Opini
Oleh: Eko Setyawan
Bulan Oktober, dua tahun silam, acara yang bertajuk
“Karanganyar Berpuisi” diselenggarakan dan berhasil memecahkan rekor MURI
sebagai pencipta sekaligus pembaca puisi terbanyak. Penyelenggaraan
dilaksanakan di Alun-Alun Kabupaten Karanganyar dan melibatkan banyak elemen
mulai dari Bupati, Wakil Bupati, jajaran Muspida, pelajar, TNI-Polri, dan
elemen-elemen lainnya di Kabupaten Karanganyar. Pemecahan rekor MURI itu
dilaksanakan untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Karanganyar yang ke-100.
Hal yang membanggakan sekaligus mengecewakan.
Ada hal yang cukup menggelisahkan ketika acara
tersebut dilaksanakan. Hal ini berkaitan dengan kebermanfaatan dari acara yang
dilaksanakan. Saat itu, lebih dari 25.000 peserta membuat sekaligus membacakan
puisinya. Mungkin saja ada kebanggaan pada saat penyelenggaraan karena terlibat
dalam pemecahan rekor MURI.
Namun ada hal yang perlu diingat bahwa penyelenggaraan
semacam ini sebenarnya kurang efektif untuk mengembangkan literasi. Perayaan
semacam ini hanya akan mentok pada perayaan dan pemecahan rekor MURI semata,
namun tidak berdampak pada minat baca dan tulis khususnya puisi di kalangan
masyarakat luas terlebih bagi pelajar. Berkenaan dengan literasi, perayaan
semacam ini hanya akan terjadi pada satu dua hari saja dan tidak berkelanjutan.
Tentu saja hal ini mengecewakan karena pada dasarnya,
literasi adalah proses keberlanjutan dan sambung-menyambung. Literasi bukan
hanya semata memecahkan rekor atau mendapat penghargaan sementara tidak
berdampak pada keinginan baca tulis siswa. Perayaan semacam ini tentu kurang
efektif.
Tiga sampai empat bulan mendatang, genap dua tahun
perayaan itu dilakukan. Dari 25.000 peserta yang terlibat, adakah dampak yang
terasa pada peserta khususnya pelajar. Dari 25.000 peserta tersebut, adakah
yang sampai saat ini masih menulis dan membaca puisi. Saya berani bertaruh dari
banyaknya peserta itu mungkin tak lebih dari 100 orang yang masih menulis
puisi.
Pelatihan Penulisan Puisi
Minimnya keberlanjutan karena perayaan literasi
semacam itu hanyalah membuang tenaga dan tidak berpengaruh secara langsung dan
berkelanjutan pada kreatifitas pelajar. Akan lebih baik jika pemerintah
melaksanakan pelatihan penulisan sastra khususnya puisi dan ini akan merangsang
siswa untuk terus menulis puisi.
Pelatihan ini perlu untuk menjadikan puisi lebih dekat
dan lebih dipahami bagaimana cara menulis puisi yang ‘bagus’ bukan hanya
semata-mata menulis dan mendapat rekor MURI. Harusnya pemerintah Kabupaten
Karanganyar memperhatikan dan menaruh fokus pada literasi yang ada di
Karanganyar.
Pemerintah Kabupaten Karanganyar harusnya menyadari
potensi siswa dari pelatihan penulisan puisi serta karya sastra lainnya. Secara
tidak langsung, Karanganyar akan mendapat tempat di dunia literasi sebagai
pencetak penulis yang berbakat. Khususnya penulis muda, akan lahir dari proses
yang berkelanjutan bukan hanya perayaan sesaat. Potensi anak-anak muda akan
terasah melalui program penulisan puisi ini dan akan berimbas pada sektor
pariwisata pula. Eksplorasi pariwisata juga dapat terekspos melalui puisi.
Kabupaten Karanganyar tak pernah kehabisan penulis
berbakat seperti halnya Andri Saptono yang telah merilis novel dengan judul Candik
Ayu Segaramadu yang tak lain berlatar di PG. Tasikmadu dan menyabet
penghargaan dari Dewan Kesenian Jawa Tengah 2011, juga novel Lost in Lawu
yang mengeksplor wisata Kabupaten Karanganyar. Ada pula Yuditeha yang telah
menerbitkan beberapa novel, kumpulan cerpen, dan buku kumpulan puisi. Bahkan
telah memenangkan banyak lomba penulisan sastra dan turut mengharumkan nama
Kabupaten Karanganyar.
Sadar atau tidak, harusnya orang-orang semacam ini dilibatkan
dalam gerakan literasi jangka panjang untuk menyebarkan virus gemar membaca dan
menulis sehingga tidak hanya perayaan semata namun juga berkelanjutan. Dengan
hal itulah maka literasi di Kabupaten Karanganyar akan terus hidup. Hal ini
juga tidak memerlukan banyak biaya tinggal sampai mana niat yang ada.
Komunitas literasi di Karanganyar juga bisa dibilang
masih terbatas sehingga perlu adanya campur tangan pemerintah agar dapat
berkembang ke arah yang positif. Tidak ada salahnya melaksanakan perayaan namun
harus dilihat dari sisi kebermanfaatan jangka panjang. Dengan demikian,
perayaan bukan hanya perayaan semata namun juga mengembangakan dan mengakar
hingga tumbuh.
Jangan sampai perayaan semacam itu hanya terbatas pada
perayaan dan kegembiraan sesaat seperti halnya penggalan puisi Chairil Anwar
yang berbunyi: “Sekali berarti, sudah itu mati!”
Karena pada dasarnya, perayaan puisi itu dilakukan
saban hari. Selamat berpuisi!