Ratusan Itik Mati, Diduga Terserang Flu Burung

Lebih kurang 400 itik milik para peternak di Desa Gondangmanis, Kecamatan Karangpandan, Karanganyar , berangsur-angur mati sejak sepekan terakhir.

Unggas-unggas tersebut diduga terserang virus avian influenza (A1) atau yang dikenal sebagai flu burung. Sebab, ratusan itik milik 10 peternak tersebut menunjukkan gejala terserang flu burung, seperti mata keruh, terjadi kebutaan, angka kematian tinggi, dan unggas cenderung suka berputar-putar.

Mendapati kejanggalan itu, para peternak segera mengirim laporan kepada Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakkan) Karanganyar pada Sabtu (24/8/2013). Pasalnya, kasus tersebut bukan yang kali pertama terjadi di Desa Gondangmanis.

“Desa itu memang daerah endemik, dulu juga banyak unggas mati karena terinfeksi A1. Pada kasus kematian unggas kali ini gejalanya juga sama dengan kematian unggas yang terjadi beberapa waktu lalu,” terang salah seorang anggota staf Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakkan) Karanganyar, Fathurrahman.

Berdasarkan analisa serta riwayat penyebaran flu burung di Desa Gondangmanis, Fathurrahman yang juga dokter hewan menduga ratusan itik tersebut telah terserang virus A1. Guna memastikan dugaan itu, petugas Disnakkan Karanganyar telah mengambil sampel bangkai itik untuk melakukan uji laboratorium pada Selasa (27/8/2013).

“Sampelnya sudah dibawa di Jogja karena kami tidak memiliki alat uji virus A1, namun kami belum dapat memastikan kapan uji laboratorium akan selesai. Sebenarnya laporannya masuk kepada kami pada Sabtu lalu, tapi tim laboratorium baru bisa datang ke Karanganyar kemarin [Selasa], ” imbuhnya.

Selain mengambil sampel bangkai itik, Disnakkan juga telah mengimbau peternak untuk tidak menjual maupun mengonsumsi unggas yang sakit. Peternak juga diminta memisahkan unggas yang sehat dan sakit supaya virus tak kian menyebar. “Sebagian itik yang sakit masih hidup, tapi kami sudah mewanti-wanti peternak supaya itik yang sakit dikarantina agar tidak menulari yang lain. Kalau ada unggas yang mati mendadak juga harus segera dikubur,” jelas Fathurrahman.

Kendati hasil uji laboratorium belum keluar, Disnakkan telah mengantisipasi penyebaran virus flu burung dengan memberikan larutan disinfektan kepada para peternak di Desa Gondangmanis.

Selanjutnya, mereka diimbau rutin menyemprotkan disinfektan di kandang serta lingkungan sekitar untuk mencegah penyebaran virus yang juga dapat menginfeksi tubuh manusia itu. Jika hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa itik-itik tersebut positif terserang virus A1, Disnakkan akan segera melakukan vaksinasi kepada unggas di Desa Gondangmanis.

Read More

Lawan Flu Burung, 400 Liter Disinfektan Disiapkan

Dinas Pertanakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Karanganyar telah menyiapkan 400 liter cairan disinfektan untuk melawan serangan penyakit flu burug atau avian influenza (AI).

Penjelasan tersebut disampaikan Kepala Disnakkan Karanganyar, Muhammad Hatta, saat ditemuidi ruang kerjanya, Rabu (26/12/2012).

Dalam waktu dekat cairan disinfektan tersebut akan digunakan untuk menyemprot kandang unggas utamanya itik atau bebek. Namun penyemprotan oleh petugas Disnakkan hanya dilakukan sebatas sebagai dorongan awal. Selanjutnya, dia menjelaskan, peternak unggas diminta melakukan penyemprotan secara mandiri. Disnakkan menyediakan cairan disinfektan secara gratis bagi mereka.

“Persediaan cairan disinfektan lebih dari cukup untuk menyemprot kandang-kandang unggas. Saat ini sedang dalam tahap penjadwalan penyemprotan oleh petugas,” katanya.

Hatta mengakui jumlah itik di Karanganyar yang mati periode Oktober-November cukup banyak. Sampai saat ini baru 7.500 ekor itik yang dilaporkan mati mendadak awal musim penghujan. Padahal diyakini jumlah itik yang mati pada periode tersebut hingga saat ini jauh lebih besar dari angka itu.

Lebih lanjut Hatta mengimbau peternak melakukan tindakan pemusnahan unggas milik mereka bila sudah ada gejala serangan flu burung. Langkah pemusnahan unggas oleh Disnakkan tidak bisa dilakukan lantaran terkendala dana kompensasi.

“Bila ada beberapa unggas yang mati mendadak dengan gejala sakit flu burung peternak kami imbau memusnahkan sendiri unggas lain yang tersisa. Langkah ini untuk mengantisipasi menyebarnya virus flu burung ke unggas lain,” imbuhnya.

Peternak dilarang keras menjual unggas sakit dengan gejala penyakit flu burung. Sebab bisa saja flu burung menular kepada manusia. Untuk mencegah penyebaran virus flu burung, peternak sangat dianjurkan rutin membersihkan kandang unggas.  “Karena serangan kali ini cukup ganas dari sebelumnya, selalu berhati-hati saat berinteraksi dengan unggas. Jangan sentuh langsung unggas sakit atau yang mati,” tegas dia.

Petugas Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Disnakkan Karanganyar, Fatkhur Rahman, menerangkan sampai saat ini baru 7.500 unggas yang dilaporkan mati mendadak. Padahal angka di lapangan jauh lebih besar dari data tersebut.

“Segera laporkan petugas kami bila ada kematian mendadak dan massal berbagai jenis unggas,” harapnya.

Read More

Stok Daging Sapi di Karanganyar Masih Aman

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar, Muhammad Hatta, mengatakan pasokan daging sapi dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) masih normal. Pihaknya menjamin persediaan daging sapi di pasaran masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan daging sapi.

Muhammad Hatta, Selasa (20/11/2012) menuturkan kenaikan harga daging sapi tidak hanya terjadi di wilayah Karanganyar namun beberapa daerah di Indonesia. Artinya, kenaikan tersebut terjadi secara bersamaan di berbagai daerah. Pihaknya meminta pemerintah pusat segera mencari solusi alternatif untuk menekan melonjaknya harga daging sapi di pasaran.

“Stok daging sapi masih aman, permintaan daging sapi juga masih stabil. Ini tergantung pemerintah pusat karena kondisi ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.”

Read More

Sidak, 7 Ekor Kambing Kurban Belum Layak Dijual

Sedikitnya tujuh ekor kambing kurban belum cukup umur dijualbelikan secara bebas di lapak penjualan hewan kurban di sebelah barat dan timur SPBU Papahan, Karanganyar Kota. Hal tersebut terungkap dalam inspeksi mendadak (Sidak) yang digelar oleh Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar, Senin (22/10).

Staf Kesehatan Hewan Disnakkan, Fatkhurrakhman, mengatakan harusnya hewan-hewan tersebut tidak dijual karena belum memenuhi syarat untuk kurban. “Harusnya yang dijual itu yang cukup umur,” katanya. Namun, meski belum cukup umur, lanjutnya, tujuh kambing tersebut dalam kondisi sehat.

Pada lapak hewan kurban sebelah barat SPBU Papahan dari 73 ekor kambing yang diperiksa, ditemukan empat ekor kambing belum cukup umur. Sedangkan di sebelah timur SPBU ditemukan tiga ekor kambing yang belum cukup umur. Pemeriksaan hewan kurban juga dilakukan di wilayah Desa Pandeyan, Tasikmadu. “Kalau yang di Pandeyan, hewan kurban dalam kondisi baik. Hanya saja butuh ditambah stoknya,” ujarnya.

Dalam Sidak kemarin Disnakkan juga melibatkan tim pemantau hewan kurban dari mahasiswa Akademi Peternakan Karanganyar (APK). Secara bersama-sama mereka melakukan pemeriksaan terhadap hewan kurban. Laporan yang dibuat oleh mahasiswa tersebut juga digunakan sebagai laporan akademik.

Sementara itu, salah seorang pedagang kambing kurban di Jalan Lawu, Jaten, Mutasimin (30), mengaku bahwa kambing kurban yang ia jual berasal dari luar Karanganyar. Sebanyak 93 ekor kambing yang ia jual didatangkan dari Rembang, Jawa Timur. “Ini saja, kambing kurban yang saya jual baru laku 14 ekor. Biasanya menjelang H-3 baru ramai,” jelas Mutasimin.

Harga penjualan kambing pun, menurutnya, mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun kemarin. Saat ini harga kambing bisa mencapai Rp 1,3 juta hingga Rp 1,6 juta, sedangkan pada tahun sebelumnya hanya mencapai Rp 1 juta.

Sumber : http://joglosemar.co/2012/10/sidak-7-ekor-kambing-kurban-belum-layak-dijual/

Read More

Tak Ada Izin Lingkungan, Puluhan Peternakan Ayam Rakyat Terancam Ditutup

Puluhan peternakan ayam di Karanganyar terancam ditutup apabila pengusaha atau pemilik peternakan tidak mengurus izin lingkungan. Selama ini, warga yang berdomisili di sekitar peternakan ayam sering mengeluhkan kondisi lingkungan yang kotor dan bau tidak sedap.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar, Muhammad Hatta, mengatakan sesuai aturan para pemilik peternakan ayam harus meminta izin kepada warga sekitar yang berdomisili di sekitar kandang ayam. Namun kenyataannya, para pengusaha ternak ayam langsung mendirikan kandang ayam tanpa meminta izin warga sekitar sebelumnya. “Kami minta agar pemilik ternak ayam mengurus izin lingkungan agar tidak ada komplain dari warga sekitar,” ujarnya.

Menurutnya, pihaknya sering menerima pengaduan dari warga yang resah karena lingkungannya kotor akibat dampak adanya kandang ayam. Apalagi pemilik peternakan ayam juga enggan mengurus izin lingkungan. Apabila telah mengantongi izin lingkungan maka segera dilaporkan ke instansi terkait agar diinventarisasi. “Masih banyak pengusaha peternakan ayam yang tidak mengurus izin lingkungan, tahu-tahu kami mendapatkan aduan dari warga yang akan menyegel kandang ayam. Kesadaran pemilik peternakan ayam sangat minim,” katanya. Selama 2011, pengusaha peternakan ayam yang melaporkan izin lingkungan ke Disnakkan berjumlah 11 orang. Padahal, peternakan ayam jenis rakyat berjumlah puluhan yang tersebar di seluruh wilayah Karanganyar.

Sementara seorang pemilik peternakan ayam, Khadiran, menyatakan dia meminta izin kepada warga sekitar yang rumahnya berjarak sekitar 500 meter dari kandang ayam. Setelah disetujui warga maka dia baru berani mendirikan kandang ayam. Kandang ayam dengan permukiman penduduk berjarak minimal 500 meter.

Dia menambahkan para pemilik peternakan ayam kurang memahami aturan mengenai izin lingkungan tersebut. Sehingga mereka langsung mendirikan kandang ayam apabila sudah mendapatkan lokasi peternakan ayam. “Kebanyakan memang tidak tahu karena biasanya lokasi kandang ayam di tengah-tengah perkebunan atau ladang,” imbuhnya.

Read More

Pengawasan Daging Makin Diperketat

Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar akan memperketat pengawasan daging di pasar-pasar tradisional. Menurut Kepala Disnakkan Karanganyar, Muhammad Hatta, pengawasan akan diwujudkan dalam bentuk inspeksi mendadak (Sidak). “Sidak intensif akan kami lakukan selama puasa hingga menjelang lebaran,” kata Hatta, Jumat (20/7).
Pasar yang akan menjadi prioritas untuk disidak adalah Pasar Karangpandan, Nglano, Jungke, dan Palur. Keempat pasar tersebut dipandang pasar besar dan juga menjadi sentra penjualan daging. Bahkan daging yang dipasok di pasar-pasar tersebut juga berasal dari luar Karanganyar.
Sebelumnya, Hatta mengaku pernah mendapati daging tak layak konsumsi di salah satu pasar tersebut. “Kami pernah menemukan daging yang tak layak di Pasar Nglano, yakni daging gelonggongan. Penjualnya pun masih sama seperti yang dulu-dulu,” katanya.
Hatta mengatakan akan menindak tegas penjual daging yang kedapatan menjual daging gelonggongan. “Bagi yang kedapatan menjual daging gelonggongan akan kami berikan pembinaan terlebih dahulu. Jika masih nekat maka izin jualan kami cabut. Daging-dagingnya juga akan kami sita,” tegasnya.
Hatta memprediksi menjelang puasa dan lebaran, permintaan daging bakal semakin tinggi. Sehingga hal ini dimanfaatkan oleh beberapa oknum untuk mencari keuntungan lebih, namun membahayakan konsumen.
Hatta mengimbau kepada masyarakat untuk lebih teliti dalam memilih daging yang akan dibeli. Masyarakat jangan sampai tergiur dengan harga daging yang murah. Ciri-ciri daging yang tak layak konsumsi, menurut Hatta, di antaranya warna daging pucat, baunya berbeda dengan daging pada umumnya, serta memiliki kadar air yang lebih tinggi.

Read More

TARIF RETRIBUSI RPH di Karanganyar Naik 50%

Tarif retribusi rumah pemotongan hewan (RPH) di Karanganyar bakal naik 50%, dari Rp10.000/ekor menjadi Rp15.000/ekor. Langkah ini dilakukan menyesuaikan tarif retribusi RPH di daerah lainnya.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar, Muhammad Hatta, mengatakan kenaikan tarif retribusi RPH tersebut bakal diterapkan tahun ini. Saat ini, pihaknya masih menunggu salinan peraturan daerah (Perda) tentang retribusi RPH dari bahian hukum Setda Karanganyar.

“Kami masih menunggu salinan perdanya, jika telah diterima maka segera disosialisasikan sekaligus diterapkan”.

Menurutnya, pengajuan revisi Perda yang berisi tarif retribusi RPH dinaikkan telah dilakukan pada tahun lalu. Tarif retribusi itu baru bisa diberlakukan tahun ini karena menunggu pembahasan dan salinan Perda.

Dia membandingkan tarif retribusi RPH di Sragen senilai Rp14.000/ekor dan Kota Solo senilai Rp25.000/ekor. Sehingga tarif retribusi lama perlu dinaikkan menyesuaikan dengan daerah lainnya. “Tarif retribusi RPH Karanganyar terkecil di wilayah Soloraya makanya dinaikkan untuk menyesuaikan dengan wilayah lainnya,” jelasnya.

Selain menyesuaikan tarif retribusi wilayah lain, kenaikan tersebut dilakukan untuk mendongkrak PAD dari sektor peternakan. Target PAD dari retribusi RPH tahun 2012 senilai Rp70 juta. Sementara berdasarkan data Disnakkan Karanganyar, RPH di wilayah Karanganyar berjumlah tiga unit yaitu di Kecamatan Karangpandan, Karanganyar dan Gondangrejo. “Sebenarnya ada RPH lainnya yakni di Kebakkramat dan Tawangmangu namun tidak aktif, kadang memotong sapi kadang tidak,” tandasnya.

Di sisi lain seorang peternak sapi di Jungke, Karanganyar, Suprapto, menambahkan belum mengetahui kenaikan tarif retribusi RPH yang bakal diterapkan tahun ini. Dia mengakui tarif retribusi RPH di Karanganyar terkecil dibanding daerah lainnya. Tarif retribusi tersebut, menurutnya layak untuk dinaikkan.

Read More

Asyik, Pemkab bagi-bagi ayam betina gratis

Ratusan warga Desa Jatiroyo, Kecamatan Jatipuro, berebut ayam kampung betina yang dibagikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar di Balaidesa Jatiroyo, Rabu (7/12/2011).

Dalam kesempatan itu, ada sekitar 400-500 ayam yang dibagikan ke sejumlah warga yang mayoritas perempuan. Mereka saling mendahului untuk bisa mendapatkan ayam tersebut menggunakan kartu kupon. Pemkab membagikan ayam tersebut untuk menggalakkan peningkatan konsumsi daging.

Salah satu warga desa setempat, Mariyani, 40, mengaku jarang makan daging ayam lantaran beberapa ayam yang dipeliharanya banyak yang mati mendadak. Ia pun tidak mengonsumsi daging ayam lantaran takut bila penyakit yang diderita ayamnya, menular ke manusia. “Entah karena flu burung atau tidak saya tidak tahu. Tapi tiba-tiba saja ayam saya banyak yang mati mendadak,” ujar Mariyani saat ditemui, saat pembagian ayam di Balaidesa Jatiroyo, Rabu siang. Bantuan ayam yang ia dapatkan itu rencananya akan dipelihara.

Data dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar menyebutkan tingkat konsumsi daging penduduk Karanganyar berkisar empat gram per kapita/tahun. Sedangkan untuk taraf nasional tingkat konsumsinya mencapai enam gram per kapita/tahun. “Untuk mencapai tingkat nasional itu, Pemkab memberikan bantuan kepada warga berupa ayam betina yang masih hidup agar dipelihara dan berkembang biak,” ujar Kepala Disnakkan Karanganyar, Mohammad Hatta seusai pembagian ayam.

Secara simbolis, pembagian ayam tersebut diberikan oleh Wakil Bupati Karanganyar, Paryono. Dalam kesempatan itu, Paryono berpesan agar ayam yang dibagikan secara cuma-cuma ke warga itu dimanfaatkan dengan baik sehingga gizi masyarakat akan kebutuhan daging bisa tercukupi. “Silakan ayamnya disembelih dan dikonsumsi, tapi jangan sekarang. Tunggu hingga ayamnya sudah beranak dan berkembang banyak,” ujarnya.

(fas)

Read More

Kambing Muda Serbu Karanganyar

Sepekan menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1432 H, Petugas Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) menemukan sejumlah hewan ternak kambing yang masih belum memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai hewan kurban alias poel saat menggelar pemeriksaan di tempat penjualan hewan kurban, Senin (31/10).
Seksi Kesehatan Hewan, Disnakkan Karanganyar Fathur Rahman menjelaskan setidaknya ada 10 ekor kambing yang masih belum cukup umur (belum poel) ditemukan pada dua titik penjual kambing di ruas Jalan Raya Jaten. “Pertumbuhan usia kambing untuk menjadi poel memang bisa terjadi dalam beberapa hari, namun jika belum poel berarti tidak bisa disembelih saat kurban mendatang,” jelas dia di sela-sela pemeriksaan.
Fathur menambahkan cara termudah untuk melihat kambing sudah berumur poel atau belum yakni dengan tanggalnya gigi depan. Atau juga melihat dari umurnya, untuk kambing poel biasanya berumur lebih dari satu setengah tahun. “Kita berharap para pembeli lebih jeli untuk memilih hewan kurban, dan jangan terpaku kepada harga hewan ternak yang murah. Dicek dahulu poel atau belum. Jika tidak malahan nantinya tidak bisa digunakan untuk kurban karena menyalahi aturan agama,” seloroh dia.

Read More

Disnakkan Karanganyar minta masyarakat waspadai daging semigelonggongan dan daging busuk

Masyarakat Karanganyar diminta mewaspadai adanya daging busuk dan semigelonggongan yang beredar di sejumlah pasar. Pasalnya, saat Bulan Puasa seperti ini, banyak oknum yang mengeruk untung dengan menjual daging yang sebenarnya tidak layak konsumsi.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar, Muhammad Hatta, mengatakan, selama ini Disnakkan belum mendapatkan laporan adanya daging gelonggongan di Karanganyar. Kendati demikian, masyarakat diminta untuk waspada terhadap daging yang dijual di pasar. Bila warga mencurigai ada daging sapi yang lembek, terlihat basah dan warnanya tidak merah cerah, diimbau untuk melaporkannya ke Disnakkan. Selain itu, masyarakat juga harus mewaspadai daging yang dijual dengan cara digantung, tidak ditaruh di meja.

“Bila kadar keasaman (PH) berkisar antara 5-6, itu ideal. Namun bila lebih dari enam, kemungkinan ada indikasi daging itu semigelonggongan. Kami ada alat untuk mengukurnya,” ujar Hatta kepada wartawan di Kantor Disnakkan, Rabu (3/8/2011). Biasanya, Disnakkan diajak turut serta dalam operasi pasar bersama Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) ke sejumlah pasar. Namun ada atau tidak ada operasi pasar, Disnakkan akan menurunkan tim untuk memantau kondisi daging di pasar. Beberapa pasar yang menjadi target yakni Pasar Jungke, Karangpandan, Palur dan Nglano.

Menurut Hatta, pada tahun lalu di Pasar Karangpandan timnya menemukan daging sapi yang sudah busuk namun masih dijual. Karena itu, saat operasi itu, bukan hanya daging glonggongan yang menjadi perhatian, tapi juga daging sapi yang sudah membusuk dan bangkai ayam Tiren (mati kemarin).

“Untuk mengecek apakah daging sudah busuk atau tidak, kami menggunakan alat tes Duranti. Saat ditetesi Duranti warnanya jadi biru, maka dagingnya masih baik. Tapi bila berubah jadi hijau, artinya sudah busuk,” ujarnya. Namun pihaknya kesulitan untuk mengecek kondisi daging ayam. Sebab daging yang dijual di pasar saat ini banyak yang sudah dijual dalam kondisi sudah matang atau setidaknya sudah direbus.

Hatta menyatakan pula, daging gelonggongan di Karanganyar hampir tidak ada. Sebab sejak hewan dipotong di Rumah Pemotongan Hewan (RPH), sudah diawasi secara ketat baik siang maupun malam. Bila ditemukan daging gelonggongan, kemungkinan itu datang dari luar. Terlebih lagi, permintaan daging di Karanganyar masih sedikit bila dibandingkan dengan Kota Solo.

Sumber : http://www.solopos.com/2011/karanganya

Read More