kra-2

Proyek Peningkatan Lima Jalan Penghubung Dimulai

Bupati Karanganyar, Juliyatmono dan Wakil Bupati Karanganyar, Rohadi Widodo saat meninjau pelaksanaan dimulainya peningkatan jalan Matesih-Tawangmangu, Rabu (05/10) pagi.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono dan Wakil Bupati Karanganyar, Rohadi Widodo saat meninjau pelaksanaan dimulainya peningkatan jalan Matesih-Tawangmangu, Rabu (05/10) pagi.

Karanganyar, Kamis (06/10/2016)

Proyek peningkatan lima jalan penghubung di Kecamatan Karanganyar, Tawangmangu, Jatiyoso dan Matesih mulai dikerjakan pada awal bulan Oktober 2016 dengan total panjang 30,6 kilometer.

Ke lima jalan penghubung itu yakni di Kecamatan Karanganyar dari jalan Karanganyar-Ngadiluwih, Kecamatan Jatiyoso dari Beruk-Wonokeling, dan Tlobo-Wonorejo. Kemudian di Kecamatan Matesih dari Ngadiluwih-Matesih, dan Matesih-Tawangmangu dengan target pada bulan Desember tahun 2016 sudah bisa selesai.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Karanganyar,     Edhy Sriyatno mengatakan untuk mempercepat pengerjaan, maka pemenang lelang untuk membuat kelompok-kelompok pekerjaan.

Sedangkan proyek yang dikerjakan terdiri jalan Karanganyar-Ngadiluwih sepanjang 4,9 kilometer. Jalan antara Beruk-Wonokeling dengan panjang 4,820 meter, dan lebar bervariasi dari 3 meter hingga 3,5 meter,  serta dibuat dari beton, bukan aspal. Karena pada desain awal dari aspal kontraktor tidak berminat.

“Jalan Tlobo-Wonorejo dikerjakan selama 105 hari, dengan panjang 5,5 kilometer, lebar tiga meter sudah dimulai, dengan target selesai 15 Desember 2016,” kata Edhy Sriyatno.

Kemudian di Kecamatan Matesih dari Ngadiluwih-Matesih, sepanjang 5.925 meter, dan Matesih-Tawangmangu dengan volume 9,5 kilometer dimulai dari pertigaan lampu merah hingga Tawangmangu dengan lebar enam meter.

Sementara itu harapan untuk selesai hingga bulan Desember 2016 dikatakan Bupati Karanganyar, Juliyatmono, saat peninjauan , di masing-masing titik dimulai pengerjaan jalan.

“Saya berharap jangan sampai melebihi pertengahan bulan Desember 2016. Bagaimana caranya supaya bisa selesai dan tidak terlalu resiko di akhir tahun. Berdayakan masyarakat setempat yang bisa diajak mengerjakan,” kata Bupati Karanganyar, Rabu (05/10).

Bupati juga meminta kepada pemenang lelang agar memberi petanda pengaman agar pengguna jalan tidak terjerumus masuk lubang galian.pd

Read More
aku – Copy

Penutupan TMMD Diiringi Hujan Deras

Pelaksanaan penutupan TMMD di Desa Dawung, Kecamatan Matesih masih berlangsung khidmat, walaupun hujan deras turun.

Pelaksanaan penutupan TMMD di Desa Dawung, Kecamatan Matesih masih berlangsung khidmat, walaupun turun hujan deras , Senin (23/05)

Karanganyar, Senin (23/05/2016)

Pelaksanaan penutupan Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap I, Tahun Anggaran 2016 diiringi dengan cuaca tak bersahabat. Gerimis sejak pagi turun di lokasi lapangan Desa Dawung, Kecamatan Matesih, Senin (23/05) pagi.

Seusai pemukulan kentongan, tanda kegiatan TMMD tersebut secara resmi ditutup, hujan semakin deras. Namun hal tersebut tak menyurutkan ratusan peserta meninggalkan upacara. Sehingga pelaksanaannya masih berjalan khidmat.

Kapolres Karanganyar, AKBP Mahedi Surindra, sebagai Inspektur Upacara pun basah kuyup. Dia tetap berdiri tegap hingga upacara selesai. Bahkan menolak dipayungi.

Tampak hadir Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Karanganyar, Samsi, dan beberapa pejabat terkait.

Sedangkan hasil yang diperoleh dari TMMD selama 21 hari meliputi kegiatan fisik pengecorran jalan, pembuatan talud jalan, pembangunan jembatan, rehab Masjid Al-Falaq, rehab RTLH sebanyak 7 unit, rehab pos kamling, yang semuanya telahs selesai 100 persen.

Untuk kegiatan non fisik, meliputi pengobatan masal, penyuluhan dari berbagai intsansi, dan pembuatan SIM kolektif oleh Polres Karanganyar.

Kapolres Karanganyar saat membacakan sambutan dari Panglima Kodam IV/Diponegoro, mengatakan kegiatan ini telah memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat pedesaan.

“Dalam konteks kepentingan akselerasi pembangunan, program TMMD bertujuan untuk mewujudkan Ruang juang, Alat juang, Kondisi juang dan kemanunggalan TNI-Rakyat,serta membantu Pemda untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan fisik maupun non fisik,” katanya.

Selain itu, dengan ada TMMD ini, maka terdapat penghematan anggaran. Jika diborongkan, maka menghabiskan Rp. 875 juta, namun dengan program TMMD sebesar Rp. 601 juta. pd 

Read More
DSC_0069

Pangkostrad Ziarah ke Astana Giri Bangun

Pangkostrad Letjen Edy Edy Rahmayadi, saat napak tilas dari Lapangan Matesih ke Astana Giri Bangun, Kecamatan Matesih, Kamis (25/02) pagi.

Pangkostrad Letjen Edy Edy Rahmayadi, saat napak tilas dari Lapangan Matesih ke Astana Giri Bangun, Kecamatan Matesih, Kamis (25/02) pagi.

Karanganyar, Kamis (25/02/2016)
Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), Letnan Jenderal (Letjen) Edy Rahmayadi, berziarah ke makam Mantan Presiden RI HM Soeharto, di Astana Giri Bangun, Kecamatan Matesih, Kamis (25/02) pagi.

Sebelum berziarah, Pangkostrad melakukan napak tilas sebagai tradisi yang di lakukan Kostrad. Di mulai dari Lapangan Desa Matesih, Letjen Edy Rahmayadi beserta rombongan terlebih dahulu melakukan olahraga ringan, kemudian berjalan melewati perkampungan menuju Astana Giri Bangun, dengan jarak sekitar empat kilometer. Rute itu merupakan yang pernah dilewati almarhum Jenderal Besar (Purnawirawan) HM Soeharto.

Pukul 09.28 WIB, rombongan memasuki pintu belakang Astana. Setelah beristirahat sebentar, kemudian masuk ke dalam Cungkup Argosari. Di dalam bangunan berbentuk rumah joglo terdapat lima makam, dua diantaranya makam almarhum mantan Presiden RI ke 2 dan almarhumah Ibu Tien Soeharto. Di tempat itu, dibacakan surat Yasin, tahlil, peletakan karangan bunga, dan tabur bunga.

“Sedangkan ziarah ini untuk mendoakan almarhum dan almarhumah. Tradisi ini di satuan Kostrad yang dimulai dua panglima sebelum saya. Yakni Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Jenderal TNI Mulyono,” kata Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi.
Pangkostrad juga menjelaskan, saat Kostrad pertama kali dibentuk pada 6 Maret 1961, yang menjabat Pangkostrad pertama kali adalah Soeharto, yang saat itu berpangkat Mayor Jenderal (Mayjen).pd

Read More
aku copy

Seru, Lomba Menanam Padi Bagi Siswa SD

Lomba Menanam Padi bagi Anak SD se Kecamatan Matesih, dapat mengenalkan cara bercocok tanam sejak dini

Lomba Menanam Padi bagi Anak SD se Kecamatan Matesih, dapat mengenalkan cara bercocok tanam sejak dini

Karanganyar, Sabtu (11/04/2015)
Lomba Menanam Padi bagi kalangan siswa Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Matesih berlangsung seru dan menarik. Mereka diharuskan berjalan mundur untuk menanam padi di dalam petak ukuran 3 x 10 meter.
Ketua DPD Perhiptani Kabupaten Karanganyar Anis Ridho, mengatakan peserta lomba terdiri 31 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat murid SD laki-laki maupun perempuan.
“Aspek penilaian antara lain ketepatan waktu, keragaman jarak tanam, jumlah bibit perlubang, kedalaman tanam, dan kekompakan tanam. Setiap penilaian ada indikator untuk penilaian,” kata Anis Ridho, Kamis (09/04) di areal persawahan di depan SD Plosorejo 2, Kecamatan Matesih.
Mereka juga berpakaian ala petani dengan memakai caping dan baju lurik, ada juga yang memakai kaos identitas dari sekolah. Terik sinar matahari membuat peluh keringat mengucur dari wajah.
Bupati Karanganyar Juliyatmono menuturkan ini kegiatan sangat bagus untuk mengenalkan anak-anak usia dini, cara bercocok tanam, dan sekaligus mencintai terhadap alam.
“Yang kita bangun, harapannya kelak menjadi pengusaha-pengusahan di bidang pertanian,” katanya.
Di tempat tersebut juga diserahkan secara simbolis bantuan kepada kelompok tani , sepasang burung hantu jenis Tyto Alba sebagai predator alami membasmi serangan tikus di areal persawahan.pd

Read More
aku

Angkudes Laik Jalan Tapi Kelebihan Penumpang

Angkudes jalur G saat masuk jurang di Dusun Banjar, Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan, Rabu (11/02)

Kondisi angkudes jalur G saat masuk jurang di Dusun Banjar, Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan, Rabu (11/02)

Karanganyar, Kamis (12/02/2015)
Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Karanganyar, telah memeriksa kondisi teknis angkutan pedesaan (Angkudes) yang mengalami kecelakaan hingga masuk ke jurang sedalam 25 meter di Dusun Banjar, Desa Gerdu, Kecamatan Matesih.
Menurut Penguji Kendaraan Bermotor Penyelia, Agus Raharjo mengatakan angkutan umum jenis mini bus, AD 1172 F, baru saja melakukan uji kelayakan pada 22 Januari 2015 dan masa uji berlaku sampai 22 Juli 2015.
“Angkutan Mitsubishi T120 itu pada waktu pemeriksaan kendaraan masih baik. Kalau sesuai ijin trayek, maksimal hanya boleh untuk 12 orang, itupun sudah termasuk supir,” kata Agus Raharjo, Kamis (12/02)
Dari informasi yang diperoleh, angkudes Jalur G, jurusan Karangpandan-Gerdu-Giribangun-Matesih-Plaosan, diperkirakan memuat sampai 39 orang atau melebihi 100 persen dari batas maksimal kapasitas penumpang.
“Selain itu cara pemuatan yang salah bisa fatal. Penumpang harus berada di dalam kendaraan. Tidak boleh bergelantungan di pintu, di atas kabin, dan di belakang,” jelasnya menambahkan.
Lebih lanjut, dia mengatakan dari pemeriksaan di lapangan tentang Angkudes yang kecelakaan pada Rabu (11/02) pukul 06.30 WIB. Sopir berusaha mengerem, hal itu di tandai dengan ada bekas pengereman sepanjang delapan meter dari jalan menurun dan berkelok. “Jadi secara teknis rem masih berfungsi dengan baik. Setelah jatuh ke sungai, mesin dan presneling lepas,” katanya.
Di sisi lain, perihal kelayakan kendaraan dia juga tidak menampik jika ada kemungkinan setelah menjalani pemeriksaan bisa mengalami kerusakan teknis.
Lebih lanjut, Dishubkominfo Kabupaten Karanganyar akan melakukan pembinaan kepada supir angkutan agar mementingkan keselamatan penumpang dan diwajibkan setiap enam bulan harus melakukan uji kelayakan kendaraan. pd

Read More
DSC_0048 copy

Keluar Jadi Karyawan, Pilih Tekuni Usaha Mandiri

Sumarsi,30, saat menjahit sandaran kepala bermotif batik di rumahnya, Rabu (07/01)

Sumarsi,30,(berjilbab warna hitam) saat menjahit sandaran kepala bermotif batik di rumahnya, Rabu (07/01)

Keluar dari pekerjaan yang telah di tekuni selama bertahun-tahun menjadi pilihan sulit bagi Sumarsi, 30, salah satu warga Dusun Plosorejo, RT 01 RW 01, Desa Plosorejo, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar.

Namun tekad untuk berusaha mandiri menjadi pilihan yang dia tempuh. Sebelumnya ia telah bekerja menjadi karyawan salah satu pabrik tekstil selama 14 tahun di bagian kualiti kontrol.
“Idenya untuk membuat usaha mandiri ini, karena tidak ingin menjadi karyawan terus menerus. Namun membuat usaha sendiri dan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat,” kata Sumarsi, saat ditemui di rumahnya, Rabu (08/01) kemarin siang.

Sumarsi menceritakan, awalnya membeli lembaran kain perca, terus dibikin pernak-pernik dari limbah percah. Tetapi belakangan kemauan masyarakat menjadi berkurang. “Kemudian saya mencoba membuat bantal-bantal, tempat tisu, dan sprei sampai saat ini bisa lumayan laris,” jelas Marsi panggilan akrabnya.

Untuk pemasaran saat ini masih taraf lokal, namun jika ada even pameran dia juga mengikuti pameran. Seperti saat pameran Intanpari Expo 2014 yang dilaksanakan beberapa waktu lalu.
Ibu dua orang anak itu mengambil motif batik dari Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, juga batik dari Kecamatan Gondangrejo. “Biasanya membuat satu set untuk mobil terdiri sandaran kepala, tempat tisu, dan sabuk pengaman. Ada juga dari bahan katun,” jelasnya.

Selain itu, Marsi juga membuat bantal, tas, taplak meja. Untuk membuat satu produk hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit dari diberi pola, di gambar, di potong, kemudian di jahit, dimasukan isi dakron atau silikon, baru jait tangan untuk penutupannya. Namun tergantung besar kecilnya produk, jika agak besar bisa sedikit lebih lama membuatnya.

“Bahan batik satu set hanya seharga Rp 100 ribu. Itu terdiri empat sandaran kepala, satu tempat tisu, dan satu set untuk sabuk pengaman. Kalau berbahan velboa bisa Rp 120 ribu,” kata Marsi yang sudah menekuni usaha mandiri sejak 15 Oktober 2013.

Saat ini, keinginannya yakni untuk perluasan pemasaran dari produk-produk yang di hasilkannya. Namun terkendala tenaga kerja yang baru empat orang. Kelak jika sudah mempunyai karyawan yang banyak akan memperluas area pemasarannya. pd

Read More
cabai

Harga Cabai Merosot, Petani Karanganyar Susah Balik Modal

Petani cabai di Kecamatan Matesih

Petani cabai di Kecamatan Matesih

Petani cabai di Kecamatan Matesih, Karanganyar, mengeluhkan harga cabai merah yang terus merosot.

Harga cabai merah di tingkat pengepul hanya Rp3.500 per kilogram, padahal sebeumnya mencapai Rp15.000 per kilogram.

“Kalau dihitung-hitung, total penjualan cabai sebanyak 5 kuintal hanya laba sedikit sekali. Untuk menutup biaya pengolahan tanah, pembelian bibit, perawatan, dan pemupukan sudah hampir tidak balik modal,” kata dia, saat dijumpai wartawan, di lahan pekarangannya, Minggu (25/8/2014).

Prapto mengatakan panen terakhir lalu adalah panen terburuk selama satu tahun. “Kalau begini yang rugi di tingkatan petani. Di pasaran, memang pembeli bersyukur karena bisa beli lombok murah. Padahal yang saya tanam ini bibit berkualitas. Cabainya besar, pedas, dan berisi,” urai dia.

Guna menutup biaya produksi, kata Prapto, ia mengandalkan penjualan tomat merinda yang ditanam selang-seling dengan cabainya.

Petani cabai di Karangpandan, Sastro, mengatakan berdasar informasi dari para pedagang cabai merah di sejumlah pasar, penurunan harga cabai disebabkan masa panen serentak.

Stok cabai yang melimpah di pasaran, kata dia, memengaruhi harga jual. Sebaliknya jika stok cabai sedikit, harga jualnya pun ikut naik.

Read More
gue copy

Datang Ke TPS, Bupati dan Istri Jalan Kaki

Karanganyar, Rabu (09/07/2014)

Bupati Karanganyar Juliyatmono dan Siti Chomsyiah menggunakan hak suara pilpres di TPS 12, Rabu (09/07)

Bupati Karanganyar Juliyatmono dan Siti Chomsyiah menggunakan hak suara pilpres di TPS 12, Rabu (09/07)

Bupati Karanganyar Juliyatmono ditemani istri Siti Chomsyiah menggunakan hak suaranya di pemilihan Presiden tahun 2014, di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 12, RT 3/ RW VII, Pokoh Baru, Ngijo, Kecamatan Tasikmadu, Rabu (09/07).

Untuk ke TPS dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 367 pemilih itu, bupati beserta istri berjalan kaki sekitar 150 meter dari rumah pribadinya pada pukul 08.30 WIB. Begitu tiba di TPS, Juliyatmono langsung disambut warga sekitar yang juga menggunakan hak suaranya. “Terlihat antusias warga Kabupaten Karanganyar menggunakan hak pilih, harapannya angka partisipasi sampai 80 persen,” ujar Juliyatmono.

Dari pantauan Bupati Karanganyar sejak Selasa (08/07) malam, menjelang pencoblosan pilpres ini suasana Kabupaten Karanganyar terlihat aman dan kondusif. Selanjutnya, Bupati, Wakil Bupati dan Muspida mengadakan pantauan langsung ke TPS di beberapa kecamatan, Rabu (09/07). Dari rumah dinas Bupati Karanganyar, rombongan menuju TPS 15, Demangan, Tegalgede, Kecamatan Karanganyar Kota, TPS 01, Gantiwarno, Kecamatan Matesih, TPS 11 Jloko Tengah, Plosorejo, Kecamatan Matesih.

Kemudian dilanjutkan ke TPS 05, Truneng, Doplang, Kecamatan Karangpandan, TPS 01, Bangsri, Kecamatan Karangpandan, dan TPS 06 Tegalasri, Bejen, Kecamatan Karanganyar Kota.”Terlihat antusias warga, sejak TPS dibuka jam 07.00 pagi saja sudah menggunaka hak suaranya. Saya mengapresiasi untuk tidak golput,” tandasnya.pd

Read More
DSC_0207 copy

Durian 11 Kilogram Jadi Primadona

Para juri Festival Durian Karanganyar 2014 saat menilai durian yang dilombakan

Para juri Festival Durian Karanganyar 2014 saat menilai durian yang dilombakan

DSC_0207 copy

Bupati Karanganyar Juliyatmono mengangkat durian jumbo seberat 11 kilogram

Karanganyar, Sabtu (08/03/2014)

Ratusan warga Karanganyar memadati Balai Desa Matesih, Kabupaten Karanganyar dan berpartisipasi dalam Festival Durian Karanganyar 2014, Sabtu (08/3) pagi. Dari belasan jenis durian yang dilombakan, buah berduri tajam seberat 11 kilogram menjadi pusat perhatian masyarakat.

Acara yang dimulai pukul 07.30 pagi itu berisi perlombaan durian bagi perorangan, instansi pemerintahan maupun organisasi. Panitia memiliki kriteria penilaian buah berbau menyengat tersebut. Di antaranya bentuk, bobot buah, tekstur daging, kematangan, warna daging buah dan lainnya. Data dari panitia menyebutkan ada 43 peserta lomba.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan dan Kehutanan (Dsipertanbunhut) Kabupaten Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengungkapkan acara tersebut menjadi salah satu program dinasnya dan sebagai upaya pengenalan komoditi durian dari Karanganyar. Pasalnya, wilayah Karanganyar terkenal sebagai daerah penghasil durian varietas unggul. “Ada tujuh kecamatan menjadi sentra penghasil durian. Yakni Kecamatan Matesih, Jatipuro, Jumapolo, Jumantono, Ngargoyoso, Mojogedang, Tawangmangu,” kata dia.

Tidak hanya itu, panitia juga melakukan pelelalangan durian dan terbuka untuk masyarakat umum. Dalam acara lelang itu, petani durian melelangnya per keranjang atau buah. Nilainya pun bervariasi antara Rp 1 juta hingga Rp 2,6 juta/ keranjang.

Hanya saja, dari puluhan keranjang yang siap dilelangkan, durian super jumbo dan memiliki berat 11 kilogram merebut perhatian semua pihak. Tak terkecuali Bupati Karanganyar Juliyatmono yang membuka acara festival tersebut. Ditemani Wakil Bupati Karanganyar Rohadi Widodo begitu terkesima dengan ukuran durian yang sangat besar. Alhasil, Juliyatmono membeli dengan uang Rp 1 juta untuk memilikinya.

“Ini salah satu potensi Kabupaten Karanganyar dan harus tetap dilestarikan. Oleh karena itu, kami menyelenggarakan acara ini. Dengan harapan, durian dari Karanganyar bisa dikenal oleh masyarakat umum sehingga berdampak pada kesejahteraan para petani,” katanya.

Usai pelaksanaan lomba dan lelang, masyarakat berduyun-duyun mengambil dan menyicipi durian unggulan Bumi Intanpari. Bahkan, durian yang dilombakan ludes dimakan oleh warga. pd

 

Read More
lngsor

Bukit Longsor, Akses Tawangmangu-Matesih Lumpuh

lngsorBencana tanah longsor kembali terjadi di Dusun Ganoman, Desa Koripan, Kecamatan Matesih, Sabtu (1/2) sekitar pukul 20.30 WIB. Bukit setinggi sekitar 30 meter yang berada di tepi jalan wilayah setempat longsor sehingga menyebabkan akses jalan yang menghubungkan Tawangmangu-Matesih terputus total.

Menurut Kades Koripan, Kridarto, sebelum bukit tersebut longsor, hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam. “Hujan deras turun berkali-kali sampai akhirnya tanah di bukit itu ambles dan longsor,” katanya, Minggu (2/2).

 Akibat longsoran itu, separuh lebih badan jalan dengan lebar 4 meter itu tertimbun tanah dan batu sepanjang 1,5 meter. Akibatnya, jalan yang menjadi akses vital Tawangmangu-Matesih tidak bisa dilalui.

 Menurut Kridarto, longsor kali ini adalah yang pertama di desanya sejak tahun 2007 di mana pada tahun itu terjadi longsor dengan skala lebih besar. Kendati terbilang lebih kecil, insiden yang terjadi persis di tepi jalan yang menikung dan menanjak ini membuat khawatir warga. “Kejadiannya pun saat malam hari, di mana penerangan sangat minim. Beruntung saat kejadian insiden berlangsung, tidak ada pengendara yang terjebak,” tuturnya.

 Sejauh ini penerangan jalan umum (PJU) di area lokasi kejadian memang tidak ada. Oleh karena itu, Kridarto meminta kepada Pemkab agar segera memasang PJU sekaligus untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan. “Pemasangan penerangan serta rambu jalan sangat mendesak. Tebing-tebing ini juga perlu dipasangi membran,” tandasnya.

 Camat Matesih, Murdatmo menambahkan warga yang telah mengetahui longsoran itu langsung bersiaga di sekitar jalan dengan memasang papan peringatan sebagai tanda bagi pengendara agar berhati-hati saat melintas. Pasalnya, kondisi jalan pascalongsor memang porak-poranda, ditambah lagi dengan hujan yang masih mengguyur.

 Murdatmo menambahkan, kondisi pascalongsor juga membuat bukit tampak lebih curam. Beberapa bebatuan cukup besar juga rawan jatuh ke jalan. Warga setempat pun berusaha membersihkan bekas longsoran dengan peralatan seadanya. “Selain membersihkan jalanan yang tertutup longsor, bibir bukit juga dikepras. Bebatuan besar yang masih menempel pada bibir bukit juga turut dibersihkan,” lanjutnya.

 Sementara itu, longsor juga terjadi di Dusun Rotogondang, Desa Girilayu, Kecamatan Matesih. Sebanyak empat rumah sempat terisolir akibat terkena longsoran. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa  itu. Kini penghuni rumah yang tertimpa longsor sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman.

 Kemarin, jajaran Muspida beserta aparat TNI dan Polri, serta relawan dari SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar langsung mendatangi lokasi dan mengevakuasi timbunan longsor bersama warga setempat. “Papan peringatan bencana harus segera dipasang. Itu penting untuk menjadi penanda bagi pengendara yang melintas,” kata Kepala BPBD Karanganyar, Aji Pratama Heru Kristanto.

Sumber : http://joglosemar.co

Read More