166 KK di Karanganyar Antre Bertransmigrasi

Sebanyak 166 kepala keluarga di Kabupaten Karanganyar menunggu antrean program transmigrasi karena pada 2012, Karanganyar hanya mendapat jatah dari pemerintah pusat sebanyak 25 transmigran.

Berdasarkan data Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Karanganyar, 191 KK terdaftar sebagai calon transmigran. KK terbanyak berasal dari Kecamatan Karangpandan, yakni 152 KK, disusul Karanganyar Kota sebanyak 20 KK, Jenawi dengan 15 KK dan Ngargoyoso ada 4 KK.

“Pelaksanaan transmigrasi sekitar November 2012. Daerah yang menjadi tujuan transmigrasi tahun ini adalah Nunukan, Kalimantan, 15 KK dan Bengkulu 10 KK. Tahun ini jatah untuk Karanganyar menurun dari 30 menjadi 25 transmigran,” ungkap Kepala Dinsosnakertrans, Sumarno, Selasa (18/9/2012).

Sumarno mengatakan KK yang mengikuti program transmigrasi sebagian besar berasal dari daerah rawan bencana. Seperti Desa Gerdu, Karangpandan.

Sebanyak 15 KK di Desa Gerdu, Karangpandan, menurut Kepala Desa Gerdu, Suwarno, telah mengikuti sosialisasi dari Dinsosnakertrans. Dari 15 KK yang terdiri sekitar 56 jiwa, keseluruhan berasal dari Dusun Ngledok.
“Kondisi Desa Ngledok rawan longsor. Pernah ada penelitian yang dilakukan sebuah instansi dan hasilnya menunjukkan secara geologi wilayah tersebut tidak memungkinkan untuk dijadikan kawasan tempat tinggal. Oleh karena itu, ada usulan transmigrasi atau relokasi mandiri,” ungkap Suwarno.

Sumarno menambahkan, selain untuk merelokasi warga yang berada di daerah rawan bencana, program ini juga untuk meningkatkan taraf hidup transmigran. Sudah tersedia lahan dua hektar untuk ditinggali dan bercocok tanam. Selain itu biaya hidup selama satu tahun untuk sepasang suami istri dan dua anak juga sudah ditanggung pemerintah.

Read More

Pemkab Data Warga yang Ingin Bedol Desa

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar terus menindaklanjuti rencana Transmigrasi serempak atau bedol desa yang ingin dilakukan oleh 168 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Ngledok, Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan.

Selasa (6/3) kemarin, pemerintah kecamatan mengumpulkan sejumlah perwakilan warga, Muspika serta instansi terkait untuk melakukan pendataan. Pihak Kecamatan berharap Pemerintah Desa memastikan keinginan warga yang ingin ikut program Bedol Desa.

“Kami belum memiliki data konkret jumlah warga yang bersedia ikut transmigrasi. Jadi hari ini kami berkumpul untuk membahas permasalahan itu,” terang Camat Karangpandan Sugeng Raharto, usai Rapat Koordinasi (Rakor), Selasa (6/3).  Dengan terkumpulnya dari Pemdes, nantinya mereka dapat melihat berapa jumlah konkret keluarga yang ingin melakukan Bedol Desa.

Ia mengatakan untuk memastikan keinginan warga yang ingin melakukan Bedol Desa, nantinya Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) akan mengadakan penyuluhan kepada warga. Langkah ini adalah untuk memastikan kesiapan warga dalam menghadapi kehidupan baru di lokasi baru nantinya.  Sehingga, lanjut Sugeng, jangan sampai setelah berada di lokasi transmigrasi terjadi hal-hal yang tidak  diinginkan warga.

Meski belum mengetahui secara pasti berapa banyak warga yang berminat untuk Bedol Desa, tetapi Kepala Desa Gerdu, Suwarno mengklaim jumlah warga yang menyetujui Bedol Desa mencapai lebih dari 50 persen.

Sementara Kabid Pelatihan dan Transmigrasi Dinsosnakertrans Karanganyar, Ida Wijayati mengatakan untuk Bedol Desa, Pemkab perlu mengajukan ke Pemerintah Provinsi, yang akan di diteruskan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans).

“Ini kan masuk kategori transmigrasi umum yang diikuti oleh seluruh warga (Bedol Desa) jadi nanti harus ada pengajuan ke provinsi dan ke Kemenakertrans,” katanya.

Read More

200 Keluarga Minta Relokasi

Terancam longsor, sekitar 200 keluarga di Dusun Ngledok Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan berencana mengajukan permintaan relokasi secepatnya kepada Pemerintah setempat. Pasalnya warga di Dusun Ngledok sebanyak enam RT tersebut khawatir keluarganya menjadi korban longsor karena intensitas hujan yang masih tinggi.
Kepala Desa Gerdu Kecamatan Karangpandan, Suwarno  mengatakan dari pembicaraan dengan warga sekitar, mereka sepakat minta direlokasi. Pasalnya kebanyakan dari mereka takut dan waswas setiap hujan turun. “Kalau tidak salah ada sekitar 200 keluarga di enam RT tersebut yang berencana relokasi,” ujar dia.
Permintaan tersebut juga sudah diwujudkan dengan surat tertulis dan akan segera ditembuskan kepada Camat Karangpandan dan Bupati Karanganyar. Namun detail berkenaan dengan relokasi belum dibahas warga karena masih fokus pembersihan desa.
“Karena banyaknya longsoran, hingga saat ini warga masih terus berupaya melancarkan akses jalan desa yang masih tertutup longsor,” terang dia.
Suwarno menambahkan kemungkinan warga yang meminta relokasi akan bertambah. Mengingat ada beberapa daerah di Desa Gerdu yang rawan longsor.
“Sementara yang mengatakan ingin relokasi memang baru Dusun Ngledok, nanti setelah selesai kerja bakti desa, akan coba kita data lagi secepatnya,” jelasnya.
Dihubungi terpisah, Wakil Ketua DPRD Karanganyar, Rohadi Widodo juga menyarankan hal serupa. Jika memang tinggal di daerah longsor dan takut terjadi musibah, ia menyarankan lebih baik warga di relokasi. Namun keputusan relokasi itu sepenuhnya berada di tangan eksekutif. “Prosesnya eksekutif mengajukan kepada legislatif barulah dibahas dan ditentukan besaran anggaran yang dibutuhkan,” ucap dia.
Ia juga menegaskan jika memang ada permintaan dari warga agar direlokasi, maka Pemkab secepatnya mengajukan hal itu agar nantinya bisa dibahas di dewan dan disusulkan dalam anggaran Perubahan APBD 2012, sehingga warga tidak lagi menunggu.“Setahu saya yang sudah direlokasi dulu ada di Desa Karang duwur Kecamatan Jenawi, tapi sudah lama tahun 2007 silam kalau di Mogol mereka tidak mau,” paparnya.

Read More