Srawung Seni Candi

Bulan Suro bagi sebagian masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah menjadikan sarana untuk introspeksi, sehingga pada bulan itu jarang ditemukan kegiatan yang bersifat kesenangan dan kegembiraanYang ada adalah ritual-ritual dan doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun seiring dengan berjalannya waktu kehidupan masyarakat sudah mulai berubah. Tanpa meninggalkan tradisi leluhur yang sudah mengakar di masyarakat, kegiatan ritual dikemas menjadi sebuah atraksi budaya.

Kabupaten Karanganyar yang terletak di lereng Gunung Lawu memiliki banyak upacara tradisi antara lain Mandasiya, Wahyu Kliyu, Jabaleka, Dhukutan, Mapag Surya Jawi, Pasar Kumandang, dan sebagainya, yang kesemuanya itu dilakukan oleh warga masyarakat secara spontan dan turun temurun.

Di samping memiliki berbagai adat istiadat yang masih mengakar dan dilestarikan, Kabupaten Karanganyar juga memiliki beberapa peninggalan sejarah berupa Candi.

Candi, bukan sekedar tempat pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi pemeluknya , lebih dari iru adalah salah satu jejak sejarah peradaban dan budaya yang di dalamnya terdapat konteks kehidupan. Hingga sekarang Candi bisa berfungsi sebagai sumber kreatifitas dan sumber cipta seni lingkungan hidup.  Situs-situs candi tersebut merupakan cagar budaya, umpamanya Candi Sukuh dan Candi Cetho yang berisi relief-relief Dewaruci, Sudamala dan Garudeya, merupakan titik sambung dari jaman-jaman abad ke 14 dan 15 menuju ke kekinian, jaman Negara Kesatuan Republik Indonesia. Relief Dewaruci yang merupakan ajaran pencerahan jati diri, cerita Sudamala cerita tentang ruwatan Betari Durga yang menjadi cantik rupawan, serta cerita Garudeya di mana Sang Garuda menjadi lambang Negara berupa Garuda Pancasila, dengan filsafatnya Bhinekka Tunggal Ika.

Tidak pelak lagi hal tersebut di atas bisa menjadi acuan, semangat, inspirasi di dalam proses mawujud nilai-nilai pusaka pustaka pujangga yang akan sangat berguna bagi perkembangan seni budaya di Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya. Terasa sangat penting peranan Srawung Seni Candi yang keenam kalinya ini bisa dilihat banyaknya minat seniman maupun budayawan yang bersedia terlibat di dalam usaha merefleksikan diri maupun membabar ciptaan keluhuran dari tiap-tiap seniman dengan gaya kesenian rakyat kesenian tradisi maupun garap seni modern dalam lahan ungkap manusia alam dan Tuhan.

Juga dirasa sangat penting kalau kita melihat bahwa dalam kesenian rakyat maupun tradisi Indonesia masa sekarang ini terjadi perubahan nilai dengan adanya pergesekan antara dunia tradisi (adat istiadat) dengan perkembangan dunia global, yang membuat manusia Indonesia gamang akan nilai-nilai tradisi mereka sendiri. Terasa sekali adanya keterpisahan wujud dan isi yang kemudian tekanan tradisi menjadi sekedar sentuhan pada entertainment untuk paket-paket pariwisata, tv dsb. Semoga acara Srawung Seni Candi mampu menyumbang kekuatan daya tumbuh bagi kesenian dan kebudayaan Indonesia.

Dipilih kata Srawung Seni Candi diharapkan perhelatan ini masih mempunyai rasa kebersamaan, gotong royong, bowo roso, ngudo roso, ngobrol percakapan-percakapan antara penonton, kritikus, maupun penyaji. Kata Seni Candi diharapkan mampu mereguk inspirasi cerita-cerita relief, arsitektur alam dan masyarakat setempat.

Bepijak dari pentingnya melestarikan nilai-nilai tradisi dan budaya tersebut, maka segala inspirasi muncul guna mengenalkan seni tradisi dan budaya yang tak lekang oleh waktu bagi perkembangan seni budaya tanah air. Salah satunya diwujudkan dalam bentuk “Srawung Seni Candi”

Srawung Seni Candi yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2003 ini diharapkan sebagai sarana untuk menyatukan keinginan para pecinta seni dan para pujangga untuk mengekplorasi dan mengekspresikan nilai-nilai budaya dan tradisi dengan kolaborasi modern. Sehingga Srawung Seni Candi ini diharapkan menjadikan perhelatan yang dapat mewujudkan rasa kebersamaan, gotong royong, bowo roso, ngudo roso, ngobrol percakapan-percakapan antara penonton, kritikus maupun penyaji. Kata Seni Candi diharapkan mampu mereguk inspirasi cerita-cerita relief, arsitektur alam dan masyarakat setempat.

Perhelatan Srawung Seni Candi ini setiap tahunnya diselenggarakan oleh Padepokan Lemah Putih Gondangrejo Karanganyar, di bawah pimpinan Suprapto Suryodarmo, atau lebih dikenal dengan panggilan Mbah Prapto, bekerjasama dengan berbagai pihak, menjadikan sebuah entertainment yang menarik,sangat langka dan sayang untuk tidak disaksikan. Di sela-sela pertunjukan, dilaksanakan pula Seminar/ Sambung rasa terbuka. Sedangkan pada malam harinya diadakan malam tirakatan yang akan diampu oleh Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) Solo, HPK Karanganyar dan Forum Boworoso Tosan Aji Sudjatmoko.

Sumber : http://rumahkubiru.blogspot.com  & http://indonesiaartnews.or.id/eventsdetil.php?id=480

Read More

Sate Kelinci

Meski berada di garis ekuator dengan suhu udara panas dan lembab, Indonesia dianugerahi dengan banyak pegunungan yang menawarkan kesejukan. Salah satunya adalah Tawangmangu, kurang lebih 37 km sebelah timur Solo. Meskipun terletak di lereng gunung, kawasan wisata ini termasuk salah satu yang paling mudah untuk dikunjungi. Angkutan bus umum hampir setiap saat siap mengantar para wisatawan sampai ke terminal utama. Perjalanan darat selama kurang lebih 1,5 jam dari terminal Solo sudah menjadi daya tarik tersendiri. Pemandangan indah areal persawahan di kiri dan kanan jalan siap menyapa begitu memasuki wilayah Karanganyar.

Suasana pagi Tawangmangu sangat indah dan eksotik. Udara dingin khas pegunungan dan kabut dari puncak gunung yang menyelimuti memberikan aura keindahan tersendiri. Berjalan-jalan sambil menikmati indahnya areal persawahan, melihat aktivitas penduduk di pagi hari, ataupun menjelajahi pasar sangat manjur untuk menghilangkan penat dari kesibukan sehari-hari. Tawangmangu juga populer dengan produksi sayur dan buah-buahan segar. Sawah-sawah yang ditanami sawi, wortel, lobak, strawberry, dan aneka hasil bumi lainnya membentang dimana-mana.

Di tawangmanggu jangan lupa mengunjungi air terjun grojogan sewu  setinggi 81 meter yang terletak di kawasan ini. Disini sambil menikmati udara yang sejuk dan keindahan alamnya kita dapat wisata kuliner juga yaitu masakan khasnya sate kelinci disetiap sudut lokasi wisata grojokan sewu ini terdapat penjual sate kelinci dengan harga per porsi Rp 75.000.  Sate kelinci dapat disajikan dengan lontong, daging kelinci disiram dengan sambal kacang serta irisan cabe dan bawang merah semakin menambah nafsu makan. Menyantap sate kelinci terasa lebih nikmat dengan keindahan alam sekitar objek wisata. Ketika membeli sate kelinci harap bersabar karena proses pembakaran sate cukup lama.

Menurut para ahli, daging kelinci selain rendah kolesterol juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Daging kelinci mengandung zat yang disebut senyawa kitotefin. Senyawa ini apabila digabungkan dengan senyawa lain seperti omega 3 dan 9 disinyalir bisa untuk menyembuhkan penyakit asma. Berdasarkan pengalaman beberapa orang, daging ini juga berkhasiat menurunkan kadar gula bagi para penderita diabetes, sementara otaknya berkhasiat sebagai penyubur kandungan wanita.

Read More

Astana Giribangun

Astana Giribangun ialah salah satu obyek wisata religi yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Obyek wisata religi ini merupakan kompleks makam keluarga mantan Presiden Indonesia, Soeharto. Kompleks makam yang dibangun di atas bukit Ngaglik seluas kurang lebih 4,3 hektar ini, dinamakan Astana Giribangun.

Sebelum Astana Giribangun dibangun, sudah ada kompleks pemakaman keluarga Pura Mangkunegaran, yaitu Astana Mangadeg. Di dalam astana ini terdapat makam Kanjeng Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Sri Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo. Pada masa hidupnya, sang pangeran ini ialah seorang pendiri Praja Mangkunegaran, sebuah keadipatian tinggi di wilayah Jawa Tengah bagian timur.

Astana Giribangun dibangun pada tahun 1974, dan diresmikan pada hari Jumat Wage, tanggal 23 Juli 1976. Astana ini memiliki tiga bagian cungkup yang disebut Argotuwuh, Argokembang, dan Argosari. Satu bagian cungkup utama dan dua bagian cungkup lainnya merupakan calon makam yang diperuntukkan bagi keluarga dan para pengurus Yayasan Mangadeg.

Jika dilihat dari letaknya, Astana Giribangun ini berada di bawah Astana Mangadeg, hal ini menunjukkan arti bahwa masih terdapat garis keturunan antara Sri Hartinah (Bu Tien) dengan keluarga Mangkunegaran III. Di kompleks pemakaman keluarga Cendana inilah presiden kedua Indonesia dimakamkan. Dan sekarang menjadi tujuan para pengunjung/peziarah dari berbagai kota di seluruh Indonesia.

Keistimewaan

Astana Giribangun berada di atas bukit yang memiliki pemandangan alam yang indah, taman-taman yang menghijau, dan suasana yang rindang. Kondisi ini membuat suasana nyaman bagi para peziarah saat berada di kawasan kompleks makam. Banyak peziarah yang hilir mudik keluar masuk pemakaman Astana Giribangun untuk berdoa dan menaburkan bunga di dalam kompleks pemakaman keluarga cendana ini. Dari kompleks pemakaman ini, pengunjung juga dapat melihat hamparan sawah yang menghijau.

Untuk menuju Astana Giribangun, pengunjung harus melewati jalan berundak-undak yang berkelok-kelok dan menanjak. Namun, Anda jangan berpikir akan capek selama berjalan menyusuri tangga tersebut, karena rasa capek itu akan terobati saat melihat keindahan pemandangan alam bukit Ngaglik dari arah tangga ini.

Jika dilihat dari gaya arsitekturnya, Astana Giribangun dibangun dengan mengadopsi model bangunan rumah khas Jawa, yaitu joglo. Astana yang memiliki luas sekitar 200 m2 ini, terbagi ke dalam tiga cungkup yang masing-masing bernama Cungkup Argotuwuh, Cungkup Argokembang, dan Cungkup Argosari yang merupakan cungkup tertinggi jika dibandingkan dengan kedua cungkup tersebut. Empat tiang utama di dalam Cungkup Argosari ini terbuat dari beton yang dihiasai dengan lapisan kayu ukiran asal Jepara. Selain itu, pada dasar tiang tersebut juga dihiasi dengan cincin-cincin yang terbuat dari logam kuning yang kilauannya mirip dengan emas. Sedangkan lantainya terbuat dari marmer buatan Tulungagung.

Cungkup Argosari merupakan cungkup utama di Astana Giribangun ini. Di cungkup inilah mantan Presiden Indonesia Soeharto beserta istrinya dimakamkan. Selain itu, terdapat juga makam kedua orang tua ibu negara Sri Hartinah. Bangunan yang berbentuk joglo khas gaya arsitektur Surakarta ini berdindingkan kayu ukir dengan luas sekitar 81 m2.

Setelah mengunjungi makam mantan Presiden Soeharto dan ibu negara ini, pengunjung juga dapat melanjutkan berziarah ke teras Cungkup Argosari. Teras seluas 243 m2 ini rencananya diperuntukkan sebagai makam anak dan para menantu Soeharto. Sedangkan di selasar seluas 405 m2 merupakan calon makam para penasehat, pengurus harian, serta anggota pengurus Yayasan Mangadeg.

Selanjutnya pengunjung dapat melihat-lihat Cungkup Argokembang. Cungkup yang memiliki luas 567 m2 ini merupakan makam yang diperuntukkan kepada pengurus pleno, para pengurus seksi Yayasan Mangadeg, dan keluarga besar Mangkunegaran.

Setelah itu, pengunjung dapat menuju Cungkup Argotuwuh yang merupakan cungkup terluar dari astana ini. Area cungkup seluas 729 m2 ini juga merupakan calon makam bagi para pengurus Yayasan Mangadeg atau keluarga besar Mangkunegaran, sama seperti pada Cungkup Argokembang.

Lokasi

Wisata Religi Astana Giribangun terletak di Bukit Ngipik, sekitar 40 km arah timur dari Kota Solo, tepatnya masuk dalam wilayah Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia.

Akses

Untuk menuju Astana Giribangun ini, perjalanan dapat dimulai dari Terminal Tirtonadi atau Bandara Adisumarno Solo. Jika pengunjung memulai perjalanan dari Terminal Tirtonadi, naik angkutan kota jurusan Solo—Karanganyar atau naik bus jurusan Solo—Tawangmangu dan turun di Karanganyar. Namun, jika pengunjung memulai perjalanan dari Bandara Adisumarmo, pengunjung dapat naik taksi untuk sampai ke astana ini.

Harga Tiket

Untuk memasuki Astana Giribangun, setiap pengunjung tidak dipungut biaya. Pengunjung hanya cukup menunjukkan Kartu Tanda Penduduk kepada pengelola astana agar diganti dengan izin masuk. Namun, para pengunjung juga dapat mengisi kotak amal yang telah disediakan oleh para pengelola astana di dekat pintu masuk itu.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di kompleks Astana Giribangun terdapat fasilitas di antaranya mushala, kamar mandi, dua ruang tunggu, tempat istirahat pengunjung, area parkir, kios suvenir, serta sejumlah pedagang makanan dan minuman.

Untuk membuat rasa nyaman bagi pengunjung, di kompleks makam ini juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung di antaranya serambi/balai tempat istirahat yang disebut paseban timur dan paseban selatan. Terdapat juga rumah untuk para juru kunci/pengelola harian.

Diolah dari berbagai sumber

Sumber foto utama: www.flickr.com

Read More
DSC_0033e

Candi Sukuh

Gerbang utama Candi Sukuh. Saat ini tidak digunakan untuk memasuki candi.

Candi Sukuh terletak di lereng barat Gunung Lawu pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Desa Mberjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Berdiri di atas ngarai, di antara sawah dan pepohonan cengkeh, inilah candi yang sering di sebut sebagai The Last Temple. Selepas Majapahit runtuh pada abad XV memang tak lagi ditemui pembangunan candi. Tak berlebihan jika kemudian banyak yang menyebut candi ini sebagai saksi terakhir kejayaan Hindu di Jawa.

Agaknya dengan melihat kondisi alam yang berupa pegunungan, candi ini dibangun dengan konsep punden berundak atau teras bertingkat yang merupakan sat-satunya di ]awa. Teras atau undak pada candi ini diawali dengan bangunan gapura yang bemama Paduraksa. Gapura ini mirip dengan pylon, sejenis gapura masuk ke Piramida di Mesir. Ambang pintu gapura ini berhias kala berjanggut panjang, sebuah relief yang tidak ditemui di candi-candi Hindu. Pada sisi kanan dan kin gapura terpampang relief yang menggambarkan seorang yang tengah berlari dengan menggigit ekor ular naga yang sedang melingkar. Sementara di atasnya terdapat relief yang menggambarkan makhluk mirip manusia yang sedang melayang dan relief seekor binatang melata. Arkeolog KC Cruq pernah menyebut relief ini sekadar sebagai sengkalan atau simbol tahun pembuatan. Dan relief di ambang gapura ini, konon dibaca gapura buto aban wong (gapura raksasa memakan manusia). Gapura dengan karakter 9, buta karakternya 5, mangan karakter 3, dan wong mempunyai karakter 1. Jadi candra sengkala tersebut dapat dibaca 1359 Saka atau tahun 1437 M, menandai selesainya pembangunan gapura pertama ini. Pada sisi selatan gapura terdapat relief raksasa yang berlari sambil menggigit ekor ular. Relief ini juga sebuah sangkalan rumit yang bisa dibaca : “Gapura buta anahut buntut” (gapura raksasa menggigit ekor ular), yang bisa di baca tahun 1359. Seperti tahun pada sisi utara gapura. Yang paling unik adalah motif yang berada di lantai gapura, terdapat paduan lingg-yoni.

Dalam bentuk nyata. Gambaran vagina dan penis ini diduga sebagai larnbang kesuburan. Sepintas memang nampak porno, tetapi tentu saja bukan ini maksudnya. Sebab tidak mungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno.

Relief Sudhamala.

Sebaliknya, relief lingga-yoni ini sesungguhnya sebagai Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja di pahat I di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”. Boleh jadi, relief ini memang berfungsi sebagai “suwuk” untuk “ngruwat”, yaitu membersihkan segala kotoran yang mengotori hati manusia.

Pada teras kedua terdapat gapura yang tidak utuh lagi. Dari prarekonstruksi, gapura ini dulunya berbentuk gapura bentar, seperti pintu gerbang masuk candi-candi di Jawa Timur umumnya. Bagian depan gapura terdapat sebuah arca Dwarapala yang saat ini sudah dalam keadaan aus. Arca ini lain dengan dwarapala pada arca candi-candi pada umumnya karena nyaris tanpa aksesori. Tubuhnya polos, dan bahkan gada yang dibawanya pun tanpa ukiran.

Undak atau teras ketiga berupa kompleks candi induk dan merupakan kawasan paling suci. Untuk memasuki teras ketiga, pengunjung harus melewati sebuah gapura yang tak utuh lagi. Candi induk ini berukuran 15 x 15 meter. Di atas bagunan ini diperkirakan ada bangunan candi yang terbuat dari kayu. Perkiraan berdasarkan sisa-sisa umpak batu pada bagian atas candi. Di kompleks ini juga terdapat arca binatang berupa kura-kura, garuda, dan gajah, arca tokoh raksasa yang tak dikenal, dan Dwarapala. Pada salah satu arca garuda terdapat prasasti berangka tahun 1363 Saka atau 1441 Masehi, dan 1364 Saka atau 1442 Masehi. Sementara pada sisi kanan-kiri di depan candi induk terdapat relief yang menggambarkan cerita Sudhamala dan Garudeya yang mengisahkan tentang upacara suci ruwatan. Candhi Sukuh memang dibuat bertrap-trap semakin ke belakang semakin tinggi. Berbeda dengan umumnya candhi-candhi di di ]awa Tengah, Candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya.

Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candhi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang ditengah itulah tempat yang paling suci. Namun satu hal yang mungkin mencengangkan, Candi Sukuh temyata dibangun menyimpang dari aturan-aturan itu. Namun penyimpangan ini bukanlah sesuatu yang mengherankan. Pasalnya, ketika Candi Sukuh dibangun, masa kejayaan Hindu mulai memudar. Akibatnya kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi, yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithie, sehingga mau tak mau ikut mewarnai dan memberi ke khasan pada candhi Sukuh ini. Selanjutnya, trap ketiga candi dianggap trap paling suci. Di tempat inilah ritual atau sembahyang dilakukan. Salah satu yang menandai bahwa trap ini sebagai tempat suci, adalah dengan banyaknya petilasan di kawasan ini. Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelali kiri serta patung-patung di sebelah kanan. ]ika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui.

Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jilca seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas. Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapa yang terbuat dari batu. ]alan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.

Di sebelah selatan jalan batu, di pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil “ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari di kayangan dengan nama bethari Uma Sudamala maknanya ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil “ngruwat”. Adapun Cerita Sudamala diambil dari buku Kidung Sudamala. Lima fragmen ini masin-masing terpeta jelas dalam bentuk relief. Relief pertama menggambarkan ketika Dewi Kunti meminta kepada Sadewa agar mau “ngruwat” Bethari Durga namun Sadewa menolak. Relief kedua, Bima mengangkat raksasa dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menancapkan kuku “Pancanaka” ke perut raksasa. Pada relief ketiga, Sadewa diikat kedua tangannya diatas pohon randu alas karena menolak keinginan “ngruwat” sang Bethari Durga. Sang Durga mengancam Sadewa dengan sebuah pedang besar di tangannya. Selanjutnya relief berkisah tentang Sadewa yang berhasil “ngruwat” sang Durga. Sadewa kemudian diperintahkan pergi kepertapaan Prangalas. Di tempat inilah konon Sadewa menikahi Dewi Pradapa. Sementara relief ke lima menggambarkan ketika Dewi Uma (Durga setelah diruwat Sadewa) berdiri di atas Padmasana. Sadewa beserta panakawan menghaturkan sembah pada sang Dewi Uma.

Pada pelataran ini juga dapat ditemui soubasement dengan tinggi 85 cm, luasnya sekitar 96 M2. Ada juga obelisk yang menyiratkan cerita Garudeya. Cerita soal Garudeya merupakan cerita “ruwatan” pula. Konon, Obelisk ini mengisahkan Garuda yang mempunyai ibu bernama Winata yang menjadi budak salah seorang madunya yang bernama dewi Kadru. Dewi Winata menjadi budak Kadru karena kalah bertaruh tentang warna ekor kuda uchaiswara. Dewi Kadru menang dalam bertaruh sebab dengan curang dia menyuruh anak-anaknya yang berujud ular naga yang berjumlah seribu menyemburkan bisa-bisanya di ekor kuda uchaiswara sehingga warna ekor kuda berubah hitam. Dewi Winata dapat diruwat sang Garuda dengan cara memohon “tirta amerta” (air kehidupan) kepada para dewa. Kembali pada bangunan candi, di sisi selatan jalan batu ada terdapat candi kecil, yang di dalamnya terdapat arca dengan ukuran yang kecil pula.

Patung mahluk bersayap.

Menurut mitologi setempat, candi kecil itu merupakan kediaman Kyai Sukuh penguasa ghaib kompleks candi tersebut . Di dekat candi kecil terdapat arca kura-kura yang cukup besar sejumlah tiga ekor sebagai lambang dari dunia bawah yakni dasar gunung Mahameru, juga berkaitan dengan kisah suci agama Hindhu yakni “samudra samtana” yaitu ketika dewa Wisnu menjelma sebagai kura-kura raksasa untuk’ membantu para dewa-dewa lain mencari air kehidupan (tirta prewita sari). Ada juga arca garuda dua buah berdiri dengan sayap membentang. Salah satu arca garuda itu ada prasasti menandai tahun Saka 1363.

Juga terdapat prasasti yang menyiratkan bahwa Candi Sukuh dalam candi untuk pengruwatan, yakni prasasti yang diukir di punggung relief sapi. Dalam relief ini, sapi tadi digambarkan sedang menggigit ekornya sendiri dengan kandungan sengkalan rumit : Goh wiku anahut buntut maknanya tahun 1379 Saka. Sengkalan ini makna tahunnya persis sama dengan makna prasasti yang ada di punggung sapi yang artinya kurang lebih demikian : untuk diingat-ingat ketika hendak bersujud di kayangan (puncak gunung), terlebih dahulu agar datang di pemandian suci. Saat itu adalah tahun saka Goh Wiku anahut buntut 1379. Kata yang sama dengan ruwatan di sini yaitu kata : “pawitra” yang artinya pemandian suci. Karena kompleks Candi Sukuh tidak terdapat pemandian atau kolam pemandian maka pawitra dapat diartikan air suci untuk “ngruwat” seperti halnya kata “tirta sunya”.

Tempat suci untuk pengruwatan. Sejumlah bukti menegaskan hal ini. Sebut saja misalnya relief lingga-yoni di gapura pertama. Selain berfungsi sebagai “suwuk”, relief ini juga berfungsi untuk “ngruwat” siapa saja yang memasuki candi. Selanjutnya adalah relief Sudamala yang menceritakan Sadewa “ngruwat” sang Durga, juga relief Garudeya yang menggambarkan Garuda “ngruwat” ibunya bernama dewi Winata. Prasasti tahun 1363 Saka pun menegskan fungsi ngruwat ini lewat tulisan “babajang maramati setra hanang bango”. Termasuk prasasti tahun 1379 Saka yang mencantumkan kata “pawitra” yang berarti air suci (air untuk pengruwatan). Ditemukan pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta pada masa pemerintahan Gubernur Raffles, Candi Sukuh memang segera menjadi banyak perhatian para arkeolog. Mulai saat itu banyak kalangan sarjana rnengadakan penelitian Candhi Sukuh antara lain Dr. Van der Vlis tahun 1842, Hoepermen diteruskan Verbeek tahun 1889, Knebel tahun 1910, dan sarjana Belanda Dr. WF. Stutterheim. Untuk mencegah kerusakan yang semakin memprihatinkan, Dinas Purbakala setempat pernah merehabilitasi Candi Sukuh pada tahun 1917, sehingga keberadaan Candi Sukuh seperti kondisi yang kita lihat sekarang. Candi Sukuh terdiri tiga tiga trap. Setiap trap terdapat tangga dengan suatu gapura. Gapura-gapura itu amat berbeda bila dibandingkan dengan gapura umumnya candi di ]awa Tengah, apa lagi gapura pada trap pertama. Bentuk bangunannya mirip candi Hindu dipadu dengan unsur budaya asli Indonesia yang nampak begitu kentara, yakni kebudayaan Megaliticum. Barangkali unik, candi yang berdiri pada abad ke-15 ini tidak dibangun oleh para petinggi kerajaan, tapi justru dibangun oleh masyarakat pinggiran pelarian Majapahit yang menghindari pasukan Demak Bintoro. Karena itu bentuk candi ini lebih banyak berupa punden berundak, dengan keunikan-keunikan arca yang berbeda dengan candi-candi pada umumnya. Bentuk yang unik inilah yang menandai adanya akulturasi dari budaya Hindu yang dibawa orang-orang Majapahit, dengan kepercayaan masyarakat Jawa pinggiran yang masih menyembah arwah nenek moyang. Maka, tak berlebihan jika Candi Sukuh dikatakan sebagai monumen sejarah perubahan peradaban dari agama Hindu ke lsalam di]awa.

Bahkan, bisa dikatakan candi ini merupakan bangunan terakhir dalam era peradaban candi-candi. Satu keunikan lain, kornpleks candi ini terdapat patung-patung makhluk bersayap. Makhluk ini disebut sebagai garuda karena salah satu patung yang masih utuh menunjukkan kepala seperti burung garuda. Hanya saja, patung-patung ini memiliki tangan dak kai seperti manusia dan sayap seperti malaikat. Apakah patung ini menggambarkan makhluk alien? Di luar keunikannya, candi ini sangat sederhana dan berisikan sejumlah relief dengan berbagai bentuk. Di antaranya bentuk kelamin laki-laki dan wanita yang dibuat hampir bersentuhan. Pada deretan relief~relief yang menghiasi dinding candi juga digambarkan relief tubuh bidadari dengan posisi “pasrah” serta relief rahirn wanita dalam ukuran cukup besar. Relief-relief seks itu menggambarkan lambang kesucian antara hubungan wanita dan pria yang merupakan cikal bakal kehidupan manusia. Hubungan pria dan wanita melalui relief ini dilambangkan bukan melampiskan hawa nafsu, tapi sangat sakral yang merupakan curahan kasih sayang anak manusia untuk melahirkan sebuah keturunan.

Tak heran jika candi ini juga dikenal sebagai candi paling erotis. Pada bagian lain, candi ini juga dipenuhi relief-relief yang satu sama lain tidak berhubungan sehingga melahirkan banyak ceritera dan legenda. Kisah-kisah tentang relief itu suaminya Batara Guru karena berbuat serong dengan seorang penggembala. Ada juga ceritera wanita yang kalah judi lalu dibebaskan di candi ini sehingga bisa masuk sawarga (surga). Legenda warga setempat menyebut candi ini merupakan tempat bertemu dengan roh yang sudah meninggal. Berdiri di lereng Gunung Lawu, membuat udara sekitar candi sejuk. Bahkan pada musim penghujan, tak jarang kabut tebal selalu menyelimuti kawasan candii Setiap bulan antara 200-250  turis asing. Sebagian besar ingin melihat erotisme candi, sebagian yang lain ingin melakukan meditasi.

Read More

Gunung Lawu

Nama asli Gunung Lawu adalah Wukir Mahendra. Menurut legenda, Gunung Lawu merupakan kerajaan pertama di pulau Jawa yang dipimpin oleh raja yang dikirim dari Khayangan karena terpana melihat keindahan alam diseputar Gunung Lawu. Sejak jaman Prabu Brawijaya V, raja Majapahit pada abad ke 15 hingga kerajaan Mataram II banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu. Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan Suro. Saat itu, para kerabat Keraton sering berziarah ke tempat-tempat keramat di puncak Gunung Lawu.

Terdapat padang rumput pegunungan banjaran Festuca nubigena yang mengelilingi sebuah danau gunung di kawah tua menjelang Pos terakhir menuju puncak pada ketinggian 3.200 m dpl yang biasanya kering di musim kemarau. Konon pendaki yang mandi berendam di tempat ini, segala keinginannya dapat terkabul. Namun sebaiknya jangan coba-coba untuk mandi di puncak gunung karena airnya sangat dingin. Rumput yang tumbuh di dasar telaga ini berwarna kuning sehingga airnya kelihatan kuning. Telaga ini diapit oleh puncak Hargo dumilah dengan puncak lainnya. Luas dasar telaga Kuning ini sekitar 4 Ha.

Di sana ada sebuah mata air yang disebut Sendang Drajad, sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus menerus.

Juga ada sebuah gua yang disebut Sumur Jolotundo menjelang puncak, gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam 5 meter. Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa.

Terdapat sebuah bangunan di sekitar puncak Argodumilah yang disebut Hargo Dalem yang banyak disinggahi para peziarah. Di sekitar Hargo Dalem ini banyak terdapat bangunan dari seng yang dapat digunakan untuk bermalam dan berlindung dari hujan dan angin. Terdapat warung makanan dan minuman yang sangat membantu bagi pendaki dan pejiarah yang kelelahan, lapar, dan kedinginan. Inilah keunikan Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl, terdapat warung di dekat puncaknya.

Pasar Diyeng atau Pasar Setan, berupa prasasti batu yang berblok-blok, pasar ini hanya dapat dilihat secara gaib. Pasar Diyeng akan memberikan berkah bagi para pejiarah yang percaya. Bila berada ditempat ini kemudian secara tiba-tiba kita mendengar suara “mau beli apa dik?” maka segeralah membuang uang terserah dalam jumlah berapapun, lalu petiklah daun atau rumput seolah-olah kita berbelanja. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kita akan memperoleh kembalian uang dalam jumlah yang sangat banyak. Pasar Diyeng/Pasar Setan ini terletak di dekat Hargo Dalem.

Pawom Sewu terletak di dekat pos 5 Jalur Cemoro Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan/susunan batu yang menyerupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Parabu Brawijaya V.

Puncak Argodumilah pada saat tertutup awan sangat indah, kita menyaksikan beberapa puncak lainnya seperti pulau – pulau kecil yang dibatasi oleh lautan awan, kita merasa berada di atas awan-awan seperti di kahyangan. Bila udara bersih tanpa awan kita bisa melihat Samudera Indonesia. kita dapat melihat pantulan matahari di Samudera Indonesia, deburan dan riak ombak Laut Selatan sepertinya sangat dekat. Sangat jelas terlihat kota Wonogiri juga kota-kota di Jawa Timur. Tampak waduk Gajah mungkur juga telaga Saranga

Read More

Bupati Karanganyar Rina Kunjungi Al Albani

Sejumlah siswa-siswi SD-IST Al Albani Matesih beserta Kepala Sekolah dan para Guru dengan disaksikan oleh Bupati Karanganyar didampingi Ka. SKPD terkait, Koramil, Camat Matesih Selasa pagi (14/06) mengadakan gladi bersih untuk persiapan pelaksanaan Upacara Bendera Tanggal 17 besok. Pada gladi bersih tersebut Bupati menyaksikan langsung siswa-siswi SD-IST Al Albani menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Lagu Mengheningkan Cipta, Mengucapkan Pancasila dan Pembacaan UUD 1945.

Pasi Intel Koramil 0727 Karanganyar Kapten Inf. Sulardi mengajar pada siswa-siswi SD-IST Al Albani cara berdiri tegap, cara menghormat dan cara istirahat ditempat yang benar saat Upacara. Kegiatan tersebut menyusul Sekolah yang bersangkutan tidak melaksanakan Upacara Bendera, menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Lagu Hening Cipta serta tidak hafal Pancasila beberapa waktu lalu.

“ Saya sangat berterima kasih kepada Kepala Sekolah, Guru serta murid-murid Al Albani yang sangat antusias dalam mengikuti gladi bersih untuk Upacara 17 mendatang. Terutama pada anak-anak saya, Saya disini sangat bangga mereka dengan semangat dapat menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Lagu Hening Cipta serta mengucapkan sila dalam Pancasila dengan cukup lancar meskipun masih harus terus dilafalkan,” ujar Bupati saat wawancara dengan para wartawan.” Saya akan terus mengingatkan bila kita memang hidup dan tinggal di Negara Indonesia, kita harus berpegang teguh pada Empat Pilar Bernegara yakni Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, UUD 1945, dan NKRI sehingga terbentuk Bangsa yang berkarakter,” Tegasnya.

Read More
Logo-warna

Arti Lambang

Bentuk

Bentuk daripada lambang daerah Kabupaten Karanganyar merupakan sebuah perisai bersudut lima yang digayakan berwarna dasar coklat muda, bertepian (plisir) warna putih, isi lukisan sebuah segi enam berwarna dasar merah putih bertepian warna putih.

Isi dan Warna

Pada perisai tersebut terlukiskan empat belas macam benda alam, bangunan, tumbuh-tumbuhan yang tata letaknya tersusun secara artistik, empat diluar, sepuluh di dalam segi enam, terdiri dari:

  1. Diluar segi enam
  2. Diatas segi enam, sebuah bintang segi lima warna kuning emas
  3. Disebelah kiri segi enam, setangkai padi berisi tujuh belas butir warna kuning
  4. Disebelah kanan segi enam, setangkai kapas, terdiri dari delapan kapas warna putih, empat bunga warna kuning, dan lima daun warna hijau
  5. Dalam segi enam:
    • Sebatang pohon beringin, berakar gantung empat warna hijau tua
    • Sebuah bende (alat gamelan) warna biru muda di bawah pohon beringin
    • Gunung warna hitam merupakan alas bende
    • Persawahan warna hijau tua dan saluran air warna putih pada kaki gunung
    • Dua batang tebu warna putih berdiri di atas persawahan melingkari bende
    • Susunan delapan helai daun teh berbentuk sayap warna coklat muda di tengah-tengah persawahan
    • Sebilah keris warna kuning, bertingkai (ukiran) hitam, berdiri tegak di tengah tengah daun teh
    • Roda bergigi empat warna kuning di bawah daun teh
    • Lima mata rantai warna hitam pada roda
    • Dua pucuk bambu runcing warna putih membatasi persawahan di sebelah kanan dan kiri

Arti

  1. Perisai bersudut lima, keris dan bambu runcing melambangkan penolakan bahaya berdasarkan Pancasila
  2. Bintang melambangkan keagungan Tuhan dan kesadaran  serta ketentuan beragama rakyat daerah Kabupaten Karanganyar yang menjiwai Pemerintah dalam melaksanakan tugasnya
  3. Segi enam melambangkan daerah Kabupaten Karanganyar berbatasan enam daerah: Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sukoharjo, Kotamadya Surakarta, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Sragen
  4. Padi dan kapas melambangkan :
    • Cita-cita kemakmuran (materiil) rakyat daerah Kabupaten Karanganyar untuk sepanjang masa
    • Hari Proklamasi 17 Agustus 1945
  5. Kata “KARANGANYAR” dalam pita menunjukkan nama daerah Kabupaten Karanganyar
  6. Pohon  beringin melambangkan kewibawaan Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar dan rasa kebangsaan Indonesia, akar gantung melambangkan tempat bekas kawedanan
  7. Bende melambangkan:
    • Kehidupan kepribadian kebudayaan rakyat daerah Kabupaten Karanganyar
    • Fungsi Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar sebagai pemegang komando disegala bidang dalam daerah
  8. Gunung melambangkan keteguhan yang abadi rakyat daerah Kabupaten Karanganyar, dalam pengabdiannya kepada Negara, Nusa dan Bangsa
  9. Persawahan dan saluran air melambangkan kesuburan daerah Kabupaten Karanganyar
  10. Tebu melambangkan adanya perusahaan gula dalam daerah Kabupaten Karanganyar yang mempunyai standar internasional
  11. Daun teh melambangkan bahwa:
    • Dalam daerah Kabupaten Karanganyar terdapat beberapa perusahaan perkebunan
  12. Bentuk sayap:
    • Melambangkan adanya Pangkalan Udara dalam daerah Kabupaten Karanganyar
    • Mengambarkan motif batik tulis sebagai kehidupan industri rakyat daerah Kabupaten Karanganyar
  13. Roda melambangkan bahwa sebagian rakyat daerah Kabupaten Karanganyar terdiri karyawan dan buruh
  14. Rantai melambangkan persatuan dan kesatuan rakyat daerah Kabupaten Karanganyar yang dijiwai oleh semangat gotong royong

Warna Dasar

  1. Coklat muda melambangkan rasa tanggung jawab rakyat Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar
  2. Merah putih melambangkan:
    • Kesatuan Bangsa Indonesia
    • Keberanian dan kesucian rakyat bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar dalam membela kebenaran dan keadilan
  3. kuning emas berarti keagungan
  4. Hijau melambangkan penghargaan kemakmuran rakyat dan kebijaksanaan Pemerintah Daerah Kabupaten karanganyar
  5. Biru melambangkan pengharapan kesetiaan rakyat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar dalam melaksanakna tugasnya masing-masing dengan tekad yang bulat dan abadi
  6. Kuning melambangkan semangat membenci terhadap segala bentuk keangkara-murkaan dan penyelewengan

Kedudukan Lambang

Lambang Daerah Kabupaten Karanganyar wajib dihormarti dan diperlakukan secara wajar oleh setiap warga daerah Kabupaten Karanganyar, karena mengandung nilai-nilai positif dan ideal yang mencerminkan kehidupan dan cita-cita luhur rakyat daerah Kabupaten Karanganyar.

Lambang Daerah Kabupaten Karanganyar merupakan tanda resmi bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar.

Read More