Tahun Ini, 121 Warga Ikuti Transmigrasi

Sebanyak 121 Kepala Keluarga (KK) Dusun Ngledok, Karangpandan, akan transmigrasi ke Kalimantan Timur pada tahun ini. Mereka akan disebar di beberapa kecamatan, salah satunya di kecamatan Tarakan.
Bupati Karanganyar, Rina Iriani mengatakan transmigrasi bagi Warga Dusun Ngledok karena dusun yang mereka tempati saat ini tersebut merupakan daerah rawan longsor. Sehingga untuk menghindarkan mereka dari ancaman tanah longsor yang bisa membahayakan keselamatan warga, upaya transmigrasi ini harus mereka lakukan.
Rina juga mengatakan sebenarnya sempat ragu untuk memberangkatkan warganya menuju Kalimantan. “Saya sebenarnya takut mengirim transmigran ke Kalimantan. Takutnya jika kesejahteraan mereka tidak terjaga dan warga menganggur di sana,” jelas Rina, Senin (14/5).
Rina menyatakan bahwa para transmigran tersebut akan diberikan lahan yang bisa mereka kelola. Masing-masing warga akan mendapatkan lahan seluas dua hektare. Mereka juga akan mendapatkan pelatihan-pelatihan untuk mengelola lahan yang mereka dapatkan. Selain itu untuk biaya sekolah dan kesehatan mereka juga akan digratiskan.
“Dengan adanya pelatihan dan beberapa fasilitas yang disediakan pemerintah di sana, saya berharap bahwa warga Ngledok bisa sejahtera di sana,” ungkap Rina.

Read More

TRANSMIGRASI: Warga Karangpandan Pilih Pulau Sumatra

Warga Dusun Ngledok, Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandann memilih lokasi transmigrasi di Pulau Sumatra. Pasalnya, jarak antara Pulau Sumatra dengan Pulau Jawa lebih dekat dibanding pulau lainnya.

Seorang warga Dusun Ngledok, Suratman, mengatakan mayoritas warga Dusun Ngledok memilih Pulau Sumatra sebagai lokasi transmigrasi. Selain jarak lebih dekat, warga Karanganyar yang bertransmigrasi ke Pulau Sumatra lebih banyak dibanding pulau lainnya. “Dari 121 keluarga, hanya lima-10 keluarga yang memilih lokasi Pulau Kalimantan,”.

Ada beberapa keluarga yang kerabatnya telah bertransmigrasi ke Pulau Sumatra terlebih dahulu. Saat ini, mereka telah sukses mengolah kebun kelapa sawit di Pulau Andalas tersebut. Sehingga, warga juga ingin mengalami kondisi serupa di lokasi transmigrasi. Kendati demikian, Suratman menyerahkan proses pengiriman para transmigran kepada instansi terkait.

“Pengennya lokasi di Pulau Sumatra tapi kalau dikirim ke pulau lainnya kami tetap bersedia berangkat,”.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Karanganyar, Sumarno melalui Kepala Bidang Transmigrasi, Ida Wijayanti, menjelaskan alokasi transmigrasi yang diberikan pemerintah pusat tahun 2012 sebanyak 25 keluarga.

Para transmigran akan dikirim ke  Kabupaten Tanjung Aur, Propinsi Bengkulu Selatan sebanyak 15 keluarga dan Samarinda, Kalimantan Timur sebanyak 10 keluarga. Pihaknya akan melakukan penjajakan terlebih dahulu ke lokasi transmigrasi. “Minggu ini Bupati Karanganyar, Rina Iriani akan berangkat ke Samarinda untuk melakukan penjajajakan dahulu,” jelasnya

Read More

200 Keluarga Minta Relokasi

Terancam longsor, sekitar 200 keluarga di Dusun Ngledok Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan berencana mengajukan permintaan relokasi secepatnya kepada Pemerintah setempat. Pasalnya warga di Dusun Ngledok sebanyak enam RT tersebut khawatir keluarganya menjadi korban longsor karena intensitas hujan yang masih tinggi.
Kepala Desa Gerdu Kecamatan Karangpandan, Suwarno  mengatakan dari pembicaraan dengan warga sekitar, mereka sepakat minta direlokasi. Pasalnya kebanyakan dari mereka takut dan waswas setiap hujan turun. “Kalau tidak salah ada sekitar 200 keluarga di enam RT tersebut yang berencana relokasi,” ujar dia.
Permintaan tersebut juga sudah diwujudkan dengan surat tertulis dan akan segera ditembuskan kepada Camat Karangpandan dan Bupati Karanganyar. Namun detail berkenaan dengan relokasi belum dibahas warga karena masih fokus pembersihan desa.
“Karena banyaknya longsoran, hingga saat ini warga masih terus berupaya melancarkan akses jalan desa yang masih tertutup longsor,” terang dia.
Suwarno menambahkan kemungkinan warga yang meminta relokasi akan bertambah. Mengingat ada beberapa daerah di Desa Gerdu yang rawan longsor.
“Sementara yang mengatakan ingin relokasi memang baru Dusun Ngledok, nanti setelah selesai kerja bakti desa, akan coba kita data lagi secepatnya,” jelasnya.
Dihubungi terpisah, Wakil Ketua DPRD Karanganyar, Rohadi Widodo juga menyarankan hal serupa. Jika memang tinggal di daerah longsor dan takut terjadi musibah, ia menyarankan lebih baik warga di relokasi. Namun keputusan relokasi itu sepenuhnya berada di tangan eksekutif. “Prosesnya eksekutif mengajukan kepada legislatif barulah dibahas dan ditentukan besaran anggaran yang dibutuhkan,” ucap dia.
Ia juga menegaskan jika memang ada permintaan dari warga agar direlokasi, maka Pemkab secepatnya mengajukan hal itu agar nantinya bisa dibahas di dewan dan disusulkan dalam anggaran Perubahan APBD 2012, sehingga warga tidak lagi menunggu.“Setahu saya yang sudah direlokasi dulu ada di Desa Karang duwur Kecamatan Jenawi, tapi sudah lama tahun 2007 silam kalau di Mogol mereka tidak mau,” paparnya.

Read More

Jembatan Ngledok Ambrol, Akses 2 Dusun Terputus

Akibat tak kuat menahan derasnya arus sungai di bawahnya, jembatan penghubung Dusun Nggeger dan Dusun Ngledok, Desa Ngargoyoso Kecamatan Ngargoyoso ambrol, Jumat (24/2) dini hari sekitar pukul 01.30 WIB.Ambrolnya jembatan tersebut selain memutus akses jalan dua dusun juga mengakibatkan aktivitas kegiatan belajar mengajar di Dua Kecamatan yakni Kecamatan Ngargoyo dan Kerjo ikut terganggu.
Salah satu warga Ngledok, Mulyadi (34) mengatakan jembatan tersebut mulai ambrol pukul 01.30 WIB, Jumat (24/2) dini hari karena salah satu fondasinya runtuh. “Saya waktu itu keluar rumah untuk melihat situasi, dan ternyata di jembatan ternyata sudah putus,” ujarnya. Ia mengaku jembatan ini menjadi jalan utama khususnya bagi pelajar di SMP N 3 Ngargoyoso. Meskipun sekolahnya berada di Dusun Nggeger Desa dan Kecamatan Ngargoyoso namun kebanyakan siswanya justru berasal dari Kecamatan Kerjo. “Kalau putus begini siswa yang dari Kerjo otomatis juga repot, ini akses utama ke sekolahan,” jelasnya. Mulyadi menambahkan jika harus memutar, satu-satunya jalan alternatif hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki sekitar lima Kilometer, kalau dengan kendaraan tentu repot lagi karena harus memutar lebih jauh lagi.
Warga lainnya, Sutarno (35) mengungkapkan untuk memperlancar arus transportasi dan memudahkan para pelajar, warga sudah sepakat dan berniat mencarikan solusi dengan membangun jembatan darurat sembari menunggu dibangun oleh Pemerintah. Kendati tidak sekokoh jembatan permanen, namun sementara yang terpenting bisa dilalui.“Kita harapkan dengan adanya pemberitaan ini, jembatan bisa dibangun karena ini akses utama kedua dusun,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Karanganyar, Priharyanto justru baru mengetahui kabar tersebut. Namun dirinya berjanji akan mengecek  kebenaran informasi tersebut. Saat dikonfirmasi terkait upaya Pemkab untuk perbaikan jembatan ini, Priharyanto mengatakan bahwa setiap upaya pembangunan dengan menggunakan dana APBD harus melalui proses lelang terlebih dahulu. “Kalau langsung dibangun, nanti kita malah kena KPK. Prosedurnya seperti itu diusulkan lewat APBD, lelang baru dibangun, memang lama tetapi ya begitulah prosedurnya,” jelasnya.

Read More

Pemkab Siapkan Lahan Relokasi

Mengantisipasi terus bertambahnya korban tanah longsor tiap musim penghujan seperti kejadian longsor, Rabu (22/2) kemarin, Pemkab Karanganyar berencana kembali memulai relokasi yang sempat mandek setelah longsor di Dusun Mogol, Desa Legoksari, Kecamatan Tawangmangu 2007 silam.
Dengan adanya relokasi ini, Pemkab Karanganyar berharap bencana tanah longsor yang sering terjadi di wilayah tersebut, tidak terus memakan korban. “Dari dulu, wacana relokasi sebenarnya sudah ada. Namun sosialisasinya sempat mandek dan tak kedengaran lagi,” ucap Paryono, Wakil Bupati Karanganyar di sela-sela kunjungan di lokasi longsor, Dukuh Banjar, Dusun Ngledok, Desa Gerdu Kecamatan Karangpandan, Kamis (23/2).
Ia mengatakan program relokasi ini merupakan program yang berat, karena Pemerintah melakukan pembahasan dan sosialisasi yang matang kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor. “Lihat saja, mosok longsor begitu rumah yang di bawah masih ditempati. Seharusnya masyarakat yang tinggal di daerah tersebut dipindahkan,” tandasnya.
Paryono juga mengatakan sudah menyiapkan lahan untuk relokasi tersebut, namun dirinya masih perlu melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, semisal Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi lainnya. “Kita sudah punya tempat relokasi, tapi saat ini masih menunggu kejelasan dan perkembangan proses sosialisasi,” jelasnya.
Sementara itu, Camat Karangpandan, Sugeng Raharto mengatakan akan mengumpulkan tokoh masyarakat serta unsur Muspida lainnya guna merumuskan apa yang bisa dilakukan untuk meminimalkan adanya korban bila bencana kembali terjadi. Karena menurutnya saat ini intensitas hujan masih tinggi.
Sementara menanggapi rencana relokasi ini, salah satu warga Dukuh Banjar RT 01 RW IV, Dusun Ngledok, Desa Gerdu Karangpandan, Sarno (35) mengatakan kesiapannya jika memang Pemerintah akan merelokasi warga. Pasalnya belakangan setiap hujan turun, dia dan sekeluarga tidak bisa tidur nyenyak karena mendengar suara-suara tanah yang bergerak. “Kita pasrah mas, jika memang mau direlokasi saya siap,” ujar warga yang rumahnya nyaris terkena ini.
Sementara itu dari pengamatan di lokasi longsoran kemarin, sejumlah aparat dari TNI dibantu dengan warga sekitar bergotong-royong membersihkan longsoran tanah serta mencoba membuka akses jalan desa sekitar.

Read More