Terbengkelai, Cumleng akan diperbaiki

Lokasi wisata pemandian air panas Cumleng di Desa Plumbon, Kecamatan Tawangmangu, akan diaktifkan lagi. Pasalnya, selama ini kondisinya sangat memprihatinkan dan terbengkelai. (more…)

Read More

Jalan tembus Tawangmangu-Sarangan belum bisa dilalui

Jalan tembus Tawangmangu-Sarangan hingga tahun depan belum bisa bisa dilalui kendaraan. Pasalnya pengerjaan jalan tersebut hingga tahun depan dipastikan belum selesai.

Read More
madirda 01

Telaga Madirdo

TELAGA MADIRDO


Telaga Madirdo merupakan danau kecil yang airnya bersumber dari mata air di lereng Gunung Lawu. Telaga tersebut menjadi tumpuan kehidupan warga karena airnya yang tak pernah surut meski musim kemarau dan tak pernah penuh di saat musim penghujan. Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, disanalah telaga ini terhampar. Jarak telaga ini dari Balai Desa Berjo sekitar 4 kilometer dan dapat ditempuh dengan cukup mudah.

Telaga ini memiliki potensi yang layak untuk di kembangkan menjadi obyek wisata unggulan bagi Desa Berjo sebagaimana yang diimpikan warga Berjo pada umumnya. Telaga Madirdo sebenarnya cukup di kenal oleh wisatawan yang memasuki Desa Berjo terutama wisatawan yang mencoba memperlajari keanekaragaman potensi wisata yang ada di Kabupaten Karanganyar,

Hal itu dikarenakan telaga ini termasuk dalam jalur Golden Tracking Sukuh-Grojogan Sewu. Dimana keberadaanya sangat berdekatan dengan berbagai obyek wisata seperti situs Watu Bonang, Situs Planggatan, Candi Sukuh dan Grojogan Sewu.

Dengan posisinya yang demikian, masyarakat meyakini telaga ini bisa dikembangkan menjadi obyek wisata andalan. Bukan tidak mungkin akan seterkenal Telaga Sarangan di Magetan Jawa Timur. Dengan posisinya itu bahkan telaga ini bisa menjadi gerbang utama untuk menuju berbagai kawasan obyek wisata di Kabupaten Karanganyar.

RUTE JALAN

Tlogo Madirdo tepatnya terletak di Dusun Tlogo, Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar. Walaupun terletak di lereng Gunung Lawu dengan ketinggian sekitar 900 m di atas permukaan air, letak potensi obyek wisata ini cukup strategis. Hal itu mengingat kedekatannya dengan obyek wisata andalan Kabupaten Karanganyar yang lain, seperti Grojogan Sewu, Situs Planggatan, Candi Sukuh, obyek Wisata Air Terjun Jumok, Parangijo dan Candi Cetho. Di sepanjang jalan menuju menuju Tlogo Madirdo, juga telah berkembang berbagai rumah makan, yakni yang menghampar di sepanjang jalur Karangpandan – Karanganyar. Jarak anatara Karangpandan dengan obyek wisata Tlogo Madirdo kurang lebih sekitar 5 kilometer.

Untuk mencapai Tlogo Madirdo dapat dilakukan melalui dua jalur utama dan satu jalur alternatif. Yang pertama melalui pintu gerbang arah Candi Sukuh dan Candi Cetho, serta menuju Air Terjun Jumok, yang juga berada di Kecamatan Ngargoyoso. Jarak dari pintu gerbang ini kurang lebih sepanjang 7 kilometer. Karena berada di lereng Gunung Lawu, maka kondisi jalan untuk menuju ke Telaga Madirdo memang cukup terjal dan berkelak-kelok. Meski demikian kondisi jalan ini masih cukup nyaman untuk dilalui baik oleh kendaraan pribadi maupun dengan sepeda motor. Sementara angkuta umum yang melalui rute ini adalah bus jurusan Karangpandan – Ngargoyoso.

Sedangkan jalur kedua, untuk menuju Tlogo Madirdo, adalah melalui Desa Karang, yang berada pada kilometer 34 jalan raya Solo-Tawangmangu. Jalur ini merupakan jalur yang cukup berkembang karena juga merupakan gerbang utama menuju kawasan Agro Wisata Amanah yang jaraknya kurang lebih 1,5 kilomter dari jalan raya Solo-Tawangmangu.

Dari pintu gerbang Amanah untuk menuju Tlogo Madirdo harus melalui jalan kabupaten dan jalan desa, kurang lebih sepanjang 5 kilometer. Kondisi jalan tak jauh berbeda denga jalur pertama, cukup terjal dan berkelok-kelok. Sementara jalur ketiga adalah melalui rute Grojogan Sewu, yaitu melalui jalan desa Tengklik Tawangmangu – ke arah Desa Berjo menuju Tlogo Madirdo. Rute ini adalah jalur alternatif dari arah Grojogam Sewu -Tawangmangu.

KONDISI ALAM

Tlogo Madirdo sendiri berada di hamparan pelataran yang dikelilingi cekungan bukit yang menjadikan sumber air mengalir ke telaga Madirdo sehingga tak pernah kering meskipun di saat musim kemarau. Hutan pinus yang berada di bukit cukup baik sebagai resapan air yang mengalirkanya kembali ke telaga. Sementara kondisi air di Telaga Madirdo sendiri terhitung cukup jernih dan belum tercemar.

Tapak Tlogo Madirdo sendiri berupa cekungan dengan bentuk empat persegi panjang dan berukuran 150 x 200 meter. Kedalaman cekungan kurang lebih 5 meter pada sisi yang rendah dan lebih dari 20 meter dari sisi yang lebih tinggi. Pada sisi cekungan terdapat jalan desa yang mengubungkan Dukuh Tlogo (sebelah timur – utara Tlogo) serta jalan tembus menuju Tawangmangu dan obyek wisata Grojogan Sewu. Pada sekeliling cekungan ini juga berderet perbukitan hutan pinus yang di kelola oleh Perum Perhutani.

Saat ini, wilayah yang digenangi air di Tlogo Madirdo mencakup kurang lebih seribu meter persegi atau 30% dari luas cekungan. Kedalaman air kurang lebih 1 meter. Selain untuk keperluan mandi, air telaga juga dimanfaatkan penduduk untuk budidaya ikan, dan irigasi. Kondisi air sendiri cukup jernih dan memiliki volume air yang relatif konstan baik pada saat musim kemarau maupun pada saat musim penghujan.

Perbukitan di sekitar Telogo Madirdo memiliki potensi sumber air yang mengucurkan air secara terus-menerus dan tak pernah kering. Di sana terdapat keindahan lain seperti batu-batuan alam, flora fauna khas pegunungan dan pemandangan yang bagus ke berbagai arah.

Jenis tanaman yang berada di perbukitan sekitar Tlogo Madirdo antara lain pohon bambu, pinus, akasia, mangga, pisang, pakis dan berbagai jenis tanaman perdu, semak dan rumput. Untuk wilayah sekitar tapak, selain jenis tanaman tersebut juga terdapat jenis tanaman tahunan seperti cengkeh, kopi, tanaman pertanian dan berbagai tanaman sayuran.

POTENSI

Potensi keindahan Tlogo Madirdo belum banyak diolah. Selama ini pengelolaan telaga hanya dilakukan warga Dusun Tlogo, Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. Pengleolan juga sebatas pembersihan, perawatan, dan bahkan tanpa penarikan retribusi sama sekali.

Potensi telaga dengan air cukup bersih, udara yang sejuk dan teduh, berbagai batu alam yang indah, serta keanekaragaman flora dan fauna pegunungan yang menarik, ternyata belum dibarengi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Berbagai fasilitas yang ada saat ini semuanya murni swadaya masyarakat setempat dan terlihat masih relatif sederhana. Berbagai fasilitas seperti pancuran untuk mandi, tempat parker, kamar mandi dan WC umum, homestay serta pengerasan permukaan jalan, semuanya masih terkesan seadanya.

Pengembangan

Dari sisi ketersediaan lahan ketersediaan sumber daya air, sebenarnya pengembangan Tlogo Madirdo sangat memungkinkan. Sebab, dengan menaikkan elevasi air telaga hingga mencapai kedalaman tertentu yang lebih tinggi dari kondisi saat ini, akan memperindah kondisi telaga. Lagi pula, dengan menaikkan ketinggian air, diharapkan tidak akan menganggu pemanfaatan air bagi warga. Air yang melimpah bisa dimanfaatkan warga untuk irigasi dan keperluan lainnya.

Dari sisi status tanah, tanah di sekitar Tlogo Madirdo merupakan tanah kas desa dengan luas mencapai 4 hektare. Artinya, untuk pengembangan obyek wisata tidak perlu lagi dilakukan pembebesan lahan. Bahkan warga masyarakat setempat mengaku siap untuk menghibahkan tanahnya secara sukarela guna mewujudkan pengembangan kawasan Tlogo Mardido tersebut.

Pengembangan Tlogo Madirdo, selain akan mengangkat potensi wisata di Kabupaten Karanganyar juga diyakini akan mampu meningkatkan taraf hidup dan pendapatan eknomi warga setempat maupun masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Peningkatan ini dimungkinkan karena terbukanya berbagai kesempatan warga untuk melakukan usaha seperti jasa warung, penginapan, pertanian, parkir dan kesempatan yang lainnya. Demikianlah adanya, warga di sekitar telaga memang sangat mendukung rencana pengembangan Obyek Wisata Tlogo Madirdo ini.

Meski demikian, Dwi Haryanto mengingatkan, sebelum melakukan pengembangan telaga, beberapa persoalan perlu difikirkan terlebih dulu jalan keluarnya. Pertama, adanya kekawatiran sejumlah warga yang tinggal di hilir sumber mata air Tlogo Mardido yaitu warga masyarakat yang tinggal di Desa Girilayu Ngargoyoso dan Tengklik Tawangamangu. Selama ini air di telaga memang dimanfaatkan untuk keperluan air minum sekitar 500 kepala keluarga yang berada di desa tersebut. Dengan demikian jika akan diolah menjadi telaga wisata, maka diperlukan teknologi yang bisa menjaga kebersihan air untuk warga.

Kedua adalah persoalan infrastruktur jalan yang menghubungkan traffic Sukuh – Madirdo dan Grojogan Sewu. Kondisinya saat ini masih cukup memprihatinkan sebab jalan tembus alternatif yang baru dibangun hanya selebar 3 meter serta tidak memiliki badan jalan. Untuk keperluan pelebaran jalan, menurut Dwi, tidak diperlukan anggaran besar mengingat sebagian besar tanah yang dilalui jalur tersebut merupakan tanah milik Perhutani yang jika dilakukan pelebaran tidak perlu dilakukan pembebasan lahan.

Investor

Pihak desa sendiri sebenarnya pernah menghitung untuk membangun telaga hingga layak memerlukan anggaran sekitar Rp 1,5 miliar. Biaya sebesar akan digunakan untuk pengembangan telaga dengan membuat bendungan penahan air dan pembuatan talud di sepanjang areal obyek wisata. Dana itu akan cukup dengan catatan untuk faslilitas lain seperti infrastruktur jalan, penyediaan sarana kios, los dan tempat rekreasi dianggarkan tersendiri.

Terkait gagasan ini, sebenarnya pihak desa sudah banyak mendapat tawaran dari sejumlah investor yang siap membantu untuk membangun Telaga Madirdo. Namun desa masih berharap pihak Pemkab yang akan membuat perencanaan yang lebih matang guna pengembangan zona wisata tersebut.

Terkait masalah itu, Kasubag Perencanaan dan Program Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar, I. Sukarno mengatakan sebenarnya Pemkab sudah membuat perencanaan terkait pengembangan obyek wisata Telaga Madirdo ini. Yaitu dengan membuat feasibility studi yang dilakukan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Karanganyar pada tahun 2006. Bedasarkan feasibility study itu, akan diperlukan anggaran sebesar Rp. 3 miliar yang diperuntukkan bagi membangun empat zoning. Pertama adalah zoning penerima. Dalam zoning ini yang akan dibangun adalah berbagai fasilitas penerimaan antara lain areal parkir, plasa, kios agro, souvenir dan kantor pengelola.

Kedua adalah aktivitas wisata. Obyek yang akan dibangun meliputi pembuatan bendungan penahan air, dermaga perahu, dermaga pancing, dan lain sebagainya. Ketiga adalah zona wisata darat yang pembangunanya meliputi pembangunan area permainan, jalan setapak, taman bunga, taman alam dan gardu pandang. Keempat adalah zoning pelengkap yang meliputi pembangunan food court, warung makan, kamar mandi, toilet dan lain sebagainya.

Pengembangan Tlogo Madirdo berdasarkan analisa finansial dan ekonomi, yang meliputi analisis Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) maupun analisis Benefit Cost Ratio (BC-Ratio), yang dilakukan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Karanganyar pada tahun 2006, menunjukkan hasil positif. Artinya pengembangan obyek wisata Tlogo Madirdo layak dilakukan.

Read More

Candi Ketek

Candi ketek ditemukan tersembunyi di dalam tanah diantara bebatuan. Itulah kiranya kondisi reruntuhan candi yang ditemukan pada masa kini.

Read More

Sate Kelinci

Meski berada di garis ekuator dengan suhu udara panas dan lembab, Indonesia dianugerahi dengan banyak pegunungan yang menawarkan kesejukan. Salah satunya adalah Tawangmangu, kurang lebih 37 km sebelah timur Solo. Meskipun terletak di lereng gunung, kawasan wisata ini termasuk salah satu yang paling mudah untuk dikunjungi. Angkutan bus umum hampir setiap saat siap mengantar para wisatawan sampai ke terminal utama. Perjalanan darat selama kurang lebih 1,5 jam dari terminal Solo sudah menjadi daya tarik tersendiri. Pemandangan indah areal persawahan di kiri dan kanan jalan siap menyapa begitu memasuki wilayah Karanganyar.

Suasana pagi Tawangmangu sangat indah dan eksotik. Udara dingin khas pegunungan dan kabut dari puncak gunung yang menyelimuti memberikan aura keindahan tersendiri. Berjalan-jalan sambil menikmati indahnya areal persawahan, melihat aktivitas penduduk di pagi hari, ataupun menjelajahi pasar sangat manjur untuk menghilangkan penat dari kesibukan sehari-hari. Tawangmangu juga populer dengan produksi sayur dan buah-buahan segar. Sawah-sawah yang ditanami sawi, wortel, lobak, strawberry, dan aneka hasil bumi lainnya membentang dimana-mana.

Di tawangmanggu jangan lupa mengunjungi air terjun grojogan sewu  setinggi 81 meter yang terletak di kawasan ini. Disini sambil menikmati udara yang sejuk dan keindahan alamnya kita dapat wisata kuliner juga yaitu masakan khasnya sate kelinci disetiap sudut lokasi wisata grojokan sewu ini terdapat penjual sate kelinci dengan harga per porsi Rp 75.000.  Sate kelinci dapat disajikan dengan lontong, daging kelinci disiram dengan sambal kacang serta irisan cabe dan bawang merah semakin menambah nafsu makan. Menyantap sate kelinci terasa lebih nikmat dengan keindahan alam sekitar objek wisata. Ketika membeli sate kelinci harap bersabar karena proses pembakaran sate cukup lama.

Menurut para ahli, daging kelinci selain rendah kolesterol juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Daging kelinci mengandung zat yang disebut senyawa kitotefin. Senyawa ini apabila digabungkan dengan senyawa lain seperti omega 3 dan 9 disinyalir bisa untuk menyembuhkan penyakit asma. Berdasarkan pengalaman beberapa orang, daging ini juga berkhasiat menurunkan kadar gula bagi para penderita diabetes, sementara otaknya berkhasiat sebagai penyubur kandungan wanita.

Read More

Pertapaan Pringgodani

konconegoro

Pertapaan Pringgondani

Tempat bertapa ini merupakan petilasan Eyang Koconegoro. Tempat ini merupakan obyek wisata sejarah yang terletak di sebelah barat lereng gunung Lawu pada ketinggian 1.300 meter dari atas permukaan laut. Pertapaan ini terletak di Desa Blumbang Kecamatan Tawangmangu.

pringgondani 2

Pertapaan Pringgondani

Pertapan ini mempunyai kolam yang disakralkan, yang disebut sendang pengantin. Di sendang ini para peziarah biasanya mencuci mukanya sambil mengucapkan salam. Pertapan ini juga mempunyai petilasan bangunan bermotif joglo, yang biasa dipakai oleh peziarah untuk memanjatkan permohonan sesuai dengan cara dan kepercayaan masing-masing. Puncak ritual di pertapan ini adalah mandi di tujuh pancuran alami yang airnya memancar dari tebing. Prosesi ini dilakukan secara berurutan, sesuai dengan urutan masing-masing pancuran, dan dilakukan tepat pada tengah malam.

pringgondani 1

Pertapaan Pringgondani

Pertapan Pringgodani dapat dijangkau dengan kendaraan umum Tawangmangu-Sarangan, namun masih dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak sepanjang 3 km dari desa Blumbang. Fasilitas yang tersedia di tempat ziarah ini meliputi; jalan setapak, MCK, tempat bilas, joglo tempat meditasi dan warung makan.

Read More
DSC_0033e

Candi Sukuh

Gerbang utama Candi Sukuh. Saat ini tidak digunakan untuk memasuki candi.

Candi Sukuh terletak di lereng barat Gunung Lawu pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Desa Mberjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Berdiri di atas ngarai, di antara sawah dan pepohonan cengkeh, inilah candi yang sering di sebut sebagai The Last Temple. Selepas Majapahit runtuh pada abad XV memang tak lagi ditemui pembangunan candi. Tak berlebihan jika kemudian banyak yang menyebut candi ini sebagai saksi terakhir kejayaan Hindu di Jawa.

Agaknya dengan melihat kondisi alam yang berupa pegunungan, candi ini dibangun dengan konsep punden berundak atau teras bertingkat yang merupakan sat-satunya di ]awa. Teras atau undak pada candi ini diawali dengan bangunan gapura yang bemama Paduraksa. Gapura ini mirip dengan pylon, sejenis gapura masuk ke Piramida di Mesir. Ambang pintu gapura ini berhias kala berjanggut panjang, sebuah relief yang tidak ditemui di candi-candi Hindu. Pada sisi kanan dan kin gapura terpampang relief yang menggambarkan seorang yang tengah berlari dengan menggigit ekor ular naga yang sedang melingkar. Sementara di atasnya terdapat relief yang menggambarkan makhluk mirip manusia yang sedang melayang dan relief seekor binatang melata. Arkeolog KC Cruq pernah menyebut relief ini sekadar sebagai sengkalan atau simbol tahun pembuatan. Dan relief di ambang gapura ini, konon dibaca gapura buto aban wong (gapura raksasa memakan manusia). Gapura dengan karakter 9, buta karakternya 5, mangan karakter 3, dan wong mempunyai karakter 1. Jadi candra sengkala tersebut dapat dibaca 1359 Saka atau tahun 1437 M, menandai selesainya pembangunan gapura pertama ini. Pada sisi selatan gapura terdapat relief raksasa yang berlari sambil menggigit ekor ular. Relief ini juga sebuah sangkalan rumit yang bisa dibaca : “Gapura buta anahut buntut” (gapura raksasa menggigit ekor ular), yang bisa di baca tahun 1359. Seperti tahun pada sisi utara gapura. Yang paling unik adalah motif yang berada di lantai gapura, terdapat paduan lingg-yoni.

Dalam bentuk nyata. Gambaran vagina dan penis ini diduga sebagai larnbang kesuburan. Sepintas memang nampak porno, tetapi tentu saja bukan ini maksudnya. Sebab tidak mungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno.

Relief Sudhamala.

Sebaliknya, relief lingga-yoni ini sesungguhnya sebagai Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja di pahat I di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”. Boleh jadi, relief ini memang berfungsi sebagai “suwuk” untuk “ngruwat”, yaitu membersihkan segala kotoran yang mengotori hati manusia.

Pada teras kedua terdapat gapura yang tidak utuh lagi. Dari prarekonstruksi, gapura ini dulunya berbentuk gapura bentar, seperti pintu gerbang masuk candi-candi di Jawa Timur umumnya. Bagian depan gapura terdapat sebuah arca Dwarapala yang saat ini sudah dalam keadaan aus. Arca ini lain dengan dwarapala pada arca candi-candi pada umumnya karena nyaris tanpa aksesori. Tubuhnya polos, dan bahkan gada yang dibawanya pun tanpa ukiran.

Undak atau teras ketiga berupa kompleks candi induk dan merupakan kawasan paling suci. Untuk memasuki teras ketiga, pengunjung harus melewati sebuah gapura yang tak utuh lagi. Candi induk ini berukuran 15 x 15 meter. Di atas bagunan ini diperkirakan ada bangunan candi yang terbuat dari kayu. Perkiraan berdasarkan sisa-sisa umpak batu pada bagian atas candi. Di kompleks ini juga terdapat arca binatang berupa kura-kura, garuda, dan gajah, arca tokoh raksasa yang tak dikenal, dan Dwarapala. Pada salah satu arca garuda terdapat prasasti berangka tahun 1363 Saka atau 1441 Masehi, dan 1364 Saka atau 1442 Masehi. Sementara pada sisi kanan-kiri di depan candi induk terdapat relief yang menggambarkan cerita Sudhamala dan Garudeya yang mengisahkan tentang upacara suci ruwatan. Candhi Sukuh memang dibuat bertrap-trap semakin ke belakang semakin tinggi. Berbeda dengan umumnya candhi-candhi di di ]awa Tengah, Candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya.

Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candhi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang ditengah itulah tempat yang paling suci. Namun satu hal yang mungkin mencengangkan, Candi Sukuh temyata dibangun menyimpang dari aturan-aturan itu. Namun penyimpangan ini bukanlah sesuatu yang mengherankan. Pasalnya, ketika Candi Sukuh dibangun, masa kejayaan Hindu mulai memudar. Akibatnya kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi, yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithie, sehingga mau tak mau ikut mewarnai dan memberi ke khasan pada candhi Sukuh ini. Selanjutnya, trap ketiga candi dianggap trap paling suci. Di tempat inilah ritual atau sembahyang dilakukan. Salah satu yang menandai bahwa trap ini sebagai tempat suci, adalah dengan banyaknya petilasan di kawasan ini. Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelali kiri serta patung-patung di sebelah kanan. ]ika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui.

Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jilca seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas. Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapa yang terbuat dari batu. ]alan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.

Di sebelah selatan jalan batu, di pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil “ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari di kayangan dengan nama bethari Uma Sudamala maknanya ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil “ngruwat”. Adapun Cerita Sudamala diambil dari buku Kidung Sudamala. Lima fragmen ini masin-masing terpeta jelas dalam bentuk relief. Relief pertama menggambarkan ketika Dewi Kunti meminta kepada Sadewa agar mau “ngruwat” Bethari Durga namun Sadewa menolak. Relief kedua, Bima mengangkat raksasa dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menancapkan kuku “Pancanaka” ke perut raksasa. Pada relief ketiga, Sadewa diikat kedua tangannya diatas pohon randu alas karena menolak keinginan “ngruwat” sang Bethari Durga. Sang Durga mengancam Sadewa dengan sebuah pedang besar di tangannya. Selanjutnya relief berkisah tentang Sadewa yang berhasil “ngruwat” sang Durga. Sadewa kemudian diperintahkan pergi kepertapaan Prangalas. Di tempat inilah konon Sadewa menikahi Dewi Pradapa. Sementara relief ke lima menggambarkan ketika Dewi Uma (Durga setelah diruwat Sadewa) berdiri di atas Padmasana. Sadewa beserta panakawan menghaturkan sembah pada sang Dewi Uma.

Pada pelataran ini juga dapat ditemui soubasement dengan tinggi 85 cm, luasnya sekitar 96 M2. Ada juga obelisk yang menyiratkan cerita Garudeya. Cerita soal Garudeya merupakan cerita “ruwatan” pula. Konon, Obelisk ini mengisahkan Garuda yang mempunyai ibu bernama Winata yang menjadi budak salah seorang madunya yang bernama dewi Kadru. Dewi Winata menjadi budak Kadru karena kalah bertaruh tentang warna ekor kuda uchaiswara. Dewi Kadru menang dalam bertaruh sebab dengan curang dia menyuruh anak-anaknya yang berujud ular naga yang berjumlah seribu menyemburkan bisa-bisanya di ekor kuda uchaiswara sehingga warna ekor kuda berubah hitam. Dewi Winata dapat diruwat sang Garuda dengan cara memohon “tirta amerta” (air kehidupan) kepada para dewa. Kembali pada bangunan candi, di sisi selatan jalan batu ada terdapat candi kecil, yang di dalamnya terdapat arca dengan ukuran yang kecil pula.

Patung mahluk bersayap.

Menurut mitologi setempat, candi kecil itu merupakan kediaman Kyai Sukuh penguasa ghaib kompleks candi tersebut . Di dekat candi kecil terdapat arca kura-kura yang cukup besar sejumlah tiga ekor sebagai lambang dari dunia bawah yakni dasar gunung Mahameru, juga berkaitan dengan kisah suci agama Hindhu yakni “samudra samtana” yaitu ketika dewa Wisnu menjelma sebagai kura-kura raksasa untuk’ membantu para dewa-dewa lain mencari air kehidupan (tirta prewita sari). Ada juga arca garuda dua buah berdiri dengan sayap membentang. Salah satu arca garuda itu ada prasasti menandai tahun Saka 1363.

Juga terdapat prasasti yang menyiratkan bahwa Candi Sukuh dalam candi untuk pengruwatan, yakni prasasti yang diukir di punggung relief sapi. Dalam relief ini, sapi tadi digambarkan sedang menggigit ekornya sendiri dengan kandungan sengkalan rumit : Goh wiku anahut buntut maknanya tahun 1379 Saka. Sengkalan ini makna tahunnya persis sama dengan makna prasasti yang ada di punggung sapi yang artinya kurang lebih demikian : untuk diingat-ingat ketika hendak bersujud di kayangan (puncak gunung), terlebih dahulu agar datang di pemandian suci. Saat itu adalah tahun saka Goh Wiku anahut buntut 1379. Kata yang sama dengan ruwatan di sini yaitu kata : “pawitra” yang artinya pemandian suci. Karena kompleks Candi Sukuh tidak terdapat pemandian atau kolam pemandian maka pawitra dapat diartikan air suci untuk “ngruwat” seperti halnya kata “tirta sunya”.

Tempat suci untuk pengruwatan. Sejumlah bukti menegaskan hal ini. Sebut saja misalnya relief lingga-yoni di gapura pertama. Selain berfungsi sebagai “suwuk”, relief ini juga berfungsi untuk “ngruwat” siapa saja yang memasuki candi. Selanjutnya adalah relief Sudamala yang menceritakan Sadewa “ngruwat” sang Durga, juga relief Garudeya yang menggambarkan Garuda “ngruwat” ibunya bernama dewi Winata. Prasasti tahun 1363 Saka pun menegskan fungsi ngruwat ini lewat tulisan “babajang maramati setra hanang bango”. Termasuk prasasti tahun 1379 Saka yang mencantumkan kata “pawitra” yang berarti air suci (air untuk pengruwatan). Ditemukan pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta pada masa pemerintahan Gubernur Raffles, Candi Sukuh memang segera menjadi banyak perhatian para arkeolog. Mulai saat itu banyak kalangan sarjana rnengadakan penelitian Candhi Sukuh antara lain Dr. Van der Vlis tahun 1842, Hoepermen diteruskan Verbeek tahun 1889, Knebel tahun 1910, dan sarjana Belanda Dr. WF. Stutterheim. Untuk mencegah kerusakan yang semakin memprihatinkan, Dinas Purbakala setempat pernah merehabilitasi Candi Sukuh pada tahun 1917, sehingga keberadaan Candi Sukuh seperti kondisi yang kita lihat sekarang. Candi Sukuh terdiri tiga tiga trap. Setiap trap terdapat tangga dengan suatu gapura. Gapura-gapura itu amat berbeda bila dibandingkan dengan gapura umumnya candi di ]awa Tengah, apa lagi gapura pada trap pertama. Bentuk bangunannya mirip candi Hindu dipadu dengan unsur budaya asli Indonesia yang nampak begitu kentara, yakni kebudayaan Megaliticum. Barangkali unik, candi yang berdiri pada abad ke-15 ini tidak dibangun oleh para petinggi kerajaan, tapi justru dibangun oleh masyarakat pinggiran pelarian Majapahit yang menghindari pasukan Demak Bintoro. Karena itu bentuk candi ini lebih banyak berupa punden berundak, dengan keunikan-keunikan arca yang berbeda dengan candi-candi pada umumnya. Bentuk yang unik inilah yang menandai adanya akulturasi dari budaya Hindu yang dibawa orang-orang Majapahit, dengan kepercayaan masyarakat Jawa pinggiran yang masih menyembah arwah nenek moyang. Maka, tak berlebihan jika Candi Sukuh dikatakan sebagai monumen sejarah perubahan peradaban dari agama Hindu ke lsalam di]awa.

Bahkan, bisa dikatakan candi ini merupakan bangunan terakhir dalam era peradaban candi-candi. Satu keunikan lain, kornpleks candi ini terdapat patung-patung makhluk bersayap. Makhluk ini disebut sebagai garuda karena salah satu patung yang masih utuh menunjukkan kepala seperti burung garuda. Hanya saja, patung-patung ini memiliki tangan dak kai seperti manusia dan sayap seperti malaikat. Apakah patung ini menggambarkan makhluk alien? Di luar keunikannya, candi ini sangat sederhana dan berisikan sejumlah relief dengan berbagai bentuk. Di antaranya bentuk kelamin laki-laki dan wanita yang dibuat hampir bersentuhan. Pada deretan relief~relief yang menghiasi dinding candi juga digambarkan relief tubuh bidadari dengan posisi “pasrah” serta relief rahirn wanita dalam ukuran cukup besar. Relief-relief seks itu menggambarkan lambang kesucian antara hubungan wanita dan pria yang merupakan cikal bakal kehidupan manusia. Hubungan pria dan wanita melalui relief ini dilambangkan bukan melampiskan hawa nafsu, tapi sangat sakral yang merupakan curahan kasih sayang anak manusia untuk melahirkan sebuah keturunan.

Tak heran jika candi ini juga dikenal sebagai candi paling erotis. Pada bagian lain, candi ini juga dipenuhi relief-relief yang satu sama lain tidak berhubungan sehingga melahirkan banyak ceritera dan legenda. Kisah-kisah tentang relief itu suaminya Batara Guru karena berbuat serong dengan seorang penggembala. Ada juga ceritera wanita yang kalah judi lalu dibebaskan di candi ini sehingga bisa masuk sawarga (surga). Legenda warga setempat menyebut candi ini merupakan tempat bertemu dengan roh yang sudah meninggal. Berdiri di lereng Gunung Lawu, membuat udara sekitar candi sejuk. Bahkan pada musim penghujan, tak jarang kabut tebal selalu menyelimuti kawasan candii Setiap bulan antara 200-250  turis asing. Sebagian besar ingin melihat erotisme candi, sebagian yang lain ingin melakukan meditasi.

Read More

Peraturan Daerah Tahun 2011

Daftar Peraturan Daerah Tahun 2011 berisi antara lain tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan, Bank Perkreditan Rakyat, Badan Usaha Milik Desa, Jalan Daerah, Pertambangan Mineral Dan Batubara, Pencabutan Peraturan Daerah, Penanggulangan Bencana Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Badan Pelayanan Perizinan Terpadu, dan Satuan Polisi Pamong Praja

Read More

Dua kecamatan di Karanganyar dilanda longsor

Bencana alam tanah longsor terjadi di Kecamatan Ngargoyoso dan Kecamatan Matesih, Senin (16/5). Di hari yang sama, rumah salah satu warga Kecamatan Jatipuro juga roboh karena diterjang angin kencang yang disertai hujan. Kerugian dari bencana tersebut mencapai puluhan juta rupiah.

Tanah longsor terjadi di Dusun Sumbersari RT 1/RW I, Desa Kemuning, Ngargoyoso dan di Dusun Balerejo RT 2/RW XI, Desa Koripan, Matesih. Di Balerejo, longsoran talud pondasi rumah milik warga setempat, Sariman Pawiro Wiyono, 50, menimpa rumah Senen Prapto Wiyono. Rumah Sariman terletak di sebelah rumah Senen, yang lokaisnya lebih rendah. “Karena kena longsor, kamar tidur dan dapur rusak.

Menurutnya, saat kejadian sekitar pukul 17.00 WIB, turun hujan yang cukup deras. Tak disangka, mendadak ada suara gemuruh dari samping rumah Senen. Karena tidak luat menahan gempuran talut rumah yang longsor, dinding rumah Senen pun jebol. Akibatnya, dinding rumah Senen bolong, tanah masuk ke dalam rumah dan dinding rumah pun juga retak.

Sementara di Kemuning, Ngargoyoso, pekarangan rumah milik Pawiro Sukarto, 70, ambrol. Tebing tanah pekarangan berukuran sekira 10 m x 6 m longsor dan langsung menutup jalan desa yang terletak di samping bawah rumah Pawiro. Mengetahui jalan tertutup, warga setempat langsung bekerja bakti membersihkan sisa tanah yang menutup jalan tersebut. Pekarangan rumah milik Jumadi, 45, juga longsor dan merusak kebun jagung di bawahnya.

Rumah roboh
Selain mengakibatkan tanah longsor, hujan deras yang berlangsung cukup lama disertai angin kencang pada Minggu (15/5) siang hingga malam, juga merobohkan rumah Supoyo, 53, warga Dusun Tegalkatak RT 5/RT II, Desa Jatisuko, Kecamatan Jatipuro. Akibatnya, rumah Supoyo roboh. Begitu mendengar suara gaduh di rumah bagian belakang, Supoyo sekeluarga langsung lari keluar rumah. “Atap rumah saya yang bagian belakang langsung roboh,” ujar Supoyo. Ia mengakui, rumahnya yang sudah lapuk itu memang sudah tidak kuat menahan beban. Sehingga saat ada angin kencang, beberapa bagian rumahnya langsung roboh.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru Kristanto mengimbau kepada warga yang tinggal di daerah rawan bencana, untuk tetap waspada. “Apalagi kalau setelah hujan lebat. Warga yang tinggal di zona merah rawan bencana, segera melapor ke pihak yang berwenang agar bisa cepat mendapatkan pertolongan

Read More

Jalur Utama Terancam Putus

Longsor di Ganoman, Koripan, Matesih Jumat (6/5) meluas. Kondisi ini memaksa pengendara yang melintasi jalur Matesih – Tawangmangu harus mengantre, sehingga membuat transportasi menjadi tersendat.

Read More