Gedung Arpusda Karanganyar Dapat Kucuran Dana Rp3 Miliar

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) bakal mengucurkan bantuan senilai Rp3 miliar untuk merevitalisasi Gedung Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Karanganyar.

Bupati Karanganyar, Rina Iriani, menyatakan pihaknya telah memastikan keseriusan Pemprov Jateng untuk menggelontorkan dana APBD Provinsi. Dia optimistis proses pembangunan Gedung Arpusda dapat dimulai pada 2014 mendatang.

“Kondisi Gedung Arpusda memang kurang memadai. Kami terus berupaya agar gedung itu bisa diperbaiki, Alhamdulilah tahun ini pemprov mau membantu,” kata Rina saat dijumpai seusai acara Pengukuhan dan Rakor Pengurus Daerah Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Karanganyar di Gedung DPRD Karanganyar, Selasa (29/10/2013).

Ketua Pengurus Daerah IPI Daerah Karanganyar, Parwoto, mengaku senang mendengar kabar kucuran dana perbaikan Gedung Arpusda tersebut. Menurutnya, kondisi gedung itu memang tidak layak sehingga jumlah pengunjung perpustakaan terus merosot. “Ya syukurlah kalau Pemprov mau mengucurkan bantuan Rp3 miliar, saya sangat berharap Gedung Arpusda segera dirombak sehingga lebih layak,” tutur dia.

Sebenarnya, lanjut Parwoto, letak Gedung Arpusda cukup strategis karena berada di tengah Karanganyar Kota dan berdekatan dengan sejumlah sekolah. “Tapi posisi gedung tidak menghadap jalan, bahkan tertutup gedung lain, jadi orang tidak melihat, harusnya memang ditata ulang,” imbuh dia.

Parwoto menuturkan pihaknya baru dapat memaksimalkan pengelolaan perpustakaan setelah Gedung Arpusda usai dibangun. IPI akan merancang sejumlah strategi untuk menghidupkan lagi minat baca masyarakat, khususnya di perpustakaan. Selain menanti perealisasian pembangunan Gedung Arpusda, pihaknya juga telah merancang pembukaan perpustakaan desa di tiap daerah. Hingga saat ini, lebih kurang telah ada 12 perpustakaan desa yang mulai beroperasi di wilayah Karanganyar Kota, Jumapolo, Jumantono, Matesih, dan Jenawi. “Sebelum diberi bantuan buku, pengurus perpustakaan desa juga telah mengikuti diklat di Provinsi. Kami juga menggandeng ibu-ibu PKK untuk mengelola perpustakaan,” ungkap Parwoto.

Sementara itu, Kasi Layanan Arsip dan Dokumentasi Arpusda Karanganyar, Suwardi, mengungkapkan proposal berikut detail engineering design (ded)pembangunan Gedung Arpusda telah diajukan ke DPRD Karanganyar sejak 2011 silam. Namun, usulan itu belum mendapat tanggapan lantaran keterbatasan alokasi dana APBD Karanganyar untuk bidang arsip dan perpustakaan.

Sumber : http://www.solopos.com

Read More

Dilanda Kekeringan, Petani Pusokan Padinya

Para petani di daerah Popongan, Karanganyar Kota terpaksa memusokan tanaman padinya lantaran tidak mendapat pasokan air yang mencukupi. Rata-rata umur padi yang dipusokan tersebut baru dua bulan dengan kondisi sudah mengering.
Salah seorang petani asal Dusun Arjosari, Popongan, Karanganyar Kota, Sunardi (55), mengatakan para petani di daerahnya tidak bisa berbuat banyak dan terpaksa memotong tanaman padinya untuk dijadikan makanan ternak. “Karena sudah mengering ya dipotong saja untuk pakan ternak. Ya lebih bermanfaat daripada didiamkan,” ujarnya, Rabu (10/10).
Saat dibabat, tanaman padi milik Sunardi tampak kuning kecokelatan karena kekeringan. Bersama dengan beberapa petani lainnya, ia sebenarnya mengaku sedih dengan pilihan tersebut. “Saya sedih, namun ini risiko menanam padi di musim kemarau. Kami kira masih dapat pasokan air dari irigasi. Ternyata hanya saat awal menanam saja (dapat pasokan air). Mau pakai disel juga tidak ada,” ujarnya.
Pernyataan serupa juga dilontarkan Pawiro (60), petani asal daerah setempat. Ia mengaku bahwa sekitar 50 persen lahan dari total 100 hektare lahan yang ditanami padi tidak bisa dipanen. Sedangkan sisanya yang bisa dipanen itu pun kualitasnya tidak begitu baik. “Biasanya saat air cukup hasil padi pasti melimpah dengan kualitas yang sangat bagus. Karena ini musim kemarau, ya ini risikonya,” ungkap Pawiro.
Terkait kerugian yang dialami, Pawiro mengaku, bisa mencapai Rp 6 juta di setiap hektarenya. Nilai tersebut baru ongkos produksi, belum lagi ongkos tenaga kerja dan ongkos di luar produksi lainnya. “Kalau padi tersebut panen, kami bisa menghasilkan Rp 18 juta per hektare. Itu minimal, bahkan kadang bisa lebih,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengakui adanya lahan padi yang dipusokan dalam musim tanam kedua ini. Namun pihaknya masih akan melakukan pengecekan ke lapangan terkait luas lahan padi yang dipusokan. “Kami masih mengecek di lapangan, biasanya laporan tengah bulan sudah ada datanya. Itu wajar karena saat ini baru akan menginjak musim hujan,” ujarnya.
Menurutnya, kejadian banyaknya padi yang dipusokan karena kekeringan tersebut akan dilaporkan ke Kementerian Pertanian. Sehingga diharapkan para petani mendapatkan bantuan benih untuk musim tanam ketiga kelak. “Tapi kami hanya mengusulkan, itu terserah pusat,” ujarnya.

Read More

Waduk Lalung Mengering, 30 Hektare Padi Terancam Gagal Panen

Musim kemarau yang saat ini melanda membuat air Waduk Lalung, Karanganyar Kota mengering. Kedalaman air pun hanya tinggal 1 meter, sehingga mengancam lahan pertanian sedikitnya 30 hektare di sekitar waduk.
Kasie Trantib Kelurahan Lalung, Slamet Riyadi, mengatakan para petani sekitar waduk memang menggantungkan irigasi dari Waduk Lalung. Sehingga jika waduk mengering, praktis ancaman gagal panen menanti.
“Waduk mulai mengering sejak Juni lalu. Proses mengeringnya pun sangat drastis. Pada kondisi normal waduk bisa menampung air hingga 5 juta meter kubik. Sekarang airnya hanya tinggal sedikit, di tengah saja,” ujarnya, Rabu (5/9).
Lahan pertanian yang paling bergantung dengan Waduk Lalung adalah di sisi utara waduk. Saat normal air waduk dialirkan melalui bendungan dan sungai hingga sampai ke area sawah terjauh di sisi utara.
“Menyusutnya volume air waduk ini jelas berpengaruh dengan lahan pertanian. Dan saat ini baru memasuki 45 hari masa tanam, yang seharusnya selama 90 hari,” ujar Slamet.
Slamet menjelaskan, kondisi mengeringnya waduk kemungkinan akan berlangsung hingga akhir September nanti. Dirinya pun berharap musim penghujan segera datang agar pertanian tidak terganggu. “Usia masa tanam saat ini sebenarnya pada posisi tanaman padi sangat membutuhkan air. Kalau nanti sampai akhir September ini tak ada hujan, dipastikan waduk akan semakin mengering,” tambahnya.
Sementara, saat ini di pinggiran waduk yang mengalami kekeringan banyak ditumbuhi ilalang dan terlihat hamparan bebatuan. Warga di sekitar waduk pun menggali bebatuan itu selanjutnya dijual. “Biasanya batu-batu itu dipecah menggunakan palu, kemudian dijual,” ujar Slamet.

Read More

Perubahan Musim, Waspadai Demam Berdarah dan Diare

Masyarakat diimbau untuk mewaspadai penyakit diare dan demam berdarah (DB) seiring dengan pergantian musim saat ini. Kepala Dinas Kesehatan Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo, mengatakan pada musim pancaroba seperti saat ini tubuh menjadi rentan terhadap penyakit.
“Biasanya saat pergantian musim berlangsung, sehari bisa panas terik disertai debu yang banyak, sehari lagi hujan. Bisa selang seling seperti itu, sehingga perlu diwaspadai,” ujar Cucuk, Selasa (4/9).
Untuk DB, Cucuk mengaku penyakit ini sering muncul dan menyerang warga di saat pergantian musim. Ia menyebutkan ada tiga kecamatan di Karanganyar yang warganya paling sering diserang penyakit tersebut, yakni Jaten, Colomadu, dan Karanganyar Kota.
Di tiga kecamatan itu, dijelaskan Cucuk, merupakan wilayah perkotaan yang masyarakatnya sedikit abai terhadap keadaan lingkungan. Ini berbeda dengan masyarakat pedesaan yang cukup peduli dan mau bergotong-royong untuk menciptakan lingkungan bersih. “Masyarakat kota biasanya kurang sadar dengan kebersihan lingkungan, pemeriksaan jentik nyamuk, dan semacamnya. Hal-hal itulah yang masih susah untuk disadarkan,” ujarnya.
Meski demikian, Cucuk mengaku selama dua tahun terakhir jumlah penderita DB di Karanganyar mengalami penurunan. Untuk tahun penderita DB hanya mencapai puluhan. “Saya belum bisa memastikan jumlahnya, tetapi yang jelas mengalami penurunan” ungkapnya.
Sedangkan penyakit diare, Cucuk mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga pola konsumsi makanan. Makanan higienis dan banyak mengonsumsi vitamin C dapat membantu menjaga stamina tubuh. “Perbanyak pula minum air putih agar badan selalu terjaga,” tambahnya.

Read More

Tahun Ini 497 Jemaah Haji Diberangkatkan

Tahun ini sebanyak 497 jemaah haji asal Karanganyar bakal diberangkatkan ke Tanah Suci. Dari jumlah itu, sebagian besar sudah melunasi pembayaran ongkos naik haji. “Yang sudah lunas sekitar 476 orang, dan pelunasan terakhir sampai dengan 8 September mendatang,” kata Kabag Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Karanganyar, Tarsa, Kamis (30/8).
Sejauh ini Pemkab sendiri belum bisa memastikan kapan jemaah haji tersebut akan diberangkatkan. Jadwal pemberangkatan sepenuhnya kewenangan pusat. Dan saat ini jemaah haji masih dalam tahap pembekalan. “Hari ini (kemarin) masih pembekalan dan rencananya dua hari,” ujar Tarsa.
Pembekalan pertama dilakukan di Pendapa Rumah Dinas Bupati dengan materi seputar teori haji. Kemudian dilanjutkan hari ini, Jumat (31/8), praktik manasik haji di dua tempat. “Praktiknya manasik digelar di Masjid Agung Karanganyar dan Lapangan Malanggaten, Kebakkramat,” tambah Tarsa.
Dari ratusan jumlah jemaah haji itu, paling banyak dari Kecamatan Karanganyar Kota yaitu mencapai 100-an jemaah. Kemudian disusul Kecamatan Jaten sekitar 80 orang. “Di sisa kecamatan lainnya jumlahnya merata,” kata Tarsa.

Read More

Karanganyar Tercepat Tuntaskan E-KTP

Pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) di Karanganyar masuk menjadi peringkat tiga tercepat di Jawa Tengah. Banjarnegara dan Temanggung menduduki peringkat satu dan dua dalam menyelesaikan pelayanan e-KTP tersebut.
Hingga akhir bulan Juni 2012 ini, Kepala Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Karanganyar, Sucahyo, menjelaskan sekitar 447.756 wajib KTP melakukan rekam data. “Untuk pencapaian penyelesaian e-KTP, kami sudah mencapai sekitar 68,66 persen,” jelas Sucahyo, Jumat (29/6).
Menurutnya target perampungan pelayanan wajib KTP maju dari 31 Oktober 2012 menjadi pertengahan Oktober. “Kami optimistis selesai Oktober nanti. Sisa wajib KTP tersebut masih ada sekitar 204.335 dari 652.091 wajib KTP. Bupati bahkan berharap kami menyelesaikan pada Agustus nanti,” jelas Sucahyo.
Sucahyo juga berharap pihak kecamatan yang telah mencapai pelayanan sebesar 75 persen untuk membagi alat rekam data dengan kecamatan yang masih banyak belum melakukan rekam data.
“Ada sembilan kecamatan yang masih belum mencapai 75 persen hingga saat ini. Ada Karanganyar Kota, Jatiyoso, Jumapolo, Tasikmadu, Jaten, Colomadu, Gondangrejo, Kebakkramat, dan Mojogedang,” tambah Sucahyo.

Read More

PDAM Ekspansi Waduk Gajah Mungkur

Guna memenuhi permintaan pelanggan air di Palur Gondangrejo dan Kebakkramat, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lawu berniat menggunakan air dari Waduk Gajah Mungkur Wonogiri sebagai bahan baku air bersih.

Rencana tersebut akan dimulai pada tahun 2014. Pasalnya kualitas air waduk saat ini dirasa masih bagus dan mempunyai kandungan koloid yang rendah. “Karena kadar koloidnya rendah, sehingga jika digunakan sebagai bahan baku air bersih siap minum masih sangat memungkinkan,” ujar Aris Wuryanto, Direktur PDAM Tirta Lawu, Rabu (14/3).

Langkah penggunaan air waduk Gajah Mungkur itu dilakukan karena pihaknya masih kesulitan menggunakan bahan baku air dari sekitar Gunung Lawu, padahal wilayah Ngargoyo mempunyai potensi sumber air yang lumayan cukup besar. “Potensi airnya memang besar, tapi warga menolak, jadi kita mencari alternatif lainnya. Padahal itu semua murni untuk melayani warga Karanganyar ,” tandas dia.

Menurutnya, saat ini ada sekitar 38.000 pelanggan yang menggunakan jasa PDAM Karanganyar. Mereka tersebar di wilayah Karangpandan, Karanganyar Kota dan bahkan wilayah Sukoharjo. Aris mengatakan sejauh ini pihaknya tidak berani menargetkan adanya penambahan pelanggan karena mereka masih kesulitan menjadi sumber mata air. “Paling setahunnya hanya menambah sekitar 150 pelanggan baru sejak 2006 silam,” kata Aris.

Read More

ANGIN RIBUT Menerjang, Puluhan Pohon Tumbang

Puluhan pohon dan baliho di Karanganyar tumbang setelah diterjang hujan disertai angin kencang yang melanda Bumi Intanpari pada Minggu (12/2/2012) sore. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Berdasarkan pantauan, hujan disertai angin kencang terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. Hal ini menyebabkan pohon-pohon di sepanjang jalan raya Solo-Karanganyar tumbang. Angin tidak hanya menumbangkan pepohonan, namun juga beberapa baliho yang sudah rapuh ikut tumbang.

Akibat kejadian itu arus lalu lintas dari Palur menuju Karanganyar Kota sempat menjadi tersendat. Kendaraan yang melintas baik dari arah Solo maupun Karanganyar berjalan merambat. Mereka berusaha menghindari pepohonan yang tumbang di jalanan. Aparat kepolisian bersama tim Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung melakukan evakuasi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aji Pratama Heru pohon dan baliho yang tumbang tersebar di beberapa wilayah.

Read More

Tanaman PADI AMBRUK, Petani Merugi Jutaan Rupiah

Petani di Karanganyar kian menjerit rugi hingga puluhan juta rupiah lantaran tanaman padi ambruk diterjang hujan disertai angin kencang, Minggu (12/2/2012) sore. Bahkan tanaman padi yang diikat pun ikut ambruk tak kuat menahan terjangan angin tersebut.

Berdasarkan pantauan, Senin (13/2/2012) padi yang ambruk terjadi di Jaten, Tasikmadu, Karanganyar Kota serta Matesih. Petani yang ditemui mengaku rugi hingga puluhan juta rupiah akibat kejadian itu.

Petani Dagen, Kecamatan Jaten, Mukiman, 57 mengaku pasrah dan terpaksa memanen dini tanaman padinya. Hal ini lantaran tanaman padi yang siap panen sepekan lagi ambruk diterjang angin.

”Padinya ambruk semua. Tidak bisa diapa-apakan lagi,” keluhnya.

Dia mengaku mengalami kerugian hingga jutaan rupiah akibat kejadian tersebut. Apalagi tanaman padi yang dipanen masih belum berisi. Meskipun sebagian padi lainnya sudah berisi. ”Rugi banyak, sampai Rp4 jutaan. Seharusnya belum dipanen, tapi harus dipanen,” ujarnya.

Senada disampaikan petani lain, Rigun, 33. Dia mengatakan hujan deras disertai angin kencang yang menerjang Karanganyar menyebabkan tanaman padi yang sudah dalam kondisi diikat roboh. Sebelumnya, sebagian tanaman padi miliknya telah roboh diterjang angin beberapa waktu lalu.

”Sekarang malah yang diikat ikut ambruk. Hampir semua tanaman di sini ambruk kena angin,” tuturnya.

Rigun mengatakan langkah mengikat tanaman padi dilakukan untuk mengurangi kerugian yang cukup besar. Apalagi tanaman padi miliknya yang roboh belum bisa dipanen. Sehingga harus tetap ditegakkan kembali dengan diikat agar siap dipanen.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Tanaman pangan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar Siti Maesyaroch mengakui banyak tanaman padi milik petani di Karanganyar yang roboh diterjang angin pada Minggu kemarin. Namun pihaknya belum menetapkan hal itu sebagai kejadian luar biasa.

”Belum bencana. Masih normal, tapi kami siap memberikan bantuan benih kepada petani yang membutuhkan,” ujar Siti.

Read More