Category: Pariwisata

Obyek-obyek wisata unggulan di Kabupaten Karanganyar.

Hotel

Nama Hotel/ Kelas Alamat Telepon
Lor in ( ***** ) Jl. Adi Sucipto, Colomadu 0271 – 724500
Pondoksari II ( ** ) Tawangmangu 0271 – 697112
Komajaya Komaratih Tawangmnagu 0271 – 697112
Narita Jl. Adisucipto, Colomadu 0271 –  721000
Pondok sari I ( M ) Tawangmangu 0271 –  697088
Lawu ( M ) Tawangmangu 0271 –  697201
Garuda ( M ) Tawangmnagu 0271 –  697239
Maliyawan Tawangmangu 0271 –  697013
Fajar Indah Tawangmangu 0271 –  697109
Duta Tawangmangu 0271 –  697051
Asri Tawangmangu 0271 –  697067
Bangun Trisno Tawangmangu 0271 –  697247
Kusuma Joglo Palur 0271 –  825185
Tritunggal Tawangmangu 0271 –  697793
Wisma Yanti Tawangmanngu 0271 – 697956
Girimulyo Tawangmnagu 0271 –  697733
Sari Handayani Tawangmangu 0271 –  697348
Mandaulin Tawangmangu 0271 – 697042
Sridewi Tawangmangu 0271 – 697247
Sri Rejeki Tawangmangu 0271 – 697829
Tentrem Tawangmangu 0271 –  697659
Santosa Mulyo Tawangmangu 0271 – 697271
Widodo Mulyo Tawangmangu
Mekar Indah Tawangmangu 0271 –  697107
Lumayan Tawangmangu 0271 –  697481
Madularas Tawangmangu 0271 – 697147
Tirta Asri Jaten 0271-825 550
Sukuh Cottage Sukuh, Ngargoyoso
Rindu Alam Cottage Girimulyo, Ngargoyoso

Read More
DSC_0220

Candi Cetho

Gerbang Utama Candi Cetho

Candi Cetho (ejaan Bahasa Jawa: cetha) merupakan sebuah candi bercorak agama Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15). Laporan ilmiah pertama mengenainya dibuat oleh Van de Vlies pada 1842. A.J. Bernet Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya inulai diteliti, candi ini memiliki usia yang tidak jauh dengan Candi Sukuh. Lokasi candi berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, pada ketinggian 1400 m di atas perrnukaan laut.

Sarnpai saat ini, komplek candi digunakan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan dan populer sebagai tempat pertapaan bagi kalangan penganut agama asli Jawa/ Kejawen. Ketika ditemukan keadaan candi ini merupakan rereuntuhan batu pada empat belas dtaran bertingkat, memanjang dari barat (paling rendah) ke timur, meskipun pada sembilan teras saja. Strukturnya yang berteras-teras membuat munculnya dugaan akan kebangkitan kembali kultur asli (“punden berundak”) pada masa itu, yang disintesis dengan agama Hindu. Dugaan ini diperkuat dengan bentuk tubuh pada relief seperti wayang kulit, yang mirip dengan penggambaran di Candi Sukuh.

Teras ketiga Candi Cetho

Pemugaran yang dilakukan oleh Humardani, asisten pribadi Suharto, pada akhir 1970-an mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan. Pemugaran ini banyak dikritik oleh pakar arkeologi, mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Bangunan baru hasil pemugaran adalah gapura megah di muka, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung Sabdapalon, Nayagenggong. bRawijaya V. Serta phallus, dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.

Selanjutnya, Bupayi Karanganyar, Rina Iriani, dengean alasan untuk menyemarakan gairah keberagamaan di sekitar candi, menempatkan area Dewi Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar, pada bagian timur kompleks candi.

Pendopo yang sering digunakan untuk upacara adat keagamaan.

Pada aras ketiga terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangkat tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern.

Patung Dewi Sarasvati di Komplek Candi Cetho

Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu padad dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudhamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh. Kisah ini masih populer di kalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara ruwatan. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pemdapa tersebut digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan. Pada aras ketujuh dapat ditemui dua arca di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos (banyak yang menganggap sebetulnya keduanya adalah satu orang) yang diyakini sebagai abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.

Bangunan berbentuk kubu pada teras kesembilan Candi Cetho.

Pada aras kedelapan terdapat arca phallus (disebut “kuntobimo”) di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallus melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat. Aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertimggi sebagai tempat pemanjatan doa. Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.

Read More

Gorojogan Sewu

Dengan lokasi ketinggian kira-kira 1000 meter di atas permukaan air laut, hawa sejuk sangat terasa di tempat ini. Apalagi di kanan kiri air terjun banyak pohon besar yang berumur puluhan bahkan ratusan tahun.

Read More

Masakan Khas Karanganyar

Setiap daerah wisata tentu punya  kuliner/ makanan Khas. Seperti di Kabupaten tercinta Karanganyar ini pun ada yang khas, apa aja yang khas dari Karanganyar? simak makanan khas dibawah ini:

1. Sup Buntut

 Sup Buntut Bu Ugi makanan favorit yang menjadi khas di obyek wisata Tawangmangu. Warung sederhana yang menyajikan masakan Jawa ini tidak pernah sepi pengunjung, Bila hari Minggu tempat ini dipadati wisatawan yang ingin menjajal kelezatan sup buntut sambil menikmati udara yang segar dan  melihat pemandangan disekitar.

2. Sate Kelinci

Masih di kawasan wisata Tawangmangu yang tak kalah populer yang menjadi makanan khas adalah sate kelinci . Bila berkunjung ke Kawasan wisata Tawangmangu hampir disudut banyak pejual sate kelinci yang memikul dagangannya dan menunggu pembeli di sela-sela pohon cemara. Sate kelinci rasanya sangat lezat tidak kalah dengan sate ayam, Harga satu porsinya sekitar Rp. 12.000 anda sudah menikmati lezatnya skhas ate kelinci khas tawangmangu.

3. Grubi

 Camilan yang gurih ini dinamakan Grubi atau dalam bahasa Jawa Walangan. Makanan khas Tawangmangu ini terbuat dari ketela rambat dicampur dengan Gula Jawa. Melimpahkan bahan baku Grubi adalah alternatif menjadi makanan olahan yang tahan lama.

4. Keripik Pisang

 Makanan yang satu ini tentu sudah tidak asing lagi, Tetapi keripik pisang dari Karanganyar dijajakan lebih spesifik karena terbuat bahan baku pisang asli Tawangmangu yaitu Pisan Byok. Pisang Tawangmangu mempunyai ciri khas yaitu apabila sudah masak masih terlihat hijau pada ujung pisang.

5. Keripik Jagung

 Jenis makanan olahan yang tepat untuk oleh-oleh adalah keripik jagung. Rasanya yang gurih dan renyah membuat makanan ini sangat disukai wisatawan yang berkunjung di Karanganyar.

Read More