IMG-20200310-WA0030

Bersih Desa (Mondosiyo) Dusun Pancot

Diskominfo

Abur-aburan ayam sebagai wujud syukur kepada Tuhan pada upacara adat Mondosiyo.

KARANGANYAR – Warga Dusun Pancot Kelurahan Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar menggelar tradisi sedekah bumi atau bersih desa di sekitaran Pendopo Dusun Pancot, Selasa (10/3/2020).

Tradisi sedekah bumi yang sudah turun temurun itu dikenal dengan upacara Mondosiyo. Menurut penanggalan Jawa, tradisi ini rutin digelar sekitar enam lapan sekali.

Ratusan orang memadati sekitar pendopo Dusun Pancot tempat upacara berlangsung. Di sepanjang jalan kampung, beberapa kelompok kesenian reog ponorogo unjuk kebolehannya untuk menghibur warga.

Koordinator Lingkungan Pancot Lor, Santoso menyampaikan, serangkaian upacara mondosiyo telah dimulai sejak Minggu (8/3/2020) kemarin. Beberapa warga secara swadaya menyiapkan sesaji yang akan digunakan untuk hari ini.

“Prosesi sudah dimulai pagi tadi. Ini nanti penyiraman banyu badek ke watu gilang. Dilanjutkan abur-aburan ayam. Jumlah ayamnya tidak terbatas. Abur ayam itu sebagai bentuk syukur kita (warga Pancot) kepada Tuhan,” jelasnya.

Sambungnya, setidaknya sudah ada sekitar 50 ekor ayam kampung yang dipersembahkan, baik dari warga yang bernazar maupun dari pihak panitia. Dalam puncak upacara mondosiyo, ayam persembahan itu nantinya akan dilepas di atap pendopo.

Ayam kampung yang dilepas liar diatap pendopo menjadi daya tarik tersendiri saat warga berebut mengambilnya dengan bergelantungan pada bagian tepi atap pendopo.

Wakil Bupati Karanganyar, Rober Christanto berharap tradisi leluhur ini terus dilestarikan. Melalui kegiatan Mondosiyo ini bisa menjalin kerukunan dan mempererat tali persaudaraan dengan gotong-royong.

“Ini bentuk syukur. Semoga warga Pancot diberi keberkahan. Kalau kita menjaga alam, alam akan menjaga kita,” pungkasnya. ( In/An)

Read More
aku copy

Upacara Adat Mondosiyo, Ayam Jadi Rebutan

Seekor ayam jadi rebutan puluhan orang di upacara Mondosiyo, Selasa (04/08) di Dusun Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu

Seekor ayam jadi rebutan puluhan orang di upacara Mondosiyo, Selasa (04/08) di Dusun Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu

Karanganyar, Rabu (05/08/2015)
Upacara adat Mondosiyo yang diadakan warga masyarakat lereng lawu, di Dusun Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu sudah menjadi tradisi turun temurun.

Menurut warga setempat, upacara Mondosiyo sudah ada sejak puluhan tahun, sebagai ungkapan rasa syukur hari jadi dusun Pancot.

Kepala Lingkungan (Kaling) Dusun Pancot, Sulardiyanto menuturkan, upacara adat itu diadakan setiap tujuh bulan. Tradisi ini diselenggarakan setiap Selasa kliwon wuku Mondosiyo.

“Ini merupakan rasa syukur bagi warga. Diawali dengan atraksi reog yang diarak sekitar 300 meter ke lokasi acara,” kata Sulardiyato, Selasa (04/08) sore.

Ribuan warga sekitar sejak jam 15.00 WIB, sudah memadati sepanjang gang kecil menuju Balai Pasar. Tak hanya dari desa setempat, namun juga ada yang datang dari Dusun Somokadu, Desa Nglebak, Kecamatan Tawangmangu.

Terdapat sembilan reog yang turut serta memeriahkan acara tersebut. Kemudian setelah sampai di depan Balai Pasar, satu per satu reog memperlihatkan atraksi.

Setelah semua sudah mendapat giliran atraksi, dilanjutkan upacara dengan menyiram air tape di situs Batu Gilang setelah diambil dari Punden Bale Patokan.

Menariknya, setelah itu ribuan warga dengan serius mengamati atap joglo untuk menangkap empat pasang ayam. Hewan unggas itu sengaja dilempar di atas atap untuk diperebutkan jika turun.

Berbagai usaha dilakukan agar bisa menangkap ayam itu tanpa menaiki atap rumah. Mereka hanya boleh berpegangan pada pinggir atap saat mencoba menangkap ayam itu.

Dalam adat Mondosiyo, ayam-ayam itu diberikan pemilik sebagai nazar atas keberhasilan yang diraih dengan menyerahkan satu pasang ekor ayam (jantan dan betina). Namun bagi warga yang berhasil menangkap ayam tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi, tetapi hanya dipelihara. pd

Read More
DSC_0207 copy

Adat Mondosiyo, Serunya Berebut Ayam

Karanganyar, Kamis (12/06/2014)

Rebutan ayam, acara yang menarik saat adat tradisi Mondosiyo, di Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu

Rebutan ayam, acara yang menarik saat adat tradisi Mondosiyo, di Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu

Upacara adat Mondosiyo sudah ada sejak puluhan tahun. Bagi masyarakat lereng Gunung Lawu di Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu merupakan tradisi turun temurun sebagai ungkapan rasa syukur kelahiran dusun, Selasa (12/06) sore.
Atraksi menarik reog Ponorogo dari tiga kelompok Gembong Lawu, Singo Pancot Mulyo, dan Singo Gilang menandai dimulainya adat tradisi yang didatangi ribuan orang. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan menyiram air tape di situs Batu Gilang setelah diambil dari Punden Bale Patokan.
Sesaat setelah itu, acara menjadi menarik. Ratusan warga mulai mendekat dan mengepung joglo Balai Pasar Pancot yang terletak ditengah dusun. Mereka dengan serius mengamati atap joglo untuk menangkap belasan ayam. Hewan unggas itu sengaja dilempar di atas atap untuk diperebutkan jika turun. Berbagai usaha dilakukan agar bisa menangkap ayam itu tanpa menaiki atap rumah. Sorak sorai bergemuruh menambah keramaian. Mereka hanya boleh berpegangan pada pinggir atap saat mencoba menangkap ayam itu.
Dalam adat Mondosiyo, ayam-ayam itu diberikan pemilik sebagai nazar atas keberhasilan yang diraih dengan menyerahkan dua ekor ayam. Namun bagi warga yang berhasil menangkap ayam tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi, tetapi hanya dipelihara.
Seperti halnya yang dilakukan Harno, warga Dusun Pancot mempunyai nazar bila mempunyai anak.”Keinginan ini jika istri melahirkan seorang anak laki-laki,” kata Harno.
Kepala Lingkungan (Kaling) Dusun Pancot, Sulardiyanto menuturkan, upacara adat Mondosiyo yang diadakan setiap tujuh bulan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur. Tradisi ini diselenggarakan setiap Selasa kliwon wuku Mondosiyo. pd

Read More

Harga Anjlok: Pascapanen Harga Wortel Tawangmangu Anjlok

Para petani wortel di Tawangmangu mengeluhkan harga wortel lokal anjlok dipasaran. Kondisi ini sering terjadi pascapanen sehingga para petani enggan memanen wortel. Seorang petani wortel, Parsidi, mengatakan harga wortel lokal sering anjlok pascapanen hingga Rp500/kg. Sebelumnya, harga wortel lokal di pasaran senilai Rp2.000/kg. Sehingga tidak sedikit petani wortel yang enggan memanennya.

“Bahkan harganya merosot tajam hingga Rp300/kg pada Mei lalu. Buat apa memanen jika harganya anjlok, kami pasti rugi. Saat ini harganya masih normal,” katanya saat ditemui, Selasa (4/9/2012).

Menurutnya, salah satu penyebab anjloknya harga wortel lokal karena semakin banyak wortel impor yang ditanam petani. Wortel impor lebih bagus secara fisik dibanding wortel lokal. Sehingga para konsumen lebih memilih wortel dari Jepang tersebut.

Sebenarnya, kualitas wortel lokal tidak kalah dibandingkan wortel impor. Maka dari itu dia meminta instansi terkait agar para petani wortel lokal mendapatkan bantuan saat harganya anjlok.

“Konsumen memilih wortel impor karena Harganya lebih mahal dan fisiknya lebih bagus. Kami minta bantuan kepada instansi terkait karena yang menjadi korban para petani wortel lokal,” terang dia.

Selama ini, Tawangmangu menjadi salah satu pemasok wortel di wilayah Karanganyar dan se-Soloraya. Namun, sejak adanya bibit wortel impor maka sebagian petani memilih menanam wortel impor dibanding lokal.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengatakan pihaknya meminta agar para petani wortel menanam bibit wortel yang berkualitas unggul dan diminati pasar. Sehingga dapat bersaing dengan wortel impor di pasaran.

Saat ini, lanjut Siti, pihaknya sedang mengembangkan wortel unggulan di Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu. Rencananya, pola pengembangan wortel unggulan itu diterapkan di seluruh sentra pertanian wortel. “Secara fisik tak kalah dengan wortel impor, nanti akan dikembangkan di wilayah lain seperti Ngargoyoso,” imbuhnya.

Read More