Cegah Kebakaran, Pendakian Lawu Ditutup Sementara

Aktivitas pendakian Gunung Lawu sementara ini ditutup untuk umum. Hal itu menyusul maraknya peristiwa kebakaran hutan selama musim kemarau ini.
Camat Tawangmangu, Yopy Eko Jati Wibowo, mengatakan aktivitas pendakian Lawu ditutup sudah berlangsung selama seminggu terakhir. Penutupan itu merupakan instruksi langsung dari pihak Perhutani Jawa Tengah.
“Pada musim kemarau ini cuaca sangat terik dan angin yang berembus juga lumayan kencang. Sehingga sedikit saja ada nyala api, mudah menjadi besar. Pertimbangan inilah yang dijadikan alasan,” jelas Yopy, Minggu (2/9).
Walaupun pelarangan pendakian sementara tersebut sudah diberlakukan, Yopy  mengaku masih ada saja pendaki yang membandel tetap naik ke puncak Lawu. Para pendaki itu biasanya melewati jalur tak resmi. “Kalau pendaki yang nekat melalui jalur resmi pendakian seperti Cemoro Kandang, tentunya akan kami minta untuk kembali dan menghentikan pendakian,” ujarnya.
Selama musim kemarau berlangsung, kawasan puncak Gunung Lawu, sering sekali terjadi insiden kebakaran. Puncak dari insiden kebakaran hutan terjadi pada bulan Ramadan kemarin, yang terjadi di areal hutan lindung petak 53, yang berjarak sekitar 300 meter dari pos 1 Cemoro Kandang.
Di area yang berbatasan dengan wilayah Magetan, Jawa Timur tersebut, sekitar 5 hektare di atas Kawah Candradimuka terbakar hingga di area Kali Mati. Yopy sendiri mengaku belum bisa memastikan sampai kapan pendakian Lawu akan ditutup. “Setidaknya hingga musim kemarau berakhir dan kondisi sudah memungkinkan untuk dilakukan pendakian,” ungkapnya. n Muhammad Ikhsan

Read More

Pengunjung Pasar Jumat Membeludak

Pengunjung Pasar Jumat yang digelar di jalur lambat Jl Raya Lawu, Karanganyar membeludak pasca Lebaran, Jumat (24/8/2012).

Para pengunjung memanfaatkan momentum libur Lebaran dengan berbelanja bersama keluarganya. Ribuan pengunjung memadati area Pasar Jumat. Mereka tidak hanya berasal dari wilayah Karanganyar namun para pemudik yang hendak balik menuju daerah perantauan.

Kondisi ini tampak dari beberapa mobil berpelat Jakarta dan Bandung yang diparkir di sekitar area pasar. Seorang pengunjung asal Karangpandan, Sri Kustati, mengatakan dia pergi ke Pasar Jumat bersama keluarga dan saudaranya.

“Saudara saya bekerja di Bandung, dia ingin berbelanja ke Pasar Jumat,” ujarnya saat ditemui.

Menurutnya, beraneka ragam kebutuhan pokok seperti pakaian, perabotan rumah tangga hingga oleh-oleh khas Karanganyar dijual di Pasar Jumat. Selain itu, harga yang ditawarkan cenderung lebih murah dibanding di pasaran. Misalnya, harga pakaian batik dibanderol senilai Rp30.000-Rp50.000/potong. Sementara harga pakaian batik di pasaran di atas Rp50.000/potong.

Di sisi lain seorang pedagang pakaian batik di Pasar Jumat, Suratmi, mengakui terjadi peningkatan jumlah pengunjung pascaLebaran.  Omzet penjualan pun melonjak. Biasanya dia dapat menjual pakaian batik sebanyak 10-20 potong, sementara pascaLebaran sekitar 40-50 potong. “Hampir sebagian pembeli adalah para kaum boro, mereka membeli pakaian batik untuk oleh-oleh. Keuntungan kami bisa melonjak sekitar 100 persen,” tambahnya.

Read More
lawu terbakar

Cegah Insiden Berulang, Tim Pemantau Disiagakan

lawu

Sebanyak 10 anggota organisasi pecinta lingkungan Anak Gunung Lawu (AGL) disiagakan di lokasi pascakebakaran hutan lindung Gunung Lawu tepatnya di sekitar pos 2 jalur pendakian Cemara Kandang. Mereka bertugas menyisir dan memantau apabila masih ada sisa-sisa kebakaran dapat menimbulkan titik api baru.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru K, mengungkapkan kebakaran hutan di sekitar Jurang Pangarip-Arip dinyatakan padam pada Senin (13/8/2012) sekitar pukul 23.00 WIB. Sebelumnya, tim gabungan yang terdiri dari anggota BPBD Karanganyar, SAR Karanganyar, AGL, Perum Perhutani Solo melakukan penyisiran di lokasi kebakaran. “Sekarang masih ada 10 anggota AGL yang ditugaskan memantau perkembangan pasca kebakaran hutan lindung,”.

Penyisiran dilakukan untuk menemukan sisa api kebakaran yang dapat menimbulkan kobaran api baru. Setelah dinyatakan padam maka seluruh anggota tim gabungan turun gunung. Sebenarnya, pihaknya mengkhawatirkan apabila kebakaran hutan itu merembet hingga pos 1. Sebab terdapat pohon pinus yang mudah terbakar.

Pihaknya belum dapat memastikan penyebab kebakaran hutan tersebut. Menurutnya, ada beberapa penyebab kebakaran tersebut yakni puntung rokok, sisa perapian yang dibuat pendaki gunung dan arang yang dibuat warga sekitar. Saat ini, jalur pendakian Cemara Kandang dibuka kembali untuk umum. “Kami masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut, apakah karena puntung rokok, sisa perapian atau lainnya,” katanya.

Sementara anggota Perum Perhutani Solo, Farhan, menjelaskan beberapa anggota Perum Perhutani Jawa Timur turut memadamkan kebakaran di lereng Gunung Lawu tersebut. Pihaknya tetap akan berkoordinasi dengan instansi terkait agar kejadian tersebut tak terulang lagi.

Menurutnya, kondisi medan di sekitar lokasi kebakaran cukup terjal sehingga menyulitkan tim gabungan saat memadamkan kebakaran. “Sekarang sudah padam, para anggota tim gabungan juga sudah turun dari gunung,” tambahnya.

Read More

Hutan Lindung Gunung Lawu Terbakar

Kawasan hutan lindung Gunung Lawu terbakar, Senin (13/8/2012) dinihari. Informasi yang dihimpun  kebakaran terjadi di Hutan Lindung Dusun Dlingo, Desa Gondosuli, Tawangmangu, pada ketinggian 2780 meter diatas permukaan laut .

Dari pantauan  berita ini ditulis, kebakaran sudah merambat seluas lima hektare di beberapa titik.  Kepala BPBD Karanganyar, Aji Pratama Heru Kristianto saat ditemui Solopos.com mengatakan hutan lindung yang terbakar  berlokasi diantara Pos II dengan pos bayangan. “Warga sekitar menyebut Jurang Pangarip-arip,” ujarnya.

Dia menambahkan, waktu tempuh lokasi kebakaran dari Cemara Kandang  masih sekitar tiga jam pendakian. “Jarak satu kilometer saja asap sudah sangat tebal sehingga harus memakai masker,” ujarnya.

Saat ini, pemadaman dilakukan secara manual karena mobil pemadam tidak bisa naik ke atas. “Kami gebyoki api   dengan dedaunan dan membuat penyekatan agar api tidak meluas,” ujarnya.

Relawan gabungan, kata dia, saat ini berjumlah 100 orang dari berbagai lembaga. “Seperti BPBD Karanganyar, tim search anda rescue (SAR), Anak Gunung Lawu (AGL),Perhutani dan warga setempat,”ujarnya.

Penyebab kebakaran, kata Heru, saat ini belum bisa diketahui karena api belum padam dan tidak ada saksi-saksi yang jelas. Dia mengkhawatirkan jika api merambat ke bawah karena banyak tanaman kering di bawah lokasi kebakaran. “Bisa saja jika kebawah merambat sampai Pos Cemara Kandang,” ujarnya.

Musim kemarau saat ini, kata  Heru, angin cukup besar dan api lebih cepat merambat ke beberapa titik. “Setiap tahun terjadi kebakaran di Gunung Lawu,” ujarnya. Dari data BPBD, kebakaran hutan lindung kali ini lebih besar dari tahun sebelumnya.

Kerugian, kata Heru, belum bisa memastikan karena kebakaran sampai berita diturunkan masih berlangsung. Dia berharap warga maupun pendaki selalu waspada dan mentaati etika jika di gunung. “Apapun kelalaian kita bisa saja berdampak  kebakaran seperti ini,” ujarnya.

Seorang warga yang enggan disebut namanya, mengatakan kebakaran dimulai antara pukul 23.30 WIB pada Minggu,(12/8/2012). Namun, relawan datang sekitar pukul 01.00 WIB dinihari.

Read More

GUNUNG LAWU: Kebakaran Landa Lereng Timur Lawu, Karanganyar Waspada

Kebakaran yang melanda hutan di bagian timur Gunung Lawu masih terlihat di wilayah Nglerak Petak I, dan Jogorogo Ngawi, Jatim. Kobaran api sempat mengarah ke kawasan hutan yang berada di wilayah Karanganyar, Senin (23/7/2012) lalu.

Anggota Karanganyar Rescue, Maryono, mengatakan titik api masih tampak di sekitar kawasan Nglerak petak I di wilayah Ngawi, Jatim. Sementara titik api lainnya yang berada di sekitar Bulak Peperangan dan Telogo Dlingo sudah padam.

“Kami masih memantau pergerakan titik api, sementara masih terlihat di kawasan Nglerak Petak I wilayah Ngawi, Jatim, “ ujarnya saat dihubungi, Selasa (24/7/2012).

Menurutnya, kebakaran berawal  di kawasan Nglerak Petak I namun merembet ke arah selatan menuju Bulak Peperangan, Sabtu (21/7/2012) sekitar pukul 22.00 WIB. Kobaran api begitu cepat karena didukung angin gunung yang berhembus ke lereng gunung. Apalagi di kawasan itu banyak terdapat pohon berukuran besar yang mati sehingga mudah terbakar.

Tim gabungan dari SAR, Anak Gunung Lawu (AGL) dan Karanganyar Rescue berkoordinasi dengan Perum Perhutani Solo melakukan antisipasi di perbatasan wilayah Karanganyar dan Jatim. “Pihak Perhutani Solo dengan cepat mengantisipasi agar kebakaran tidak merambat hingga Karanganyar. Kami juga selalu berkoordinasi dengan Perhutani Ngawi,” katanya.

Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru K, menuturkan  kebakaran itu menghanguskan sedikitnya 15 hektare lahan hutan terutama di wilayah Nglerak Petak I dan Bulak Peperangan. Pihaknya telah menyiagakan sekitar 50 anggota AGL yang bertugas memantau perkembangan kebakaran di lereng Gunung Lawu.

“Pergerakan api begitu cepat karena ada angin gunung, semoga saja tidak meluas ke wilayah Karanganyar,” jelasnya.

Read More

PASAR JUMAT: Pemkab Tambah 93 Tenda

Pemkab Karanganyar menambah 93 tenda yang digunakan para pedagang di Pasar Jumat. Pasalnya, animo pedagang untuk berjualan cukup tinggi.

Pasar Jumat merupakan pasar wisata yang digelar setiap hari Jumat di sepanjang Jl Raya Lawu mulai gedung olahraga (GOR) Mini Nyi Ageng Serang hingga depan Alun-Alun Karanganyar. Pasar tersebut dipenuhi ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar berbagai barang dagangan. Pasar Jumat digelar mulai pukul 06.00 WIB-14.00 WIB.

Bupati Karanganyar, Rina Iriani SR, mengatakan Pemkab Karanganyar tetap berkomitmen memfasilitasi para pedagang yang berminat berjualan di Pasar Jumat. Pasalnya, dengan adanya pasar itu dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

Pedagang yang berminat berjualan di Pasar Jumat harus mendaftar dahulu ke instansi terkait. Saat ini, jumlah tenda di Pasar Jumat sebanyak 243 buah ditambah 93 buah sehingga total tenda menjadi 336 buah.  “Pasar Jumat menjadi wisata belanja dari seluruh kalangan masyarakat. Mudah-mudahan dapat meningkatkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya saat ditemui wartawan, Jumat (13/7/2012).

Menurutnya, pihaknya tetap mengelola dan menata tenda para pedagang agar terlihat teratur dan rapi. Pedagang dilarang berjualan di luar tenda karena dapat menimbulkan kesemrawutan di sekitar pasar.

Sementara seorang pedagang, Suparno, mendukung penambahan fasilitas berupa tenda dari Pemkab Karanganyar. Tenda tersebut senilai Rp2 juta yang dibayar secara kredit setiap bulan selama dua tahun. “Angsurannya tidak sampai Rp100.000/bulan, kami berterima kasih kepada Pemkab Karanganyar yang telah memfasilitasi tenda,” ungkapnya.

Read More

PASAR JUMAT :: Berbagai Barang Murah dijual

Suasana Jumat pagi di Alun-alun Karanganyar akan selalu berbeda dengan hari-hari yang lain. Jumat (11/5) pagi kemarin Alun-alun Karanganyar kembali ramai dikunjungi oleh warga. Beraneka macam barang dagangan akan dengan mudah kita jumpai di sebelah utara alun-alun. Ya, setiap Jumat pagi sepanjang Jalan Lawu di Alun-alun Karanganyar ini disulap sebagai Pasar Jumat.

Sekitar pukul 07.00 pedagang mulai menyiapkan barang dagangannya, namun sebagian juga masih mendirikan tenda yang akan digunakan untuk menggelar dagangannya. Namun tidak semua pedagang berdagang di tenda, sebagian pedagang hanya menggunakan gerobak dan dan mobil pribadi sebagai lapak berjualan.

Masyarakat akan dapat menemui berbagai macam kebutuhan sehari-hari di pasar ini. Pedagang menjajakan beraneka ragam makanan, pakaian, pakaian dalam, topi, hewan, pernak-pernik, kosmetik, dll. Bahkan juga ada arena permainan dan hiburan untuk anak-anak.

Hal yang cukup menarik di pasar ini adalah harga barang-barang yang ditawarkan. Masyarakat bisa membeli barang-barang di Pasar Jumat ini dengan harga yang lebih murah. Untuk pakaian saja masyarakat bisa mendapatkan dengan harga Rp 10.000-Rp 30.000. Untuk pernak-pernik sendiri seperti gelang, cincin, bando, dan ikat rambut dijual mulai dari harga Rp 1.000 dan tas dijual mulai dari harga Rp 15.000. Salah satu pelajar, Yani juga mengaku memilih membeli barang-barang tersebut karena harganya yang murah.

Selain buat orang dewasa, di pasar ini kita juga dapat menjumpai beberapa permainan anak-anak seperti odong-odong dan kereta-keretaan. Tarif untuk permainan ini pun bisa dibilang sangat terjangkau, sekitar Rp 3.000-Rp 5.000 untuk sekali permainan. Pasar ini akan semakin ramai saat menjelang siang. Terlebih lagi saat para pelajar sudah pulang dari sekolah, pasar ini akan semakin ramai.

Read More

MACAN LAWU: Terusik, Macan Gunung Lawu Serang Ternak

Tiga ekor macan tutul Jawa menyerang ternak milik warga Dusun Gandri, Desa Wonokeling, Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, Minggu (15/4/2012) sekitar pukul 10.00 WIB. Hewan buas itu keluar dari hutan karena seekor anaknya diambil oleh warga.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, ketiga ekor macan tutul Jawa itu berjalan keluar dari dalam hutan karena marah lantaran seekor anaknya diambil oleh seorang warga. Mereka menerkam seekor domba yang berada di lokasi kejadian.

Kanitreskrim Polsek Jatiyoso, Aiptu Reman mengatakan kali pertama kemunculan tiga ekor macan tutul Jawa itu diketahui Tiyok, 40, dan Sani, 45, warga Dusun gandri, Desa Wonokeling, Kecamatan Jatiyoso. Kala itu, Tiyok sedang mencari rumput di pinggir sebuah lembah. Tiba-tiba, tiga ekor macan tutul Jawa muncul dari dalam hutan. “Macan itu tidak menyerang warga dan berlari ke arah gerombolan domba yang di pinggir lembah,” katanya.

Seekor macan langsung menerkam seekor domba hingga tewas seketika. Sementara Tiyok dan Sani langsung berlari ke permukiman penduduk. Setelah menerkam domba, ketiga macan itu kembali masuk ke dalam hutan. Menurutnya, diduga hewan buas itu marah dan keluar dari hutan karena seekor anaknya diambil oleh salah satu warga. Kemungkinan, induk macan marah karena anaknya diambil oleh warga dan keluar dari hutan. “Warga tidak ada yang diserang, hanya domba yang saat itu ada di lokasi dan diterkam,” jelasnya.

Munculnya tiga ekor macan di lembah itu baru pertama kali di Dusun Gandri. Dia mengakui hutan yang berada di perbatasan Jatiyoso dengan Ponorogo, Jawa Timur itu memang dihuni hewan buas termasuk macan tutul Jawa. Namun, selama ini, para hewan buas itu tak pernah keluar hutan dan mengusik warga.

Kemunculan hewan buas tersebut membuat warga Dusun Gandri ketakutan dan tidak berani keluar pada malam hari. Kepolisian akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menangkap macan tersebut.

Read More

MELASTI Proses Pembersihan Batin Manusia Dan Alam

Ratusan umat Hindu Karanganyar dengan membawa berbagai sesaji yang diletakkan di atas kepala maupun digendong berduyun-duyun mendatangi Telaga Madirda di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Minggu (18/3/2012).

Mereka kemudian meletakkan sesaji tersebut di atas meja panjang. Sesaji ini disembahkan untuk melaksanakan upacara Melasti, sebelum hari Nyepi yang jatuh pada Jumat (23/3/2012) mendatang. Setelah meletakkan sesaji di atas meja panjang, para umat itu lalu mengambil air dari sumber air telaga.

Denting-denting suara lonceng memecah keheningan di tengah udara dingin yang menusuk tulang di Telaga Madirda. Sembari terus menggerakkan lonceng, seorang pedande terus melafalkan doa-doa pada Sang Hyang Widhi. Sementara ratusan umat hindu tampak khusyuk mengikuti doa yang tengah dipanjatkan Pedande tersebut.

Kawasan telaga yang terletak di salah satu kawasan kaki Gunung Lawu ini menjadi salah satu pusat tempat  upacara melasti yang dilakukan umat hindu Karangayar. Makna Upacara melasti yakni proses pembersihan lahir batin manusia dan alam, dengan jalan menghayutkan segala kotoran menggunakan air kehidupan. Oleh karena itu prosesi sembahyang dilakukan di sumber-sumber air.

Upacara melasti di mulai dengan pengambilan air dari sumber mata air di sudut telaga. Beberapa umat pun turut mengambil air sembari melafalkan doa agar diberi kesucian saat melaksanakan catur brata penyepian. Beberapa sesaji seperti makanan dan buah-buahan juga turut dipersembahkan dalam ritual ini.

Seusai melakukan persembahyangan sebagian sesaji yang telah didoakan ini dilabuh di Telaga Madirda. Hal ni dilakukan sesuai dengan ajaran dalam kitab suci wedha. Bagi umat hindu, upacara Melasti ini bertujuan untuk menyucikan diri dengan tirta atau air. Melasti merupakan awal dari rangkaian perayaan Nyepi tahun baru saka 1934.

“Upacara ini memang menjadi satu rangkaian persiapan  perayaan  hari Nyepi. Upacara melasti bertujuan untuk menyucikan diri sebelum melaksanakan catur brata penyepian,” kata pemangku Agama Hindu Karanganyar Jero Mangku Made Murti.

Selain untuk menyucikan diri, dia menambahkan ritual melasti ini juga bertujuan untuk menyucikan alam. Penggunaan kidung Jawa sendiri berpatokan pada ajaran kitab wedha agar umat hindu menghormati adat istiadat setempat. “Karena ini di Jawa maka kita harus menghormati leluhur-leluhur yang ada,” ujarnya.

Rangkaian upacara Hari Nyepi akan dilanjutkan dengan tawur agung kesanga. Setelah itu pada 23 Maret mendatang terhitung mulai pukul06.00 hingga 24 jam berikutnya, umat hindu akan melaksanakan Nyepi.

“Di sini umat hindu akan mengamalkan catur brata, yaitu tidak melakukan pekerjaan, tidak menyalakan api, tidak bepergian dan tidak bersenang-senang,” katanya.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/karanganyar/melasti-proses-pembersihan-batin-manusia-dan-alam-171531

Read More

PDAM Ekspansi Waduk Gajah Mungkur

Guna memenuhi permintaan pelanggan air di Palur Gondangrejo dan Kebakkramat, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lawu berniat menggunakan air dari Waduk Gajah Mungkur Wonogiri sebagai bahan baku air bersih.

Rencana tersebut akan dimulai pada tahun 2014. Pasalnya kualitas air waduk saat ini dirasa masih bagus dan mempunyai kandungan koloid yang rendah. “Karena kadar koloidnya rendah, sehingga jika digunakan sebagai bahan baku air bersih siap minum masih sangat memungkinkan,” ujar Aris Wuryanto, Direktur PDAM Tirta Lawu, Rabu (14/3).

Langkah penggunaan air waduk Gajah Mungkur itu dilakukan karena pihaknya masih kesulitan menggunakan bahan baku air dari sekitar Gunung Lawu, padahal wilayah Ngargoyo mempunyai potensi sumber air yang lumayan cukup besar. “Potensi airnya memang besar, tapi warga menolak, jadi kita mencari alternatif lainnya. Padahal itu semua murni untuk melayani warga Karanganyar ,” tandas dia.

Menurutnya, saat ini ada sekitar 38.000 pelanggan yang menggunakan jasa PDAM Karanganyar. Mereka tersebar di wilayah Karangpandan, Karanganyar Kota dan bahkan wilayah Sukoharjo. Aris mengatakan sejauh ini pihaknya tidak berani menargetkan adanya penambahan pelanggan karena mereka masih kesulitan menjadi sumber mata air. “Paling setahunnya hanya menambah sekitar 150 pelanggan baru sejak 2006 silam,” kata Aris.

Read More