Stok Daging Sapi di Karanganyar Masih Aman

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar, Muhammad Hatta, mengatakan pasokan daging sapi dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) masih normal. Pihaknya menjamin persediaan daging sapi di pasaran masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan daging sapi.

Muhammad Hatta, Selasa (20/11/2012) menuturkan kenaikan harga daging sapi tidak hanya terjadi di wilayah Karanganyar namun beberapa daerah di Indonesia. Artinya, kenaikan tersebut terjadi secara bersamaan di berbagai daerah. Pihaknya meminta pemerintah pusat segera mencari solusi alternatif untuk menekan melonjaknya harga daging sapi di pasaran.

“Stok daging sapi masih aman, permintaan daging sapi juga masih stabil. Ini tergantung pemerintah pusat karena kondisi ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.”

Read More

Tak Ada Izin Lingkungan, Puluhan Peternakan Ayam Rakyat Terancam Ditutup

Puluhan peternakan ayam di Karanganyar terancam ditutup apabila pengusaha atau pemilik peternakan tidak mengurus izin lingkungan. Selama ini, warga yang berdomisili di sekitar peternakan ayam sering mengeluhkan kondisi lingkungan yang kotor dan bau tidak sedap.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar, Muhammad Hatta, mengatakan sesuai aturan para pemilik peternakan ayam harus meminta izin kepada warga sekitar yang berdomisili di sekitar kandang ayam. Namun kenyataannya, para pengusaha ternak ayam langsung mendirikan kandang ayam tanpa meminta izin warga sekitar sebelumnya. “Kami minta agar pemilik ternak ayam mengurus izin lingkungan agar tidak ada komplain dari warga sekitar,” ujarnya.

Menurutnya, pihaknya sering menerima pengaduan dari warga yang resah karena lingkungannya kotor akibat dampak adanya kandang ayam. Apalagi pemilik peternakan ayam juga enggan mengurus izin lingkungan. Apabila telah mengantongi izin lingkungan maka segera dilaporkan ke instansi terkait agar diinventarisasi. “Masih banyak pengusaha peternakan ayam yang tidak mengurus izin lingkungan, tahu-tahu kami mendapatkan aduan dari warga yang akan menyegel kandang ayam. Kesadaran pemilik peternakan ayam sangat minim,” katanya. Selama 2011, pengusaha peternakan ayam yang melaporkan izin lingkungan ke Disnakkan berjumlah 11 orang. Padahal, peternakan ayam jenis rakyat berjumlah puluhan yang tersebar di seluruh wilayah Karanganyar.

Sementara seorang pemilik peternakan ayam, Khadiran, menyatakan dia meminta izin kepada warga sekitar yang rumahnya berjarak sekitar 500 meter dari kandang ayam. Setelah disetujui warga maka dia baru berani mendirikan kandang ayam. Kandang ayam dengan permukiman penduduk berjarak minimal 500 meter.

Dia menambahkan para pemilik peternakan ayam kurang memahami aturan mengenai izin lingkungan tersebut. Sehingga mereka langsung mendirikan kandang ayam apabila sudah mendapatkan lokasi peternakan ayam. “Kebanyakan memang tidak tahu karena biasanya lokasi kandang ayam di tengah-tengah perkebunan atau ladang,” imbuhnya.

Read More

Pengawasan Daging Makin Diperketat

Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar akan memperketat pengawasan daging di pasar-pasar tradisional. Menurut Kepala Disnakkan Karanganyar, Muhammad Hatta, pengawasan akan diwujudkan dalam bentuk inspeksi mendadak (Sidak). “Sidak intensif akan kami lakukan selama puasa hingga menjelang lebaran,” kata Hatta, Jumat (20/7).
Pasar yang akan menjadi prioritas untuk disidak adalah Pasar Karangpandan, Nglano, Jungke, dan Palur. Keempat pasar tersebut dipandang pasar besar dan juga menjadi sentra penjualan daging. Bahkan daging yang dipasok di pasar-pasar tersebut juga berasal dari luar Karanganyar.
Sebelumnya, Hatta mengaku pernah mendapati daging tak layak konsumsi di salah satu pasar tersebut. “Kami pernah menemukan daging yang tak layak di Pasar Nglano, yakni daging gelonggongan. Penjualnya pun masih sama seperti yang dulu-dulu,” katanya.
Hatta mengatakan akan menindak tegas penjual daging yang kedapatan menjual daging gelonggongan. “Bagi yang kedapatan menjual daging gelonggongan akan kami berikan pembinaan terlebih dahulu. Jika masih nekat maka izin jualan kami cabut. Daging-dagingnya juga akan kami sita,” tegasnya.
Hatta memprediksi menjelang puasa dan lebaran, permintaan daging bakal semakin tinggi. Sehingga hal ini dimanfaatkan oleh beberapa oknum untuk mencari keuntungan lebih, namun membahayakan konsumen.
Hatta mengimbau kepada masyarakat untuk lebih teliti dalam memilih daging yang akan dibeli. Masyarakat jangan sampai tergiur dengan harga daging yang murah. Ciri-ciri daging yang tak layak konsumsi, menurut Hatta, di antaranya warna daging pucat, baunya berbeda dengan daging pada umumnya, serta memiliki kadar air yang lebih tinggi.

Read More

Jelang Puasa, Harga Daging Sapi Naik

Menjelang bulan puasa, harga daging sapi mulai merangkak naik. Kenaikan harga daging tersebut terjadi di sejumlah pasar tradisional di Karanganyar. Selain itu, stok daging sapi juga mulai menipis.
Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Karanganyar, Muhammad Hatta, harga daging sapi yang biasanya Rp 60.000 per kilogram dalam sepekan ini sudah menjadi Rp 65.000 per kilogram.
“Kenaikan ini masih cukup normal dan pasti terjadi menjelang puasa dan lebaran. Untuk Karanganyar sendiri harga itu masih dapat dijangkau. Sebab dibanding dengan daerah lain, harga daging sapi kenaikannya mencapai Rp 75.000 per kilogram,” terang Hatta, Senin (9/7).
Terkait pasokan daging sapi di Karanganyar, Hatta mengaku masih stabil yaitu tetap memotong 13-14 ekor per hari. “Hanya saja, permintaan kebutuhan daging sapi dari masyarakat terus meningkat,” jelasnya.
Menurutnya, untuk pemotongan sapi sendiri dipusatkan di Gondangrejo. Daging sapi dari Karanganyar juga didistribusikan ke Kota Solo.
Sementara itu, untuk mengantisipasi maraknya daging sapi gelonggongan, pihaknya akan bekerja sama dengan dinas terkait untuk melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di pasar-pasar tradisional. “Sidak pasti akan kita lakukan,” kata Hatta. n

Read More

TARIF RETRIBUSI RPH di Karanganyar Naik 50%

Tarif retribusi rumah pemotongan hewan (RPH) di Karanganyar bakal naik 50%, dari Rp10.000/ekor menjadi Rp15.000/ekor. Langkah ini dilakukan menyesuaikan tarif retribusi RPH di daerah lainnya.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar, Muhammad Hatta, mengatakan kenaikan tarif retribusi RPH tersebut bakal diterapkan tahun ini. Saat ini, pihaknya masih menunggu salinan peraturan daerah (Perda) tentang retribusi RPH dari bahian hukum Setda Karanganyar.

“Kami masih menunggu salinan perdanya, jika telah diterima maka segera disosialisasikan sekaligus diterapkan”.

Menurutnya, pengajuan revisi Perda yang berisi tarif retribusi RPH dinaikkan telah dilakukan pada tahun lalu. Tarif retribusi itu baru bisa diberlakukan tahun ini karena menunggu pembahasan dan salinan Perda.

Dia membandingkan tarif retribusi RPH di Sragen senilai Rp14.000/ekor dan Kota Solo senilai Rp25.000/ekor. Sehingga tarif retribusi lama perlu dinaikkan menyesuaikan dengan daerah lainnya. “Tarif retribusi RPH Karanganyar terkecil di wilayah Soloraya makanya dinaikkan untuk menyesuaikan dengan wilayah lainnya,” jelasnya.

Selain menyesuaikan tarif retribusi wilayah lain, kenaikan tersebut dilakukan untuk mendongkrak PAD dari sektor peternakan. Target PAD dari retribusi RPH tahun 2012 senilai Rp70 juta. Sementara berdasarkan data Disnakkan Karanganyar, RPH di wilayah Karanganyar berjumlah tiga unit yaitu di Kecamatan Karangpandan, Karanganyar dan Gondangrejo. “Sebenarnya ada RPH lainnya yakni di Kebakkramat dan Tawangmangu namun tidak aktif, kadang memotong sapi kadang tidak,” tandasnya.

Di sisi lain seorang peternak sapi di Jungke, Karanganyar, Suprapto, menambahkan belum mengetahui kenaikan tarif retribusi RPH yang bakal diterapkan tahun ini. Dia mengakui tarif retribusi RPH di Karanganyar terkecil dibanding daerah lainnya. Tarif retribusi tersebut, menurutnya layak untuk dinaikkan.

Read More

Disnakkan Karanganyar minta masyarakat waspadai daging semigelonggongan dan daging busuk

Masyarakat Karanganyar diminta mewaspadai adanya daging busuk dan semigelonggongan yang beredar di sejumlah pasar. Pasalnya, saat Bulan Puasa seperti ini, banyak oknum yang mengeruk untung dengan menjual daging yang sebenarnya tidak layak konsumsi.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar, Muhammad Hatta, mengatakan, selama ini Disnakkan belum mendapatkan laporan adanya daging gelonggongan di Karanganyar. Kendati demikian, masyarakat diminta untuk waspada terhadap daging yang dijual di pasar. Bila warga mencurigai ada daging sapi yang lembek, terlihat basah dan warnanya tidak merah cerah, diimbau untuk melaporkannya ke Disnakkan. Selain itu, masyarakat juga harus mewaspadai daging yang dijual dengan cara digantung, tidak ditaruh di meja.

“Bila kadar keasaman (PH) berkisar antara 5-6, itu ideal. Namun bila lebih dari enam, kemungkinan ada indikasi daging itu semigelonggongan. Kami ada alat untuk mengukurnya,” ujar Hatta kepada wartawan di Kantor Disnakkan, Rabu (3/8/2011). Biasanya, Disnakkan diajak turut serta dalam operasi pasar bersama Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) ke sejumlah pasar. Namun ada atau tidak ada operasi pasar, Disnakkan akan menurunkan tim untuk memantau kondisi daging di pasar. Beberapa pasar yang menjadi target yakni Pasar Jungke, Karangpandan, Palur dan Nglano.

Menurut Hatta, pada tahun lalu di Pasar Karangpandan timnya menemukan daging sapi yang sudah busuk namun masih dijual. Karena itu, saat operasi itu, bukan hanya daging glonggongan yang menjadi perhatian, tapi juga daging sapi yang sudah membusuk dan bangkai ayam Tiren (mati kemarin).

“Untuk mengecek apakah daging sudah busuk atau tidak, kami menggunakan alat tes Duranti. Saat ditetesi Duranti warnanya jadi biru, maka dagingnya masih baik. Tapi bila berubah jadi hijau, artinya sudah busuk,” ujarnya. Namun pihaknya kesulitan untuk mengecek kondisi daging ayam. Sebab daging yang dijual di pasar saat ini banyak yang sudah dijual dalam kondisi sudah matang atau setidaknya sudah direbus.

Hatta menyatakan pula, daging gelonggongan di Karanganyar hampir tidak ada. Sebab sejak hewan dipotong di Rumah Pemotongan Hewan (RPH), sudah diawasi secara ketat baik siang maupun malam. Bila ditemukan daging gelonggongan, kemungkinan itu datang dari luar. Terlebih lagi, permintaan daging di Karanganyar masih sedikit bila dibandingkan dengan Kota Solo.

Sumber : http://www.solopos.com/2011/karanganya

Read More