DSC_0143

PAKASA Rayakan Ambal Warsa yang ke 17 di Karanganyar

Kominfo

Prosesi Pemotongan Tumpeng Ambal Warsa Kaping 17 di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar.

Senin, Karanganyar 17 September 2018

Perayaan Ambal Warsa Kaping 17 Paguyuban Kawula Kraton Surakarta Hadiningrat (Pakasa) Kabupaten Karanganyar berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Sabtu (15/9) kemarin.

Acara yang diawali dengan menyayikan lagu Indonesia Raya tampak istimewa pasalnya dihadiri oleh Sekda Kabupaten Karanganyar , Abdi dalem, Sengkono dan Keluarga besar Kraton Surakarta dengan mengenakan busana adat jawa beskap jangkep.

Laporan perwakilan Keraton Surakarta, Kanjeng Pangeran Dr.Edi Wirobumi mengucapkan “ambal warsa yang ke 17 kita syukuri dengan berlanjut, Dengan satu keyakinan berpegang teguh bahwa kita seorang jawa adalah seorang yang luar biasa. Kita keluarga besar kraton mempunyai peninggalan yang luar biasa yang sekarang penting harus sudah dibuka untuk kepentingan luas”, tuturnya.

Sementara itu Drs. Samsi, M.Si Selaku Sekda Kabupaten Karanganyar, dalam sambutannya menyampaikan ucapan sugeng ambal warsa yang ke 17 semoga segala apa yang diperjuangkan dan diikrarkan dapat terlaksana dengan baik.

“Masyarakat bisa menikmati apa yang di rencanakan dan semoga Bumi Intanpari bisa maju dengan baik berkat perjuangan semuanya”,harapnya.

Demikian Diskominfo (adt/ind/laili)

Read More

Situs Watu Gilang

Di tapal masuk hutan Krendhowahono, Desa Krendhowahono Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar tempat pundhen untuk menggelar ritual Wilujengan Nagari Mahesa Lawung (menanam sesaji kepala kerbau) ± 400 meter disebelah barat pundhen terdapat sebuah batu yang dikhususkan keberadaannya. Sepintas batu itu tak jauh berbeda dengan batu-batu yang lain, namun batu ini keberadaanya memang terasa dikhususkan. Batu tersebut dinamakan Watu Gilang karena memang bentuk batu yang cenderung datar.
Meski batu tersebut telah diperlakukan khusus ternyata memang belum dikenal dikalangan masyarakat luas. Hal ini karena ritual tahunan (Wilujengan Nagari Mahesa Lawung) yang cukup dikenal luas oleh masyarakat yang menyamarkan keberadaan Watu Gilang. Lalu apa yang menarik dari keberadaan sebuah batu itu ?

Banyak yang tidak menyangka jika batu yang diperlakukan khusus itu ternyata menyimpan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Bahkan tidak mustahil apabila Watu Gilang tersebut bisa menguak tentang pertanyaan Bagaimana sikap Keraton Surakarta terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro.

Batu itu diyakini sebagai tempat duduk pada pertemuan Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IV dengan Pangeran Diponegoro yang ketika itu sekitar awal abad XVIII, telah memulai berjuang melawan Kompeni Belanda. Sedang Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono IV adalah penguasa Keraton Surakarta Hadiningrat (1788 – 1820).

Read More

Mahesa Lawung

Sesaji Mahesa Lawung Keraton Surakarta

Keraton Kasunanan Surakarta menggelar acara ritual budaya Mahesa Lawung, ritual adat Keraton untuk memohon keselamatan dan supaya terhindar dari segala macam mara bahaya. Sesaji Mahesa Lawung sendiri dilaksanakan di Alas Krendawahana sebagai bentuk persembahan kepada Bathari Kalayuwati. Yang diyakini sebagai pelindung gaib Keraton Surakarta di bagian utara.

Alas Krendawahana adalah sebuah hutan yang sampai sekarang masih terkenal dengan keangkerannya. Karena dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Bathari Kalayuwati [Durga].

Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta, GPH Puger, menyatakan ritual ini telah menjadi agenda pokok keraton.

“Pemilihan harinya selalu jatuh pada hari Senin atau Kamis dan Pelaksanaan ritual sudah menjadi ketetapan tentang peringatan upacara tradisi dari Keraton Surakarta. ,” jelasnya.

Menurutnya, pelaksanaan kali ini memang tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Perlengkapan sesaji yang digunakannya pun nyaris sama. Di antaranya kepala Mahesa Lawung [kerbau yang masih perjaka dan belum pernah dipekerjakan] beserta empat telapak kakinya, walang atogo [berbagai jenis belalang] sebagai simbol rakyat kecil. Juga sesaji lain yang terdiri atas barang mentah dan matang  yang kesemuanya menyimbolkan makna-makna tertentu, dimana sesaji ini dimaksudkan juga sebagai wilujengan nagari.

Prosesi Mahesa Lawung Keraton Surakarta

Prosesi ritual ditandai dengan keluarnya berbagai sesaji dari Dalem Gondorasan [dapur keraton] sekitar pukul 09.00. Setelah dibawa ke sitihinggil keraton, GPH Puger kemudian menyerahkan ubarampe sesaji kepada utusan keraton.

Usai acara ini rombongan dari keraton yang berjumlah tak kurang dari 500 abdidalem langsung menuju kawasan Alas Krendawahana yang terletak di Desa Krendawahana, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar atau sekitar 20 km dari Keraton Surakarta.

Sesampai di Alas Krendawahana, sesaji Mahesa Lawung beserta ubarampe-nya lantas diletakkan di tempat khusus. Yakni di sebuah punden yang letaknya di bawah pohon beringin putih yang cukup besar.

Punden tersebut tiada lain yang selama ini diyakini tempat bersemayamnya Bathari Kalayuwati, pelindung gaib keraton di bagian utara. Setelah semuanya siap, ritual pun dimulai. Namun, sebelumnya dilakukan pembacaan sejarah singkat tentang digelarnya Sesaji Mahesa Lawung oleh salah seorang abdidalem keraton.

Prosesi ritual diawali dengan penyampaian ujub [maksud dan tujuan] ritual. Dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh KRT Pudjodiningrat. Sepanjang prosesi, para abdi dalem yang duduk bersimpuh mengitari punden terlihat amat khusuk.

Suasana khidmat dan sakral benar-benar tercipta sepanjang prosesi berlangsug. Terlebih ketika kepulan asap dupa yang sengaja disulut di beberapa tempat seakan menambah kesan tersebut.

Usai ritual doa dan pembacaan mantra-mantra sakti, dilanjutkan memendam kepala kerbau dan sesaji yang terdiri atas barang-barang mentah lain di sekitar punden. Sebagai tumbal untuk mencari keselamatan dan kesejahteraan sebagaimana yang diharapkan.

Sementara itu, sesaji yang terdiri atas barang-barang matang, seperti nasi wuduk, gudangan, jajan pasar, dan lainnya dibagikan kepada para pengunjung yang hadir dalam upacara itu. Ada kepercayaan, barang siapa bisa mendapatkan atau memakan barang-barang yang digunakan untuk sesaji itu, apa yang diinginkan kemungkinan besar akan terkabul.

Sumber : http://seputarsolo.com/04/04/2011/prosesi-mahesa-lawung-keraton-surakarta/

Read More