Tahukah kamu, Gunung Lawu itu ga 100% mati lho!

Opini

Oleh: Arif Muchlisin

Gunung Lawu. Secara administrasi, gunung yang mempunyai ketinggian 3265 mdpl (meter di atas permukaan laut) ini berada di perbatasan 2 provinsi, yaitu Jawa Tengah (Kabupaten Karanganyar) dan Jawa Timur (Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan). Gunung Lawu merupakan salah satu bagian dari sabuk gunung api berumur Kuarter (< 2,6 juta tahun yang lalu) di Jawa. Gunung api Kuarter terbentuk akibat subduksi (tumbukan) antara lempeng Samudera Indo-Australia yang menunjam di bawah lempeng Benua Eurasia. Contoh gunung api Kuarter di Jawa selain Gunung Lawu yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Slamet, Gunung Sindoro-Sumbing, Gunung Arjuna, Kompleks Pegunungan Bromo-Tengger, dan lain lain. Gunung api-gunung api Kuarter ini apabila kita lihat melalui google maps¸ maka akan membentuk trend (kelurusan) yang mengarah dari barat hingga timur (Gambar 1).

Gambar 1. Persebaran gunungapi Kuarter Pulau Jawa yang membentuk suatu trend berarah barat hingga timur. Sumber gambar: google maps

Tahukah kamu jika Gunung Lawu itu sebenarnya tidak 100% mati lho?

Gunung Lawu tergolong kedalam gunung api tipe B. Gunung api tipe B merupakan gunung api yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengalami erupsi magmatik, namun gunung api ini masih memperlihatkan gejala seperti adanya solfatara (fumarol yang mengeluarkan gas-gas belerang). Gunung api tipe B dapat mengalami erupsi kembali setelah beberapa ratus tahun mengalami dorman (istirahat). Tercatat bahwa Gunung Lawu mengalami erupsi terakhir pada 28 November 1885. Hingga sampai saat ini, 2019, Gunung Lawu belum pernah dilaporkan mengalami erupsi letusan kembali. Itu artinya bahwa gunung api ini telah lebih dari 100 tahun tidak mengalami erupsi. Namun demikian, bukan berarti Gunung Lawu tidak akan bisa meletus lagi karena di dalam perut gunung masih terdapat aktivitas magma yang sewaktu-waktu dapat meletus. Gunung api dorman ini dapat mengalami letusan kembali dan memiliki potensi ancaman dengan intensitas letusan yang mungkin akan lebih besar.

Lantas, kapan Gunung Lawu diprediksi akan meletus lagi?

Tidak ada yang bisa menentukan kapan tepatnya suatu fenomena alam terjadi. Semua rahasia di alam hanya dipegang oleh Tuhan YME. Kendati demikian, kita tidak perlu takut apabila hendak beraktivitas di dekat Gunung Lawu, karena pada dasarnya gunung api yang akan mengalami erupsi pasti akan menampakan tanda-tanda alam yang dapat dijadikan sebagai peringatan dini bagi kita. Dalam ilmu kegunungapian, tidak ada jaminan bahwa gunung api tersebut akan mati. Butuh waktu geologi (ratusan-jutaan tahun) untuk dapat memastikan bahwa gunung api tersebut dikatakan sudah tidak aktif lagi. Namun, suatu saat bisa jadi Gunung Lawu dapat aktif kembali dan dapat mengalami letusan. Contoh aktivitas gunung api yang mengalami erupsi setelah ratusan tahun dorman yaitu Gunung Sinabung yang merupakan gunung api tipe B tercatat tidak meletus lagi sejak tahun 1600. Namun saat ini kita ketahui bahwa Gunung Sinabung tersebut aktif mengalami erupsi kembali.

Gambar 2. Kenampakan relief bukaan pada sisi selatan Gunung Lawu. Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aktivitas Gunung Lawu yang menunjukkan bahwa gunung api ini masih aktif hingga saat ini yaitu kita bisa merasakan adanya bau gas belerang yang menyengat. Bau gas belerang ini muncul dari fumarol di Kawah Candradimuka atau relief bukaan di sisi selatan Gunung Lawu dimana bukaan ini tepat memisahkan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kenampakan relief bukaan pada sisi selatan Gunung Lawu dapat dilihat pada gambar diatas (Gambar 2).

Read More

Artikel Terpilih Karanganyar Menulis 2019 Periode 7

Berikut ini daftar artikel terpilih untuk rubrik Karanganyar Menulis 2019:

  1. Tahukah Kamu, Gunung Lawu Itu Ga 100% Mati Lho! oleh Arif Muchlisin
  2. Dibalik Sistem Zonasi Sekolah oleh Erna Puji Rahayu
  3. Di Penghujung Rembulan Temaram oleh Lina Khoirun Nisa
  4. Spirit Kebangsaan oleh Sriyanto
  5. Merayakan Literasi, Sudah Itu Mati! oleh Eko Setyawan

Jurnal Warga dapat Anda akses disini : http://www.karanganyarkab.go.id/category/berita/jurnal-warga/

Ayo ikut berpartisipasi dalam penulisan jurnal warga untuk membantu menyebarkan informasi dan berita kepada masyarakat. Seluruh warga Kabupaten Karanganyar dapat mengirimkan berita-berita dan informasi di lingkungan Anda kepada kami. Tulisan yang menarik akan mendapatkan reward menarik dan akan dipublikasikan di website karanganyar serta share ke sosial media karanganyar. Kami tunggu tulisanmu!

Read More
WhatsApp Image 2019-09-03 at 10.17.49

Petani Bawang Putih Kembali Bangkit, Setelah Sempat Vakum 20 Tahun

KARANGANYAR-  3 September 2019

Bupati Karanganyar, Juliyatmono ikut membantu memisahkan daun bawang dengan bawangnya

Panen raya bawang putih di Desa Segoro Gunung, Kecamatan Ngargoyoso dan Desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu membuktikan petani di lereng Gunung Lawu kembali bangkit. Pola kemitraan antarkelompok tani dengan swasta menjadi kunci sukses kebangkitannya. Pasalnya, petani di dua wilayah tersebut sempat vakum atau tidak menanam bawang putih selama 20 tahun.

“Budidaya bawang putih sudah 20 tahun vakum. Pasarannya enggak menjamin, karena harganya sering jatuh. Ongkos tanam dengan hasilnya timpang,” kata Kepala Desa Segoro Gunung, Tri Harjono saat memberikan sambutan pada panen raya di Lapangan Mini Desa Segoro Gunung, Kecamatan Ngargoyoso, Selasa (3/9).

Menurut Tri Harjono kondisi demikian berubah berkat ajakan bermitra dari perusahaan swasta. Para petani diberi secara cuma-cuma bibit bawang putih jenis Tawangmangu Baru dan beberapa jenis lokal lainnya. Lahan digarap 30 hektare dari total tersedia 115 hektare. Pada panen Juli-Agustus dan Agustus-September, dihasilkan rata-rata 18,4 ton per hektare. Sebagian hasil panen dibeli perusahaan dengan harga Rp 18 ribu perkilogram kondisi basah. Pola kemitrannya, yakni 70 persen hasil panen hak petani sedangkan 30 persen dibeli perusahaan. Nantinya, panenan yang dimiliki perusahaan untuk pembibitan. Lebih lanjut dikatakan, lahan potensial bercocok tanam bawang putih selain di desanya juga di Kecamatan Tawangmangu, Jenawi dan Jatiyoso. “Panenan di gudang ada 60 ton. Sudah dibeli semua oleh CV Berkat Putih Abad. Kita jadi bersemangat menanam lagii,” katanya.

Dalam membudidaya bawang putih, perusahaan itu menggandeng kelompok tani diantaranya Nyawiji Rejeki dan Rejeki Makmur. Anggota Poktan Nyawiji Rejeki, Jarwanto mengatakan keuntungannya maksimal. Di lahannya seluas 4 hektare, ia mampu memanen 45 ton. Keuntungan bersih sekitar Rp 7 juta per hektare. Dimulai menanam April, kelompok tani ini memanen pada Agustus. Ia mengatakan, waktu menanam tiap kelompok tani mitra tidak sama. Hal itu disebabkan dropping benih juga tak serentak. “Yang dibutuhkan petani kepastian. Pasti dibeli, pasti harganya dan jaminan keberlanjutan kerjasama dengan rekanan. Dulunya semua takut menanam bawang karena serba tidak pasti,” katanya.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengatakan panen melimpah bawang putih Karanganyar diharapkan mengurangi impor komoditas tersebut. Sebab hasil panen di Ngargoyoso dan Tawangmangu bagus dan melimpah. Sehingga ke depan, pihaknya berharap tanaman bawang putih bisa menjadi unggulan di Kecamatan Ngargoyoso dan Tawangmangu.  (hr/adt)

Read More
DSC_0715

Pemkab Karanganyar Gelar Lawu Fair Di Taman Pancasila

Read More
DSC_0715

Semarakkan Hari Kemerdekaan, Pemkab Gelar Lawu Fair

Bupati Karanganyar, Juliyatmono memberikan sambutan dalam Lawu Fair di Taman Pancasila

 

KARANGANYAR- 25 Agustus 2019

Menyemarakan Hari Kemerdekaan ke 74, Pemkab Karanganyar menggelar Lawu Fair di Taman Pancasila. Lawu Fair itu diikuti seluruh pelajar dari berbagai jenjang di Kabupaten Karanganyar menampilkan bakat dan kemampuan terbaik. Acara tersebut dimulai Minggu pukul 15.00 hingga Senin Dinihari pukul 03.00

“Acara ini sengaja berdurasi lama karena ingin memberikan ruang yang cukup bagi pelajar di Karanganyar untuk menampilkan bakat dan kemampuan terbaik,” papar Kepala DInas Pendidikan dan Kebudayaan, Tarsa.

Dia juga mengucapkan terima kasih, pawai pembangunan pelajar yang diselenggarakan Jumat berlangsung dengan baik. Seluruh sekolah mengikuti pawai karnawal tersebut, baik sekolah negeri dan swasta di Kabupaten Karanganyar. Termasuk juga untuk serenade juga telah diikuti pelajar dengan jumlah yang banyak.

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Juliyatmono menyambut baik acara Lawu Fair di Taman Pancasila. Sebab pemerintah memberikan seluas-luasnya kepada para pelajar yang mempunyai bakat dan kemampuan unggul untuk ditampilkan. Tidak lama lagi, Pemkab juga akan membangun gedung teater Bhineka Tunggal Ika di komplek gedung wanita Karanganyar. “Seluruh kemampuan seni dan bakat siswa akan diberikan tempat digedung tersebut. Termasuk memugar stadion 45 dan membangun masjid Agung Karanganyar,” ujarnya.

Pihaknya meminta para orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Termasuk memberikan susu satu hari kepada anak. Tidak terkecuali bagi para pekerja, sebab di Karanganyar sudah ada Ojek ASI yang dibiayai Pemkab Karanganyar. “Berkat Ojek ASI, Pemkab Karanganyar mendapatkan 99 TOP Inovasi dari Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi,” tandasnya. (hr/adt)

Read More
07_Karanganyar Menulis 2019 Terpilih mei juni

Artikel Terpilih Karanganyar Menulis 2019 Periode 6

Berikut ini daftar artikel terpilih untuk rubrik Karanganyar Menulis 2019:

  1. Pelabuhan Ramai Nan Sunyi oleh Sigit Budiyarto
  2. Membangun Kemampuan Berinteraksi Di Kereta Ekonomi oleh Dhimas Wihandoko
  3. Ancaman Mengintai Gunung Lawuku Yang Malang oleh Nabila Nindi Radiawati
  4. Pengoptimalan Sektor Pariwisata di Bumi Intanpari Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Asli Daerah oleh Novita Sari
  5. Budaya Kita, Budaya Bangsa dan Dunia oleh Nareswati Kintoko

Jurnal Warga dapat Anda akses disini : http://www.karanganyarkab.go.id/category/berita/jurnal-warga/

Ayo ikut berpartisipasi dalam penulisan jurnal warga untuk membantu menyebarkan informasi dan berita kepada masyarakat. Seluruh warga Kabupaten Karanganyar dapat mengirimkan berita-berita dan informasi di lingkungan Anda kepada kami. Tulisan yang menarik akan mendapatkan reward menarik dan akan dipublikasikan di website karanganyar serta share ke sosial media karanganyar. Kami tunggu tulisanmu!

Read More
_DSC9413

Muhammad Viky dan Matea Clorinda Sabet Gelar Juara I Putra Putri Lawu Duta Wisata Kab. Karanganyar Tahun 2019

Kominfo

Bupati Karanganyar H. Juliyatmono berfoto bersama para pemenang Putra Putri Lawu Duta Wisata Kabupaten Karanganyar Tahun 2019 pasca menyematkan selempang dan memeberikan hadiah bagi juarai I Viky dan Matea pada malam puncak Grand Final Putra Puti Lawu di GOR RM SAID, Sabtu(20/07/19)

Karanganyar – 20 Juli 2019

Muhammad Viky Ardiansyah dan Matea Clorinda Devita Murti dinobatkan sebagai Putra Putri Lawu (PPL) Karanganyar 2019. Keduannya terpilih sebagai PPL 2019 setelah melewati serangkaian tahapan seleksi hingga malam puncak Grand Final yang diselenggarkan di Gor Raden Mas Said Karanganyar, Sabtu (20/7/2019) malam.

Dalam malam puncak itu, 10 besar finalis PPL 2019 unjuk kebolehannya masing-masing. Seusai dilaksanakan sesi tanya jawab tentang kepariwisataan khususnya di Kabupaten Karanganyar. Lima orang selaku dewan juri menetapkan Juara 1 Putra Lawu 2019 yang diraih Muhammad Viky Ardiansyah dari Kecamatan Matesih dan Putri Lawu 2019 diraih Matea Clorinda Devita Murti dari Kecamatan Jaten. Selempang dan piala diberikan langsung oleh Bupati Karanganyar, Juliyatmono yang sebelumnya telah membuka acara Grand Final PPL 2019.

Sedangkan juara 2 PPL 2019 dimenangkan oleh Agus Supriyono dari Kecamatan Tawangmangu dan Septiani Arum Pridina dari Kecamatan Jumapolo. Kemudian juara 3 dimenangkan oleh Bramantya Yumma Trinanda dari Kecamatan Karanganyar dan Ansilia Ensa Utama dari Kecamatan Kebakkramat.

Selain terpilih 3 besar PPL 2019, ada pula beberapa kategori yang diperlombakan dalam acara puncak malam itu. Yakni kategori intelegensi yang dimenangkan oleh Faisal Ary Justiawan dari Kecamatan Kebakkramat dan Surya Yuli Astuti dari Kecamatan Gondangrejo. Untuk kategori kepribadian dimenangkan oleh Wahyu Sidiq Pamungkas dari Kecamatan Tasikmadu dan Christine Wiwin dari Kecamatan Jaten. Sedangkan kategori fotogenik dimenangkan oleh M Wahyu Aji dari Kecamatan Karanganyar dan Mela Kuntadewi dari Kecamatan Karanganyar.

“Kabupaten Karanganyar menjadi tempat cukup strategis, kehadiran wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri,” kata Juliyatmono. Ia berharap semoga PPL tiap tahun melahirkan generasi muda yang baik, kompetitif sesuai era kekinian. “Ini semata-mata tugas pemerintah mebantu memfasilitasi dan menemukan orang hebat melalui pemilihan PPL,” terangnya.

Kepada para generasi muda, Juliyatmono berharap dapat membangun impian yang sama untuk mempunyai rasa percaya diri. “Karena Tuhan memberikan potensi yang besar kepada kita. Kelebihan itu mari kita optimalkan, untuk optimis melihat masa depan. Yakin bahwa Tuhan akan membukakan jalan kepada siapapun yang optimis, optimis cara berfikirnya,” ungkapnya.

Pemilihan PPL ini menjadi momentum serta pemicu untuk bisa eksis dimanapun berada.

“Alumni PPL mari terus membangun kekompakan dan kebersamaan. Mari kita promosikan Karanganyar dengan suasana yang baik. Masyarakatnya yang ramah, masyarakat yang menyenangkan dan tinggi semangat nilai gotong-royong,” ungkap Juliyatmono.

Adapun dalam malam puncak Grand Final PPL 2019 itu semakin meriah dengan penampilan Tari dari Sanggar Ngesti Budaya dan sepasang kostum Garuda serta Jalak Lawu dari Nglurah Tawangmangu.(Ard/Tgr)

Read More
putr_20putr_20lw_400x400

Telah Terpilih 10 Pasang Grand Finalis Putra Putri Lawu Duta Wisata Kabupaten Karanganyar 2019

Karanganyar, 05 Juli 2019

Rangkaian Pemilihan Putra Putri Lawu Duta Wisata Karanganyar tahun 2019 sudah berlangsung sejak tanggal 2 Juli 2019. Para peserta mendapatkan pembinaan dari para narasumber sebelum mengikuti serangkaian test, yakni test tertulis dan wawancara.

Pada hari Jum’at 05 Juli 2019, telah ditetapkan para peserta yang akan berlaga di Grand Final pada tanggal 20 Juli nanti. Para grand finalis terdiri dari berbagai latar pekerjaan dan usia.

Berikut daftar para grand finalis:

Demikian Diskominfo. (tgr/wk)

Read More
andrianto3

Lawu Percussion : Bermula dari Lomba 17an Agustus Hingga Event Nasional

JUARA 2 Rubrik Karanganyar Menulis 2019 Periode 5

Lawu Percussion : Bermula dari Lomba 17an Agustus Hingga Event Nasional
Oleh: Andrianto Dwi Saputo
Karangpandan, Karanganyar

 

Anggota “Lawu Percussion”

17 Agustus mulai mendekat, suara gaduh di kampung yang sunyi terdengar setiap sore menjelang Maghrib. Mereka adalah sekelompok pemuda-pemudi yang berasal dari Dusun Kapingan, Desa Dayu, Kabupaten Karanganyar. Barisan barang bekas yang ditata rapi terlihat setiap sore di jalan tengah kampung tersebut. Ternyata suara gaduh tadi berasal dari barang bekas yang dijadikan pemuda-pemudi tadi sebagai sarana bermain musik.

Ide tersebut muncul ketika pihak Desa mengadakan perlombaan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, saat itu tahun 2016. Sebagai partisipasi muda-mudi dari Dusun Kapingan tersebut mempunyai ide yang unik dalam mengikuti perlombaan tersebut, maka tercetuslah ide bermain musik dengan menggunakan barang bekas seperti ember, drum bekas dan botol. Setiap sore sebelum adzan maghrib berkumandang mereka selalu latihan di tempat yang sama, yaitu di pertigaan jalan tengah kampung. Hal tersebut menarik perhatian warga yang lain untuk melihat latihan mereka setiap sorenya dan tentunya memberikan semangat.

Hari yang dinanti datang, mereka mengikuti perlombaan dengan gembira, tanpa memikirkan menang atau kalah, ikut meramaikan dan berpartisipasi ialah tujuan utama mereka. Namun, hasil malah berpihak kepada mereka, mereka berhasil menjadi juara di acara yang di adakan oleh pihak Desa tersebut.

Semua telah berakhir, acara 17an Agustus kelompok muda mudi yang membuat suara gaduh di tengah kampung setiap sorenya. Sekarang bahkan (jangankan) suara gaduh, muda-mudi berkumpul saja tidak terlihat, kecuali memang ada acara perkumpulan muda-mudi. Hal itu membuat Andri dan Narso merasa perlu adanya suatu ide besar agar mereka muda mudi kampung tersebut ada aktivitas yang positif di waktu longgar mereka. Ide pun muncul untuk bermain musik yang berbeda, mereka terpikirkan apa yang telah dilakukan muda-mudi kampung saat acara 17 Agustusan kenapa tidak dilanjutkan. Itu bukan suatu kebetulan, namun memang adanya bakat yang harus diasah. Saat itu Andri rela menyediakan rumah sebagai sarana tempat untuk berlatih, dan Narso yang berbekal pengalaman yang dia dapat selama berkuliah di Institut Seni Indonesia di Solo merasa, ilmunya harus disalurkan ke yang lain.

Mulai dari situlah mereka berdua berkomitment untuk membentuk suatu group musik. Mereka memilih anggota yang sekiranya berpotensi dalam hal ini. Akhirnya mereka sudah menentukan anggota dari group musik tersebut. Dimas, Icha, Resima, Ageng dan Tifah. Mereka yang dianggap tepat untuk dijadikan sebuah group musik menurut pendapat Andri dan Narso. Semua sudah siap, namun mereka melupakan hal yang sangat krusial yaitu alat musiknya. Tidak akan bisa berjalan jika tidak ada alat musiknya, namun mereka tidak menyerah mereka kembali menggunakan alat musik yang terbuat dari barang bekas dan di kombinasikan dengan alat musik tradisional Jawa.

Hari demi hari mereka lalui dengan berlatih, hari yang biasanya setiap sore sudah sepi dari suara gaduh, sekarang mulai terdengar lagi dari alunan musik yang mereka mainkan. Sudah hampir setahun mereka berlatih, saat mereka untuk berani pentas dalam sebuah acara. Andri berpikir keras saat itu, acara apa yang bisa diikuti untuk menunjukan hasil kerja keras mereka selama ini, dan Narso pun iseng merekam setiap kali anak-anak tersebut beratih. Hasil rekaman Narso pun sampai ke temannya yang notabene beliau berasal dari Korea Selatan. Dari situlah semua mulai jelas. Andri mulai mendapat ide, kalau tidak ada acara yang bisa kita ikuti, kenapa kita tidak membuat acara sendiri saja?

Hal yang sangat benar dan tepat yang dipikirkan oleh Andri, karena sebentar lagi momen 17 Agustus 2017. Dia terpikirkan membuat acara tirakatan malam 17 Agustus dengan menampilkan Hasil kerja keras anak-anak berlatih selama ini tentunya disisipi dengan acara lain. Disisi lain Narso berusaha membunjuk teman yang dari Korea selatan tadi untuk mau join dalam acara Tirakatan 17 agustus yang akan diadakan di halaman bekas SD N 2 Dayu.

Semua berjalan lancar kepanitiaan sudah terbentuk, roundown acara sudah fixs dan orang Korea juga sudah mau untuk join. Namun ada sebuah masalah lagi, anak-anak tadi belum mempunyai nama group musik. Walaupun mau tampil ditempat dan acara sendiri, tapi sebuah nama group musik itu sangat penting.

Setelah semua berunding akhirnya muncul nama “Lawu Percussion” dan semua setuju akan nama tersebut. Hari tersebut sudah di depan mata, panggung sudah berdiri, sound sistem sudah mulai berdengung dengan keras. Dan tibalah saat acara dimulai, rentetan acara sudah dimulai dengan lancar, anak-anak Lawu Percussion menampilkan pertunjukan yang membuat semua penonton memberikan teriakan dan tepuk tangan, sedangkan rekan dari Korea juga menampilkan sebuah pertunjukan seni musik Korea yang tentunya di simak baik baik oleh penonton, karena hal tersebut merupakan suara baru yang masuk ke telinga mereka. Di akhir acara, ternyata ada kejutan yang dibawa oleh teman dari Negeri K-Pop sudah mempunyai naluri bahwa anak-anak Lawu Percussion ini akan berkembang dengan pesat bahkan hal itu sudah ia ketahui setelah melihat rekaman yang ditunjukan oleh Narso. Karena melihat alat musik yang dimainkan oleh Lawu Percussion adalah barang bekas, Si Korea lantas berniat memberikan alat musik kepada mereka untuk mengembangkan bakat yang mereka punya, dan di acara inilah moment yang tepat untuk memberikan alat musik tersebut.

Suara jeritan bahagia terdengar dari semua anak-anak Lawu Percussion, mereka mendapat suatu hal yang tidak mereka bayangkan, mereka mendapat alat musik khas Korea yang bernama Samulnori. Acara malam tirakatan 17 Agustus 2017 tersbut akhirnya berjalan sesuai dengan harapan.

Kemudian harinya anak-anak lawu percussion bersemangat berlatih dengan menggunakan alat barunya. Suara gaduh di tengah kampung semakin menggaduh setiap harinya dikala sore tiba. Semakin kesini, mereka semakin mahir dalam memainkan alat musik yang mereka gunakan. Hingga mereka memutuskan harus tampil di event luar. Dan berbagai event yang diadakan di sekiatar Kota Solo mereka berhasil berpartisipasi. Mulai saat itu Lawu Percussion mulai terkenal di daerah Kabupaten Karanganyar, dan mereka beberapa kali mendapat undangan untuk mengisi acara.

Pentas di Semarak Indosiar

Andri dan Narso tidak puas akan hal terebut, tibalah saat itu ada pagelaran tingkat nasional yang bertakjub Indonesa Drum dan Perkusi 2018. Mereka berkomitmen untuk mengikuti acara tersebut entah bagaimana caranya dan bagaimana soal dananya, karena acara tersebut dilaksanakan di Jakarta. Dengan tekat yang kuat akhirnya mereka bisa menjadi salah satu perserta dalam acara tersebut. Anak-anak lawu Percussion yang bernggotakan 5 anak tersbut sampai rela setiap harinya menyisihkan uang saku sekolah untuk menabung agar bisa berangkat ke Jakarta. Dan Andri sendiri mencari sumber dana dengan segala cara agar mereka dapat berangkat, mulai dari Desa, Donatur, dll.

Akhirnya mereka bisa berangkat ke Jakarta untuk mengikuti acara yang terkenal disingkat IDP Fest 2018 tersebut. semua berjalan dengan lancar dan hasil yang sangat memuaskan, sebuah group musik yang beranggotakan sekumpulan anak SD dan bermula dari barang bekas, bisa menjadi Juara 4 tingkat Nasional. Orang tua mereka menangis bangga, tidak mengira bisa sejuah ini. Semua pagelaran IDP Fest 2018 sudah selesai, mereka kembali pulang dengan tekat tahun depan harus masuk ketiga besar.

Semua kembali normal, suara gaduh tiap hari masih terdengar yang kali ini bersumber di rumah Andri. Andri dengan senang hati menjadikan rumahnya sebagai basecamp dan tempat latihan bgi anak-anak lawu percussion. Tiap hari mereka berlatih dengan target tahun 2019 mengikuti IDP Fest 2019 dan masuk ke tiga besar. Dan anak-anak tersebut kembali menabung setiap hari dengan harapan saat waktunya uang tabungannya bisa digunakan untuk berangkat kembali ke Jakarta. Semakin hari skil anak-anak semakin terasah berkat hal-hal dan ilmu baru yang di ajarkan oeh Narso.

Pentas di Borobudur, Festival Payung

Di tengah persiapan menuju IDP Fest 2019 mereka beberapa kali mendapat undangan untuk tampil mengisi disebuah acara, termasuk undangan dari luar Kabupaten yaitu acara Festival payung di Obyek Wisata Borobudur di penghujung tahun 2018. Nama Lawu Percussion semakin terkanal saja oleh penggiat-penggiat acara yang membutuhkan pengisi acara.

Event yang mereka nanti-nantikan sebentar lagi akan datang, hal tersebut membuat semangat anak-anak semakin berlipat, hentakan tangan memumuk alat musik seakan lebih keras dari biasanya, suara gaduh ditengah kampung semakin keras terdengar. Semangat yang terbakar demi menunjukan bahwa mereka bisa masuk 3 besar. Bukan tanpa masalah, kali ini disisi pendanaan tidak selancar tahun kemarin, pihak Desa tidak menyumbang lagi. Andri berpikir keras akan hal tersebut, dia berfikir bagaimana caranya anak-anak bisa berangkat dan tidak kecewa jikalau tidak dapat berangkat karena masalah keuangan pasti semangat mereka sontak akan hilang begitu saja. Sampai andri dan Narso membuka Donasi untuk anak-anak bisa berangkat. Mereka menyebar pengumuman di media sosial. Alhamdulilah banyak yang peduli akan bakat anak-anak Lawu Percussion dengan menyumbangkan sedikit rejeki agar mereka daat berangkat ke jakarta.

“prakkkkkkk” terdengar suara pecah, ternyata suara tersebut bersumber dari 5 celengan yang dipecahkan secara bersama oleh ke 5 anak anggota Lawu Percussion tersebut untuk biaya mereka berangkat ke jakarta mengikuti IDP Fest 2019.

Hari yang dinanti tiba, mereka berangkat menuju Jakarta di antar oleh oarng tua masing masing. Tangis haru dan harapan besar dari orang tua mengiringi keberangkatan mereka. Ke esokan harinya mereka sudah sampai Jakarta, langkah yang yakin mengiri mereka menuju ke lokasi acara diselenggarakan. Tidak ada rasa gugup di muka mereka mereka bersemangat menanti hari tiba.

Pengumuman Juara IDP Festival 2019

Suara teriakan dan suara keras musik mulai terdengar, mereka menampilkan sebuah pertunjukan yang membuat juri dan penonton sangat terhibur, “dibalik usia mereka yang masih kecil dibandingkan kontestan lain mereka sangat berbakat” ucap salah satu juri. Mulai pembawa acara terlihat berada di tengah panggung, waktunya pengumuman juara. Kali ini terlihat muka anak-anak tersebut mulai tegang. Dan hasilnya mereka, Lawu Percussion yang merupakan sekumpulan anak-anak yang berasal dari kampung mendapatkan Juara ke-tiga dalam pagelaran IDP Fest 2019 ini, suatu yang sangat diharapkan oleh anak-anak itu untuk bisa masuk ketiga besar dan hal tersebut dapat mereka buktikan. Teriakan senang terlontar dari mulut mereka.

Akhirnya mereka kembali ke kampung dengan dada yang tegap, selain dapat mencapai target yang mereka targetkan, mereka juga membanggakan orang tua serta daerahnya di tingkat nasional. Berita tersebut sampai ketelinga Waki Bupati karanganyar saat itu, sontak bapak Wakil Bupati mengundang mereka ke kediamanya untuk sekedar memberikan apreisiasi kepada Anak-anak tersebut karena sudah membawa nama baik Kabupaten Karanganyar di Tingkat Nasional.

Undangan Wakil Bupati Karanganyar

Itulah kisah sekumpulan anak-anak dari kampung yang perjuangannya sangat menginspirasi, tentunya juga berkat bimbingan dan arahan dari Andri dan Narso, sosok dibalik kesuksesan mereka. Saat ini suara gaduh di tengah kampung tidak terdengar lagi, namun berganti dengan suara merdu dari alat musik yang mereka mainkan, mereka sekarang mempunyai target untuk bisa mewakili negara Indonesia di pentas Dunia.

 

Read More
07_Karanganyar Menulis 2019 Terpilih_

Artikel Terpilih Karanganyar Menulis 2019 Periode 5

 

Berikut ini daftar artikel terpilih untuk rubrik Karanganyar Menulis 2019:

  1. Generasi Muda Yang Berbudaya Dengan Aksara oleh Nareswari Kintoko
  2. Lawu Percussion : Bermula Dari Lomba 17an Agustus Hingga Event Nasional oleh Andrianto Dwi Saputro
  3. Menghidupkan Lagi Permainan Tradisional Di Kawasan Perbatasan oleh Intan Khotimah
  4. Destinasi Wisata Kuliner Klasik Pasar Jadoel Tradisional Di Matesih, Karanganyar oleh Wisang Nugraha Ardyansa
  5. Kelinci Sang Menteri oleh Luthfia Devi Romadhoni

 

Jurnal Warga dapat Anda akses disini : http://www.karanganyarkab.go.id/category/berita/jurnal-warga/

 

Ayo ikut berpartisipasi dalam penulisan jurnal warga untuk membantu menyebarkan informasi dan berita kepada masyarakat. Seluruh warga Kabupaten Karanganyar dapat mengirimkan berita-berita dan informasi di lingkungan Anda kepada kami. Tulisan yang menarik akan mendapatkan reward menarik dan akan dipublikasikan di website karanganyar serta share ke sosial media karanganyar. Kami tunggu tulisanmu!

Read More