DSC_0050

433 Mahasiswa UTP Ditarik dari Lokasi KKN

kominfo

Senam Bengawan Solo : Ibu-Ibu PKK Kecamatan menampilkan senam hasil kreasi Mahasiswa UTP Surakarta.

Karanganyar, 16 Januari 2017

Penarikan sejumlah 433 mahasiswa KKN Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta yang tersebar di tiga puluh desa di tiga Kecamatan yakni Kecamatan Jatiyoso, Jumapolo dan Matesih secara resmi dilakukan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Senin (16/01/2017).

Pada kegiatan tersebut dihadiri langsung Bupati Karanganyar, Wakil Bupati didampingi Rektor UTP dan Kepala Baperlitbang Karanganyar.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengapresiasi seluruh mahasiswa UTP Surakarta yang telah merampungkan Kuliah Kerja Nyata (KKN)  selama satu setengah bulan yang tersebar di tiga puluh desa. Kegiatan yang memberikan dampak positif bagi mahasiswa dalam mengabdikan dirinya ditengah-tengah masyarakat lokasi KKN.

“Mahasiswa secara langsung belajar mandiri, mengasah skill dan tentunya memberikan kontribusi yang luar biasa bagi masyarakat sekitar,”tutur Bupati saat menyampaikan sambutannya.

kominfo

Berakhirnya KKN : Bupati Karanganyar, Juliyatmono secara simbolis melepas jaket yang diikuti seluruh mahasiswa KKN UTP, Senin (16/01).

Lebih lanjut ia mengatakan keberadaan mahasiswa KKN memberikan motivasi kepada masyarakat pentingnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan pendidikan yang tinggi akan merubah pola pikir dan merubah hidup seseorang menjadi baik dan lebih baik lagi.

Selanjutnya Bupati juga mengatakan adanya rencana pembangunan Kampus UTP terpadu di Karanganyar yang disampaikan oleh Rektor UTP, Prof. Dr. Ir. H. Ongko Cahyono, MSc kepada Bupati Juliyatmono selaku Pemerintah Kab. Karanganyar.

Menanggapi hal tersebut, Bupati mendukung penuh dan siap untuk membantu rencana pembangunan Kampus tersebut.

“Untuk membangun dan mendongkrak Karanganyar lebih baik, akan saya bantu sepenuhnya pembangunan Kampus UTP terpadu yang rencana akan dibangun di ring road Solo bagian utara, segera untuk dirancang pembangunannya”tandas Juliyatmono dihadapan jajaran OPD Karanganyar, Dosen Pembimbing Lapangan, Ketua KKN-PPM serta mahasiswa UTP.

Diharapkan dengan adanya pembangunan Kampus UTP terpadu akan ada benefit bagi Karanganyar agar lebih dikenal lagi sekaligus mendongkrak peningkatan pendidikan.

“Wajib belajar 12 tahun, pendidikan akan terus kita pacu. Untuk indeks pembangunan manusia, Karanganyar tertinggi se solo raya, ini karena terus ada kesadaran pentingnya jenjang pendidikan tinggi di masyarakat,”jelas Bupati.

DSC_0057

Bupati meninjau salah satu stand mahasiswa KKN yang mengangkat produk lokal desa Jatiyoso.

Sementara itu, Rektor UTP Surakarta, Prof. Dr. Ir. H. Ongko Cahyono, MSc dalam sambutannya berharap kerjasama yang baik ini akan terus berlanjut.

KKN mahasiswa UTP dari empat fakultas meliputi Fakultas Tehnik, Pertanian, Ekonomi dan Keguruan telah menjalankan programnya yakni penguatan ekonomi masyarakat dengan menggali potensi produk-produk lokal, meningkatkan dan pengembangan pemberdayaan olah raga seperti hasil kreasi senam Bengawan Solo.

Acara diakhiri dengan tinjauan berbagai stand potensi produk lokal hasil kreasi dan inovasi mahasiswa KKN sesuai dengan tema yang diusung Pemberdayaan Budaya Olah raga dan Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Produk Lokal.

Demikian Diskominfo (yoga/ind)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Read More
a

WASPADA BENCANA

Tiga Kecamatan Rawan Banjir

Tiga kecamatan di Karanganyar rawan terkena bencana banjir selama musim penghujan. Ketiga kecamatan tersebut adalah Kebakkramat, Gondangrejo dan Jaten.

Selama ini, tiga kecamatan yang menjadi langganan banjir yakni Desa Waru dan Desa Kebak (Kebakkramat), Desa Kranggan dan Desa Karangturi (Gondangrejo) dan Desa Ngringo (Jaten). Wilayah tersebut kerap dilanda banjir lantaran berada di pinggiran aliran Sungai Bengawan Solo.

Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar, Aji Pratama Heru K, mengatakan selama ini, ketiga kecamatan tersebut menjadi daerah langganan bencana banjir di Karanganyar. Biasanya, bila air Sungai Bengawan Solo meluap di Kota Solo otomatis wilayah di pinggiran sungai di Desa Ngringo, Jaten dilanda banjir. “Kami sudah memetakan daerah rawan bencana banjir di Karanganyar yang berada di pinggir aliran Sungai Bengawan Solo,” katanya kepada solopos.com, Sabtu (25/1/2014).

Menurut dia, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika  (BMKG) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) puncak musim penghujan diperkirakan antara Januari-Februari. Artinya, bencana banjir mengintai warga yang berdomilisi di daerah rawan bencana alam.

Karena itu, pihaknya mendirikan posko antisipasi bencana banjir di Dusun Daleman, Desa Ngringo, Kecamatan Jaten. Posko tersebut digunakan sebagai pusat koordinasi bila air Sungai Bengawan Solo meluap di Kota Solo. Selain itu, apabila aliran Sungai Bengawan mulai meluap maka sukarelawan segera mengevakuasi warga ke daerah yang lebih aman. “Posko bencana banjir sudah didirikan, sukarelawan siaga selama 24 jam selama musim penghujan,” papar Heru.

Pihaknya menghimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim penghujan. Apalagi bila terjadi hujan lebat selama berjam-jam. Biasanya, aliran Sungai Bengawan mulai meluap secara perlahan-lahan. Kondisi ini patut diwaspadai warga yang berdomisili di bantaran Sungai Bengawan Solo.

Sementara Camat Jaten, Titik Umarni, menyatakan pihaknya selalu berkoordinasi dengan instansi terkait bila ketinggian Sungai Bengawan mulai naik. Pemerintah desa akan segera mengevakuasi warga yang berdomisili di pinggir sungai. Langkah ini dilakukan agar tak mengakibatkan korban jiwa.

sumber : http://www.solopos.com/2014/01/26/waspada-bencana-tiga-kecamatan-rawan-banjir-484835

Read More

BNPB: Bengawan Solo Normal

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Karanganyar, Aji Pratomo Heru K menyatakan untuk sementara arus air Sungai Bengawan Solo normal. Sementara itu tiga tenda pengungsi yang didirikan di halaman salah satu warga di Dusun Daleman, Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Selasa (8/1/2013) telah dibongkar.

Karena seluruh warga yang mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing. “Untuk sementara ini air Sungai Bengawan Solo normal, namun demikian kami berharap warga tetap waspada. Tolong jalinlah komunikasi dengan kami, sehingga nanti kalau ada perkembangan apa pun kami bisa memberi tahu,”ujar Heru ketika memberi sambutan seusai menyerahkan bantuan kepada korban banjir di Dusun Daleman, Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Selasa (8/1).

Seperti diwartakan sebelumnya sebelumnya sebanyak 46 kepala keluarga di Dusun Daleman, Ngringo, Jaten, Karanganyar pada Sabtu (5/1) kebanjiran akibat Sungai Bengawan Solo meluap. Ketinggian air bah di kawasan itu mencapai dada orang dewasa.

Lebih lanjut Heru mengatakan saat ini seluruh wilayah Karanganyar untuk sementara aman dari banjir luapan Sungai Bengawan Solo. Namun jika di daerah-daerah bagian hulu yang mempunyai air bermuara ke Bengawan seperti Klaten, Sukoharjo dan Wonogiri hujan deras, warga diminta waspada. Karena keamanan Karanganyar dari luapan air bah Sungai Bengawan Solo di antaranya tergantung dari kondisi daerah-daerah tersebut.

Pada bagian lain BNPB kemarin juga memberi bantuan sejumlah kebutuhan sehari-hari seperti sembako, obat-obatan ringan, air bersih dalam kemasan, selimut dan sebagainya. Bantuan langsung diserahkan kepada korban banjir di dusun mereka.

“Jangan dilihat dari besar atau kecilnya nilai sumbangan ini, tetapi ini sebagai rasa peduli kami terhadap saudara-saudara kami yang tertimpa musibah. Saya harap warga di sini tidak manja, artinya yang harus berkerja ya bekerja lah seperti biasa. Jangan bermalas-malasan. Contohlah Mbah Bayan yang sudah sepuh dan seharusnya pensiun ini masih mau menyempatkan diri datang ke lokasi,” ujar dia.

Sementara itu Ketua Lingkungan Warga Dusun Daleman, Desa Ngringo, Jaten, Anwar mengucapkan terima kasih atas pemberian bantuan tersebut. Dia menjelaskan sebelumnya dia mengaku telah menerima bantuan dari berbagai pihak.

Read More

BOCAH TENGGELAM: Polsek Kebakkramat Karanganyar Sisir Bengawan Solo

Taufiq Nur Hidayah, 4 dan Anastasya Maybia Novi, 8, warga RT 001/RW 003,  Dusun Tlumpuk, Desa Waru, Kebakkramat, Karanganyar, Rabu (5/12/2012), siang diduga tenggelam di Sungai Bengawan Solo.

Kapolsek Kebakkramat, AKP Dwi Erna Rustanti, mewakili Kapolres Karanganyar, AKBP Nazirwan Adji Wibowo, mengatakan tim gabungan hingga Rabu sore, masih melakukan penyisiran untuk mencari keberadaan korban. Korban diduga kuat terseret arus sungai yang mengalir cukup deras.

Penyisiran bakal dilakukan hingga malam hari, apabila tidak ditemukan maka dilanjutkan keesokan harinya. Dia menghimbau agar para orangtua melarang anak-anaknya bermain di pinggir sungai karena sangat membahayakan.

“Saya masih di lokasi kejadian, kami masih mencari korban hingga malam hari. Kalau tidak ketemu, dilanjutkan besok,” imbuhnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kedua korban yang masih bertetangga tersebut bermain air di sekitar Sungai Bengawan Solo. Sepulang sekolah, mereka langsung menuju lokasi kejadian sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, hingga siang hari mereka tak kunjung pulang ke rumahnya masing-masing.

Komandan SAR Karanganyar, M Abdullah, mengatakan pihak keluarga korban berniat mencari korban di lokasi kejadian. Mereka dibantu warga sekitar melakukan penyisiran di pinggir sungai untuk mencari korban. Namun hingga siang hari, para korban juga belum ditemukan. Selanjutnya, mereka melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Kebakkramat.

“Korban bermain air di sungai namun hingga siang hari belum juga pulang ke rumah. Keluarganya langsung menuju ke lokasi kejadian untuk mencari korban namun tidak ketemu,” ujarnya, Rabu siang.

Read More

Pencarian Benaya, Tim SAR Siagakan Lima Pos

Pencarian terhadap siswa SMP Kristen 1 Surakarta, Benaya Ado Narwastu (15) warga Jalan Krakatau No 13, RT 04 RW XXVII Dukuh Busukan, Mojosongo Jebres yang hilang terseret arus di Sungai Benowo, Desa Ngringo Kecamatan Jaten, Jumat (3/2) terus dilakukan oleh Tim SAR Gabungan.

Dengan berbekal tiga perahu mesin, Minggu (5/2) mereka terus melakukan pencarian korban dengan cara menyisir dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) hingga radius satu kilometer. Namun hingga pukul 15.00 WIB kemarin mereka belum juga menemukan korban.

Ketua SMC (SAR Mission Coordinator) Karanganyar, David Reka Lamuna yang memimpin  jalannya operasi mengatakan seharusnya operasi tahap pertama resmi diberhentikan pada Minggu (5/2) sore. Namun karena ada permintaan dari pihak keluarga untuk terus dilakukan pencarian, maka pencarian akan diperpanjang dengan pembentukan Tim baru. “Jadi yang operasi tahap pertama dihentikan dahulu, kemudian akan dilanjutkan dengan membentuk Tim baru dengan tugas yang sama yakni mencari korban,” ujarnya Minggu (5/2).

Guna mengintensifkan pencarian, Tim gabungan yang terdiri dari SAR Karanganyar, BPBD Karanganyar, UNS, MTA dan Anak Gunung Lawu (AGL) juga sudah membuat lima Posko. Kelima Posko tersebut di Benowo sendiri, Tempuran atau pertemuan antara Sungai Benowo dengan Sungai Bengawan Solo, Kedungringin, Ndingin dan Geluh. “Namun saat ini pencarian kita fokuskan di Tempuran, karena perkiraan dengan arus sungai yang deras kemarin, korban kemungkinan telah sampai di Bengawan Solo,” paparnya.

Sebelumnya, korban bersama dengan ke-13 rekannya dari SMP Kristen 1 Surakarta ini bermain sepakbola di Lapangan Benowo Desa Ngringo Jaten Karanganyar, setelah itu mereka kemudian mandi di Sungai Benowo atau tepatnya di belakang Pabrik Javatex. Saat sedang asyik mandi, tiba-tiba datang air bah sehingga menghempaskan semuanya. Apesnya korban tidak bisa tertolong dan terakhir terlihat di Jembatan Benowo.

Bahkan sang Ayah, Hartono (52) mengaku masih syok dengan kejadian ini. Karena selama ini sepulang sekolah Benaya selalu berdiam diri di Rumah. “Kemarin itu kok terlambat pulang dan tahu-tahu pihak kepolisian sekitar pukul 16.30 WIB mengabarkan anak saya hilang di Benowo karena terseret arus”..

Read More

Pintu Waduk Dibuka untuk PLTA

Pintu Waduk Gajah Mungkur dibuka untuk pembuangan air ke turbin penggerak generator PLTA. Hal tersebut dilakukan seiring menyusutnya ketinggian air  Bengawan Solo wilayah Jurug dengan debit air 26 meter kubik per detik. Sedangkan empat pintu pembuangan air belum satu pun yang dibuka. Ketinggian muka air di waduk secara berangsur naik, karena air hujan hari Minggu masih ada yang baru sampai di area waduk. Pada pukul 14.00 WIB, elevasi pada 131,12 meter di atas permukaan laut. Masih jauh dari 135,3 meter saat pintu harus mulai dibuka secara berangsur.
“Mulai Senin (2/1) sore, untuk aliran menuju PLTA sudah mulai dibuka karena di hilir air sudah surut. Inflow ke waduk  masih terus bertambah sejak hujan Minggu (1/1). Meski dibuka, penambahan air di hilir tidak signifikan. Untuk empat pintu waduk semua masih ditutup. Tinggi muka air pukul 09.00 WIB, 130,89 meter dan pukul 14.00 WIB 131,12,” jelas Winarno Susiladi, Kepala Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) IV Perum  Jasa Tirta I Bengawan Solo, Selasa (3/1).
Selain pemenuhan untuk menggerakkan turbin, air yang dikeluarkan dari pintu bawah itu juga untuk kepentingan air minum dan industri, sesuai standar teknis yang telah ditetapkan. Jika ketinggian muka air di Jurug masuk level siaga merah lagi, maka akan ditutup lagi.
Sementara itu, menanggapi banjir, Gubernur Jateng Bibit Waluyo mengatakan sudah bukan masalah baru. Harusnya pemerintah daerah dan masyarakat memulai penanggulangan sejak awal. “Sama-sama mari normalisasi irigasi, gorong-gorong. Buat embung, waduk, dan galakkan penghijauan.  Jangan kalau banjir baru semua bengok-bengok,” tandasnya di sela-sela kunjungan di Wonogiri, Selasa (3/1). Menteri Pertanian Suswono mengatakan untuk antisipasi area pertanian yang sering digenangi air banjir, pihaknya sudah memulai melakukan pemetaan. Dengan itu diharap dampak banjir terhadap produksi pertanian bisa ditekan.
“Sudah mulai kami petakan. Menurut BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), di tahun 2012 hujan tidak merata di Indonesia. Meski iklim normal, tapi cuaca ekstrem. Perubahan cuaca mendadak ini bisa mengakibatkan angin puting beliung sehingga merusak padi. Di wilayah lain banjir yang dominan. Di bulan Februari mulai panen, sementara Januari curah hujan paling tinggi. Untuk antisipasi, salah satunya dengan memberikan alat pengering bagi kelompok tani,” katanya.

Read More