WhatsApp Image 2019-10-14 at 12.41.53

Mahasiswa Biologi FKIP UNS adakan Lawu Birdwatching

Camat Ngargoyoso, Edi Sukiswandi memberikan sambutan dalam lawu birdwatching di Ngargoyoso

KARANGANYAR – 10 Oktober 2019

Ratusan Mahasiswa Biologi FKIP UNS mengadakan Lawu Birdwatching Competition 2019 di Tahura Ngargoyoso. Mahasiwa itu ingin mendata burung dan melakukan serangkaian kegiatan untuk menyelamatkan lingkungan.

            “Terima kasih, adik adik semua datang ke Ngargoyoso untuk mengadakan Lawu Birdwatching di Ngargoyoso. Silahkan belajar dan mempelajari keanegaragaman burung di Tahura ini,” papar Camat Ngargoyoso, Edi Sukiswandi yang mewakili Bupati Karanganyar, Juliyatmono saat memberikan sambutan dalam acara tersebut (11/10).

            Dia menambahkan Ngargoyoso ini menjadi tujuan wisata utama di Karanganyar. Sebab disini banyak tumbuh-tumbuhan dan aneka ragam kekayaan binatang terutama burung. Diharapkan dengan Lawu Birdwatching, kelestarian hutan akan tetap terjaga. (hr/adt)

Read More
WhatsApp Image 2019-10-14 at 12.41.53

Lawu Birdwatching Competition 2019 di Tahura Ngargoyoso

Read More
bce00561-cb8e-4a06-84ba-df00395488cc

Bupati Juliyatmono Resmikan Gedung Sanggar Seni Kembang Lawu

Karanganyar – 03 Oktober 2019

Siswa didik sanggar seni Kembang Lawu pantas bahagia lantaran gedung baru sudah berdiri dengan megah dan mampu menampung lebih banyak peserta didik, ini tak luput dari bantuan Pemerintah dalam menyelaraskan seni dan budaya di Karanganyar agar lebih berkembang dengan baik.

Peresmian gedung sanggar seni Kembang Lawu secara ceremonial langsung diresmikan oleh orang nomor satu di bumi Intanpari Bupati Juliyatmono, Kamis(03/10/19).

Dengan harapan agar semua siswa didik mampu belajar dengan maksimal, mampu mengembangkan potensinya dengan baik. Bupati Karanganyar H. Juliyatmono mengarahkan untuk terus mengembangkan potensi apa yang di miliki di sanggar seni Kembang Lawu ini.

“ Dalam waktu dekat akan ada event Internasional yang di hadiri banyak negara lain, Bupati ingin ada tampilan dari siswa-siswa didik sanggar sni Kembang Lawu ini sebagai suguhan di pembukaan “, tegasnya.(Ard/Tgr)

Read More
WhatsApp-Image-2019-10-06-at-09.53.48-1

Festival Kopi Lawu 2

Read More
WhatsApp Image 2019-10-06 at 09.53.48

Festival Kopi Lawu 2, Masyarakat Lawu ‘Tumplek Blek’

Bupati Karanganyar, Juliyatmono memberikan sambutan dalam Festival Kopi Lawu 2

KARANGANYAR – 4 Oktober 2019

Sukses menggelar Festival Kopi Lawu pertengahan Oktober tahun lalu, Festival Kopi Lawu kembali digelar untuk kali kedua di sekitar Taman Air Mancur Alun-Alun Karanganyar, jumat (4/10). Dalam acara tersebut para penikmat kopi dimanjakan dengan adanya stan yang menyediakan beragam jenis kopi lokal maupun nusantara. Seperti kopi lawu, ciwidey dan gayo.

                Informasi yang dihimpun, menyebutkan para pengunjung didominasi para kawula muda. Dalam festival kopi lawu 2 sebanyak 1002 cup kopi dan 1002 getuk dibagikan gratis kepada para pengunjung.

Pengunjung asal Cangakan, Agus  mengaku sudah dua kali datang ke Festival Kopi Lawu. “Tahun ini lebih banyak kedai kopi. Juga ada panggung kesenian lokal,” katanya.

Ia mengaku mengunjungi beberapa kedai kopi seperti KPK dan Medjora. Agus juga mencicipi coffee beer dan espresso yang ada di kedai tersebut.”Acara festival ini wadah bagi penikmat kopi. Semoga tahun depan lebih meriah lagi,” ungkapnya.

Sementara Ketua Ekonomi Kreatif  (Ekraf), Martoyo mengatakan, festival ini mengambil tema “Nikmati alamnya, nikmati kopinya”. Ia berharap melalui kegiatan ini para pemilik kedai kopi dan para petani kopi dapat bersinergi. Adapun acara ini mendapat dukungan penuh dari Himpunan Pengusaha Online (HIPO). “Acara ini tujuannya mengangkat potensi kopi yang ada di sepanjang lereng Gunung Lawu.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono menyambut baik acara tersebut. Pihaknya meminta festival kopi lawu ini dapat mengangkat lagi kopi lawu khas Karanganyar. Sebab dahulu pernah berjaya zaman perang kemerdekaan, kopi lawu sudah terkenal. (hr/adt)

Read More
DSC_5965

Penutupan Malam Puncak Rangkaian Grebeg Lawu Tahun 2019

Read More
DSC_5666

Kemensos Gandeng Sekar Karanganyar Cegah Konflik Sosial Melalui Rangkaian Grebeg Lawu 2019

Karanganyar – 26 September 2019

Pencegahan konflik sosial berbasis masyarakat dilakukan melalui pendekatan kearifan lokal dan program keserasian sosial.

Kementerian Sosial (Kemensos) RI mengalokasikan dana untuk program pencegahan konflik berbasis masyarakat. Caranya melalui pendekatan kearifan lokal dan program keserasian sosial. Kemensos menyiapkan dana untuk membentuk forum keserasian sosial di seluruh Indonesia. Target Kemensos 250 forum keserasian sosial di seluruh Indonesia. Provinsi Jawa Tengah sudah memiliki 15 forum keserasian sosial di sejumlah desa/kelurahan di sepuluh kabupaten/kota.

Setiap forum mendapat dana stimulan Rp150 juta untuk pembangunan fisik Rp100 juta dan sisanya penguatan kualitas sumber daya manusia melalui dialog tematik sebanyak dua kegiatan. Selain program keserasian sosial, Kemensos masih memiliki strategi pencegahan konflik sosial melalui pendekatan kearifan lokal. Sasaran program adalah paguyuban atau kelompok seni. Kemensos mengalokasikan Rp50 juta per paguyuban. Kemensos sudah menyalurkan masing-masing Rp50 juta untuk 20 paguyuban di 14 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah pada 2019.

Salah satunya untuk Sekar Karanganyar pada kegiatan gelar budaya Grebeg Lawu di Terminal Tawangmangu pada Selasa-Sabtu (24-28/9). Kepala Sub Direktur (Kasubdit) Pencegahan Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Kemensos RI, Helmi Datuk R. Mulya, mengecek realisasi bantuan. Helmi mengapresiasi konsep acara yang dibuat Sekar Karanganyar.

“Seni budaya menjadi perekat. Ini upaya bersama masyarakat membangkitkan kearifan lokal untuk membangun komitmen membentuk toleransi di masyarakat. Ini strategi pemerintah menyikapi persoalan yang dapat memicu konflik sosial di era globalisasi,” tutur Helmi saat berbincang dengan wartawan di sela-sela acara.

Persoalan yang dimaksud bukan hanya hal besar, tetapi termasuk hal kecil di lingkungan sekitar. Dia mencontohkan kenakalan remaja, penyimpangan penggunaan narkoba, pembagian air, dan lain-lain. Dia berharap gelar budaya yang diselenggarakan Sekar Karanganyar dapat meningkatkan situasi guyup dan rukun di Kecamatan Tawangmangu dan sekitarnya.

Pentas Kethoprak dengan tajuk Bener Ora Tentu Mesti Pener

“Kesenian itu bisa diterima siapa saja. Kemensos berkepentingan. Bencana sosial terjadi karena konflik sosial. Ini upaya membangun komitmen kearifan lokal. Sarana supaya masyarakat tidak tersekat-sekat. Pesan melalui kesenian akan lebih mudah diserap,” ujar dia.

Sementara itu, Ketua Umum Sekar Karanganyar, Joko Dwi Suranto, menceritakan Sekar menyuguhkan ketoprak yang mengangkat kehidupan sosial pada momen gelar budaya kearifan lokal. Dia berharap pertunjukan dapat mengena di hati masyarakat dan pesan tersampaikan.(Ard/Tgr)

Read More
IMG-20190924-WA0030

Grebeg Lawu di Terminal Tawangmangu

Read More
IMG-20190924-WA0026

Grebeg Lawu Sambut HUT Kab. Karanganyar Ke-102

Penyerahan vandel kepada ketua komunitas reog tawangmangu oleh panitia seniman karanganyar di acara Grebeg Lawu, Tawangmangu, Selasa(24/9).

Karanganyar – Jelang peringatan HUT Kab Karanganyar yang Ke-102, Pemkab Karanganyar bersama Seniman Karanganyar gelar agenda rutin Grebeg Lawu di Terminal Tawangmangu, Selasa (24/9).

Dalam laporannya, Joko Suranto selaku ketua panitia Seniman Karanganyar menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah yang telah mendanai acara grebeg lawu.

Tarian Soreng dari magelang yang sudah pernah tampil di Istana Negara dipilih menjadi tarian pembuka acara grebeg lawu.
“Acara ini akan dilaksanakan mulai dari tanggal 24 September sampai dengan tanggal 28 September nanti, 5 hari 5 malam tanpa putus,” katanya.

Beliau juga menyampaikan bahwa Peserta terbagi dalam 5 provinsi dan 12 Kab Kota.
Provinsi tersebut adalah Bali , Papua , Jawa timur , Jawa tengah dan Jogjakarta.
“12 Kabupaten akan di tampilkan pada malam hari dan 17 korwil akan ditampilkan di siang hari selama 5 hari tanpa putus,” imbuhnya.
Beliau juga berharap semoga di tahun berikutnya dapat mengundang antar pulau untuk memeriahkan acara grebeg lawu ini.

Dalam sambutannya, Tarsa selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mewakili Bupati Karanganyar menyampaikan Grebeg lawu merupakan kegiatan rutin dalam rangka menyongsong HUT Ke-102 Kabupaten Karanganyar.

“Kami ucapkan kepada sekar, baik Kabupaten / Kecamatan selamat berkreativitas dan Alhamdulillah grebeg lawu tahun ini lebih meriah dari tahun kemaren. Tahun kemarin mengutamakan seniman lokal Kab. Karanganyar dan tahun ini sudah menjadi 5 Provinsi yang ikut memeriahkan,” katanya.

Beliau juga menyampaikan bahwa melalui seni, budaya pertahankan persatuan dan kesatua direkatkan ekonomi kreatif berkembang.

“Budaya sebagai perekat persatuan dan kesatuan. Dengan budaya persatuan dan kesatuan menjadi semakin terjalin dan kekompakan kerukunan menjadi semakin kokoh, sehingga antar seniman dan warga dapat menjalin rasa cinta dan persaudaraan yang kuat dalam rangka memupuk rasa nasionalisme dan solidaritas. Dan budaya harus dipertahankan,” imbuhnya.

Demikian DISKOMINFO (in/an/mei)

Read More

Merayakan Literasi, Sudah itu Mati!

Opini

Oleh: Eko Setyawan

Bulan Oktober, dua tahun silam, acara yang bertajuk “Karanganyar Berpuisi” diselenggarakan dan berhasil memecahkan rekor MURI sebagai pencipta sekaligus pembaca puisi terbanyak. Penyelenggaraan dilaksanakan di Alun-Alun Kabupaten Karanganyar dan melibatkan banyak elemen mulai dari Bupati, Wakil Bupati, jajaran Muspida, pelajar, TNI-Polri, dan elemen-elemen lainnya di Kabupaten Karanganyar. Pemecahan rekor MURI itu dilaksanakan untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Karanganyar yang ke-100. Hal yang membanggakan sekaligus mengecewakan.

Ada hal yang cukup menggelisahkan ketika acara tersebut dilaksanakan. Hal ini berkaitan dengan kebermanfaatan dari acara yang dilaksanakan. Saat itu, lebih dari 25.000 peserta membuat sekaligus membacakan puisinya. Mungkin saja ada kebanggaan pada saat penyelenggaraan karena terlibat dalam pemecahan rekor MURI.

Namun ada hal yang perlu diingat bahwa penyelenggaraan semacam ini sebenarnya kurang efektif untuk mengembangkan literasi. Perayaan semacam ini hanya akan mentok pada perayaan dan pemecahan rekor MURI semata, namun tidak berdampak pada minat baca dan tulis khususnya puisi di kalangan masyarakat luas terlebih bagi pelajar. Berkenaan dengan literasi, perayaan semacam ini hanya akan terjadi pada satu dua hari saja dan tidak berkelanjutan.

Tentu saja hal ini mengecewakan karena pada dasarnya, literasi adalah proses keberlanjutan dan sambung-menyambung. Literasi bukan hanya semata memecahkan rekor atau mendapat penghargaan sementara tidak berdampak pada keinginan baca tulis siswa. Perayaan semacam ini tentu kurang efektif.

Tiga sampai empat bulan mendatang, genap dua tahun perayaan itu dilakukan. Dari 25.000 peserta yang terlibat, adakah dampak yang terasa pada peserta khususnya pelajar. Dari 25.000 peserta tersebut, adakah yang sampai saat ini masih menulis dan membaca puisi. Saya berani bertaruh dari banyaknya peserta itu mungkin tak lebih dari 100 orang yang masih menulis puisi.

Pelatihan Penulisan Puisi

Minimnya keberlanjutan karena perayaan literasi semacam itu hanyalah membuang tenaga dan tidak berpengaruh secara langsung dan berkelanjutan pada kreatifitas pelajar. Akan lebih baik jika pemerintah melaksanakan pelatihan penulisan sastra khususnya puisi dan ini akan merangsang siswa untuk terus menulis puisi.

Pelatihan ini perlu untuk menjadikan puisi lebih dekat dan lebih dipahami bagaimana cara menulis puisi yang ‘bagus’ bukan hanya semata-mata menulis dan mendapat rekor MURI. Harusnya pemerintah Kabupaten Karanganyar memperhatikan dan menaruh fokus pada literasi yang ada di Karanganyar.

Pemerintah Kabupaten Karanganyar harusnya menyadari potensi siswa dari pelatihan penulisan puisi serta karya sastra lainnya. Secara tidak langsung, Karanganyar akan mendapat tempat di dunia literasi sebagai pencetak penulis yang berbakat. Khususnya penulis muda, akan lahir dari proses yang berkelanjutan bukan hanya perayaan sesaat. Potensi anak-anak muda akan terasah melalui program penulisan puisi ini dan akan berimbas pada sektor pariwisata pula. Eksplorasi pariwisata juga dapat terekspos melalui puisi.

Kabupaten Karanganyar tak pernah kehabisan penulis berbakat seperti halnya Andri Saptono yang telah merilis novel dengan judul Candik Ayu Segaramadu yang tak lain berlatar di PG. Tasikmadu dan menyabet penghargaan dari Dewan Kesenian Jawa Tengah 2011, juga novel Lost in Lawu yang mengeksplor wisata Kabupaten Karanganyar. Ada pula Yuditeha yang telah menerbitkan beberapa novel, kumpulan cerpen, dan buku kumpulan puisi. Bahkan telah memenangkan banyak lomba penulisan sastra dan turut mengharumkan nama Kabupaten Karanganyar.

Sadar atau tidak, harusnya orang-orang semacam ini dilibatkan dalam gerakan literasi jangka panjang untuk menyebarkan virus gemar membaca dan menulis sehingga tidak hanya perayaan semata namun juga berkelanjutan. Dengan hal itulah maka literasi di Kabupaten Karanganyar akan terus hidup. Hal ini juga tidak memerlukan banyak biaya tinggal sampai mana niat yang ada.

Komunitas literasi di Karanganyar juga bisa dibilang masih terbatas sehingga perlu adanya campur tangan pemerintah agar dapat berkembang ke arah yang positif. Tidak ada salahnya melaksanakan perayaan namun harus dilihat dari sisi kebermanfaatan jangka panjang. Dengan demikian, perayaan bukan hanya perayaan semata namun juga mengembangakan dan mengakar hingga tumbuh.

Jangan sampai perayaan semacam itu hanya terbatas pada perayaan dan kegembiraan sesaat seperti halnya penggalan puisi Chairil Anwar yang berbunyi: “Sekali berarti, sudah itu mati!”

Karena pada dasarnya, perayaan puisi itu dilakukan saban hari. Selamat berpuisi!

Read More