selain di Kuripan, Matesih, puting beliung juga menerjang Desa Karanglo, Tawangmangu, Tankluk Jumantoro, Jumapolo, Klumprit Jatipuro dan Kota Karanganyar. Sementara itu, Kepala BPBD Karanganyar Aji Pratama Heru Kristanto saat mengunjungi lokasi kejadian mengatakan sedikitnya ada 14 titik yang terkena bencana akibat angin puting beliung dan pohon yang tumbang. “Ada 14 titik yang telah dilaporkan kepada kami. Salah satunya di sini (rumah Bu Broto-red),”.

 Menurutnya, berdasar laporan yang diterima ada 17 rumah rusak berat dan puluhan lainnya rusak ringan.

 “Akibat bencana yang melanda wilayah tersebut, kami mencatatkan terdapat kerugian material yang diderita warga setempat karena sedikitnya 17 rumah mengalami kerusakan cukup berat, sedangkan masih ada puluhan rumah lainnya yang rusak ringan,” kata dia.

 Disinggung soal total kerugian yang diakibatkan puting beliung tersebut, katanya, sampai sekarang masih dalam proses penghitungan ulang.

 Heru menambahkan, pohon tumbang belakangan banyak terjadi di wilayah Karanganyar. Mengingat ini sudah mulai memasuki musim pancaroba. Dia berharap masyarakat agar senantiasa waspada karena bencana sewaktu-waktu bisa datang. “Iya ini sudah mulai pancaroba jadi masyarakat harus waspada. Biasanya angin itu kan datang sebelum hujan tiba. Jadi kalau ada angin warga wajib langsung keluar rumah untuk menyelamatkan diri barangkali ada kejadian seperti ini,” ungkap dia.

Disinggung soal upaya yang bakal dilakukan BPBD terkait bencana yang kerap terjadi ini, Heru menjelaskan, pihaknya akan senantiasa mengantisipasi bencana dengan melakukan arahan-arahan kepada warga agar siap siaga ketiga hujan turun. Ia juga akan bekerja sama dengan   pihak DKP Karanganyar untuk meminta menebang pohon-pohon yang dinilai sudah seharusnya ditebang agar tidak terjadi kejadian seperti ini lagi. “Nanti kita akan sampaikan ke DKP Karanganyar agar memotong pohon-pohon yang sudah harus ditebang agar tidak menimpa korban. BPBD akan terus bersiaga selama 24 jam untuk menangani setiap bencana yang terjadi di Karanganyar,” pungkasnya.

Read More

Sering Celakakan Warga, Jalan Adi Soemarmo Ditanami Pohon Pisang

Sepenggal Jalan Adi Soemarmo di sisi timur yang berbatasan dengan Kota Solo pada Minggu (31/3/2013) ditanami pohon pisang oleh sejumlah warga Desa Klodran, Kecamatan Colomadu, Karanganyar.

Penanaman itu dilakukan karena mereka mengaku tak tega melihat pengguna jalan yang melintas di kawasan itu banyak yang mengalami kecelakaan.

“Niat kami hanya ingin menyelamatkan warga, karena itu pemerintah hendaknya segera memperbaiki jalan tersebut. Sebab jalan yang sudah rusak berbulan-bulan lalu itu tidak ada perbaikan sama sekali selama ini,” ujar Ketua Karangtaruna Klodran, Suparman ketika ditemui wartawan.

Menurut dia penanaman 10 pohon pisang di lokasi jalan yang rusak itu dilakukan spontan dengan teman-temannya. Karena itu pohon pisang yang ditanam berderet di sebelah timur stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Klodran itu dicari seadanya di rumah warga.

Dia menambahkan banyaknya kerusakan di jalan itu berdampak luas ke warga. Di antaranya mengakibatkan kelancaran arus lalu-lintas terganggu, keselamatan pengguna jalan terancam dan sebagainya.

“Apalagi kalau malam hari dan turun hujan lebat. Selain kawasan itu gelap karena lampu penerangan kurang dan kalau sehabis turun hujan lebat sering kali lubang-lubang menganga tertutup air sehigga banyak terjadi kecelakaan. Di tempat itu ada yang kecelakaan sampai meninggal hlo. Kalau nanti tetap tidak ada perhatian dari pemerintah kami siap melakukan aksi mengerahkan massa yang lebih besar lagi,” ujar dia.

Sementara itu Kepala Desa (Kades) Klodran, Warsito mengatakan sebenarnya pihaknya telah mengusulkan perbaikan jalan rusak itu lewat musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) beberapa waktu lalu. Namun hingga kemarin kerusakan jalan itu tidak pernah diperbaiki.

Pada bagian lain sejumlah pengguna jalan yang melintas di jalan itu memberi dukungan. Mereka mengaku stress jika melewati jalan yang rudak tersebut.

“Betul Mas, lagi tanami pohon pisang yang banyak sekalian agar tidak bisa lewat. Ini namanya jalan pisuh [umpat], karena kalau lewat jalan ini penginnya misuh-misuh,” papar salah seorang pengguna jalan yang melintas.

Berdasar pantauan di lapangan, kerusakan jalan Adi Soemarmo terjadi di beberapa tempat. Jika dari timur, selepas wilayah Kodya Solo ke barat, pengguna jalan akan dihadang lubang-lubang menganga di beberapa tempat hingga Pertigaan utara Pabrik Gula Colomadu.

Read More

Bunga Setinggi 3,5 Meter Tumbuh di Lereng Lawu

Bunga setinggi 3,5 meter tunbuh di kawasan lereng Gunung Lawu, Karanganyar, tiga bulan terakhir, tepatnya di pelataran salah satu vila di Desa Blumbang, Kecamatan Tawangmangu.

Bunga berdiameter hanya 25 sentimeter tersebut merupakan satu-satunya bunga yang mampu tumbuh tinggi dari beberapa tanaman sejenis. Tak pelak hal itu membuat penjaga, tamu maupun penyewa vila penasaran. Apalagi bentuk bunga tersebut relatif unik dan jarang ditemukan.

Seperti diakui penjaga vila, Giyo, 65, saat ditemui Selasa (26/2/2013). Menurutnya bunga yang tumbuh tiga bulan terakhir tersebut belum ada di Tawangmangu. Selama ini pun bunga itu belum pernah tumbuh atau mekar dari tanaman yang sama di pelataran vila.

“Selama ini pohonnya belum pernah berbunga. Baru keluar kuncup sedikit saja sudah mati. Tapi sekarang ada satu pohonnya yang berbunga tinggi sekali sampai pohonnya roboh,” tuturnya.

Menurut Giyo, masyarakat setempat menyebut bunga tersebut dengan nama kembang nanasan. Bunga yang melengkung di bagian pucuknya itu tidak mempunyai bau menyengat. Bagian-bagian bunganya berbentuk bulir-bulir yang berjumlah cukup banyak, tumbuh dari rangka bunga. Namun belakangan bulir-bulir bunga tersebut mulai layu.

Diperkirakan dalam beberapa pekan ke depan bunga nyleneh tersebut mati karena layu. Sang pemilik vila, Budi, juga mengaku belum pernah menemukan bunga menjulang tinggi seperti itu. Sehingga dia membiarkan bunga tersebut tumbuh tinggi kendati pohonnya ambruk ke sebagian kecil jalan masuk vila.

Dia juga tidak berencana melaporkan penemuan pohon bunga nyleneh tersebut kepada pemerintah yang berwenang. Pendapat berbeda muncul dari warga Karanganyar kota, Iswanda. Menurut dia bunga tersebut tidak tergolong kembang yang langka. Dia meyakini tanaman dan bunga yang sama banyak tumbuh di lereng Gunung Lawu.  “Di Bogor tanaman seperti banyak,” ungkapnya.

sumber : http://www.solopos.com

Read More

Kebun Benih Tohudan Perbanyak Bibit Papaya Kalina

Kebun Benih Hortikultura didesa Tohudan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Provinsi Jateng memperbanyak bibit tanaman papaya jenis California (Kalina), di lahan perkebunan seluas tiga hektare.

Hal itu dikarenakan banyaknya  permintaan buah segar di Solo.

“Pasar buah papaya Kalina di Solo masih sangat besar, bahkan kami sering kali kewalahan memenuhi permintaan pasar. Di pasaran harga papaya ini dijual antara Rp5.000 sampai Rp6.000 per kilogram,”  Guna mememnuhi permintaan pasar pihaknya kemarin menanam lagi 700 benih usia 40 hari. Dengan demikian di kebunnya saat ini kira-kira terdapat 1.700 pohon papaya Kalina.

Dia menjelaskan pihaknya kini juga menjual benih berusia 30 sampai 40 hari dengan harga Rp2.000 per batang. Benih berusia 30 sampai 40 hari tersebut dinilai tepat untuk ditanam karena, jika terlalu tua akan berdampak pada kekuatan batang tanaman saat ditanam di tanah.

Dwi berharap delapan bulan mendatang tanaman papaya yang baru saja ditanam itu buahnya sudah bisa dipanen. Sehingga kemampuan memasok permintaan pasar menjadi bertambah banyak.

Dengan 1.000 pohon yang ada, pihaknya mampu mengumpulkan 1 kwintal sehari. Namun hasil tersebut dianggap masih jauh dari memadai, sebab saat ini berapa pun barang yang ada akan diterima pedagang di Pasar Gedhe.

“Kalau musim papaya, kami biasanya tiga hari sekali memanen papaya yang saat ini sedang digemari konsumen. Selain saya setor ke Pasar Gedhe saya juga sering mendasarkan buah ini di Manahan.”

Dia menjelaskan papaya jenis Kalina relatif lebih menarik dibanding papaya jenis Hawai yang juga sedang digemari warga. Tetapi bentuk papaya Kalina yang memanjang relatih lebih banyak digemari konsumen dibanding papaya Hawai yang berbentuk bulat.

Sementara itu salah seorang warga Kerten, Laweyan, Solo, Dian, 37, yang mengaku telah menanam papaya tersebut membenarkan, buah papaya Kalina saat ini sedang laku di pasaran. “Saya juga menanam papaya ini di luar kota, hasilnya lumayan bagus,” papar dia ketika berkunjung di Kebun Benih di Tohudan.

Read More

PRODUKSI BUAH DURIAN HASILKAN PULUHAN RIBU TON

DSC_0121

Bupati Rina Iriani mencicipi durian produk lokal Karanganyar saat panen durian, di desa Ploso, Jumapolo, Rabu (16/01).

Karanganyar, Kamis (17/01/2013)

Tujuh Kecamatan di Karanganyar yakni Kerjo, Mojogedang, Karangpandan, Matesih, Jumantono, Jumapolo dan Jatipuro menghasilkan durian sebanyak 22.000 ton/ tahun. Meski demikian, hanya sebagian pohon yang menghasilkan durian yang siap jual.

“Tahun ini produksi durian turun cukup banyak. Ini di sebabkan karena faktor cuaca. Saat ini intensitas hujan sangat tinggi, di bandingkan tahun lalu musim kemarau panjang,” jelas Siti Maesyaroch, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Kabupaten Karanganyar.

Sementara itu, dari 190.000 pohon durian di Kabupaten Karanganyar, 65.000 saja yang menghasilkan buah dan siap di panen. Dari ribuan pohon itu, bisa dihasilkan 20.000-22.000 ton/ tahun.

“Kita  mengembangkan jenis Varietas Unggul Nasional asal Karanganyar seperti Sukun, Teji, dan Lawkra,” jelas dia, di sela-sela Panen Durian di desa Ploso, Jumapolo, Rabu (16/01).

Varietas itu mempunyai keunggulan komparatif, berdaya saing, sehingga mampu menciptakan ciri khas suatu daerah. Selain itu juga, mengembangkan unggul lokal di masing-masing wilayah seperti durian Bodong (Jatipuro), Gundul dan Jingga (Jumapolo), Gendon (Jumantono), Ledek (Matesih) dan Arum Kuning (Mojogedang).

“Selain itu juga mengembangkan jenis introduksi baru seperti Montong dan Kani,”  imbuh Siti Maesyaroch.

Pemerintah Kabupaten Karanganyar dalam hal ini Dispertanbunhut akan mengembangkan sentra durian dengan menyediakan bibit unggul, melakukan pembinaan pengetahuan dan ketrampilan penangkar benih, dan pembentukan kebun entrys.

“Pelatihan petani dan kerjasama dengan semua pelaku yang terkait dengan pengembangan durian juga akan kita lakukan,” jelas wanita berjilbab itu.

Pada acara yang sama setelah panen durian, Bupati Karanganyar, Rina Iriani Sri Ratnaningsih mengatakan Dispertanbunhut telah mengijinkan Sub Terminal Agrobisnis (STA) Karangpandan dipakai untuk pemasaran durian milik petani.

“Petani durian bisa memasok ke STA. Tetapi jika ingin memasarkan sendiri di BPP, saya persilakan, nanti koordinasi dengan Dispertanbunhut,” jelas Bupati Rina Iriani.

.pd

Read More

2013, Penghijauan Lahan Kritis Karanganyar Ditarget Rampung

Pemkab Karanganyar menargetkan penghijauan lahan kritis di wilayah Karanganyar rampung pada akhir 2013. Hingga sekarang, sebanyak tiga juta bibit pohon telah ditanam terutama di wilayah lahan kritis.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengatakan lahan kritis di wilayah Bumi Intanpari seluas 8.000 hektare yang tersebar di wilayah Karanganyar. Rinciannya, 5.000 hektare tergolong kritis sementara 3.000 hektare termasuk kategori potensial kritis.

“Targetnya penghijauan pada lahan kritis kelar pada 2013 mendatang, makanya kampanye penghijauan terus digalakkan,” katanya saat ditemui wartawan di sela-sela acara penanaman satu miliar pohon di SMKN 2 Karanganyar, Jumat (14/12/2012).

Penghijauan bakal diprioritaskan di wilayah rawan bencana alam seperti tanah longsor yang berada di lereng Gunung Lawu. Tidak sedikit daerah Lereng Gunung Lawu berubah menjadi lahan kritis. Lahan kritis tersebut disebabkan beberapa faktor seperti kebakaran hutan, penggalian tanah dan penebangan liar.

Pihaknya bakal menggandeng pihak swasta maupun unsur masyarakat untuk melaksanakan program penanaman satu miliar pohon. Tidak hanya di instansi pemerintah atau sekolah, penanaman pohon harus dilaksanakan di setiap desa.
“Prioritas memang wilayah rawan bencana alam namun seharusnya penanaman pohon juga dilakukan di setiap desa,” ujarnya.

Selain itu, penghijauan di daerah lereng Gunung Lawu dapat menambah cadangan air bersih. Hutan-hutan di lereng Gunung Lawu menyimpan cadangan air bersih yang digunakan masyarakat Karanganyar dan sekitarnya setiap hari.

Bupati Karanganyar, Rina Iriani SR, meminta agar masyarakat dan para stake holder turut berperan aktif melakukan penghijauan di lingkungannya masing-masing. Penghijauan itu dapat mencegah terjadinya bencana alam seperti tanah longsor. Terdapat beberapa jenis tanaman yang dibagikan langsung ke masyarakat antara lain trembesi, sengon, jati dan akasia.

Read More

GAGAL NIKAHI HANTU: Polisi Ikut Bingung Cari Alamat Hantu Waduk Lalung

Kasus Suprapto warga Dusun Jetisnguwuh RT 003/RW 004 Desa Suruhkalang, Jaten, Karanganyar gagal menikahi Sri Wahyuningsih, akhirnya mendapat perhatian Polsek Jateng dan Karanganyar Kota.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, keluarga Suprapto tidak berhasil menemukan kediaman Sri Wahyuningsih yang berada tepat di pinggir Waduk Lalung, saat mengirimkan hantaran pernikahan.

Ketika ditemui, Rabu (31/10/2012), Suprapto mengatakan terdapat empat mobil mewah dan beberapa sepeda motor di rumah Sri. Saat diminta menunjukkan kediaman Sri yang dimaksudkan Suprapto, pemuda lulusan sekolah dasar (SD) itu menunjuk pohon beringin besar. Di bawah pohon beringin itu terdapat sendang.

“Warga menduga Sri adalah peri atau makhluk halus penunggu sendang pohon beringin,” ungkap Yudi Suharto, kerabat Suprapto yang juga diamini sejumlah warga Kepuh.

Peristiwa itu juga mendapat perhatian jajaran Polsek Jaten dan Karanganyar kota. Pada Selasa (30/10/2012) malam polisi dari dua Polsek itu telah mendatangi rumah Suprapto dan mengumpulkan informasi.

Kapolres Karanganyar, AKBP Nazirwan Adji Wibowo, melalui Kapolsek Karanganyar kota, AKP Joko Waluyono, membenarkan adanya informasi tersebut. Bahkan beberapa petugas polsek telah mengecek alamat yang ditunjukkan Suprapto dan keluarganya. “Tapi alamatnya hanya di pinggir Waduk Lalung, makanya kami juga bingung,” aku dia.

Read More

BENCANA ALAM: 4 Desa di Karanganyar Rawan Longsor

Empat dari sembilan desa di Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, rawan tanah longsor saat musim penghujan.
Empat desa itu Beruk, Wukirsawit, Wonokeling dan Wonorejo. Penjelasan itu disampaikan Sekretaris Kecamatan Jatiyoso, Budi Santoso, saat ditemui , Senin (3/9).

“Empat desa ini paling rawang bencana tanah longsor setiap kali datang musim penghujan,” kata dia.

Penyebab ancaman longsor yakni struktur dan kemiringan tanah empat desa itu. Untuk itu, Budi mengimbau, masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor supaya selalu waspada. Utamanya selama musim penghujan. Pengurus rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) setempat diminta pro aktif memantau kondisi wilayah. Bila muncul potensi bencana harus segera dilaporkan kepada jejaring pemerintah di atasnya.

“Sebab terdapat permukiman warga di titik-titik rawan longsor itu,” imbuhnya.

Budi melanjutkan, selain permukiman penduduk ada juga perbukitan gundul yang rawan longsor. Penyebabnya aksi penebangan pohon oleh warga untuk kepentingan memperoleh pendapatan.

“Di sini cukup banyak hutan yang kondisinya gundul, sedikit sekali pohonnya. Sebab kendati masih berukuran kecil, pohon-pohon di hutan sudah laku dijual,” sesal dia. Berdasar pengamatan, sebagian besar kawasan Jatiyoso bebukit-bukit.

Aksi penebangan pohon untuk kepentingan ekonomis warga semakin meningkatkan potensi terjadinya longsor. Ditambah lagi tingginya intensitas dan volume hujan selama musim penghujan. Salah seorang warga Glagahmalang, Wonorejo, Astuti, mengungkapkan sebelumnya di wilayahnya beberapa kali terjadi musibah longsor. Bahkan pernah terjadi longsor yang sampai menelan korban jiwa beberapa tahun lalu.

“Dusun kami memang berbukit, tidak rata,” akunya.

Read More

4 Kecamatan Diterjang Puting Beliung

Belum usai penanganan bencana longsor yang merenggut dua nyawa warganya, kini dua Kecamatan di Karanganyar yakni Kecamatan Matesih dan Kecamatan Tawangmangu kembali terjadi bencana angin puting beliung, Minggu (26/2). Sehari sebelumnya angin puting beliung juga menerjang dua Kecamatan di wilayah Sragen yakni Gondang dan Tanon Sabtu (25/2) petang. Sedikitnya 14 rumah rusak berat dan ambruk, lima trafo milik PLN hancur, serta puluhan pohon tumbang akibat terjangan angin berkecepatan tinggi tersebut.

Akibat dari kencangnya sapuan angin tersebut mengakibatkan sedikitnya sekitar 15 rumah rusak di Dusun Pelas Desa Bandardawung Kecamatan Tawangmangu dan sejumlah pohon tumbang di ruas jalan Matesih – Tawangmangu sehingga sempat memacetkan jalan sekitar 1,5 jam. Selain menyapu atap dan bangunan sekitar 15 rumah, angin juga menghancurkan lima buah kandang ayam warga sehingga menyebabkan sekitar 15.000 ekor ayam milik warga mati tak terselamatkan. Sementara ini kerugian ditaksir mencapai angka Rp 100 juta karena ayam tersebut dua pekan lagi akan dipanen.

Camat Tawangmangu, Yopi Eka Jati Wibowo mengatakan angin puting beliung terjadi sekitar pukul 14.00 WIB saat hujan deras. Angin yang bertiup kencang juga mengakibatkan sejumlah pohon besar di pinggir jalan tumbang dan puluhan atap rumah warga habis dibawa angin. “Untungnya tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut, hanya saja ribuan ayam yang siap dipanen mati tertimpa kandang yang roboh,” ujarnya Minggu (26/2).

Di wilayah Kecamatan Gondang, kerusakan terparah melanda Desa Grasak. Berdasarkan data di Kecamatan, musibah tersebut mengakibatkan 13 rumah warga rusak berat tertimpa pohon tumbang. Bahkan, rumah Budi Anggono (35) warga Grasak tidak dapat lagi ditempati karena sebagian sudah hancur diterjang angin.
Selain itu, terjangan angin juga merusak perkebunan jati milik enam warga yang berhimpitan. Belasan pohon jati usia muda yang berada di areal Dusun Grasak tumbang dan rusak total. “Kejadiannya sekitar jam 17.00 WIB pada saat hujan deras. Tiba-tiba dari arah utara datang angin kencang, lurus dan menerjang semua yang ada. Rumah saya juga tertimpa pohon sampai rusak begini,” papar Purwanto (67) warga Gasak.

Camat Gondang Budi Setyawan mengatakan berdasarkan pendataannya, ada 19 KK yang menjadi korban dengan kerugian material mencapai Rp 30 juta. “Harapan kami, karena mayoritas korban yang rumahnya rusak itu adalah warga miskin, sehingga secepatnya bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah kabupaten,” paparnya ditemui di sela-sela pendataan kerusakan di Grasak Minggu (26/2) pagi.

Read More