Belum Sikapi Rekrutmen PNS
Sedikitnya tiga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Karanganyar terancam dicabut izin operasional.
Hal ini lantaran kedapatan melayani pembelian bahan bakar minyak (BBM) menggunakan jeriken melebihi ketentuan ditetapkan, yakni 20 liter per pembeli per hari. Pembelian di atas ketentuan mengarah pada aksi penimbunan BBM.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) dan UMKM Sundoro, Selasa (27/3/2012) mengatakan keempat SPBU dalam pengawasan ketat dan pembinaan oleh Pemkab Karanganyar.
Ketiga SPBU ini di antaranya, tiga SPBU yang kedapatan menjual bensin menggunakan jeriken melebihi ketentuan saat inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Bupati Karanganyar Rina Iriani. Ketiga SPBU tersebut adalah SPBU Papahan, SPBU Gedangan dan SPBU Karangpandan.
“Tiga SPBU itu sedang dalam pembinaan kami. Kalau memang masih kedapatan menjual melebihi ketentuan maka kami akan beri sanksi dengan mencabut izin operasional,” tegas Sundoro.
Sundoro mengatakan ketetapan pembatasan pembelian BBM menggunakan jeriken dengan volume 20 liter per pembeli per hari dilakukan guna mengantisipasi kelangkaan BBM jelang rencana kenaikan per April nanti.
Selain itu mengacu surat dari Pertamina tahun 2007 silam yang berisi di antaranya pembelian BBM bagi pedagang “kulakan” harus mengantongi surat rekomendasi dari Pemkab. Pelayanan pembelian jeriken juga menggunakan sepeda motor dan bukan mobil serta volume pembelian 20 liter per pembeli per hari.
“Pembelian kami batasi untuk antisipasi penimbunan dan kelangkaan BBM,” ujarnya.
Namun demikian, Sundoro mengatakan masih menemukan SPBU nakal yang kedapatan menjual BBM tidak sesuai ketentuan. SPBU-SPBU ini kemudian akan dibina dan diawasi secara ketat. Jika masih tetap nekat menjual tidak sesuai ketentuan, maka pihaknya akan mencabut izin operasional. Tentunya, dia menambahkan akan melakukan koordinasi dengan Pertamina dan Hiswana Migas terkait persoalan tersebut.
Saat ini, Sundoro mengatakan terus melakukan koordinasi dengan aparat kepolisian untuk pengamanan BBM di Karanganyar. Sehingga saat pemerintah menetapkan menaikkan harga BBM situasi kondusif. Tidak terjadi penimbunan BBM hingga kelangkaan stok di mana-mana.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar ngebut perbaikan bumi perkemahan Cakra Pahlawasri, Delingan, Karanganyar. Hal ini menyusul mepetnya waktu pelaksanaan perbaikan buper yang akan digunakan sebagai tempat Jambore Daerah (Jamda) se-Jateng 26-28 Juni mendatang.
Berdasarkan pantauan kondisi bumi perkemahan Delingan mangkrak dan kumuh. Bahkan beberapa bangunan terlihat rusak dan tidak terawat.
Beberapa bangunan pendopo utama bumi perkemahan terlihat rusak. Eternit bangunan banyak yang jebol. Cat tembok berwarna kusam dan banyak terdapat coretan di mana-mana. Selain itu tempat mandi cuci kakus (MCK) yang ada rusak. Tidak hanya itu, rumput liar juga tumbuh di mana-mana. Sehingga menambah kesan kotor dan tidak terawat.
Bupati Karanganyar Rina Iriani mengatakan telah menyiapkan anggaran Rp300 juta untuk perbaikan bumi perkemahan Delingan dalam menghadapi pesta Jamda se-Jateng Juni nanti. Saat ini, Rina sapaan akrabnya menuturkan perbaikan bumi perkemahan Delingan tengah dalam proses lelang.
“Saya sudah minta Pak Sekda untuk mempercepat proses lelang. Karena waktu pengerjaan tinggal tiga bulan lagi. Sedangkan 26-28 Juni sudah digunakan untuk Jamda,” ujarnya.
Rina mengakui kondisi bumi perkemahan Delingan yang rusak. Sehingga perlu dilakukan perbaikan dan pembenahan sebelum digunakan sebagai tempat penyelenggaran Jamda tingkat Jateng. Rina menilai alokasi anggaran Rp300 juta untuk perbaikan bumi perkemahan sangat minim.
Namun pihaknya meminta pelaksanaan pengerjaan perbaikan bumi perkemahan bisa maksimal. “Harus kerja keras. Anggarannya memang minim sekali hanya Rp300 juta. Padahal kondisi bangunan banyak yang rusak,” tuturnya.
Lokasi wisata pemandian air panas Cumleng di Desa Plumbon, Kecamatan Tawangmangu, akan diaktifkan lagi. Pasalnya, selama ini kondisinya sangat memprihatinkan dan terbengkelai. (more…)
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar mengajukan anggaran sebesar Rp 6,8 miliar ke Kementerian Budaya dan Pariwisata (Kemenbudpar) untuk pengembangan objek wisata Pablengan, Matesih. TAK TERAWAT — Petugas menunjukkan salah satu bagian pemandian Pablengan, Matesih. Tempat wisata mata air ini dalam kondisi memrihatinkan karena tak terawat.
Kasubag Perencanaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Karanganyar, Sukarno kepada wartawan, Kamis (14/7/2011), mengatakan telah mengajukan proposal bantuan untuk pengembangan kawasan objek wisata Sapta Tirta Pablengan. Setidaknya, sesuai detail engineering design (DED) pengembangan kawasan wisata Pablengan, dibutuhkan dana Rp 6,8 miliar. Di tempat itu, terdapat tujuh mata air untuk permandian. “Kami sudah mengirimkan proposal bantuan pengembangan Pablengan. Dan sudah ada respons positif.
Pemkab hanya bisa mengandalkan bantuan pemerintah pusat maupun menggandeng pihak ketiga untuk pengembangan Pablengan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Hal ini dikarenakan keterbatasan anggaran dalam APBD Karanganyar. “Tapi berapa nilai bantuannya, belum tahu. Tunggu saja tahun depan.
Dia menerangkan kawasan objek wisata Pablengan akan digarap dengan pembangunan waterboom, kawasan panti pijat dan museum raksasa. Pengembangan ini diharapkan mampu menarik wisatawan baik mancanegara maupun lokal untuk datang. Selama ini, objek wisata Sapta Tirta Pablengan hanya digunakan untuk wisata religi. “Nanti yang datang bukan hanya ingin wisata religi tapi ada tempat hiburan atau permainannya. Seperti waterboom maupun museum raksasa.
Dia menambahkan bantuan dari pemerintah pusat akan dikucurkan melalui Provinsi Jateng. Sementara Pemkab Karanganyar hanya menerima bantuan dalam bentuk barang. Dalam waktu dekat, pihaknya mengundang pihak terkait seperti Perhutani yang memiliki tanah di timur Pablengan untuk membahas mengenai pengembangan kawasan itu. “Tahun ini kami juga melakukan pembenahan di sana seperti membangun saluran drainase. Kami anggarkan Rp 95 juta.
Kondisi objek wisata sejarah Sapta Tirta Pablengan di Matesih yang merupakan peninggalan Kadipaten Mangkunegaran sangat memrihatinkan. Beberapa bangunan terkesan kurang terawat dan kotor.
Objek wisata yang awalnya tempat permandian raja-raja atau kerabat Pura Mangkunegaran itu terkesan tak ditangani optimal. Dinding permandian Kaputren tempat putri keraton membersihkan diri sebelum berziarah Astana Mangadeg kumuh dan berlumut hingga terkesan kotor. Kondisi tak jauh beda pun ditemukan di bangunan lainnya. Di tempat tujuh mata sumber air seperti jarang dirawat atau dibersihkan hingga berlumut.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) akan memperketat pengawasan terhadap lalu lintas hewan ternak.