Category: Pariwisata

Obyek-obyek wisata unggulan di Kabupaten Karanganyar.
madirda 01

Telaga Madirdo

TELAGA MADIRDO


Telaga Madirdo merupakan danau kecil yang airnya bersumber dari mata air di lereng Gunung Lawu. Telaga tersebut menjadi tumpuan kehidupan warga karena airnya yang tak pernah surut meski musim kemarau dan tak pernah penuh di saat musim penghujan. Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, disanalah telaga ini terhampar. Jarak telaga ini dari Balai Desa Berjo sekitar 4 kilometer dan dapat ditempuh dengan cukup mudah.

Telaga ini memiliki potensi yang layak untuk di kembangkan menjadi obyek wisata unggulan bagi Desa Berjo sebagaimana yang diimpikan warga Berjo pada umumnya. Telaga Madirdo sebenarnya cukup di kenal oleh wisatawan yang memasuki Desa Berjo terutama wisatawan yang mencoba memperlajari keanekaragaman potensi wisata yang ada di Kabupaten Karanganyar,

Hal itu dikarenakan telaga ini termasuk dalam jalur Golden Tracking Sukuh-Grojogan Sewu. Dimana keberadaanya sangat berdekatan dengan berbagai obyek wisata seperti situs Watu Bonang, Situs Planggatan, Candi Sukuh dan Grojogan Sewu.

Dengan posisinya yang demikian, masyarakat meyakini telaga ini bisa dikembangkan menjadi obyek wisata andalan. Bukan tidak mungkin akan seterkenal Telaga Sarangan di Magetan Jawa Timur. Dengan posisinya itu bahkan telaga ini bisa menjadi gerbang utama untuk menuju berbagai kawasan obyek wisata di Kabupaten Karanganyar.

RUTE JALAN

Tlogo Madirdo tepatnya terletak di Dusun Tlogo, Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar. Walaupun terletak di lereng Gunung Lawu dengan ketinggian sekitar 900 m di atas permukaan air, letak potensi obyek wisata ini cukup strategis. Hal itu mengingat kedekatannya dengan obyek wisata andalan Kabupaten Karanganyar yang lain, seperti Grojogan Sewu, Situs Planggatan, Candi Sukuh, obyek Wisata Air Terjun Jumok, Parangijo dan Candi Cetho. Di sepanjang jalan menuju menuju Tlogo Madirdo, juga telah berkembang berbagai rumah makan, yakni yang menghampar di sepanjang jalur Karangpandan – Karanganyar. Jarak anatara Karangpandan dengan obyek wisata Tlogo Madirdo kurang lebih sekitar 5 kilometer.

Untuk mencapai Tlogo Madirdo dapat dilakukan melalui dua jalur utama dan satu jalur alternatif. Yang pertama melalui pintu gerbang arah Candi Sukuh dan Candi Cetho, serta menuju Air Terjun Jumok, yang juga berada di Kecamatan Ngargoyoso. Jarak dari pintu gerbang ini kurang lebih sepanjang 7 kilometer. Karena berada di lereng Gunung Lawu, maka kondisi jalan untuk menuju ke Telaga Madirdo memang cukup terjal dan berkelak-kelok. Meski demikian kondisi jalan ini masih cukup nyaman untuk dilalui baik oleh kendaraan pribadi maupun dengan sepeda motor. Sementara angkuta umum yang melalui rute ini adalah bus jurusan Karangpandan – Ngargoyoso.

Sedangkan jalur kedua, untuk menuju Tlogo Madirdo, adalah melalui Desa Karang, yang berada pada kilometer 34 jalan raya Solo-Tawangmangu. Jalur ini merupakan jalur yang cukup berkembang karena juga merupakan gerbang utama menuju kawasan Agro Wisata Amanah yang jaraknya kurang lebih 1,5 kilomter dari jalan raya Solo-Tawangmangu.

Dari pintu gerbang Amanah untuk menuju Tlogo Madirdo harus melalui jalan kabupaten dan jalan desa, kurang lebih sepanjang 5 kilometer. Kondisi jalan tak jauh berbeda denga jalur pertama, cukup terjal dan berkelok-kelok. Sementara jalur ketiga adalah melalui rute Grojogan Sewu, yaitu melalui jalan desa Tengklik Tawangmangu – ke arah Desa Berjo menuju Tlogo Madirdo. Rute ini adalah jalur alternatif dari arah Grojogam Sewu -Tawangmangu.

KONDISI ALAM

Tlogo Madirdo sendiri berada di hamparan pelataran yang dikelilingi cekungan bukit yang menjadikan sumber air mengalir ke telaga Madirdo sehingga tak pernah kering meskipun di saat musim kemarau. Hutan pinus yang berada di bukit cukup baik sebagai resapan air yang mengalirkanya kembali ke telaga. Sementara kondisi air di Telaga Madirdo sendiri terhitung cukup jernih dan belum tercemar.

Tapak Tlogo Madirdo sendiri berupa cekungan dengan bentuk empat persegi panjang dan berukuran 150 x 200 meter. Kedalaman cekungan kurang lebih 5 meter pada sisi yang rendah dan lebih dari 20 meter dari sisi yang lebih tinggi. Pada sisi cekungan terdapat jalan desa yang mengubungkan Dukuh Tlogo (sebelah timur – utara Tlogo) serta jalan tembus menuju Tawangmangu dan obyek wisata Grojogan Sewu. Pada sekeliling cekungan ini juga berderet perbukitan hutan pinus yang di kelola oleh Perum Perhutani.

Saat ini, wilayah yang digenangi air di Tlogo Madirdo mencakup kurang lebih seribu meter persegi atau 30% dari luas cekungan. Kedalaman air kurang lebih 1 meter. Selain untuk keperluan mandi, air telaga juga dimanfaatkan penduduk untuk budidaya ikan, dan irigasi. Kondisi air sendiri cukup jernih dan memiliki volume air yang relatif konstan baik pada saat musim kemarau maupun pada saat musim penghujan.

Perbukitan di sekitar Telogo Madirdo memiliki potensi sumber air yang mengucurkan air secara terus-menerus dan tak pernah kering. Di sana terdapat keindahan lain seperti batu-batuan alam, flora fauna khas pegunungan dan pemandangan yang bagus ke berbagai arah.

Jenis tanaman yang berada di perbukitan sekitar Tlogo Madirdo antara lain pohon bambu, pinus, akasia, mangga, pisang, pakis dan berbagai jenis tanaman perdu, semak dan rumput. Untuk wilayah sekitar tapak, selain jenis tanaman tersebut juga terdapat jenis tanaman tahunan seperti cengkeh, kopi, tanaman pertanian dan berbagai tanaman sayuran.

POTENSI

Potensi keindahan Tlogo Madirdo belum banyak diolah. Selama ini pengelolaan telaga hanya dilakukan warga Dusun Tlogo, Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. Pengleolan juga sebatas pembersihan, perawatan, dan bahkan tanpa penarikan retribusi sama sekali.

Potensi telaga dengan air cukup bersih, udara yang sejuk dan teduh, berbagai batu alam yang indah, serta keanekaragaman flora dan fauna pegunungan yang menarik, ternyata belum dibarengi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Berbagai fasilitas yang ada saat ini semuanya murni swadaya masyarakat setempat dan terlihat masih relatif sederhana. Berbagai fasilitas seperti pancuran untuk mandi, tempat parker, kamar mandi dan WC umum, homestay serta pengerasan permukaan jalan, semuanya masih terkesan seadanya.

Pengembangan

Dari sisi ketersediaan lahan ketersediaan sumber daya air, sebenarnya pengembangan Tlogo Madirdo sangat memungkinkan. Sebab, dengan menaikkan elevasi air telaga hingga mencapai kedalaman tertentu yang lebih tinggi dari kondisi saat ini, akan memperindah kondisi telaga. Lagi pula, dengan menaikkan ketinggian air, diharapkan tidak akan menganggu pemanfaatan air bagi warga. Air yang melimpah bisa dimanfaatkan warga untuk irigasi dan keperluan lainnya.

Dari sisi status tanah, tanah di sekitar Tlogo Madirdo merupakan tanah kas desa dengan luas mencapai 4 hektare. Artinya, untuk pengembangan obyek wisata tidak perlu lagi dilakukan pembebesan lahan. Bahkan warga masyarakat setempat mengaku siap untuk menghibahkan tanahnya secara sukarela guna mewujudkan pengembangan kawasan Tlogo Mardido tersebut.

Pengembangan Tlogo Madirdo, selain akan mengangkat potensi wisata di Kabupaten Karanganyar juga diyakini akan mampu meningkatkan taraf hidup dan pendapatan eknomi warga setempat maupun masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Peningkatan ini dimungkinkan karena terbukanya berbagai kesempatan warga untuk melakukan usaha seperti jasa warung, penginapan, pertanian, parkir dan kesempatan yang lainnya. Demikianlah adanya, warga di sekitar telaga memang sangat mendukung rencana pengembangan Obyek Wisata Tlogo Madirdo ini.

Meski demikian, Dwi Haryanto mengingatkan, sebelum melakukan pengembangan telaga, beberapa persoalan perlu difikirkan terlebih dulu jalan keluarnya. Pertama, adanya kekawatiran sejumlah warga yang tinggal di hilir sumber mata air Tlogo Mardido yaitu warga masyarakat yang tinggal di Desa Girilayu Ngargoyoso dan Tengklik Tawangamangu. Selama ini air di telaga memang dimanfaatkan untuk keperluan air minum sekitar 500 kepala keluarga yang berada di desa tersebut. Dengan demikian jika akan diolah menjadi telaga wisata, maka diperlukan teknologi yang bisa menjaga kebersihan air untuk warga.

Kedua adalah persoalan infrastruktur jalan yang menghubungkan traffic Sukuh – Madirdo dan Grojogan Sewu. Kondisinya saat ini masih cukup memprihatinkan sebab jalan tembus alternatif yang baru dibangun hanya selebar 3 meter serta tidak memiliki badan jalan. Untuk keperluan pelebaran jalan, menurut Dwi, tidak diperlukan anggaran besar mengingat sebagian besar tanah yang dilalui jalur tersebut merupakan tanah milik Perhutani yang jika dilakukan pelebaran tidak perlu dilakukan pembebasan lahan.

Investor

Pihak desa sendiri sebenarnya pernah menghitung untuk membangun telaga hingga layak memerlukan anggaran sekitar Rp 1,5 miliar. Biaya sebesar akan digunakan untuk pengembangan telaga dengan membuat bendungan penahan air dan pembuatan talud di sepanjang areal obyek wisata. Dana itu akan cukup dengan catatan untuk faslilitas lain seperti infrastruktur jalan, penyediaan sarana kios, los dan tempat rekreasi dianggarkan tersendiri.

Terkait gagasan ini, sebenarnya pihak desa sudah banyak mendapat tawaran dari sejumlah investor yang siap membantu untuk membangun Telaga Madirdo. Namun desa masih berharap pihak Pemkab yang akan membuat perencanaan yang lebih matang guna pengembangan zona wisata tersebut.

Terkait masalah itu, Kasubag Perencanaan dan Program Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar, I. Sukarno mengatakan sebenarnya Pemkab sudah membuat perencanaan terkait pengembangan obyek wisata Telaga Madirdo ini. Yaitu dengan membuat feasibility studi yang dilakukan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Karanganyar pada tahun 2006. Bedasarkan feasibility study itu, akan diperlukan anggaran sebesar Rp. 3 miliar yang diperuntukkan bagi membangun empat zoning. Pertama adalah zoning penerima. Dalam zoning ini yang akan dibangun adalah berbagai fasilitas penerimaan antara lain areal parkir, plasa, kios agro, souvenir dan kantor pengelola.

Kedua adalah aktivitas wisata. Obyek yang akan dibangun meliputi pembuatan bendungan penahan air, dermaga perahu, dermaga pancing, dan lain sebagainya. Ketiga adalah zona wisata darat yang pembangunanya meliputi pembangunan area permainan, jalan setapak, taman bunga, taman alam dan gardu pandang. Keempat adalah zoning pelengkap yang meliputi pembangunan food court, warung makan, kamar mandi, toilet dan lain sebagainya.

Pengembangan Tlogo Madirdo berdasarkan analisa finansial dan ekonomi, yang meliputi analisis Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) maupun analisis Benefit Cost Ratio (BC-Ratio), yang dilakukan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Karanganyar pada tahun 2006, menunjukkan hasil positif. Artinya pengembangan obyek wisata Tlogo Madirdo layak dilakukan.

Read More

Candi Ketek

Candi ketek ditemukan tersembunyi di dalam tanah diantara bebatuan. Itulah kiranya kondisi reruntuhan candi yang ditemukan pada masa kini.

Read More

Sate Kelinci

Meski berada di garis ekuator dengan suhu udara panas dan lembab, Indonesia dianugerahi dengan banyak pegunungan yang menawarkan kesejukan. Salah satunya adalah Tawangmangu, kurang lebih 37 km sebelah timur Solo. Meskipun terletak di lereng gunung, kawasan wisata ini termasuk salah satu yang paling mudah untuk dikunjungi. Angkutan bus umum hampir setiap saat siap mengantar para wisatawan sampai ke terminal utama. Perjalanan darat selama kurang lebih 1,5 jam dari terminal Solo sudah menjadi daya tarik tersendiri. Pemandangan indah areal persawahan di kiri dan kanan jalan siap menyapa begitu memasuki wilayah Karanganyar.

Suasana pagi Tawangmangu sangat indah dan eksotik. Udara dingin khas pegunungan dan kabut dari puncak gunung yang menyelimuti memberikan aura keindahan tersendiri. Berjalan-jalan sambil menikmati indahnya areal persawahan, melihat aktivitas penduduk di pagi hari, ataupun menjelajahi pasar sangat manjur untuk menghilangkan penat dari kesibukan sehari-hari. Tawangmangu juga populer dengan produksi sayur dan buah-buahan segar. Sawah-sawah yang ditanami sawi, wortel, lobak, strawberry, dan aneka hasil bumi lainnya membentang dimana-mana.

Di tawangmanggu jangan lupa mengunjungi air terjun grojogan sewu  setinggi 81 meter yang terletak di kawasan ini. Disini sambil menikmati udara yang sejuk dan keindahan alamnya kita dapat wisata kuliner juga yaitu masakan khasnya sate kelinci disetiap sudut lokasi wisata grojokan sewu ini terdapat penjual sate kelinci dengan harga per porsi Rp 75.000.  Sate kelinci dapat disajikan dengan lontong, daging kelinci disiram dengan sambal kacang serta irisan cabe dan bawang merah semakin menambah nafsu makan. Menyantap sate kelinci terasa lebih nikmat dengan keindahan alam sekitar objek wisata. Ketika membeli sate kelinci harap bersabar karena proses pembakaran sate cukup lama.

Menurut para ahli, daging kelinci selain rendah kolesterol juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Daging kelinci mengandung zat yang disebut senyawa kitotefin. Senyawa ini apabila digabungkan dengan senyawa lain seperti omega 3 dan 9 disinyalir bisa untuk menyembuhkan penyakit asma. Berdasarkan pengalaman beberapa orang, daging ini juga berkhasiat menurunkan kadar gula bagi para penderita diabetes, sementara otaknya berkhasiat sebagai penyubur kandungan wanita.

Read More

Sup Buntut Bu Ugi

Pilihan rumah makan yang menawarkan kenyamanan tempat semakin lama semakin banyak. Namun, menyantap aneka hidangan menggugah selera sembari menyaksikan hijaunya hamparan pepohan yang berkolaborasi serasi dengan semilir angin pegunungan, tentu sebuah kenikmatan tersendiri.

Karena bukan hanya mata saja yang dimanjakan dengan keindahan alam tetapi lidah dan perut pun juga dimanjakan dengan kuliner yang tersedia di lokasi, makan di tengah suasana demikian tentu juga memanjakan pikiran dan hati yang jenuh dengan padatnya aktivitas sehari-hari. Janji eksotisme kuliner dengan suasana senyaman itu, bisa dirasakan warga karanganyar ataupun luar warga Kabupaten Karanganyar, tepatnya di kawasan wisata alam Tawangmangu.

Jika anda wisata kuliner ditawangmanggu pertama tama yang anda kunjungi dirumah makan Ibu Ugi di Jl Lawu km 40 RT 2/RW III Kaliyoso yang hanya menyediakan menu sup buntut dan pecel. Menurut cerita, Rumah Makan Ibu Ugi adalah rumah makan terlama di kawasan Tawangmangu, konon cita rasa yang disuguhkan, sejak dulu hingga kini, tak berubah.

Warung Ibu Ugi tak pernah sepi pembeli, karena rasa sup buntutnya memang lezat. Kuahnya begitu segar, aroma bumbunya sangat terasa merasuk dalam daging dan empuk. Disantap dengan tambahan jeruk nipis menambah kelezatan rasa sub. Untuk harga per porsinya Rp 13.000.

Pecelnya juga begitu terasa, khas di tiap guyuran bumbu kacang yang memenuhi sela-sela sayuran. bumbu yang digunakan memang tak pernah berubah dari dulu selalu menggunakan buntut daging sapi lokal sehingga bumbu yang dihasilkan benar benar sangat lezat.

Read More

Pertapaan Bancolono

Tempat pertapaan Bancolono merupakan petilasan Raja Majapahit yang terakhir, yaitu Raja Brawijaya V. Setelah jatuhnya kerajaan Majapahit, maka raja Brawijaya V dan pengawalnya mengungsi sampai lereng gunung Lawu. Sebelum naik ke puncak Gunung Lawu, raja dan para pengawalnya bersuci (mandi) di sebuah sendang. Setelah bersuci, raja dan pengawalnya naik ke puncak gunung Lawu. Sesampainya di puncak, mereka mendirikan kerajaan. Sendang tempat mandi raja Brawijaya itu, sekarang dikenal sebagai Pertapaan Bancolono.

Pertapan ini masih dianggap keramat oleh banyak orang. Mereka yang melakukan meditasi di pertapan ini, hampir semua permohonannya terkabul. Pertapan ini berada di wilayah desa Gondosuli Kecamatan Tawangmangu, atau berada di bawah jembatan Bancolono, tapal batas antara Jawa tengah dan Jawa Timur.

Read More

Pertapaan Pringgodani

konconegoro

Pertapaan Pringgondani

Tempat bertapa ini merupakan petilasan Eyang Koconegoro. Tempat ini merupakan obyek wisata sejarah yang terletak di sebelah barat lereng gunung Lawu pada ketinggian 1.300 meter dari atas permukaan laut. Pertapaan ini terletak di Desa Blumbang Kecamatan Tawangmangu.

pringgondani 2

Pertapaan Pringgondani

Pertapan ini mempunyai kolam yang disakralkan, yang disebut sendang pengantin. Di sendang ini para peziarah biasanya mencuci mukanya sambil mengucapkan salam. Pertapan ini juga mempunyai petilasan bangunan bermotif joglo, yang biasa dipakai oleh peziarah untuk memanjatkan permohonan sesuai dengan cara dan kepercayaan masing-masing. Puncak ritual di pertapan ini adalah mandi di tujuh pancuran alami yang airnya memancar dari tebing. Prosesi ini dilakukan secara berurutan, sesuai dengan urutan masing-masing pancuran, dan dilakukan tepat pada tengah malam.

pringgondani 1

Pertapaan Pringgondani

Pertapan Pringgodani dapat dijangkau dengan kendaraan umum Tawangmangu-Sarangan, namun masih dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak sepanjang 3 km dari desa Blumbang. Fasilitas yang tersedia di tempat ziarah ini meliputi; jalan setapak, MCK, tempat bilas, joglo tempat meditasi dan warung makan.

Read More

Astana Giribangun

Astana Giribangun ialah salah satu obyek wisata religi yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Obyek wisata religi ini merupakan kompleks makam keluarga mantan Presiden Indonesia, Soeharto. Kompleks makam yang dibangun di atas bukit Ngaglik seluas kurang lebih 4,3 hektar ini, dinamakan Astana Giribangun.

Sebelum Astana Giribangun dibangun, sudah ada kompleks pemakaman keluarga Pura Mangkunegaran, yaitu Astana Mangadeg. Di dalam astana ini terdapat makam Kanjeng Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Sri Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo. Pada masa hidupnya, sang pangeran ini ialah seorang pendiri Praja Mangkunegaran, sebuah keadipatian tinggi di wilayah Jawa Tengah bagian timur.

Astana Giribangun dibangun pada tahun 1974, dan diresmikan pada hari Jumat Wage, tanggal 23 Juli 1976. Astana ini memiliki tiga bagian cungkup yang disebut Argotuwuh, Argokembang, dan Argosari. Satu bagian cungkup utama dan dua bagian cungkup lainnya merupakan calon makam yang diperuntukkan bagi keluarga dan para pengurus Yayasan Mangadeg.

Jika dilihat dari letaknya, Astana Giribangun ini berada di bawah Astana Mangadeg, hal ini menunjukkan arti bahwa masih terdapat garis keturunan antara Sri Hartinah (Bu Tien) dengan keluarga Mangkunegaran III. Di kompleks pemakaman keluarga Cendana inilah presiden kedua Indonesia dimakamkan. Dan sekarang menjadi tujuan para pengunjung/peziarah dari berbagai kota di seluruh Indonesia.

Keistimewaan

Astana Giribangun berada di atas bukit yang memiliki pemandangan alam yang indah, taman-taman yang menghijau, dan suasana yang rindang. Kondisi ini membuat suasana nyaman bagi para peziarah saat berada di kawasan kompleks makam. Banyak peziarah yang hilir mudik keluar masuk pemakaman Astana Giribangun untuk berdoa dan menaburkan bunga di dalam kompleks pemakaman keluarga cendana ini. Dari kompleks pemakaman ini, pengunjung juga dapat melihat hamparan sawah yang menghijau.

Untuk menuju Astana Giribangun, pengunjung harus melewati jalan berundak-undak yang berkelok-kelok dan menanjak. Namun, Anda jangan berpikir akan capek selama berjalan menyusuri tangga tersebut, karena rasa capek itu akan terobati saat melihat keindahan pemandangan alam bukit Ngaglik dari arah tangga ini.

Jika dilihat dari gaya arsitekturnya, Astana Giribangun dibangun dengan mengadopsi model bangunan rumah khas Jawa, yaitu joglo. Astana yang memiliki luas sekitar 200 m2 ini, terbagi ke dalam tiga cungkup yang masing-masing bernama Cungkup Argotuwuh, Cungkup Argokembang, dan Cungkup Argosari yang merupakan cungkup tertinggi jika dibandingkan dengan kedua cungkup tersebut. Empat tiang utama di dalam Cungkup Argosari ini terbuat dari beton yang dihiasai dengan lapisan kayu ukiran asal Jepara. Selain itu, pada dasar tiang tersebut juga dihiasi dengan cincin-cincin yang terbuat dari logam kuning yang kilauannya mirip dengan emas. Sedangkan lantainya terbuat dari marmer buatan Tulungagung.

Cungkup Argosari merupakan cungkup utama di Astana Giribangun ini. Di cungkup inilah mantan Presiden Indonesia Soeharto beserta istrinya dimakamkan. Selain itu, terdapat juga makam kedua orang tua ibu negara Sri Hartinah. Bangunan yang berbentuk joglo khas gaya arsitektur Surakarta ini berdindingkan kayu ukir dengan luas sekitar 81 m2.

Setelah mengunjungi makam mantan Presiden Soeharto dan ibu negara ini, pengunjung juga dapat melanjutkan berziarah ke teras Cungkup Argosari. Teras seluas 243 m2 ini rencananya diperuntukkan sebagai makam anak dan para menantu Soeharto. Sedangkan di selasar seluas 405 m2 merupakan calon makam para penasehat, pengurus harian, serta anggota pengurus Yayasan Mangadeg.

Selanjutnya pengunjung dapat melihat-lihat Cungkup Argokembang. Cungkup yang memiliki luas 567 m2 ini merupakan makam yang diperuntukkan kepada pengurus pleno, para pengurus seksi Yayasan Mangadeg, dan keluarga besar Mangkunegaran.

Setelah itu, pengunjung dapat menuju Cungkup Argotuwuh yang merupakan cungkup terluar dari astana ini. Area cungkup seluas 729 m2 ini juga merupakan calon makam bagi para pengurus Yayasan Mangadeg atau keluarga besar Mangkunegaran, sama seperti pada Cungkup Argokembang.

Lokasi

Wisata Religi Astana Giribangun terletak di Bukit Ngipik, sekitar 40 km arah timur dari Kota Solo, tepatnya masuk dalam wilayah Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia.

Akses

Untuk menuju Astana Giribangun ini, perjalanan dapat dimulai dari Terminal Tirtonadi atau Bandara Adisumarno Solo. Jika pengunjung memulai perjalanan dari Terminal Tirtonadi, naik angkutan kota jurusan Solo—Karanganyar atau naik bus jurusan Solo—Tawangmangu dan turun di Karanganyar. Namun, jika pengunjung memulai perjalanan dari Bandara Adisumarmo, pengunjung dapat naik taksi untuk sampai ke astana ini.

Harga Tiket

Untuk memasuki Astana Giribangun, setiap pengunjung tidak dipungut biaya. Pengunjung hanya cukup menunjukkan Kartu Tanda Penduduk kepada pengelola astana agar diganti dengan izin masuk. Namun, para pengunjung juga dapat mengisi kotak amal yang telah disediakan oleh para pengelola astana di dekat pintu masuk itu.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di kompleks Astana Giribangun terdapat fasilitas di antaranya mushala, kamar mandi, dua ruang tunggu, tempat istirahat pengunjung, area parkir, kios suvenir, serta sejumlah pedagang makanan dan minuman.

Untuk membuat rasa nyaman bagi pengunjung, di kompleks makam ini juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung di antaranya serambi/balai tempat istirahat yang disebut paseban timur dan paseban selatan. Terdapat juga rumah untuk para juru kunci/pengelola harian.

Diolah dari berbagai sumber

Sumber foto utama: www.flickr.com

Read More

Selamatan Giling PG Tasikmadu

Menjelang musim giling tebu, dapat dipastikan hampir semua pabrik gula menggelar serangkaian ritual sakral untuk keselamatan, yang disebut cembengan. Sebutan itu sebenarnya merujuk pada keramaian pasar malam yang selalu digelar setiap awal bulan April, bulan di mana masa panen raya tebu datang. Pasar malam yang digelar masyarakat tersebut biasanya bertempat di sekitar lokasi pabrik gula.

Di Karanganyar, sekitar 15 kilometer arah timur Kota Solo, Jawa Tengah, pasar malam cembengan menempati sekitar Pabrik Gula (PG) Tasik Madu. Puluhan lapak berderet-deret, menjajakan berbagai makanan khas pasar malam tradisional, seperti arum manis, es dawet, brondong jagung dan jajan pasar. Ada juga beberapa hiburan anak-anak semacam komidi putar, dan tong setan. Hiburan “jadul” itu memang seperti mengingatkan kembali kenangan masa lalu.

Selamatan Giling adalah ritual yang digelar sebagai pertanda dimulainya musim giling tebu dan juga sebagai wujud ungkapan sukur terhadap Tuhan YME. Terdiri dari banyak rangkaian acara, diantaranya pemberian sesaji yang biasa disebut masyarakat setempat dengan “Julen” dan manten tebu.

Sesaji yang digunakan pada saat Selamatan Giling terdiri dari kepala kerbau sebanyak 7 buah, berbagai jenis jenang (bubur), kecok bakal, telor, kinangan, berbagai jenis tumpeng, berbagai jenis ketupat, palapendem, kembang telon yang semua itu ditempatkan di dalam Pabrik Gula. Acara penempatan sesaji ini dipimpin oleh seorang sesepuh pemangku adat.

Puncak ritual cembengan berlangsung pada keesokan harinya yaitu prosesi kirab tebu temanten. Tentu saja, tebu yang menjadi pengantin merupakan tebu pilihan, sehingga diperlakukan secara khusus dan khas. Selain batang tebunya dipilih yang paling baik dan memiliki rendemen tinggi, sepasang tebu temanten pun didandani layaknya sepasang mempelai, tak ubahnya pasangan pengantin manusia.
“Sepasang tebu temanten ini sebagai simbol adanya tebu lanang (laki-laki) atau tebu yang berasal dari daerah lain, serta tebu wadon (wanita) yang ditanam sendiri oleh pabrik gula Tasik Madu PG sendiri.
Soal pemeilihan nama tebu temanten itu mengandung harapan agar kelak gula yang dihasilkan nantinya berlimpah dan kualitasnya bersih, sekaligus membawa berkah bagi karyawan dan warga sekitar pabrik.
Hingga akhirnya, arak arakan tebu temanten berangkat dari rumah dinas kepala tanaman pasangan tebu temanten dikirab bersama 14 pasang tebu pengiring keliling desa, menuju besaran atau rumah dinas administratur pabrik gula. Dari sepanjang pinggir jalan, warga mengelu-elukan kirab pengantin. Atraksi reog menyambut kedatangan tebu temanten dan pengiringnya di halaman pabrik gula. Begitu arak-arakan pengantin memasuki ruang giling, sepasang temanten tebu kemudian diletakkan di atas mesin giling, disusul kemudian 14 pasang tebu pengirinyanya. Glek! Mesin penggiling pun bergerak, mulai menggilas dan melumat batang-batang tebu. Bergeraknya mesin giling itu pun menandai dimulainya proses giling tebu hingga 100 hari mendatang, sekaligus mengakhiri ritual cembengan di PG tasik Madu, Karanganyar.

Begitulah, Tebu telah menjadi tumpuan harapan para petani, karyawan pabrik gula, dan orang-orang di sekitar pabrik. Air manis dari tebu yang digiling, yang nantinya akan menjadi gula, sungguh sangat berarti kehidupan mereka. Maka, musim giling tebu barangkali menjadi musim yang paling ditunggu.

Read More
kemuning 03

Kebun Teh Kemuning

kemuning2

Kebun Teh Kemuning

Perkebunan Teh Kemuning berada di Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah atau sekitar 10 kilometer timur laut dari jalur utama Solo-Tawangmangu. Perkebunan teh ini merupakan salah satu tujuan wisata di Jawa Tengah yang berada di kabupaten karanganyar. Pesona alam pegunungannya masih asri, Udara sejuk dengan suhu rata-rata 21,5 derajat celcius. Lokasi tepat perkebunan ini ada di 11,10-11,250 BT dan 7,40-7,60 LS. Ketinggian tempatnya bervariasi antara 800 hingga 1.540 meter di atas permukaan laut dengen kelembaban berkisar 60 – 80 persen dengan penyinaran matahari hanya 40 – 55 persen.

kemuning7

Kebun Teh Kemuning

Kawasan Kemuning berada di antara Candi Sukuh dan Candi Cetho. Candi Palanggatan dan Menggung. Untuk menuju tempat tersebut, tidak sulit. Kita bisa memakai angkutan umum dengan rute Karangpandan, Ngargoyoso, dan Jenawi. Hamparan hijau perkebunan teh sangat bagus dilahat. Di Kemuning, kita bisa menikmati pesiar dalam bentuk tea walk alias menjelajahi perkebunan teh. Tak hanya pemandangan hamparan teh. Puluhan perempuan bercaping dengan tenggok di punggung menjadi bumbu lain yang sedap dilihat. Mereka bekerja dengan penuh kesabaran dan ketelitian.

kemuning

Kebun Teh Kemuning

Saat matahari baru saja merekah, aktivitas para pemetik daun teh ini sudah dimulai. Eksotis, karena jarang bisa dijumpai di obyek wisata pada umumnya. Rencananya kawasan wisata Kebun Teh Kemuning juga bakal dilengkapi gardu pandang. Dengan begitu, wisatawan lebih mudah melihat hamparan teh. Pemkab Karanganyar juga akan melengkapi Desa Kemuning dengan homestay bagi pengunjung yang ingin menginap. Ini bukti, Kemuning tak semata jadi produsen daun teh. Tetapi juga sebuah lokawisata yang mengasyikkan dan punya fasilitas signifi kan.

Read More

Taman Wisata Sondokoro

Pabrik Gula Tasikmadu didirikan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo / KGPAA Mangkoenagoro IV pada tahun 1971 yang terletak di desa Sondokoro

Read More