LAMPU PENERANGAN JALAN: DKP Karanganyar Tambah LPJU

Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Karanganyar bakal melakukan penambahan lampu penerangan jalan umum (LPJU) di beberapa titik. Hal ini dilakukan untuk menambah kenyamanan bagi para pengendara bermotor.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Karanganyar, Maulan, mengatakan pihaknya mendapatkan laporan dari masyarakat terkait masih minimnya penerangan jalan di beberapa wilayah. Minimnya penerangan jalan itu dapat memicu terjadinya tindak kriminalitas.

“Memang banyak laporan masyarakat yang meminta agar PJU ditambah terutama di lokasi rawan tindak kriminal,”.

Menurutnya, pihaknya telah melakukan penambahan PJU di Jl Adi Soemarmo, Colomadu sebanyak enam titik. Selain itu, penambahan PJU juga dilakukan di jalan menuju Sragen sebanyak sembilan titik.  Maulan menjelaskan jumlah LPJU di Karanganyar sebanyak 1.650 lampu yang tersebar di wilayah Karanganyar.

“Kami tetap prioritaskan penambahan lampu PJU di jalan yang berdekatan dengan fasilitas umum (Fasum) dan sering dilewati pengendara bermotor,” jelasnya.

Sementara itu, seorang warga Desa Ngijo, Tasikmadu, Prayitno, meminta agar penambahan LPJU juga dilakukan di jalan perkampungan. Selama ini, masih banyak kondisi jalan perkampungan yang gelap gulita. Selain itu dia juga meminta penambahan LPJU di jalan sekitar lahan persawahan. Sehingga, pengendara bermotor lebih nyaman saat melewati area persawahan yang kondisinya sepi.

Read More

DISHUB RAZIA TRUK, Cegah Kerusakan Jalan Adisumarmo Semakin Parah

Aparat gabungan Dishubkominfo Karanganyar dan Polres Karanganyar menggelar razia tonase truk yang melintas di Jl Adisumarmo, Minggu (18/3/2012) malam. Razia tersebut terkait dengan banyaknya kendaraan berat melebihi batas tonase yang diduga kuat menjadi penyebab kerusakan jalur alternatif tersebut.

Dalam razia yang dipusatkan di sekitar Soto Sawah tersebut, aparat merazia belasan truk dan bus yang melintas di jalur tersebut. Aparat gabungan mulai menghentikan setiap truk yang lewat sejak pukul 21.45 WIB hingga pukul 24.00 WIB. Tak sampai satu jam, sudah ada 12 truk yang dirazia karena tonasenya lebih dari 7 ton.

“Truk yang datang dari timur kita suruh balik ke timur, begitu pula yang datang dari barat kita suruh kembali ke barat. Nanti biar mereka memberi tahu rekan-rekannya,” kata Kepala Dishubkominfo Karanganyar, Nunung di sela-sela razia.

“Maksimal tonase 7 ton, tapi banyak yang lebih dari itu.”

Sementara itu Bupati Karanganyar Rina Iriani yang juga meninjau razia tersebut menegaskan bahwa razia ini adalah jawaban dari banyaknya komplain masyarakat atas buruknya kondisi jalur tersebut. Rina sangat menyesalkan banyaknya kendaraan berat di Jl Adisumarmo yang ikut memperburuk kondisi jalan karena biaya perbaikan jalan ini tiap tahun sangat besar.

“Saya tidak mau terus-terusan disalahkan gara-gara jalan ini,” ujar Rina di sela-sela razia. “Ini kan jalan kabupaten. Setiap kali perbaikan butuh anggaran sekitar Rp100 juta sampai Rp150 juta. Jadi kalau setahun ya sampai Rp900 juta,” lanjutnya usai menghubungi Kepala DPU Karanganyar, Priharyanto.

Oleh karena itu ke depan Pemkab Karanganyar berencana untuk melakukan peningkatan jalan yang diperkirakan menelan dana Rp2 miliar-Rp2,5 miliar. Hal ini dianggap lebih efektif dari pada tiap tahun harus mengeluarkan anggaran Rp900-an juta.

Razia ini sempat mendapatkan protes dari beberapa sopir truk. Dalimin, sopir truk pasir yang datang dari Deles, Manisrenggo, Klaten, sempat ngeyel pada aparat. “Kami para sopir sering dikorbankan. Padahal truk saya kosong,” katanya di depan Rina.

Menurut Rina, dia sudah lama berencana menggelar razia seperti ini. Dia juga sudah memerintahkan Dishubkominfo untuk terus melanjutkan razia ini. Bahkan Rina juga mendukung wacana pemasangan portal jalan seandainya sudah ada aturan resminya.

“Kalau ada aturan portal, pasti saya akan segera perintahkan untuk pasang portal. Jadi maksimal tonasenya kan 7 ton,” katanya.

Sumber : http://www.solopos.com

Read More

MELASTI Proses Pembersihan Batin Manusia Dan Alam

Ratusan umat Hindu Karanganyar dengan membawa berbagai sesaji yang diletakkan di atas kepala maupun digendong berduyun-duyun mendatangi Telaga Madirda di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Minggu (18/3/2012).

Mereka kemudian meletakkan sesaji tersebut di atas meja panjang. Sesaji ini disembahkan untuk melaksanakan upacara Melasti, sebelum hari Nyepi yang jatuh pada Jumat (23/3/2012) mendatang. Setelah meletakkan sesaji di atas meja panjang, para umat itu lalu mengambil air dari sumber air telaga.

Denting-denting suara lonceng memecah keheningan di tengah udara dingin yang menusuk tulang di Telaga Madirda. Sembari terus menggerakkan lonceng, seorang pedande terus melafalkan doa-doa pada Sang Hyang Widhi. Sementara ratusan umat hindu tampak khusyuk mengikuti doa yang tengah dipanjatkan Pedande tersebut.

Kawasan telaga yang terletak di salah satu kawasan kaki Gunung Lawu ini menjadi salah satu pusat tempat  upacara melasti yang dilakukan umat hindu Karangayar. Makna Upacara melasti yakni proses pembersihan lahir batin manusia dan alam, dengan jalan menghayutkan segala kotoran menggunakan air kehidupan. Oleh karena itu prosesi sembahyang dilakukan di sumber-sumber air.

Upacara melasti di mulai dengan pengambilan air dari sumber mata air di sudut telaga. Beberapa umat pun turut mengambil air sembari melafalkan doa agar diberi kesucian saat melaksanakan catur brata penyepian. Beberapa sesaji seperti makanan dan buah-buahan juga turut dipersembahkan dalam ritual ini.

Seusai melakukan persembahyangan sebagian sesaji yang telah didoakan ini dilabuh di Telaga Madirda. Hal ni dilakukan sesuai dengan ajaran dalam kitab suci wedha. Bagi umat hindu, upacara Melasti ini bertujuan untuk menyucikan diri dengan tirta atau air. Melasti merupakan awal dari rangkaian perayaan Nyepi tahun baru saka 1934.

“Upacara ini memang menjadi satu rangkaian persiapan  perayaan  hari Nyepi. Upacara melasti bertujuan untuk menyucikan diri sebelum melaksanakan catur brata penyepian,” kata pemangku Agama Hindu Karanganyar Jero Mangku Made Murti.

Selain untuk menyucikan diri, dia menambahkan ritual melasti ini juga bertujuan untuk menyucikan alam. Penggunaan kidung Jawa sendiri berpatokan pada ajaran kitab wedha agar umat hindu menghormati adat istiadat setempat. “Karena ini di Jawa maka kita harus menghormati leluhur-leluhur yang ada,” ujarnya.

Rangkaian upacara Hari Nyepi akan dilanjutkan dengan tawur agung kesanga. Setelah itu pada 23 Maret mendatang terhitung mulai pukul06.00 hingga 24 jam berikutnya, umat hindu akan melaksanakan Nyepi.

“Di sini umat hindu akan mengamalkan catur brata, yaitu tidak melakukan pekerjaan, tidak menyalakan api, tidak bepergian dan tidak bersenang-senang,” katanya.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/karanganyar/melasti-proses-pembersihan-batin-manusia-dan-alam-171531

Read More

Pedagang Klitikan Diminta Masuk Pasar

Pedagang klithikan yang menempati sisi barat Pasar Klodran diminta untuk masuk ke dalam pasar. Langkah ini dilakukan untuk menghidupkan kembali Pasar Klodran, Colomadu yang kondisinya sepi beberapa tahun terakhir.

Kepala Desa Klodran Warsito mengungkapkan kondisi pasar sangat sepi dan tidak mengalami perkembangan yang signifikan sejak dibangun pada tahun 2005 lalu. Padahal, selama ini, pihaknya telah mengupayakan dengan berbagai cara seperti menggelar bazaar dan senam pagi di pasar tersebut.

“Semuanya sudah diupayakan untuk menghidupkan kembali Pasar Klodran namun tidak ada perkembangan,” ujarnya saat ditemui  di kantornya, Rabu (14/3/2012).

Berdasarkan data, kios di Pasar Klodran berjumlah 120 kios. Sementara kios yang kini masih digunakan untuk berjualan hanya sekitar 30-an kios. Sementara pedagang klithikan biasanya berjualan di sore hari. Sehingga Pasar Klodran hanya ramai di saat sore hari ketika pedagang klithikan menggelar dagangannya.

Sementara itu seorang pedagang klithikan, Wahyu Hidayat, menyanggupi jika diminta untuk pindah ke dalam pasar. Namun dia meminta agar pedagang tidak dikenai biaya sewa kios karena penghasilannya masih minim.

Jumlah pedagang klithikan yang berjualan di sisi barat Pasar klodran sekitar 20-30 orang. “Kami sengaja berdagang di pinggir jalan agar pembeli tertarik dengan barang dagangan yang ditawarkan,” pungkasnya.

Read More

Bus Sumber Selamat Terguling Di Kebakkramat

Bus Sumber Selamat jurusan Surabaya-Yogyakarta terguling di ruas jalan raya Solo-Sragen KM 11,8 di Kebak, Kebakkramat, Karanganyar, Rabu (14/3/2012) sekitar pukul 04.00 WIB. Kecelakaan diduga lantaran sopir bus menghindari sepeda motor yang menyeberang.

Tidak ada korban jiwa, namun belasan penumpang bus mengalami luka-luka, dua diantaranya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit terdekat.  Kecelakaan juga sempat membuat jalur Solo-Sragen tersendat hingga beberapa jam.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian menyebutkan kecelakaan tunggal terjadi sekitar pukul 04.00 WIB. Saat itu bus Sumber Selamat nopol W7524UY dari arah Surabaya menuju Solo melaju dengan kecepatan sedang. Sesampainya di tempat kejadian perkara (TKP) seorang pengendara motor tiba-tiba memotong jalur bus dan menyeberang jalan.

Sopir bus yang kaget spontan langsung membanting kemudi agar bus tidak menabrak pengendara sepeda motor tersebut. Namun naasnya meski berhasil menghindari tabrakan badan bus justru terguling ke jalur lambat.

“Saya coba banting setir menghindari motor. Karena ada motor nyelonong dan motong jalan. Malah bus tidak terkendali terus terguling ke jalur lambat,” ujar sopir bus Teguh.

Aparat Satlantas Polres Karanganyar berusaha mengatur arus lalu lintas di jalan raya Solo-Sragen. Banyaknya pengguna jalan yang melintas sambil melihat bodi bus yang masih terguling menyebabkan arus lalu lintas menjadi tersendat.

Proses evakuasi badan bus baru bisa dilakukan sekitar pukul 07.00WIB setelah dua mobil derek didatangnya untuk mengangkut bus terguling tersebut.

Read More

Tawangmangu Rawan Banjir

Berada di daerah pegunungan ternyata tidak meluputkan Tawangmangu dari banjir. Pasalnya setiap kali hujan deras, separuh dari ruas jalan Raya Tawangmangu mulai dari pertigaan Kelurahan Tawangmangu ke atas selalu tergenang air luberan dari saluran air di sepanjang trotoar karena tidak mampu menampung aliran air dari sungai di Lereng Gunung Lawu.
Camat Tawangmangu, Yopi Eko Jati Wibowo  mengatakan luapan air yang menggenangi jalan raya itu dikarenakan hilangnya daerah resapan air di daerah di atas Tawangmangu. Berkurangnya daerah resapan air ini, dikarenakan banyaknya bangunan vila dan perumahan di daerah tersebut.
Ditambah lagi vila dan perumahan tersebut sebagian besar tidak memperhatikan faktor drainase sehingga menjadikan tangkapan air menjadi rendah, dan  air langsung mengalir ke bawah. “Banjir seperti ini sudah berlangsung cukup lama. Sejak saya menjabat sebagai camat, tiga tahun lalu, kondisinya sudah seperti itu,” ungkap Yoppi.
Ia juga mengatakan banjir ini juga disebabkan tidak semua tempat pembuangan arus sungai yang ada di Tawangmangu beroperasi dengan baik. Karena saat ini tiga pintu pembuangan arus sungai, hanya satu yang berani dibuka. “Yang lainnya jika dibuka dikhawatirkan ambrol karena bangunannya sudah tua, dan dirasa tidak mampu menahan lajunya air,” tandas dia.
Berbagai faktor tersebutlah yang menjadikan air di trotoar meluap dan membuat genangan air. Genangan paling parah berada di Terminal Tawangmangu dan Pasar Tawangmangu. Sementara itu, salah satu warga Sepanjang Tawangmangu, Widodo (30) membenarkan hal tersebut. Setiap kali hujan deras turun, maka sepanjang jalan dari atas hingga pertigaan Kantor Kelurahan Tawangmangu digenangi air luapan dari atas hingga setinggi lutut orang dewasa. “Airnya mengalir dengan deras,” ungkapnya.

Read More

4 Kecamatan Diterjang Puting Beliung

Belum usai penanganan bencana longsor yang merenggut dua nyawa warganya, kini dua Kecamatan di Karanganyar yakni Kecamatan Matesih dan Kecamatan Tawangmangu kembali terjadi bencana angin puting beliung, Minggu (26/2). Sehari sebelumnya angin puting beliung juga menerjang dua Kecamatan di wilayah Sragen yakni Gondang dan Tanon Sabtu (25/2) petang. Sedikitnya 14 rumah rusak berat dan ambruk, lima trafo milik PLN hancur, serta puluhan pohon tumbang akibat terjangan angin berkecepatan tinggi tersebut.

Akibat dari kencangnya sapuan angin tersebut mengakibatkan sedikitnya sekitar 15 rumah rusak di Dusun Pelas Desa Bandardawung Kecamatan Tawangmangu dan sejumlah pohon tumbang di ruas jalan Matesih – Tawangmangu sehingga sempat memacetkan jalan sekitar 1,5 jam. Selain menyapu atap dan bangunan sekitar 15 rumah, angin juga menghancurkan lima buah kandang ayam warga sehingga menyebabkan sekitar 15.000 ekor ayam milik warga mati tak terselamatkan. Sementara ini kerugian ditaksir mencapai angka Rp 100 juta karena ayam tersebut dua pekan lagi akan dipanen.

Camat Tawangmangu, Yopi Eka Jati Wibowo mengatakan angin puting beliung terjadi sekitar pukul 14.00 WIB saat hujan deras. Angin yang bertiup kencang juga mengakibatkan sejumlah pohon besar di pinggir jalan tumbang dan puluhan atap rumah warga habis dibawa angin. “Untungnya tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut, hanya saja ribuan ayam yang siap dipanen mati tertimpa kandang yang roboh,” ujarnya Minggu (26/2).

Di wilayah Kecamatan Gondang, kerusakan terparah melanda Desa Grasak. Berdasarkan data di Kecamatan, musibah tersebut mengakibatkan 13 rumah warga rusak berat tertimpa pohon tumbang. Bahkan, rumah Budi Anggono (35) warga Grasak tidak dapat lagi ditempati karena sebagian sudah hancur diterjang angin.
Selain itu, terjangan angin juga merusak perkebunan jati milik enam warga yang berhimpitan. Belasan pohon jati usia muda yang berada di areal Dusun Grasak tumbang dan rusak total. “Kejadiannya sekitar jam 17.00 WIB pada saat hujan deras. Tiba-tiba dari arah utara datang angin kencang, lurus dan menerjang semua yang ada. Rumah saya juga tertimpa pohon sampai rusak begini,” papar Purwanto (67) warga Gasak.

Camat Gondang Budi Setyawan mengatakan berdasarkan pendataannya, ada 19 KK yang menjadi korban dengan kerugian material mencapai Rp 30 juta. “Harapan kami, karena mayoritas korban yang rumahnya rusak itu adalah warga miskin, sehingga secepatnya bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah kabupaten,” paparnya ditemui di sela-sela pendataan kerusakan di Grasak Minggu (26/2) pagi.

Read More

Jembatan Ngledok Ambrol, Akses 2 Dusun Terputus

Akibat tak kuat menahan derasnya arus sungai di bawahnya, jembatan penghubung Dusun Nggeger dan Dusun Ngledok, Desa Ngargoyoso Kecamatan Ngargoyoso ambrol, Jumat (24/2) dini hari sekitar pukul 01.30 WIB.Ambrolnya jembatan tersebut selain memutus akses jalan dua dusun juga mengakibatkan aktivitas kegiatan belajar mengajar di Dua Kecamatan yakni Kecamatan Ngargoyo dan Kerjo ikut terganggu.
Salah satu warga Ngledok, Mulyadi (34) mengatakan jembatan tersebut mulai ambrol pukul 01.30 WIB, Jumat (24/2) dini hari karena salah satu fondasinya runtuh. “Saya waktu itu keluar rumah untuk melihat situasi, dan ternyata di jembatan ternyata sudah putus,” ujarnya. Ia mengaku jembatan ini menjadi jalan utama khususnya bagi pelajar di SMP N 3 Ngargoyoso. Meskipun sekolahnya berada di Dusun Nggeger Desa dan Kecamatan Ngargoyoso namun kebanyakan siswanya justru berasal dari Kecamatan Kerjo. “Kalau putus begini siswa yang dari Kerjo otomatis juga repot, ini akses utama ke sekolahan,” jelasnya. Mulyadi menambahkan jika harus memutar, satu-satunya jalan alternatif hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki sekitar lima Kilometer, kalau dengan kendaraan tentu repot lagi karena harus memutar lebih jauh lagi.
Warga lainnya, Sutarno (35) mengungkapkan untuk memperlancar arus transportasi dan memudahkan para pelajar, warga sudah sepakat dan berniat mencarikan solusi dengan membangun jembatan darurat sembari menunggu dibangun oleh Pemerintah. Kendati tidak sekokoh jembatan permanen, namun sementara yang terpenting bisa dilalui.“Kita harapkan dengan adanya pemberitaan ini, jembatan bisa dibangun karena ini akses utama kedua dusun,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Karanganyar, Priharyanto justru baru mengetahui kabar tersebut. Namun dirinya berjanji akan mengecek  kebenaran informasi tersebut. Saat dikonfirmasi terkait upaya Pemkab untuk perbaikan jembatan ini, Priharyanto mengatakan bahwa setiap upaya pembangunan dengan menggunakan dana APBD harus melalui proses lelang terlebih dahulu. “Kalau langsung dibangun, nanti kita malah kena KPK. Prosedurnya seperti itu diusulkan lewat APBD, lelang baru dibangun, memang lama tetapi ya begitulah prosedurnya,” jelasnya.

Read More

217 Rumah Rusak Terkena Longsor

Jumlah total rumah yang rusak terkena bencana longsor pada Rabu dinihari mencapai 217 unit. Mulai yang rusak ringan, sedang hingga rusak berat karena hancur total seperti yang dialami Reksowasimin, Karyojimin di dusun Banjar, Desa Gerdu, Karangpandan.

”Pendataan dan hasil laporan yang kami terima dari daerah, yang rusak memang sangat banyak. Paling banyak di Ngargoyoso yang mencapai 112 unit rumah. Di antaranya ada 10 rumah yang rusak berat karena lebih dari 75 % bangunannya roboh,” kata Aji Pratama Heru Kristianto, Kepala   Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar.

Kepada Suara Merdeka, dia mengatakan selain Ngargoyoso, yang juga cukup banyak adalah Matesih 69 rumah. Meski demikian kerusakannya relatif ringan. Kemudian Jenawi yang rusak 23 unit dengan tingkat kerusakan berat 2 unit. Karangpandan 13 rumah rusak, 3 unit rumah hancur total. Selain kerusakan rumah yang tertimpa longsoran, yang juga mengalami kerusakan adalah infrastruktur seperti dam, jalan, saluran irigasi, talud, serta sarana umum seperti masjid dan kantor inventaris pemerintah. Ada 22 jenis yang rusak meski tidak terlalu berat.

”Yang paling berat adalah jalan yang tertutup longsor. Sampai sore ini, yang belum tertangani tinggal longsoran yang menutup jalan penghubung Matesih-Karangpandan, persis di pertigaan rumah Reksowasimin yang meninggal. Di situ longsoran menutup jalan sepanjang 50 meter. Selain itu di longsoran bekas rumah Mbah Rekso juga belum dibersihkan,” katanya.

Untuk mendatangkan alat berat agar mempercepat proses pembersihan, petugas BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum Karanganyar kesulitan karena medan jalan yang sangat curam. Satu-satunya akses dari arah Girilayu, Matesih.

”Tetapi jalannya menanjak tinggi dan menurun sangat curam, sehingga truk tidak bisa masuk membawa bulldozer. Jadi harus menunggu dari arah Gerdu, dan sementara membersihkan dulu jalur tersebut karena beberapa titik ada longsoran kecil, sebelum sampai di lokasi longsoran besar itu,” kata Heru.

Sementara itu untuk mengantisipasi bencana yang mungkin masih bisa terjadi selama musim hujan ini, pihaknya mewaspadai delapan kecamatan yang sangat rawan longsor. Selain empat wilayah yakni Jenawi, Karangpandan, Ngargoyoso, Matesih, ditambah Tawangmangu, Jatiyoso, Jatipuro, dan Kerjo.

Area Waspada

”Di lokasi itu kami sudah memiliki denah wilayah merah, yakni wilayah yang masuk area waspada. Sudah banyak tanda-tanda longsor, sehingga harus diwaspadai. Kami terus menyiagakan sekitar 100 personel gabungan, termasuk bantuan dari kabupaten lain yang juga sudah siap jika terjadi sesuatu,” jelasnya.

Dia mengingatkan tiga tanda akan terjadi longsor pada masyarakat dan harus diwaspadai.

Pertama pepohonan di atas bukit sudah mulai miring dan tidak berdiri gagah lagi. Kedua bebatuan sudah sering berjatuhan dari atas. Ketiga saluran air dari atas bukit justru berkurang debitnya

Read More

LONGSOR MENIMPA BEBERAPA TEMPAT

Akibat hujan deras yang tidak berhenti dari hari Selasa jam 20.00 WIB (21/02) sampai Rabu (22/02) dini hari mengakibatkan tanah longsor dibeberapa tempat di Karanganyar.

Diantaranya, terjadi di dusun Gerdu, desa Banjar, Kecamatan Karangpandan menimbun 4 rumah dan menewaskan satu korban meninggal dunia yaitu Reso Walimin, 60 tahun, yang tertimbun tanah. Petugas dari TNI, Polres, BPBD Karanganyar, SAR, dan dibantu warga masyarakat mengevakuasi jenazah dan membersihkan longsoran tanah. Pada hari ini juga jenazah korban akan dimakamkan. Selain itu juga longsoran menimbun jalan yang menghubungkan antar desa.

Kemudian longsor juga menutup jalan Karanganyar-Tawangmangu, tepatnya di Srandon, Tawangmangu. Akibat longsor, akses jalan Karanganyar-Tawangmangu terhambat. Petugas dari TNI,PMK dan dibantu relawan membersihkan longsoran yang menutup jalan tersebut.

Korban meninggal lainnya yakni Sukiningsih, 70 tahun, warga Drojo, desa Puntukrejo, Ngargoyoso akibat terkejut melihat sebagian rumahnya tertimbun tanah.

Read More