Seperti pada umumnya agro wisata kebun teh, objek wisata yang satu ini juga terletak di lereng gunung yaitu gunung Lawu.
Kebun teh Kemuning terletak di Ngargoyoso, Kemuning, Kabupaten Karanganyar atau terletak kurang lebih 25 KM dari pusat kota Solo.
Selain menikmati keindahan alam dan sejuknya udara dari bukit paralayang ngargoyoso ini, anda juga bisa menikmati olahraga ekstrim, yaitu naik paralayang.
Untuk bisa menikmati sensasi melayang diatas hamparan perkebunan teh yang luas, pengunjung harus merogoh kocek cukup dalam, sebesar Rp350 ribu untuk sekali terbang tandem yang didampingi oleh instruktur profesional.
Pura ini terletak di desa Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Indonesia. Kira-kira 35 km sebelah timur kota Solo, satu jam perjalanan ditempuh dengan kendaraan.
Pura Patilesan (peristirahatan) Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan, yang lebih di kenal sebagai Pura Pasek dan merupakan induk dari Pura Pasek yang ada di daratan Bali.
Bangunan yang memiliki dominasi warna kuning dan merah ini pernah di bangun menjadi lebih megah dan mewah pada masa Pakoe Boewono XII.
Menengok kembali sejarah jaman dulu, pada awalnya bangunan ini memang merupakan tempat peribadatan umat Hindu yang berupa punden atau Candi atau pura.
Candi Cetho (ejaan Bahasa Jawa: cetha) merupakan sebuah candi bercorak agama Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15).
Lokasi candi berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
Sampai saat ini, komplek candi digunakan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan dan populer sebagai tempat pertapaan bagi kalangan penganut agama asli Jawa/Kejawen
Menurut sejarah, penemuan kembali Candi Cetho dilakukan pertama kali oleh sejarahwan Belanda bernama Van de Vlies pada tahun 1842.
Terletak di desa Pablengan Kecamatan Matesih ±20 km dari Kota Karanganyar.
Sapta Tirta Pablengan merupakan pemandian bersejarah paninggalan Mangkunegaran VI yaitu pemandian Keputren.
Daya tarik tempat ini adalah terdapat tujuh sumber mata air yang berdekatan dan memiliki rasa yang berbeda-beda dan tidak dapat dijumpai di daerah manapun.
Selain sebagai tempat pemandian Sapta Tirta Pablengan di gunakan pensucian diri sebelum para kerabat Mangkunegaraan melakukan ziarah ke makam leluhurnya di Astana Mengadeg dan Girilayu.