Karanganyar Harus Segera Operasi Bibir Sumbing

Gubernur Jawa Tengah, Rutriningsih berharap Kabupaten Karanganyar mempercepat program bebas bibir sumbing yang ditargetkan rampung pada tahun 2013 depan.

“Kalau masih ada bibir sumbing, berarti masih ada kasus gizi buruk di Karanganyar, hal ini tidak boleh dibiarkan,” ujarnya seusai memantau pelaksanaan operasi bibir sumbing dan langit-langit gratis yang diadakan di Rumah Sakit Umum Daerah di Karanganyar, Sabtu kemarin (26/11). Menurutnya, percepatan kasus bibir sumbing tersebut harus dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan diri seseorang. Ia mengatakan kelainan bibir sumbing dan langit-langit terjadi karena beberapa faktor yakni adanya faktor gizi buruk, kekurangan mineral) dan pernikahan sedarah atau incest. “Tapi yang paling dominan yakni karena asupan gizi saat di dalam kandungan masih kurang,” jelas dia.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja,dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Karanganyar, Sumarno menambahkan total di Kabupaten Karanganyar ada sekitar 66 penderita kelainan bibir sumbing dan langit-langit yang tersebar di 17 Kecamatan. “Hingga Minggu (27/11) kita targetkan mengoperasi 28 pasien, lima untuk operasi langit-langit dan 23 lainnya operasi bibir sumbing,” .

Dirinya menegaskan, sesuai program kerja Pemkab Karanganyar tahun 2013 nanti tidak ada lagi warga di Karanganyar yang menderita bibir sumbing. Hal ini tentunya membutuhkan kerja keras karena mereka harus mulai mengajari masyarakat mengenai asupan gizi.

Pelaksaan operasi tersebut terjalin atas kerja sama dari berbagai pihak yakni antar Pemkab Karanganyar, RSUD Karanganyar serta Yayasan Permata Sari dari Semarang.

Read More

Pura Pasek

Bagi yang memiliki minat dan ketertarikan berwisata spiritual Tirta Yatra, yaitu melakukan perjalanan napak tilas persembahyangan mengunjungi pura-pura, baik yang berada di daratan pulau bali ataupun di nusantara, pastilah mengenal Pura Patilesan (peristirahatan) Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan, yang lebih di kenal sebagai Pura Pasek dan merupakan induk dari Pura Pasek yang ada di daratan Bali. Pura ini terletak di desa Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Indonesia. Kira-kira 35 km sebelah timur kota Solo, satu jam perjalanan ditempuh dengan kendaraan. Letaknya yang tidak jauh dari obyek wisata Tawangmangu, di kaki gunung Lawu membuat pura Pemacekan yang dikelilingi alam nan hijau menjadi semakin sejuk.

Menengok kembali sejarah jaman dulu, pada awalnya bangunan ini memang merupakan tempat peribadatan umat Hindu yang berupa punden atau candi atau pura. Sebagaimana masyarakat Jawa pada zaman dulu memang banyak sekali penganut Hindu, tak terkecuali di wilayah Karangpandan ini. Hal ini terbukti ditemukannya bangunan Hindu di daerah sekitar tak jauh dari pura Pemacekan semisal Candi Sukuh, Candi Cetho, dll. Namun seiring berjalannya waktu, dengan terjadinya akulturasi kebudayaan antara penganut agama lain, penganut Hindu di sekitar pura menjadi semakin sedikit, meski dalam catatan sejarah, bangunan yang memiliki dominasi warna kuning dan merah ini pernah di bangun menjadi lebih megah dan mewah pada masa Pakoe Boewono XII.  Keterlibatan raja dari Keraton Surakarta dalam pembangunan kembali Pura Pemacekan (Pura Pasek) ini adalah cukup beralasan, karena bila di lihat dari silsilah vertikal raja-raja yang yang terpampang di dinding bangunan Pura Pemacekan itu, di mulai dari kerajaan Singosari dimasa pemerintahan Ken Arok hingga raja Surakarta yang sekarang adalah masih memiliki ikatan darah persaudaraan dengan Ki Ageng Pasek atau di kenal dengan nama Pangeran Arya Kusuma ini karena merupakan salah seorang menantu Pangeran Brawijaya V (raja terakhir dari kerajaan Majapahit), yang patilesannya terdapat di dalam bangunan Pura Pasek ini. Ki Ageng Pasek yang dikenal sebagai Arya Kusuma juga adalah seorang senopati kerajaan yang memiliki keahlian khusus, penunggang kuda saat berperang. Hingga meninggalnya dan kemudian dimakamkan di desa Pasek, Kecamatan Karangpandan, kabupaten Karanganyar, yang saat ini tepat di petilesannya didirikan Pura Pemacekan (Pura Pasek).

Piodalan di pura Pemacekan ini biasanya diselenggarakan setiap tujuh bulan saat bulan purnamasidi atau bertepatan dengan pengetan weton dari Ki Ageng Pasek yang mana Upacara Piodalan ini selain di rayakan oleh para pengempon Pura umat Hindu di karanganyar serta daerah Solo dan sekitarnya yang khususnya bermarga Pasek juga dihadiri oleh ratusan warga Hindu Bali dari marga Pasek juga.  Salah seorang Pengempon Pura Pasek ini adalah juga warga dari Desa Kemoning Klungkung yang berdomisili di Solo, yaitu bapak Nyoman Nasa, dalam menjalani masa-masa pension beliau, selalu mengabdikan hari-harinya merawat Pura Pasek ini.

Menghubungkan cerita Pura Pasek yang ada di tanah Jawi ini dengan issue-issue yang berkembang belakangan ini di daratan bali, dimana seiring dengan berjalannya waktu dan semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat di Bali, akhirnya menumbuhkan keingintahuan untuk menelusuri lebih jauh tentang asal-usul  nenek moyang atau leluhur keluarga mereka, yang di mulai tidak hanya ketika leluhur mereka berdomisili di balidwipa (pulau bali), melainkan di telusuri lebih jauh ketika nenek moyang mereka masih berdomisili di jawadwipa (pulau jawa) ketika kerajaan majapahit masih mengalami masa kejayaannya. penelitian oleh setiap individu mengenai silsilah keluarga / kelompok ini kemudian di tuliskan kedalam suatu babad, sehingga akhirnya di Bali saat ini dikenal berbagai macam Babad.  seperti di tuliskan di website babadbali.com (http://www.babadbali.com/babad/babadbali.htm ) yaitu:

Lebih lanjut, menelusuri silsilah keluarga sedari nenek moyang baik dengan pergi ke tanah jawi atau melalui membaca babad yang di tulis orang lain, di bali saat ini sepertinya sedang menjadi trend. Salahkah kegiatan mereka ini, tentu tidak. kegiatan untuk mengetahui silsilah keluarga leluhur mereka, disamping akan menambah wawasan dari setiap pembacanya, membaca babad ini juga di khawatirkan sebagian orang akan memisahkan masyarakat bali menjadi kelompok-kelompok (soroh / clan) karena menemukan silsilah dirinya dalam babad.  kekhawatiran yang berlebihan ini mungkin masih dianggap wajar, hal ini untuk menghindarkan terulangnya fenomena masyarakat bali dari penafsiran yang berbeda-beda akan suatu konsep kehidupan bermasyarakat. sebagai contoh penafsiran akan keberadaan sistem wangsa di dalam kehidupan sosial kemasyarakat umat Hindu di Bali. dimana kalau menurut Manawa Dharmasastra, sistem wangsa dalam masyarakat Bali bukanlah untuk menentukan stratifikasi sosial paradigma tinggi-rendah (tidak setara antara wangsa yang satu dengan wangsa yang lainnya). Wangsa itu tidak menentukan seseorang itu Brahmana, Ksatria, Waisya maupun Sudra, melainkan sistem wangsa itu di buat untuk menentukan keakraban atau kerukunan famili, dan bukan untuk menentukan kasta atau varna seseorang. kita harapkan semoga masyarakat bali tidak terjerumus akan pemahaman yang sempit akan Babad ini. Kembali ke topik Babad, untuk apa sesungguhnya fungsi keberadaan Babad itu atau untuk apa Babad itu di tulis?  pada prinsipnya Babad itu adalah sejarah. Babad atau sejarah di tulis untuk melihat perjalanan sebuah peradaban. Dari penulisan ini kita menjadi tahu, siapa tokoh yang memainkan peran dalam peradaban itu.

Mengambil contoh dari salah satu Babad diatas yaitu Babad Pasek, umat Hindu dari seluruh pelosok daratan Bali yang bermarga Pasek, belakangan ini tidak hanya melakukan Tirta Yatra persembahyangan bersama ke Pura Dasar Gelgel Klungkung yang di yakininya sebagai induknya Pura Pasek di Bali , melainkan juga melakukan Tirta Yatra persembahyangan bersama ke Pura Patilesan (peristirahatan) Ki Ageng Pemacekan yang oleh masyarakat Bali di yakininya sebagai induknya Pura Pasek – pura Pasek yang ada di Bali,  dan belakangan ini selalu menunjukkan statistik yang kian terus meningkat bila di lihat dari jumlah kendaraan bis rombongan dari bali.

Akhir kata, seandainya ada pembaca artikel ini yang bermarga Pasek yang tertarik untuk melakukan wisata spiritual Tirta Yatra ke Pura Pasek yang ada di Jawa ini, berikut alamat detailnya: Pura Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan, desa Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

Sumber : http://kemoning.info/blogs/?p=317

Read More

Upacara Adat Wahyu Kliyu

Malam itu suasana dusun Dusun Kendal, Jatipuro, Karanganyar, Jawa Tengah ramai oleh hiruk pikuk di rumah seorang tokoh masyarakat setempat.

Pada hari biasa, dusun itu hanyalah bagian dari sebuah wilayah sepi di kaki selatan Gunung Lawu. Letaknya yang jauh dan akses jalan yang rusak serta minim penerangan membuat orang luar enggan berkunjung ke sana.

Namun suasana berbeda akan terasa pada malam ke 15 bulan Sura, penanggalan Jawa. Tiap tahunnya, warga Dusun Kendal melaksanakan Upacara Adat “Wahyu Kliyu”. Keramaian terjadi sejak siang hari dan mencapai puncaknya pada sekitar tengah malam, ritual melempar apem oleh masyarakat setempat bertujuan memohon ridho allah agar mendapat anugerah, kekuatan jauh dari bencana dan mala petaka.

Ada legenda lokal yang meyakini tradisi ini merupakan solusi atas musim paceklik dan bencana yang melanda dusun Kendal ratusan tahun lalu. Pernah suatu ketika warga desa lalai untuk melaksanakan upacara ini, dan paceklik pun terjadi.

Istilah “Wahyu Kliyu” sendiri juga diyakini berasal dari ucapan dzikir “Yaa Hayyu Ya Qayyuum” yang artinya permohonan keselamatan kepada Tuhan. Dan kemudian tradisi ini diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya di mana tidak ada yang berani melanggarnya.

Jaman sudah berganti, kebudayaan juga telah berkembang. Namun hanya hingga saat ini kearifan lokal ini masih dipercaya mampu menjawab tantangan kehidupan alam tandus di Jatipuro. Dan yang pasti masyarakat tetap setia dengan apa yang menjadi peninggalan nenek moyang mereka.

Read More
kemuning 03

Kebun Teh Kemuning

kemuning2

Kebun Teh Kemuning

Perkebunan Teh Kemuning berada di Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah atau sekitar 10 kilometer timur laut dari jalur utama Solo-Tawangmangu. Perkebunan teh ini merupakan salah satu tujuan wisata di Jawa Tengah yang berada di kabupaten karanganyar. Pesona alam pegunungannya masih asri, Udara sejuk dengan suhu rata-rata 21,5 derajat celcius. Lokasi tepat perkebunan ini ada di 11,10-11,250 BT dan 7,40-7,60 LS. Ketinggian tempatnya bervariasi antara 800 hingga 1.540 meter di atas permukaan laut dengen kelembaban berkisar 60 – 80 persen dengan penyinaran matahari hanya 40 – 55 persen.

kemuning7

Kebun Teh Kemuning

Kawasan Kemuning berada di antara Candi Sukuh dan Candi Cetho. Candi Palanggatan dan Menggung. Untuk menuju tempat tersebut, tidak sulit. Kita bisa memakai angkutan umum dengan rute Karangpandan, Ngargoyoso, dan Jenawi. Hamparan hijau perkebunan teh sangat bagus dilahat. Di Kemuning, kita bisa menikmati pesiar dalam bentuk tea walk alias menjelajahi perkebunan teh. Tak hanya pemandangan hamparan teh. Puluhan perempuan bercaping dengan tenggok di punggung menjadi bumbu lain yang sedap dilihat. Mereka bekerja dengan penuh kesabaran dan ketelitian.

kemuning

Kebun Teh Kemuning

Saat matahari baru saja merekah, aktivitas para pemetik daun teh ini sudah dimulai. Eksotis, karena jarang bisa dijumpai di obyek wisata pada umumnya. Rencananya kawasan wisata Kebun Teh Kemuning juga bakal dilengkapi gardu pandang. Dengan begitu, wisatawan lebih mudah melihat hamparan teh. Pemkab Karanganyar juga akan melengkapi Desa Kemuning dengan homestay bagi pengunjung yang ingin menginap. Ini bukti, Kemuning tak semata jadi produsen daun teh. Tetapi juga sebuah lokawisata yang mengasyikkan dan punya fasilitas signifi kan.

Read More
DSC_0033e

Candi Sukuh

Gerbang utama Candi Sukuh. Saat ini tidak digunakan untuk memasuki candi.

Candi Sukuh terletak di lereng barat Gunung Lawu pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Desa Mberjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Berdiri di atas ngarai, di antara sawah dan pepohonan cengkeh, inilah candi yang sering di sebut sebagai The Last Temple. Selepas Majapahit runtuh pada abad XV memang tak lagi ditemui pembangunan candi. Tak berlebihan jika kemudian banyak yang menyebut candi ini sebagai saksi terakhir kejayaan Hindu di Jawa.

Agaknya dengan melihat kondisi alam yang berupa pegunungan, candi ini dibangun dengan konsep punden berundak atau teras bertingkat yang merupakan sat-satunya di ]awa. Teras atau undak pada candi ini diawali dengan bangunan gapura yang bemama Paduraksa. Gapura ini mirip dengan pylon, sejenis gapura masuk ke Piramida di Mesir. Ambang pintu gapura ini berhias kala berjanggut panjang, sebuah relief yang tidak ditemui di candi-candi Hindu. Pada sisi kanan dan kin gapura terpampang relief yang menggambarkan seorang yang tengah berlari dengan menggigit ekor ular naga yang sedang melingkar. Sementara di atasnya terdapat relief yang menggambarkan makhluk mirip manusia yang sedang melayang dan relief seekor binatang melata. Arkeolog KC Cruq pernah menyebut relief ini sekadar sebagai sengkalan atau simbol tahun pembuatan. Dan relief di ambang gapura ini, konon dibaca gapura buto aban wong (gapura raksasa memakan manusia). Gapura dengan karakter 9, buta karakternya 5, mangan karakter 3, dan wong mempunyai karakter 1. Jadi candra sengkala tersebut dapat dibaca 1359 Saka atau tahun 1437 M, menandai selesainya pembangunan gapura pertama ini. Pada sisi selatan gapura terdapat relief raksasa yang berlari sambil menggigit ekor ular. Relief ini juga sebuah sangkalan rumit yang bisa dibaca : “Gapura buta anahut buntut” (gapura raksasa menggigit ekor ular), yang bisa di baca tahun 1359. Seperti tahun pada sisi utara gapura. Yang paling unik adalah motif yang berada di lantai gapura, terdapat paduan lingg-yoni.

Dalam bentuk nyata. Gambaran vagina dan penis ini diduga sebagai larnbang kesuburan. Sepintas memang nampak porno, tetapi tentu saja bukan ini maksudnya. Sebab tidak mungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno.

Relief Sudhamala.

Sebaliknya, relief lingga-yoni ini sesungguhnya sebagai Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja di pahat I di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”. Boleh jadi, relief ini memang berfungsi sebagai “suwuk” untuk “ngruwat”, yaitu membersihkan segala kotoran yang mengotori hati manusia.

Pada teras kedua terdapat gapura yang tidak utuh lagi. Dari prarekonstruksi, gapura ini dulunya berbentuk gapura bentar, seperti pintu gerbang masuk candi-candi di Jawa Timur umumnya. Bagian depan gapura terdapat sebuah arca Dwarapala yang saat ini sudah dalam keadaan aus. Arca ini lain dengan dwarapala pada arca candi-candi pada umumnya karena nyaris tanpa aksesori. Tubuhnya polos, dan bahkan gada yang dibawanya pun tanpa ukiran.

Undak atau teras ketiga berupa kompleks candi induk dan merupakan kawasan paling suci. Untuk memasuki teras ketiga, pengunjung harus melewati sebuah gapura yang tak utuh lagi. Candi induk ini berukuran 15 x 15 meter. Di atas bagunan ini diperkirakan ada bangunan candi yang terbuat dari kayu. Perkiraan berdasarkan sisa-sisa umpak batu pada bagian atas candi. Di kompleks ini juga terdapat arca binatang berupa kura-kura, garuda, dan gajah, arca tokoh raksasa yang tak dikenal, dan Dwarapala. Pada salah satu arca garuda terdapat prasasti berangka tahun 1363 Saka atau 1441 Masehi, dan 1364 Saka atau 1442 Masehi. Sementara pada sisi kanan-kiri di depan candi induk terdapat relief yang menggambarkan cerita Sudhamala dan Garudeya yang mengisahkan tentang upacara suci ruwatan. Candhi Sukuh memang dibuat bertrap-trap semakin ke belakang semakin tinggi. Berbeda dengan umumnya candhi-candhi di di ]awa Tengah, Candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya.

Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candhi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang ditengah itulah tempat yang paling suci. Namun satu hal yang mungkin mencengangkan, Candi Sukuh temyata dibangun menyimpang dari aturan-aturan itu. Namun penyimpangan ini bukanlah sesuatu yang mengherankan. Pasalnya, ketika Candi Sukuh dibangun, masa kejayaan Hindu mulai memudar. Akibatnya kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi, yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithie, sehingga mau tak mau ikut mewarnai dan memberi ke khasan pada candhi Sukuh ini. Selanjutnya, trap ketiga candi dianggap trap paling suci. Di tempat inilah ritual atau sembahyang dilakukan. Salah satu yang menandai bahwa trap ini sebagai tempat suci, adalah dengan banyaknya petilasan di kawasan ini. Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelali kiri serta patung-patung di sebelah kanan. ]ika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui.

Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jilca seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas. Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapa yang terbuat dari batu. ]alan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.

Di sebelah selatan jalan batu, di pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil “ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari di kayangan dengan nama bethari Uma Sudamala maknanya ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil “ngruwat”. Adapun Cerita Sudamala diambil dari buku Kidung Sudamala. Lima fragmen ini masin-masing terpeta jelas dalam bentuk relief. Relief pertama menggambarkan ketika Dewi Kunti meminta kepada Sadewa agar mau “ngruwat” Bethari Durga namun Sadewa menolak. Relief kedua, Bima mengangkat raksasa dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menancapkan kuku “Pancanaka” ke perut raksasa. Pada relief ketiga, Sadewa diikat kedua tangannya diatas pohon randu alas karena menolak keinginan “ngruwat” sang Bethari Durga. Sang Durga mengancam Sadewa dengan sebuah pedang besar di tangannya. Selanjutnya relief berkisah tentang Sadewa yang berhasil “ngruwat” sang Durga. Sadewa kemudian diperintahkan pergi kepertapaan Prangalas. Di tempat inilah konon Sadewa menikahi Dewi Pradapa. Sementara relief ke lima menggambarkan ketika Dewi Uma (Durga setelah diruwat Sadewa) berdiri di atas Padmasana. Sadewa beserta panakawan menghaturkan sembah pada sang Dewi Uma.

Pada pelataran ini juga dapat ditemui soubasement dengan tinggi 85 cm, luasnya sekitar 96 M2. Ada juga obelisk yang menyiratkan cerita Garudeya. Cerita soal Garudeya merupakan cerita “ruwatan” pula. Konon, Obelisk ini mengisahkan Garuda yang mempunyai ibu bernama Winata yang menjadi budak salah seorang madunya yang bernama dewi Kadru. Dewi Winata menjadi budak Kadru karena kalah bertaruh tentang warna ekor kuda uchaiswara. Dewi Kadru menang dalam bertaruh sebab dengan curang dia menyuruh anak-anaknya yang berujud ular naga yang berjumlah seribu menyemburkan bisa-bisanya di ekor kuda uchaiswara sehingga warna ekor kuda berubah hitam. Dewi Winata dapat diruwat sang Garuda dengan cara memohon “tirta amerta” (air kehidupan) kepada para dewa. Kembali pada bangunan candi, di sisi selatan jalan batu ada terdapat candi kecil, yang di dalamnya terdapat arca dengan ukuran yang kecil pula.

Patung mahluk bersayap.

Menurut mitologi setempat, candi kecil itu merupakan kediaman Kyai Sukuh penguasa ghaib kompleks candi tersebut . Di dekat candi kecil terdapat arca kura-kura yang cukup besar sejumlah tiga ekor sebagai lambang dari dunia bawah yakni dasar gunung Mahameru, juga berkaitan dengan kisah suci agama Hindhu yakni “samudra samtana” yaitu ketika dewa Wisnu menjelma sebagai kura-kura raksasa untuk’ membantu para dewa-dewa lain mencari air kehidupan (tirta prewita sari). Ada juga arca garuda dua buah berdiri dengan sayap membentang. Salah satu arca garuda itu ada prasasti menandai tahun Saka 1363.

Juga terdapat prasasti yang menyiratkan bahwa Candi Sukuh dalam candi untuk pengruwatan, yakni prasasti yang diukir di punggung relief sapi. Dalam relief ini, sapi tadi digambarkan sedang menggigit ekornya sendiri dengan kandungan sengkalan rumit : Goh wiku anahut buntut maknanya tahun 1379 Saka. Sengkalan ini makna tahunnya persis sama dengan makna prasasti yang ada di punggung sapi yang artinya kurang lebih demikian : untuk diingat-ingat ketika hendak bersujud di kayangan (puncak gunung), terlebih dahulu agar datang di pemandian suci. Saat itu adalah tahun saka Goh Wiku anahut buntut 1379. Kata yang sama dengan ruwatan di sini yaitu kata : “pawitra” yang artinya pemandian suci. Karena kompleks Candi Sukuh tidak terdapat pemandian atau kolam pemandian maka pawitra dapat diartikan air suci untuk “ngruwat” seperti halnya kata “tirta sunya”.

Tempat suci untuk pengruwatan. Sejumlah bukti menegaskan hal ini. Sebut saja misalnya relief lingga-yoni di gapura pertama. Selain berfungsi sebagai “suwuk”, relief ini juga berfungsi untuk “ngruwat” siapa saja yang memasuki candi. Selanjutnya adalah relief Sudamala yang menceritakan Sadewa “ngruwat” sang Durga, juga relief Garudeya yang menggambarkan Garuda “ngruwat” ibunya bernama dewi Winata. Prasasti tahun 1363 Saka pun menegskan fungsi ngruwat ini lewat tulisan “babajang maramati setra hanang bango”. Termasuk prasasti tahun 1379 Saka yang mencantumkan kata “pawitra” yang berarti air suci (air untuk pengruwatan). Ditemukan pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta pada masa pemerintahan Gubernur Raffles, Candi Sukuh memang segera menjadi banyak perhatian para arkeolog. Mulai saat itu banyak kalangan sarjana rnengadakan penelitian Candhi Sukuh antara lain Dr. Van der Vlis tahun 1842, Hoepermen diteruskan Verbeek tahun 1889, Knebel tahun 1910, dan sarjana Belanda Dr. WF. Stutterheim. Untuk mencegah kerusakan yang semakin memprihatinkan, Dinas Purbakala setempat pernah merehabilitasi Candi Sukuh pada tahun 1917, sehingga keberadaan Candi Sukuh seperti kondisi yang kita lihat sekarang. Candi Sukuh terdiri tiga tiga trap. Setiap trap terdapat tangga dengan suatu gapura. Gapura-gapura itu amat berbeda bila dibandingkan dengan gapura umumnya candi di ]awa Tengah, apa lagi gapura pada trap pertama. Bentuk bangunannya mirip candi Hindu dipadu dengan unsur budaya asli Indonesia yang nampak begitu kentara, yakni kebudayaan Megaliticum. Barangkali unik, candi yang berdiri pada abad ke-15 ini tidak dibangun oleh para petinggi kerajaan, tapi justru dibangun oleh masyarakat pinggiran pelarian Majapahit yang menghindari pasukan Demak Bintoro. Karena itu bentuk candi ini lebih banyak berupa punden berundak, dengan keunikan-keunikan arca yang berbeda dengan candi-candi pada umumnya. Bentuk yang unik inilah yang menandai adanya akulturasi dari budaya Hindu yang dibawa orang-orang Majapahit, dengan kepercayaan masyarakat Jawa pinggiran yang masih menyembah arwah nenek moyang. Maka, tak berlebihan jika Candi Sukuh dikatakan sebagai monumen sejarah perubahan peradaban dari agama Hindu ke lsalam di]awa.

Bahkan, bisa dikatakan candi ini merupakan bangunan terakhir dalam era peradaban candi-candi. Satu keunikan lain, kornpleks candi ini terdapat patung-patung makhluk bersayap. Makhluk ini disebut sebagai garuda karena salah satu patung yang masih utuh menunjukkan kepala seperti burung garuda. Hanya saja, patung-patung ini memiliki tangan dak kai seperti manusia dan sayap seperti malaikat. Apakah patung ini menggambarkan makhluk alien? Di luar keunikannya, candi ini sangat sederhana dan berisikan sejumlah relief dengan berbagai bentuk. Di antaranya bentuk kelamin laki-laki dan wanita yang dibuat hampir bersentuhan. Pada deretan relief~relief yang menghiasi dinding candi juga digambarkan relief tubuh bidadari dengan posisi “pasrah” serta relief rahirn wanita dalam ukuran cukup besar. Relief-relief seks itu menggambarkan lambang kesucian antara hubungan wanita dan pria yang merupakan cikal bakal kehidupan manusia. Hubungan pria dan wanita melalui relief ini dilambangkan bukan melampiskan hawa nafsu, tapi sangat sakral yang merupakan curahan kasih sayang anak manusia untuk melahirkan sebuah keturunan.

Tak heran jika candi ini juga dikenal sebagai candi paling erotis. Pada bagian lain, candi ini juga dipenuhi relief-relief yang satu sama lain tidak berhubungan sehingga melahirkan banyak ceritera dan legenda. Kisah-kisah tentang relief itu suaminya Batara Guru karena berbuat serong dengan seorang penggembala. Ada juga ceritera wanita yang kalah judi lalu dibebaskan di candi ini sehingga bisa masuk sawarga (surga). Legenda warga setempat menyebut candi ini merupakan tempat bertemu dengan roh yang sudah meninggal. Berdiri di lereng Gunung Lawu, membuat udara sekitar candi sejuk. Bahkan pada musim penghujan, tak jarang kabut tebal selalu menyelimuti kawasan candii Setiap bulan antara 200-250  turis asing. Sebagian besar ingin melihat erotisme candi, sebagian yang lain ingin melakukan meditasi.

Read More

Penilaian Pelayanan Publik Kab. Karanganyar Oleh Tim Penilai Pelayanan Prima Prop. Jawa Tengah

Karanganyar, Kamis 9 Juni 2011

Kinerja Pemerintah Kabupaten Karanganyar dalam hal pelayanan publik akan dinilai oleh Tim Penilai Pelayanan Prima dari Pemerintah Propinsi Jawa Tengah. Tim Penilai Pelayanan Prima Prop. Jateng yang berjumlah 4 orang dan diketuai Drs. Agung Priyanto datang pada Kamis, 09 Juni 2011 disambut langsung oleh Bupati Karanganyar DR. Rina Iriani SR, M.Hum beserta Sekretaris daerah Kab. Karanganyar di ruang Podang I lingkup Sekretariat Daerah Kab. Karanganyar. Ka SKPD, BUMN/BUMD, Kabag Setda dan Camat se Kab. Karanganyar juga turut hadir dalam acara tersebut.

Bupati Karanganyar dalam sambutannya mengatakan Pemerintah Karanganyar pernah menerima Citra Abdi Negara (penghargaan nasional dibidang pelayanan publik), dengan adanya penilaian pelayanan prima ini semakin memotivasi segenap jajaran Pemkab Karanganyar untuk semakin maju dan semakin terpacu dalam mewujudkan pemerintahan yang berbasis good governance. Kegiatan penilaian kinerja pelayanan publik ini diharapkan mampu merubah pola pikir dan perilaku aparatur pemerintah dari pendekatan minta dilayani dan sebagai penguasa, menjadi pelayan masyarakat yang cepat, akurat dan sesuai prosedur peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam sambutannya sekaligus paparan yang disampaikan, Bupati Karanganyar mengedepankan pelayanan prima yang ada di Kab. Karanganyar seperti PARYATI, PARSIH, RATNA dan LARASITA. Selain itu Pemkab Karanganyar juga mengambil kebijakan dan strategi terkait pelayanan publik, antara lain : penyederhanaan mekanisme pelayanan publik, menetapkan RSUD sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), menetapkan standar pelayanan publik yang diatur melalui Peraturan Bupati maupun yang ditetapkan oleh kepala SKPD, kebijakan peningkatan partisipasi masyarakat, mendorong partisipasi masyarakat dengan mengikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan sosialisasi penyusunan Standar Pelayanan Publik dan Pengukuran Indek Kepuasan Masyarakat serta sosialisasi SOP.

Sementara itu Ketua Rombongan Tim Penilai Agung Priyanto menyebutkan unsur penilaian meliputi kelembagaan unit pelayanan publik, tatalaksana penyelenggaraan pelayanan publik, sumber daya manusia (SDM) aparatur pelayanan, sarana dan prasarana pendukung, layanan unggulan, pengelolaan manajemen pengaduan, dan ketersediaan sarana fisik pelayanan publik.

Read More

Pengumuman Pelelangan Umum Penyedia Jasa Konstruksi Pengadaan Konstruksi Gedung Teater Tertutup Tahap V Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah

PENGUMUMAN
PELELANGAN UMUM PENYEDIA JASA KONSTRUKSI
Nomor:  93/III/TBJT/UM/2011

Berpedoman pada Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah pada Tahun Anggaran 2011 akan menyelenggarakan Pengadaan Penyedia Jasa Konstruksi, yang berlokasi di Taman Budaya Jawa Tengah, Jl. Ir. Sutami 57 Surakarta, dengan penjelasan sebagai berikut:

(more…)

Read More

Kantor Pemilihan Umum

KPU Kabupaten Karanganyar merupakan instansi non struktural adalah lembaga penyelenggara pemilu yang bersifat Nasional, Tetap dan Mandiri di tingkat Kabupaten yang berada dibawah dan merupakan bagian Komisi Pemilihan Umum Pusat dan Komisi Pemilihan Umum Propinsi Jawa Tengah serta bertanggung-jawab kepada Ketua KPU Pusat dan KPU Propinsi Jawa Tengah.

Struktur Organisasi Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Karanganyar  dibentuk berdasarkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 22 Tahun 2008 tentang Perubahan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 06 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Jendral KPU.

ALAMAT

Komplek Kantor Cangakan Karanganyar
Telp. 0271-495022, 589400 Fax. 0271-495022
Website: http://kpukaranganyar.wordpress.com
E-mail: kpu2karanganyar@yahoo.com

Read More