Category: Pariwisata

Obyek-obyek wisata unggulan di Kabupaten Karanganyar.

Goa Tlorong

Goa ini terletak di desa Lempong Kecamatan Jenawi, merupakan goa alami yang memiliki ukuran mulut goa 2m x 1,5m. Goa Tlorong memiliki daya tarik lingkungan alam yang indah serta

Goa TlorongGoa ini terletak di desa Lempong Kecamatan Jenawi, merupakan goa alami yang memiliki ukuran mulut goa 2m x 1,5m. Goa Tlorong memiliki daya tarik lingkungan alam yang indah serta hawa sejuk dan mempunyai latar belakang Gunung Kembar, sehingga cukup berpotensi untuk dijadikan sebuah objek wisata.

Untuk mencapai lokasi objek wisata Goa Tlorong bisa ditempuh dengan kendaraan umum atau angkudes dari Kota Karanganyar.

Read More

Situs Watu Gilang

Di tapal masuk hutan Krendhowahono, Desa Krendhowahono Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar tempat pundhen untuk menggelar ritual Wilujengan Nagari Mahesa Lawung (menanam sesaji kepala kerbau) ± 400 meter disebelah barat pundhen terdapat sebuah batu yang dikhususkan keberadaannya. Sepintas batu itu tak jauh berbeda dengan batu-batu yang lain, namun batu ini keberadaanya memang terasa dikhususkan. Batu tersebut dinamakan Watu Gilang karena memang bentuk batu yang cenderung datar.
Meski batu tersebut telah diperlakukan khusus ternyata memang belum dikenal dikalangan masyarakat luas. Hal ini karena ritual tahunan (Wilujengan Nagari Mahesa Lawung) yang cukup dikenal luas oleh masyarakat yang menyamarkan keberadaan Watu Gilang. Lalu apa yang menarik dari keberadaan sebuah batu itu ?

Banyak yang tidak menyangka jika batu yang diperlakukan khusus itu ternyata menyimpan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Bahkan tidak mustahil apabila Watu Gilang tersebut bisa menguak tentang pertanyaan Bagaimana sikap Keraton Surakarta terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro.

Batu itu diyakini sebagai tempat duduk pada pertemuan Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IV dengan Pangeran Diponegoro yang ketika itu sekitar awal abad XVIII, telah memulai berjuang melawan Kompeni Belanda. Sedang Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono IV adalah penguasa Keraton Surakarta Hadiningrat (1788 – 1820).

Read More

Upacara Adat Bersih Desa Dalungan

Latar Belakang

Dalungan sebenarnya adalah nama sebuah desa di Kecamatan Kebakkramat. Tepatnya Desa Dalungan, kelurahan Macanan Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar.
Desa Dalungan mempunyai suatu kegiatan upacara bersih desa, yang akhirnya membudaya dan tetap dilestarikan sebagai suatu tradisi masyarakat, dan akhirnya kegiatan bersih desa itu disebut Dalungan.

Upacara bersih desa ini termasuk upacara religi, diselenggarakan dengan maksud agar seluruh penduduk di wilayah desa Dalungan selalu mendapatkan berkah dari Allah SWT dan terhindar dari segala hal-hal yang bersifat tidak baik sehingga merugikan masyarakat desa, misalnya di bidang kesehatan agar masyarakat terhindar dari wabah penyakit, untuk pertanian petani bisa berhasil dalam panennya, sehingga desa Dalungan menjadi aman tentram murah sandang pangan dan sejahtera. Upacara bersih desa Dalungan sudah dilaksanakan sejak dulu kala sampai sekarang secara turun temurun, sehingga upacara bersih desa Dalungan sudah menjadi warisan leluhur yang tetap dipertahankan dan dilestarikan.

Dalam pelaksanaan upacara ritual bersih desa Dalungan selalu ditampilkan Seni Tayub dengan maksud caos sesaji kepada penunggu desa yang diyakini berada di sebuah Pundhen. Penunggu yang berada dipundhen tersebut adalah : Kyai Panjipuro dan Nyai Panjipuro serta Kyai Gendhongali. Masyarakat meyakini ketiga penunggu desa tersebut bertempat pada sebuah batu yang berbentuk Yoni (belum diketahui usianya berapa tahun).

Perunjukan Tayub sebagai sarana upacara ritual adalah Tayub yang dipertunjukkan terkait dengan ritus atau yang menyangkut dengan upacara keagamaan atau kepercayaan masyarakat.

Waktu Pelaksanaan

Upacara bersih desa Dalungan dilaksanakan setiap tahun, setiap bulan Ruwah (Kalender Jawa) pada hari Jum’at Legi. Hal ini waktu pelaksanaan tidak boleh diundur-undur atau diulur-ulur waktunya dan harus memanggil/mementaskan Ledhek Tayub. Sudah menjadi keyakinan kalau pelaksaan diulur-ulur waktunya, akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh masyarakat Dalungan.

Proses Upacara

Acara bersih desa dilaksanakan pada sore hari dimulai sekitar pukul 15.00 – 17.30. setelah bancaan/kenduri , Ledhek Tayub mulai menari menghibur para roh yang berada di Pundhen selama kurang lebih 3 (tiga) sampai 5 (lima) lagu saja yang pokok. Menjelang maghrib, acara pokok selesai kemudian dilanjutkan dengan kesenian Tayub lagi tapi tempatnya pindah dari komplek Pundhen. Biasanya diperempatan desa atau tampat lain selain di Pundhen.

Tradisi Masyarakat Desa Dalungan

Pelaksanaan upacara bersih desa dengan mementaskan pertunjukan Tayub berkaitan erat dengan mitos yang berlaku dan masih diyakini oleh masyarakat desa Dalungan Kalurahan Macanan Kecamatan Kebakkramat. Mitos yang berlaku di desa Dalungan tersebut adalah bahwa penari Tayub dianggap sebagai perantara antara masyarakat desa dengan ”Dewi Kesuburan ”.

Tujuan masyarakat mengadakan upacara bersih desa agar desanya mendapatkan berkah, ketenangan lahir batin, kesehatan, murah sandang pangan lewat Dewi Kesuburan.

Melalui upacara besih desa Tayub merupakan aktifitas yang sangat penting dan harus dilaksanakan oleh masyarakat Dalungan. Apabila tidak dilaksanakan seluruh warga akan terkena akibatnya. Hal-hal negatif selalu membayangi mereka.Oleh Karena itu bersih desa Tayub harus dilaksanakan. Pandangan mereka berdasarkan keyakinan bahwa tayub dalam ritual bersih desa membawa berkah keselamatan, ketentraman, kesuburan dan keamanan desa Dalungan.

Perunjukan Tayub sebagai sarana upacara ritual adalah Tayub yang dipertunjukkan terkait dengan ritus atau yang menyangkut dengan upacara keagamaan atau kepercayaan masyarakat

Dari latar belakang dapat diketahui bahwa masyarakat Desa Dalungan sebagian besar masih percaya akan kekuatan dhanyang (roh halus penunggu) yang berada di desa dan mereka percaya bahwa upacara bersih desa yang dilakukan akan menjadikan desa Dalungan selamat dari bencana.

Kelengkapan Bersih Desa Dalungan.

Upacara bersih desa Tayub di Desa Dalungan, selain dalam penyelenggaraannya harus mementaskan Tayub, juga dilengkapi dengan sajen atau sesaji. Kesenian Tayub dan kepercayaan dapat dipadukan menjadi satu sistem upacara sebagai sarana komunikasi untuk memenuhi kebutuhan spiritual maupun material.

Selain Tayub kelengkapan bersih desa adalah sajen, yaitu segala sesuatu yang disajikan dalam upacara berupa makanan dan buah-buahan. Makanan biasanya berupa nasi uduk, lauk pauk (sambel goreng, bakmi, tahu, tempe, krupuk, rempeyek, lalapan, buah pisang dll), ingkung panggang yang semuanya merupakan seperangkat makanan untuk kenduri.Sajen tersebut dibawa ke Pundhen untuk kemudian di adakan do’a bersama.

Tayub Dalam Ritual Bersih Desa Sebagai Simbol kesuburan Pertunjuka Tayub pada upacara bersih desa di Dalungan sangat diharapkan kehadirannya, bahkan sudah menjadi komitmen bagi maasyarakat Dalungan, warga tidak bisa menerima kehadiran tari lain kecuali tari Tayub. Masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa penari Tayub telah berhasil membawa masyarakat Dalungan meningkat lebih baik lagi taraf kehidupannya.

Tayub sebagai lambang kesuburan tanaman, oleh para petani desa Dalungan, Tayub dipersembahkan kepada dhnyang setempat yang menempati tempat-tempat tertentu. Tempat tersebut sanngat dihormati, terbukti selalu dibersihkan secara rutin, khususnya setahun sekali setiap diadakan ritual desa dengan perlengkapan sajen.

Upacara Adat Dawuhan.

Dawuhan adalah bentuk upacara tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun sebagai ungkapan syukur kepada Yang Maha Kuasa telah diberikan sumber kehidupan yaitu dengan membersihkan sumber mata air dari semak belukar atau tanaman yang menggangu dimana air mengalir. Sumber mata air biasa dipergunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari baik sebagai air minum, memasak ataupun untuk untuk mengalir pertanian penduduk desa. Tradisi Dawuhan diungkapkan dalam bentuk sesaji berupa hasil bumi atau nasi tumpeng lengkap dengan laukpauk. Upacara Dawuhan masih di lakukan masyarakat di daerah Tawangmangu, Ngargoyoso dan Jenawi. Tradisi Dawuhan selain sebagai ucapan syukur kepada yang Maha Kuasa juga merupakan sarana atau bentuk kepedulian sesama dimana warga masyarakat saling bersilahturami dengan makan bersama

Upacara Adat Suryajawi.

Ritual ruwatan yang dipercaya orang Jawa bisa membuang sial ternyata tidak hanya dilakukan untuk manusia, tetapi di wilayah Tawangmangu Kabupaten Karanganyar di lakukan ruwatan hewan yaitu kuda. Kuda di Tawangmangu di gunakan masyarakat untuk mencari nafkah. Paguyuban Turangga Karya adalah perkumpulan kuda tunggang yang beroprasi diwilayah Air Terjun Grojagan Sewu Tawangmangu. Ritual ini dilakukan setahun sekali pada bulan sura. Prosesi ruwatan ini diawali dengan arak-arakan kuda sebanyak + 140 ekor yang telah dihias sedemikian rupa dan sehari sebelumnya dimandikan oleh pemiliknya. Seperti ruwatan pada manusia, ruwatan pada kuda ini juga menyediakan sesaji berupa tumpeng. Sesampai di tempat ruwatan, kuda-kuda ditambatkan sementara para pemiliknya menyaksikan pertunjukkan wayang kulit yang dimainkan peruwat. Setelah peruwat memimpin doa, tumpeng pun dibagikan untuk dimakan bersama-sama pemilik kuda. Puncaknya adalah membasuh kuda-kuda dengan air kembang 7 warna. Kuda beserta pemiliknya mendapatkan nasehat dari peruwat diawali dengan mencelupkan pangkal cemeti ke dalam ember berisi air kembang. Menurut kepercayaan mereka Paguyuban Kuda Tunggang Wisata Tungga Karya, ritual Suryo Jawi ini dapat melancarkan rejeki dan memberi keselamatan bagi kuda terlebih bagi pemilik kuda.

Read More

Upacara Adat Pasar Kumandang

a. Latar Belakang Diselenggarakan Upacara Pasar Kumandang

Pasar Kumandang diselenggarakan dalam rangka mengisi bulan Suro (penanggalan Jawa). Sudah menjadi kegiatan rutin/tradisi oranng Jawa pada bulan Suro dianggap sebagai bulan untuk melakukan tirakat. Banyak permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mencari berkah, kesehatan, keberhasilan baik dibidang pertanian maupun perdagangan dan atau kesuksesan. Bulan untuk perenungan dengan apa yang telah dilakukan. Bulan untuk bebenah diri. (more…)

Read More

Upacara Adat Suran Jomboleka

a. Sejarah Arya Kusuma Jomboleka

Di Dusun Talpitu Desa Ngemplak Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar terdapat makam Arya Kusuma Jomboleko yang masih keturunan Prabu Brawijaya V raja Majapahit terakhir. Belum banyak yang mengetahui akan keberadaan makam tersebut. Bahkan sejarah adanya makam tersebut juga belum banyak diketahui oleh masyarakat di Kabupaten Karanganyar. (more…)

Read More

Upacara Adat Julungan

Tawangmangu yang terletak dilereng lawu ternyata mempunyai beragam budaya tradisi yang masih diselenggarakan secara turun temurun di tengah-tengah masyarakat. Ditengah berkembangnya budaya manca negara yang bisa membuat lupa akan adat ketimuran, namun di wilayah Kecamatan Tawangmangu ini di tiap desa mempunyai upacara tradisi yang tetap dilestarikan dan diselenggarakan secara rutin sampai sekarang. Bahkan dengan sedikit pengemasan dalam melaksanakan upacara tradisi ini bisa menambah daya tarik wisata yang menjadi andalan Kabupaten Karanganyar. Seperti di desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu, yang mempunyai tradisi bersih desa dan sedekah bumi yang dinamakan Julungan (more…)

Read More

Situs Purbakala Giyanti

Monumen Perjanjian Giyanti atau Situs Giyanti terletak di desa Janti kalurahan Jantiharjo Kecamatan Karanganyar Kota. Monumen ini merupakan suatu monument sejarah yang sangat monumental yang menandai pembagian wilayah Kerajaan Mataram Islam menjadi dua , yakni Surakarta dan Jogjakarta ( Kasunanan dan Kasultanan ) pada zaman pemerintahan Pakubuwono III sekitar tahun 1755. (more…)

Read More

Situs Purbakala Palanggatan

Planggatan hingga kini masih merupakan situs sejarah yang miskin informasi. Barulah sejak 1979 situs ini menjadi asuhan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng. Pada tahun 1985 BP3 Jateng pernah melakukan penggalian sebanyak dua kali. Dari penggalian ini diketahui bahwa candi yang masih terpndam ini menghadap ke Barat. Entah mengapa, setelah diketahui arah hadap candi, penggalian dihentikan dan batuan candi ditutup kembali.Justru karena diketahui bahwa candi menghadap ke Barat serta adanya relief pada batu yang sudah tampak, disimpulkan bahwa situs ini serupa atau sealiran dengan Candi Sukuh.

Lokasi
Situs Planggatan memiliki total luas 4.460 meter persegi, diapit oleh perkampungan penduduk dan tanah tegalan (perkebunan). Kalau kita berada di lingkungan situs, terasa berada di puncak candi yang berpendar melingkar ke segenap penjuru. Kondisi situs pada saat ini, sebagian besar batu-batunya belum tergali secara utuh. Hanya tampak beberapa batu berelief yang masih setengah terpendam. Berdasarkan informasi, pada awalnya tempat keberadaan situs ini merupakan tanah kas desa/dusun yang ditanami rumput untuk pakan ternak. BP3 Jateng merngupayakan penyertifikatan tanah. Dengan demikian, tanah tempat situs ini sekarang resmi dibawah pengelolaan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jateng dan ditetapkan sebagai cagar budaya. Bahkan hingga kini tidak ada restribusi. Dengan demikian sangat jarang wisatawan yang datang, kalau pun ada merupakan singgahan setelah dari Candi Sukuh.

Relief
Yang tersisa dari Candi Planggatan yang dibangun pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut kini hanyalah sisa-sisa candi berupa sekumpulan batu andesit tersusun berderet membentuk denah berukuran 30 x 30 meter sedangkan bagian tengahnya berupa gundukan tanah setinggi satu meter saja. Dari tinggalan beberapa batu candi yang tersisa ini ada yang mempunyai relief. Relief yang dipahatkan pada sebuah batu sebagai bagian dari sebuah candi biasanya berfungsi sebagai penghias candi belaka atau dapat pula memuat cerita yang sesuai dengan sifat keagamaan candi tersebut.

Tampaknya relief-relief yang tersisa di candi ini dahulunya merupakan rangkaian sebuah cerita tetapi mengingat jumlahnya yang terbatas (hanya 6 lempang) tampaknya cerita yang ingin disampaikan dalam relief tersebut sukar untuk dirangkai. Relief-relief tersebut antara lain relief seorang tokoh laki-laki yang merangkul pinggang tokoh lain (wanita) di bagian muka dan di bagian belakang tokoh terdapat tiga orang pengiring; relief seorang tokoh menunggang kuda sedang di bagian belakang tokoh tersebut ada dua orang pengiring membawa tombak dan pada bagian depan terdapat tiga orang bertubuh pendek; relief rumah panggung dan dua rumah berbentuk pendapa yang di bagian sampingnya terdapat seorang pengawal membawa tombak mengiring seorang tokoh menunggang kuda; relief beberapa orang membawa senjata; relief seorang tokoh menunggang kuda diiringi oleh beberapa wanita dan tiga punakawan.

“Gajah Wiku”

Dari sejumlah relief yang tersisa ini ada satu relief yang cukup menarik dan menjadi petunjuk kuat mengenai pertanggalan candi tersebut. Relief itu adalah relief seekor gajah yang digambarkan secara antropomorfis (setengah hewan-setengah manusia) dalam posisi berdiri dengan belalai ke bawah dan di bagian mulutnya terdapat gambar bulan sabit, seolah-olah gajah tersebut tengah memakan buah sabit. Gajah digambarkan memakai sorban seperti seorang wiku/pendeta. Pada bagian pinggang memakai ikat pinggang yang dibuat dari lipatan kain dan pada bagian pinggang sampai lutut tertutup kain pula. Relief ini merupakan sebuah sengkalan memet yang jika dibaca berbunyi “Gajah wiku mangan wulan” yang jika diartikan menjadi sebuah angka tahun 1378 caka atau sama dengan 1456 Masehi. Penggambaran Gajah Wiku ini sama dengan relief yang ditemukan di Candi Sukuh merupakan bagian dari relief pande besi, hanya saja relief Gajah Wiku di Candi Sukuh digambarkan tengah memakan buntut. Namun nilai sengkalan memetnya mempunyai arti yang sama yakni 1378 caka. Artinya pembangunan kedua candi ini (Planggatan dan Sukuh) mempunyai kurun waktu yang sama.
Pada bagian kanan relief Gajah Wiku ini terdapat pahatan prasasti sebanyak empat baris. Bentuk pahatan huruf prasasti ini juga sama dengan prasasti batu yang ditemukan di Candi Ceto dan Sukuh. Hasil pembacaan Riboet Darmosoetopo, seorang dosen arkeologi Fakultas Sastra UGM, Yogyakarta menyebutkan.

Sebenarnya sorban yang dipakai gajah bukan menggabarkan wiku (bhikkhu) karena wiku tidak memakai sorban, namun berkepala gundul. Rasanya lebih mengena bila disebut sebagai “gajah begawan”, sebab penggambaran begawan ada yang bersorban sebagaimana digambarkan sebagi Begawan Abiyasa. Pendapat yang lain Situs ini termasuk peninggalan dari Prabu Brawijaya V Raja terakhir Majapahit sebelum moksa. (wafat beserta raganya) Diceritakan bahwa Prabu Brawijaya V atau Prabu Udara berpindah dari kratonnya di Jawa Timur ke Gunung Lawu sebelah Barat (Jawa Tengah – Kab Karanganyar), sebelumnya Brawijaya sempat beristirahat dan membuat singgahan di sekitar Rawa Pening (Kab.Semarang) yg saat ini disebut Candi Dukuh. Kami belum dapat menginformasikan letak Candi Dukuh.

Read More

Situs Purbakala Watukandang

Situs Purbakala Watukandang merupakan situs bangunan berbentuk pra candi sebelum berkembang. Merupakan peninggalan megalistik berupa kelompok deretan batu berdiri yang tertapa rapi. Situs Watukandang diperkirakan sudah ada sebelum adanya candi-candi megah di Indonesia. Peninggalan ini dikeramatkan oleh masyarakat dan dikenal dengan sebutan Watukandang. terletak di tepi jalan tembus Tawangamngu – Matesih. Yang bisa ditemui di Situs Watukandang antara lain :

  1. Punden Berundak dimana Batu Kadang ini berdiri condong sehingga seperti punden berundak yang biasanya disembah sebagai nenek moyang mereka.
  2. Menhir dimana bentuk dari salah satu dari Watu Kandang yang besar dan berdiri tegak seperti tugu, maka bisa diasumsikan bahwa Watu Kandang bisa jadi sebagai Tugu yang menurut mereka suci, dan sebagai tempat pemujaan roh-roh nenek moyang.
  3. Dolmen dimana Watu Kandang itu membentuk seperti meja di tengah-tengah Watu Kandang yang lainya, maka bisa diperkirakan sebagai tempat meletakkan sesaji kepada roh nenek moyangnya.
  4. Lumbung Batu yang mana Watu Kandang berbentuk besar dan melebar, ditengahnya berbentuk cukung dan dalam. Maka bisa disimpulkan salah sutu Wutu Kandang Juga sebagai tempat pengupasan kulit padi.
  5. Gerabah dimana ditemukan berbagai manik-manik yang terbuat dari tanah liat disekitar Watu Kandang.
  6. Manik juga ditemukan manik-manik kecil yang berbentuk Heksagonal, Tetragonal, Silinder, Cornder.
  7. Kubur Batu yaitu kuburan atau tempat letak jenazah karena bentuk Watu Kandang yang membentuk persegi empat dengan ukuran batu dan jarak batu sama dan teratur membentuk sebagai tempat jenazah.

Read More
sekipan

Bumi Perkemahan Sekipan

Area perkemahan ini terletak di Sekarjinggo Desa Kalisoro Kecamatan  elevasi1.100 dpl. Dahulu Sekipan bernama Sekar Jinggo, yang berarti “bunga yang berwarna jingga”, tapi pada saat sekarang nama Sekipan memiliki arti tembak yang berasal dari bahasa Belanda. Hal ini dikarenakan pada dahulu kala kawasan ini sering dipakai untuk latihan menembak para tentara. Namun, menurut cerita rakyat, konon pada zaman Raja- raja, daerah ini merupakan tempat rekreasi dan berburu para Pangeran-pangeran dari Kraton Kasunanan Surakarta dan Keluarga Mangkunegaran.

Di samping berfungsi sebagai arena Camping Ground, Sekipan juga menjadi ajang penelitian  jenis  tanaman  hutan  dan    pendidikan  alam  juga  dapat  digunakan  untuk kegiatan outbond training, orientasi pengakraban mahasiswa baru, kegiatan Pramuka dan tracking. Kegiatan camping dan outbond bila dipadukan akan menjadi bentuk rekreasi alternatif yang menarik, bahkan dapat dikemas menjadi pendidikan alternatif dengan metode experiental learning

Read More