DSC_0022

Karanganyar Waspadai Dini Tanah Longsor

Penjelasan penyebab tanah longsor di daerah Tlobo, Jatiyoso, Karanganyar

Penjelasan penyebab tanah longsor di daerah Tlobo, Jatiyoso, Karanganyar

Karanganyar, Kamis (28/02/2013).

Curah hujan yang tinggi merupakan salah satu penyebab terjadinya tanah longsor, tetapi tanah longsor merupakan proses alam yang kadang-kadang didahului oleh adanya gejala awal yang sangat mungkin dapat kita ketahui, dan dapat dijadikan dasar untuk melakukan tindakan antisipasi untuk mencegah atau mengendalikan terjadinya longsor.

“Ada enam faktor penyebab tanah longsor, yakni kemiringan lereng, jenis dan susunan tanah atau batuan, keadaan air, dan penggunaan lahan. Selain itu juga vegetasi, serta gempa atau getaran,” jelas Sulastoro,  saat Sosialisasi Mitigasi Bencana Tanah Longsor, di Balai Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, Rabu (27/02).

Lereng yang curam berpotensi lebih besar untuk longsor dibanding dengan lereng yang landai. Kemiringan lebih dari 40% tergolong berpotensi untuk longsor. “Perubahan fungsi lahan juga dapat memperbesar resiko terjadinya tanah longsor,” kata dia.

Kewaspadaan dini sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya korban jika ada bencana tanah longsor. Untuk itu ada beberapa gejala atau tanda tanah longsor yang mudah dikenali oleh masyarakat, seperti tanah mengalami retak-retak berbentuk lurus, memanjang, ataupun melengkung. Banyak pohon yang semula tumbuh tegak berubah menjadi miring tidak beraturan. Kabel atau kawat listrik juga telepon mengendor, terjadi amblesan tanah pada satu atau beberapa bidang tanah, dan lantai bangunan atau dinding tembok mengalami retak-retak.

“Daun pintu atau jendela macet, terjadinya penyempitan alur sungai akibat tebing bergerak, serta terjadi penyempitan jarak antara rumah dengan tebing di dekatnya,” kata Sulastoro.

Dosen Fakultas Teknik UNS itu menjelaskan, ada beberapa cara sederhana untuk mengelola tanah longsor, seperti membuat saluran drainasi yan baik dan benar, menutup retakan tanah, penggunaan lahan, dan kesadaraan masyarakat terhadap lingkungan. “Masyarakat yang berada di daerah rawan longsor harus selalu melakukan langkah-langkah nyata dengan memantau gerakan tanah, dan perbaikan sistem penyaluran air hujan maupun air permukaan,” tandasnya.pd

Read More

Tanah Longsor Landa 3 Kecamatan di Karanganyar

Musibah tanah longsor kembali terjadi di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Kamis (14/2/2013) malam.
Informasi yang dihimpun, Jumat (15/2/2013), bencana longsor terjadi di Kecamatan Jenawi, Kerjo dan Ngargoyoso. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut tapi kerugian material ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Camat Jenawi, Agus, mengungkapkan longsor terjadi sekitar pukul 21.30 WIB di Dusun Jetis RT 002/RW 001 Desa Menjing. Sebanyak empat rumah milik warga setempat rusak cukup parah. Dua rumah di antaranya milik Mariman Atmo, satu rumah milik Suratno dan satu rumah lagi milik Ny Kasmi. “Satu rumah hancur total,” katanya.

Selain itu tanah pekarangan milik tiga warga setempat juga mengalami kerusakan. Diperkirakan kerugian materiil mencapai Rp265.500.000. Pekarangan yang rusak milik Dimin, Sutarmi dan Sukiman. “Taksiran kerugian materiil tersebut belum dihitung juga terhadap kerusakan tanaman maupun perabot rumah tangga milik warga,” imbuhnya.

Agus menerangkan, hujan deras mengguyur Jenawi pada Kamis sore hingga malam hari. Bencana tanah longsor juga terjadi di Kerjo dan Ngargoyoso kendati tidak separah di Jenawi. Sebagian rumah warga di Kerjo rusak ringan tertimpa material tanah yang longsor. Sedangkan longsor di Ngargoyoso terjadi di tanah pekarangan milik warga.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru K, mengakui telah terjadi musibah longsor di beberapa kecamatan. Namun yang paling parah terjadi di Jenawi dengan rusaknya empat rumah warga dan beberapa pekarangan. Tim BPBD sudah melakukan pengecekan lokasi longsor untuk mengantisipasi bencana susulan.

Lebih jauh lagi Heru kembali meminta masyarakat lereng Gunung Lawu utamanya di daerah rawan longsor supaya bersiaga bila turun hujan deras lebih dari dua jam. Dia meminta warga memprioritaskan keselamatan diri dengan bersiap keluar rumah di awal terjadinya bencana.

“Kami terus pantau kondisi daerah rawan longsor di lereng Lawu,” tegasnya.

sumber : http://www.solopos.com

Read More

Longsor, Jalan Jatiyoso-Matesih Lumpuh

DSC_0141Karanganyar, Kamis (20/12/2012)

Longsor yang terjadi di Desa Jatiyoso, Selasa (18/12) malam kemarin, mengakibatkan terputusnya ruas jalan di Karangsari yang menghubungkan Jatiyoso, Matesih, dan Karangpandan. Longsoran tanah itu menutup ruas jalan itu memiliki ketinggian antara tiga hingga delapan meter.

Data Pemkab Karanganyar menyebutkan longsoran tersebut ada tiga titik longsoran. Titik tersebut berada di Dusun Pacet, Plobosempun, dan Tlobo. Hingga Rabu (19/12), alat berat belum bisa memasuki area longsoran. Akibatnya, warga dan petugas berusaha menyingkirkan tanah longsoran itu dengan alat seadanya.

Salah seorang staff Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Karanganyar, Supriyadi menjelaskan, jalan di Dusun Pacet yang tertimbun longsong sepanjang 30 meter dengan ketinggian lima meter. Sementara itu, titik longsor di Dusun Plobosempun memiliki panjang 50 meter dan tinggi delapan meter. “Kalau jalan di Desa Tlobo, longsor menutup jalan sepanjang 1 meter dengan ketinggian sekitar tiga meter,” kata Supriyadi saat ditemui di lokasi longsoran.

Terkait dengan penanganan longsor, Pemkab menegaskan jika langkah pengerukan longsoran memerlukan waktu yang cukup lama. Tidak hanya satu hingga dua hari, akan tetap dinas memprediksi pengerukan membutuhkan waktu hingga sebulan ke depan.

Perkiraan tersebut disampaikan oleh Kasi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan DPU, Suparmin. Pihaknya beralasan jika lamanya waktu pengerukan lantaran jalan yang tertutup tanah longsor sangat panjang. Apalagi, ketinggian longsoran juga bisa dikatakan sangat tinggi. “Kemungkinan memerlukan waktu sekitar satu bulan untuk menyelesaikan itu,” ungkap Suparmin.

Dia mengaku kesulitan untuk mengerahkan backhoe besar, karena harus memakai trailer. Oleh karena itu, pihaknya hanya bisa menggunakan backhoe kecil. “Jumlahnya juga hanya satu. Itu karena alat berat yang kami punya pun juga harus dipergunakan untuk pengerjaan proyek lainnya,” jelas Suparmin.

Ditemui di lokasi longsoran, salah seorang warga, Elis memaparkan jika aktivitasnya dan warga sekitar terganggu akibat longsor yang memutus jalur Matesih-Karangpandan itu.

“Jalan itu benar-benar tidak bisa dilalui motor. Kalau warga ingin nekat ya harus berjalan. Tapi alternatif lainnya, warga bisa memutar arah melewati Jatipuri atau Desa Beruk,” ujar Elis.

 

 

.pd

Read More

LONGSOR JATIYOSO TELAN SATU KORBAN JIWA

Karanganyar, Rabu (19/12/2012)

Hujan yang sangat deras sejak Selasa (18/12) siang hingga malam menyebabkan longsor di empat titik wilayah Kecamatan Jatiyoso, di Karanganyar. Empat titik longsoran tersebut antara lain Dusun Margorejo Desa Jatiyoso, Dusun Duwetan Desa Tlobo, serta Dusun Gondang dan Karang Desa Karangsari.

Tidak hanya menimbun sejumlah rumah beserta isinya dan korban luka, namun longsoran tanah itu juga memutus jalan penghubung Karanganyar-Matesih-Jatiyoso. Tidak hanya itu, bencana itu juga merenggut salah seorang warga Dusun Margorejo RT 2/ RW XIV Desa Jatiyoso, Waginem (55).

Dari penuturan sejumlah saksi, kronologi longsor itu didahului dengan gempa yang cukup kuat dan dirasakan oleh warga sekitar. Saat kejadian, tepatnya pukul 18.30 malam, Waginem beserta anggota keluarganya yakni suami, cucu, dan orang tuanya berada di dalam rumah. Meski tiga anggota keluarganya lolos, namun nasib naas menimpa Waginem yang terjebak di dalam rumahnya.

Korban baru ditemukan dalam kondisi sudah tewas oleh tim gabungan SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar pada Rabu (19/12) pagi.

Sementara itu, data Pemkab Karanganyar menyebutkan, longsor yang terjadi di daerah yang cukup tinggi itu juga menyebabkan dua orang mengalami luka ringan. Yaitu suami dari Wagiyem, Ngatman (53) dan Siska (14) yang merupakan cucu dari korban meninggal itu. Akibat longsor itu, Pemkab juga mencatat ada satu rumah yang mengalami rusak berat yakni di Dusun Duwetan RT 16/  RW VIII Desa Tlobo, Jatiyoso atas nama Bapak Dikun (52).

Mengetahui wilayahnya terjadi bencana longsor, Bupati Karanganyar, Rina Iriani SR langsung meninjau lokasi, Selasa (18/12) malam. Pihaknya langsung melakukan prosedur tanggap darurat bencana dengan menggandeng BPBD, SAR, dan sejumlah pihak terkait.

Ditemui keesokan harinya, Rina mengaku telah melakukan antisipasi. “Kami langsung instruksikan kepada sejumlah pihak  untuk menerapkan tanggap darurat. Dan alhamdulillah, pagi tadi Ibu Wagiyem sudah ditemukan,” kata Rina, Rabu (19/12).

Pihaknya berharap kejadian serupa tidak akan terulang. Guna mengantisipasi hal yang sama, pihaknya berencana memasang warning system di lokasi-lokasi yang dirasa rawan terhadap bencana longsor, termasuk Jatoyoso. “Kami juga mengeliarkan instruksi, di mana daerah dengan kemiringan 45 derajat tidak boleh ditanami tanaman sayuran, semuanya harus tumpang sari,” ujarnya.

 

 

.pd

Read More

GUYON WASPADA: Kadus & Pengurus RT Diminta Siaga Bencana

Kepala dusun (Kadus) dan pengurus rukun tetangga (RT) di Dusun Guyon, Desa Tengklik dan Dusun Sendang, Sepanjang, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, diminta meningkatkan kewaspadaan seiring datangnya musim penghujan. Sebab dua lokasi tersebut dinilai sebagai daerah paling rawan bencana tanah longsor di Tawangmangu penghujan ini.

Penjelasan itu disampaikan Camat Tawangmangu, Yopi Eko Jati Wibowo, Senin (17/12/2012). “Sejak beberapa tahun terakhir ini dua lokasi tersebut yang termasuk daerah paling rawan bencana longsor,” katanya.

Yopi menjelaskan, jumlah warga yang tercanam longsor di dua lokasi longsor tersebut sekitar 74 keluarga terdiri 50 keluarga di Sendang dan 24 keluarga di Tengklik. “Guyon rawan karena tanah sudah mengalami keretakan dan penurunan mengkhawatirkan. Sedangkan untuk Sendang rawan karena letak geografisnya di ereng-ereng,” imbuhnya.

Yopi meminta kadus dan pengurus RT di daerah rawan bencana supaya siaga bila terjadi hujan tanpa henti selama enam jam. Mereka diminta menyiapkan lokasi pengungsian darurat bila benar-benar terjadi bencana longsor. “Bila hujan terus menerus selama enam jam di Sendang dan Guyon cepat cari tempat aman, tempat yang tidak terlalu jauh,”tegas dia.

Yopi mengklaim, kadus dan pengurus di daerah rawan bencana sudah mempunyai bekal untuk menghadapi situasi darurat bencana. Mereka sudah beberapa kali mendapat pelatihan tanggap bencana. Disinggung opsi relokasi warga di Guyon dan Sendang, menurut dia sudah pernah diupayakan. Hanya saja warga Guyon keberatan lantaran lahan baru relokasi dianggap berada terlalu jauh dari tempat tinggal lama mereka.

Padahal berdasar penelitian beberapa ahli diketahui kondisi lahan di Guyon sangat mengkhawatirkan. Camat menyampaikan, tanah bagian bawah Dusun Guyon mengalami pelapukan sehingga terus bergeser atau mengalami penurunan beberapa sentimeter. Perihal program relokasi, Yopi meyakinkan bahwa sosialisasi kepada warga sudah berulangkali dilakukan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru K, mengaku tengah memantau intensif pergerakan tanah di daerah-daerah rawan longsor.

Read More

2013, Penghijauan Lahan Kritis Karanganyar Ditarget Rampung

Pemkab Karanganyar menargetkan penghijauan lahan kritis di wilayah Karanganyar rampung pada akhir 2013. Hingga sekarang, sebanyak tiga juta bibit pohon telah ditanam terutama di wilayah lahan kritis.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengatakan lahan kritis di wilayah Bumi Intanpari seluas 8.000 hektare yang tersebar di wilayah Karanganyar. Rinciannya, 5.000 hektare tergolong kritis sementara 3.000 hektare termasuk kategori potensial kritis.

“Targetnya penghijauan pada lahan kritis kelar pada 2013 mendatang, makanya kampanye penghijauan terus digalakkan,” katanya saat ditemui wartawan di sela-sela acara penanaman satu miliar pohon di SMKN 2 Karanganyar, Jumat (14/12/2012).

Penghijauan bakal diprioritaskan di wilayah rawan bencana alam seperti tanah longsor yang berada di lereng Gunung Lawu. Tidak sedikit daerah Lereng Gunung Lawu berubah menjadi lahan kritis. Lahan kritis tersebut disebabkan beberapa faktor seperti kebakaran hutan, penggalian tanah dan penebangan liar.

Pihaknya bakal menggandeng pihak swasta maupun unsur masyarakat untuk melaksanakan program penanaman satu miliar pohon. Tidak hanya di instansi pemerintah atau sekolah, penanaman pohon harus dilaksanakan di setiap desa.
“Prioritas memang wilayah rawan bencana alam namun seharusnya penanaman pohon juga dilakukan di setiap desa,” ujarnya.

Selain itu, penghijauan di daerah lereng Gunung Lawu dapat menambah cadangan air bersih. Hutan-hutan di lereng Gunung Lawu menyimpan cadangan air bersih yang digunakan masyarakat Karanganyar dan sekitarnya setiap hari.

Bupati Karanganyar, Rina Iriani SR, meminta agar masyarakat dan para stake holder turut berperan aktif melakukan penghijauan di lingkungannya masing-masing. Penghijauan itu dapat mencegah terjadinya bencana alam seperti tanah longsor. Terdapat beberapa jenis tanaman yang dibagikan langsung ke masyarakat antara lain trembesi, sengon, jati dan akasia.

Read More

BENCANA: Awas, Ada 34 Lokasi Rawan Longsor di Karanganyar

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar mencatat sebanyak 34 lokasi di delapan wilayah kecamatan di Kabupaten Karanganyar tergolong sebagai daerah rawan longsor. Delapan wilayah kecamatan itu yakni Jatipuro, Jatiyoso, Tawangmangu, Matesih, Karangpandan, Ngargoyoso, Kerjo dan Jenawi.

Kepala BPBD Karanganyar, Aji Pratama Heru K, Senin (10/12/2012), mengatakan untuk mengantisipasi terjadinya musibah telah dipasang 13 unit alat early warning system (EWS). Alat akan memberikan sirine peringatan bila terjadi gerakan tanah hingga 20 sentimeter.

Read More

Tanah Ambles di Guyon Capai 10 cm

Pergerakan tanah di Dusun Guyon, Desa Tengklik, Kecamatan Tawangmangu semakin dirasakan masyarakat sekitar. Berdasarkan pengamatan alat peringatan dini atau early warning system tanah di sekitar lokasi ambles mencapai 10 cm.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru K, mengatakan seluruh alat peringatan dini yang dipasang di lokasi rawan tanah longsor dinyalakan secara terus-menerus. Langkah ini dilakukan untuk memantau pergerakan tanah saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

“Alat peringatan dini yang berjumlah 14 unit dinyalakan selama musim penghujan,”.

Selain itu, jalur evakuasi menuju balai Desa Tengklik mengalami kemiringan sekitar 15 derajat. Artinya, pergerakan tanah bisa terjadi sewaktu-waktu apalagi saat terjadi hujan lebat selama lebih dari dua jam.

Pihaknya telah menyiapkan sukarelawan serta sarana dan prasarana untuk mengantisipasi terjadinya bencana tanah longsor. Apabila terjadi tanah longsor, maka para sukarelawan segera menuju lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi terhadap warga sekitar.

“Sukarelawan maupun sarana dan prasarana telah disiapkan, mereka akan bergerak cepat menuju lokasi jika terjadi bencana tanah longsor,” jelasnya.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim penghujan. Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi selama berjam-jam maka warga diminta segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Sementara Camat Tawangmangu, Yopi Eko Jati Wibowo, menyatakan ada beberapa titik lokasi yang rawan tanah longsor antara lain Dusun Guyon, Desa Tengklik, Dusun Mogol, Desa Ledoksari. Selama ini, pihaknya selalu berkoordinasi dengan BPBD Karanganyar untuk mengantisipasi terjadinya bencana tanah longsor.

Read More

Musim Penghujan, Warga Lereng Lawu Diminta Waspadai Longsor

Warga yang berdomisili di sekitar lereng Gunung Lawu diminta waspada saat terjadi hujan lebat disertai angin kencang. Pasalnya, daerah itu rawan terjadi bencana alam tanah longsor.

Informasi yang dihimpun, beberapa warga Dusun Guyon, Desa Tengklik, Kecamatan Tawangmangu merasakan pergerakan tanah sejak beberapa hari terakhir. Mereka mengkhawatirkan terjadi tanah longsor saat terjadi hujan selama berjam-jam. Selama ini, Dusun Guyon merupakan daerah rawan tanah longsor yang disertai dengan pergerakan tanah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru K,  mengatakan terdapat 34 titik yang tersebar di delapan kecamatan teridentifikasi rawan longsor. Sebagian daerah tersebut berada di sabuk Gunung Lawu.

“Daerah yang rawan longsor terdapat di lereng terutama di wilayah sabuk Gunung Lawu. Kami minta agar warga waspada selama musim penghujan,” ujarnya, akhir pekan kemarin.

Menurutnya, kondisi sebagian tanah di sekitar lereng Gunung Lawu mengalami kelapukan tingkat tinggi. Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi, lokasi tersebut rawan longsor. Lereng gunung yang ketinggiannya lebih dari 15 derajat termasuk kategori bahaya.

Selama ini, pihaknya telah memasang 13 unit alat early warning system (EWS). Apabila terjadi pergerakan tanah maka sirine peringatan akan berbunyi. Apabila sirine berbunyi maka warga diminta untuk mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman. “Pemasangan alat hanya di lokasi rawan longsor karena alatnya terbatas,” ungkapnya.

Sementara seorang warga Dusun Guyon, Partidi, mengatakan pergerakan tanah terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah Karanganyar sejak beberapa hari lalu. Namun, pergerakan tanah tersebut hanya sesaat. Kendari demikian, warga tetap khawatir apabila tanah ambles dan menimpa rumah.

Read More

Zona Pembangunan Perumahan Dibatasi

Bupati Karanganyar Rina Iriani menegaskan bakal mengantisipasi menjamurnya pendirian perumahan oleh pengembang yang dibangun di lahan pertanian. Pihaknya mengaku sudah menolak puluhan izin pendirian perumahan dengan lokasi tersebar di seluruh Karanganyar.

“Yang jelas sudah sangat banyak izin yang kami tolak. Ini untuk menjaga lahan lestari yang mencapai 28.000 hektare. Lahan ini tidak boleh disentuh kecuali untuk pertanian,” tegas Rina, Rabu (17/10).

Diungkapkannya, pembatasan zona untuk pendirian rumah akan diatur segera dengan tegas. Pengaturan tersebut, menurutnya, haruslah sesuai dengan kebutuhan dasar manusia. “Kebutuhan utama kita kan makanan, pakaian, baru kemudian perumahan,” ujarnya.

Rina juga mengimbau kepada warga di Kecamatan Colomadu untuk tidak menjual tanahnya kepada pengembang yang tidak sesuai dengan aturan. Selain itu juga tidak diizinkan pengembang melakukan penggarapan perumahan di daerah dataran tinggi. “Tidak boleh di dataran tinggi karena bahaya longsor longsor. Kami kunci izin untuk itu,” imbuhnya.

Lebih jauh Rina menyatakan, pembangunan perumahan haruslah seimbang dengan lahan produktif yang ada. Dari lahan yang ada, 50 persennya digunakan untuk lahan produktif, 30 persennya baru digunakan untuk perumahan. “Seimbang itu tidak berarti harus sama jumlahnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Karanganyar, Priharyanto, menyatakan ke depannya sangat diperlukan aturan yang ketat dalam izin pembangunan perumahan. Menurutnya, zona perumahan yang dipersiapkan adalah di daerah Jumantono, Jatipuro, Jatiyoso, Jumapolo (4J), dan Gondangrejo. “Sedangkan untuk Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) masih dalam proses penyusunan,” ujar Priharyanto.

Read More