DSC_0030

BLK Bangsri Tambah Gedung Baru

Bupati Karanganyar Juliyatmono saat peletakan batu pertama pembangunan gedung asrama, Jumat (07/08) di BLK Bangsri, Kecamatan Karangpandan.

Bupati Karanganyar Juliyatmono saat peletakan batu pertama pembangunan gedung asrama, Jumat (07/08) di BLK Bangsri, Kecamatan Karangpandan.

Karanganyar, Jumat (07/08/2015)
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar mengeluarkan dana sebesar Rp. 2,7 miliar untuk pembangunan penambahan gedung asrama Balai Latihan Kerja (BLK) Bangsri, Kecamatan Karangpandan.

Pembangunan gedung asrama milik Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Karanganyar itu, berasal dari APBD Tahun 2015 dari sumber Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Gedung tersebut akan berdiri diatas tanah seluas 52×15 meter persegi, dan dengan jumlah 12 kamar.

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Karanganyar Agus Heri Bindarto mengatakan gedung tersebut merupakan bagian penambahan gedung-gedung yang sudah ada sejak lama.

“Ini merupakan tahap pertama dengan waktu tiga bulan pengerjaan. Rencananya untuk tahap dua dibuat aula dan ruang belajar di lantai dua, pada tahun depan,” katanya, Jumat (07/08) saat acara peletakan batu pertama pembangunan gedung tersebut.

Bupati Karanganyar Juliyatmono meminta kepada rekanan proyek untuk mengerjakan tepat waktu yang telah ditentukan.

“Jangan sampai meleset. Ini masih musim kemarau, sebaiknya diselesaikan sebelum musim hujan agar tidak terhambat,” tegasnya. pd

Read More
ATT_1427957202562_IMG-20150401-WA0000 copy

Beras Hitam Karanganyar Diminati Untuk Komoditas Ekpor

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, saat melihat produk beras hitam yang sudah dikemas.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, saat melihat produk beras hitam pada kemasan

Karanganyar, Kamis (02/04/2015)
Beras hitam dari Karanganyar, rupanya diminati Kementerian Pertanian (Kementan) untuk dijadikan komoditas ekspor. Saat ini, pemenuhan berbagai syarat agar beras hitam Karanganyar bisa diekspor sedang dipersiapkan. Bahkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau langsung hasil pengemasannya, Selasa (31/01) di Desa Ngemplak, Kecamatan Karangpandan.
Rencananya, beras yang harganya di pasaran mencapai Rp 30.000/ kilogram itu diekspor ke Taiwan. Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Kabupaten Karanganyar Danik Sih Handayani mengatakan, beras hitam yang bakal diekspor berasal dari Kelompok Tani (Poktan) di wilayah Kecamatan Karangpandan.
“Perwakilan dari Poktan tersebut, beberapa waktu lalu diundang ke Kementan, sebagai calon eksportir beras hitam. Saat ini sedang dalam proses melengkapi syarat-syarat sebagai eksportir,” tuturnya, Rabu (01/04).
Dispertanbunhut juga sudah diminta untuk membantu pemenuhan syarat yang dibutuhkan, agar proses menjadi eksportir bisa segera selesai. “Permintaan agar kami membantu proses untuk bisa mengekspor beras hitam, disampaikan langsung Menteri Pertanian, saat berkunjung ke Karanganyar,” katanya.
Beras hitam, lanjut Danik, termasuk salah satu produk pertanian unggulan yang dimiliki Bumi Intanpari. Lahan pertanian komoditas yang ditanam secara organik tersebut berada di tiga kecamatan, yakni Karangpandan, Karanganyar dan Mojogedang.
Total lahan yang dipakai untuk mengembangkan beras hitam, saat ini seluas 90 hektar. Yang paling luas di Karangpandan mencapai 60 hektar, sementara di Karanganyar dan Mojogedang masing-masing 15 hektar. Di mana, tiap hektar lahan, rata-rata menghasilkan tujuh ton beras dalam satu kali masa tanam.
Soal harga beras hitam jauh lebih mahal dibanding harga beras putih, pihaknya beralasan jika beras varietas unggul itu mengandung sejumlah khasiat. Beras ini bagus untuk penderita diabetes, karena kadar kalorinya terendah dibandingkan beras putih dan merah.
Selain itu, mengonsumsi beras hitam juga bisa mencegah kanker karena kandungan antosianin yang tinggi, mencegah penyakit jantung karena kandungan seratnya tinggi, obat anemia karena banyak mengandung zat besi, hingga mencegah penuaan dini. pd

Read More
gue copy

Karanganyar Budidayakan Padi Hibrida

Karanganyar, Kamis (18/09/2014)

Bupati Karanganyar Juliyatmono dan Wakil Bupati Karanganyar Rohadi Widodo saat menuai padi hibrida, di dusun Plesungan, desa Karangpandan, Kecamatan Karangpandan, Kamis (18/09)

Bupati Karanganyar Juliyatmono dan Wakil Bupati Karanganyar Rohadi Widodo saat menuai padi hibrida, di dusun Plesungan, desa Karangpandan, Kecamatan Karangpandan, Kamis (18/09)

Benih padi hibrida tengah dibudidayakan di wilayah Karanganyar. Hasilnya, Kelompok Tani Maju, Kecamatan Karangpandan mampu memproduksi 11 ton padi hibrida per hektar. Hal itu terbukti saat diselenggarakannya panen raya di Dusun Plesungan, Desa Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Kamis (18/09) pagi. Kelompok tani yang mempunyai total luas lahan 75 hektar di tiga lokasi merupakan satu-satunya pengguna bibit padi jenis hibrida.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroh mengungkapkan sempat mengalami kesuitan dalam melakukan sosialisasi jenis padi tersebut. ”Memang jarang sekali petani atau kelompok tani yang menggunakan padi jenis hibrida. Kelompok Tani Maju Kecamatan Karangpandan merupakan satu-satunya yang mau membudidayakannya,” kata dia.

Padi jenis hibrida, menurut Siti memiliki keunggulan dibandingkan dengan jenis padi lainnya. Salah satunya masa tanam yang hanya membutuhkan waktu 100 hari. Hal ini jauh lebih singkat dibandingkan dengan jenis lainnya yang mencapai 120-125 hari di tiap masa tanamnya. “Padi jenis hibrida hanya butuh 100 hari dari masa tanam hingga panen. Selain itu kuantitasnya juga lumayan yakni 11 ton/ hektar,” ujarnya.

Hanya saja, pihaknya mengaku masih mengacu pada kuantitas padi. Sedangkan untuk rasa memang masih memerlukan penyempurnaan. “Kami masih mengejar kuantitas produksi. Kalau rasanya memang tidak seenak padi jenis lainnya. Tapi kalau bicara bentuk, padinya tetap mentes,” katanya.

Sementara itu ditempat yang sama, Bupati Karanganyar Juliyatmono dan Wakil Bupati Karanganyar Rohadi Widodo, memanen perdana padi hibrida tersebut, selanjutnya menuai padi dari yang dipanen secara simbolis. “Hendaknya berniat yang baik sebelum menanam padi, jangan mengeluh. Berdoa semoga melimpah hasilnya. Dan diperhatikan padinya, agar tidak ada wereng,” ujar Bupati Juliyatmono. pd

Read More
gue copy

Datang Ke TPS, Bupati dan Istri Jalan Kaki

Karanganyar, Rabu (09/07/2014)

Bupati Karanganyar Juliyatmono dan Siti Chomsyiah menggunakan hak suara pilpres di TPS 12, Rabu (09/07)

Bupati Karanganyar Juliyatmono dan Siti Chomsyiah menggunakan hak suara pilpres di TPS 12, Rabu (09/07)

Bupati Karanganyar Juliyatmono ditemani istri Siti Chomsyiah menggunakan hak suaranya di pemilihan Presiden tahun 2014, di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 12, RT 3/ RW VII, Pokoh Baru, Ngijo, Kecamatan Tasikmadu, Rabu (09/07).

Untuk ke TPS dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 367 pemilih itu, bupati beserta istri berjalan kaki sekitar 150 meter dari rumah pribadinya pada pukul 08.30 WIB. Begitu tiba di TPS, Juliyatmono langsung disambut warga sekitar yang juga menggunakan hak suaranya. “Terlihat antusias warga Kabupaten Karanganyar menggunakan hak pilih, harapannya angka partisipasi sampai 80 persen,” ujar Juliyatmono.

Dari pantauan Bupati Karanganyar sejak Selasa (08/07) malam, menjelang pencoblosan pilpres ini suasana Kabupaten Karanganyar terlihat aman dan kondusif. Selanjutnya, Bupati, Wakil Bupati dan Muspida mengadakan pantauan langsung ke TPS di beberapa kecamatan, Rabu (09/07). Dari rumah dinas Bupati Karanganyar, rombongan menuju TPS 15, Demangan, Tegalgede, Kecamatan Karanganyar Kota, TPS 01, Gantiwarno, Kecamatan Matesih, TPS 11 Jloko Tengah, Plosorejo, Kecamatan Matesih.

Kemudian dilanjutkan ke TPS 05, Truneng, Doplang, Kecamatan Karangpandan, TPS 01, Bangsri, Kecamatan Karangpandan, dan TPS 06 Tegalasri, Bejen, Kecamatan Karanganyar Kota.”Terlihat antusias warga, sejak TPS dibuka jam 07.00 pagi saja sudah menggunaka hak suaranya. Saya mengapresiasi untuk tidak golput,” tandasnya.pd

Read More

Ratusan Itik Mati, Diduga Terserang Flu Burung

Lebih kurang 400 itik milik para peternak di Desa Gondangmanis, Kecamatan Karangpandan, Karanganyar , berangsur-angur mati sejak sepekan terakhir.

Unggas-unggas tersebut diduga terserang virus avian influenza (A1) atau yang dikenal sebagai flu burung. Sebab, ratusan itik milik 10 peternak tersebut menunjukkan gejala terserang flu burung, seperti mata keruh, terjadi kebutaan, angka kematian tinggi, dan unggas cenderung suka berputar-putar.

Mendapati kejanggalan itu, para peternak segera mengirim laporan kepada Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakkan) Karanganyar pada Sabtu (24/8/2013). Pasalnya, kasus tersebut bukan yang kali pertama terjadi di Desa Gondangmanis.

“Desa itu memang daerah endemik, dulu juga banyak unggas mati karena terinfeksi A1. Pada kasus kematian unggas kali ini gejalanya juga sama dengan kematian unggas yang terjadi beberapa waktu lalu,” terang salah seorang anggota staf Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakkan) Karanganyar, Fathurrahman.

Berdasarkan analisa serta riwayat penyebaran flu burung di Desa Gondangmanis, Fathurrahman yang juga dokter hewan menduga ratusan itik tersebut telah terserang virus A1. Guna memastikan dugaan itu, petugas Disnakkan Karanganyar telah mengambil sampel bangkai itik untuk melakukan uji laboratorium pada Selasa (27/8/2013).

“Sampelnya sudah dibawa di Jogja karena kami tidak memiliki alat uji virus A1, namun kami belum dapat memastikan kapan uji laboratorium akan selesai. Sebenarnya laporannya masuk kepada kami pada Sabtu lalu, tapi tim laboratorium baru bisa datang ke Karanganyar kemarin [Selasa], ” imbuhnya.

Selain mengambil sampel bangkai itik, Disnakkan juga telah mengimbau peternak untuk tidak menjual maupun mengonsumsi unggas yang sakit. Peternak juga diminta memisahkan unggas yang sehat dan sakit supaya virus tak kian menyebar. “Sebagian itik yang sakit masih hidup, tapi kami sudah mewanti-wanti peternak supaya itik yang sakit dikarantina agar tidak menulari yang lain. Kalau ada unggas yang mati mendadak juga harus segera dikubur,” jelas Fathurrahman.

Kendati hasil uji laboratorium belum keluar, Disnakkan telah mengantisipasi penyebaran virus flu burung dengan memberikan larutan disinfektan kepada para peternak di Desa Gondangmanis.

Selanjutnya, mereka diimbau rutin menyemprotkan disinfektan di kandang serta lingkungan sekitar untuk mencegah penyebaran virus yang juga dapat menginfeksi tubuh manusia itu. Jika hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa itik-itik tersebut positif terserang virus A1, Disnakkan akan segera melakukan vaksinasi kepada unggas di Desa Gondangmanis.

Read More

Produksi Cabai di Karanganyar Anjlok

Produksi cabai berbagai jenis di Karanganyar menurun hingga 30 persen pada akhir tahun 2012. Kondisi ini menyebabkan kelangkaan cabai di sejumlah pasar tradisonal yang berimbas pada melonjaknya harga cabai.

Seorang petani cabai di Desa Karang, Kecamatan Karangpandan, Marto Suwito,  saat ditemui, Kamis (24/1/2013) mengatakan biasanya, dia dapat memanen satu kwintal cabai merah dalam sekali panen. Namun kini ia hanya memperoleh sekitar 600-700 kilogram (kg) saat panen. Dalam setahun, dia biasa  memanen lima hingga enam kali.“Sejak tiga bulan terakhir produksi cabai merah merosot tajam karena cuaca.”

Hujan yang terjadi hampir setiap hari mengakibatkan genangan air di area ladang cabai. Genangan air tersebut mengakibatkan tanah lembek sehingga kadar humus di dalam tanah menurun. Tak hanya itu, tanaman cabai merah juga diserang penyakit kriting beberapa bulan terakhir. Sehingga menyebabkan gagal dipanen.

Otomatis, kondisi tersebut mengakibatkan harga cabai di sejumlah pasar tradisional melonjak . Harga cabai rawit merah di kalangan petani mencapai Rp22.000/kg, cabai merah besar Rp16.000/kg. Biasanya, cabai yang telah dipanen dibeli pedagang  dalam jumlah besar kemudian dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi. Mayoritas cabai tersebut dipasarkan di beberapa wilayah di Jateng seperti Kudus, Pati dan Wonogiri.

Sementara seorang pedagang di Pasar Jungke, Suratmi, menuturkan kenaikan harga cabai berbagai jenis terjadi sejak sebulan terakhir.Harga cabai merah keriting dipatok Rp17.000/kg sebelumnya berkisar antara Rp15.000/kg. Cabai rawit merah dijual Rp25.000/kg sebelumnya hanya Rp20.000/kg. Untuk cabai merah besar  Rp16.000/kg sebelumnya dipatok Rp11.000/kg.

“Jumlah stok cabai yang dikirim berkurang dan kedatangannya kerab terlambat,” imbuh Suratmi.

Read More

E-KTP: Bakal Gelar Pilkades, Rekam Data Lima Desa Didahulukan

Kecamatan Karangpandan, Karanganyar mendahulukan desa yang akan melakukan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) dalam proses rekam data e-KTP. Dari 11 desa di Karanganyar lima desa akan menggelar Pilkades tahun ini. Lima desa tersebut diantaranya Doplang, Dayu, Bangsri, Karang, dan Harjosari.

Sekretaris Camat, Daryatmi mewakili Camat Karangpandan mengatakan sebelum undangan rekam data e-KTP disebar pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil). Data wajib KTP itu menurutnya bisa digunakan sebagai data pemilih dalam Pilkades. “Dispendukcapil tidak keberatan dengan usulan kami. Mereka mendukung dan menyerahkan pelaksanaan teknis kepada kantor kecamatan,” ujar, Selasa (8/5/2012).

Selain itu menurut Daryatmi, sejauh ini pelaksanaan rekam data e-KTP di Kecamatan Karangpandan sudah mencapai target yang ditetapkan kecamatan. “Dari 35.972 wajib rekam data e-KTP sudah terekam sekitar 25% hingga saat ini. Rata-rata per hari ada 350 warga yang merekam data e-KTP. Bahkan pernah capaian sehari hinga 439,” imbuh dia.

Besarnya antusiasme warga Kecamatan Karangpandan untuk melakukan rekam data e-KTP disebut Daryatmi tak lepas dari peran aktif Kepala Desa (Kades) dan Kepala Dusun (Kadus). Dispendukcapil, kecamatan dan perangkat desa saling mendukung dalam menyukseskan program pemerintah ini.

“Bahkan setiap hari kepala dusun memantau di sini. Kalau kelihatan sepi belum ada warga yang datang ke kecamatan, mereka akan mengumumkan lewat pengeras suara di masjid dan musala untuk mengingatkan warga. Ya seperti inilah kehidupan di desa, karena sudah berkomitmen kami selalu berkoordinasi dengan semua pihak,” imbuh Daryatmi.

Terpisah, Kepala Dusun Mroto, Desa Karang, Giyanto mengaku tidak ada pendelegasian tugas dari kecamatan atau kepala desa untuk mendampingi warga dusun saat merekam data e-KTP di Kecamatan. Dalam pendampingan ini Desa Karang juga tidak menganggarkan dana operasional. “Ini inisiatif kami sendiri untuk mengetahui tanggapan warga. Kalau sosialisasi e-KTP biasanya kami lakukan berbarengan dengan pertemuan RT, PKK,” jelas Giyanto.

Read More

200 Keluarga Minta Relokasi

Terancam longsor, sekitar 200 keluarga di Dusun Ngledok Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan berencana mengajukan permintaan relokasi secepatnya kepada Pemerintah setempat. Pasalnya warga di Dusun Ngledok sebanyak enam RT tersebut khawatir keluarganya menjadi korban longsor karena intensitas hujan yang masih tinggi.
Kepala Desa Gerdu Kecamatan Karangpandan, Suwarno  mengatakan dari pembicaraan dengan warga sekitar, mereka sepakat minta direlokasi. Pasalnya kebanyakan dari mereka takut dan waswas setiap hujan turun. “Kalau tidak salah ada sekitar 200 keluarga di enam RT tersebut yang berencana relokasi,” ujar dia.
Permintaan tersebut juga sudah diwujudkan dengan surat tertulis dan akan segera ditembuskan kepada Camat Karangpandan dan Bupati Karanganyar. Namun detail berkenaan dengan relokasi belum dibahas warga karena masih fokus pembersihan desa.
“Karena banyaknya longsoran, hingga saat ini warga masih terus berupaya melancarkan akses jalan desa yang masih tertutup longsor,” terang dia.
Suwarno menambahkan kemungkinan warga yang meminta relokasi akan bertambah. Mengingat ada beberapa daerah di Desa Gerdu yang rawan longsor.
“Sementara yang mengatakan ingin relokasi memang baru Dusun Ngledok, nanti setelah selesai kerja bakti desa, akan coba kita data lagi secepatnya,” jelasnya.
Dihubungi terpisah, Wakil Ketua DPRD Karanganyar, Rohadi Widodo juga menyarankan hal serupa. Jika memang tinggal di daerah longsor dan takut terjadi musibah, ia menyarankan lebih baik warga di relokasi. Namun keputusan relokasi itu sepenuhnya berada di tangan eksekutif. “Prosesnya eksekutif mengajukan kepada legislatif barulah dibahas dan ditentukan besaran anggaran yang dibutuhkan,” ucap dia.
Ia juga menegaskan jika memang ada permintaan dari warga agar direlokasi, maka Pemkab secepatnya mengajukan hal itu agar nantinya bisa dibahas di dewan dan disusulkan dalam anggaran Perubahan APBD 2012, sehingga warga tidak lagi menunggu.“Setahu saya yang sudah direlokasi dulu ada di Desa Karang duwur Kecamatan Jenawi, tapi sudah lama tahun 2007 silam kalau di Mogol mereka tidak mau,” paparnya.

Read More

Hujan Deras Tumbangkan Pohon, 1.500 Burung Puyuh Mati

Hujan deras disertai puting beliung kembali terjadi di Karanganyar, Sabtu (18/2) lalu. Kali ini angin puting beliung tersebut menyapu 1.500 ternak burung puyuh di sebuah peternakan warga di Dusun Gondangmas, Desa Karangpandan, Kecamatan Karangpandan.

Ribuan ternak unggas tersebut tak terselamatkan setelah kandangnya tersapu angin puting beliung. Pemilik ternak, Rohmad pun mengaku hanya bisa pasrah dan melihat kandang unggasnya tersebut rusak parah. Rohmad mengatakan kejadian terjadi sekitar pukul 13.30 WIB, di saat hujan deras mengguyur daerahnya. Akibat insiden tersebut, Rohmad mengaku rugi mencapai Rp 40 juta, sebab ternak burung puyuh yang baru saja dirintisnya tersebut masih dalam tahap usia pembibitan dan belum menghasilkan telur. “Kurang lebih total kerugian mencapai sekitar Rp 40 juta, belum lagi kandang saya yang tertimpa pohon besar,” papar dia.

Sementara itu, angin puting beliung juga merobohkan beberapa pohon di Dusun Sewurejo, Pojok, Mojogedang, Sabtu (18/2). Di Dusun Gondangmas, Karangpandan hujan deras juga membuat sedikitnya ada 10 rumah rusak, satu di antaranya mengalami kerusakan parah akibat tertimpa pohon.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru Kristianto mengatakan pohon yang tumbang tersebut berdiameter lumayan besar, sehingga menyusahkan proses pembersihan pohon. “Sebenarnya hujannya hanya turun selama sekitar satu jam, tetapi karena anginnya berhembus dengan cukup kencang sehingga banyak pohon tumbang,” ujarnya kemarin (19/2).

Ia mengatakan untuk membersihkan pohon-pohon tersebut ia mengerahkan 15 personelnya dan dibantu warga sekitar. Dengan kondisi yang masih sering hujan dan angin ini, Aji kembali mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada.

Pasalnya kondisi peralihan dari musim hujan ke musim kemarau identik ditandai dengan hujan ekstrem yang bisa merusak. “Makanya kita terus menyosialisasikan kepada warga Karanganyar agar selalu waspada,” imbuh dia.

Read More

Pura Pasek

Bagi yang memiliki minat dan ketertarikan berwisata spiritual Tirta Yatra, yaitu melakukan perjalanan napak tilas persembahyangan mengunjungi pura-pura, baik yang berada di daratan pulau bali ataupun di nusantara, pastilah mengenal Pura Patilesan (peristirahatan) Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan, yang lebih di kenal sebagai Pura Pasek dan merupakan induk dari Pura Pasek yang ada di daratan Bali. Pura ini terletak di desa Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Indonesia. Kira-kira 35 km sebelah timur kota Solo, satu jam perjalanan ditempuh dengan kendaraan. Letaknya yang tidak jauh dari obyek wisata Tawangmangu, di kaki gunung Lawu membuat pura Pemacekan yang dikelilingi alam nan hijau menjadi semakin sejuk.

Menengok kembali sejarah jaman dulu, pada awalnya bangunan ini memang merupakan tempat peribadatan umat Hindu yang berupa punden atau candi atau pura. Sebagaimana masyarakat Jawa pada zaman dulu memang banyak sekali penganut Hindu, tak terkecuali di wilayah Karangpandan ini. Hal ini terbukti ditemukannya bangunan Hindu di daerah sekitar tak jauh dari pura Pemacekan semisal Candi Sukuh, Candi Cetho, dll. Namun seiring berjalannya waktu, dengan terjadinya akulturasi kebudayaan antara penganut agama lain, penganut Hindu di sekitar pura menjadi semakin sedikit, meski dalam catatan sejarah, bangunan yang memiliki dominasi warna kuning dan merah ini pernah di bangun menjadi lebih megah dan mewah pada masa Pakoe Boewono XII.  Keterlibatan raja dari Keraton Surakarta dalam pembangunan kembali Pura Pemacekan (Pura Pasek) ini adalah cukup beralasan, karena bila di lihat dari silsilah vertikal raja-raja yang yang terpampang di dinding bangunan Pura Pemacekan itu, di mulai dari kerajaan Singosari dimasa pemerintahan Ken Arok hingga raja Surakarta yang sekarang adalah masih memiliki ikatan darah persaudaraan dengan Ki Ageng Pasek atau di kenal dengan nama Pangeran Arya Kusuma ini karena merupakan salah seorang menantu Pangeran Brawijaya V (raja terakhir dari kerajaan Majapahit), yang patilesannya terdapat di dalam bangunan Pura Pasek ini. Ki Ageng Pasek yang dikenal sebagai Arya Kusuma juga adalah seorang senopati kerajaan yang memiliki keahlian khusus, penunggang kuda saat berperang. Hingga meninggalnya dan kemudian dimakamkan di desa Pasek, Kecamatan Karangpandan, kabupaten Karanganyar, yang saat ini tepat di petilesannya didirikan Pura Pemacekan (Pura Pasek).

Piodalan di pura Pemacekan ini biasanya diselenggarakan setiap tujuh bulan saat bulan purnamasidi atau bertepatan dengan pengetan weton dari Ki Ageng Pasek yang mana Upacara Piodalan ini selain di rayakan oleh para pengempon Pura umat Hindu di karanganyar serta daerah Solo dan sekitarnya yang khususnya bermarga Pasek juga dihadiri oleh ratusan warga Hindu Bali dari marga Pasek juga.  Salah seorang Pengempon Pura Pasek ini adalah juga warga dari Desa Kemoning Klungkung yang berdomisili di Solo, yaitu bapak Nyoman Nasa, dalam menjalani masa-masa pension beliau, selalu mengabdikan hari-harinya merawat Pura Pasek ini.

Menghubungkan cerita Pura Pasek yang ada di tanah Jawi ini dengan issue-issue yang berkembang belakangan ini di daratan bali, dimana seiring dengan berjalannya waktu dan semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat di Bali, akhirnya menumbuhkan keingintahuan untuk menelusuri lebih jauh tentang asal-usul  nenek moyang atau leluhur keluarga mereka, yang di mulai tidak hanya ketika leluhur mereka berdomisili di balidwipa (pulau bali), melainkan di telusuri lebih jauh ketika nenek moyang mereka masih berdomisili di jawadwipa (pulau jawa) ketika kerajaan majapahit masih mengalami masa kejayaannya. penelitian oleh setiap individu mengenai silsilah keluarga / kelompok ini kemudian di tuliskan kedalam suatu babad, sehingga akhirnya di Bali saat ini dikenal berbagai macam Babad.  seperti di tuliskan di website babadbali.com (http://www.babadbali.com/babad/babadbali.htm ) yaitu:

Lebih lanjut, menelusuri silsilah keluarga sedari nenek moyang baik dengan pergi ke tanah jawi atau melalui membaca babad yang di tulis orang lain, di bali saat ini sepertinya sedang menjadi trend. Salahkah kegiatan mereka ini, tentu tidak. kegiatan untuk mengetahui silsilah keluarga leluhur mereka, disamping akan menambah wawasan dari setiap pembacanya, membaca babad ini juga di khawatirkan sebagian orang akan memisahkan masyarakat bali menjadi kelompok-kelompok (soroh / clan) karena menemukan silsilah dirinya dalam babad.  kekhawatiran yang berlebihan ini mungkin masih dianggap wajar, hal ini untuk menghindarkan terulangnya fenomena masyarakat bali dari penafsiran yang berbeda-beda akan suatu konsep kehidupan bermasyarakat. sebagai contoh penafsiran akan keberadaan sistem wangsa di dalam kehidupan sosial kemasyarakat umat Hindu di Bali. dimana kalau menurut Manawa Dharmasastra, sistem wangsa dalam masyarakat Bali bukanlah untuk menentukan stratifikasi sosial paradigma tinggi-rendah (tidak setara antara wangsa yang satu dengan wangsa yang lainnya). Wangsa itu tidak menentukan seseorang itu Brahmana, Ksatria, Waisya maupun Sudra, melainkan sistem wangsa itu di buat untuk menentukan keakraban atau kerukunan famili, dan bukan untuk menentukan kasta atau varna seseorang. kita harapkan semoga masyarakat bali tidak terjerumus akan pemahaman yang sempit akan Babad ini. Kembali ke topik Babad, untuk apa sesungguhnya fungsi keberadaan Babad itu atau untuk apa Babad itu di tulis?  pada prinsipnya Babad itu adalah sejarah. Babad atau sejarah di tulis untuk melihat perjalanan sebuah peradaban. Dari penulisan ini kita menjadi tahu, siapa tokoh yang memainkan peran dalam peradaban itu.

Mengambil contoh dari salah satu Babad diatas yaitu Babad Pasek, umat Hindu dari seluruh pelosok daratan Bali yang bermarga Pasek, belakangan ini tidak hanya melakukan Tirta Yatra persembahyangan bersama ke Pura Dasar Gelgel Klungkung yang di yakininya sebagai induknya Pura Pasek di Bali , melainkan juga melakukan Tirta Yatra persembahyangan bersama ke Pura Patilesan (peristirahatan) Ki Ageng Pemacekan yang oleh masyarakat Bali di yakininya sebagai induknya Pura Pasek – pura Pasek yang ada di Bali,  dan belakangan ini selalu menunjukkan statistik yang kian terus meningkat bila di lihat dari jumlah kendaraan bis rombongan dari bali.

Akhir kata, seandainya ada pembaca artikel ini yang bermarga Pasek yang tertarik untuk melakukan wisata spiritual Tirta Yatra ke Pura Pasek yang ada di Jawa ini, berikut alamat detailnya: Pura Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan, desa Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

Sumber : http://kemoning.info/blogs/?p=317

Read More