Hari Pertama Kerja, Bupati Juliyatmono Kunjungi Colomadu

Bupati Karanganyar Juliyatmono dan Wakil Bupati Rohadi Widodo saat bertemu dengan Muspicam, Kepala Desa dan Kepala Sekolah Kecamatan Colomadu, Senin (16/12)

Bupati Karanganyar Juliyatmono dan Wakil Bupati Rohadi Widodo saat bertemu dengan Muspicam, Kepala Desa dan Kepala Sekolah Kecamatan Colomadu, Senin (16/12)

Karanganyar, Selasa (17/12/2013)

Pasca dilantik pada Minggu (15/12),  Bupati Karanganyar Juliyatmono dan Wakil Bupati Rohadi Widodo mengunjungi Colomadu untuk berkantor.

Dihadapan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Muspicam, Kepala Desa, Kepala Sekolah, Bupati Juliyatmono menjelaskan prioritas Colomadu dan Gondangrejo nantinya secara infrasruktur dibereskan. “Setelah itu partisispasi masyarakat untuk memiliki Karanganyar dan kontribsusi segala aspek kemasayarakat sangat tinggi,” kata Juliyatmono, saat di Kantor Kecamatan Colomadu, Senin (16/12) siang.

Dia yakin dengan pembenahan berbagai infrastruktur dapat meningkatkan tingkat ekonomi masyarakat dan mendatangkan investor.

“Colomadu ini jalur vital, dekat dengan bandara. Dengan memberikan fasilitas yang lengkap wisatawan yang lewat bisa mampir,” ujarnya. pd

Read More

Hari Ini, Bupati Karanganyar Juliyatmono Ngantor di Colomadu

Bupati Karanganyar, Juliyatmono pada Senin (16/12) ini akan berkantor di Colomadu. Hal itu dilakukan antara lain guna memenuhi permintaan warga Colomadu saat berkampanye ketika Juliyatmono menjagokan diri menjadi calon bupati karanganyar berpasangan dengan Rohadi Widodo beberapa waktu lalu.

“Saya sudah koordinasi dengan Pak Yuli, Beliau jadi akan berkantor di Colomadu. Tetapi sampai kapan saya tidak tahu karena Beliau juga tidak memberi ancar-ancar sampai kapan,” ujar Camat Colomadu, Joko Budi Utomo ketika dihubungi Espos melalui telepon selulernya, Minggu (15/12).

Seperti diwartakan sebelumnya guna menyambut Bupati Karanganyar terpilih, Juliyatmono yang berencana ngantor di Colomadu, sejumlah pegawai kecamatan setempat membersihkan lingkungan kantor, Jumat (13/12). Mereka antara lain menguruk jalan masuk ke kantor kecamatan, membersihkan halaman belakang, mengecat kamar mandi dan sebagainya.

Lebih lanjut Camat Colomadu menjelaskan pihaknya pada Senin ini berencana menggelar rapar koordinasi kecamatan (rakorcam). Terkait itu pihaknya mengundang Muspika Colomadu, Kepala UPT se-Kecamatan Colomadu, KUA Kecamatan Colomadu, Kepala PDAM Wilayah Bagian Barat, Kepala SMP, SLA negeri/swasta se-Coloamdu, kepala desa se-Colomadu dan sebagainya.

“Nanti rakorcam akan kami laksanakan pukul 10.30 WIB di Pendapa Kantor Kecamatan Colomadu. Karena itu kami berharap seluruh tamu undangan hadior tepat waktu karena rakorcam ini sekaligus perkenalan dengan Bupati Karanganyar, Juliyatmono,” ungkap Joko.

Menurut Joko hingga kemarin pihaknya tak tahu agenda Bupati selama berkantor di Colomadu. Sebab Bupati belum memberi tahukan persoalan tersebut.

Dia menambahkan kendati Bupati baru akan berkantor di Colomadu, dia mengaku tak mengubah ruangan kantornya. Karena Bupati juga tak menginstruksikan hal semacam itu. Untuk itu Bupati rencananya diberi ruangan yang biasa ditempati Joko.

“Nanti saya gampang, bias berbaur dengan staf kecamatan lainnya. Karena ruangan staf yang ada di sebelah ruangan saya kan masih bisa diberi meja dan kursi.”

Secara terpisah Kasi Trantib Kecamatan Colomadu, Sunardjo mengungkapkan pihaknya telah menyiapkan tempat untuk rakorcam. Namun jika nanti pendapa yang disiapkannya penuh, undangan bisa mengambil tempat di luar yang telah disediakan.

Sumber : http://www.solopos.com

Read More

Harga Sapi Melambung

Kendati Hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban masih sekitar 25 hari lagi, harga  sapi telah melambung tinggi. Bahkan kenaikan harga tahun ini dinilai jauh lebih tinggi daripada tahun 2012.

“Kalau dibanding tahun lalu kenaikan harga sapi tahun ini mencapai 30 persen atau sekitar Rp3 juta per ekor. Karena itu tidak heran kalau tahun ini hingga H-26 Idul Adha, pembeli sapi masih sepi,” ujar salah seorang pedagang sapi di Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Yanto, 36, ketika ditemui  di kediamannya, Rabu (18/9/213).

Menurut dia saat ini dia memiliki 15 ekor sapi jenis jawa dan metal. Dari jumlah itu lima di antaraya sudah laku dipesan konsumen. Harga sapi miliknya berkisar antara Rp13 juta sampai Rp17 juta per ekor. Dia menjelaskan tahun lalu dia berhasil menjual 25 ekor sapi. Namun pada Idul Adha tahun ini dia untuk semetara baru menyetok 15 ekor sapi.

“Pada Idul Adha sekarang ini konsumen rata-rata mencari sapi yang berharga Rp12 jutaan. Karena dana yang mereka miliki dari hasil urunan beberapa orang rata-rata sekian itu. Dulu harga sapi yang sekarang dijual Rp12 juta itu bisa dibeli kira-kira Rp9 juta per ekor.”

Dia menuturkan sapi dagangannya dibeli dari pasar hewan di kawasan Sumberlawang, Sragen. Selain harga relatif murah, karena belum banyak jatuh ke tangan bakul, sapi dari Sumberlawang banyak berasal dari desa yang masih sehat.

Sepinya pembeli juga dirasakan salah seorang pedagang sapi lainnya di Gawanan, Suparno, 65, yang ditemui secara terpisah. Kendati demikian dia optimistis 10 hari menjelang Idul Adha sapi dagangannya bakal banyak diserbu pembeli. “Sekarang ini sapi saya ada 25 ekor, dari jumlah itu sembilan di antaranya sudah laku. Namun pemilik sapi itu belum mengambil, karena sengaja dititipkan di tempat saya. Nanti sapi ini baru akan diambil pada Idul Adha,” papar dia.

Dia menilai sepinya pembeli menjelang Idul Adha akibat banyaknya penjual sapi secara musiman di berbagai tempat. Karena itu dia juga mengaku tak berani banyak menyetok sapi sebagai dagangan. Karena itu dia berharap semakin dekat dengan pelaksanaan Idul Adha akan banyak masyarakat yang membeli sapi untuk kurban.

Dia menjelaskan harga sapi miliknya berkisar Rp12 juta sampai Rp15 juta per ekor. Suparno menjamin sapi dagangannya yang dikulak dari pasar hewan di Kalioso sehat.

Read More

Sawah Teruruk Material, Petani Mengeluh

Sejumlah petani yang sawahnya berada di dekat salah satu perumahan di Desa Klodran, Kecamatan Colomadu, Karanganyar mengeluh. Karena sawah dan saluran irigasi mereka teruruk material atau limbah pembangunan sebuah perumahan berupa batu dan pasir.

“Sawah saya bagian tepi yang ada di tepi jalan, teruruk pasir dan batu dari perumahan itu sehingga tidak bisa ditanami. Luasnya cukup lumayan karena meski lebarnya hanya kira-kira satu meter tapi memanjang sampai kira-kira 200 meter. Belum lagi saluran air di sepanjang jalan menuju kompleks perumahan itu tadinya juga teruruk pasir dan batu zehingga air tidak bisa mengalir,” ujar salah seorang warga Klodaran, Warsono, 57, ketika ditemui.

Menurut dia akibat teruruk limbah itu sebagian tanah di sawahnya tak bisa ditanami. Karena itu dia berharap pihak perumahan segera membersihkan batu dan pasir yang menimbun sawah dan saluran irigasi tersebut. Dia mengungkapkan beberapa waktu lalu telah menyampaikan keluhan itu kepada Kepala Desa (Kades) Klodran, Warsito. Namun kendati Kades dinilai telah menyampikan persoalan ini ke pihak pengembang, hingga kemarin belum ada tindakan nyata pembersihan limbah itu.

Terpisah, petani setempat lainnya, Ito, 47, mengatakan pihakya bersama beberapa petani lainnya terpaksa membersihkan saluran irigasi dari limbah yang menutup saluran itu secara gotong royong. Sebab keberadaan batu dan pasir pada saluran irigasi tersebut dinilai mengganggu kelancaran arus air.

“Air yang dibutuhkan petani untuk mengairi sawahnya kan melalui saluran irigasi tersebut. Karena itu kami beberapa hari lalu melakukan gotong royong membersihakan saluran irigasi ini,” papar Ito.

Dia berharap pascapembersihan saluran irigasi, air bisa mengalir dengan lancar. Sebab pada musim tanam II ini para petani dinilai banyak membutuhkan air untuk mengairi tanaman mereka.

Sementara berdasar pantauan di lokasi, batu dan pasir hasil pengerukan dari saluran irigasi masih menumpuk di dekat saluran. Dikhawatirkan jika tak segera disingkirkan akan longsor kembali ke saluran tersebut.

Read More

Desa Gajahan Colomadu Peroleh Bantuan Traktor

Pemerintah Desa Gajahan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar menjadi satu-satunya desa di Colomadu yang mendapat bantuan traktor dari Dinas Pertanian (Dispertan) Provinsi Jawa Tengah. Padahal, lahan pertanian di desa tersebut kian menyusut.
Ketua Kelompok Tani Makaryo Subur, Gajahan, Rujito mengatakan bantuan berupa traktor tersebut masih dalam tahap pengurusan administrasi.

“Saya akan ke Semarang untuk mengurus syarat administrasi, Selasa (30/7/2013). Kalau datangnya bantuan belum tahu. Tapi sudah dipastikan dapat,” ujar Kasi Pemerintahan Gajahan tersebut.

Menurutnya, pengajuan bantuan sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu. Kala itu, lanjutnya, terdapat 200-an desa di Karanganyar yang ikut mengajukan permohonan bantuan. Tetapi, Dispertan Jawa Tengah hanya mengabulkan sebagian kecil dari jumlah tersebut. Saat itu [pengajuan bantuan], kata dia, luas tanah pertanian masih besar. Namun kini, lahan pertanian makin sedikit. Hal iitu terjadi lantaran banyak sawah yang dialihfungsikan menjadi perumahan.

“Kalau ditotal, memang masih ada 28 hektare sawah. Tetapi kebanyakan sudah menjadi milik orang luar daerah. Praktis, hanya sebagian kecil petani asli yang kelak bisa memanfaatkan traktor hibah untuk menggarap sawah,” kata dia.

Ia menambahkan, anggota kelompok tani yang ia pimpin hanya 15 orang. Kebanyakan petani itu pun bukan pemilik tanah, tetapi hanya petani penggarap lahan. Sementara itu, Kades Gajahan, Hermanto,  mengungkapkan luas tanah kas dan bengkok di wilayahnya sekitar 10 hektare. Dengan kondisi tersebut, praktis, hanya 18 hektare sawah nonbengkok dan nonkas yang digarap para petani.

Read More

Colomadu Karanganyar Digerojok Rp19 Miliar

Kecamatan Colomadu, Karanganyar merupakan kawasan Karanganyar paling ujung barat kebanjiran bantuan. Dalam beberapa bulan terakhir ini kawasan yang merupakan pintu gerbang Karanganyar bagian barat mendapat dana bantuan setidaknya Rp19 miliar.

“Bantuan yang pertama adalah untuk pembuatan reservoar di Desa Bolon senilai Rp12 miliar berupa hibah dari pemerintah pusat. Kedua adalah dana pembuatan saluran tersier dari Desa Tohudan ke Desa Gawanan senilai Rp7 miliar, dana PNPM Rp783.750 dan sebagainya,” ujar Camat Colomadu, Joko Budi Utomo ketika ditemui.

Menurut dia, asal bantuan itu dari berbagai sumber di antaranya dari pemerintah pusat, APBD dan sebagainya. Dari sejumlah bantuan itu beberapa di antaranya sudah dibelanjakan dan beberapa di antaraya sudah jadi.

Bahkan untuk reservoar yang dibangun di Desa Bolon dalam waktu dekat ini akan segera diresmikan. Karena volume pembangunan sudah mencapai kira-kira 95 persen.

Dia memperkirakan jumlah bantuan dana pembangunan dari berbagai sumber yang dialokasikan di Kecamatan Colomadu, paling besar se-Karanganyar.

“Setahu saya, kecamatan lain di luar Kecamaran Colomadu tidak ada yang menerima bantuan dana pembangunan sebesar itu. Jadi, tidak semuanya benar kalau dikatakan Colomadu menjadi wilayah Karanganyar yang pembangunannya tidak dipikirkan,” papar Joko.

Sementara itu salah seorang warga Bolon, Yono, 62, berharap dengan dibangunnya reservoar bisa bermanfaat bagi warga sekitar. “Saya tidak tahu secara persis bangunan itu untuk apa? Tetapi saya dengar bangunan itu untuk menampung air sungai yang akan diolah menjadi air minum.”

Jika dugaannya benar, papar dia, diharapkan warga sekitar yang membutuhkan air tersebut hendaknya mendapat prioritas. Dengan demikian warga tidak hanya melihat bangunan, namun manfaat nyata justru akan dinikmati warga lain yang jauh dari lokasi reservoar.

Read More

Wereng dan Tikus Serang Padi di Perbatasan Colomadu

Hama tikus dan wereng mulai menyerang sejumlah tanaman padi di wilayah perbatasan Kecamatan Colomadu, Karanganyar.

Wilayah tersebut di antaranya di Klodran, Baturan dan sebagainya. Karena itu beberapa petani juga mulai mengantisipasinya dengan berbagai cara.

“Untuk menanggulangi hama tanaman wereng kami menyemprotnya dengan obat. Sedagkan untuk tikus, kami melakukan geropyokan,” kata salah seorang petani di Baturan, Colomadu, Karanganyar, Suparto, 65, di sela-sela menggarap sawahnya, akhir pekan kemarin.

Menurut dia hama wereng mulai menyerbu tanaman padi para petani dari berbagai usia. Dia yang sawahnya berbatasan dengan Sumber, Solo mengaku tak tahu secara persis penyebab serangan kedua hama tersebut. Kendati demikian sejauh ini para petani megklaim masih bisa mengatasinya.

Keluhan serupa juga dikemukakan petani lainnya, Sukatmin, 55. Dia yang memiliki lahan sawah berdekatan dengan wilayah Solo juga mengaku tanaman padinya diserang hama wereng dan tikus. Karena itu dia yang hendak menanam padi mengaku sedikit was was. “Sebenarnya saya mau menanam padi lagi, tetapi karena ada hama wereng dan tikus saya tentu harus lebih intensif mengawasi hama-hama ini,” kata dia.

Secara terpisah Mantri Tani Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Alex Pryono membenarkan adanya serangan hama wereng di berbagai tempat di perbatasan Colomadu. Namun secara keseluruhan dinilai masih dalam taraf yang bisa dikendalikan.

“Daerah yang berbatasan dengan wilayah luar Colomadu seperti Malangjiwan dengan Kartasura, Klodran dengan Boyolali, Baturan dengan Solo dan sebagainya memang rentan serangan hama. Karena itu petani harus mewaspadainya,” papar dia.

Justru karena serangan hama dinilai masih sporatid, dia mengimbau para petani segera mewaspadai dan mengantisipasinya. Sebab jika serangan hama belum begitu parah dinilai akan jauh lebih mudah mengendalikannya dibanding ketika tanaman sudah diserang parah. Untuk hama pengendalian agar hama wereng tidak leluasa berkembang biak, pihaknya mengaku telah menyediakan obat pestisida secara gratis. Karena itu para petani yang membutuhkan bisa mengajukannya melalui kelompok tani masing-masing.

Dia menjelaskan bermunculannya hama di beberapa wilayah itu dipengaruhi berbagai faktor. Di antaraya akibat cuaca, pola tanaman tanaman padi yang tak serempak dan sebagainya.

Read More

Tanah Urukan Perumahan Jadi Sarang Tikus

Maraknya pembangunan perumahan di beberapa tempat di Desa Baturan, Kecamtan Colomadu, Karanganyar akhir-akhir ini dinilai berdampak terhadap populasi tikus setempat.

Karena tanah uruk yang digunakan untuk meratakan tempat dibilai sering dimanfaatkan tikus untuk membuat sarang.

“Sekarang ini ada kira-kira 5 hektare tanaman padi di Baturan yang rusak diserang hama tikus. Jumlah kerusakan itu memang tidak satu blok, tetapi kalau disatukan jumlahnya mencapai kira-kira 5 hektare itu,” ujar Kasi Ekonomi dan Pembangunan Desa Baturan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Sumari ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya, Senin (1/4/2013).

Menurut dia kendati serangan hama tikus pada sejumlah tanaman padi milik para petani setempat masih terkendali, serangan berlangsung sepanjang tahun. Hal itu terjadi karena hama tikus membuat sarang pada tanah-tanah uruk yang banyak terdapat di beberapa kawasan yang dijadikan kompleks perumahan.

Hal lain yang dinilai menjadi penyebab langgengnya serangan hama tikus di desanya antara lain akibat pola tanam tak serentak, areal persawahan tersekat-sekat perumahan dan sebagainya. Kondisi tersebut dinilai menjadi habitat memadai bagi hama tikus.

Pada bagian lain, akibat serangan hama tikus tersebut, ujar dia, para petani menderita kerugian kira-kira Rp15 juta. Karena padi yang diserang tidak semuanya padi tua siap dipanen.

“Tanaman padi yang diserang tikus itu bervariasi ada yang 45 hari, tapi juga ada yang siap dipanen. Namun tanaman padi milik sejumlah petani juga ada yang disarang hama lain yaitu sundep. Meskipun tidak parah, hal ini juga memengaruhi hasil panen menjadi tidak maksimal,” kata dia.

Secara terpisah salah seorang petani setempat, Nyoto, 62, membenarkan banyaknya hama tikus di sawahnya. Hama ini biasanya menyerang tanaman padi pada malam hari. Kendati hama tikus banyak terdapat di sawah-sawah di Baturan, dia tetap menanam padi. Sebab dia mengaku hanya itu yang bisa dilakukan untuk mencari nafkah.

“Ini di tebing-tebing seperti ini banyak dihuni tikus. Untuk menanggulangi serangan hama tikus, kami menggunakan obat-obatan yang kami peroleh dari kelompok tani,” kata dia. Iskandar

Tanah urukan di dekat areal sawah yang diratakan menggunakan alat berat di Desa Baturan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, kemarin, disinyalir menjadi sarang hama tikus.

Read More

BAWANG MAHAL: Petani Tawangmangu Tak Nikmati Lonjakan Harga

Tingginya harga bawang putih di pasaran akhir-akhir ini membuat sejumlah petani bawang putih di Tawangmagu masygul. Karena tanaman bawang mereka rata-rata baru berusia satu bulan.

“Sebenarnya di sentra bawang di empat desa di Tawangmangu ada 50 hektare. Tetapi tanaman itu belum bisa dipanen sebab baru berusia satu bulan,” ujar Camat Tawangmangu, Yopi Ekojati Wibowo ketika ditemui di sela-sela mengikuti acara pengukuhan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Karanganyar di Hotel Lorin, Desa Blulukan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Jumat (15/3/2013).

Seperti diwartakan sebelumnya sejumlah pengusaha warung makan skala kecil di Kecamatan Colomadu mengaku bingung menetapkan harga makanan yang mereka jual. Hal itu terjadi akibat mahalnya beberapa jenis bumbu dapur seperti bawang putih, bawang merah, cabai dan sebagainya.

“Harga bawang putih mencapai Rp50.000 lebih per kilogram, padahal bumbu masakan saya banyak menggunakan bawang putih. Naiknya harga-harga bumbu dapur terutama bawang putih membuat pusing kepala,” papar salah seorang penjual tahu kupat, Musiyem, 41, ketika ditemui di warungnya, Paulan, Colomadu, Kamis (14/3).

Lebih lanjut Yopi mengatakan di Kecamatan Tawangmangu terdapat empat desa yang menjadi sentra tanaman bawang merah dan bawang putih. Empat desa itu adalah Gondosuli, Kalisoro, Pancot dan Tengklik.

Berdasar panenan sebelumnya bawang putih Tawangmangu yang dinilai merupakan varietas baru ini berkualitas cukup bagus. Selain itu hasil panen yang diperoleh para petani beberapa waktu lalu dinilai memuaskan.

Dia mengatakan jika tanaman bawang putih para petani saat ini sudah bisa dipanen akan menguntungkan para petani bawang putih di wilayahnya. “Sebenarnya bukan karena tanaman bawang para petani telat panen, tetapi karena situasi pasar yang sulit ditebak.”

Sebenarnya, ujar dia, dalam tiga kali panen lalu, hasil panen yang diperoleh para petani cukup lumayan. Karena kawaswan itu memang cukup ideal untuk tanaman bawang merah dan bawang putih.

Sumber : http://www.solopos.com

Read More

Gawanan Siap Rancang Perdes Makam

Kepala Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Murdiyanto mengatakan pihaknya siap merancang peraturan desa (perdes) tentang tanah makam di desanya. Karena pihaknya tak mau Gawanan sebagai tuan rumah kesulitan memakamkan jenazah warganya sendiri.

“Soal tanah makam ini penting, nanti kami akan segera membahas persoalan ini dengan BPD. Sebenarnya seluruh atau sembilan makam yang ada di desa kami masih bisa difungsikan semua, tapi penataan sejak dini kan juga harus kami lakukan,” papar dia, Senin (4/3/2013).

Dia menjelaskan dari sembilan tanah makam di desanya, ada salah satu tanah makam yang telah terisi cukup padat. Berdasar itu lah pihaknya menganggap perlu adanya perdes tentang pembatasan pemakaman di desanya bagi warga di luar Gawanan.

Dia mengakui selama ini ada warga luar desanya memakamkan sanak saudaranya di Gawanan. Untuk itu sesuai ketentuan mereka dikenakan biaya administrasi Rp300.000 per jenazah sebagai ongkos bedah bumi.

Guna memperkecil adanya orang luar desa yang dimakamkan di Gawanan, pihaknya akan membawa persoalan ini pada pertemuan dengan BPD yang akan datang. Namun hal itu bisa disiasati dengan berbagai cara di antaranya menaikkan biaya bedah bumi. Jika semula ongkos bedah bumi warga luar desa Rp300.000 untuk sekali pemakaman, di masa mendatang mungkin akan dinaikkan.

“Mungkin nanti biaya bedah bumi di Gawanan akan dikenakan Rp1,5 juta per jenazah atau berapa kan bisa.”

Relatif tingginya biaya pemakaman di Gawanan dimaksudkan agar mereka yang dari luar desa tidak memakamkan jenazah di desanya. Sebenarnya cara meninggikan biaya makam itu dimaksudkan untuk menolak secara halus warga luar Gawanan yang hendak memakamkan jenazah di desanya.

Sedangkan salah seorang warga Gawanan, Riri, 43, juga tak keberatan dengan langkah yang akan ditenpuh kadesya. Namun dia berharap tanah makam di desanya dirawat dengan baik, sehingga tak terkesan angker atau menakutkan.

Read More