Category: Alam & Agro

edupark

Edupark Karanganyar

edupark

Destinasi wisata edukasi ini berlokasi di Jl Gatot subroto Desa. Gaum Kec. Tasikmadu Kabupaten Karanganyar, adapunWanaha  Edupark lahan yang disediakan +   12.660 m2 dan   yang telah dimanfaatkan  6.000 m2.

Edupark merupakan wahana tempat pembelajaram atau pendidikan bagi semua lapisan masyarakat.

Adapun bentuk dan jenis wahana pendidikan terdiri dari dua jenis alat angkut  yaitu 1 ( satu ) unit pesawat terbang Jumbo jet dimodifikasi dengan nama Lawu Air Karanganyar dengan kapasitas penumpang lebih dari 100 (seratus ) Orang dan 1 (satu) Unit Helikopter dengan kapasitas penumpang 6 Orang.

edupark2

Sehubungan mayoritas masyarakat kita masih banyak yang belum memahami seluk beluk pesawat terbang maka keberadaan 2 (dua) Unit pesawat terbang ini yang dijadikan destinasi Wisata edukasi dirgantara  memiliki daya tarik bagi semua lapisan masyarakat, sehingga masyarakat saat ini antusias berduyun duyun ingin manyaksikan, baik anak anak, remaja , dewasa berkunjung ke Edupark sekaligus dipandu dan diberi penjelasan cara-cara memanfaatkan dan menggunakan pesawat terbang.

Dengan begitu siapapun kelak ada kesempatan bepergian jauh dengan angkutan pesawat terbang mereka sudah tidak bimbang lagi. Selamat mengunjungi.

Read More
AirTerjunPringgodaniq

Air Terjun Pringgodani

Air Terjun Pringgodani terletak di Kalurahan Blumbang 4 km dari terminal bus Tawangmangu, Air Terjun Pringgodani berada di kaki Gunung Lawu  kordinat 7°39’02″S – 111°09’29″T dan 1531 meter diatas permukaan air laut. Sebenarnya Pringgodani adalah obyek wisata sejarah/Religi berupa rumah joglo sebagai persembahyangan bagi penganut aliran kepercayaan,tetapi di sisi lain air terjun tersebut juga menawarkan keindahan, dengan 2 tingkat air terjun serta tinggi lebih dari 100 m, air terjun ini jauh lebih tinggi dan lebih spektakular dari pada Air Terjun Grojogan Sewu yang lebih dulu dikenal.

Air Terjun Pringgodani

Air Terjun Pringgodani

 

 

Tempat ini merupakan petilasan Eyang Cokronegoro, disebelahnya terdapat mata air sendang pengantin yang disakralkan,terdiri dari tujuh kucuran air dari lereng bukit. Para peziarah yang datang biasanya mandi di sendang sebagai puncak ritual mereka pada tengah malam. Sendang itu sendiri berada di atas air terjun, dan tempat inilah yang biasa dikunjungi sedangkan air terjunnya hanya bisa dilihat dari kejauhan karena lokasinya yang sulit dijangkau. Untuk dapat mencapai lokasi pengunjung harus berjalan kaki melewati jalan naik turun di pinggir tebing curam sejauh +/- 1 km dari jalan raya.

 

Menurut cerita dari penduduk setempat, Pertapan Pringgodani merupakan tempat bertapa seseorang yang pernah mengalahkan Prabu Boko pada jaman kerajaan Kaling. Sedangkan menurut penganut aliran spiritual, Pringgodani adalah wilayah kekuasaan Prabu Brawijaya V (raja majapahit terakhir) yang diserahkan kepada Eyang Koconegoro, ditempat inilah Eyang Koconegoro bertapa dengan tongkat menancap di tanah mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta, memohon untuk dapat hidup abadi, konon tongkat tersebut kini telah tumbuh menjadi sebuah pohon yang disebut kayu lewung. Dalam bertapa, apa yang diinginkan oleh Eyang Koconegoro belum dipenuhi oleh Sang Pencipta dan sesuai petunjuk gurunya agar keinginannya dipenuhi maka beliau harus naik ke puncak Lawu dan kembali bersemedi disana. Tentang kebenarannya kita tak pernah tahu.

 

Air Terjun Pringgodani

Air Terjun Pringgodani

Sampai dengan saat ini keberadaan Pertapan Pringgodani dan air terjunnya masih belum dikelola secara maksimal mengingat lokasinya yang jauh dari jalan raya, medannya yang berat dan tidak bisa di jangkau dengan kendaraan.

 

Read More

Goa Tlorong

Goa ini terletak di desa Lempong Kecamatan Jenawi, merupakan goa alami yang memiliki ukuran mulut goa 2m x 1,5m. Goa Tlorong memiliki daya tarik lingkungan alam yang indah serta

Goa TlorongGoa ini terletak di desa Lempong Kecamatan Jenawi, merupakan goa alami yang memiliki ukuran mulut goa 2m x 1,5m. Goa Tlorong memiliki daya tarik lingkungan alam yang indah serta hawa sejuk dan mempunyai latar belakang Gunung Kembar, sehingga cukup berpotensi untuk dijadikan sebuah objek wisata.

Untuk mencapai lokasi objek wisata Goa Tlorong bisa ditempuh dengan kendaraan umum atau angkudes dari Kota Karanganyar.

Read More
sekipan

Bumi Perkemahan Sekipan

Area perkemahan ini terletak di Sekarjinggo Desa Kalisoro Kecamatan  elevasi1.100 dpl. Dahulu Sekipan bernama Sekar Jinggo, yang berarti “bunga yang berwarna jingga”, tapi pada saat sekarang nama Sekipan memiliki arti tembak yang berasal dari bahasa Belanda. Hal ini dikarenakan pada dahulu kala kawasan ini sering dipakai untuk latihan menembak para tentara. Namun, menurut cerita rakyat, konon pada zaman Raja- raja, daerah ini merupakan tempat rekreasi dan berburu para Pangeran-pangeran dari Kraton Kasunanan Surakarta dan Keluarga Mangkunegaran.

Di samping berfungsi sebagai arena Camping Ground, Sekipan juga menjadi ajang penelitian  jenis  tanaman  hutan  dan    pendidikan  alam  juga  dapat  digunakan  untuk kegiatan outbond training, orientasi pengakraban mahasiswa baru, kegiatan Pramuka dan tracking. Kegiatan camping dan outbond bila dipadukan akan menjadi bentuk rekreasi alternatif yang menarik, bahkan dapat dikemas menjadi pendidikan alternatif dengan metode experiental learning

Read More

Wisata Agro

Kebun Salak Lawu

Buah salak dapat dijumpai di mana saja, tetapi salak yang dikembangkan di Desa Sepanjang, Tawangmangu, Karanganyar ini mempunyai cita rasa yang lain. Salak ini dikenal dengan nama salak Lawu. Pengunjung yang hendak mencicipi salak Lawu dapat memetik sendiri buah yang masak dari kebun petani

Kebun Strowberi

Buah yang ranum tersebut banyak dijumpai di Desa Kalisoro, Tawangmangu, Karanganyar pada musim kemarau. Masyarakat Kalisoro mengembangkan budiyada strawbery sebagai tanaman semusim, selain sayur-sayuran. Pengunjung dapat memetik sendiri buah yang sudah masak di kebun para petani di lokasi tersebut.

Read More
madirda 01

Telaga Madirdo

TELAGA MADIRDO


Telaga Madirdo merupakan danau kecil yang airnya bersumber dari mata air di lereng Gunung Lawu. Telaga tersebut menjadi tumpuan kehidupan warga karena airnya yang tak pernah surut meski musim kemarau dan tak pernah penuh di saat musim penghujan. Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, disanalah telaga ini terhampar. Jarak telaga ini dari Balai Desa Berjo sekitar 4 kilometer dan dapat ditempuh dengan cukup mudah.

Telaga ini memiliki potensi yang layak untuk di kembangkan menjadi obyek wisata unggulan bagi Desa Berjo sebagaimana yang diimpikan warga Berjo pada umumnya. Telaga Madirdo sebenarnya cukup di kenal oleh wisatawan yang memasuki Desa Berjo terutama wisatawan yang mencoba memperlajari keanekaragaman potensi wisata yang ada di Kabupaten Karanganyar,

Hal itu dikarenakan telaga ini termasuk dalam jalur Golden Tracking Sukuh-Grojogan Sewu. Dimana keberadaanya sangat berdekatan dengan berbagai obyek wisata seperti situs Watu Bonang, Situs Planggatan, Candi Sukuh dan Grojogan Sewu.

Dengan posisinya yang demikian, masyarakat meyakini telaga ini bisa dikembangkan menjadi obyek wisata andalan. Bukan tidak mungkin akan seterkenal Telaga Sarangan di Magetan Jawa Timur. Dengan posisinya itu bahkan telaga ini bisa menjadi gerbang utama untuk menuju berbagai kawasan obyek wisata di Kabupaten Karanganyar.

RUTE JALAN

Tlogo Madirdo tepatnya terletak di Dusun Tlogo, Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar. Walaupun terletak di lereng Gunung Lawu dengan ketinggian sekitar 900 m di atas permukaan air, letak potensi obyek wisata ini cukup strategis. Hal itu mengingat kedekatannya dengan obyek wisata andalan Kabupaten Karanganyar yang lain, seperti Grojogan Sewu, Situs Planggatan, Candi Sukuh, obyek Wisata Air Terjun Jumok, Parangijo dan Candi Cetho. Di sepanjang jalan menuju menuju Tlogo Madirdo, juga telah berkembang berbagai rumah makan, yakni yang menghampar di sepanjang jalur Karangpandan – Karanganyar. Jarak anatara Karangpandan dengan obyek wisata Tlogo Madirdo kurang lebih sekitar 5 kilometer.

Untuk mencapai Tlogo Madirdo dapat dilakukan melalui dua jalur utama dan satu jalur alternatif. Yang pertama melalui pintu gerbang arah Candi Sukuh dan Candi Cetho, serta menuju Air Terjun Jumok, yang juga berada di Kecamatan Ngargoyoso. Jarak dari pintu gerbang ini kurang lebih sepanjang 7 kilometer. Karena berada di lereng Gunung Lawu, maka kondisi jalan untuk menuju ke Telaga Madirdo memang cukup terjal dan berkelak-kelok. Meski demikian kondisi jalan ini masih cukup nyaman untuk dilalui baik oleh kendaraan pribadi maupun dengan sepeda motor. Sementara angkuta umum yang melalui rute ini adalah bus jurusan Karangpandan – Ngargoyoso.

Sedangkan jalur kedua, untuk menuju Tlogo Madirdo, adalah melalui Desa Karang, yang berada pada kilometer 34 jalan raya Solo-Tawangmangu. Jalur ini merupakan jalur yang cukup berkembang karena juga merupakan gerbang utama menuju kawasan Agro Wisata Amanah yang jaraknya kurang lebih 1,5 kilomter dari jalan raya Solo-Tawangmangu.

Dari pintu gerbang Amanah untuk menuju Tlogo Madirdo harus melalui jalan kabupaten dan jalan desa, kurang lebih sepanjang 5 kilometer. Kondisi jalan tak jauh berbeda denga jalur pertama, cukup terjal dan berkelok-kelok. Sementara jalur ketiga adalah melalui rute Grojogan Sewu, yaitu melalui jalan desa Tengklik Tawangmangu – ke arah Desa Berjo menuju Tlogo Madirdo. Rute ini adalah jalur alternatif dari arah Grojogam Sewu -Tawangmangu.

KONDISI ALAM

Tlogo Madirdo sendiri berada di hamparan pelataran yang dikelilingi cekungan bukit yang menjadikan sumber air mengalir ke telaga Madirdo sehingga tak pernah kering meskipun di saat musim kemarau. Hutan pinus yang berada di bukit cukup baik sebagai resapan air yang mengalirkanya kembali ke telaga. Sementara kondisi air di Telaga Madirdo sendiri terhitung cukup jernih dan belum tercemar.

Tapak Tlogo Madirdo sendiri berupa cekungan dengan bentuk empat persegi panjang dan berukuran 150 x 200 meter. Kedalaman cekungan kurang lebih 5 meter pada sisi yang rendah dan lebih dari 20 meter dari sisi yang lebih tinggi. Pada sisi cekungan terdapat jalan desa yang mengubungkan Dukuh Tlogo (sebelah timur – utara Tlogo) serta jalan tembus menuju Tawangmangu dan obyek wisata Grojogan Sewu. Pada sekeliling cekungan ini juga berderet perbukitan hutan pinus yang di kelola oleh Perum Perhutani.

Saat ini, wilayah yang digenangi air di Tlogo Madirdo mencakup kurang lebih seribu meter persegi atau 30% dari luas cekungan. Kedalaman air kurang lebih 1 meter. Selain untuk keperluan mandi, air telaga juga dimanfaatkan penduduk untuk budidaya ikan, dan irigasi. Kondisi air sendiri cukup jernih dan memiliki volume air yang relatif konstan baik pada saat musim kemarau maupun pada saat musim penghujan.

Perbukitan di sekitar Telogo Madirdo memiliki potensi sumber air yang mengucurkan air secara terus-menerus dan tak pernah kering. Di sana terdapat keindahan lain seperti batu-batuan alam, flora fauna khas pegunungan dan pemandangan yang bagus ke berbagai arah.

Jenis tanaman yang berada di perbukitan sekitar Tlogo Madirdo antara lain pohon bambu, pinus, akasia, mangga, pisang, pakis dan berbagai jenis tanaman perdu, semak dan rumput. Untuk wilayah sekitar tapak, selain jenis tanaman tersebut juga terdapat jenis tanaman tahunan seperti cengkeh, kopi, tanaman pertanian dan berbagai tanaman sayuran.

POTENSI

Potensi keindahan Tlogo Madirdo belum banyak diolah. Selama ini pengelolaan telaga hanya dilakukan warga Dusun Tlogo, Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. Pengleolan juga sebatas pembersihan, perawatan, dan bahkan tanpa penarikan retribusi sama sekali.

Potensi telaga dengan air cukup bersih, udara yang sejuk dan teduh, berbagai batu alam yang indah, serta keanekaragaman flora dan fauna pegunungan yang menarik, ternyata belum dibarengi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Berbagai fasilitas yang ada saat ini semuanya murni swadaya masyarakat setempat dan terlihat masih relatif sederhana. Berbagai fasilitas seperti pancuran untuk mandi, tempat parker, kamar mandi dan WC umum, homestay serta pengerasan permukaan jalan, semuanya masih terkesan seadanya.

Pengembangan

Dari sisi ketersediaan lahan ketersediaan sumber daya air, sebenarnya pengembangan Tlogo Madirdo sangat memungkinkan. Sebab, dengan menaikkan elevasi air telaga hingga mencapai kedalaman tertentu yang lebih tinggi dari kondisi saat ini, akan memperindah kondisi telaga. Lagi pula, dengan menaikkan ketinggian air, diharapkan tidak akan menganggu pemanfaatan air bagi warga. Air yang melimpah bisa dimanfaatkan warga untuk irigasi dan keperluan lainnya.

Dari sisi status tanah, tanah di sekitar Tlogo Madirdo merupakan tanah kas desa dengan luas mencapai 4 hektare. Artinya, untuk pengembangan obyek wisata tidak perlu lagi dilakukan pembebesan lahan. Bahkan warga masyarakat setempat mengaku siap untuk menghibahkan tanahnya secara sukarela guna mewujudkan pengembangan kawasan Tlogo Mardido tersebut.

Pengembangan Tlogo Madirdo, selain akan mengangkat potensi wisata di Kabupaten Karanganyar juga diyakini akan mampu meningkatkan taraf hidup dan pendapatan eknomi warga setempat maupun masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Peningkatan ini dimungkinkan karena terbukanya berbagai kesempatan warga untuk melakukan usaha seperti jasa warung, penginapan, pertanian, parkir dan kesempatan yang lainnya. Demikianlah adanya, warga di sekitar telaga memang sangat mendukung rencana pengembangan Obyek Wisata Tlogo Madirdo ini.

Meski demikian, Dwi Haryanto mengingatkan, sebelum melakukan pengembangan telaga, beberapa persoalan perlu difikirkan terlebih dulu jalan keluarnya. Pertama, adanya kekawatiran sejumlah warga yang tinggal di hilir sumber mata air Tlogo Mardido yaitu warga masyarakat yang tinggal di Desa Girilayu Ngargoyoso dan Tengklik Tawangamangu. Selama ini air di telaga memang dimanfaatkan untuk keperluan air minum sekitar 500 kepala keluarga yang berada di desa tersebut. Dengan demikian jika akan diolah menjadi telaga wisata, maka diperlukan teknologi yang bisa menjaga kebersihan air untuk warga.

Kedua adalah persoalan infrastruktur jalan yang menghubungkan traffic Sukuh – Madirdo dan Grojogan Sewu. Kondisinya saat ini masih cukup memprihatinkan sebab jalan tembus alternatif yang baru dibangun hanya selebar 3 meter serta tidak memiliki badan jalan. Untuk keperluan pelebaran jalan, menurut Dwi, tidak diperlukan anggaran besar mengingat sebagian besar tanah yang dilalui jalur tersebut merupakan tanah milik Perhutani yang jika dilakukan pelebaran tidak perlu dilakukan pembebasan lahan.

Investor

Pihak desa sendiri sebenarnya pernah menghitung untuk membangun telaga hingga layak memerlukan anggaran sekitar Rp 1,5 miliar. Biaya sebesar akan digunakan untuk pengembangan telaga dengan membuat bendungan penahan air dan pembuatan talud di sepanjang areal obyek wisata. Dana itu akan cukup dengan catatan untuk faslilitas lain seperti infrastruktur jalan, penyediaan sarana kios, los dan tempat rekreasi dianggarkan tersendiri.

Terkait gagasan ini, sebenarnya pihak desa sudah banyak mendapat tawaran dari sejumlah investor yang siap membantu untuk membangun Telaga Madirdo. Namun desa masih berharap pihak Pemkab yang akan membuat perencanaan yang lebih matang guna pengembangan zona wisata tersebut.

Terkait masalah itu, Kasubag Perencanaan dan Program Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar, I. Sukarno mengatakan sebenarnya Pemkab sudah membuat perencanaan terkait pengembangan obyek wisata Telaga Madirdo ini. Yaitu dengan membuat feasibility studi yang dilakukan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Karanganyar pada tahun 2006. Bedasarkan feasibility study itu, akan diperlukan anggaran sebesar Rp. 3 miliar yang diperuntukkan bagi membangun empat zoning. Pertama adalah zoning penerima. Dalam zoning ini yang akan dibangun adalah berbagai fasilitas penerimaan antara lain areal parkir, plasa, kios agro, souvenir dan kantor pengelola.

Kedua adalah aktivitas wisata. Obyek yang akan dibangun meliputi pembuatan bendungan penahan air, dermaga perahu, dermaga pancing, dan lain sebagainya. Ketiga adalah zona wisata darat yang pembangunanya meliputi pembangunan area permainan, jalan setapak, taman bunga, taman alam dan gardu pandang. Keempat adalah zoning pelengkap yang meliputi pembangunan food court, warung makan, kamar mandi, toilet dan lain sebagainya.

Pengembangan Tlogo Madirdo berdasarkan analisa finansial dan ekonomi, yang meliputi analisis Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) maupun analisis Benefit Cost Ratio (BC-Ratio), yang dilakukan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Karanganyar pada tahun 2006, menunjukkan hasil positif. Artinya pengembangan obyek wisata Tlogo Madirdo layak dilakukan.

Read More
kemuning 03

Kebun Teh Kemuning

kemuning2

Kebun Teh Kemuning

Perkebunan Teh Kemuning berada di Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah atau sekitar 10 kilometer timur laut dari jalur utama Solo-Tawangmangu. Perkebunan teh ini merupakan salah satu tujuan wisata di Jawa Tengah yang berada di kabupaten karanganyar. Pesona alam pegunungannya masih asri, Udara sejuk dengan suhu rata-rata 21,5 derajat celcius. Lokasi tepat perkebunan ini ada di 11,10-11,250 BT dan 7,40-7,60 LS. Ketinggian tempatnya bervariasi antara 800 hingga 1.540 meter di atas permukaan laut dengen kelembaban berkisar 60 – 80 persen dengan penyinaran matahari hanya 40 – 55 persen.

kemuning7

Kebun Teh Kemuning

Kawasan Kemuning berada di antara Candi Sukuh dan Candi Cetho. Candi Palanggatan dan Menggung. Untuk menuju tempat tersebut, tidak sulit. Kita bisa memakai angkutan umum dengan rute Karangpandan, Ngargoyoso, dan Jenawi. Hamparan hijau perkebunan teh sangat bagus dilahat. Di Kemuning, kita bisa menikmati pesiar dalam bentuk tea walk alias menjelajahi perkebunan teh. Tak hanya pemandangan hamparan teh. Puluhan perempuan bercaping dengan tenggok di punggung menjadi bumbu lain yang sedap dilihat. Mereka bekerja dengan penuh kesabaran dan ketelitian.

kemuning

Kebun Teh Kemuning

Saat matahari baru saja merekah, aktivitas para pemetik daun teh ini sudah dimulai. Eksotis, karena jarang bisa dijumpai di obyek wisata pada umumnya. Rencananya kawasan wisata Kebun Teh Kemuning juga bakal dilengkapi gardu pandang. Dengan begitu, wisatawan lebih mudah melihat hamparan teh. Pemkab Karanganyar juga akan melengkapi Desa Kemuning dengan homestay bagi pengunjung yang ingin menginap. Ini bukti, Kemuning tak semata jadi produsen daun teh. Tetapi juga sebuah lokawisata yang mengasyikkan dan punya fasilitas signifi kan.

Read More

Taman Wisata Sondokoro

Pabrik Gula Tasikmadu didirikan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo / KGPAA Mangkoenagoro IV pada tahun 1971 yang terletak di desa Sondokoro

Read More

Sapta Tirta

OBJEK wisata Sapta Tirta di Desa Pablengan, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, tidak berkelebihan jika dikatakan sebagai salah satu keajaiban alam di bumi Indonesia. Sapta Tirta, sapta artinya tujuh, tirta artinya air. Sapta Tirta maksudnya, tujuh mata air. Uniknya, tujuh mata air tersebut berkumpul di satu areal sekitar 2 hektar. Jarak satu mata air yang satu dengan mata air yang lain, paling dekat kurang lebih 5 meter, paling jauh kira-kira 15 meter. Ke-7 mata air tersebut mengeluarkan air yang kandungan mineralnya satu sama lain berbeda.

Objek wisata alam ini terletak di jalan raya yang menghubungkan Karangpandan dan Astana (= makam raja) Mangadeg Girilayu. Jarak Sapta Tirta dengan Kota Karanganyar, ibukota Kabupaten Karanganyar, sekitar 20 km. Objek wisata ini terletak di kaki Gunung Lawu berhawa sejuk, dengan latar belakang hutan pinus Argotiloso.
“Sapta Tirta ini mempunyai kaitan erat dengan sejarah perjuangan Pangeran Raden Mas Said melawan VOC, tahun 1741 sampai 1757”, kata Sugeng, 32 tahun, salah seorang pengelola Sapta Tirta.

Dulu lokasi ini bekas benteng pertahanan Pangeran Raden Mas Said, yang karena saktinya, beliau mendapat julukan Pangeran Sambernyawa. VOC memang berhasil menduduki benteng itu. Lalu benteng diobrak-abrik rata dengan tanah. Tetapi Sapta Tirta tidak terusik sampai sekarang. Pangeran Sambernyawa mundur, tetapi terus gigih melawan pasukan tentara VOC. Sampai akhhirnya VOC kuwalahan menghadapi gerilya Pangeran Sambernyawa dan para pengikutnya.

Tanggal 17 Maret 1757 perlawanan Pangeran Sambernyawa berhenti. Tanggal itu terjadi perdamaian dan perjanjian, dihadiri oleh Raja Surakarta Hadiningrat Pakubuwana ke-III, Sultan Jogja, VOC, dan Pangeran Sambernyawa. Hasilnya, Pangeran Sambernyawa mendapat daerah otonomi atau Praja Mangkunegaran, dan beliau mendapat sebutan Kanjeng Gusti Pangeran Ario Adipati (KGPAA) Mangkunegara I.

Salah satu peninggalan Pangeran Sambernyawa adalah tempat semedi (=tafakur). Tempat tersebut berpagar besi, luasnya sekira 2 meter persegi. Tempat keramat tersebut tertulis kaligrafi huruf Jawa: ega. “Kepanjangan huruf ega adalah Eyang Gusti Aji alias Pangeran Sambernyawa, yang nama kecilnya Raden Mas Sahid.

Bila masuk kompleks ini, sebaiknya berlaku santun. Karena tempat ini peninggalan bangsawan sakti. Misalnya, jangan seenaknya buang air kecil di sini. Gunakan adab yang santun dan jauhi perilaku yang tak beradab.

Sebenarnya ada 8 sumber, yaitu sumber air tawar. Tetapi letaknya di bukit, di atas, tak jauh dari kompleks Sapta Tirta. Di kompleks ini disediakan mushola. Bangunan kuno yang lain, selain tempat semedi, adalah Pemandian Keputren. Dulu memang tempat mandi para puteri. Tempat ini juga keramat. Orang tidak boleh berlaku sembarangan. Kalau mau masuk atau mandi, harus seijin pengelola. Orang yang hendak berziarah ke makam raja-raja di Astana Mangadeg Giribangun, biasanya mandi dulu di Pemandian Keputren dan mohon ijin Pangeran Sambernyawa di petak semedi.

Ketujuh sumber air tersebut adalah:

  • Sumber Air Bleng. Airnya rasa asin. Biasanya orang mengambil air di sumber ini untuk membuat karak, atau semacam krupuk yang bahan bakunya dari beras atau nasi. Apakah harus membayar? Bayarnya jika mau masuk kompleks, Rp 3.000,- (Oktober 2009). Kalau mau ambil air bleng, tidak perlu bayar. Sumber air bleng ini tidak pernah kering, sejak jaman dulu sampai sekarang.
  • Sumber Air Hangat. Airnya memang hangat. Biasanya untuk mencucikan badan sekaligus untuk mengobati berbagai penyakit kulit, misalnya gatal-gatal. Juga bisa untuk mengobati rematik.
  • Sumber Air Kasekten. Kata kasekten dari kata sakti. Air dari sumber ini biasanya untuk kekuatan, kesehatan, atau untuk mensucikan jiwa raga.
  • Sumber Air Hidup. Air hidup boleh untuk mencuci muka. Bagi yang percaya, air hidup bisa membuat wajah tampak awet muda. Ada pula yang mengambil air ini untuk bagian dari upacara pernikahan.
  • Sumber Air Mati. Air yang keluar dari sumber ini dilarang keras untuk dibuat cuci muka, cuci tangan, apalagi untuk minum. Air di sumber ini mengandung mineral yang berbahaya jika diminum (CO2?). Sumber Air Mati tidak pernah bertambah atau berkurang, dari jaman dulu sampai saat ini.
  • Sumber Air Soda. Jika air dari sumber ini diminum, terasa rasa soda. Konon air soda Sapta Tirta bisa untuk obat berbagai penyakit dalam, misalnya sakit ginjal, lever, gula, juga TBC.
  • Sumber Air Urus-urus. Air dari sumber ini dapat dijadikan urus-urus atau cuci perut, atau memperlancar buang air besar.

ITULAH Sapta Tirta, salah satu wisata alam yang “ajaib”. Saat ini, Sapta Tirta terus dibangun dan dikembangkan, disesuaikan dengan selera konsumennya. Misalnya ditambah dengan panggung terbuka dan flyng fox buat meluncur dari atas bukit. Suatu permainan baru yang banyak digemari kaum remaja.

Menurut Sugeng, jumlah pengunjung mencapai puncaknya pada saat 1 Suro (1 Muharam) malam. Pada saat itu jumlah pengunjung bisa mencapai ratusan. Mereka banyak yang bermalam di kompleks ini sampai dini hari. Oleh sebab itu, sekarang telah disediakan panggung terbuka untuk menyajikan hiburan. Jenisnya pagelaran wayang kulit semalam suntuk, atau sendra tari, atau hiburan lain yang bersifat seni klasik.

Sapta Tirta buka mulai pukul 8 pagi sampai sore hari. Tetapi bagi mereka yang datang setiap waktu, misalnya malam hari, pengelola selalu siap melayani. Perlu diketahui, kompleks ini sering dijadikan “menyepi dan semedi” di kala malam hari. Pengunjung tidak hanya dari Pulau Jawa, tetapi juga ada yang datang dari luar Jawa. Bahkan, ada yang datang dari manca negara, tetapi umumnya, mereka dari suku Jawa. Atau masih keturunan, atau “trah” KGPAA Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa.

Read More

Gunung Lawu

Nama asli Gunung Lawu adalah Wukir Mahendra. Menurut legenda, Gunung Lawu merupakan kerajaan pertama di pulau Jawa yang dipimpin oleh raja yang dikirim dari Khayangan karena terpana melihat keindahan alam diseputar Gunung Lawu. Sejak jaman Prabu Brawijaya V, raja Majapahit pada abad ke 15 hingga kerajaan Mataram II banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu. Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan Suro. Saat itu, para kerabat Keraton sering berziarah ke tempat-tempat keramat di puncak Gunung Lawu.

Terdapat padang rumput pegunungan banjaran Festuca nubigena yang mengelilingi sebuah danau gunung di kawah tua menjelang Pos terakhir menuju puncak pada ketinggian 3.200 m dpl yang biasanya kering di musim kemarau. Konon pendaki yang mandi berendam di tempat ini, segala keinginannya dapat terkabul. Namun sebaiknya jangan coba-coba untuk mandi di puncak gunung karena airnya sangat dingin. Rumput yang tumbuh di dasar telaga ini berwarna kuning sehingga airnya kelihatan kuning. Telaga ini diapit oleh puncak Hargo dumilah dengan puncak lainnya. Luas dasar telaga Kuning ini sekitar 4 Ha.

Di sana ada sebuah mata air yang disebut Sendang Drajad, sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus menerus.

Juga ada sebuah gua yang disebut Sumur Jolotundo menjelang puncak, gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam 5 meter. Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa.

Terdapat sebuah bangunan di sekitar puncak Argodumilah yang disebut Hargo Dalem yang banyak disinggahi para peziarah. Di sekitar Hargo Dalem ini banyak terdapat bangunan dari seng yang dapat digunakan untuk bermalam dan berlindung dari hujan dan angin. Terdapat warung makanan dan minuman yang sangat membantu bagi pendaki dan pejiarah yang kelelahan, lapar, dan kedinginan. Inilah keunikan Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl, terdapat warung di dekat puncaknya.

Pasar Diyeng atau Pasar Setan, berupa prasasti batu yang berblok-blok, pasar ini hanya dapat dilihat secara gaib. Pasar Diyeng akan memberikan berkah bagi para pejiarah yang percaya. Bila berada ditempat ini kemudian secara tiba-tiba kita mendengar suara “mau beli apa dik?” maka segeralah membuang uang terserah dalam jumlah berapapun, lalu petiklah daun atau rumput seolah-olah kita berbelanja. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kita akan memperoleh kembalian uang dalam jumlah yang sangat banyak. Pasar Diyeng/Pasar Setan ini terletak di dekat Hargo Dalem.

Pawom Sewu terletak di dekat pos 5 Jalur Cemoro Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan/susunan batu yang menyerupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Parabu Brawijaya V.

Puncak Argodumilah pada saat tertutup awan sangat indah, kita menyaksikan beberapa puncak lainnya seperti pulau – pulau kecil yang dibatasi oleh lautan awan, kita merasa berada di atas awan-awan seperti di kahyangan. Bila udara bersih tanpa awan kita bisa melihat Samudera Indonesia. kita dapat melihat pantulan matahari di Samudera Indonesia, deburan dan riak ombak Laut Selatan sepertinya sangat dekat. Sangat jelas terlihat kota Wonogiri juga kota-kota di Jawa Timur. Tampak waduk Gajah mungkur juga telaga Saranga

Read More