DSC_3144

Dinkes Karanganyar Sidak Pasar Jongke Menjelang Lebaran 1440 H

Read More
DSC_0166

Dinkes Adakan Lomba Balita Sehat

Karanganyar, Kamis (09/05/2013)

Lomba Balita Sehat merupakan salah satu cara menekan angka kematian Ibu dan Bayi

Lomba Balita Sehat merupakan salah satu cara menekan angka kematian Ibu dan Balita

Untuk menekan angka kematian Ibu dan Balita, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karanganyar adakan Lomba Balita Sehat, di Aula Dinkes Karanganyar, Rabu (08/05). Kegiatan itu rutin diadakan setiap tahun.

Agung Respati, Kepala Bidang Bina Kesehatan Keluarga Dinkes Karanganyar, mengatakan, kegiatan ini merupakan lanjutan lomba yang diakan ditingkat Kecamatan. “Yang maju sekarang ini merupakan perwakilan dari masing-masing Kecamatan,” ujar Agung Respati.

Lomba itu dibagi dalam dua kelompok umur, yakni kelompok umur 6-24 bulan yang diikuti sebanyak 19 balita, dan kelompok umur 25-59 bulan sejumlah 21 balita.

Tak hanya balita yang ikut lomba, tetapi Ibu dari balita tersebut juga masuk dalam kriteria penilaian juri. Adapun kriteria penilaian antara lain, pengukuran fisik, kemudian kuisioner gizi, penilaian kesehatan Ibu, pemeriksaan gigi balita, pemeriksaan fisik. Selain itu juga kuisioner, pemberdayaan perempuan, PKK, dan Psikologi.

Lebih lanjut Agung menjelaskan, belum optimalnya tingkat kesadaran Ibu saat hamil didominasi oleh wanita karir. Kesibukan Ibu dalam pekerjaan membuat kesehatan bayi yang dikandung agak kurang diperhatikan.

“Untuk itu, kami secara insentif memberikan penyuluhan melalui pos kesehatan terpadu (Posyandu) di setiap RT, desa, maupun tingkat Kecamatan. Namun, secara umum, tingkat kesadaran Ibu saat hamil sudah baik tetapi belum optimal,” tambahnya.

Dia juga mengungkapkan, petugas di puskesmas terus mensosialisasikan pentingnya pengetahuan kesehatan Ibu dan Bayi, agar pemahaman bisa lebih meningkat. pd

Read More

DPRD Minta Alat-alat Kesehatan Segera Didistribusikan

DPRD Karanganyar mendesak agar alat-alat kesehatan program bantuan dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2012 Kementerian Kesehatan segera didistribusikan. Pasalnya, sudah lebih dari setengah bulan ini alat-alat kesehatan tersebut ngendon di gudang kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar.

Wakil Ketua DPRD Karanganyar, Juliyatmono, mengatakan tidak ada alasan bagi Pemkab untuk menunda pendistribusian alat-alat kesehatan senilai Rp 1,6 miliar itu. Sebab jika dilihat dari segi fungsi dan peruntukannya, alat-alat itu sangat dibutuhkan oleh puskesmas-puskesmas penerima. “Harus segera didistribusikan ke puskesmas penerima,” katanya usai rapat paripurna di gedung DPRD, Kamis (17/1).

Terdapat 10 item alat kesehatan yang dibeli oleh Dinkes, yakni minor set sebanyak 21 unit, partus set 25 unit, dental set 21 unit, tensimeter 65 unit, stetoskop 65 unit, microwave diatermi 13 unit, kasur periksa empat buah, gyn bed (kasur melahirkan) empat buah, dan boks bayi empat buah.

Politisi Partai Golkar ini menambahkan, dirinya mengingatkan agar jangan sampai alat-alat kesehatan yang masih ngendon di gudang Dinkes disalahgunakan. Ia pun juga mewanti-wanti agar alat kesehatan tersebut harus sesuai dengan bestek dan kualifikasi pengadaan. “Jangan sampai ada permainan di alat kesehatan ini,” ujar Juliyatmono.

Ketua Komis IV DPRD, Eko Setiyono, yang membawahi bidang kesehatan, mengutarakan pengadaan alat kesehatan tersebut, pihak Dinkes tidak pernah mengomunikasikannya dengan kalangan legislatif. “Hingga saat ini belum ada laporan dari Dinkes tentang pengadaan alat kesehatan itu,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih melakukan pendataan terhadap seluruh alat kesehatan yang baru dibeli tersebut. pasalnya, seluruh barang tersebut menjadi bagian dari aset milik Pemkab. “Hingga saat ini masih diinventarisasi sebagai aset daerah. Akhir Januari ini akan kami distribusikan,” jelas Cucuk.

Read More

90 Dokter Disiagakan di Pos-pos Kesehatan

Sebanyak 90 dokter dan 180 perawat disiagakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar selama arus mudik dan balik lebaran. Mereka bakal bertugas di posko-posko kesehatan yang didirikan terpadu dengan pos pengamanan (Pospam) milik Polres Karanganyar.
“Pos kesehatan kami tambahkan di dua tempat yakni Gondangrejo dan Karangpandan karena padatnya kendaraan saat ini,” ujar Kepala Dinkes Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo, Jumat (10/8).
Meskipun arus mudik belum begitu padat, namun pos kesehatan tersebut akan beroperasi mulai hari ini, Sabtu (11/8). Namun pengoperasiannya bakal dimaksimalkan mulai Minggu (12/8) dan berakhir pada H+7 lebaran.
Selain itu, sebanyak 21 puskesmas yang ada di Karanganyar juga akan tetap beroperasi 24 jam selama arus mudik dan lebaran. Koordinasi terkait sarana kesehatan dengan bidan desa dan balai kesehatan juga sudah dilakukan. “Selama arus mudik ini kami akan intensifkan tim gerak cepat,” tambah Cucuk.
Sementara itu, Direktur Unit Donor Darah (UDD) PMI Karanganyar, Yaqub Iskandar, mengatakan stok darah yang ada hingga saat ini masih cukup untuk musim lebaran. Tercatat masih ada stok sedikitnya 300 kantong darah. “Bagi yang membutuhkan darah nanti bisa melalui RSUD Karanganyar atau PMI Karanganyar,” jelasnya.

Read More

Pengawasan Makanan Diperketat

Maraknya peredaran makanan tak layak konsumsi karena mengandung pengawet berbahaya di beberapa pasar tradisional, mendapat perhatian khusus dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Karanganyar. Rencananya Disperindagkop bakal memperketat pengawasan distribusi makanan, utamanya makanan ringan untuk anak-anak di pasar-pasar.
Kepala Disperindagkop dan UMKM Karanganyar, Sundoro, menyatakan pengawasan akan dimulai sejak distributor meletakkan makanan dagangannya di pasar. “Kalau ada yang kedaluwarsa atau mengandung pengawet dan pewarna berbahaya langsung kami kembalikan,” jelasnya, Rabu (8/8).
Sundoro mengaku, sudah mengambil tindakan terkait dengan ditemukannya makanan yang mengandung bahan-bahan berbahaya. Sanksi awal berupa teguran sudah dilayangkan pihaknya. “Karena belum memakan korban, saat ini kami baru bisa memberikan teguran dan imbauan saja. Kami meminta pedagang untuk lebih mencermati makanan yang dijual agar tak memakan korban,” tambahnya.
Diungkapkan Sundoro, pengawasan distribusi makanan hanya bisa dilakukan di pasar-pasar tradisional. Untuk makanan dan jajanan yang dijual di toko-toko yang ada di pinggir jalan, Disperindagkop hanya bisa memberikan imbauan saja.
“Kalau untuk makanan yang ada di pasar, kami bisa mengontrolnya melalui lurah pasar. Tetapi kalau yang ada di toko-toko di luar pasar, kita belum bisa berbuat banyak,” jelasnya.
Sebelumnya, Dinkes Karanganyar menggelar Sidak kelayakan makanan di empat pasar tradisional, yaitu di Pasar Karangpandan, Tegalgede, Jungke, dan Palur. Dari hasil Sidak yang tersebut ditemukan 11 jenis makanan mengandung pewarna berbahaya jenis rhodamin-B dan pengawet berbahaya seperti boraks dan formalin.

Read More

Makanan Berbahaya Beredar Luas

Makanan mengandung pewarna berbahaya jenis rhodamin-B dan formalin beredar luas di pasar-pasar tradisional di Karanganyar. Kenyataan tersebut terungkap setelah digelarnya inspeksi mendadak (Sidak)  oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar, Senin (6/8) lalu.
Sidak sendiri dilakukan di Pasar Karangpandan, Pasar Tegalgede, Pasar Jungke, dan Pasar Palur. Setelah diinventarisasi dan dilakukan penelitian, setidaknya ada 37 jenis makanan yang mengandung pewarna dan pengawet berbahaya tersebut.
Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Karanganyar, Fatkul Munir, menyatakan temuan tersebut banyak didapati pada makanan ringan yang biasa dikonsumsi oleh anak-anak. “Kami menemukan pada makanan kecil berwarna seperti jenis telur gabus dan pacar China mengandung pewarna rhodamin-B,” ujarnya.
Selain itu temuan makanan mengandung boraks juga didapati di Pasar Karangpandan, yaitu mi basah warna kuning. Makanan berformalin juga ditemukan di pasar itu, yakni ikan asin.
Pihak Dinkes sendiri langsung mengambil tindakan dengan meminta lurah pasar untuk menegur para pedagang yang bersangkutan. “Pada umumnya para pedagang hanya menjual saja. Mereka tidak mengetahui kandungan yang ada di dalam makanan yang mereka jual,” ungkap Munir.
Dikatakannya, makanan yang mengandung rhodamin-B dan formalin dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit ginjal, saraf, dan kanker. Sedangkan untuk jangka pendek, jika dikonsumsi dalam dosis tinggi menyebabkan pusing. “Sidak akan terus kita lakukan, karena bahan-bahan tersebut berbahaya,” katanya.

Read More

Dinas Kesehatan Gelar Sidak di Pasar Makanan Tanpa Tanggal Kedaluwarsa Beredar Luas

Untuk mencegah beredarnya makanan berbahaya karena mengandung formalin dan zat pewarna menjelang lebaran, Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar menggelar inspeksi mendadak (Sidak) di Pasar Karangpandan dan Tegalgede, Senin (6/8).

Sidak yang dipimpin oleh Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Karanganyar, Fatkul Munir, dilakukan dengan menyusuri los-los pedagang yang menjual makanan seperti bakso, snack, mi basah, dan ikan.

Dalam Sidak itu didapati beberapa temuan seperti adanya makanan yang tak mencantumkan tanggal kedaluwarsa, legalitas, dan komposisi bahan makanan. Selain itu, untuk makanan yang dibuat oleh industri rumah tangga juga didapati tidak mencantumkan izin industri di kemasannya.

“Ada makanan jenis nata de coco yang tak mencantumkan tanggal kedaluwarsa dan komposisi bahan pembuatan. Ada juga makanan ringan berbentuk stik keju dan sambal kemasan yang tidak dicantumkan izin industrinya di kemasan,” jelas Munir.

Sidak juga dilakukan di los-los pedagang makanan kiloan. Di los-los ini, sejumlah makanan seperti makanan ringan jenis telur gabus, permen bobo, dan wafer merek Colombus dicurigai memakai pewarna makanan yang tidak diizinkan, karena warnanya sangat mencolok. Harga aneka makanan itu yang relatif murah semakin menguatkan kecurigaan itu.

“Kami juga menemukan ada satu bungkus agar-agar berbagai warna beserta toplesnya hanya dijual Rp 5.000. Ini akan kami periksa terkait bahan pewarna yang dipakai,” ujar Munir.

Selain pemeriksaan pada makanan ringan, beberapa makanan lauk pauk juga diperiksa petugas karena warnanya yang mencolok. Tahu kuning, mi kuning basah, bakso daging, dan ikan diambil sedikit sampelnya oleh petugas untuk dicek pengawet dan pewarna yang digunakan.

“Jika kedapatan makanan tersebut menggunakan bahan-bahan berbahaya, kami akan merekomendasikan kepada lurah pasar untuk menghentikan peredaran makanan tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang bakso, Sutikno, menyatakan dirinya tidak menggunakan pengawet untuk bakso dagangannya. Ia mengaku hanya mencampur daging sapi dan daging ayam untuk baksonya, karena harga daging sapi yang saat ini mahal.

Read More